Butterfly Effect

AUTHOR : HUANG AND WU

GENRE : ROMANCE, HURT/COMFORT

LENGTH : ONESHOT

CHARACTER : OH SEHUN, XI LUHAN, and other casts!

POINT OF VIEW : AUTHOR

RATE : T

FF ini terinspirasi dari game Until Dawn yang mana dari situ mereka ada konsep Butterfly Effect, bagaimana sebuah kejadian akan jadi tumpuan terjadinya kejadian selanjutnya—which is like a pattern. And the best thing is EXO has the exact title of this song in Obsession album! Recommend banget main game ini—HAW gak tau sih console yang the best apa tapi kalo aku mainin di PC so it's worth to try!

Enjoy!

-butterfly effect-

"Hey, Hun!"

Seorang pemuda dengan pakaian gelap dan postur tinggi menjulang menghampiri seorang pemuda berkulit putih yang tengah mendengarkan musik dalam diam, menikmati dirinya yang tengah ditata rambutnya oleh seorang hair stylist selagi mempersiapkan stage mereka selanjutnya.

"Selamat ya! Sebuah kabar bagus!"

Pemuda yang bernama 'Hun' tadi—Oh Sehun, member dari EXO—menengokkan kepalanya dengan kebingungan. Kabar baik apa? Ada info yang dia tidak tahu kah? Kenapa hyung ini tiba-tiba menghampirinya?

Chanyeol—Park Chanyeol, member dari EXO—yang tadi menginterupsi Sehun tadi memperlihatkan sesuatu di layar ponselnya. Sebuah artikel ternyata. Sehun mendekatkan wajahnya pada layar ponsel itu, mengamati dengan teliti.

"Selamat yaaa, kamu masuk nominasi Most Phenomenal Figure!"pekik Chanyeol, dari nadanya girang sekali.

"HAH!? Dimana itu?"tanya Sehun, sangat clueless.

"Di V Chart Awards, lah! Dimana lagi? And yes, congrats!"pekik Chanyeol, kemudian menyalami tangan Sehun dengan sumringah—tubuhnya yang sedikit berguncang saking excitednya membuat hair stylist yang tengah menanganinya pun kewalahan.

"Ta-tapi, a—aku kan..."

"SEHUN-AH!"

Terdengar pekikan menggelegar Baekhyun yang baru selesai menyelesaikan makeup stage nya. Dia segera menghampiri Sehun dan nyaris memeluknya ketika Sehun mencegahnya—damn, pelukan Baekhyun bisa-bisa merusak rambutnya, padahal mereka sebentar lagi tampil.

"Maknae kita sudah dewasaaaaa!"pekik Baekhyun, mengingatkan Sehun akan hebohnya Chanyeol beberapa detik lalu.

"Sehun-ah, selamat ya!"dan kini giliran Jongdae aka Chen yang menghampirinya, memberinya selamat dengan hangat.

Seorang pemuda dengan rambut merah menyala dan berbentuk seperti tanduk pun menghampirinya, kemudian menepuk pundaknya bersahabat. Junmyeon aka Suho—pemuda berambut merah tadi—pun memberi senyum semangat pada Sehun yang masih sangat clueless. Junmyeon membaca artikel pada ponsel Chanyeol dengan raut wajah bangga.

"Kapan kau berangkat ke Hongkong?"tanya Junmyeon.

"HAH!?"

-butterfly effect-

Sehun mempersiapkan dirinya yang selesai menata barang-barang keperluannya dalam sebuah koper cukup besar. Managernya telah menunggu di depan kamar dormnya, menunggunya selesai mempersiapkan diri. Dua minggu semenjak pengumuman mengejutkan yang Sehun dapat tentang nominasi dirinya membuatnya harus mempersiapkan semuanya—untung dia punya manager yang siap membantu. Sehun menatap pantulan dirinya di cermin.

"Baiklah, Hun. Lets finish this."gumamnya pada diri sendiri.

Sehun meraih kopernya, kemudian berjalan keluar—tak lupa ia menutup pintu kamarnya. Ia mengikuti managernya yang turun dan berjalan menuju van EXO. Sehun membiarkan managernya yang menaruh koper itu di bagasi, sementara dirinya duduk nyaman di dalam van. Ia menghidupkan ponselnya yang tadi ia charge, kemudian menghubungkannya dengan air pod. Sehun membuka playlist Spotify miliknya, mencari lagu yang sesuai dengan moodnya saat itu.

