Title: Stop! Berhenti, Umi-chan!

Anime: Love Live!

Pairing: HonoUmi (Honoka x Umi)

Disclaimer: Love Live! maupun semua karakter di dalamnya adalah milik sang pencipta Kimino Sakurako sensei.

Author hanya memiliki tulisan ini dan ketidakjelasan yang ada di dalamnya

Catatan Author: Masih hadir dengan pairing HonoUmi yang selalu membuat senyum-senyum sendiri karena itu kapal saya wqwqwq. Kuingin bikin smut tapi, aku tidak mau membatasi reader, jadi semi-smut. Dan apa itu genre hhh. Nanggung.

Warning: Typo, Alur kecepetan, Ngalor ngidul, dan Deskripsi tidak sesuai (?)


"Hm? Kamu ingin minum obat untuk mengurangi sakit saat haid?" Tanyaku, menoleh cepat kepadanya ketia dia berbicara kepadaku.

Hari ini aku dan dia sedang libur kuliah, jadi, kami berdua menghabiskan waktu libur kami di apartemen tempat kami berdua tinggal.

Oh. 'Dia' yang aku maksud adalah teman masa kecilku, Sonoda Umi-chan! Dan sebagai informasi tambahan, aku dan Umi-chan sudah tinggal di bawah satu atap sejak tahun pertama kami kuliah... dan sekarang, kami sudah tiga tahun hidup bersama.

"Benar. Akhir-akhir ini aku merasa sakit ketika aku haid." Ucap Umi-chan sambil memegang perutnya. Secara tidak sadar, aku mengikuti pergerakan tangan Umi-chan dan menatap ke arah perutnya. Ugh. Membayangkan sakit perut ketika haid itu membuatku sedikit mengerutkan dahi sendiri. "Honoka, apa kamu tidak merasa sakit saat haid?" Lanjut Umi-chan.

"Mm... Sedikit, kurasa." Aku menjawab, kembali menatap wajah Umi-chan yang kelihatan cemas akan rasa sakit yang akan datang nantinya itu. "Tapi, sakit saat haid itu hal biasa, 'kan? Sepertinya kamu nggak harus minum obat seperti itu, deh." Timpalku kemudian. Lagipula, aku takut obat semacam itu akan berpengaruh buruk pada Umi-chan nantinya. Tahu, 'kan? Seperti efek samping atau semacamnya. Aku jadi cemas.

"Tapi ini akan terasa sangat sakit sekali. Dan aku akan haid kurang lebih tiga hari lagi."

Melihat Umi-chan yang sepertinya merasa sakit, aku menjadi tidak tega.

"Di mana kamu akan membelinya, Umi-chan?" Tanyaku kemudian.

"Aku tidak membelinya. Aku sudah punya obatnya." Jawab Umi-chan. Kemudian aku melirik Umi-chan... untuk mencari keberadaan obat tersebut. Tapi, tidak ketemu. "Seorang wanita tua memberikannya padaku dengan percuma. Dia bilang, untuk penglaris."

Mendengar lanjutan kata dari Umi-chan membuatku sedikit bingung.

Melihat raut wajahku, Umi-chan melanjutkan perkataannya. "Dia adalah tukang obat yang dagangannya sudah mau habis, dan obat ini adalah salah satu barang dagangannya yang tersisa."

"Heeh~ tapi memberikanmu obat secara gratis... terdengar baik, tapi perasaanku tidak enak"

"Apa maksudmu, Honoka?"

Aku mengerutkan dahi.

"Enggak, hanya saja..."

Terjadi perdebatan kecil di dalam pikiranku; satu sisi merasa takut jika Umi-chan mendapatkan efek samping dari meminum obat tersebut, namun, sisi lain merasa kasihan pada Umi-chan yang akan merasakan sakit pada saat haid. Uuhh... Tapi...!

"Se-Sebaiknya nggak usah diminum obatnya, ya? Pakai air hangat yang diusap ke perut saja!" Saranku.

Aku pernah dengar dari Yukiho kalau itu bisa mengurangi sakit saat haid!

"Aku sudah coba cara itu, tapi tidak berpengaruh."

"U...Uhm..." Aku kembali mengerutkan dahi.

