Summary
Taehyung adalah orang yang dingin diluar namun canggung di dalam. Dirinya tidak menyangka akan menemukan cinta di pelayaran kapal pesiar mewah. Perasaannya perlahan tumbuh, setiap hari bertambah besar kepada seorang laki-laki yang memiliki senyum kelinci, Jeon Jeongguk.Namun apakah Taehyung bisa mengumpulkan keberaniannya?
Atau
Taehyung keeps pining after a beautiful boy with bunny smile on a Cruise Journey.
Notes
POV Taehyung. Penuh naratif.
Karakter lain: Seokjin, Hoseok dan Kim Yeunghwan (OC). Tag tambahan: slight Jung Hoseok(J-Hope)/Original Character. Rate Mature to be safe dan ada slight smut scene.
Rating: T plus (18 and above)
Disclaimer: I just own the plot
Rated: T
Length: One Shot
Genre: Slow Romance, Drama
Music: My Heart Will Go On – Celine Dion
.
.
.
Serina Park
Full of Luxury in a Fanfiction
Meant to be Loved
"Kau harus bersiap menerima hal yang tak terduga terjadi di dalam hidupmu, seperti halnya cinta yang datang dengan tak terduga"
.
.
.
Taekook 4ever~
.
.
.
Kim Taehyung mengira kalau pelayaran pertamanya dengan Voyager of the Seas akan sangat membosankan. Pelayaran lima hari dimulai dari Cina, Tianjin Port—dimana mereka mengadakan rapat tahunan—menuju Incheon dan singgah di pulau Jeju pada hari ketiga ini adalah pesta tahunan para pemilik perusahaan besar di Korea selatan. Taehyung adalah tipe orang yang tidak menyukai pesta dan lebih memilih memanfaatkan waktu liburnya untuk beristirahat di rumah, namun ia akan dianggap tidak menghormati jika tidak menghadirinya. Ia menggantikan posisi sang ayah, Kim Yeunghwan, sebagai pemimpin Kim's Company—yang bergerak di bidang multi bidang—akhir tahun lalu tepat setelah pesta di atas kapal pesiar ini selesai dan juga menjadi pesta terakhir ayahnya sebelum pensiun.
Karena Taehyung sendiri sebenarnya sama sekali tidak ada niat untuk menikmati pesta semacam ini, ia memutuskan untuk membawa serta kakak sepupunya, Kim Seokjin, untuk menemaninya dan juga mewakili dirinya, jika ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun dan memilih mengurung diri di kamar. Taehyung tidak peduli jika ia dianggap kurang ajar oleh yang lain karena membiarkan Seokjin mengurus semuanya, toh Seokjin sendiri tidak keberatan. Taehyung sangat berterima kasih kepada Seokjin karena itu.
Taehyung sudah berusaha tidur untuk melewati hari, namun ia selalu terbangun. Ia sudah terlalu banyak tidur. Jika saja pesta ini tidak berpengaruh pada para investor—yang juga para pemimpin perusahaan— di perusahaannya, ia sudah pasti tidak akan ikut. Huh. Dengan malas Taehyung bangun dan berjalan menuju jendela barat Royal Suitenya yang tepat menghadap sun deck di kapal pesiar mewah itu. Ia menggeser sedikit tirai karena ia melihat cahaya sunset menerobos masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah tirai, takut cahaya matahari akan menyilaukan matanya.
Setelah sedikit demi sedikit membuka tirai sampai sepenuhnya terbuka, Taehyung membuka matanya penuh untuk melihat sunset. Terlintas di pikirannya, Taehyung tidak percaya kalau ia telah tidur selama itu. Memang ia berencana melewatkan hari dengan tidur, tapi ia sendiri terkejut dengan fakta kalau ia bisa tidur selama ini padahal biasanya ia tak akan bisa. Taehyung menutup matanya dan menghela napas, lalu membuka matanya kembali untuk melihat sunset terakhir kali sebelum ia menutup tirai jendelanya.
Saat itulah matanya menangkap sesosok laki-laki yang tengah berdiri di sun deck menghadap sunset.
Taehyung sama sekali tidak kesulitan menangkap sosok laki-laki itu. Keadaan sun deck saat ini sangat sunyi. Semua penumpang sedang menikmati pesta yang sedang diadakan di Dining Room utama sekarang. Terlebih laki-laki itu memakai simple evening suit dengan rambut hitamnya dibiarkan tanpa distyle dan tertiup angin. Mata laki-laki itu menatap sunset dengan intens. Senyuman menghiasi wajahnya. Manis. Itulah yang terlintas di pikiran Taehyung setelah laki-laki itu menolehkan kepalanya ke kiri sehingga Taehyung bisa dengan jelas melihat wajahnya.
Tetapi, di detik berikutnya kerutan muncul di dahi Taehyung. Ia bingung. Kenapa laki-laki itu tidak mengikuti pesta? Kenapa ia sendirian? dan—
"Taehyung, apakah kau sudah bangun?"
Suara Seokjin memutuskan rantai pikiran Taehyung seketika. Taehyung berbalik menatap Hyung-nya dengan sebelah alisnya terangkat naik. Seakan ingin bertanya balik kepada Seokjin 'kenapa-kau-bertanya-tentang-jawaban-yang-sudah-jelas?'. Seokjin, yang sudah memakai suit maroonnya hanya mengangkat bahunya. "Suka atau tidak, kau harus menghadiri pestanya, Taehyung." Ucap Seokjin sebelum berjalan melintasi ruangan dan duduk di pinggir kasur king-size Taehyung, lalu melipat lengannya.
"Tepatnya dengan alasan apa aku harus menghadiri pesta membosankan itu, Hyung?"
Sebenarnya, Taehyung tidak perlu bertanya tentang kenapa ia harus hadir di pesta pada pelayaran malam pertama. Ia harus hadir pada saat pembukaan pesta—Taehyung melirik jam dinding yang menunjukkan angka enam lewat lima belas menit— 45 menit dari sekarang.
"Oh, ayolah, kau tahu pasti apa alasannya, Taehyung." Jawab Seokjin, "Atau kau lebih memilih untuk melanjutkan tidurmu dan membuat perusahaan kita bangkrut."
"Kau tahu dengan baik kalau itu adalah hal terakhir yang kuinginkan terjadi, Hyung. Baiklah, aku akan bersiap dan akan turun dalam lima belas menit."
Ia tahu kalau Seokjin tidak bermaksud mengancamnya, Hyung-nya hanya berusaha mengingatkannya tentang alasan pesta ini diadakan.
"Aku akan menunggumu di sana."
Seokjin keluar setelah mengatakan itu. Taehyung memijat pelipisnya pelan. Kepalanya sudah terasa pusing bahkan sebelum dirinya benar-benar berada di pesta. Taehyung baru saja akan berjalan menuju kamar mandi saat ia teringat dengan laki-laki yang ia perhatikan sebelumnya. Laki-laki yang berdiri memandangi sunset di sun deck. Apakah ia masih di sana? Taehyung membuka tirai jendelanya sedikit untuk melihat apakah laki-laki itu masih berada di sana.