Kemudian matanya terpaku pada sebuah lagu—lebih tepatnya pada cover lagu tersebut.

Deep – Lu Han

Sehun mengukir senyum kecil, menatap cover album Reloaded II milik Luhan, artis itu. Tanpa ragu, Sehun mengklik lagu itu, dan mendengarkannya dalam diam selagi menunggu van tersebut sampai ke bandara

Lagu itu membuatnya merasa semangat.

(Ps : I personally recommend this piece of art titled 'Deep' from Luhan, and the fun fact is that this song was released to promote Luhan alongside the release of Kung Fu Panda 3 movie).

-butterfly effect-

Lima jam yang dibutuhkan Sehun, pada akhirnya sampai ke hotel tempat ia dan kru dari SM Entertainment akan menginap selama beberapa hari ke depan. Sehun mendapat satu kamar sendiri, sementara yang lain berdekatan dengannya. Sehun menata pakaiannya dalam wardrobe, merapikannya satu per satu. Setelah tertata rapi, Sehun berjalan ke arah jendela yang menghadap ke pemandangan kota Hongkong. Sehun membuka automatic curtain hotel itu, menikmati siang yang cukup hangat di Hongkong.

Sehun menghela nafas agak berat. Sehun menatap kesibukan yang ada di hadapannya. Mobil-mobil yang berlalu lalang, gedung-gedung perkantoran yang sangat hidup, kedai-kedai tepi jalan yang menjajakan dagangannya, dan orang-orang yang bergantian menyeberangi zebra cross mengikuti peraturan lalu lintas. Sehun kembali ke kasurnya, kemudian merebahkan dirinya.

Pikirannya tak lepas dari sosok Luhan, member EXO dari Beijing yang memutuskan untuk menempuh solo karir sejak 2014 lalu. Sehun menyilangkan tangannya, dan menaruhnya di belakang kepalanya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan menerawang, membayangkan betapa bedanya EXO jika Luhan dan member lainnya masih bersama mereka.

Sehun mengukir senyum kecil, kemudian meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi Instagram, dan secara spesifik mengetikkan 7_luhan_m, akun instagram Luhan. Ia men-scroll akun tersebut pelan-pelan, melihat wajah berbinar Luhan di sana. Sehun ingin sekali memencet tombol 'follow back' yang tersedia di sana, hanya saja dia tidak mau berurusan dengan manager dan agensi—hell no, hal terburuk yang bisa dibayangkan.

Dan tanpa ia sadari, Sehun pun terlelap perlahan, dengan sosok Luhan yang manis menghampiri alam bawah sadarnya.

-butterfly effect-

Sehun baru selesai merapikan dirinya di depan cermin. Ia sudah mandi dan mencukur rambut yang mulai tumbuh di dagunya—well I mean, he is a guy nevertheless. Sehun menyemprotkan beberapa percik cologne pada tubuhnya, menatap pantulan dirinya yang tampan di sana. Ia memakai sebuah snapback—sentuhan terakhir—sebelum akhirnya keluar kamar.

Ia pun disambut oleh managernya di sana.

"Kemana plan mu hari ini?"tanya manager.

"Jalan-jalan menikmati malam di Hongkong."ucap Sehun, diangguki sang manager.

Mereka berdua pun segera turun, dan ajaibnya tak ada fans-fans heboh yang menunggu di sana—atau mungkin memang tidak ada yang tahu bahwa Sehun sedang di Hongkong sekarang ini, karena V Chart Awards baru akan mulai dua hari lagi?

Sehun menaiki van EXO, yang kemudian membawanya ke pusat kuliner Hongkong.

-butterfly effect-

Sehun berjalan menyusuri pedestrian, dengan masker dan snapback nya. Manager berjalan mengekorinya, dengan beberapa staf lain yang berjalan agak terpisah. Sehun menatap kehidupan malam di sana, dimana kedai-kedai masih menjajakan dagangannya. Sehun sudah mencoba beberapa street food yang dijajakan di sana, mengisi perutnya yang kosong dan agak dingin.

"Kau mau makan hot pot?"tanya manager, menyarankan.

"Ayo."

Sehun berjalan mengikuti manager, yang kemudian berbelok menuju sebuah kedai hot pot yang agak sepi. Mereka pun masuk ke sana. Beberapa staf memesankan meja, sedangkan manager dan Sehun mengantri untuk memesan makanan. Sehun memasang air pod nya dan langsung memutar playlistnya.

"KYAAAAAAAA!"

