Satu-satunya alasan dibalik berbagai alibi seorang Ino Yamanaka yang menolak menghadiri reuni adalah sang mantan.

Disclaimer

[All Naruto Character belongs to Masashi Kishimoto]

.

A Naruto Fanfiction by maggiellezk

.

To The Boys I've Met Before

.

Ino Y., Sai

.

AU, Oneshoot


Jika soal banyak tidaknya kesibukan, itu bukan alasan yang tepat. Pekerjaannya sebagai model sekaligus mahasiswa salah satu universitas ternama telah menunjukkan kebolehannya dalam hal manajemen waktu. Masih melajang di usianya yang hampir mencapai seperempat abad dengan recokan sang Mama. Menuntut keturunan dari putri semata wayang keluarga Yamanaka. Kesialan ini tidak akan menimpanya jika saja ia tak tergoda takoyaki dekat stasiun yang berjarak hanya beberapa meter dari kantor. Berakhir dengan ajakan salah satu kawan SMA untuk menghadiri reuni kesekian.

Gadis muda Yamanaka itu menghempaskan punggungnya ke kasur. Rambutnya menyebar dengan kedua netra aqua yang menatap langit-langit kamar. Ia ingin berlama-lama di sana, melupakan rencana untuk menghadiri reuni dalam 2 jam ke depan. Ya memang, seharusnya ia kembali beralibi seperti biasa. Namun, kali ini Ino menyerah.

Ia bangkit dan menatap lemari pakaian. Menarik napas panjang dan menghembuskannya semangat.

"Ayo, Ino. Kau bisa lakukan ini. Hanya 3 jam," teguhnya. Kakinya berayun turun menapak lantai. Membongkar lemari yang selalu penuh dengan pakaian-pakaian modis. Lalu beralih memoles wajah dengan sejumlah peralatan make up. Dalam sejam, ia siap.

Ia terlambat. Taksi yang ditumpanginya terjebak macet dan hujan. Ino turun sambil memberikan sejumlah uang kepada supir taksi tanpa kembali mengambil kembalian. Mengatur napas, mengetuk pintu, lalu menunggu. Tak lama pintu terbuka. Saat itulah ia harus memasang senyum sebisanya.

Sayangnya, bibirnya terlalu berat begitu melihat siapa yang membuka pintu untuknya.

"Oh, tumben kau datang."

Mereka terdiam dengan pintu terbuka yang seolah menjadi penyekat. Udara mendadak membawa aura canggung yang begitu kental. Menjebak Ino dalam pergulatan pikiran.

"Bagaimana kabarmu?"

Ino tersentak pelan ketika mendengar pertanyaan itu. Ia ragu menjawab. Ketika akan membuka mulut, seseorang menginterupsi dari dalam.

"Hei Sai, kenapa lama sekali? Siapa itu?"

Ino kenal suara itu. Tanpa pedal rem ia menerobos masuk, menerjang gadis berambut pink yang ikut memeluknya.

"Astaga, I miss you, forehead!"

Kecanggungan malam itu terpatahkan oleh nostalgia ringan dua sahabat. Sebuah hal melegakan bagi Sai. Untuk sementara.

Ino tak pernah menghadiri reuni sebelumnya. Sehingga, ia tak pernah tahu seperti apa keadaan teman-temannya. Meski sesekali mereka bertukar kabar melalui aplikasi daring, tapi Ino baru melihatnya sekarang. Beberapa telah saling mengikat. Ia seperti manusia yang terjebak di masa lampau dan ditarik kembali.

Setelah puas berbagi rindu dengan beberapa temannya, mengambil sejumlah jepretan foto, Ino menepi untuk menikmati coke. They're glow up, pikirnya. Dulu ia ingat ketika masih SMA. Menjadi model memberi influence besar terhadap kepopulerannya. Sang primadona. Namun, sekarang semua sudah tampak biasa bagi teman-temannya. Ada yang lebih penting daripada kepopuleran belaka.

Ino memasang senyum tipis. Masa SMA selalu indah untuk dikenang.

Kecuali ...