"Ada apa, Honoka? Kenapa kamu terlihat cemas seperti itu?"

"Um... nggak tahu... Perasaanku nggak enak."

"Tidak usah khawatir. Jika terjadi sesuatu, Honoka akan ada di sisi ku untuk membantu, 'kan?"

"Umi-chan..."

Walaupun, sudah jelas bahwa aku akan membantu Umi-chan jika terjadi apa-apa... tapi aku masih merasa takut. Kuharap memang tidak akan terjadi apa-apa.

"Kalau begitu, aku akan coba meminum obat itu sekali saja saat aku haid hari pertama. Jika obat tersebutmemberikan efek baik, maka aku akan terus meminumnya. Jika tidak, maka aku akan membuangnya. Bagaimana menurutmu, Honoka?"

"Um, oke..."

Lalu perbincangan kami beralih ke topik lain, hingga akhirnya kami bersiap untuk tidur dan menyambut hari esok. Maksudku dengan hari esok adalah hari dimulainya perkuliahan.

Pagi harinya, kami menjalani hari dengan normal; sarapan, dan berjalan bersama untuk kemudian berpisah di stasiun untuk mengambil kereta dengan tujuan yang berbeda. Karena kami kuliah di tempat yang berbeda, jadi kami hanya berjalan sampai stasiun saja.

Oh, sebagai informasi tambahan (lagi), aku mengambil kuliah di jurusan Tata Boga, sedangkan Umi-chan mengambil jurusan Sastra Jepang. Meski pada akhirnya aku akan melanjutkan usaha keluarga, aku juga ingin memiliki keahlian memasak dan mungkin mendirikan restaurant kecil-kecilan sebelum usaha keluarga tersebut benar-benar diwariskan kepadaku.

Sedangkan Umi-chan? Dia ingin menjadi seorang peneliti karya sastra-- atau, entah apa itu namanya. Pokoknya, sebuah pekerjaan yang akan terdengar keren.

Saat itu aku masih memikirkan apakah Umi-chan akan benar-benar meminum obatnya atau tidak. Aku juga sempat terpikir untuk membawanya ke dokter kandungan untuk melakukan USG, tetapi hal itu sudah kami lakukan beberapa waktu lalu, dan memang tidak ada hal yang aneh pada Umi-chan (seperti tumor, kista, atau yang lainnya).

"Haah~" Aku menghela napas panjang.

Akhirnya perkuliahan sudah selesai. Kini aku sedang berjalan dari stasiun menuju ke apartemenku. Meskipun hari sudah sore, tetap saja matahari masih bersinar sangat terang. Panas sekali!

Ceklek. Aku membuka pintu apartemen.

Oh? Pintunya tidak dikunci?

"Umi-chan~!"

Sapaku sambil kembali menutup pintu dan menguncinya.

"Aku pulang~"

Hening.

"Umi-chan? Kenapa gelap begini? Umi-chan? Kamu sudah pulang?"

Aku membuka sepatu dan kemudian mencari saklar yang ada di atas rak sepatu. Entah kenapa suasananya jadi seram. Kurasa aku merasa lelah di kampus, sehingga aku tidak bisa berpikir jernih. Tetapi, aku ingat betul kalau aku sudah mengunci pintu, dan itu berarti, Umi-chan seharusnya sudah pulang, bukan?

Atau, itu Kotori-chan? Karena kami memberikan kunci cadangan kepada Kotori-chan juga... untuk berjaga-jaga. Namun, aku tidak melihat sepatu lain selain milikku dan Umi-chan.

"Umi-chan?"

Aku berjalan perlahan menuju ruang tamu. Melirik sekeliling untuk mencari Umi-chan.

"Umi-chaa--waaaa--!!! apa yang kamu lakukan di sini, Umi-chan?!"

Setelah menemukannya, aku berlari (dan secara tidak sadar, melempar-- dengan asal--ransel milikku begitu saja). menuju ke arah Umi-chan.

"Umi-chan? Kenapa kamu meringkuk di sofa seperti orang yang ada di film horror?"

Aku memegang kedua bahu Umi-chan. Apakah Umi-chan pingsan?!

"Umi-cha--"

"Honoka, selamat datang..."

"Eh? Iya..."

