Popcorn

.

.

.

"Fang? Bangun ... Ayo bangun, Fang."

"Nggg ...?"

Remaja 14 tahun itu mengeluh sebentar ketika mendadak dibangunkan dari lelap tidurnya. Tak butuh waktu lama, ia menyadari dirinya tidak berbaring di tempat tidur, melainkan di sofa ruang keluarga.

Sepasang netra beriris merah itu menyipit, pandangannya buram. Oh ya ... Kacamatanya ada di meja. Namun, ia tetap dapat mengenali sosok yang berada di hadapannya.

"Abang?"

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)

Fanfiction "Popcorn" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

AU. Red Carrot Siblings. Untuk #DailyDrabbleChallenge (words count: 857).

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

Fang menguap tertahan sembari membenahi posisi duduknya di sofa biru tua itu. Di sampingnya, pemuda berambut biru jabrik baru saja ikut duduk setelah menyalakan pemutar video.

"Serius, Abang ngajakin aku nonton film?" Fang melirik jam dinding dua meter ke kanan. "Jam segini?"

"Sesekali tak apa. Baru jam 10 ini."

Dua pasang iris merah bertemu sejenak. Fang segera memakai kacamata berbingkai ungu miliknya. Aneh juga, biasanya sang abang, Kaizo, adalah sosok yang disiplin. Mana boleh membiarkan adiknya yang masih remaja tanggung ini tidur larut. Apalagi hanya karena Kaizo baru pulang selarut ini dari kerja partime di sebuah bimbingan belajar ternama.

"Abang 'kan sudah janji mau nonton film ini bersamamu."

Fang tersenyum tipis. Janji yang terlambat ditepati, karena harusnya mereka menontonnya sekian bulan lalu ketika film itu keluar di bioskop. Namun, karena sesuatu hal, janji itu batal. Beginilah akhirnya, mereka baru bisa menonton bersama sekarang, setelah Blu-ray-nya keluar.

"Sayang banget Abang Kassim nggak mau ikut nonton," celetuk Fang tiba-tiba.

"Apa boleh buat," sahut Kaizo. "Dia nggak suka film superhero begini, sih."

Fang hanya mengangguk-angguk. Perhatiannya mulai fokus mengikuti cerita yang terpampang di layar kaca. Sampai kemudian, tiba-tiba Kaizo mengulurkan popcorn ukuran jumbo ke arahnya.

"Abang beli popcorn juga?" Mata Fang melebar sejenak. "Tumben."

"Kau suka ini, 'kan. Tak apalah, sesekali."

Tertangkap oleh mata Fang, abangnya tersenyum walau teramat tipis. Entah mengapa, sekelebat desir menajam di dalam dadanya.

Menonton film kesukaan mereka berdua sambil makan popcorn.

Ini seperti mimpi. Kaizo bersikap begitu baik, begitu perhatian. Yah, Fang tahu, walau agak judes sebenarnya selama ini Kaizo menyayanginya. Hanya saja, sangat jarang sang kakak bisa meluangkan waktu seperti ini.

Rasanya sedikit ... aneh. Tapi Fang akan bohong kalau bilang ia tidak senang.

.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

.

"Fang ...? Fang, bangun ..."

Sang empunya nama meregangkan tubuh sejenak. Ia membuka mata, dan menyadari dirinya baru saja tertidur di sofa ruang keluarga. Remaja putra itu menegakkan tubuh, lantas duduk sembari membenahi kacamatanya yang hampir melorot jatuh. Sementara, pemuda 23 tahun yang baru saja membangunkannya tadi, mendudukkan diri di sampingnya.

"Aba—"

Ucapan Fang terputus. Dia baru sepenuhnya menatap sang kakak, dan langsung menyadari sesuatu.

"Abang Kassim?"

Sepasang mata Fang langsung beredar ke seluruh ruangan, mencari-cari.

"Mana Abang Kaizo?"

Kassim tersentak pelan ketika sang adik kembali menatapnya penuh tanya.

"Fang?" ucap sang abang. "Kau ini bicara apa?"