Namun nihil.
Laki-laki itu sudah tidak ada di sana. Taehyung menutup tirai jendelanya kembali dan menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelah jendela. Apa ia akan menemukan laki-laki itu di pesta? Taehyung berharap begitu. Kalau laki-laki itu adalah penumpang kapal pesiar ini, itu berarti ia juga harus menghadiri pesta malam pertama. Baiklah, sekarang Taehyung mempunyai tujuan kenapa ia harus pergi ke pesta yang membosankan itu. Ia ingin mencari laki-laki itu dan mungkin berkenalan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Taehyung akhirnya sudah siap dengan mengenakan tuxedo Guccinya Taehyung menatap pantulan dirinya di cermin sambil memasang Rolex Wrist Watch pada lengan kanannya. Setelah merasa penampilan cukup diterima, Taehyung segera menuju Dining Room. Hanya tersisa kurang dari tiga puluh menit sebelum pembukaan pesta.
.
Meant to be Loved
.
"Kau bohong, Taehyung. Kau membutuhkan waktu lebih dari lima belas menit."
Seokjin berdiri di hadapan Taehyung begitu adiknya akhirnya sampai di Dining Room dengan lengan menyilang dan mengetuk-ngetukkan kaki kanannya ke lantai dengan tidak sabar. Seokjin agak kesal karena ia harus menunggu Taehyung lebih dari waktu yang dijanjikan adiknya itu dan ia terpaksa meminta maaf kepada rekan kerja Kim's company karena Taehyung, sang CEO, masih belum berada di pesta.
"Yang penting aku sekarang sudah berada di sini kan? Setidaknya lima belas menit sebelum acara pembukaan dimulai." Memang seharusnya ia harus tiba lebih awal untuk, setidaknya, 'berbicara' dengan rekan kerjanya, namun waktu tidak terasa karena dirinya sedari tadi sibuk berkeliling mencari laki-laki yang ia lihat di sun deck tadi. Dan ia sama sekali tidak menemukan laki-laki itu. Dimana laki-laki itu?
Seokjin menghela napas. "Lebih baik kita duduk sekarang." Seokjin pun mulai berjalan menuju meja mereka yang berada di lantai satu dan Taehyung mengikuti di belakang. Tidak lama setelah mereka duduk, lampu Dining Room itu dibuat redup dan lampu sorot sudah menyorot ke teras tangga utama yang terdapat di Dining Room tiga tingkat itu, dimana ada dua orang, lelaki dan wanita, yang Taehyung kenali sebagai pembawa acara sudah berdiri di bawah lampu sorot dengan mikrofon di tangan mereka.
Acara pembukaan yang membosankan itu berlangsung selama lima belas menit dan setelah itu acara pesta dimulai. Taehyung sendiri memilih kembali ke Royal Suitenya. He's not a social butterfly, that's Seokjin expertise. Taehyung lebih menikmati cahaya bulan di private balcony suitenya dengan ditemani Shiraz Red Wine setelah selesai berbicara kepada rekan kerjanya. Taehyung memutar pelan wine di dalam gelas sebelum meneguk habis bahan yang terbuat dari anggur Syrah tersebut. Lalu, ia meletakkan gelas winenya di meja kecil di sampingnya.
Angin malam bertiup lembut melewati lehernya. Taehyung mendongakkan kepalanya dan menatap bulan sabit yang menggantung di langit malam. Perlahan Taehyung menutup matanya dan merasakan kembali angin malam dari laut timur Cina dimana ia berada sekarang. Beruntung pesta tahunan di kapal pesiar ini diadakan pada musim gugur, sehingga udara tidak terlalu panas atau pun dingin. Taehyung menyukai itu.
Taehyung membuka matanya beberapa menit kemudian, berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengganti suitnya dengan baju tidur lengan panjang Daniel Bucher berbahan Silk dan Cotton. Taehyung memutuskan untuk tidur lebih awal. Memang benar ia sudah tidur seharian ini, tapi rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya saat ia merasakan angin malam laut timur Cina yang menerpanya barusan. Tanpa berpikir dua kali, Taehyung langsung merebahkan dirinya di kasur king-sizenya dan menutup matanya.
Dan satu hal yang Taehyung tidak pernah menyangka akan terjadi pada malam itu adalah… ia bermimpi tentang laki-laki misterius itu. Dia sangat manis terlebih dengan memakai pakaian berwarna terang. Ia tersenyum ke arahnya, dan walaupun ini hanya terjadi di dalam mimpinya, Taehyung tidak bisa menghentikan degup jantungnya yang berdetak begitu kencang. Taehyung hanya berdiri diam, melihat laki-laki itu dari kejauhan.
Taehyung sangat ingin mendekati pujaan hatinya itu, namun ia merasa kakinya tertempel kuat pada lantai dimana ia berpijak. Ia ingin memanggil laki-laki itu, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
Dan hanya ada satu permintaan darinya…
Tuhan… jika kami memang ditakdirkan bersama, maka pertemukanlah kami…
.
.
.
Taehyung terbangun dari tidurnya begitu mendengar handphonenya yang ia letakkan di meja nakas samping kasur berbunyi nyaring, menandakan panggilan masuk. Taehyung mengerang kesal. Tidurnya terganggu. Ia melirik jam di dinding. 05.45. Siapa yang menelepon pagi-pagi begini? Taehyung mengambil handphonenya dan langsung menjawab telepon tanpa melihat nama caller yang tertera pada layar.
Ternyata yang meneleponnya adalah sang ayah, Kim Yeunghwan, memastikan apakah Taehyung sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Taehyung hanya menjawab dengan "Ya", "Tentu" karena ayahnya tidak suka mendengar hal-hal yang bertele-tele. Sepuluh menit kemudian barulah mereka selesai berbicara dan karena rasa jengkel Taehyung sudah tidak bisa tertidur kembali. Lagi pula, hanya tinggal lima menit lagi sebelum sunrise. Jadi, Taehyung memutuskan untuk melihat sunrise dan berjalan menuju jendela timur Royal Suitenya. Taehyung baru saja akan membuka tirai saat ia kembali menangkap sesosok laki-laki yang begitu ia kenali.
Laki-laki itu… laki-laki itu berada di sun deck lagi. Apakah laki-laki itu datang untuk melihat sunrise juga? Taehyung pun membuka tirai jendelanya penuh. Memberikan ia akses lebih leluasa untuk memandang ke luar, ke laut lepas dan laki-laki misterius itu. Kali ini laki-laki itu hanya mengenakan kaus kemeja putih dengan celana selutut, rambutnya masih terlihat acak-acakan. Bed head. Senyuman yang menawan itu menghiasi wajah cantiknya.
Taehyung menyandarkan punggungnya serta kepalanya pada ambang jendela, menyilangkan tangannya dan terus memperhatikan sosok laki-laki misterius itu. Sebenarnya, ia ingin turun ke sun deck dan menyapa laki-lakipencuri hatinya itu, namun ia urungkan niatnya karena ia tidak ingin menghancurkan moment indah ini. Ia ingin terus memandangi wajah cantik laki-laki itu, walaupun hanya dari kejauhan.
Suasana sun deck pagi hari ini juga sunyi. Hanya ada laki-laki itu di sana dan… dirinya. Mereka hanya berdua. Tanpa Taehyung sadari, senyuman juga menghiasi wajahnya. Senyuman sejati yang sangat jarang ia tunjukan.
Do you believe in love at the first sight?
.
Meant to be Loved
.
Tanpa Taehyung sadari sendiri, dirinya sudah terbiasa melihat laki-laki misterius itu di saat matahari terbit dan tenggelam. Menemani jadwal monotonnya di cruise. Taehyung tahu kalau dirinya telah jatuh cinta dengan laki-laki itu sangat dalam. Meskipun begitu, ia tetap tidak bisa membawa dirinya untuk mendekatinya. Itu semua karena Taehyung akan merasakan dirinya menjadi all tense up bahkan jarak di antara mereka sangat jauh. Taehyung merutuki dirinya sendiri karena itu. Kenapa ia tidak berani mendekati laki-laki itu? Sialan.
Akan tetapi, Taehyung sekarang sudah merasa cukup puas walaupun dirinya hanya bisa melihat laki-laki itu dari kejauhan, terutama saat sunrise dan sunset dimana hanya ada mereka berdua… menyaksikan sang matahari secara terpisah. Namun, sungguh, Taehyung benar-benar merasa puas.
Pada hari ketiga kapal pesiar yang ia tumpangi ini akan singgah sebentar di Jeju Island sebelum mengarungi lautan kembali menuju Incheon, dimana perjalanan ini akan berakhir dan ia akan kembali ke kehidupan normalnya dimana ia tidak akan bisa mengawali pagi dan sorenya dengan melihat sosok laki-laki itu.
"Haaah…"
"Kenapa kau menghela napas begitu, Tae?"
Taehyung menoleh ke arah pintu kamarnya. Ia memang sudah tahu siapa yang memanggilnya barusan tanpa perlu menoleh, tapi kepalanya bergerak secara alami ketika mendengar suara kakaknya, Seokjin.
"Hyung."
Seokjin berjalan masuk ke dalam kamar Taehyung dan mendudukkan dirinya di sofa sebelah Taehyung. "Sebaiknya kau ikut berjalan-jalan ke pulau Jeju bersamaku, Taehyung. Sebentar lagi kita akan merapat ke pelabuhan." Ucap Seokjin sambil mengambil Apple's iPad dari tangan adiknya dan ikut memeriksa laporan perusahaan yang tengah adiknya baca itu.
Taehyung menyandarkan kepalanya pada telapak kanannya yang bersandar pada sandaran lengan sofa. "Benarkah? Aku tidak tahu kita akan sampai sebentar lagi." Jawab Taehyung jujur. Ia terlalu terpaku pada pikirannya sehingga ia tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Pantas saja kakaknya sudah memakai baju kaus dan celana selutut berwarna senada serta topi pantai yang begitu besar.
"Kapten barusan mengumumkannya lewat pengeras suara, Taehyung." Seokjin tahu kalau adiknya ini sedang memikirkan sesuatu. Kalau tidak, maka Taehyung tidak akan melamun dan memasang tampang pabbonya itu. "Kau butuh mengistirahatkan pikiranmu sejenak, Taehyung. Jadi, ikut aku turun ke pulau dan bermain di pantai."
Taehyung mengangguk. Perkataan kakaknya memang benar. Ia perlu mengistirahatkan pikirannya. "Kalau begitu biarkan aku berganti pakaian." Seokjin lebih dulu menaruh iPad di atas meja di depannya sebelum berjalan keluar setelah mendengar ucapan Taehyung.
"Aku tunggu di Centrum." Ucap Seokjin selagi melangkah keluar kamar Taehyung.
"Ne." jawab Taehyung diikuti anggukkan kepalanya. Dengan malas Taehyung berjalan menuju walk-in-closet Royal Suitenya dan mengganti baju kaos putih dan celana santai hitam biasanya dengan baju trainingnya. Taehyung juga tidak lupa mengambil botol minum dari refrigerator mini di kamarnya sebelum keluar menuju Centrum. Ia menarik hoodienya di atas topi Nikenya untuk melindungi wajahnya dari sinar matahari saat ia berjalan melewati deck.
Taehyung berencana untuk berolSeokjinga sesampainya mereka di pantai. Memang terdapat fitness center di dalam kapal pesiar Voyager of the Seas yang ia tumpangi ini, namun Taehyung sedang tidak dalam mood untuk berolahraha di dalam ruangan. Karena mereka akan singgah di pulau Jeju, jadi kenapa tidak memanfaatkan kesempatan bersantai di tempat terbuka ini? Lebih baik daripada hanya bermain air dan berenang.
Taehyung juga berharap kalau laki-laki itu juga turun dan bermain di pantai… Ya, Taehyung benar-benar mengharapkan itu. Supaya ia memiliki tujuan lain selain hanya berolahraga berlari berkeliling pantai.
.
Meant to be Loved
.
Pada malam harinya Taehyung menemukan dirinya kembali di kapal pesiar untuk meminum Veuve Clicquot di Champagne Bar bersama dengan rekan kerjanya. Acara minum champagne bersama ini diadakan untuk mempererat jalinan kerja sama mereka. Membicarakan apa yang akan mereka akan lakukan ke depannya dan membuat perusahaan mereka untung besar. Bukannya Taehyung membenci hal-hal seperti ini, hanya saja ia tidak suka.
Meminum minuman mahal dan tertawa pada candaan yang sama sekali tidak lucu. Hanya berbicara tentang bagaimana mereka meraup untung banyak dan memperkaya diri mereka supaya mereka akan terus bisa ikut dalam pelayaran mewah ini setiap tahun. Bagi Taehyung, itu semua membosankan. Lagi-lagi ia membawa serta Seokjin untuk menemaninya dalam acara kecil-kecilan ini. Taehyung tetap bergabung dalam pembicaraan dan bersikap baik.
Tentu saja ini semua hanyalah sebuah akting dan Kim Taehyung adalah aktornya.
Setelah sejam berlalu dan malam semakin larut Taehyung tidak beranjak dari tempat duduknya, sedangkan rekan kerjanya, juga Seokjin telah pamit pergi tidur. Taehyung masih ingin berada di sini dan meminum champagne sambil memutar ulang ingatannya tentang apa yang sudah terjadi hari ini di pantai. Tidak dipungkiri kalau Taehyung merasa sangat senang. Di pantai, hari ini, ia melihat laki-laki itu. Lagi-lagi hanya sendirian dan duduk sambil merangkul kedua kaki di pinggir pantai.
Laki-laki itu hanya memakai Beach Poncho di atas baju kaus putihnya dan celana kain putih. Rambut hiamnya ditutupi topi pantai.
Mata laki-laki itu terbuka dan terus menatap ke kejauhan. Hal ini membuat Taehyung bertanya-tanya di dalam benaknya. Ia tidak pernah melihat laki-laki itu bersama dengan siapa pun. Ia selalu sendiri setiap Taehyung melihatnya. Tapi… itu tidak mungkin.
Taehyung meneguk habis entah sudah gelas keberapa champagnenya. Argh… kenapa ia tidak bisa menemukan kamar laki-laki itu supaya ia bisa tahu lebih jelas tentang siapa dan dengan siapa laki-laki itu datang ke pelayaran ini? Ia hanya selalu bisa memandang laki-laki itu dari kejauhan dan itu pun di tempat-tempat umum. Ia selalu kehilangan jejak begitu mencoba mengejarnya.
"Ck…" Taehyung mendecak saat kepalanya mulai terasa berat. Ia sudah kebanyakan minum dan musik yang tengah dimainkan di bar hanya membuatnya tambah buruk. Mungkin sudah saatnya ia kembali ke kamarnya dan beristirahat. Oh, sebaiknya ingatkan dirinya untuk meminta obat hangover kepada pelayan sebelum tidur karena ia tahu saat ia bangun besok pagi kepalanya pasti sakit.
Taehyung memilih untuk melihat keadaan bar terlebih dahulu. Memastikan apakah banyak orang atau tidak. Karena ia tidak mau tiba-tiba menabrak seseorang karena jalannya yang sempoyongan. Itu akan merepotkan.
DEG!
Kedua onxy hitam Taehyung seketika melebar kaget saat bertemu dengan kedua onxy hitam lainnya dengan tidak sengaja. Onxy hitam lainnya yang ternyata adalah milik laki-laki pencuri hatinya. Pada saat itu waktu seakan berhenti untuk Taehyung, tapi tidak untuk jantungnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mulut Taehyung membuka dan kemudian menutup kembali, seakan ingin mengatakan sesuatu namun tertahan. Taehyung benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tahu kalau sekarang ia kelihatan seperti orang bodoh, tapi ia tidak peduli. Yang ada di pikiran Taehyung saat ini adalah laki-laki itu berada di sini, di bar yang sama dengannya dan mereka saling berpandangan!
Yang pertama kali memecah kontak mata di antara mereka adalah laki-laki misterius tersebut. Ia tersenyum lebar ke arah Taehyung—terlihat seperti kelinci sebelum akhirnya pergi dari bar itu. Sekedar sopan santun, walaupun begitu, Taehyung masih terus tertegun di kursinya. Senyuman itu… indah.
Taehyung baru tersadar sepuluh menit berikutnya. Dengan cepat ia berdiri dan meninggalkan bar setelah meminta kepada pelayan untuk mengantarkan obat hangovernya esok pagi ke kamarnya. Taehyung melepas jas, dasi dan sepatunya, lalu membuka beberapa kancing baju kemejanya. Perlahan ia duduk di tepi kasur king-sizenya. Ia sudah tidak bisa berpikiran jernih sekarang. Entah apakah itu semua akibat champagne atau kejadian yang tak terduga itu.
Suara seseorang yang menghempaskan diri di atas tempat tidur segera memenuhi ruangan. Taehyung memejamkan matanya secara perlahan. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya dan memaksanya untuk tidur. Ia juga tidak peduli apakah ia sudah mengganti suitnya dengan baju pajamas atau belum. Ia sudah mengantuk dan ia membutuhkan tidur. Mungkin setelah tidur, Taehyung bisa berpikir dengan jernih kembali.
.
.
.
Taehyung membuka matanya karena cahaya yang begitu terang mulai menyorot matanya. Ia mengerang pelan. Tidak suka acara tidurnya terganggu, namun Taehyung tetap membuka matanya dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Taehyung melihat sekeliling dan langsung kebingungan karena ia tidak berada di dalam suitenya di kapal pesiar, namun di atas sebuah tempat tidur bergaya Simple Victorian dan dikelilingi oleh pepohonan serta ladang rumput. Ini dimana? Kenapa ia bisa berada di sini? Dan siapa yang mengganti bajunya? Taehyung melirik ke bawah. Baju suitnya kini telah berganti dengan baju sweater dan celana jeams berwarna hitam dengan tempat tidur dimana ia duduki sekarang.
Sekali lagi Taehyung memandangi sekelilingnya, namun ia tidak melihat ke samping kirinya sebelum jari jemari tangannya meraba sesuatu yang ia tahu bukanlah barang. Taehyung menolehkan kepala ke samping. Tubuhnya membeku ketika ia mengetahui kalau ada seseorang yang berbaring di sampingnya. Yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah seseorang itu tidak lain adalah laki-laki misterius itu.
Mata laki-laki itu tertutup dan dadanya naik turun secara teratur seiring napasnya yang keluar masuk. Mulutnya mengerucut lucu dengan tahi lalat tepat dibawah bibir yang terlihat jelas kali ini, rambut hitam tersebar dibantal seperti halo malaikat. Ia hanya mengenakan baju kaus longgar dan celana panjang—lagi-lagi warna terang. Cantik. Sungguh.
Swush.
Dengan lembut angin berhembus melewati mereka. Membuat ikatan pada tirai kelambu di sekitar tiang tempat tidur mereka terlepas dan berkibar. Angin lembut itu juga membangunkan sang putri tidur. Mulut Taehyung terbuka karena takjub saat melihat mata laki-laki yang berada di sampingnya ini terbuka. Memperlihatkan onxy hitam bulatnya. Lagi-lagi jantung Taehyung berdetak dengan kencang. Ia merasa kupu-kupu di perutnya mulai bereaksi.
"Kau di sini."
Suara halus dan lembut yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat Taehyung memejamkan matanya. Taehyung tidak menyangka kalau suaranya akan begitu halus dan lembut sehingga ia menutup matanya untuk mendengarkannya. Ia perlu mengingat bagaimana suara laki-laki yang begitu ia cintai ini. Karena Taehyung tahu ini terlalu bagus untuk terjadi dan ini hanyalah sebuah mimpi.
Oh, Tuhan… entah apakah aku harus berterima kasih atau tidak karena telah mempertemukan kami di dalam mimpi sedekat ini…
Taehyung kembali membuka matanya saat merasa ada lengan melingkar sempurna pada lehernya. Lengan itu adalah milik laki-laki yang sekarang sudah berada di hadapannya ini. Secara perlahan jarak di antara mereka mulai menipis. Taehyung memberanikan dirinya mendekati laki-laki dihadapannya ini, menghapuskan jarak di antara mereka dan mempertemukan bibir mereka. Taehyung memejamkan matanya selagi ia melumat lembut bibir laki-laki yang sangat ia cintai ini. Taehyung membawa tubuh mereka kembali berbaring di kasur.
Kaki mereka saling bertautan. Ciuman di antara mereka terjadi cukup lama sebelum akhirnya Taehyung turun ke bawah dan mulai menelusuri leher laki-laki di bawahnya ini dengan kecupan-kecupan kecil, sesekali menghisapnya. Meninggalkan tanda kepemilikan. Erangan lembut terdengar dari mulut lawan mainnya.
Swush…
Angin kembali berhembus dan kali ini adalah angin yang cukup kencang, sehingga Taehyung harus menutup matanya. Namun, ketika ia membuka matanya kembali ia sudah kembali berada di dalam suitenya di kapal pesiar dengan cahaya matahari menerangi kamarnya.
Taehyung mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menaruh lengannya di atas kening. Ia menghela napas. Itu semua hanya sebuah mimpi yang begitu… indah. Taehyung memindahkan lengannya dan melirik ke jam dinding di kamarnya. 11.50. Ah, jadi ia ketiduran, eoh?
Taehyung bangun dan duduk di tepi kasur king-sizenya. Ia tidak masalah kalau itu hanyalah sekedar mimpi, tapi apa yang akan ia lakukan terhadap adik kecilnya ini sekarang? Taehyung melirik ke tonjolan di dalam celananya. Ugh… bukan hanya itu, ia juga tidak sempat melihat sunrise dan laki-laki itu karena ketiduran. Rasa jengkel semakin menjadi saat rasa sakit di kepalanya mulai menyerang. "Aish…" Taehyung akhirnya memutuskan untuk mandi air dingin.
.
.
.
"Lihat dirimu sekarang, Taehyung. Sangat berantakan. Sudah kubilangkan jangan minum terlalu banyak."
"Hyung, tolong pelankan suaramu."
Taehyung baru saja selesai meminum obat untuk hangovernya begitu selesai menyantap sarapan kesiangannya whole wheat bread dengan egg dan almond butter di atas tempat tidur dikarenakan ketidakmampuan Taehyung berjalan dengan benar. Walaupun Taehyung sudah meminum obatnya, Seokjin yang terus-menerus menceramahi dirinya sama sekali tidak membuat kepalanya tambah baik. Malah membuat kepalanya kembali berdenyut sakit.
Seokjin menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mendudukkan dirinya di sofa samping kiri tempat tidur Taehyung. Taehyung sendiri sedang beristirahat di atas kasurnya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kepala tempat tidurnya. Selimut menutupi sampai pinggul atas Taehyung.
"Padahal aku ingin mengajakmu ke theater hari ini. Mereka akan mengadakan acara musikal."
"Apa tema musikal kali ini?"
"Surely Someday You Will Understand Love"*
"Ah, seberapa banyak pun aku menginginkan untuk menonton aku tidak bisa, Hyung. Aku merasa kepalaku akan siap meledak kapan saja kalau aku berjalan."
Seokjin memutar bola matanya mendengar perkataan adiknya itu. "Baiklah, Taehyung. Nanti akan kuceritakan bagaimana musikalnya." Setuju Seokjin, "Istirahatlah, lagi pula, aku tidak ingin keadaanmu semakin memburuk dan panggil aku jika kau memilih untuk bermain piano. Kau tahu aku suka mendengarmu bermain." Seokjin berdiri dan mendekati Taehyung, kemudian menyibak poni Taehyung lalu mencium kening adiknya itu sebelum berjalan keluar.
"Tentu, Hyung." Jawab Taehyung segera sebelum Seokjin benar-benar keluar dari kamarnya. Taehyung melirik ke arah baby grand piano yang berada tepat di luar pintu kamarnya sekilas sebelum menggeleng. Tidak mungkin ia akan bermain piano sekarang. Namun detik berikutnya, senyuman mengembang di bibir Taehyung. Ia sangat menyayangi kakaknya. Seokjin selalu membantu dirinya tanpa memprotes sedikit pun. Ia tahu kalau dirinya terkadang sangat egois dan merepotkan semua orang di sekitarnya.
.
Meant to be Loved
.
Taehyung menghabiskan hari itu dengan membaca buku di atas tempat tidurnya, karena ia sama sekali tidak tertarik untuk menonton apa pun—dengan TV yang berada tepat di depannya. Ia terus-menerus membaca buku itu dan baru berhenti ketika cahaya matahari tenggelam memasuki suitenya dari jendela barat. Taehyung menutup bukunya, meletakkannya di atas meja nakas di samping kanannya bersama kacamata baca yang ia kenakan. Taehyung dengan perlahan menurunkan kedua kakinya terlebih dulu memastikan apakah ia sudah cukup kuat untuk berjalan. Ia hanya perlu berjalan menuju jendela barat yang tepat di seberang ruangan. Ia ingin melihat laki-laki itu lagi.
Taehyung meringis saat kepalanya mulai berdenyut lagi seketika ia berdiri. Namun, rasa sakit itu hilang begitu saja sedetik kemudian. Taehyung menghela napas lega dan lagi. Selangkah demi selangkah Taehyung berhasil sampai ke bagian barat suitenya. Ia melihat keluar jendela. Memastikan apakah laki-laki itu berada di sana atau tidak.
Ada.
Dia di sana.
Senyuman menghiasi wajah Taehyung kembali. Entah sudah berapa kali Taehyung tersenyum sejak mulai melihat laki-laki yang memiliki senyum kelinci itu. Taehyung memang dikenal dengan sikap dinginnya, namun kita melihat sisi lain dari seorang Kim Taehyung selama pelayaran singkat ini. Ia memperlihatkan dirinya yang hangat dan salah satu penyebabnya adalah laki-laki itu. Laki-laki yang sekarang tengah berdiri di sun deck menghadap sunset, selalu memakai baju berwarna terangnya, kali ini pink dengan celana putih. Taehyung tersenyum. Mungkin saja warna terang adalah warna favoritnya.
Taehyung menyandarkan punggungnya di ambang jendela, lalu tertawa kecil. Menertawai dirinya sendiri. Mengapa? Ia tidak pernah menduga kalau dirinya akan benar-benar jatuh cinta kepada seseorang yang bahkan ia tidak kenal, apalagi mengetahui nama seseorang itu. Tapi, ia menginginkan seseorang itu menjadi miliknya. Lucu memang, namun Taehyung tidak bisa mencegah rasa cinta yang tumbuh menjadi semakin dalam setiap harinya. Tidak hanya itu saja. Ia bahkan tidak bisa memberanikan dirinya untuk datang dan mendekati seseorang itu.
Kim Taehyung… kau menyedihkan.
.
.
.
Hari kelima. Hari dimana pelayaran mereka bersama Voyager of the Seas berakhir. Dalam hitungan menit menuju jam satu siang mereka akan merapat di Incheon Port. Taehyung dan Seokjin sudah bersiap sedari tadi dan berada di Scoreboard Lounge sambil menunggu kapal merapat ke pelabuhan Incheon. Barang-barang mereka juga sudah dikemas semua oleh para pelayan. Taehyung memindai seluruh Longue mencari sosok laki-laki itu dan berharap ia akan menemukannya.
Mungkin ia akan memberanikan dirinya kali ini jika ia menemukan laki-laki itu.
Akan tetapi, sampai mereka merapat di pelabuhan Taehyung tidak bisa menemukan sosok laki-lakiyang ia cintai itu. Dengan perasaan kecewa Taehyung turun dari kapal pesiar menuju gerbang luar pelabuhan dimana mobil Limousine Mercedes S400 30" miliknya telah menunggu. Taehyung pun hanya bisa bertanya-tanya dimana laki-laki itu berada. Karena rasa penasaran Taehyung menjadi-jadi untuk mencari tahu siapa gerangan laki-laki itu, ia memutuskan untuk menyuruh asistennya, Jung Hoseok, untuk mencari tahu siapa laki-laki itu sebenarnya beberapa hari kemudian.
.
Meant to be Loved
.
"Jeon Jeongguk, 19 tahun, putra dari Jeon Chunhwa pemilik JC Ent." Hoseok menyerahkan sebuah file berisi data dan foto dari laki-laki yang barusan ia sebutkan di atas meja kerja Taehyung.
Taehyung mengambil file itu dan membukanya. Mencoba melihat foto laki-laki bernama Jeon Jeongguk itu. Memastikan kalau dialah laki-laki ia cari selama satu bulan terakhir ini. Ia menyuruh Hoseok untuk mencari tahu data semua laki-laki muda yang menaiki kapal pesiar bersamanya waktu itu. Matanya yang lelah itu seketika menjadi bersemangat kembali saat ia mengenali laki-laki yang berada di foto pada file di genggamannya ini.
Akhirnya… ia menemukannya. Jeon Jeongguk. Itu namanya?
"Kau bisa pulang lebih cepat hari ini Hyung."
Hoseok yang tadinya sedang memukul-mukul kedua bahunya secara bergantian tersenyum lebar setelah mendengar perkataan Taehyung—atasannya— tentang ia bisa pulang lebih cepat dan itu berarti kali ini ia memberikan data yang benar. "Gomawo, Tae." Hanya itu yang bisa Hoseok ucapkan sebagai tanda bagaimana ia sangat senang mendengar perkataan Taehyung. Karena selama sebulan terakhir ini ia sungguh sibuk dengan semua 'mencari data' ini sampai waktu tidurnya menjadi sangat terbatas dan istrinya marah besar.
Taehyung mengangguk dan Hoseok pamit setelah itu.
"Seharusnya aku yang berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan, Hyung."
.
.
.
Saat sore hari tiba, Taehyung memutuskan untuk pulang cepat dan pergi ke taman kota untuk melihat sunset dengan ditemani segelas hot chocolate di gelas kertas ukuran sedang. Cuaca mulai menjadi lebih dingin. Musim dingin telah tiba. Taehyung duduk di bangku taman yang tepat menghadap matahari. Taehyung menimun hot chocolatenya lagi dan menaruhnya di samping, lalu melilitkan syal Guccinya yang mulai melonggar dan menyembunyikan tangannya di kantung jaket wool coat with double Gnya. Ia hanya perlu bertahan sampai matahari terbenam di ufuk barat dalam udara dingin ini.
Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengobati kerinduannya untuk melihat sosok laki-laki itu, Jeongguk. Memang benar ia bisa dengan mudah bertemu dengan Jeongguk, namun itu tidak bisa dilakukan karena Jeongguk masih kuliah di luar negeri saat ini. Ya, Taehyung juga menyelidiki latar belakang pendidikan Jeongguk. Dan mereka hanya bisa bertemu kembali saat pelayaran tahunan itu tiba.
Taehyung mendengus. Tidak percaya kalau dirinya menunggu pelayaran tahunan yang dulunya ia tidak sukai itu. Tapi, sekarang berbeda. Ia ingin cepat waktu berlalu supaya ia bisa bertemu lagi dengan Jeongguk… dan Taehyung akan pastikan pertemuan mereka berikutnya, Taehyung akan memberanikan diri untuk mengajak laki-laki itu berkenalan.
Taehyung mengambil gelas kertas berisi hot chocolatenya dengan tangan kanannya dan meminumnya lagi. Sebentar lagi matahari akan benar-benar tenggelam. Suasana yang begitu tenang ini membuat Taehyung mengingat hal-hal, seperti betapa beruntungnya ia karena ayahnya sama sekali tidak berencana untuk menjodohkannya dan menerima orientasi seksualnya. Ia benar-benar berterima kasih atas itu. Ayahnya membiarkan dirinya untuk memilih laki-laki yang akan menjadi pasangannya nanti sendiri.
Dan Taehyung ingin yang menjadi suaminya kelak adalah Jeongguk…
.
.
.
Satu Tahun Kemudian, Tianjin Port, 13.30
"Aku tidak percaya kau bersemangat sekali dalam pelayaran kali ini, Taehyung."
Taehyung hanya menyengir mendengar perkataan Seokjin. Dan Seokjin menghela napas lega. Ia sangat senang kalau adiknya bersemangat. Itu berarti Taehyung tidak akan uring-uringan seperti tahun lalu dan membiarkan dirinya hampir mengurus semua soal perusahaan. Tidak, Seokjin tidak keberatan, tapi ia hanya ikut senang. Entah apa itu ada sesuatu yang membuat adiknya ini menjadi penuh semangat.
"Siapa dia, Taehyung?" Seokjin sudah tidak tahan. Ia penasaran dengan seseorang yang membuat adiknya begitu bersemangat begini.
"E-eh? Apa maksud, Hyung?"
Oh my god. Taehyung yang bersikap gugup seperti itu malah membuat Seokjin tambah yakin kalau memang ada seseorang dibalik semua ini. Seokjin menyipitkan matanya dan melihat adiknya. Imut. Sungguh, Seokjin ingin sekali mencubit pipi adiknya itu, namun kalau ia melakukan itu sekarang maka ia kalah. Harus mendapatkan jawabannya terlebih dulu! Aja aja fighting, Seokjin! Jangan sampai kalah dengan Taehyung's puppy looks!
"Taehyung…"
Taehyung tersentak kaget ketika mendengar suara rendah dan menyeramkan milik kakaknya itu. Ia menghentikan puppy looksnya dan menunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. "Seorang laki-laki…"
"Mwo?" tanya Seokjin memastikan. Taehyung mengangguk. Seokjin tersenyum lebar. "Kalian sudah berjanji untuk bertemu lagi di kapal pesiar tahun ini?"
Kini wajah Taehyung menjadi muram dan mengangkat kepalanya untuk melihat ke Seokjin. "Hyung… kami bahkan tidak saling kenal. Aku tidak berani mendekatinya…" lirih Taehyung.
Seokjin menepuk bahu Taehyung pelan. "Oh, Taehyung… tapi aku yakin kali ini kau akan mengajaknya berkenalan kan?" Seokjin turut bersedih. Ia tahu kalau berhadapan dengan hal semacam ini Taehyung sangatlah kaku dan Taehyung berusaha menutupi itu semua dengan sikap dinginnya. Itulah salah satu alasan kenapa ayah mereka tidak ingin menjodohkan Taehyung. Mereka sekeluarga tahu kalau Taehyung sangat canggung dan memerlukan waktu yang cukup lama baginya untuk bisa mengakrabkan diri.
Taehyung mengangguk. "Aku hanya berharap ia mengikuti pelayaran kali ini, Hyung."
"Let's hope so." Seokjin ikut berdoa."Now, come on, the ship gonna take off in a minute." sambung Seokjin ketika mendengar bunyi lonceng yang menandakan para penumpang untuk menaiki kapal dengan segera. "Dan Taehyung," Panggil Seokjin saat ia berhenti berjalan tiba-tiba dan berbalik, lalu menghampiri adiknya. Taehyung hanya menaikkan sebelah alisnya, bingung. "Aku hampir lupa tentang ini." Setelah Seokjin mengucapkan itu, ia langsung mencubit kedua pipi Taehyung gemas.
"Aww, Hyung!" ringis Taehyung. Seokjin hanya tertawa dan kembali berjalan meninggalkan meninggalkan private waiting room mereka di pelabuhan dan menaiki kapal. Taehyung pun mengikuti Seokjin sambil terus memusut-musut kedua pipinya dengan kedua tangannya karena cubitan kakaknya itu cukup menyakitkan.
.
Meant to be Loved
.
Kemudian di sore harinya, Taehyung sudah berdiri di dekat jendela barat Royal Suitenya seperti tahun sebelumnya lengkap dalam tuxedo AR Two Piecesnya untuk pesta pembukaan. Ia menunggu Jeongguk muncul di sun deck untuk melihat sunset. Detik, menit dan setengah jam berlalu, namun Jeongguk belum juga muncul. Hanya tinggal lima menit sebelum sunset. Taehyung menautkan kedua alisnya. Apa berarti kali ini Jeongguk tidak mengikuti pelayaran? Apa benar begitu? Taehyung menghela napas dan memejamkan matanya. Tidak bisa dipungkiri kalau ia benar-benar merasa kecewa.
Dalam detik itu juga semua semangat di dalam mata Taehyung menghilang seakan menguap ke udara begitu saja. Kalau Jeongguk tidak mengikuti pelayaran kali ini, maka tidak ada gunanya ia mengikuti pelayaran ini. Senyuman yang selalu menghiasi bibir Taehyung akhir-akhir ini kini digantikan dengan garis tipis. Sekarang, Taehyung berharap pelayaran kali ini akan berakhir dengan cepat.
SRAK!
Taehyung menutup tirai jendelanya dengan kasar dan berjalan keluar Royal suitenya.
.
Meant to be Loved
.
Seokjin benar-benar heran sekarang. Taehyung yang dingin dan uring-uringan sudah kembali. Kemana Taehyung yang hangat itu? Apa yang terjadi sampai adiknya kembali begini? Seokjin memang sudah berusaha untuk menanyakan kepada Taehyung apa yang terjadi begitu ia melihat wajah stoic adiknya itu ketika memasuki Dining Room dan duduk di meja mereka, tetapi Taehyung terus diam. Tidak memberi respons apa pun.
"Taehyung, ikut aku sekarang." Seokjin langsung menarik pergelangan tangan Taehyung setelah acara formal berakhir dan membawa mereka ke tempat yang lebih sepi, di deck tepat di luar Dining Room utama. Ia perlu membuat adiknya bicara sekarang!
"Apa maumu, Hyung?" suara dingin Taehyung membuka pembicaraan mereka. Seokjin menangkup pipi Taehyung kencang, memaksa mata mereka bertemu. "Noo—"
"Ceritakan padaku, Taehyung… apa yang terjadi!" Seokjin langsung memotong perkataan Taehyung sebelum adiknya itu berhasil menyelesaikannya. "Aku tahu pasti terjadi sesuatu sehingga kau menjadi uring-uringan begini lagi. Aku akan berusaha membantumu, jadi tolong ceritakanlah!"
Taehyung menutup matanya seiring ia menghembuskan napasnya. Seokjin melepaskan tangkupannya pada pipi Taehyung. "Dia tidak ada di sana, laki-laki itu… setahun yang lalu dia akan selalu berada di situ saat matahari terbit dan tenggelam, namun hari ini, saat sunset dia tidak ada di sana. Itu berarti dia tidak ikut dalam pelayaran kali ini, Hyung." Jelas Taehyung dengan mata yang sudah terbuka, namun melihat ke arah lain, tidak pada Seokjin.
Seokjin tidak tahu harus berkata apa sekarang. Ia terkejut.
"Sekarang aku sudah tidak punya tujuan untuk mengikuti pelayaran yang membosankan ini, dia tidak ada di sana, aku, aku—"
"Taehyung, tenanglah!" potong Seokjin lagi ia pulih dari keterkejutannya. Seokjin tidak tahan. Tidak tahan melihat adiknya menjadi putus asa begini. Ia tidak mampu. "Taehyung, apa kau pernah mencoba untuk menyusuri tempat itu?" Taehyung menggeleng, "Kalau begitu, coba, besok pagi telusurilah. Mungkin saja dia berpindah tempat untuk mencari spot yang bagus." Usul Seokjin mencoba menenangkan adiknya.
Taehyung terdiam sejenak. Memikirkan perkataan kakaknya. Memang benar. Ia tidak pernah mencoba menyusuri deck. Mungkin saja Jeongguk memang mencari spot yang lebih bagus untuk melihat matahari. Kenapa ia tidak terpikirkan itu? Pabbo, Tae! "Hyung, gomawo." Taehyung memberi Seokjin pelukan singkat "Aku tidak pernah terpikirkan tentang itu. Aku akan menceknya besok pagi."
Seokjin tersenyum. "Aku kembali berdoa untukmu, Taehyung."
Setelah itu mereka berdua memilih untuk kembali ke suite masing-masing. Pembicaraan barusan cukup membuat mental mereka lelah dan sekarang mereka yang butuhkan hanyalah istirahat.
.
.
.
Sesuai usul Seokjin, besok paginya, lima belas menit sebelum matahari terbit, Taehyung bangun dan keluar dari Royal suitenya menyusuri sun deck hanya dengan memakai pajamas Celvin Klein Micromodal dilapisijaket kulit agar udara dingin tidak menusuk kulitnya. Taehyung mencoba sebaik mungkin untuk tidak panik dan menyusuri sun deck itu dengan hati-hati, memeriksa setiap tempat.
Lima menit berlalu dan Taehyung sudah mencari ke seluruh sun deck dan tetap tidak menemukan sosok Jeongguk. Taehyung memilih untuk berhenti sebentar dan menghirup sebanyak-banyaknya udara laut pagi yang menyegarkan, lalu menghembuskannya kembali sambil menutup kedua matanya. Ia membuka matanya setelahnya dan memutuskan untuk menyusuri lebih jauh. Mungkin saja kan Jeongguk tidak lagi melihat sunrise dan sunset di sun deck ini, tapi di tempat lain?
Taehyung menaiki tangga menuju bow Voyager of the Seas. Ia tiba-tiba teringat film Titanic dimana kedua pemeran utama film itu saling merangkul satu sama lain di bow kapal. Hmph. Taehyung tertawa kecil sambil menapaki setiap anak tangga. Kenapa ia bisa berpikiran seperti itu? Mana mung… kin...kan…?
"!" Langkah Taehyung terhenti seketika. Matanya membulat. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Di sana. Jeongguk berada tepat di bagian ujung bow kapal, menghadap arah timur dan berpegangan erat pada pagar yang mengelilingi tepian bow.
Swush…
Angin kencang tiba-tiba berhembus dan hampir menerbangkan syal coklat yang dikenakan Jeongguk ke belakang. Namun Taehyung sama sekali tidak bergeming, tidak terpengaruh terhadap angin kencang itu. Matanya menatap intens pada sosok Jeongguk. Ia bisa melihat Jeongguk membuka matanya perlahan dan menoleh ke belakang untuk membenarkan letak syalnya. Dan saat itulah mata mereka bertemu.
Tidak ingin kelihatan seperti orang bodoh, Taehyung dengan cepat tersenyum selebar mungkin. "Hei." Sapanya memberanikan diri. Taehyung pun meneruskan langkahnya dan berhenti tepat tiga langkah di belakang Jeongguk.
Jeongguk balas tersenyum. "Hei." Sapanya balik.
Jantung Taehyung berdetak mendengar suara halus dan lembut itu kembali. Jeongguk membalasnya! Sebelum senyuman tolol merekah menghiasi wajahnya, Taehyung berdehem memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka. "Kau di sini untuk melihat matahari terbit, aku kira?" Tanya Taehyung dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket kulitnya.
Jeongguk mengangguk. "Kudengar matahari terbit dari sisi ini lebih bagus daripada di sun deck."
Oh, jadi itukah alasanmu berpindah tempat, Jeongguk?
Sebelum Taehyung bisa mengucapkan sesuatu lainnya, Jeongguk memotongnya. "Hei, kau juga ingin melihat matahari terbit? Bagaimana kalau kita melihatnya bersama? Bukankah menjadi lebih ramai?" ucap Jeongguk dengan nada riang.
Senyuman hangat kembali merekah di bibir Taehyung. "Tentu." Dan Taehyung berjalan mendekati Jeongguk, berdiri di samping laki-laki yang ia cintai itu dengan hati senang.
Matahari pun terbit beberapa saat kemudian dari ufuk timur. Mereka berdua dengan hikmat menikmatinya. Saat matahari mulai menunjukkan dirinya, menghapus kegelapan malam, Taehyung memilih saat itu untuk memperkenalkan dirinya kepada Jeongguk.
"Kim Taehyung." Taehyung mengulurkan tangannya.
Jeongguk menjabat tangan Taehyung. "Jeon Jeongguk."
Akhirnya mereka bertemu dan mulai menjalin pertemanan. Taehyung ragu untuk menyatakan perasaannya, tidak mengetahui pasti orientasi seksual Jeongguk. Namun hari berselang bulan, Jeongguk ternyata yang lebih dulu menyatakan perasaannya. Taehyung tambah cinta. Jeongguk begitu pemberani. Kisah cinta mereka dimulai. Tidak lama Taehyung dan Jeongguk resmi bertunangan setahun kemudian saat umur Jeongguk menginjak dua puluh satu tahun dan Taehyung dua puluh tujuh tahun. Ya, mereka terpaut enam tahun, namun itu sama sekali tidak mempengaruhi hubungan mereka. Asalkan mereka saling mencintai hal itu tidak berarti. Yang perlu Jeongguk tahu adalah Taehyung mencintainya dan begitu pula sebaliknya.
.
.
.
Empat Tahun Kemudian, On Board Voyager of the Seas, Taehyung's Royal Suite Hot Tub, 22:35
Yang Taehyung tahu sekarang adalah hidupnya menjadi sempurna sejak awal tahun dimana ia dan Jeongguk resmi menjadi sepasang suami yang sah di Malta bersama keluarga dan teman terdekat. Tepat pada ulang tahun Jeongguk, satu September. Sekarang ia tengah meminum Gewurztraminer Wine—Wine ringan— bersama Jeongguk yang duduk di sampingnya dan berendam di Hot Tub. Tidak ada perbincangan yang terjadi di antara mereka. Hanya sebuah keheningan yang nyaman. Mereka bersulang untuk kedua kalinya malam itu sebelum meneguk habis wine di dalam gelas, lalu menaruhnya di tepi Hot Tub.
Mereka saling berpandangan. Taehyung mencoba menunjukkan betapa ia mencintai Jeongguk melalui tatapan matanya. Jeongguk melakukan hal yang sama. Mereka terus begitu selama beberapa menit sebelum jarak di antara mereka terhapus. Mempertemukan bibir mereka. Memberi kecupan lembut penuh cinta.
Taehyung benar-benar tidak tahu bagaimana ia menggambarkan rasa cinta yang sangat besar ini kepada Jeongguk… ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menunjukkan dan membuktikan rasa cinta ini kepada suaminya tersebut. Supaya Jeongguk tahu kalau hanya dirinyalah yang diinginkan Taehyung.
Ya, Kim Taehyung hanya menginginkan Jeon Jeongguk.
AN:
Twitter aku untuk moodboard dan another AU: @Fa4rix
Musikal yang dimaksud adalah merujuk ke anime Violet Evergarden OVA/episode 14 "Letter". Dimana seorang wanita meminta Violet menuliskan sebuah surat untuk pria yang dicintainya yang telah pergi perang dan tak kunjung kembali.
Note: cerita ini bisa dibaca sampai sini atau one shot, tapi apabila kalian ingin melihat dari sisi Jeongguk, bisa kok. Jeongguk POV akan disuguhkan di chapter selanjutnya, maukah?
Credit cerita Meant to Be Loved the original milikku sendiri dibawah penname yang sama yang dipublish tahun 2013 dengan pair lain (di LJ dan dulu di ffn namun sudah kuhapus). Aku mengubahkan ke pair Taekook dengan beberapa adjustment karena ini M/M. Original work aku hanya one shot.
Apabila chapter kedua diinginkan, maka ini pertama kalinya akan ditulis dan disertai dengan smut scene yang lebih detail (only for TaeKook).
-This fanfic also crossposted on my AO3: SerinaPark
Beritau komentar kalian tentang ini! Aku akan senang menerima respon kalian :D