Terdengar teriakan heboh di luar sana—suara-suara perempuan. Manager cukup aware ketika mendengar suara itu, lain dengan Sehun yang tidak memedulikan—lebih tepatnya, tidak tahu—suara-suara itu. Ketika mereka sudah sampai di depan meja pesan, manager tiba-tiba izin ke toilet. Sehun mengangguk, dan ia menggantikan manager untuk memesan.

"KYAAAAAAA!"

Pekikan itu terdengar sangat heboh, diiringi dengan seorang pemuda yang berjalan masuk ke dalam kedai itu—pemuda itu mengenakan masker putih dan snapback merah yang ridiculously sama dengan snapback Sehun. Beberapa bodyguard menjaga pintu itu, mencegah fans-fans tersebut masuk ke kedai toko yang mendadak ramai akibat teriakan mereka itu.

Sehun selesai memesan dan membayar, ketika ia hendak menuju mejanya. Ia menatap pemuda yang tengah berdiri di ambang pintu itu, yang tengah merapikan rambutnya dan kembali memakan snapbacknya. Sehun terdiam, seakan tahu persis postur dan gerak gerik pemuda itu.

Tapi, sebelum Sehun merespon, pemuda yang terlihat manis tadi segera keluar lagi dari kedai itu, sedikit berlari—menghindari fans-fansnya yang mengejarnya. Sehun terdiam. Tubuhnya masih mematung di sana sambil memegang nomor meja dan nota pembelian. Manager baru selesai dari urusannya di toilet ketika melihat Sehun terpaku begitu.

"Hun? Kau tak duduk?"tanya manager.

Sehun tersadar dari lamunannya, kemudian menatap managernya. Ia segera mengangguk kaku dan berjalan ke salah satu bangku yang sudah dipesankan oleh staf. Sehun menyerahkan nota pembelian kepada manager, dan menaruh nomor meja itu. Ia tenggelam dalam pikirannya, melihat setengah wajah dari pemuda bermasker yang tadi.

Dadanya berdesir aneh.

-butterfly effect-

Sehun dan kru lainnya telah selesai santap malam, saatnya pulang. Sehun memilih untuk melewati jalur sebelumnya, dan kembali ke van mereka yang terparkir di suatu tempat—Sehun tidak ingat dimana karena van itu tidak diparkir di tempat dia didrop sebelumnya. Masih dalam diam, menikmati musik di telinganya. Suara Luhan dari lagu Medal sangat menyentuhnya, diiringi orkestra di baliknya. Ah, suara Luhan yang mantap tak pernah membuatnya bosan.

(Ps : another recommended song by Luhan 'Medal' is about someone who has to work hard to reach what he believes. A soundtrack to The Witness, a thriller-action movie starred by himself, too. Go watch it)

"Sehun, tunggu di sini. Saya akan ke parkiran dan mengambil van."ucap manager, kemudian berjalan bersama beberapa kru—meninggalkan Sehun dan beberapa kru lain.

Sehun terdiam di pinggir jalan itu, sesekali menghembuskan nafasnya. Ia menatap langit malam kelam dari Hongkong, berusaha menemukan bintang di sana—namun nihil. Ia pun larut dalam lagu yang ia dengar—masih sama—terutama di bagian bridge.

Sebuah mobil berhenti beberapa jauh dari Sehun. Ia menengok ke samping karena distraksi itu. Kemudian, semua berubah sunyi dan slowmotion.

Pemuda masker putih bersnapback merah itu berdiri di sana, menunggu dengan beberapa orang—perempuan-perempuan itu sudah tidak mengejarnya. Ia mengobrol dengan beberapa orang, dari raut matanya ia terlihat excited. Sehun mengamatinya dalam diam, melupakan sejenak tapak dirinya di dunia nyata, hanyut sendiri.

Pemuda bermasker putih itu mengangkat wajahnya, menatap seseorang yang sedari tadi melihatnya—pemuda snapback merah yang identik dengan miliknya dan bermasker hitam. Pemuda masker putih itu terdiam, menatap Sehun yang masih menatapnya. Mereka saling berpandangan, saling mengonfirmasi satu sama lain. Otot keduanya lemah, bibir keduanya sama-sama kelu, bahkan tak ada yang bersuara. Dunia hanya milik mereka berdua, walau hanya sekedar eye contact.

"Luhan, ayo!"

Seorang kru di sana mengingatkan pemuda masker putih itu dengan suara agak keras, hingga mencapai pendengaran Sehun. Sehun terdiam. Pemuda masker putih itu menatap Sehun—kali ini dengan tatapan nanar—dan memasuki mobilnya, disusul oleh kru yang tadi. Mobil hitam itu pun melaju perlahan, menjauh dari tempat Sehun berdiri.

Meninggalkan Sehun dalam kekagetan yang sunyi, seiring mobil van yang mendekatinya.

-butterfly effect-

Dua hari semenjak kejadian van di night street Hongkong, membuat Sehun seakan lupa tujuannya pergi ke Hongkong. Dia sama sekali tidak memikirkan nominasi dirinya, atau bahkan sekedar berlibur sendirian tanpa hyung-hyungnya. All he can think of is the red snapback guy he saw back in two days—and honestly, it drives him crazy.

Sehun ingin sekali mengirim direct message pada akun yang sedang ia tatap di ponselnya saat ini—siapa lagi kalau bukan akun 7_luhan_m. Sehun benar-benar tak habis pikir. Dirinya dirundung dilema sekarang, apakah ia harus bertanya atau tidak. Bagaimana kalau itu bukan Luhan? Bagaimana kalau Luhan tidak peduli—I mean, been a long time since they had contacts, right?

Sehun menahan dirinya. Ia memutuskan untuk menutup Instagram, membiarkan dirinya tenang sejenak. Sehun meraih botol minum di meja nakas samping kasurnya, meminum air di situ dengan kasar—sekali teguk sampai 1/3 botol tersebut habis. Sehun menyeka sisa air di mulutnya, kemudian bersandar pada kepala kasur. Ia memutuskan untuk menghubungi seseorang.

Junmyeon Hyung Babo

PIP PIP

Sehun menelpon, tidak mengharapkan orang di ujung sana merespon—I mean, it's so early in the morning—dan semua orang tahu betapa pemalasnya Junmyeon. Sehun memejamkan matanya, masih berusaha menenangkan dirinya. Kalau Junmyeon tidak mengangkat telponnya, bisa-bisa ia berubah gila.

PIP

"Oi, Sehun-ah!"

"Junmyeon hyung! Hyung, a-aku ada pertanyaan."ucap Sehun, nada suaranya agak terbata.

"Sepagi ini, Hun? Untung saja aku bangun karena kebelet pipis. Ada apa, Hun? Bagaimana kabarmu di sana?"

"A-aku baik, hyung. Hyung, aku mau bertanya. Bisakah hyung menolongku?"tanya Sehun, masih belum jelas kemana arah pertanyaannya.

"Maksudmu? Menolong apa?"

Sehun terdiam sejenak. Dia tidak tahu apakah berbicara pada leadernya akan menolong atau tidak—atau malah membuatnya dalam masalah. Tapi, Sehun harus tahu. Dia kemudian mengangguk yakin.

"A-apakah hyung bisa memastikan dimana Lu-luhan hyung sekarang? Jebal?"

Dan keterdiaman Junmyeon di ujung sana membuat suasana agak rumit.

-butterfly effect-

Sehun tengah mempersiapkan diri untuk V Chart Awards malam ini. Ia terdiam di depan cermin, membiarkan hair stylistnya melakukan tugasnya. Manager tengah duduk di sampingnya, memainkan ponselnya. Sehun—masih menikmati playlistnya—pun mulai membuka ponselnya.

Ia tidak berharap Junmyeon akan membantunya tapi akhirnya ia mendapat jawaban.

Dia sedang di Hongkong, dia juga dinominasikan di V Chart Awards

Sehun terdiam membaca isi chat itu. Junmyeon pasti sudah dengan berani bertanya langsung pada orangnya—karena Sehun tidak bisa menemukan flyer mengenai V Chart Awards tahun ini dimanapun. Sehun menatap ke arah cermin, dimana hair stylistnya masih sibuk menatap rambutnya. Sehun menoleh sedikit ke samping, dan managernya masih sibuk dengan ponselnya. Sehun pun menutup ponselnya, dan berlaku setenang mungkin.

Tak memedulikan dirinya yang bergejolak perih, apalagi ketika air pod nya mulai menyenandungkan lagu Promise EXO 2014.

-butterfly effect-

Sehun menatap dirinya yang terlihat sempurna di depan cermin. Ia mengapresiasi stylist dan hair stylistnya yang melakukan pekerjaan dengan baik. Ia kemudian duduk di kasurnya, menunggu van EXO untuk tiba dan menjemputnya—untuk membawanya ke venue.