Fyuh. Syukurlah. Umi-chan masih sadar. Tapi, entah kenapa Umi-chan terlihat sangat pucat. Ada apa, ya?

"Honoka," Panggil Umi-chan kemudian.

"Hm...?"

"Duduklah di sebelahku."

"Umi-chan...?" Aku berkata dengan sedikit heran. Kurasa memang Umi-chan sedang dalam kondisi yang kurang sehat?

"Tidak mau duduk?"

"Eh? Enggak, enggak! Duduk, kok! Aku duduk! ...Ada apa denganmu hari ini Umi-chaaaa--"

"Honoka..."

Oke. Biar kujelaskan; Aku baru saja duduk. Dan baru beberapa saat setelah aku duduk, Umi-chan mendorongku ke belakang dan membuatku terjatuh ke sofa yang empuk ini.

Heh?! Apa ini?! Umi-chan mau menyerangku di sore hari seperti ini?!

Syukurlah pintu sudah aku kunci, dan tirai jendela sudah tertutup! Tapi--!

"Se-Sebentar, Umi-chan!" Aku ingin melawan, tetapi, tanganku ditahan olehnya, sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa. "Aku baru pulang kuliah, lho! Dan saat di kelas memasak tadi, kue yang dibuat temanku gosong dan aku bau asap. Aku harus mandi dulu...!" Karena sudah lama tidak melakukan ini, aku jadi gugup dan tidak ada persiapan apapun!

"Tidak masalah." Umi-chan membalas singkat, kemudian mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu; "Aku suka wangi tubuhmu dalam keadaan apapun, Honoka."

"U-Umi-chan...?"

Uwaa--! Dalam keadaan seperti ini, aku sangat ingin mengutuk jantungku yang tidak bisa membuat irama detakkannya menjadi lebih stabil. Kurasa darah sudah terpompa dengan cepat ke seluruh tubuhku hingga membuat tubuhku terasa panas.

"Honoka..." Bisik lembut Umi-chan. "Aku sangat mencintaimu..."

"Aku juga... Umi-chan"

Serangan Umi-chan saat itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Meskipun aku sangat menyukai apapun yang Umi-chan lakukan kepadaku, namun, tetap saja, melakukan penyerangan tanpa henti seperti ini cukup menguras tenagaku.

"U-Umi-chan, aku sangat lelah. Bisa berhenti dulu?" Aku akhirnya membuka suara. Tanganku memegangi bahunya utuk menghadang Umi-chan yang sepertinya sudah siap untuk meluncurkan ciuman kepadaku.

"Ada apa, Honoka? Kupikir Honoka bisa bertahan lebih dari ini?"

"Enggak mungkin!" Gerutuku. "Kedua paha ku sangat pegal. Kalau begini terus, aku nggak akan bisa berjalan lagi~!" Aku menatap Umi-chan, memberikan tatapan tidak senang. "Umi-chan juga, apa masih belum puas?"

"Tentu saja aku selalu puas deganmu. Hanya saja, kupikir Honoka ingin lebih lama lagi melakukannya."

Umi-chan, di mana kamu belajar untuk menggunakan tatapan manis seperti itu?? Tatapan itu sangat tidak baik untuk jantungku, tahu!

"Ugh. Ba-Baiklah... Sekali lagi saja, ya..."

Lagipula, aku mendengar napas Umi-chan yang mulai terengah-engah. Jadi, kupikir, satu kali lagi adalah batas terakhirnya.

...Kupikir begitu. Akan tetapi, Umi-chan masih terus melakukannya hingga malam hari tiba. Kupikir, aku akan mati. Makanya aku mencoba mengambil ponselku untuk memberikan pesan terakhir sebelum aku mati.

"Halo, Kotori-chan--"

"Hm? Ada apa, Honoka-chan, malam-malam begini?" Jawab Kotori-chan pada ujung telepon.

"Ah-- Apa aku-- mengganggu?"

"Tidak, kok. Ada apa, Honoka-chan? Kenapa suaramu terengah-engah seperti itu?"

Aku melihat ke arah Umi-chan yang masih sibuk melakukan permainan kecil di bawah sana. Ini sudah kesekian kalinya aku kalah. Dan jika Umi-chan melakukannya lagi, kurasa aku akan benar-benar mati.

