Kimetsu no Yaiba (c) Koyoharu Gotoge.

ii. 幽玄 (yuugen)—an awareness of the universe.

.


幽玄 | life is cruel and death's relaxed

Di ambang pintu aku berdiri, menjaga jarak, tapi tetap ingin situasi ada dalam jangkauan pandang. Aku menguap lebar sampai bunyi. Jigoro sedang mengguncang-guncangkan badan bocah numpang yang baru datang itu—ah, ya, namanya Agatsuma Zenitsu. Kepanikan terpancar dari Sensei, bahkan aku yang hanya melihat punggungnya saja bisa merasakan itu. Zenitsu sendiri masih setengah sadar, padahal air matanya bercucuran, merembes di alas tidurnya, membanjiri lantai. "Zenitsu. Zenitsu!"

Ribut sekali. Aku jengkel. Bikin muak. Yang namanya Agatsuma Zenitsu memang tidak masuk akal.

Bahkan saat dia tidur, keberadaannya masih menggangguku. Barusan aku dan Jigoro sedang saling bicara, mengobrolkan masa-masanya menjadi Pillar. Pembicaraan hanya bisa terjalin kalau Zenitsu tidak ada. Sepanjang siang, ia selalu merengek dan ingin tahu, tapi belum juga Jigoro cerita apa-apa, air mata dan ingusnya sudah beleber ke mana-mana. Membayangkan yang sedih-sedih. Kalau saja jatah tangisan umat manusia disatukan dan ditampung dalam tabung besar, pasti yang menggelontorkannya adalah Zenitsu seorang.

Jigoro mendudukkannya, lalu menjitak Zenitsu. Keras sekali. Aku sampai mengaduh. Aw. Tapi itu berhasil membuatnya sadar. Zenitsu tersentak. Menatap Jigoro. "Kakek?"

"Kamu kenapa? Tahu-tahu menangis, kayak bayi."

"Kakeeek!" Zenitsu menerjangnya. Tangisnya berderaian seperti air mancur.

Aku memutar bola mata. Peduli setan.

"Kaigaku, ambilkan segelas air."

Aku segera berposisi siap meskipun Jigoro tidak melihat, menjawab baik, lalu berjalan ke dapur tanpa menutup pintu geser. Sayup-sayup aku masih mendengar suara Zenitsu, menjawab sambil sesenggukan. "Aku mendengar suara. Rintihan, seperti hewan sedang terluka."

"Sudah, sudah. Itu suara dalam mimpimu."

"Bukan, Kek, itu nyata sekali ..."

Sepanjang menyusuri koridor menuju dapur, aku bertanya-tanya apakah dia lupa kalau usianya tiga belas tahun. Bertingkah seperti anak kecil begitu, lagaknya sok seperti cucu manja pada kakeknya, urat malunya di mana? Percakapan mereka lamat-lamat tak tertangkap telinga, tapi sekembaliku dengan gelas di tangan, topiknya masih sama. Jigoro menguatkan Zenitsu bahwa itu adalah mimpi, dan Zenitsu terpaksa berhenti membantah untuk meneguk air.

Jigoro keluar ruangan, ia berkata ia hendak mengambil selimut tambahan di ruang sebelah. Begitu pintu geser tertutup, kurebut gelas yang masih diminum Zenitsu. Kusiram wajahnya. Ada rasa puas saat melihat kedua matanya melebar, dan rasa menang bahwa ia tetap tidak mengatakan apa pun. Kusodorkan lagi gelas itu padanya. "Bisanya merepotkan saja!" semburku ketus.

Ia menunduk. Menerima sodoran gelas yang kutodongkan. Tidak ada air mata menggenang di pelupuk. Itu makin bikin keki. Tuh, kan. Bocah ini bisa saja mendapat kasih dari semua orang di dunia dan masih terus menangis siang-malam. Tapi ia hanya butuh satu orang memarahinya dan ia segera berhenti merajuk. Inilah risiko kalau hidup selalu menuntut perhatian, kamu jadi anak manja. Dasar cengeng.

