Hari Minggu telah tiba.

Hari yang Dazai akan selalu kutuk dalam bagian hati terdalamnya.

Karena itu adalah hari dimana Odasaku dikubur.

Permakaman itu sangat sederhana, hanya dengan beberapa bunga Lily putih yang menghiasinya. Odasaku tidak pernah menginginkan acara permakaman yang terlalu mewah. Oleh karena itu, Dazai, sebagai -Apa? Mereka bahkan belum sempat memutuskannya, karena Odasaku sudah terlebih dahulu direnggut darinya- memutuskan untuk mengaturnya sedemikian rupa.

Hanya ada sedikit orang yang datang, mengingat Odasaku adalah mafia, sehingga teman yang dia miliki hanyalah sedikit. Lelaki itu tidak ingin membahayakan orang lain, oleh karena itu ia sangat berhati-hati dalam memilih temannya.

Tapi Dazai yakin, sebenarnya Odasaku juga takut. Karena kematian orang yang berharga baginya, berarti kematian bagi dirinya sendiri.

Dazai masih bisa mengingatnya dengan jelas. Saat dimana Odasaku menatapnya dengan kedua manik tanpa cahaya, seperti orang yang sudah kehilangan tujuan untuk hidup.

Dazai melihat mata miliknya sendiri, saat dia menatap Odasaku. Dia... tidak ingin Odasaku jatuh ke dalam lubang yang sama dengannya.

"Odasaku-! Tunggu !!"

(Namun semuanya sudah terlambat.)

Gloomy Sunday, my hours are slumberless

Sudah berapa kali Dazai terjaga, dalam malam-malam yang dipenuhi dengan mimpi buruk? Tiap matanya tertutup, kenangan menyiksa itu akan kembali datang bagai kaset yang rusak. Hari demi hari berlalu, namun Dazai tetap tidak bisa menghilangkannya.

Tiap kali Dazai menatap tangannya, hanya darah yang bisa dia lihat. Darah yang meskipun dicucinya berkali-kali, tetap tidak mau hilang. Tangan milik Dazai sudah ternodai. Dia sudah berdosa.

(Dazai mencoba bunuh diri saat itu, namun kali ini, dengan cara menyayat tangannya hingga kehabisan darah. Cara yang menyakitkan, namun adalah pilihan terbaik bagi dirinya.

Dia gagal, namun luka itu masih membekas di lengannya, tertutupi dengan perban.)

Dearest the shadow, I live with are numberless

Hidup Dazai terasa kabur, seperti bayang-bayang di kala senja. Dia tidak menemukan lagi sebuah terang yang menuntun dirinya selama ini. Yang membungkusnya dengan kehangatan dalam tiap sentuhan dan bisikan penuh cinta.

Karena cahaya itu sudah padam.

Little white flowers will never awaken you, not where the black coach of sorrow has taken you.

Dazai memilih Lily berwarna putih karena bunga itu begitu cocok dengan Odasaku. Kesucian, kemurnian, dan ketulusan. Itulah tiga hal pertama yang terbesit dalam pikiran Dazai ketika mengingat lelaki bersurai coklat kemerahan itu.

(Dan sebuah pengingat, bahwa sekali bunga itu layu, maka ia akan jatuh ke tanah dan membusuk, lalu menghilang.

Sama seperti Odasaku.)

Angels have no thoughts of ever returning you

Dazai kadang bertanya-tanya, mengapa harus Odasaku yang lebih dulu meninggalkan dunia ini? Bukankah dirinya yang tidak berguna itu lebih cocok? Dengan begitu, Odasaku bisa menghabiskan waktu lebih banyak di dunia, bersama dengan anak-anak kesayangannya.

Would they be angry, if I thought of joining you?

Ada saat-saat dimana Dazai sudah merasa terlalu lelah, dan ingin mengakhiri hidupnya. Dia ingin kembali bertemu dengan Odasaku, merasakan pelukan hangatnya dan kecupan singkat pada dahi yang semakin dirinya rindukan. Ketika rasa rindu itu kembali menyerang, Dazai akan pergi ke makam milik pria yang dia kasihi, mencurahkan segala perasaan miliknya ke dalam sebuah bisikan,

"Bolehkah?"

Tapi setelah itu, dia akan teringat kembali dengan pesan terakhir Odasaku.

"Berpihaklah pada sisi kebaikan."