"Kotori-chan--" Ucapku sedikit berbisik, takut jika Umi-chan tiba-tiba menyadari bahwa aku sedang menelpon orang lain. "Jika aku ditemukan tergeletak-- tanpa busana di apartemenku, tolong jangan salahkan Umi-chan atas apa yang terjadi--"

"Eh?? Apa maksudmu??" Suara Kotori-chan mulai terdengar meninggi.

"Aku-- aahh~ senang sekali bisa menjadi sahabatmu, Kotori-cha--aahh~ Umi-chan, benar-- di situ, terus-- aku-- aku-- aaahh~~"

"Halo, Honoka-chan??!! Honoka-chan??!!"

Dan itu adalah hal terakhir yang kuingat sebelum aku mati.

Kemudian, aku membukan mata dan melihat Kotori-chan duduk di sebelahku dengan secangkir teh hangat (aku bisa melihat kepulan asap tipis dari cangkir teh tersebut).

Kupikir aku sedang berada di surga. Namun ternyata, aku cuma pingsan, dan sekarang aku masih berada di apartemenku. Bedanya, sekarang aku tertidur di ranjang dan dibalutkan selimut, sementara Umi-chan sedang duduk di lantai dengan selimut yang melingkari tubuhnya. Aku seperti melihat ada lakban hitam yang menutup mulutnya. Seram!

Tapi, bukannya tadi aku dan Umi-chan sedang...?

Aku dengan cepat membuka selimut yang menutupi tubuhku. Benar. Aku masih tanpa busana. Kemudian, aku menatap Umi-chan, dan beralih kepada Kotori-chan. Apa yang terjadi selama aku pingsan?!

"Kotori-cha--"

"Jangan khawatir." Kotori-chan memotong perkataanku sambil tersenyum "Aku sedikit berkelahi dengan Umi-chan. Tapi keadaan sudah terkendali, kok Tangan dan kakinya sudah diikat dengan tali."

"He, Heeh...~"

Kotori-chan mengatakan hal itu sambil tersenyum. Terdengar sedikit seram.

"Ini, minum dulu, tehnya." Ucapnya sambil menyuguhkan teh yang ia pegang.

Aku memposisikan diriku untuk duduk dan mengambil cangkir yang Kotori-chan suguhkan. Menjawab dengan 'Terimakasih', lalu meneguk teh tersebut. "Bagaimana ini bisa terjadi, Honoka-chan?" Tanya Kotori-chan kemudian.

"Hmm, aku juga tidak mengerti." Aku mencoba mengingat dan mengurutkan kejadian hari ini. "Saat aku pulang, tiba-tiba Umi-chan sedang berada pada mood untuk melakukannya. Tapi, berakhir menjadi seperti itu hingga aku merasa akan mati..."

Kotori-chan terlihat mengerutkan dahinya, kemudian mengangguk. Kupikir Kotori-chan mengerti? Entahlah. Aku memang buruk dalam bercerita.

"Apa kamu bisa berdiri, Honoka-chan?"

"Ah, sepertinya nggak bisa..."

"Mmffhh... Mmfhhh..."

Tiba-tiba terdengar suara dari Umi-chan yang mencoba untuk memberontak, dan mengatakan sesuatu, namun terhalang lakban yang menutup mulutnya.

"Apa kita perlu melakban mulutnya seperti itu?" Tanyaku. Melihat Umi-chan diperlakukan seperti penjahat begitu membuatku kasihan.

"Benar, aku juga merasa tidak tega. Tapi, selama Honoka-chan tidak sadarkan diri tadi, Umi-chan selalu mengatakan hal-hal tidak senonoh dan juga tertawa sendiri. Itu sangat menyeramkan, jadi aku melakban mulutnya."

"Ehh?! Yang benar?!"

"Iya."

"Mmfffhh!!!"

"Honoka-chan," Panggil Kotori-chan, menghiraukan Umi-chan yang mencoba memberontak. "Apa ada hal yang membuat Umi-chan menjadi seperti itu? Meskipun sedang dalam mood, tentu hal yang terjadi tidak seperti biasanya, 'kan?"