"Itu bukan mimpi."

Masih berani juga ia angkat bicara? Kutolehkan kepala sengit, siap-siap menyemprotnya lagi. Tapi Zenitsu tidak bicara padaku. Kepalanya masih tertunduk. Mata terpejam. "Itu bukan mimpi. Aku mendengar suara. Hewan yang terluka."

Jigoro menggeser pintu, datang membawa selimut tambahan. Zenitsu menengadah, keseriusan yang tadi sempat kurasakan lenyap seketika, dan air mata menderas begitu melihat kebaikan sedemikian rupa. "Kakek, kenapa kamu baik sekali?! Padahal aku membuat keributan dengan menangis tengah malam!" Sekarang pun kamu masih menangis dan bikin ribut, goblok. Kutahan kuat-kuat untuk tidak melayangkan tonjokan. Aku akan mempertanyakan kewarasan manusia yang tetap tak tergerak menghajarnya setelah menghabiskan hari bersama bocah gaduh ini.

"Sssh. Sekarang coba tidur lagi. Tuh, wajahmu sampai basah oleh air mata."

"Tapi ... tapi ..."

"Ah, berisik amat sih!" hardikku. Kusambar alas tidur dan membawanya keluar. "Aku tidur di ruang makan saja!" Aku lenyap dari ruangan itu tanpa peduli balasan mereka. Biarlah besok pagi Jigoro menceramahiku karena terlalu keras pada Zenitsu. Padahal didikan Jigoro memanjakannya justru salah kaprah. Makhluk gembeng ya harus digembleng.

Kutata alas tidur dan berbaring. Kesal karena perbincangan dengan Jigoro tadi terputus. Kutatap langit-langit ruangan. Aku terbayang Zenitsu dan ocehannya soal mendengar rintihan binatang. Kupejamkan mata, mencoba menajamkan telinga. Tetap tidak terdengar apa-apa. Dia ngelindur, barangkali. Bangsat betul! Mengganggu saja bisanya! Aku paksa diri untuk tidur dalam perasaan marah. Kusingkirkan kuat-kuat perihal Zenitsu yang mengigau. Mana mungkin jangkauan pendengarannya bisa sekuat itu.

Keesokan harinya, aku dipaksa menerima fakta tidak adil bahwa kenyataan justru demikian. Jigoro meminta kami berdua turun ke kota (kentara sekali dia ingin aku dan Zenitsu bisa akrab; sungguh harapan sia-sia), membeli bahan-bahan makanan di kota. Sepanjang perjalanan, dia sesenggukan terus bisanya. Aku yang harus membawa sekeranjang plastik berisi bahan makanan yang habis dibeli. Pada satu titik, aku sudah tak bisa menahan emosi, kubentak agar berhenti menangis.

Kami menghabiskan waktu menuju kaki gunung tanpa bicara. Kurasakan tarikan baju yang tiba-tiba hingga aku hampir terjengkang. Kurang ajar, ia menarik bajuku! Aku menengok ke belakang untuk memarahinya, tapi dia sedang memandang ke arah lain. "Kaigaku, kau dengar itu?"

Omong kosong begini lagi! "Apa, sih?"

Tahu-tahu ia menangis, cengkeraman tangannya di bajuku semakin kuat saja. Ingin sekali kutepis kalau-kalau fokusku tak tersita pada wajahnya yang telah berurai air mata. "Ada suara rintihan hewan."

"Dih, maksudmu seperti waktu kamu membual tengah malam itu?"

"Iya." Anggukan kuat membuat sungai-sungai kecil di wajah menetes jatuh satu-satu. Pakai diiyakan segala, padahal aku jelas-jelas bilang membual, dia bodoh apa? "Persis sama. Ini hewannya sama."

Hewan yang sama? Ternyata lebih sinting dari perkiraanku. Aku menggeleng-gelengkan kepala, tidak mau membuang-buang waktu terseret dalam pusaran kegoblokan ini. Kulanjutkan langkah, tapi tertahan karena ia masih terus memegangi bajuku. Kutampik kasar. "Lepas!"