Kening Fang berkerut seketika. "Tadi aku nonton film berdua sama Abang Kaizo di sini. Dia bahkan membeli popcorn segala untukku—"

Fang terdiam. Entah kenapa, desir itu menajam lagi di dadanya.

"Habisnya, Abang Kassim menyuruhku tetap di rumah, 'kan?"

Tatapan Fang terarah lurus kepada kakak sulungnya. Saudara kembar Kaizo itu masih membisu. Matanya meredup membalas tatap sang adik bungsu.

"Eh? Kenapa Abang menyuruhku tetap di rumah?"

Kassim menghela napas, lantas menepuk kepala Fang lembut.

"Sudah malam, Fang. Kembalilah ke kamarmu dan tidur."

"Eh, tapi, Abang Kaizo—"

"Kaizo juga sudah tidur. Kita jangan mengganggunya, oke?"

Fang cemberut, tetapi pada akhirnya ia menurut. Lagipula, kelihatan sekali anak itu sudah sangat mengantuk. Kassim terus mengawasi hingga Fang masuk ke kamarnya. Ia baru menghela napas panjang, sedikit lega, ketika pintu kamar Fang telah tertutup sempurna.

"Kaizo ..."

Nama itu terucap samar, nyaris dalam bisikan. Kassim mengusap wajahnya sendiri, lantas menyandarkan tubuh ke sofa.

Bagaimana?

Bagaimana ia akan menghadapi Fang setelah ini?

Bagaimana ia bisa memberitahu Fang bahwa saat ini Kaizo masih terbaring koma di rumah sakit?

Masih segar di dalam ingatan Kassim, pagi ini, mereka tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa Kaizo menjadi korban tabrak lari. Motor kesayangannya rusak parah, tetapi Kaizo masih tertolong. Hanya saja, kondisinya kritis.

Ketika Kassim bersama Fang datang ke rumah sakit, jantung Kaizo bahkan sempat berhenti berdetak. Walau setelah itu tim dokter berhasil mengembalikannya, kondisi Kaizo tetap membahayakan dan harus diawasi intensif 24 jam.

Dan di depan ruang IGD, Fang histeris. Kassim sangat mengerti, adiknya trauma dengan kecelakaan lalu-lintas yang telah merenggut nyawa kedua orangtua mereka. Bertahun-tahun lalu, juga di depan ruang IGD, mereka bertiga dengan Kaizo, harus menelan pil pahit itu.

Kassim sangat paham, Fang ketakutan, kalau-kalau mereka sekarang akan kehilangan Kaizo juga. Hati Kassim pedih ketika kata-katanya tak mampu menenangkan Fang. Bahkan sang adik sampai jatuh pingsan di tengah kekalutannya.

Waktu itu, Kassim memutuskan membawa Fang pulang supaya bisa beristirahat. Ketika terbangun, Fang tiba-tiba bersikap seolah-olah Kaizo masih bekerja sambilan, dan mereka sedang menunggu kepulangannya di rumah. Kassim tak bisa lain, kecuali mengiyakan, meminta Fang tetap beristirahat di rumah sambil menunggu Kaizo kembali.

Lalu, sekarang, tiba-tiba Fang sudah ada di ruang keluarga. Tertidur di sofa tengah malam begini. Dan dia mengatakan hal seperti itu?

Kassim takut membayangkan, apa jadinya bila keadaan Kaizo tidak juga membaik.

Pemuda itu tersentak sendiri. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepala. Tidak, dia tidak boleh berpikir begitu. Adik-adiknya kuat. Mereka akan baik-baik saja. Yang harus dilakukannya sekarang sebagai seorang kakak, adalah melakukan apa pun untuk memberi mereka dukungan.

"Kaizo ... kau harus bertahan. Kami menunggumu di rumah."

.

.

.

TAMAT

.

.

.


* Author's Note *

.

Hello, semuanya~

Silakan dinikmati popcorn-nya. UwU *ditabok*

Masih buat Daily Drabble Challenge, kali ini prompt-nya dari Meltavi. Maaf, si popcorn cuma numpang lewat. *yha*

How d'ya like this?

.

Regards,

kurohimeNoir

26.03.2020