"Kau tidak bergabung dengan mereka?"

Ino terkejut. Meletakkan minumannya sebelum merusak gaunnya dengan itu. Ia menjadi kikuk.

"Ah, tidak. Aku hanya ingin ... minum sebentar," ujarnya sambil mengerling pada gelasnya. Sai mengangguk, menarik kursi dan duduk. Mereka berdua menjadi penghuni meja itu.

"Bagaimana kabarmu?" Sai kembali melontarkan pertanyaan.

"Baik," jawab Ino. Ia mulai bisa menguasai dirinya. Kemajuan yang baik. "Bagaimana denganmu?"

Sai tersenyum simpul. Sangat aneh, senyum itu selalu bermakna ambigu di mata Ino. Tak pernah tahu apa yang disiratkan Sai melalui bahasa non verbal tersebut. Ia kembali meneguk coke untuk menghilangkan kegugupannya.

"Baik."

Dan percakapan berakhir begitu saja.

Ino tahu Sai bukan seorang lelaki yang akan memulai percakapan lagi setelah tanda titik tersirat. Lelaki itu berbeda. Berbeda dengan Sasuke Uchiha yang jelas-jelas dingin dan bermulut tajam. Atau Naruto Uzumaki yang selalu bersemangat menyalurkan perasaan positif kepada orang lain. Juga tidak sama dengan Shikamaru yang memprioritaskan tidur di atas segalanya, tipe yang benci repot. Tidak, Sai berbeda. Tak ada yang tahu pasti maksud yang berusaha untuk ia utarakan. Ino yang bahkan sempat berada dalam sebuah hubungan bersamanya masih tak bisa paham.

Kecanggungan itu menjadi sedikit aneh di tengah sayup suara yang lain sedang berpesta. Ino melayangkan pikiran ke masa lalu. Bahkan ia lupa mengapa hubungannya dengan Sai bisa kandas. Yang ia ingat, sebuah insiden di awal tahun ajaran baru.

Hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada masalah, meski sisi Sai yang harus merasa tertekan karena kepopuleran Ino dan pekerjaan gadis itu. Tapi sama sekali tidak pernah ia menunjukkan keberatan atas itu.

Keduanya tenggelam dalam nostalgia masa SMA yang katanya selalu indah untuk dikenang.

Ino tersenyum tipis.

"I'm fine. Karirku bagus, aku bisa bersenang-senang disela pekerjaan dan masih melajang. Aku belum berpikir untuk menikah. Kupikir akan sangat merepotkan jika orang sepertiku harus segera menikah karena aku terbiasa dengan kebebasan. Bukannya aku tidak mau memiliki seorang pendamping. Itu impian semua anak perempuan di dunia. Mendapatkan pendamping seorang pangeran berkuda putih yang akan mengucap janji sehidup semati bersamanya. Hanya saja ... aku sedang menikmati masa-masa ini sebelum harus terikat dengan hal yang lebih besar lagi. Jadi," Ino memberi jeda, memberanikan matanya untuk menatap langsung ke dalam netra kelam Sai. "Tidak perlu khawatir."

Entah dorongan dari mana Ino mengeluarkan itu. Sai tak memberikan respons berarti sebelum ia mengangguk.

"Baguslah," ujarnya.

"How about you?"

Lagi, Sai tak menjawab. Ino menggeleng. "No, you don't have to. Aku mengerti. Terima kasih telah menemaniku selama 2 tahun di masa SMA. Kau tetap bagian dari memori yang tak ingin kulupakan. So, temukan seseorang yang lain. Seseorang yang lebih baik dariku."

"Kau juga. Bahagialah."

Beban Ino 7 tahun terakhir menguap begitu saja. Meski ada sedikit harapan tertinggal tentang hubungannya dengan Sai, tetapi sepertinya ini yang terbaik. Untuk kesempatan kedua ini, biarlah jalan hidupnya sendiri yang menentukan.

Malam semakin larut. Tak terasa 3 jam yang dielu-elukan kepala Ino sebelum kemari telah berlalu.

Finish