NARUTO © Masashi Kishimoto | Naruto U. & Ino Y. | Mature Drama
.
Suatu siang menjelang musim panas.
Ino memasang wajah bosan, menatap suasana dunia yang membuat muak. Ia terlihat mengabaikan segala pembicaraan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan dunia romansa. Gadis bermata biru dengan hamparan langit tanpa awan itu tampak tidak peduli dengan sikap antusias yang diberikan oleh teman-temannya.
Kafe dengan suasana sederhana, menawan, sekaligus mempesona adalah tempat langganan apabila mereka memiliki waktu senggang. Pembicaraan perempuan adalah salah satu hobi kesukaan, namun topik yang diperbincangkan hari ini tentu menjadi sebuah permasalahan.
"Jadi, Sakura-chan sudah melakukannya dengan U-Uchiha-san?"
Ino mengerjap, mencoba menyembunyikan reaksi tidak nyaman terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis di sebelahnya, Hinata Hyuuga. Gadis berambut gelap memasang wajah tidak percaya, seolah pertanyaan tersebut adalah sebuah jackpot yang dapat membuat semua orang bahagia. Iris biru melirik pada gadis berambut merah muda yang terlihat malu-malu sembari meremas kedua tangan.
Sakura Haruno pun mengangguk. Ino pun memasang wajah kaku.
"I-Iya…"
"Wah, selamat!"
Tenten Mitarashi menjerit sebagai balasan. Pipinya merona, membayangkan sesuatu yang patut dilakukan setelah mengikat janji di atas altar pernikahan. "Apakah sakit?"
Sakura melirik Tenten dengan senyuman lebar. "Awalnya sih iya, tapi Sasuke-kun melakukannya dengan baik. Yah, mungkin suatu saat kau akan mengerti, Tenten." Gadis berambut musim semi menopang dagu, membayangkan masa lalu yang membuat candu. "Sasuke-kun menyentuhku tanpa paksaan, kurasa dia memang—"
"Sakura," Ketiga perempuan yang sibuk membahas pengalaman pertama pun segera mengalihkan pandangan. Ino beranjak berdiri, mengambil tas, melemparkan senyum tipis. "Aku duluan, ya. Sekali lagi selamat atas hubunganmu dengan Sasuke-kun."
"Heee, jangan begitu dong!" Tenten berniat mencegah. Iris cokelat berkilat tidak senang. "Kita sudah lama tak bertemu dan kau ingin pergi begitu saja? Kau tidak seru, Ino."
"Terserah katamu, baka-ten," Ino menjulurkan lidah. "Aku harus pergi ke suatu tempat. Sampai jumpa."
— dia membenci fakta itu; pernyataan yang mengatakan bahwa Sasuke Uchiha, salah satu mantan yang masih dicinta, telah berpacaran dengan sahabatnya, Sakura.
— dasar pelacur sialan.
.
INNER SKY
© enthusiasta • FanFiction • 2020
Mature & Sexual Content | Alternate Universe | Crack
.
Ino merasa tidak ingin melakukan apapun.
Pena berwarna putih menjadi atensi kala kepala masih terbang menuju sebuah destinasi. Jemari lentik terus saja memutar benda panjang itu dan menganggapnya suatu hiburan yang dapat menyembuhkan hati. Iris biru bagai langit musim panas terlihat gelap, memikirkan suatu kejadian lampau yang hampir membuat gila. Napas terus saja terdengar, frustasi dapat terasa dalam dada, keinginan untuk memukul sesuatu adalah hal yang patut untuk ditahan.
Langit mulai berubah warna dari biru hingga ke jingga. Detikan jam yang berada di dalam ruangan adalah satu-satunya suara yang dapat terdengar di gendang telinga. Ino bertopang dagu, menatap jendela yang terbuka. Ia menikmati semilir angin yang menerobos masuk dalam rangka menenangkan jiwa. Pikiran tetap saja terpaku pada sosok lelaki tampan berambut hitam yang mulai menjauh akibat hubungan mereka yang kandas, mulai berpaling pada perempuan berambut aneh dan saling berpegangan tangan.
