.

.

.


"Winter Day"

Disclaimer: Naruto dan tokoh di dalamnya adalah milik Masashi Kishimoto. Saya hanya meminjamnya untuk berjalannya cerita.

Story © Hyuugadevit-Cherry

[Uzumaki Naruto & Haruno Sakura]


.

Warning:

Rate M (For save), Typo (s), Plot Rush, Hurt\Comfort, Friendship, Angst, etc.

.


Summary:

Sakura sangat mencitainya. Seorang pemuda yang membuat jantungnya berdebar kala itu. Andai saja ... ia lebih cepat menyadarinya.


.

.

.


Uzumaki Naruto adalah pemuda populer di kalangan siswa-siswi sekolah menengah atas Angsana. Kepribadiannya sangat menarik perhatian. Ia ceria, ia murah senyum, banyak bicara dan menyenangkan. Hingga Haruno Sakura berpikir bahwa kehidupan sahabatnya ini tidak pernah sulit. Karena dalam kondisi apapun pemuda itu selalu tersenyum ceria. Tapi Ia lebih suka menyebutnya bodoh.

Memikirkan hal itu membuat Sakura menggelengkan kepala.

Gadis itu bahagia bisa menjadi salah satu orang yang dekat dengan pemuda itu.

Jika diberikan pilihan, Sakura ingin terus bersama Naruto. Bukan dalam artian sebagai kekasih, tapi sahabat. Karena persahabatan lebih berarti dibanding apapun, pikirnya.

Maka ketika Uzumaki Naruto menceritakan banyak gadis yang dekat dengannya Sakura merasa senang. Itu tandanya, Naruto memercayainya dan menganggapnya begitu berarti.

Sakura memberikan banyak pandangan dan pemikirannya mengenai gadis-gadis yang ia ketahui. Ia biarkan Naruto dengan pendapatnya , barulah Sakura juga mengungkapkan pendapatnya.

Tidak semua penilaian keduanya sama, akan tetapi kebanyakan mereka memiliki penilaian yang hampir satu suara. Dan dari banyaknya gadis-gadis itu, tidak satupun dari mereka yang keduanya nilai pantas bersanding dengan Uzumaki Naruto.

"Kau mungkin harus melihatnya lebih jauh, Naru," kata Sakura. Gadis itu merapihkan beberapa bukunya yang berserakan di meja. "Jika hanya mengandalkan pendapatku, kau mungkin akan sedikitnya terpengaruh dan penilaianku tidak seharusnya kau jadikan patokan utama."

Sakura benar, pikir Naruto. Tapi bagaimanapun Naruto selalu dan akan tetap begitu. Menilai bahwa apa yang Sakura katakan adalah yang terbaik dan akan ia ikuti. Seharusnya Sakura memberikan saja penilaian-penialian baik tentang para gadis itu atau mungkin ... tidak. Pemuda ceria itu tidak mau mengatakannya.

Harusnya Sakura sadar akan semua itu.

Namun, dalam hati Naruto yakin bahwa suatu hari nanti ... Sakura akan menyadarinya. Pasti.

.

.

.

Entah sejak kapan, Sakura memerhatikan pemuda pemilik tiga tanda pipinya itu. Hari ini ada yang berbeda darinya. Latihan futsal yang biasa diikutinya tidak sebagus biasanya. "Tidak keren sama sekali," Sakura mencibir.

Naruto lebih banyak melakukan kesalahan. Entah itu salah over, berhenti ketika menggiring bola dan banyak diam. Nafasnya terengah-engah.

Dan itu membuat Sakura khawatir.

Ada apa sih dengan Narutonya hari ini?

Maka, ketika latihan berakhir ... gadis merah muda itu lekas menghampiri sahabatnya. Digenggamnya jemari si pemuda. Dengan kedua bola matanya yang memancarkan kekhawatiran dan bibir yang bergetar Sakura berkata, "Kau tak apa?"

Pemuda itu tersenyum, layaknya orang bodoh ia mengusap-usap tengkuknya. "Aku baik. Lebih dari itu. Memang kenapa?" tanyanya.

"Kau terlihat tidak baik-baik saja." Sakura mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. Ia mengambil botol air mineral, membukanya dan memberikan pada sahabat yang diakuinya bahwa mereka adalah sahabat sehidup semati.

"Ayo duduk dan minum ini." Naruto menatap minuman itu lalu mengambilnya. Setelah meneguk mminuman tersebut, pemuda Uzumaki itu terkekeh pahit sebelum menunjukkan pada Sakura wajahnya yang terluka.

"Apa yang sedang kau coba mainkan, Sakura?"

"Ap─"

"Kau tahu betul aku, kau juga tahu keinginanku. Tapi kau selalu berpura-pura tidak tahu."

"Naru─" Tapi Naruto tidak memberinya kesempatan. Pemuda itu berdiri dan melangkah pergi membiarkan Sakura dengan kebingungannya.