Sehun terlihat sempurna dengan balutan pakaian royal clothes navy blue, dengan pernak-pernik silver di atasnya. Warna navy blue itu dipadupadan dengan sentuhan metallic yang membuat warnanya benderang. Sebuah slayer hitam kelam disampir pada pundak kanannya, menyamping hingga ke pinggang kiri. Sehun mengenakan belt hitam kelam yang dipadupadan dengan ukiran silver di depannya—menambah kesan glamour dan mewah. Celana hitam kelam yang tidak ketat maupun tidak terlalu lebar, dengan sepatu pantofel hitam berlapis silver dengan hiasan berbentuk pedang menyilang di masing-masing pinggir luar. Apalagi dengan sentuhan jenius berupa jubah yang tersampir di belakang, tertaut pada kedua pundaknya. Sehun benar-benar terlihat sempurna.

CKLEK

"Ayo, Sehun, van sudah siap!"

Sehun menghela nafas, kemudian berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar. Ketika ia sampai di bawah, fans sudah menunggunya. Semua tercekat betapa sempurnanya Sehun dalam pakaiannya hari itu—benar-benar royal vibes. Beberapa bodyguard membantunya melewati kerumunan fans, menuju mobil van yang telah tersiap di depan hotel.

Mobil van itu pun meninggalkan mereka, menuju ke venue V Chart Awards.

-butterfly effect-

Mereka sampai pada area venue—lebih tepatnya, di parkiran belakang. Sehun keluar dari mobil van, dan dia menyadari terdapat beberapa orang terkenal di sana. Ia sendiri bersalaman dengan beberapa aktor terkenal China yang berpapasan dengannya.

Sehun mengendarkan pandangannya—tentunya mencari seseorang di antara kumpulan artis itu—dan beruntung tubuhnya yang tinggi membantunya, ia menemukan orang itu.

Pemuda itu tengah berbincang sembari memegang gelas champagne di tangan kanannya. Rambutnya berwarna merah hazelnut, dengan pakaian yang—ridiculously again—memiliki tema yang sama dengan Sehun, yaitu royal vibes. Bedanya, pemuda itu mengenakan pakaian berwarna putih bersih, dengan celana hitam dan boots sebetis berwarna putih dengan aksen hitam. Pemuda itu terlihat sangat mempesona, apalagi ketika ia tersenyum di sana.

Oh God, Sehun misses those smiles so much.

"Ayo, Sehun! Kau akan ketinggalan beberapa gelas champagne!"

Sehun terdiam menatap managernya, ketika ia berteriak agak keras—membuat beberapa orang menoleh padanya. Ia berjalan mengikuti managernya, tanpa menengok lagi ke arah sosok yang tadi menjadi buah pandangnya.

Tanpa ia sadari, sosok itu menatapnya yang dipanggil manager tadi, terkesiap dengan kehadiran Sehun di sana.

-butterfly effect-

Sehun memilih sedikit menyendiri, duduk di depan sebuah pancuran air mancur di halaman belakang venue—venue itu terkesan seperti benteng sehingga fans hanya bisa memenuhi dari luar. Lagipula, Sehun tidak minat mengikuti rangkaian gala dinner, dan tinggal sejam lagi sebelum eventnya akan mulai.

"Excuse me, may I sit here?"

Seseorang bertanya di belakang Sehun, mereferensikan bangku sebelah Sehun yang kosong. Sehun terdiam, kemudian menoleh tak nikmat—orang ini sudah menginterupsi champagne miliknya. Tapi kemudian, interupsi tersebut berbuah manis.

Seorang Luhan berdiri di depannya, dengan senyum yang hangat.

Sehun serta merta berdiri tegak, dengan champagne masih di tangan kanannya. Luhan juga membawa gelas champagne nya yang tinggal setengah gelas, kemudian menyeruputnya sedikit. Sehun masih takjub, menatap dari atas ke bawah sosok yang berdiri di hadapannya. Semua serasa mimpi.

"Been a long time, Sehun."ucap Luhan, dengan nada yang lembut.

Sehun tak pernah ingat terakhir ia mendengar nada selembut itu. Nada yang sangat ia rindukan. Nada yang selalu membuatnya tersihir ketika ia bernyanyi. Nada yang menjadi alarm paginya. Nada yang tak pernah ia bosan dengar.

"Ye-yeah, hyung."ucap Sehun, terbata.

Luhan menunduk, agak malu sebenarnya. Sehun terlihat lebih tinggi dari terakhir ia melihatnya di comeback Overdose, beberapa tahun lalu. Apalagi dengan fakta fisik Sehun sudah terlihat jauh lebih dewasa. Luhan tidak tahu apakah Sehun menyadarinya atau tidak, tapi ia sangat merindukan Sehun.

Sehun memberanikan dirinya memecah kesunyian. Ia mengambil satu langkah berani menghadap Luhan, membuat pemuda manis itu mendongak. Sehun sekarang menyadari perbedaan tinggi mereka yang agak signifikan—Luhan hanya setelinga Sehun—dan itu membuatnya menggemaskan. Sehun meneguk champagne nya dalam sekali teguk, masih sambil menatap intens wajah Luhan yang merona.

"It's been too long, hyung."

Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan, persetan apakah Luhan akan menghindar atau tidak. Ia juga tidak peduli jika ada yang memergokinya demikian, ia kehilangan akal sehatnya sekarang. Semua adalah salah Luhan yang terlalu sempurna di matanya, selalu sempurna dan membuatnya bertekuk lutut. Luhan sendiri memejamkan matanya erat, it's been too long for them.

Ya, tanpa para fans ketahui, Sehun dan Luhan terikat sesuatu di masa lalu—sesuatu yang indah dan tentunya non platonic.

"Sehun-ah! Sehun, dimana kau?"terdengar pekikan manager dari dalam gedung, mencari Sehun—mungkin acaranya sebentar lagi mulai.

Luhan dan Sehun terdiam, mendengar suara itu. Serta merta, Luhan segera menjauhkan wajahnya. Ia menatap Sehun dengan nanar, tidak ingin terpisah lagi darinya—pandangan yang sama yang ia lontarkan saat tak sengaja melihat sosok Sehun di night street Hongkong. Sehun terdiam, ia menangkap pandangan itu.

Luhan berjalan menjauh dari Sehun, kemudian memunggunginya—menghindari manager melihatnya. Sehun menatap punggung Luhan, terdiam dengan aksinya. Luhan sepertinya takut dengan kru SM Entertainment, namun ia memahami itu—tidak mudah ketika ia harus mengisi lawsuit di saat popularitas EXO sedang di puncaknya.

"Ah, di sini kau rupanya! Ayo, acara akan mulai!"

Manager segera menghampirinya dan menarik tangannya, tidak mengindahkan Luhan yang memunggungi mereka. Sehun menatap punggung Luhan, ia sangat berharap pemuda manis itu ikut masuk bersamanya dengan tangan terjabat—seperti biasa. Nyatanya, hal itu tidak mungkin terjadi.

Sehun pun pergi bersama manager, meninggalkan Luhan yang terdiam nanar di sana, dengan gelas champagne yang masih terisi setengahnya.

-butterfly effect-

Sehun terdiam di bangkunya, menikmati acara dengan tidak minat. Sehun baru pertama kali hadir ke acara award tanpa hyung-hyungnya, dan Sehun merindukan mereka. Ia telah menemukan spot tempat duduk Luhan, dan Sehun tak bisa berhenti menatap pemuda itu. Luhan sendiri aware dengan tatapan Sehun, dan terkadang mereka melakukan eye contact di sana.

"The Most Phenomenal Figure goes to... Oh Sehun from EXO!"

Pekikan fans memenuhi venue, histeris ketika mendengar idolanya menang dari banyak public figure berpengaruh lainnya. Sehun berdiri, kemudian membungkuk pada fans dan guests di sekitarnya. Sembari bertepuk tangan, ia berjalan ke atas panggung dengan membawa kebanggaan EXO. Sehun menerima sebuket bunga besar disertai plakat penghargaan, kemudian berdiri di depan microphone.

Ia baru saja hendak melancarkan speechnya ketika pandangannya tak sengaja jatuh pada Luhan yang tersenyum sambil bertepuk tangan, bangga padanya. Sehun terdiam. Ia berubah kelu, tidak tahu harus bicara apa.

"OH SEHUN! OH SEHUN! OH SEHUN!"

Teriakan fans menyadarkan Sehun dari keterdiamannya, dan membantunya melancarkan speech yang memang ia siapkan dari awal jika dia menang—nyatanya dia benar-benar menang. Sehun tak bisa melepas pandangannya dari Luhan, yang masih tersenyum ke arahnya—Sehun bisa melihat beberapa titik air mata dari sosok itu.

Indah. Sangat indah.

