Hermione terbangun oleh mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan datang.
Tetesan keringat mengalir di pelipis gadis itu. Matanya terbuka mencari-cari sesuatu.
Tangannya meraih gelas yang berada disebelahnya. Hermione berusaha minum dengan tenang, tapi ia menyadari bahwa itu adalah hal yang percuma.
"Hermione?" Pemuda itu melihatnya dengan muka setengah tidur. "Apa yang terjadi?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa takutnya. "Tidak—hanya mimpi."
Pemuda disebelahnya mencoba untuk duduk, memperhatikan muka Hermione yang terdiam—tidak membalas tatapan muka pemuda itu. "Apa yang kau mimpikan?" Tanya pemuda itu menyadari kepanikan yang tersirat dari paras gadis itu. Ia meraih pergelangan tangan Hermione.
"Tidak ada Draco—hanya mimpi-mimpi seperti biasanya."
Draco melihat gadis itu dengan pandangan khawatir. Ia memeluk gadis itu begitu hangat—membawanya kedalam dekapan. Rasa berat dikepalanya seolah hilang—begitu juga dengan memori mimpi buruk yang ingin ia lupakan.
Draco menarik selimutnya untuk menutupi tubuh Hermione yang setengah terbuka. Pemuda itu dapat merasakan gemetar kecil dari bahu Hermione karena terbangun dari mimpi buruknya. Gaun tidur yang ia kenakan tidak dapat menyembunyikan kulit telanjangnya yang pucat—begitu tipis.
Sudah akhir-akhir ini, Hermione terbangun dengan kondisi yang sama. Ia akan mengigau suara-suara yang aneh, ketakutan yang keluar dari bibir kecil gadis itu dan hal itu akan membangunkannya—membuatnya juga merasa was-was dengan apa yang terjadi pada Hermione. Draco tidak bisa mengira-ngira apa yang gadis itu mimpikan… Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan.
Tapi, satu hal yang bisa ia yakini adalah ia hanya dapat menenangkannya—membuatnya merasa aman bersama dengan lelaki itu.
Tapi, tetap saja itu membuatnya takut dan khawatir.
"Apakah ada hal yang kau inginkan?" Tanya Draco memecah keheningan diantara mereka berdua.
Hermione memaksakan senyumnya. "Tidak, Draco." Pemuda itu menyelipkan helaian surai rambut gadis itu kembali ketelinganya—yang jatuh menutupi paras cantik Hermione. Bahkan diantara remangnya malam, gadis itu terlihat begitu indah dimatanya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Hermione."
"Ya, aku tahu." Desah Hermione memejamkan matanya.
"Percayalah padaku. Semua ini akan berakhir dengan semestinya."
Hermione membuka matanya perlahan—menatap kedua iris kelabu yang memandangnya balik penuh sendu. Ia menyadari bahwa pemuda itu mencoba untuk menenangkannya dan berusaha untuk meyakininya jika semua akan terjadi baik-baik saja.
Tapi, gadis itu tetap merasa ragu dalam hatinya.
Draco mungkin tidak akan mengerti apa yang terjadi—Apa yang akan mendatanginya suatu saat nanti. Apa yang menghantui gadis itu selama ini. Tapi, Hermione menyadari bahwa mimpi itu akan tetap hadir di alam bawah sadarnya. Berusaha untuk menarik Hermione pada ketakutan terbesarnya.
Malam itu akan berlalu seperti biasanya. Hermione sudah terbiasa dengan mimpi buruk yang sendiri coba ia tutupi itu. Ia tahu bahwa hal ini akan berakhir secepat ia memejamkan mata. Gadis itu memutuskan untuk membiarkan waktu mengambil alih. Ia sudah terlalu lelah dengan segala hal yang menghantuinya—yang berusaha keras untuk merebut kebahagiaan terbesarnya itu.
Pagi itu Hermione terbangun setengah sadar. Tangannya meraba-raba tempat tidur disisi sebelahnya. Hanya terdapat kehangatan tanpa seseorang yang ia temukan. Hermione berasumsi, bahwa Draco telah meninggalkannya lebih cepat. Gadis itu melirik teralis jendelanya yang besar membingkai setengah kamarnya.
Matahari telah naik sepenuhnya di atas— menandakan ia bangun telat lebih sedikit dari biasanya. Hermione mendesah sembari berdiri diatas kakinya—mengambil jubah tidurnya yang berwarna hitam satin tersampir di atas kursinya.