— terkutuklah dia, Sakura Haruno.
Tuk.
Jidat diketuk, sang pemilik memekik pilu. Ino meringis, menatap sosok yang dari awal sudah ada di sana, memperhatikan segala gerak-gerik yang membuat gadis itu terdiam seribu bahasa.
"Apa yang kau pikirkan?" Suara berat mengalun. Kulit cokelat terlihat cocok dengan semburat jingga yang mengintip dibalik jendela. Iris biru dengan hamparan samudera perlahan terlihat, menatapnya dengan wajah tertekuk bosan. "Kalau kau tidak niat belajar, lebih baik kita sudahi saja."
"M-Maaf," Ino mengelus jidatnya yang telah diketuk dengan spidol berwarna hitam. Gadis itu tersenyum tidak enak, meminta maaf pada lelaki yang saat ini sedang bersamanya. "Ada beberapa masalah, yah … kau tahu, remaja."
"Kau pikir aku sudah tua?" Naruto Uzumaki bertopang dagu, mengabaikan beberapa buku yang terbuka. "Aku hanya lima tahun lebih tua darimu, Nona."
Ino memasang wajah cemberut. "Kau lima tahun lebih tua tapi tetap saja melakukan hal yang kekanak-kanakan, Sensei. Bisakah kau memanggilku seperti biasa?"
"Aku sudah memanggilmu enam kali tapi kau tidak mendengar, Bodoh." Iris biru nyaris serupa saling bertatapan dengan perbedaan sikap. "Ada apa lagi kali ini? Kau diputuskan lagi?"
Ino menggembungkan kedua pipi. "Itu bukan urusanmu."
"Jangan jadikan urusanmu itu mengganggu pekerjaanku, Ino." Naruto Uzumaki menghela napas. "Ujian akhir akan dimulai sebentar lagi, kenapa kau tidak bisa fokus belajar walau hanya sedikit?"
Naruto Uzumaki menatap salah satu anak bimbingan, Ino Yamanaka, yang menundukkan kepala dengan pipi merona—menahan malu sekaligus tangisan. Gadis muda berambut pirang dengan kecantikan luar biasa namun sangat manja. Dipercaya oleh Inoichi Yamanaka agar anaknya bisa lulus universitas yang diinginkan, pemuda itu bertekat untuk membuat Ino menjadi salah satu siswa yang menembus seratus besar. Hanya saja, mengingat tingkah gadis ini yang sangat bodoh dan mengesalkan, ia harus memberikan yang terbaik dan menjadi lebih dewasa.
"Maaf…"
"Permintaan maaf diterima." Naruto menghela napas, tersenyum tipis. Ia menutup buku matematika dengan ketebalan dua ratus lembar. "Sudah mulai sore, sebaiknya kau pulang."
Ino mendongak, menatap Naruto yang berdiri dan membereskan buku-buku mereka menuju rak yang ada di ujung ruangan. Apartemen pemuda itu tidak terbilang besar, namun cukup nyaman untuk dihuni secara individual. Gadis berambut pirang memperhatikan punggung sang pria yang tinggi dan tegap. Ia terdiam sejenak, mengingat pembicaraan sebelumnya.
"Sensei," Ino memanggil. Naruto melirik. "Apa Sensei sudah punya pacar?"
"Tidak." Naruto menjawab, begitu jujur dan spontan. Ino kembali membuka mulut, mencoba untuk membawa pembicaraan terus berlanjut, namun hal tersebut sudah diduga oleh pria berambut pirang yang memberi penolakan secara halus. "Jangan bertanya lebih jauh, Ino. Cepatlah pulang."
Lagi, penolakan.
— kenapa gadis itu tidak pernah beruntung dengan seorang pria?
Ino berdiri, membiarkan buku paket yang berada di pangkuannya terjatuh mengenai tatami. Dia melangkah, mendekati Naruto yang masih sibuk menyusun buku-buku tebal yang menjadi bahan pembelajaran mereka. Naruto dapat merasakan tepukan pelan pada belakang punggung. Perlahan, iris biru melebar heran. Ia mendelik pada kedua tangan putih yang telah memeluk tubuhnya dari belakang.
Apa-apaan?
"Ino, apa yang kau lakukan?"
Kecupan dibalik kemeja dapat dirasakan. Naruto tahu ada sesuatu yang tidak aman. Pemuda itu berbalik dan ingin bertanya mengenai peristiwa barusan, namun bibir segera disambut oleh ciuman kecil yang menjadi sebuah prasangka.
"Sensei, a-aku—" Ino menggigit bibir. Ia mengabaikan wajah Naruto yang terdiam kaku, terkejut akan ciuman dadakan yang berasal dari sang gadis yang memasang wajah malu-malu. "—aku ingin menginap, bolehkah?"
— frustasi; keduanya merasa frustasi.
— ia membutuhkan sesuatu; suatu sandaran; sebuah cinta satu malam.
.
inner sky © enthusiasta
.
Naruto tahu ini adalah perbuatan gila.
Walau tidak pernah peka dengan perasaan perempuan, ia tahu mengenai fakta yang mulai terlihat; sebuah kenyataan yang membuat salah satu anak didiknya selalu merasa gelisah ketika mereka berada di ruangan yang sama. Ino Yamanaka, sang putri tunggal dari keluarga pemilik toko bunga, tampak patah hati akibat suatu hubungan yang pernah berjalan beberapa tahun silam. Naruto mengetahui bahwa Ino adalah gadis populer; dia ceria, dia cantik, dia mempesona, dia hebat, dia indah. Ino adalah perempuan yang mampu membuat semua pria merasakan cinta. Ino adalah sosok manusia berupa dewi kerajaan. Ino adalah seorang manusia yang memiliki kesempurnaan meski tidak pernah beruntung dengan apa yang disebut sebagai perjalanan romansa.
Naruto tahu semua itu dengan sangat baik.
Kala menatap wajah remaja yang telah memeluknya, meminta secara tidak langsung untuk tidur bersama, Naruto paham bahwa batasan yang telah dibuat antara guru dan siswa telah terlepas begitu saja. Tanpa sebab, Ino kembali menciumnya. Ia memohon pada Naruto agar mengabulkan sebuah permintaan terlarang. Ino memaksa Naruto untuk menuruti keinginannya. Ino ingin Naruto mendekapnya erat, memberikan cinta, menciuminya, dan membuat mereka terjun bebas ke dalam hal yang disebut sebagai dosa.
"Mmfh … ngh—"
Ciuman mereka terus tersambung; memberikan koneksi transparan secara tidak langsung. Lidah kasar memaksa masuk, mengajak sang pasangan untuk bermain lebih jauh. Kemeja terus diremas sampai kusut, memohon kepada sang pria untuk berhenti dalam rangka mencari oksigen untuk tubuh.
"Ha—ah … s-sensei—"
"Sst, diamlah." Naruto mengecupi pipi gembul milik remaja di bawahnya. Kasur berderit pelan sebagai pertanda. Ia mulai menikmati semuanya. "Jika ini yang bisa kulakukan untukmu, akan kulakukan."
"Ah—aku … ngh, Naruto-sensei…"
Pakaian tersibak tanpa diminta. Seragam sekolah terlempar begitu saja, menampakka bra berwarna putih keemasan. Wajah Ino memerah, Naruto menyeringai. "Kau punya tubuh yang indah."
"A-Apa yang kau katakan—ah!"
Naruto bergerak maju. Ia menciumi lekukan wajah Ino melalui kedua pipi, alis, turun ke puncak hidung, hingga mengecupi bibir ranum yang membengkak itu. Leher berwarna putih perlahan menjadi saksi bisu, gigitan halus mulai terasa dalam nadi ketika pemuda itu menelusuri hingga ke bahu. Tangan sibuk meremas dada sebelah kanan, memberikan suatu aliran listrik ke dalam hormon untuk terus bergejolak.
"Ah, ha … Naruto—" Ino menahan untuk tidak mendesah, namun tindakan tersebut adalah kegagalan. Ia mencoba untuk menahan suara, namun rangsangan akibat gerakan teratur dari sang pria membuat kepalanya terasa terjun bebas. Ia menutup mata, menahan bahu Naruto sebagai bentuk formalitas. "S-Sensei—ah, ngh, ahh…"
— ya, lakukan; sebut namanya, undang dia untuk menyetubuhimu sampai kau puas.
"Ino…"
Tubuh Naruto berkeringat. Garis pertahanan telah runtuh total. Ia adalah pria normal. Ia menyukai perempuan. Ia bukan orang bodoh yang akan mengabaikan kesempatan begitu saja. Ino adalah seorang perempuan, membutuhkan sandaran, meminta untuk dicinta. Ia tidak ingin membuat gadis itu pergi dari sini dan mencari pria lain untuk menyalurkan hasrat.
— demi apapun di dunia ini, pria itu tidak akan membiarkan sang gadis melacur hanya karena rasa frustasi.
"Ah … ha—sensei…"
"Uhh … ahh…"
"Mmh … ha, ah—"
Bagi Naruto, desahan Ino adalah surga. Dapat ia rasakan perasaan tak menentu yang mulai bergemuruh di dalam dada. Rintihan gadis itu telah menjadi kesukaan sejak mereka berada di kasur yang sama, tertidur dengan posisi kurang ajar, serta berada dalam keadaan setengah telanjang.
Naruto menatap dua buah dada yang sangat pas untuk digenggam. Iris biru menggelap, memperhatikan puncak merah muda yang menegang. Jemari meraih sumber itu dan dimainkan dengan tempo biasa, ditekan-tekan begitu kuat. Wajah merona total sampai ke telinga, gadis yang saat ini berada di pelukannya tampak memberi sinyal kenikmatan. Naruto mendekatkan bibir, menjulurkan lidah yang telah dibasahi oleh ludah. Ia menyentuh puncak merah muda, memutarinya, menekan-nekan benda itu hingga kemerahan dan membuat sang perempuan menutup mata dengan wajah merona akibat sensasi terbakar yang menjalar kencang.
"Nghh, ha … ah, Naruto-sensei…"
Naruto menghirup aroma yang membuatnya mabuk. Ia menyukai dada Ino akibat wewangian yang ditimbulkan telah menjadi suatu candu. Kembali, pria itu mengeluarkan lidah—menjilat puncak dada Ino yang mengeras akibat permainan mereka, menciptakan berbagai desah erotis dari bibir yang membengkak. Dapat Ino rasakan gelombang cinta kala Naruto berhasil membuat keduanya berada dalam fantasi tanpa batas.
"Ah, ahh … ah!"
Tangan terjulur kembali, menarik celana dalam milik Ino dalam satu gerakan, membuat gadis itu terkejut akibat perbuatan yang terlalu tiba-tiba. Tanpa diminta, Naruto menciumnya kembali—tidak menerima aksi penolakan dengan cara lebih elit. Pria itu lebih memilih untuk menuntun tangan Ino memeluk lehernya, berusaha agar gadis itu terlihat nyaman di dalam permainan mereka. Jari mengelus bagian bawah yang basah akibat rangsangan, menyelip perlahan dibalik celah yang dapat dimasuki dengan mudah.
"AH!"
Ciuman terlepas tiba-tiba, sang gadis terkejut dengan sesuatu yang asing mulai masuk dan menari-nari di dalamnya. Jemari panjang dengan cairan sebagai penahan, mengontrol gerakan menggunakan tempo teratur yang perlahan dipercepat. Naruto menahan napas, menatap begitu lama pada apa yang telah terjadi di bawahnya; seorang perempuan berumur tujuh belas tahun sedang menggeliat, memekik pelan seiring dengan kecepatan jari yang perlahan tidak sabaran. Gigi bergemeletuk kencang, hasrat ditahan dengan segala kekuatan.
"N-Naruto—ah, ahh, ha!"
"Ya," Naruto berbisik, mengecup daun telinga milik Ino yang memerah. "Aku di sini, Ino."
Ketika merasakan sensasi asing di bagian bawah, Ino merasa bahagia. Ia berada di pelukan seseorang yang dia kenal, seseorang yang telah dia percaya untuk mengambil masa depannya, seseorang yang memang menyebalkan namun benar-benar memikat. Naruto Uzumaki adalah pria dewasa, ia pun mampu membuat Ino tidak membayangkan sesuatu yang menakutkan. Perlahan, kedua lengan kecil terlentang—memeluk leher sang pria berambut pirang agar tubuh mereka saling berbagi kehangatan. Kecupan pada pipi adalah pertanda bahwa keduanya memang menginginkan cinta.
Tiga jemari Naruto mulai menari di daerah kewanitaan milik Ino; mencari, menggesek, mengoyak, memutar dalam irama—membuat perempuan yang menjadi penerima hanya mampu membuka kaki lebih lebar, terkulai lemas pada bantal, dan mendesah-desah seperti seorang pelacur yang menemukan sumber kenikmatan.
"Hhh … ah, ha!"
"Ahhh, N-Naru—"
"Aku … si-sial—ah! Naruto—"
Iris biru tua mulai menggelap akibat satu hal; bukankah desahannya sangat indah?
Tanpa diminta, gerakan ketiga jemari pun dipercepat.
"Ah … ha, ah! A-Astaga! Naruto—"
"Ha—ah! Ah! Agh! Ahnn—!"
Naruto dapat merasakannya—cairan pertama telah datang, membasahi tiga jemari dengan aroma asing sebagai hadiah.
Tautan mereka terlepas. Ino segera menutup kedua mata—terengah begitu hebat, tubuh gemetar akibat tetes kenikmatan belum juga kandas. Naruto memperhatikan segalanya dari atas; kilatan tubuh akibat keringat, pipi merona yang tidak pernah menghilang, gerakan dada tidak teratur akibat terlalu lelah, basah karena air liur serta cairan, jejak merah yang menghiasi, telanjang bulat dengan tubuh molek tak terhingga. Ino sangatlah cantik, Naruto akui dan memutuskan untuk menyimpan pujian itu sendiri.
"Kau baik-baik saja?"
Kedua mata Ino perlahan terbuka, menatap lemas pada pria yang saat ini sedang memperhatikannya. Mereka berpandangan dalam arti berbeda. Dapat dia lihat pemuda itu memberikan sebuah cinta dengan cara bertanya keadaan mental. Perlahan jemari putih mengelus pipi bergaris, memberikan sensasi aneh yang mampu membuat sang pria tertegun karena sebuah perasaan asing.
"Tidak apa, aku baik-baik saja…" Ino tersenyum. Ia meraih pipi Naruto dan mengecupnya lagi. "…aku tidak menyangka, kau sangatlah baik…"
— hingga dari situ, jantungnya mulai berdegup.
Naruto memajukan kepala, mencium Ino sembari membuka kaki perempuan itu lebih lebar. Ia membuka celana tanpa suara, mengibaskan benda itu hingga terkena ujung meja dan terkulai lemas di atas lantai. Ciuman mereka tidak lagi terburu-buru; terkesan lebih teratur, lebih tenang, lebih sabar, lebih perhatian. Naruto membimbing, Ino pun mengikuti. Bibir merah dicium berkali-kali dalam maksud menyukai. Naruto menyukai Ino—sikap, tubuh, hati. Pria itu telah terjun secara penuh oleh sebuah pesona yang dapat membakar jiwa dominasi.
Perasaan Ino semakin tidak menentu saat merasakan sesuatu yang tumpul telah menyentuh miliknya secara langsung. Naruto menggigit bibir, menahan untuk tidak bermain kasar dan membuat sakit. Yang ada di pelukan saat ini bukanlah pelacur bayaran, melainkan gadis remaja yang menginginkan sebuah cinta dan pengalaman. Pernapasan diatur begitu kuat, hasrat untuk langsung menerobos ditahan mati-matian, tetesan keringat diabaikan begitu saja. Naruto memajukan badan, memasuki sesuatu yang langsung menjepitnya. Erangan tidak tertahankan, getaran asing perlahan meruak dari kejantanan hingga ke sudut badan. Ia menyembunyikan wajah di sisi Ino yang juga mengerang kesakitan, tangan dengan setia memegang kedua bahu berkulit cokelat akibat perlakuan mereka untuk mencari sebuah penyatuan.
Naruto dapat merasakan sebuah cakaran dari bahu menuju pundak. Ino meringis karena proses ini terlalu merugikan baginya. Isakan dapat terdengar dari seluruh sudut kamar. Ino menangis, Naruto pun mengumpat dalam hati. Pria itu tahu bahwa hal semacam ini bukanlah sesuatu yang harus dihentikan begitu saja. Tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu, kejantanan miliknya berhasil masuk dalam satu sentakan kuat, teriakan pun tak dapat ditunda. Ino terlonjak karena perbuatan Naruto yang kurang ajar serta terlalu tiba-tiba.
"AH!" — dapat dia rasakan sebuah cairan kental perlahan mengalir, mengenai kejantanan yang tetap menancap masuk, menetes hingga membasahi kasur.
Naruto memberikan, Ino menerima; darah keperawanan telah muncul dan menjadi sebuah akhir dari masa remaja sang wanita.
"Ah … ngh, s-sakit—"
"Maaf … maafkan aku." Naruto meringis. Kedutan yang mengundang telah membuat kepalanya pusing. Namun melihat tangisan Ino, dia menjadi tak tega dan berusaha melakukan yang terbaik. Perlahan, kecupan permintaan maaf dilayangkan; dari dahi, turun ke puncak hidung, kedua pipi, hingga bibir yang menjadi tujuan terakhir. Naruto melakukan segala cara agar membuat Ino tak lagi merasakan sakit. Ia tidak mau membuat perempuan ini tersiksa akibat ironi. Ia tidak mampu melihat sebuah tangisan dalam hubungan mereka untuk pertama kali.
Hingga beberapa saat, Ino perlahan mulai terbiasa hingga Naruto yang sibuk menjilati air matanya. Wanita itu memberikan sebuah sinyal, mencium pipi Naruto agar segera bergerak.
"…kau yakin?"
"Iya, aku baik-baik saja…"
Ada kalanya, Naruto merasa ragu. Tetapi saat melihat keyakinan Ino, ia pun mengangguk.
Naruto memperbaiki posisinya, bergerak dengan tubuh tegap. Pinggul pun bergerak dengan tempo pelan. Tidak pernah ia lepaskan tatapannya pada Ino yang ikut terhentak dan mengerang pelan. Tak lama, ringisan berubah menjadi desahan. Sakit pun menghilang. Kenikmatan mulai memasuki nadi dan memompa darah menjadi lebih cepat dalam satu gerakan. Naruto masuk lebih dalam, Ino pun mendesah dengan suara kencang. Gerakan mereka terjadi berkali-kali, berulang-ulang; maju, mundur, terhentak, bergoyang.
"Ah! Hmph! Ha! Ah!"
Ino tidak peduli bagaimana bisa suaranya berubah manja seperti ini. Ia hanya hanya ingin menikmati segala hal yang telah dilakukan oleh Naruto untuk membuatnya lupa dan menjadi pihak submisif.
"Ahn! Ah! Naruto-sensei!" Wanita itu dengan setia melantunkan sebuah nama. Ia menyoraki pria itu agar terus bergerak tanpa henti sampai mereka mencapai puncak dari kenikmatan. Ino meminta Naruto untuk melakukan gerakan yang dapat membuatnya gila. Ino memohon kepada Naruto agar mereka terus berada di posisi yang sama. Ino menjerit, meneriaki nama sang pria dengan penuh semangat; bagai pedal gas yang terus digunakan tanpa cakram. "Naruto! Naruto-sensei! Ah! Ha!"
"Ha—ah! Ahn!"
"Naruto—ah! Ahh! Ah!"
— terus begitu; berkali-kali, berulang-ulang.
Naruto menggeram; milik Ino memberikan sebuah jepitan terbakar, membuat kejantanannya dipijat dengan penuh perasaan. Napas terdengar membakar, Naruto tak lagi fokus dan sibuk menghentak-hentak.
"Sial—"
"Ahn! N-Naruto—"
Tubuh mereka bersentuhan, membagi perasaan nikmat tersebut secara verbal. Naruto menyatukan dahinya pada dahi Ino, bernapas pelan akibat puncak hampir tiba. Ino mendesah seperti perawan gila dan terkulai lemas sembari menerima sengatan tanpa henti di bagian bawah. Tusukan itu perlahan semakin cepat, semakin membara, semakin panas, semakin hebat—sampai mereka dapat merasakan kenikmatan yang sebenarnya.
Orgasme kedua untuk Ino. Orgasme pertama untuk Naruto. Keduanya merasakan hal yang tak berbeda; puncak telah datang bersama-sama dan memberi kesempatan untuk merasakan apa itu arti bercinta. Liang dengan cairan putih sekaligus merah telah tercampur menjadi satu dengan tetesan sperma. Ketika merasakan milik Naruto yang telah memasuki tubuhnya, membasahi rahimnya begitu dalam, dapat Ino rasakan sebuah kesenangan yang mampu membuat dirinya gemetar tanpa sebab.
Ino tidak peduli definisi dari kondom, dia juga sepertinya tidak tahu apa dampaknya kala dirinya melupakan hal sepele seperti itu.
Naruto terengah. Ia pun melepaskan kejantannya dari liang Ino sembari mengatur napas. Kembali, pria itu memperhatikan wajah sang wanita yang tetap gemerlap walau dibasahi oleh keringat. Ia mengecup pipi Ino sebagai ucapan terima kasih tak tersirat, sebelum menjatuhkan tubuhnya ke sisi kasur dan membalikkan badan.
Ino tertegun, menatap punggung Naruto yang tak lagi mengucapkan apapun. Selimut diraih, menyelimuti seluruh tubuh. Perlahan, wanita itu meringsut mendekat—memeluk punggung berkulit cokelat yang sangat lebar dan menenangkan.
"Sensei…"
"Hm?"
"…terima kasih."
Naruto terdiam sejenak. Ia pun menghela napas. "Tidurlah, besok aku akan mengantarmu pulang."
Ino tidak memberi jawaban, tapi Naruto tahu bahwa wanita itu menganggukkan kepala. Dapat pria itu rasakan sebuah pelukan yang lebih erat, punggung yang disentuh oleh kepala, serta helai pirang yang membuat hati bergejolak. Ino menyenderkan diri pada punggung Naruto, tersenyum kecil.
"Naruto-sensei,"
"…apalagi?"
"Jadilah kekasihku."
— dan jawaban yang diberikan hanyalah ekspresi bisu.
.
inner sky – end
.
a/n: berikan dukungan cinta untuk asta, wahai kalian, para pembaca mesum. nantikan fiksi lemon lainnya, stay tuned!
— review!