Pada saat gadis itu berpikir mati-matian apa yang dikatakan sahabatnya itu, telepon genggamnya bergetar. Satu pesan masuk dan itu dari Uzumaki Naruto.

Isi pesan itu sangat singkat, tapi justru karena itulah Sakura tiba-tiba menangis. Ia tak tahu bagaimana bisa mereka seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

'Jangan hubungi aku, Sakura.'

.

.

.

Satu minggu Uzumaki Naruto tidak terlihat di sekolah.

Menurut penuturan wali kelas mereka─ Uchiha Itachi, Naruto tengah mengikuti perjalanan bisnis keluarganya ke Amegakure. Beberapa siswa di antara mereka mengatakan bahwa Uzumaki diberkati berbagai macam kemudahan dan kenyamanan. Sudah terlahir di keluarga berada, terkenal dan dapat melakukan izin sesuka hati.

Mendengar penuturan murid-muridnya, Uchiha Itachi hanya menggelengkan kepalanya. Ia meminta perhatian seluruh siswa untuk kembali fokus pada materi yang akan mereka bahas hari ini.

Sementara itu, Sakura mendesah lelah.

Kenyataannya mereka belum berbaikan.

.

.

.

Setelah dua minggu, Uzumaki Naruto kembali sekolah.

Seperti biasanya, ia bercanda ria dengan beberapa temannya. Hari ini pemuda itu terlihat lebih ceria dan bersemangat.

Haruno Sakura yang baru saja datang melihat itu semua membuatnya sedikit tersenyum.

Ketika kedua bola mata sebiru langit itu menatap ke arahnya, kedua bibir Sakura berkedut dan tersenyum lebar ketika pemuda itu menunjukkan senyum lima jarinya.

"Sakura-chan ... Sakura-chan ... aku merindukanmu tahu!" katanya dengan manja. Membuat Sakura terkekeh geli. Demi Tuhan, terakhir kali Naruto terlihat seperti bukan dirinya.

Naruto yang terakhir kali ditemuinya adalah Uzumaki Naruto yang dingin, yang memiliki mulut pedas bukan main.

Sakura tidak tahu kesalahan apa yang ia lakukan padanya, tapi ia pikir ia memang bersalah. Karena tidak ingin memperburuk keadaan, maka ia mengalihkan pembicaraan pada perjalanan bisnis orang tua yang diikutinya. Seindah apa kota Amegakure dan sebagainya dan sebagainya.

.

.

.

Uzumaki Naruto tidak pernah merasa semarah ini.

Di malam natal yang biasa mereka rayakan bersama, Haruno Sakura membuat malam ini sama sekali tidak bermakna.

Sahabatnya itu memang pura-pura tidak tahu atau apa sih? Bagaimana mungkin ia kini berjalan dengan seorang gadis yang pasti jika dinilai memiliki wajah cantik dan sikap yang lemah lembut. Gadis gulali itu memberikan pesan singkat bahwa ia akan membawa kado natal yang indah. Tapi Naruto tidak menyangka jika kadonya adalah seorang gadis untuk dijodohkan padanya. Gadis gila.

Naruto tidak mau.

"Naru, dia adalah ..."

"Bisa kau ikut aku?"

"Tapi aku ingin memperkenalkan seseorang padamu," kata Sakura. Bingung? jelas.

"Baik, Nona, bolehkah aku meminjam Sakura?"

Gadis bersurai hitam panjang itu menatapnya dengan malu-malu. " Te-tentu," balasnya. Wajahnya merona hebat dan itu menjelaskan segalanya. Tapi sekali lagi, Naruto muak dengan semua ini.

Dengan tergesa pemuda Uzumaki itu menarik Sakura ke ruangan lain menatapnya dengan marah. Mereka berdiri tak jauh untuk beberapa saat. Tapi seolah terdapat tembok penghalang di antara keduanya untuk memulai pembicaraan ini.

"Naru─"

"Diam, Sakura," geramnya. "Aku tengah menahan kemarahanku."

"Apa yang salah?" seru Sakura mulai tak sabar. Ia merasa Naruto semakin aneh. Benar, pemuda itu aneh sekali akhir-akhir ini.

Naruto yang terlihat marah kini terlihat lebih tenang. "Kau tahu?" ia menatap Sakura dengan bingung, tatapannya tidak fokus. Ia membalikkan badannya ke arah buffet. Membereskan beberapa pernak-pernik yang ada di sana. Cangkir-cangkir hias, piring-piring hias, pigura, apapun yang bisa digapai Naruto dan Sakura membiarkan pemuda itu melakukan kebiasaannya ketika ragu mengatakan sesuatu.

"Aku tak bisa menjadi sahabatmu, Sakura." Mulainya. Pemuda itu kini membalikkan badan ke arahnya dan menggenggam salah satu cangkir. "Aku rasa aku telah bersalah karena telah membiarkan diriku melewati berbagai batasan."