Gadis itu berakhir di dapur kecilnya—memutuskan untuk membuat secangkir kopi adalah hal yang tepat untuk membangunkan jiwa raganya pagi ini. Ia akan setuju jika orang mengatakan ia kurang tidur akhir-akhri ini. Gadis itu mengerling melihat cermin berbentuk oval yang terpajang di dapurnya. Kantung matanya samar-samar berwarna hitam menandakan ia terlalu banyak pikiran, begitu juga dengan peringatan kecil bahwa ia terlalu larut menghabiskan sisa-sisa waktu istirahat malamnya. Hermione mengusap bawah matanya seakan perihatin dengan dirinya sendiri.
Hermione menyadari bahwa ia harus memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang membuatnya bahagia. Bukan lah hal yang membuatnya semakin larut dalam kegelapan.
Perang telah berakhir di tangan Harry—pahlawan Dunia Sihir terhebat sekaligus sahabat terbaiknya yang ia sayangi. Dunia Sihir kembali membaik seperti yang diharapkan oleh banyak penyihir. Tidak ada lagi terror yang menakuti mereka—yang berusaha mengancam mereka masuk kedalam Dunia Kegelapan. Tidak ada lagi mayat yang bergeletakan sepanjang pemukiman Hogsmeade. Memori kematian Voldemort yang hancur menjadi serpihan abu adalah hal yang tidak bisa penghuni Dunia Sihir lupakan. Begitu juga dengan gadis itu.
Semuanya seolah kembali membuka lembaran baru.
Hermione memutuskan untuk melanjutkan Tahun Ketujuhnya. Hermione tetap bersikeras bahwa pendidikan adalah nomor satu yang perlu dijunjung diantara hal yang lain. Satu tahun itu pun bergulir dengan cepat hingga akhirnya kelulusan membuat gadis itu menangis bahagia bercampur sedih untuk berpisah dari orang-orang terdekatnya. Tapi, satu hal yang menjadi lembaran baru bagi Hermione. Hadirnya sosok yang tak pernah ia bayangkan akan datang dalam kehidupan gadis itu.
Draco Malfoy dan segala kemisteriusan dalam dirinya.
Ia tak pernah mengira bahwa keputusannya untuk menerima jabatan sebagai Ketua Murid adalah keputusan yang tepat. Ia tak tahu apa yang merasuki dirinya saat ia mengetahui rekan Ketua Muridnya adalah musuh bebuyutannya dari tahun pertama gadis itu menginjakkan kakinya di Hogwarts. Tapi, ia tak menyangka itu akan menjadi keputusan terbaiknya untuk menerima seorang Malfoy berbagi satu bilik dengannya.
Tapi, bukan berarti sifat keras kepala Hermione dan Draco juga ikut mereda selama mereka menjadi Ketua Murid. Hermione tetap membenci Draco Malfoy—begitu juga dengan sebaliknya.
Croockshanks—kucing peliharaan kesayangannya mengekori kemanapun Hermione pergi. Bulu-bulunya yang tebal membuat Hermione gemas untuk memanjakan kucing itu dipangkuannya.
Croockshanks berjalan menuju pintu masuk—mengais-ngais koran yang pagi itu datang lebih cepat.
"Croockshanks, jangan—" Hermione menghentikan kalimatnya.
Satu surat kabar sedikit menyita perhatiannya.
Pemuda yang sedari tadi gadis itu pikirkan muncul di halaman pertama The Daily Prophet pagi itu. Hermione mengatup rahangnya rapat.
DRACO MALFOY DAN TUNANGANNYA ASTORIA GREENGRASS MELANGSUNGKAN PERNIKAHAN?
Begitulah headline yang terpampang jelas dimatanya.
Tanpa tedeng aling-aling, Hermione membuang koran itu ke dalam tong sampah.
Hal-hal yang membuatmu bahagia Hermione.
Batin Hermione terus mengingatkan dirinya. Tapi, hal-hal kebahagiaan itu tidak dapat menutupi rasa gelisah yang terus menghampiri Hermione.
Brengsek.
Itulah lelaki yang paling dicintainya.
Draco Malfoy.
.
.
Besok harinya Hermione memutuskan untuk berkunjung ke rumah Ginny dan Harry. Surat dari Ginny menyadarinya bahwa sudah lama gadis itu tidak menemui kedua sahabatnya itu.
Hermione sangat menyukai bermain dengan James dan Albus yang telah beranjak anak-anak. James semakin menyerupai Harry. Begitu juga dengan Albus yang semakin pintar merangkak sesuai dengan usianya.
Ginny dan Molly sedang mencuci piring setelah mereka memutuskan untuk piknik makan siang bersama di halaman luas The Burrow. Harry tidak dapat hadir begitu juga dengan Ron yang melakukan investigasi tentang kasus pencurian ramuan di Hogsmeade. Hermione diam-diam dapat mendengar obrolan antara mereka berdua dari ruang tamu yang hanya terdapat dirinya dan dua keturunan Potter.