"Kaigaku, ayo, ke sana! Dia terluka, nggak bisa terbang."

"Kamu saja sendiri!"

"Tapi ..." Dia seperti sudah tahu bahwa cepat atau lambat aku akan mengatakan itu. Ia hendak menggelengkan kepala, tapi rasa takut karena menolak perintahku membuatnya hanya dapat menunduk saja. "Aku takut." Itu sudah kuduga. Apa, sih, yang bisa diharapkan darinya?

Aku berusaha melepas cengkeramannya, tapi kuat sekali. Dia memegangiku erat-erat. Kujitak kepalanya. "Lepas! Kamu mengganggu saja!"

Zenitsu menggeleng dan tangisannya makin keras. Aku emosi sekali. Kuhajar mukanya sekuat tenaga dengan tangan yang tidak memegang sekeranjang plastik. Ia terpelanting jauh, membentur batang pohon besar, ambruk, hidung mencium tanah. Pada saat itu, aku sudah kebal mendengar semua ceramah Jigoro soal keharusanku memperlakukan bocah ini dengan penuh pengertian. Bodoh amat. Kutunggu ia sampai bangkit.

Tetesan darah di tanah membuatku tertegun. Ah, aku memukulnya terlalu keras. Zenitsu mengangkat kepala, meskipun tak berani memandangku. Darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Wajahnya kotor penuh tanah, darah, dan bekas air mata. Ia masih duduk bertumpu lutut. Belum bergerak. Terbesit di pikiranku untuk meninggalkannya. Apa peduliku kalau ia mati di jalan.

Kuhela napas. Agh. Aku benci diriku sendiri. Kubuang muka. "Ke mana?"

Melalui ekor mataku, kulihat ia mengangkat kepala, kaget.

"Ke mana?" ulangku. Aku menatapnya. "Berdiri! Karena kamu yang tahu jalan, kamu yang ada di depan. Tapi berhenti nangisnya, dasar gembeng!"

Ia mengusap wajahnya. Menyedot ingus. "Iya."

"Ayo, lekas! Ke mana!?"

"Sebentar." Intonasinya berubah. Drastis. Aku diam. Terkejut dengan perubahan itu. Tapi lebih-lebih, aku terkejut pada kenyataan bahwa ia bisa membuatku diam. Ia menunduk. Memejamkan mata. Kedua pundaknya turun naik. Awalnya cepat, tetapi lambat laun melambat. Ia sedang mengatur napas. Kesan manja dan cengeng hilang sama sekali.

Lalu, ia berdiri. Kepala masih tertunduk. Mata masih terpejam. Berjalan mendekatiku. Tangannya terjulur, meraih lengan bajuku, dan hanya begitu saja, ia menuntunku. Aku tak percaya ini. Aku dibuat mengikutinya. Ia berjalan terus, memasuki hutan, berkelok-kelok melintasi pohon. Dan matanya masih terpejam! Aku terlalu terpana dengan keadaan aneh bin ajaib itu hingga kehilangan kata-kata. Aku bahkan curiga kalau ia sudah mati saking takutnya dan kini berjalan dalam matinya. Rasanya seperti kedamaian yang asing.

Kami masih tak bicara sampai Zenitsu berhenti. Aku baru mulai benar-benar memandang pada saat itu. Di depan kami, seekor anak burung tergeletak di depan batang pohon. Ada goresan luka sayat di sayapnya. Kudongakkan kepala. Sarang burung di atas pohon, kelewat tinggi. Meskipun lirih, aku bisa mendengar cuitan burung dari sana. Sepertinya mereka belum bisa menggunakan sayap mereka. Sayang sekali burung yang terluka ini akan keburu mati sebelum sempat merasakan terbang.

"Apakah dia akan mati?" tanya Zenitsu, suaranya bergetar. Kentara sekali ia berusaha menahan tangis karena takut padaku.

