warning inside
"Apa yang sudah kalian lakukan?"
Pemuda yang berdiri di hadapan kasir bertanya-tanya. Kali ini benaknya dibuat keheranan atas penampilan dua pelanggan yang lusuh juga mengerikan disaat yang bersamaan.
Seorang gadis berkuncir dua mengenakan atasan kuning dengan lelaki bertopi serba hitam-merah di sampingnya. Terdengar biasa bila dikatakan, namun bukan itu poin utamanya. Yang menjadi janggal sekaligus menarik perhatian adalah noda besar pada pakaian mereka. Seperti bekas warna merah yang sekarang memudar, karena air. Jangan lupakan pula wajah berminyak juga bau semilir yang tidak mengenakan berpendar di udara. Kasir itu tahu, pasti dari dua remaja ini sumbernya.
"Kalian mengerikan."
"Bisakah kau tutup mulutmu, dan lakukan apa yang harusnya kau lakukan?" Sang gadis muak. Atmosfer dalam ruangan minimarket terasa menyudutkan ia dan kekasihnya. Ditambah dengan tatapan pria paruh baya yang tampak mengintimidasi, duduk di sudut dengan koran dan secangkir kopinya.
Ying-gadis itu, tersinggung. Ia membalas pandangan bapak tua tak kalah nyalang. "Apa, hah!?" Teriaknya cukup memekakkan telinga, membuat Halilintar-lelaki di sampingnya meringis kecil.
Yang dituju hanya kembali membaca korannya dengan santai.
Dalam situasi belakangan ini, emosi Ying tidak stabil. Halilintar dapat mengerti, mungkin faktor utamanya karena insiden lima hari yang lalu. Begitu juga dengan dirinya. Ada yang aneh, namun bukan seperti amarah yang tak terkendalikan. Lebih kepada perasaan baru yang belum pernah ada, senang ketika bersama Ying misalnya.
"Apa yang kau tunggu, hah!?"
Pemuda kasir bergeming untuk beberapa saat setelah melihat kejadian barusan. Matanya terpaku pada Ying, menatap tak percaya bahwa gadis seukurannya dapat sangat mengerikan.
Ying mengkerutkan dahi. Sungguh, ekspresi pria kasir tersebut sangat mengganggunya. Ini tak bisa ditahan lagi, lantas ia pun menggebrak meja di hadapannya. "Kau mau uang tidak, sih!?"
Aksi itu refleks membuat Halilintar terkekeh pelan. Sang kasir yang terkejut, sungguh menjadi hiburan sekarang.
"Ba-baik."
Beralih pada barang-barang pelanggan untuk dihargai, dibuatnya ia mengerjap-ngerjap setelah melihat apa saja yang dibeli. Berbotol-botol pemutih, berkotak-kotak tissue, dan sabun.
"Apa kalian habis membunuh seseorang?"
DEG
Ketegangan menjalar ke seluruh tubuh Ying dan Halilintar. Keduanya menegakkan tubuh tak nyaman, entah mengapa suhu ruangan menjadi begitu panas dalam sekejap.
Ying memutar otaknya. Pikirnya ia harus mulai mengeluarkan skill: ber-omong kosong
"Kami baru menikah. Itu adalah keperluan untuk satu bulan." Halilintar menatap Ying tak percaya setelah mengucapkan kata demikian. Ying meliriknya sesaat, kemudian kembali berbicara. "Kita masih SMA. Jadi masih belajar untuk membangun rumah tangga."
Halilintar tak mengedip untuk beberapa detik.
Namun entah terlalu bodoh atau Ying yang pandai memerankan perannya, kasir itu percaya. "Baiklah. Tapi kami tidak menyediakan tas plastik lagi."
Mata Halilintar dan Ying saling beradu. Yap, menyatukan pikiran, mereka lupa.
"Akan ku cek di mobil."
.