-butterfly effect-

Acara sudah selesai, dan Sehun bersiap untuk kembali ke hotel. Ia mempersiapkan diri dengan manager, menunggu van mereka yang biasa. Sehun mengendarkan pandangannya, mendapati Luhan yang tengah bercengkrama dengan beberapa aktor China—Sehun mengingat mereka sebagai rekan kerja Luhan di film Time Raiders. Sehun menatapnya lamat-lamat, menatap bagaimana imutnya Luhan ketika berinteraksi.

(Ps : AGAIN, really recommend this Luhan movie titled Time Raiders. It was dope)

Luhan memandang ke arah Sehun, menyadari seseorang menatapnya. Mereka pun kembali melakukan eye contact. Sehun menarik nafas dalam, berusaha menahan dirinya untuk tidak lari ke arah Luhan dan memeluknya erat. Luhan menatapnya nanar, dia tidak ingin terjadi perpisahan. Sudah terlalu lama semenjak mereka bertemu dan berbagi kasih, mereka ingin memiliki momen itu kembali walau hanya sebentar.

Sehun tidak tahan lagi. Ia meraih sebuah kertas dari kantung celananya—sisa brosur yang didapat dari acara tadi—kemudian menulis sesuatu menggunakan pulpen milik manager. Manager sangat sibuk sampai tidak menyadari Sehun meminjam pulpennya. Sehun menatap Luhan yang tampak mengerti situasi, kemudian berjalan ke arah Sehun—berusaha menembus kerumunan orang-orang yang lewat.

Sehun dan Luhan bertemu di antara kerumunan itu, dan tidak ada yang menyadari interaksi mereka—bahkan manager pun terlalu sibuk mempersiapkan segala hal untuk keperluan pemotretan Sehun di sana. Sehun menyodorkan kertas itu pada Luhan, membuat Luhan bingung.

"Visit me."ucap Sehun, kemudian segera pergi menghampiri managernya—sebelum ada yang menyadarinya.

Luhan terdiam, kemudian agak menjauh dari situ. Setelah dirasa cukup jauh, ia menatap kertas itu. Ia terpekik dalam diam, ingin rasanya berteriak senang dan memeluk sosok yang memberi kertas tadi.

I love you. I'll wait

XXXXXXXX Hotel, XXXXXX Street 12, 812

-butterfly effect-

Sehun terdiam di dalam kamarnya.

Ia sudah kembali dari acara V Chart Awards, dan tak ada sedetikpun ia merasa lega. Ia menunggu Luhan untuk mendatangi hotel tempatnya menginap, dan Sehun sendiri—dibantu Junmyeon di Korea sana—telah memesan kamar hotel yang berada dua lantai di bawah tempat Sehun berada. Ia mondar mandir di dalam kamarnya, merasa sangat gugup. Ia tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak.

Sehun berjalan keluar kamar, menatap ke lorong kamarnya. Tidak ada orang. Sehun berjalan ke arah tangga darurat di sana, kemudian membuka pintunya. Tangga itu kosong, dengan penerangan yang cukup. Ia pun segera menuruni tangga itu.

Sehun berjalan menyusuri koridor lantai 8, mencari kamar nomo 812—Junmyeon sudah memberitahu nomor kamar yang telah ia pesan. Sehun menemukan kamar itu, kemudian meraih kartu kunci yang telah diberikan pada Sehun lewat staf hotel tadi—Junmyeon sudah memberitahu staf hotel bahwa itu kamar cadangan untuk Sehun, tentunya tanpa sepengatahuan manager. Sehun membuka kamar itu.

Kamar itu kosong, namun terkesan hangat. Terdapat beberapa botol minum di atas meja nakas, sebuah televisi, dan kasur yang cukup besar. Sehun duduk di kasur itu, merasakan kekhawatiran aneh di sana. Bagaimana jika ada yang memergokinya? Bagaimana jika manager tahu soal ini? Bagaimana jika—

TOK TOK

Terdengar ketukan pintu di kamarnya. Sehun berjalan ke arah pintu dengan ragu, kemudian mengintip dari lubang intip. Ia tercekat, dan serta merta membuka pintu itu.

Luhan berdiri di depan kamarnya, dengan masker putih dan snapback merahnya.

Sehun menarik tubuh Luhan masuk, dan segera menutup pintu itu. Luhan tersenyum padanya, dan memperlihatkan kertas pemberian Sehun di V Chart Awards larut malam kemarin. Sehun tersenyum senang—belum pernah ia merasa sebahagia ini.