Aku duduk bertumpu lutut. Memperhatikan anak burung itu lebih jelas. Sekali ini saja, sekali ini saja, aku akan meladeninya. "Sayapnya luka. Ada goresan. Mungkin kena anak panah."

Kurasakan Zenitsu berdiri di belakangku, mengambil jarak aman. Padahal anak burung ini toh takkan tahu-tahu terbang menghunusnya dengan paruh kan, astaga, dia ini takut pada segala hal, ya. "Ternyata beneran karena kena anak panah. Kaigaku hebat ya, bisa mendeteksi hanya dengan melihatnya."

Kukerutkan kening. "Kamu, dari mana kamu menebak kalau kena anak panah?"

"Ah, ada sambaran anak panah terdengar semalam. Sepertinya pemburu yang mengincar elang malam." Gemetar yang menyerta dalam nada bicaranya makin terdengar jelas.

"Berburu elang malam?" Aku pernah dengar soal itu. Nekat betul, para pemburu ilegal itu masih melakukannya padahal sudah dilarang. Sampai memanah malam-malam segala ketika nyaris tak bisa melihat apa-apa, nalarnya di mana? Sekalian saja bilang bahwa mereka hendak memanah rembulan.

"Lalu, kudengar anak burung terjatuh dari sarangnya. Menjerit. Kasihan sekali—"

"Nggak usah nangis lagi!"

"Maaf, tapi—"

Kudiamkan ia yang sesenggukan. Zenitsu mundur beberapa langkah, berusaha sejauh mungkin agar tangisnya tak terdengar olehku. Kuambil burung itu hati-hati. Mungkin Jigoro bisa merawat lukanya, dan didiamkan sampai nanti terbang sendiri. Aku berdiri setelah memosisikan anak burung itu di telapak tanganku. Burung pipit. Aku berbalik badan, dan melihat Zenitsu memunggungiku, ia menghadap pohon dan terus-menerus mengusap wajahnya.

Apakah kamu tidak bosan menangis terus? Aku ingin membentak begitu. Sifatnya sungguh bikin muak. "Heh, lihat sini!" seruku.

Ia membalikkan badan. Ada jejak air mata baru di pipi. Sungguh tidak percaya aku terjebak bersama manusia secengeng ini. Kusodorkan telapak tanganku. "Bawa dia, gih. Aku harus bawa keranjang plastik."

Takut-takut, ia mendekat. Kedua tangannya gemetaran saat melihat burung pipit itu. Rintihannya tak tertangkap telingaku, tapi entah kenapa, dengan melihat Zenitsu, aku bisa merasakan bahwa bocah itu mampu mendengarnya dengan jelas. Aku sangsi, tapi aku tak bisa meragukan penglihatanku sendiri. "Dia rapuh sekali ..." ucapnya terbata-bata, mau menangis lagi. Astaga.

Aku berkata barangkali Sensei bisa diandalkan soal ini. Ia tidak membantah.

Kami mencapai rumah dengan aku yang ada di depan. Dia mengelak saat kutodong bahwa dia harusnya bisa hafal jalan kembali ke jalur tapak, nyatanya dia yang membawa kami sampai ke sini. Ketika hendak kupaksa lagi, tangisnya sudah membanjir. Beda sekali dengan sebelumnya. Kubiarkan dia mengikutiku tanpa suara, selagi aku dipenuhi dengan pikiran-pikiranku sendiri.

Pujiannya padaku terulang di kepala, soal ia mengagumiku yang bisa menebak bekas goresan luka di sayap disebabkan oleh anak panah. Yang benar saja. Apakah dia mencoba sarkartis? Dia tidak tahu sesinting apa itu artinya kalau dapat mendengar suara sambaran anak panah, jatuhnya burung dari sarang, dan rintihan hewan terluka? Serius, yang benar saja!

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Yang namanya Agatsuma Zenitsu memang tidak masuk akal.

.

Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya

—WS Rendra.***