Blacklistname Present:
Bonnie and Clyde
for:
#dailydrabblechallenge
tribute to remembrance our beloved couple from teotfw:
James n Alyssa
which is now played by our cutest couple from bbb:
Halilintar n Ying
.
Now Playing: 5 Second of Summer - Red Dessert
.
Ying mendudukkan diri pada kursi pengemudi. Alih-alih akan mengambil tas plastik yang sebenarnya tak ada, ia hanya ingin keluar dari minimarket memuakkan tersebut.
Pikirannya berputar pada kejadian lima hari yang lalu. Sungguh besar pengaruhnya, membuat tubuhnya gemetar hebat dan air mata yang tetiba keluar dalam diam.
Mengatupkan bibir rapat-rapat untuk menahan rasa sakit itu, namun bahunya malah berguncang.
Mencoba berlagak bak Bonnie dan Clyde, sepasang remaja kabur dari rumah, mencuri mobil serta membunuh pemiliknya.
Ying tidak buta untuk menangkap topik apa yang bapak tua tadi tengah baca di minimarket.
Jelas tertera, wajah dirinya dan Halilintar di koran. Dengan judul yang penuh kebohongan, bahkan mereka sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lima hari yang lalu, Halilintar dan Ying hendak kabur dari sekolah. Tidak sengaja berpapasan di gerbang belakang, Halilintar yang memang sudah menjadi kebiasaanya melakukan hal demikian bila bosan, namun Ying, sang murid teladan juga pintar, mendadak ingin loncat dari pagar yang tingginya dua kali dari gadis itu sendiri.
Kali itu dengan wajah yang penuh tangis Ying memohon pada Halilintar untuk membawanya pergi. Jauh juga tak apa, asal jangan mendekati hidupnya yang hancur saat ini.
Dan entah ada dorongan apa, mungkin karena hidup Halilintar yang juga sama menyedihkannya, ia mengiyakan permohonan gadis itu.
Mereka terus berjalan tanpa arah sampai akhirnya menemukan rumah mewah di tengah hutan. Sang pemilik adalah seorang pria, yang tiba-tiba bersikap baik dan menawarkan Halilintar dan Ying untuk singgah sebentar.
Namun faktanya, ia predator. Hendak menyekap Ying, beruntung Halilintar yang kembali dari kamar mandi saat itu langsung mengambil tindakan. Melihat ada pistol di atas meja, ia melakukan hal yang ia pikir harus dilakukan selanjutnya.
Akibatnya baju Ying bersimbah darah, Halilintar juga kena imbasnya.
Panik, bingung, takut, mereka benar-benar kacau saat itu.
Diambilnya kunci mobil sang pemilik rumah, kemudian Halilintar dan Ying pergi dari situ.
Namun siapa sangka, berita sangat cepat menyebar bahkan hingga ke tempat antah-berantah seperti ini.
"YING!"
Seakan ditarik kembali pada realita, Ying tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada kaca mobil, di mana menampilkan Halilintar yang kini berlari tampak panik membawa gembolan.
"Ada ap-
"Jalankan mobilnya."
Setelah berkata demikian, Halilintar mengitari mobil untuk duduk di sebelah Ying. "Jalan sekarang!"
"Kenapa!?"
"Bapak tua tadi hendak membunuh kita. Tapi aku melakukannya lebih dulu."
Butuh beberapa detik di tengah kepanikan serta kebingungan untuk menangkap perkataan Halilintar. Jadi, "APA!?"
"JALANKAN SEKARANG!"
Suara decitan ban pada aspal nyaring, Ying menginjak pedal gas tanpa berhenti, mereka meninggalkan minimarket dengan membawa satu masalah baru.
Sial
End
Prompt: Lupa bawa tas sendiri dari rumah disaat supermarketnya udah ngga nyediain plastik lagi
From: Meltavi
sebenernya ada ide lain dengan konsep yang sama, dan lebih relate sama prompt-nya. tapi jatohnya itu terlalu dark. aku segan dan takut untuk publishnya. so, here is it hhe