Kata-kata itu terngiang dalam benaknya. Dan itulah yang mencegah Dazai untuk kembali ke pelukan milik Odasaku. Ia tidak akan mati sebelum pesan itu terpenuhi. Dazai tidak ingin mengecewakan Odasaku.

Namun, sekarang, semua sudah selesai. Urusan Dazai disini sudah selesai, tidak ada lagi yang bisa menghentikannya.

Gloomy Sunday.

Gloomy is Sunday, with shadows I spend it all.

Hari Minggu ini, Dazai menemukan dirinya berada di depan batu nisan milik Odasaku. Tangannya memegang kotak rokok bermerek Lupin. Itu adalah nama bar yang sering mereka kunjungi, saat semuanya masih baik-baik saja.

Ah, betapa rindunya Dazai dengan momen-momen itu. Tapi tidak apa-apa, sebentar lagi ...

Suara petir yang menggelegar menyadarkan Dazai dari lamunannya. Lelaki bersurai coklat itu mendongak ke atas, mendapati langit yang sudah sangat gelap. Ia pun tersenyum samar.

"Odasaku, lihatlah, bahkan bumi pun menangisi dirimu.. Itu adalah bukti, bahwa kamu begitu penting, bagi dunia dan bagiku," ucapnya pelan.

My heart and I, has decided to end it all.

Dazai menaruh sebuah buket bunga Lily putih di hadapan makam itu.

"Ini bunga yang terakhir, Odasaku."

Karena sebentar lagi kita akan kembali bersama.

Dia meraih pistol yang berada di saku mantel kanannya. Bersamaan dengan itu, hujan mulai turun dengan deras, seolah-olah menangis dan berdukacita, ketika mengetahui niat sesungguhnya dari Dazai.

Soon there'll be candles, and prayer that are said I know.

Bulir-bulir air dengan cepat membuat basah pakaian milik Dazai, membuatnya gemetar kedinginan. Tangannya berhenti sejenak setelah menarik pengaman, teringat akan sesuatu.

Apakah Kunikida akan marah padanya?

Apakah Chuuya akan merasa kecewa pada mantan partnernya?

Apakah Atsushi akan menangis sedih karena kepergian mentor tercintanya?

Dazai harap tidak.

Let them no weep.

Let them know that I'm glad to go.

.. Karena dirinya merasa bahagia saat ini.

Death is no dream, for in death I will be caressing you.

With the last breath of my soul, I'll be blessing you.

Dazai tidak menyesal telah menghabiskan setengah dari waktu hidupnya untuk memenuhi permintaan terakhir Odasaku. Karena Dazai yakin, bahwa saran milik lelaki yang dicintainya itu tidak akan pernah merugikannya.

Dazai tidak menyesal telah bertemu, berteman, hingga akhirnya jatuh hati dengan Odasaku.

Gloomy Sunday.

Dreaming, I was only dreaming. I wake and find you asleep, in the deep of my heart here.

Kali ini, Dazai menodongkan pistol itu ke kepalanya. Dalam hitungan detik, pelatuk miliknya akan dia tarik, dan hidupnya akan berakhir saat itu juga.

Untaian kenangan mulai bermunculan kembali ke dalam pikirannya, mulai dari masa kecilnya yang dingin dan kelam, penuh dengan darah, hingga semua itu berubah saat dia bertemu Odasaku. Lelaki itu.. adalah matahari bagi Dazai. Sungguh, ia bersyukur bisa bertemu dengannya. Hidupnya tak lagi hampa.

Darling I hope, that my dream never haunted you.

My heart is telling you, how much I wanted you..

Dazai mengejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.

[Gloomy Sunday]

"Aku kembali ..."

.

.

.

.

Eak !! Ada yang nangis kagak? Kalo ga ada, berarti saia gagal :') Jadi, bagaimana angstnya? Udah cukup pahit? Ato masih kurang? Krisar nya dong qaqa :3

Betewe, cerita ini terinspirasi dari lagu 'Gloomy Sunday'. Kebetulan liriknya bagus dan pas sama kisah OdaZai yang gak pernah jauh-jauh dari angst~ :')) /nangid

Sebelum ini, saia udah 2x (ato 3 ya? Lupa heh3) ganti cerita. Karena ga dapet 'feel'nya, akhirnya terpaksa kuganti ;-; Tapi, dengan bantuan dan semangat dari wankawan ku yang UwU banget, saia bisa nylesain ini !!

Special thanks buat Kunikidah-senseih yang udah mau koreksi cerita ini~

Sekian dulu, aghu pamit :3

- Awthor