Wajah Naruto memucat, nafasnya tersenggal. Ia terbatuk beberapa saat.

Dengan gerakan refleks, Sakura menghampiri pemuda itu dengan meneriakkan nama pemuda itu. Beberapa saat Naruto terlihat tak bisa mengenali siapa dirinya. Ia menutup matanya rapat-rapat. Nafasnya melemah. Sakura berteriak meminta tolong. Namun Naruto kembali membuka kedua matanya dan memintanya untuk diam dengan mengisyaratkan jari pada bibirnya.

Sakura menangis.

Ia tidak tahu apa yang kini ia hadapi, apa yang ia lakukan hingga membuat Naruto seperti ini?

Gadis yang ia bawa bersamanya memasuki ruangan. Dengan gugup ia bertanya apakah semuanya baik-baik saja.

"Bisakah kau meninggalkanku?" pinta Naruto. Sakura dan gadis itu seolah tidak ingin meninggalkannya.

"Aku mohon," Ia memohon.

Maka dengan berat hati, Sakura dan gadis itu meninggalkan Naruto dalam keadaan duduk dan terbatuk-batuk.

.

.

.

Sakura ingin membunuh Naruto.

Tidak, Sakura tidak serius untuk yang satu ini. Karena pada kenyataannya, Naruto mengalami hal yang menakutkan.

Pagi itu Sakura bangun karena telepon genggamnya berdering dan itu adalah nomor orang tua Naruto. Bibi Kushina mengabarkan berita yang membuat jantungnya berdentum keras hingga rasanya ia sendiri dapat mendengarnya.

'Sakura-chan, Naruto masuk rumah sakit.'

Dengan tergesa-gesa, Sakura mandi secepat kilat dan berganti pakaian. Ia mengejar taksi dan melakukan perjalanan ke rumah sakit Santa Paulus. Sepanjang jalan ia terus menangis.

Dan ketika ia sampai di ruangan di mana Naruto kini terbaring lemah, Sakura seolah tidak bisa berjalan. Pandangannya membuaram karena air mata yang terus berlomba-lomba keluar.

Mencoba memantapkan hati, Sakura berjalan pelan dan menggenggam tangan Naruto. Kedua kelopak mata Naruto yang semula terpejam kini mulai terbuka. Tatapan pemuda itu layu, wajahnya tak seceria biasanya. Tapi pemuda itu tetap berusaha tersenyum.

"Sakura-chan," sapanya.

"Naruto, apa yang terjadi?"

Disitulah peran bibi Kushina dimulai. Ia menceritakan sebuah cerita pendek, yang mana Naruto telah dinyatakan lemah jantung sejak lahir. Namun Naruto adalah Naruto. Pemuda yang hyperaktif. Semua jenis pengobatan dan kontrol setiap minggu selalu dilakukannya.

Kali ini tubuh Naruto tidak kuat, pada akhirnya Naruto harus berhenti melakukan semua hobinya. Dimulai dengan meninggalkan basket lalu futsal. Karena tak kuat melanjutkan ceritanya, bibi Kushina terus menangis dipelukan suaminya.

Sakura menggelengkan kepalanya.

Kedua tangannya saling bergenggaman dengan Naruto.

Ia atak bisa berkata-kata. Air matanya tak mau berhenti mengalir. "Kau tak menganggapku sahabatmu," keluh Sakura dengan suara parau.

Naruto tersenyum tipis, "Memang," jawabnya bagai sebuah bisikan.

Sakura semakin tak tahu apa yang harus ia katakan, tapi ia harus berbicara untuk mengisi kekosongan. "Kau jahat," lirih Sakura.

"Kau lebih jahat." Sakura mengerutkan alisnya, tak mengerti. "Kau juga bodoh." Sakura semakin tidak mengerti. Apa Naruto sedang mempermainkannya? Di saat seperti ini?

Nafas pemuda itu pendek-pendek. Tangisan bibi kushina membuat pikiran Sakura kacau. Dokter dan beberapa perawat menghampiri ranjang pasien. Mencoba memberikan perawatan yang mereka mampu. Tapi tangan Naruto terus menggenggam tangan Sakura, "Sakura ... malam ini salju masih turun. Semoga kau terus mengingat setiap momen yang kita buat, terlebih di musim dingin."

Pemuda itu kembali terbatuk. Matanya mulai layu, bola matanya yang biru cerah meredup. "Akan aku katakan sekarang, bahwa aku ... telah lama membiarkan jiwaku jatuh hati padamu."

BAM

Dan Sakura merasakan jantungnya semakin berdegup kencang ketika kedua mata itu tertutup untuk selamanya seiring dengan melemahnya genggaman tangan Naruto.

.

.

.

FINAL

.

a/n:

I'm so sorry and thank you...