Oh. Benar juga. Kurasa hari ini Umi-chan terasa sangat agresif dan sedikit seram.

"Hmm.."

"Apa Umi-chan memakan atau melakukan sesuatu yang biasanya tidak dilakukan. Seperti obat atau mendapat suntikan? Atau pergi ke tempat aneh?"

"Kurasa ada obat..."

"Eh?"

"Iya. Umi-chan membeli obat untuk haid. Katanya obat itu bisa mengurangi sakit saat haid. Sebentar, aku ambilka-- aah-- paha ku-- keram--"

"Biar aku saja. Ada di rak obat-obatan, 'kan?"

"Iya."

Kotori-chan yang sudah hapal letak peralatan apartemenku itu beranjak pergi dan mengambil obat yang ada di rak obat-obatan. Kurasa akan mudah menemukannya, karena tidak terlalu banyak obat di sana.

"Honoka-chan. Apa ini obatnya?" Kotori-chan kembali dengan sebuah obat botol kecil yang terlihat seperti obat batuk sirup.

"Aha, ha." Aku tertawa ringan. "Maaf, aku juga belum pernah lihat sih, tapi kupikir itu obatnya.

Kotori-chan membalas tawaku dengan senyum ringan sebelum mulai memeriksa kemasan obat tersebut. "Aku rasa obat ini terlihat normal."

"Sebenarnya, aku punya firasat nggak enak saat Umi-chan menceritakan tentang obat ini... Tapi, apa benar karena obat ini?"

"Ah, Honoka-chan. Ada tulisan kecil di balik botol ini. Um... 'Harus di minum saat sedang haid. Penggunaan di luar masa haid akan menimbulkan efek samping; meningkatnya gairah seksual, atau demam tinggi pada orang dengan imun rendah.' Begitu katanya. Honoka-chan."

Eh?! Efek samping macam apa itu?! Seram sekali!

Jika aku tidak salah ingat, bukankah yang memberikan obat itu adalah seorang wanita tua? Kenapa tega sekali nenek itu?!

"Honoka-chan," Panggil Kotori-chan. "Umi-chan tidak sedang haid hari ini, 'kan?"

"Iya. Umi-chan bilang; kurang lebih tiga hari lagi... berarti Umi-chan baru akan haid lusa nanti."

"Kalau begitu, kemungkinan besar penyebabnya adalah efek samping dari obat ini."

"Seram sekali, ya, efek sampingnya... Aha ha..." Aku melirik ke arah Umi-chan yang entah kenapa tidak memberontak lagi. "Um, Kotori-chan,"

"Hm?"

"Terimakasih sudah datang. Aku tidak tau akan sampai berapa lama serangan Umi-chan akan berlangsung kalau Kotori-chan nggak datang."

Setidaknya, aku benar-benar berterimakasih karena Kotori-chan sudah mendengarkan pesan kematianku. Meskipun aku tidak benar-benar mati.

"Hehe. Tentu saja. Honoka-chan bisa mengandalkanku kapan saja" Sambil tersenyum, Kotori-chan meletakkan obat yang dia pegang di atas meja lampu tidur, dan bangkit dari duduknya. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Panggil aku jika terjadi sesuatu." Lanjutnya, yang kemudian aku balas dengan anggukkan ringan.

"...Dan obat itu."

"Hm?"

"Sebaiknya Honoka-chan membuang obat itu. ...Selamat tidur, Honoka-chan, Umi-chan juga~" Setelah mengatakan itu, Kotori-chan pergi.

Aku mengambil obat tersebut dan membaca tulisan menyeramkan yang ada di bawah tulisan 'efek samping'. Lalu, aku menatap Umi-chan dan merasa heran kenapa Umi-chan yang selalu berhati-hati seperti itu bisa melewatkan efek samping yang berbahaya seperti ini.

Kurasa aku harus membuang obat ini, dan melarang Umi-chan atau siapapun untuk meminum obat ini. Menyeramkan.

"Mmffhh..."

Terdengar suara pelan dari Umi-chan.

Aku menggeser posisiku hingga tanganku bisa meraih dan membuka lakban yang melekat pada mulutnya.

"Honoka..." Ucap Umi-chan.

"Umi-chan, kamu sudah sadar?" Umi-chan mengangguk.