"Hermione terlihat lebih baik dari terakhir aku melihatnya—"
Suara Molly terdengar ditelinganya.
"Ya, Mum, jauh lebih baik setelah pertunangannya dengan Ron berakhir."
Molly terkekeh. "Ku dengar Hermione sedang dekat dengan seseorang. Apakah kau tahu siapa, Ginny?" Tanya Molly dengan nada penasaran membuat Hermione memutar bola matanya.
"Mum—tidak baik membicarakan orang."
"Ayolah, Hermione adalah salah satu keluarga kita. Aku perlu tahu tentang kondisinya, kau tahu." Nada suara Molly terdengar meyakinkan.
Ada jeda panjang yang membuat Hermione sendiri gelisah. Hermione merasa bersyukur James tidak rewel hari itu selagi Hermione sangat ingin menguping percakapan mereka.
Ginny berdeham. "Aku juga tidak tahu Mum."
"Dasar, aku kira kau tahu siapa."
"Tapi sepertinya bukanlah orang yang kita tahu Mum, kau tahu. Ia bahkan tak ingin bercerita kepada siapapun, juga padaku."
"Bahkan pada Harry?"
"Ya, itu yang membuatnya menjadi terdengar misterius."
"Well, mungkin ia akan memberitahukan kabar baiknya pada saat yang tepat."
"Aku berharap hal yang sama, Mum."
Hermione mendengar suara keran air terdengar membuat perbincangan mereka berdua sedikit kabur. Hermione menatap James dan Albus yang larut dalam kegiatan coret-coretan krayon di atas kertas keduanya.
Apa yang akan mereka bayangkan jika mereka mengetahui realitanya?
Apakah mungkin Hermione tidak akan lagi dianggap sebagai salah satu keluarga mereka? Mum dan Dad sudah melupakan ingatan bagian memorinya bersama dengan Hermione bahkan dari ia lahir ke dunia. Keputusan Hermione merapalkan mantra Obliviate adalah keputusan yang tepat untuk kebaikan Hermione dan keluarganya. Ia tidak ingin kedua orang tuanya mati mengenaskan seperti yang ia lihat dalam berita kabar bahwa banyak kelahiran Muggle yang telah menjadi korban kekejian Voldemort saat itu. Semenjak hari itu, Hermione tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua kandungnya—walaupun, ia sangat merindukan kehadiran mereka berdua. Gadis itu menunduk sedih.
Weasley telah menjadi keluarga kedua baginya. Bahkan lebih dari itu.
Mungkin Ron akan mengutuknya dengan berbagai kutukan setelah mendengar hubungan Hermione sekarang ini. Merlin, aku harap ia tidak mendengar tentang gosip apapun.
Hermione memutuskan untuk pulang sedikit larut dari biasanya. Ia beralasan untuk menemui Neville untuk membahas tanaman barunya yang akan ia beli. Alasan bodohnya bahkan dipercaya oleh Ginny dan Molly. Hermione tidak tahu harus berapa kali ia membohongi dirinya sendiri.
Hermione membuka pintu rumahnya dengan sekali ayunan tongkat sihirnya. Pintu itu terbuka dengan sinar lampu yang telah menyala dari dalam.
Gadis itu berjalan menuju ruang tamu dengan penuh kebingungan dan mendapati Draco sedang duduk di sofa. Pemuda itu melihatnya bersamaan dengan keterkejutan di mata Hermione.
Pakaiannya masih terlihat rapi—jubah hitam beludru yang terlihat mahal ia kenakan dan kemeja putih yang setengah terbuka pada kancing diatasnya. Rambut platinanya tertata rapi kebelakang—menunjukkan rahangnya yang tinggi membingkai wajah aristokratnya. Aroma parfum mahal yang sangat ia kenali menyeruak memasuki indra penciumannya.
Tidak ada hal lain yang gadis itu inginkan, selain membiarkan dirinya bertahan mengamati pemandangan itu. Jika saja pikiran gadis itu tidak penuh dengan kekesalan karena pemuda itu, ia mungkin akan lompat dan memeluk pemuda itu dengan perasaan rindu.
Gadis itu yakin pemuda itu tidak lama datang setelah dirinya sampai.
Mungkin ia baru saja menghadiri acara pertemuan keluarganya dengan Greengrass.
"Kau baru darimana?" Bukanlah Draco yang memulai pembicaraan dari jeda yang begitu panjang diantara mereka berdua. Hermione tidak dapat lagi menutupi rasa gelisahnya.
"Apakah kau ingin tahu?"
Hermione bisa mencium bau Firewhiskey di tubuh pemuda itu.
"Kau baru saja minum?"
"Ya—Blaise juga ikut bersamaku."
"Pembohong." Hermione membuat Draco skakmat ditempat.
"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu, Hermione?" Draco mencoba mendekati dirinya.
Hermione memutar bola matanya. "Apakah aku perlu menjelaskannya padamu?"
Alis pemuda itu terangkat. "Kau telah melihat headline The Daily Prophet kemarin?"
Hermione melipat dadanya tak sabar. "Apakah itu sudah menjelaskan semuanya? Merlin, Draco."
"Hei—bukankah kita sudah bicara tentang hal ini? Jauh sebelum itu terjadi?"
"Tapi, itu tetap membuatku—" Hermione tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Kata terakhirnya akan membuat malam ini larut dengan pertengkaran mereka berdua.
"Hermione—"
Draco menyadari muka Hermione memerah. Pemuda itu sangat ingin sekali memeluk gadis itu, membuatnya merasa bahwa tidak ada hal yang perlu gadis itu kahwatirkan.
"Aku tidak mengerti Draco… Aku terlalu lelah."
"Baiklah kita bisa membicarakannya besok."
"Tidak ada besok." Hermione menggantungkan kalimatnya. "Kau harus bertemu Greengrass."
"Hentikan Hermione—"
"Apa—?"
Bibir pemuda itu menutup pembicaraan mereka dengan gusar. Pemuda itu menariknya kedalam ciuman yang begitu panas. Mencoba untuk membawanya melupakan apa yang terjadi. Bau Firewhiskey memabukkan gadis itu bersama dengan ciuman mesra pemuda itu. Draco berusaha memasuki kedalam lidah gadis itu. Gadis itu membalas ciumannya. Tapi, tak segairah yang pemuda itu harapkan.
Kebutuhan udara memisahkan mereka berdua setelah beberapa menit.
"Aku mencintaimu."
Hermione menggeleng. "Itu tidak cukup."
"Hermione." Draco mendesah.
"Aku terlalu lelah—aku ingin tidur sekarang."
Draco meremas tangan gadis itu. "Aku akan disini."
Gadis itu mengangkat muka—memandang pemuda itu. "Hubungan ini sudah tidak baik, Draco… Mungkin kita harus mengakhirinya." Hermione ragu-ragu mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sedih.
Pemuda itu mengerjapkan matanya seolah tidak percaya pada apa yang baru saja Hermione ucapkan. "Aku akan mengurusi pernikahan ini secepat mungkin. Kau tidak perlu khawatir, Hermione. Semuanya akan baik-baik saja—percayalah padaku."
Hermione ingin sekali mempercayainya, tapi ia merasa ragu dengan apa yang pemuda itu sampaikan. Jari-jarinya membenarkan dasi kupu-kupu sutra berwarna putih yang melingkari leher Draco. Meraba dada yang terpahat bidang milik pemuda itu. Hermione tak berani menatapnya. Ia lebih baik mengalihkan perhatiannya pada hal yang tak perlu ia benarkan. Ia tak ingin melihat kedua mata itu yang berusaha untuk meyakinkannya.
Ia hanya takut jatuh pada kekecewaan.
"Baiklah terserah kau saja." Bisik Hermione. "Aku ingin segera istirahat… Semua yang terjadi hari ini membuatku pusing."
Gadis itu berjalan menuju kamar tidurnya sembari melepas jubah tebalnya berwarna maroon di atas sofa ruang tamu. Ia tak ingin menoleh ke belakang—melihat Draco yang masih berdiri digantungkan oleh kata-katanya sendiri. Gadis itu memutuskan untuk sendirian malam ini. Semua yang dia inginkan hanya tertidur di tempat tidurnya dan memaksakan matanya terpejam—membiarkan ia larut dalam mimpi buruk yang benar terjadi hari ini.
Suara pintu kamar gadis itu tertutup seolah menghujam Draco pada ketidakpastian .
Draco sangat membenci hal ini.
Kenapa ia tak pernah mempunyai pilihan? Apakah salah Draco menerima realita itu?
Pemuda itu mengumpat kesal.
Ia kembali duduk di sofa Hermione yang menjadi tempat tidurnya malam ini. Ya, ditemani dengan sebotol Firewhiskey yang ia sembunyikan dibalik jubahnya—dan kemarahan atas rencana perjodohannya yang ia sesali sampai saat ini.
To be continued
.
.
Mind to review, please? I will continue this story as soon as I can if you'd like to review. Your review will be a little precious thing for me, honestly.