CHU!

Sehun membawa Luhan dalam ciuman yang dalam, menyampaikan kerinduannya yang telah ia pendam bulat-bulat bertahun-tahun, melampiaskan apa yang selama ini selalu ia bayangkan dalam pikirnya. Tak lupa kedua tangan itu mendekap Luhan erat, tak membiarkannya pergi barang sedetikpun.

Luhan melingkarkan tangannya pada leher Sehun, memperdalam ciuman itu. Oh, Tuhan. Luhan sangat merindukan ini. Sensasi berada dalam pelukan Sehun yang melindungi, meraba kasar rambut Sehun yang halus, merasakan bibir kissable Sehun yang selalui lihai memanjanya dulu saat ia masih bersama EXO. Luhan tidak pernah lupa saat-saat tangan Sehun menyentuh tubuhnya, melampiaskan rasa cintanya dengan berbagi friksi aneh yang sensual namun romantis.

"I miss you so much, hyung."bisik Sehun di depan bibir Luhan, membuat Luhan tersenyum manis.

"I'm here, baby. Do me whatever you want."

Dan mereka kembali larut dalam ciuman memabukkan.

-butterfly effect-

Sehun tidak ingat terakhir kali ia merasa mencintai dan ingin melindungi seseorang, tapi Luhan membuatnya demikian. Sehun telah kembali ke kamar hotelnya agak siang—sekitar jam 9 pagi. Manager menegurnya karena Sehun tiba-tiba tidak ada di kamar, tapi Sehun memberi excuse bahwa ia terlalu lapar dan pergi ke restoran hotel lebih awal.

Sehun terus menyentuh bibirnya, tak bisa hentinya menghentikan senyumannya. Ia mengingat bagaimana pada akhirnya kedua tangannya dapat menyentuh Luhan, mengirimkan sejuta friksi yang ia pendam lamat-lamat. Bagaimana bibirnya dengan lihai merasakan kulit tubuh Luhan yang mulus—masih seperti dulu—dan memberi beberapa tanda di tubuhnya. Bagaimana erangan Luhan dan tangis lirihnya memenuhi pendengaran Sehun, memberinya kesadaran bahwa semuanya nyata. Bagaimana sosok Luhan membuatnya jatuh semakin dalam pada pesonanya yang tak kunjung reda—malah semakin bersinar. Sehun terus tersenyum.

Luhan sudah pergi dari hotel sejak jam 7 karena Sehun sudah mewantinya agar manager tidak menyadarinya. Tentu perpisahan yang berat, diiringi dengan dekapan yang sangat erat—koala hug antara Sehun dan Luhan—dan tangis dari keduanya, tapi mau bagaimana lagi. Luhan memberinya sebuah farewell kiss yang simpel namun bermakna, mengucapakan 'we'll meet soon', sebelum akhirnya pergi dari lorong itu dengan enggan. Terakhir Sehun lihat adalah Luhan menuruni tangga darurat, sudah memakai masker dan snapback merahnya.

Sehun menatap ponselnya, tersenyum pada display akun yang sedang ia lihat. Ia kemudian menutup Instagramnya, dan membuka chatnya dengan Junmyeon. Junmyeon sudah mewantinya untuk berhati-hati, dan Sehun tahu dia sudah cukup berhati-hati.

Hyung, terimakasih

Begitulah, ia speechless bukan main, tidak tahu harus berterimakasih bagaimana pada hyung paling suportifnya itu.

-butterfly effect-

pada akhirnya, mereka yang memang ditakdirkan untuk bertemu pun akan selalu dipertemukan. mereka tidak akan mampu menemui takdir itu jika mereka tidak memperjuangkannya. dan untunglah, mereka memperjuangkan satu sama lain. semua tidak lain karena cinta yang menumbuhi keduanya, dan kerinduan yang teramat mencekik—

Dan kerinduan itu akan kembali tumbuh, seiring dengan keduanya yang mencintai dalam diam.

THE END

Okay so this FF is basically a piece of crap, but then I really admire how Sehun and Luhan can hold for such long distance relationship. Of course, one night will never be enough, but what else can I do? I mean... I honestly never saw their interaction again, except Luhan with other members.

God, I miss them so dearly, just like I miss KrisTao—tapi untung KrisTao udah ketemu di beberapa acara awards. HunHan will always be my unsinkable ship, and don't blame me for that

Anyway, mind to REVIEW and FAVOURITE this FF, please?

HUANG AND WU