"Setelah mendengar Kotori tadi, aku merasa sangat malu kepada diriku sendiri. Maafkan aku, Honoka. Dan Kotori juga. Aku akan meminta maaf padanya nanti."

Kurasa memang harus. Dan tentunya berterimakasih, juga!

"Aku..." Umi-chan berhenti sejenak. "Aku sudah tahu efek samping yang tertera di sana. Aku hanya tidak mengira bahwa efeknya akan separah ini."

Eh? Tunggu sebentar. Umi-chan sudah tahu efek sampingnya?

Tiba-tiba, aku bingung.

"Kalau begitu, kenapa Umi-chan masih meminum obatnya sebelum hari haid? Bukankah efek sampingnya akan bekerja saat diminum di luar dari hari haid?"

"Karena," Umi-chan terlihat tertunduk, dan terdengar ragu untuk melanjutkan. "Ini akan terdengar seperti alasan bodoh. Tapi... aku merasa bahwa Honoka terlihat sangat kesepian beberapa minggu terakhir ini."

Eh?

"Aku sedang sibuk mempersiapkan ujian, dan bahan presentasi tugas magang di sebuah penerbit. Jadi kita tidak ada waktu untuk melakukan itu..." Ucap Umi-chan lagi.

Umi-chan...

"Aku tahu aku terlalu memikirkannya. Tapi, aku merasa bersalah, karena setiap Honoka ingin memulai, aku selalu menolak. Dan aku juga takut Honoka akan mencari orang lain. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya untuk..."

"Tunggu sebentar, Umi-chan," Aku menutup mulut Umi-chan dengan tanganku,

"Mm-mm-mm?"

"...Terimakasih sudah memperhatikanku sampai seperti itu. Aku senang sekali." Aku tersenyum; merasa senang sekaligus tersentuh karena Umi-chan mengutarakan perasaannya seperti ini. Namun, entah kenapa aku juga merasa malu. Apa di mata Umi-chan aku terlihat sangat kesepian?!

...Meski pada kenyataannya memang seperti itu, sih.

Aha ha ha.

"Tapi, Umi-chan. Aku tidak perlu obat semacam itu untuk menyembuhkan kesepian ini. Cukup dengan berbicara dengan Umi-chan juga sudah bisa menyembuhkanku. Dan aku.. nggak akan mencari orang lain. Aku hanya ingin sama Umi-chan." Aku kemudian melepaskan tanganku dari mulut Umi-chan.

"Terimakasih Honoka." Umi-chan tersenyum sebelum mulai menyuarakan sebuah pertanyaan yang sedikit membuatku tersentak kaget. "...Apakah yang aku lakukan pada Honoka hari ini tidak membuatmu puas?"

"I-Itu... Tentu saja puas! Pasti!" Aku merasa agak malu, sehingga tanpa sadar nada bicaraku sedikit meninggi. Kemudian, aku kembali membuat nada bicaraku stabil dan kembali meneruskan ucapanku, "Meskipun, kau tau, kurasa tidak baik melakukan hal itu seperti yang kita lakukan hari ini."

"Fufu~ Baiklah. Jadi, dibiarkan mengalir saja seperti yang biasa kita lakukan?" Ucap Umi-chan dengan nada bercanda, dan aku mengangguk pelan.

"Po-kok-nya-! Umi-chan nggak boleh minum obat ini!" Seruku.

Umi-chan langsung tersentak. "Eh? Bagaimana dengan sakit yang akan kualami nanti?"

Ugh. Benar juga.

"Aku akan membelikan obat lain yang nggak ada efek samping semacam itu!"

"Baiklah. Terimakasih, Honoka." Ucap Umi-chan.

Lalu, ada keheningan sejenak.

"Um, Honoka. Aku minta maaf sebelumnya, tapi, apakah kamu bisa membuka ikatan tali yang ada di pergelangan tangan dan kakiku ini?"

Oke!

Inginnya berkata seperti itu, tapi-- "...Maaf, Umi-chan. Paha ku sangat pegal. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan kaki ku untuk bangun dari tempat tidur. Aha ha ha."

Hening

"...Eh?"

Dan sepertinya, akan menjadi usaha berat bagi Umi-chan untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut.