Seorang gadis kecil terlelap di kamar tidurnya yang gelap. Tanpa disadari, ia lupa menutup jendela, sehingga angin malam mengayun-ayunkan gordennya yang tembus pandang. Sinar bulan purnama menyoroti sebagian ruangan, menyala dalam temaram.
Gadis itu tidur tanpa diselubungi selimut. Kepalanya terbanting ke kanan dan ke kiri. Matanya tertutup rapat, namun keningnya terus mengkerut. Keringat menyelimuti kening dan mengembun di dadanya yang tersengal-sengal. Mulutnya terus terbuka. Napasnya terengah-engah kelelahan. Kedua pahanya menekuk sehingga rok dari gaun tidurnya merosot turun ke pinggang.
Kedua tangannya terbuka lebar dan meremas buntalan bantal di atas kepalanya.
Gadis yang nampak sangat kelelahan dan sulit bernapas itu merasakan sebuah tangan besar menjamah perut sisi kanan dari balik bajunya, seperti memeluknya dari belakang. Tangan raksasa itu meremas-remas perutnya dengan gerakan memijat. Perut gadis itu mengempis tak nyaman.
Belum berhasil menahan pijatan yang hangat itu, sebuah tangan lain hadir dari sisi sebelah perunya, merambat dan meremas daging kenyal di dada sebelah kirinya yang mengeras.
Pijatan kedua tangan misterius itu membuai tubuhnya. Membuat tubuh anak kecil itu membusur dan menaikkan dadanya hingga tubuhnya melengkung.
"A-ahh—"
Tiba-tiba isi perutnya teraduk-aduk. Sensasi rasa ingin buang air kecil itu menggerogoti pinggulnya.
Bokongnya tersedot ke belakang karena ia ingin menahan rasa ingin pipis itu.
"Nghh,"
Dinding-dinding tempat air seninya berkumpul menjadi sangat gatal. Rasanya daging-daging itu saling bergesekkan, "Angh," menciptakan stimulasi geli yang membuat air kencingnya ingin segera mengucur.
Jantung berdegup kencang dan napasnya semakin sulit ditarik. Perutnya mengempis dan dadanya membusung keras. Pahanya merapat.
Semprotan bening menyembur ke udara.
"Agh ... "
Ejakulasi Sarada yang pertama membuat isi kepalanya meledak dan otot-ototnya melemas. Seluruh energinya tersedot bersamaan dengan lenguhan lemah yang panjang.
Permukaan bibir dua belah daging itu seketika dilumuri air kental hangat.
Dan setelah itu, matanya perlahan-lahan terbuka. Sarada merasakan kelegaan yang amat luar biasa setelah penyemburan. Namun celananya menjadi sangat basah.
.
.
Omega umumnya baru merasakan sensasi rangsangan panas saat berumur cukup dewasa. Tidak seperti dirinya. Sekarang ia baru berumur 11 tahun. Tubuhnya belum memproduksi cukup cairan lubrikasi. Tubuhnya masih terlalu kecil untuk digagahi. Namun, ia kerap beberapa kali bermimpi tentang dicumbui, dinding kemihnya bergetar-getar ingin menyemburkan mani, buah dadanya seperti diremas-remasi, tubuhnya memanas dengan temperatur tinggi, dan pikirannya di luar kendali.
Hampir setiap malam, Sarada akan menangis. Kedua tangan dan kakinya terbuka lebar di tempat tidur. "Hahh, hahh," Tangan-tangan tak kasat mata menahan seluruh tubuhnya agar tidak bisa memberontak.
Energi rangsangan yang kuat akan memborbardir lubang reproduksinya.
"Hngh, ngh, angh ... "
Napasnya akan tersengal-sengal berat. Dadanya membumbung ke udara, merobek kancing gaun tidurnya, dan dorongan dari perutnya memaksa cairan lubrikasi keluar dari tubuhnya.
"Ah-ahhngh ... "
Hampir setiap malam Sarada menerima afeksi itu. Terkadang itu berlangsung dalam beberapa menit. Namun, terkadang ia harus menghadapinya dalam beberapa jam. Kasurnya akan disiram beberapa kali. Sarada tidak bisa menghentikannya. Semprotan cairan kental itu terus keluar dari tubuhnya. Gelombang hangat itu tidak bisa diprediksikan. Pernah suatu kali Sarada menyemprotkan untuk kali ke lima. Bokongnya merapat, "AAANGH!", semburan cairan ke udara.
Seluruh energi di sendi-sendinya menjadi sangat lemas, napas panjangnya tersedot ke udara, bola matanya memutar ke belakang dan tubuhnya terbanting hilang kesadaran.
Setiap malam terasa sangat melelahkan.
Ia akan bangun dengan perasaan lelah dan letih luar biasa. Kasurnya akan lembab. Dan kulit-kulitnya memerah.
Sarada sangat ingin menceritakan hal ini pada kedua orang-tuanya, namun ia terlalu malu untuk mengungkapkan kenyataan tersebut. Ia terlalu muda untuk menerima pubertas pertamanya sebagai Omega. Bagaimana kata ayahnya nanti? Putri kecil yang sok jagoan ternyata menerima pubertas di usia dini. Apa kata orang-orang nanti apabila Sarada yang pemberani, langsung lemah saat menyemburkan cairan ejakulasi?
Orang-orang akan menjadikannya bahan becandaan apabila seluruh kota tahu.
Apalagi dia adalah anak seorang Uchiha Sasuke. Uchiga paling disegani oleh seluruh penduduk Konoha.
.
.
Uchiha Sasuke bukan orang yang bodoh. Mendapatkan istri omega sudah menjadikannya pakar sedari dulu.
Tanpa Sarada sadari, sang ayah sudah mengawasinya sejak ia masih menyusu.
Sarada memang tidak seperti anak gadis lain. Puteri kecilnya itu suka bertarung, sangat aktif, sangat pemberani, dan tidak pernah takut pada apa pun. Ia hobi bertarung, memainkan senjata, bertualang ke hutan, dan berenang di sungai. Kesukaan Sarada dalam menjadi ninja membuatnya selalu berkumpul dengan ninja pria kerabat Ayahnya. Zat kimiawi Omega milik Sarada, akan terus-menerus berineteraksi secara alamiah dengan zat kimiawi pria-pria yang mengelilinginya sedari ia kecil. Meski pun tidak ia sadari, namun afeksi dari interaksi itu akan membangkitkan hormon libido di dalam tubuh Sarada, menjadikannya omega yang terlalu cepat mengalami mimpi basah pertama.
Sesungguhnya, Sasuke telah mengawasinya tiap tidur.
Tanpa Sarada sadari, saat ia mengeluarkan cairan pertamanya, Sasuke sedang berada di sana.
Sasuke tidak pernah melewatkan satu malam pun untuk menyaksikan tubuh Sarada menjerit, mengejang, membusung dan memuntahkan cairan hangat.
.
.
Sasuke melakukan segala cara untuk merangsang anaknya agar tetap mengeluarkan cairan orgasme. Ia merangsangnya saat mereka berdua, bahkan saat ia sedang tertidur. Itu adalah cara untuk membuat Sarada dapat mencapai puncak menjadi Omega sesungguhnya. Agar prosesnya semakin cepat, Sasuke ingin membuat Sarada orgasme di depannya. Dan semua itu tanpa sepengetahuan Sarada.
Pernah suata ketika, mereka berdua sengat bercanda di tempat tidur. Sarada menjadikan bantal sebagai tempat duduknya. Mereka sedang berimajinasi seolah-olah tengah menaiki kuda.
Dan Sasuke duduk rapat di belakangnya.
Tangan kekar Sasuke sebelah kiri meremas perut sebelah kirinya dekat dengan dada sebelah kiri, menahannya agar melekatkan bokong ke pinggul Sasuke, sementara tangan besar satunya meremas daerah paha dalam Sarada yang langsung berdekatan dengan dinding reproduksinya, jempolnya menyentuh ke daerah klitoris, sementara telunjuk dan jari tengahnya bersiap-siap membelah daging yang kenyal. Posisi itu membuat lubang dubur Sarada melengket dengan kejantanan ayahnya. "Aku akan memegangmu dengan erat." dusta Sasuke.
Sarada tidak tahu apa-apa. Yang ia ketahui adalah kedua tangan ayahnya sedang menjaga tubuh Sarada agar tidak terjatuh. Jantung Sarada berdentum-dentum keras. Belum pernah ia sedekat ini dengan tubuh ayahnya yang kekar dan berotot. Pastilah tubuh ini perkasa. Pastilah tubuh ini berkuasa. Merasakan posisinya yang amat erat, merasakan gelombang napas berat dari dada kerasnya, merasakan perut itu mendorong punggungnya, dan yang terpenting, kedua tangan yang kini berada di bawah pucuk puting kiri dan daging mekar di antara pahanya, meremasnya kuat-kuat.
Sarada menarik napas dalam-dalam.
"Paculah kuda ini dengan kuat den cepat. Ingat. Dengan kuat dan cepat."
Sasuke membawa tubuh mungilnya teraduk naik-turun. Setelah Sarada mengayun dengan sendirinya, barulah kedua jari Sasuke di bawah perutnya perlahan-lahan mendorong ke dalam belahan basah.
"Untuk mengendalikan posisi tubuh saat menaiki kuda liar, ikuti tempo larinya. Lihat. Gerakan pinggulmu sesuai temponya. Pastikan pundakmu tetap di tempat dan hanya gunakan pinggul untuk mengikuti gerakan. Sandarkan pundakmu di dadaku agar tetap di tempat."
Bantingan kuat yang telah diciptakan Sasuke membuat Sarada kehilangan kendali. Dinding reproduksi di bawahnya terbanting-banting keras ke dudukan pelana dan itu memberikan rangsangan kuat pada daerah itu. Belum lagi ujung jari Sasuke yang entah kenapa berada di bawah sana. Namun ia mematuhi ucapan Sasuke yang pertama dan ia menyandarkan punggungnya ke dada Sasuke.
Namun Sarada tidak ingin berkata apa-apa. Ia takut dibilang lemah.
Pinggulnya mendorong-dorong semakin gila. Bantingan di punggungnya semakin kuat. Sarada membuka mulutnya ingin berteriak. Ia merasakan tubuhnya terbanting-banting cepat. Ia merasakan tangan Sasuke meremas dada bagian bawahnya. Ia merasakan jari Sasuke berkali-kali hampir mendorong masuk ke dinding basahnya.
Kaki Sarada mengejang, tulang belakangnya makin melengkung ke belakang. Sasuke melihat dari atas, dada Sarada membusur ke depan dan melihat wajahnya yang banjir keringat. "Ayah-NGH!"
Dada Sasuke terhantam punggung anaknya. Sarada menyemburkan kencing bercampur mani.
Sasuke terdiam. Sarada tidak berbicara. Napasnya masih terengah-engah.
Namun, suara berat Sasuke di balik lehernya membuat Sarada tersadar. "Sarada, apa kau baru saja mengencingiku?"
Mata Sarada terpejam. Tubuhnya lunak seperti tanpa tulang. "Sepertinya ... " desahnya.
.
.
.
Malam itu, Sasuke kembali menunggu reaksi Sarada dari balik jendela intipnya.
Harus Sarada akui, pengalaman tadi sangat luar biasa dan baru untuk tubuhnya yang masih prematur. Bagaimana saat tubuhnya mengayun naik-turun cepat, saat punggungnya melengkung dan menyentuh dada ayahnya yang berkeringat, bagaimana pinggulnya menyatu dalam satu tempo dengan pinggul Sasuke. Bagaimana tangan Sasuke membuat Sarada berada tetap di tempat, dan bagaimana jari-jari besar itu berusaha membuka jalur sungai lengket deras di bawah sana.
Sasuke menyaksikan dengan kedua matanya, saat mulut puterinya terbuka dan mengeluarkan desahan. Saat kedua tangan itu meremas bantal di atas kepala dan dadanya membumbung tinggi ke udara. Saat perutnya terisap ke tempat tidur. Dan pahanya terbuka lebar.
Namun, ada hal yang paling penting.
Pinggul Sarada mengaduk-aduk sendiri. "Hh, angh, angh, angh,", Satu tangan Sarada meremas dada kirinya, sementara tangan kanan menghilang di balik kedua pahanya.
Sama seperti tempo cepat saat mereka di atas kuda, pinggul itu maju-mundur dengan cepat. Mata Sarada terpejam, mulutnya terus terbuka, alisnya mengkerut. Sasuke melihat puterinya mengalami kenikmatan di atas rata-rata.
Pinggulnya membeku dan semburan itu meludah dari kedua pahanya. "Ah, aangh!", Sarada nampak kelelahan luar biasa.
Ujung bibir Sasuke menyungging. Sarada kecilnya sudah tahu cara menciptaka euforia.
Sasuke rasanya jadi ingin ikut berpartisipasi.
.
.
Malam itu Sarada bermimpi sangat aneh.
Ia merasakan seseorang mengaduk-aduk daging basahnya. Mata mengabur, namun ia melihat jari Sasuke mengaduk-aduk di sana. Tubuhnya tidak berbusana.
Tubuh keduanya tidak berbusana.
Ia bisa melihat puncak dadanya sendiri yang menegang dan kedua daging keras cokelatnya yang tenggelam di mulut Sasuke dan menyedotnya kuat-kuat.
Ia melihat ayahnya sendiri di atas tempat tidurnya, menyaksikan tubuhnya yang tak berdaya, sedang menggempur daging basah di bawah perut dan menghisap salah satu gunung daging yang mengeras.
Mulut Sarada terbuka. Kegelapan merenggut kesadarannya.
.
.
Sarada terbangun dengan perasaan lelah luar biasa.
Belum pernah ia selelah ini. Dada dan saluran kencingnya terasa sangat nyeri. Mimpi semalam sangat luar biasa. Ia rela terlihat lemah. Ia rela terlihat tidak berdaya. Asalkan sosok itu terus menatapnya dengan penuh cinta seperti tadi malam. Kenikmatan tadi malam sangat hebat.
Namun, sebagai ganjarannya, Sarada merasa sangat lelah dan tidak mampu bangun dari tempat tidur.
.
.
Sasuke tidak bisa melupakan kenikmatan di wajah Sarada malam itu.
Seperti bermain di kubangan hangat yang becek, jari-jemari Sasuke terus membombardir liang yang basah, mengocok-ngocoknya hingga terus mengeluarkan cairan yang terludah berkali-kali.
Sarada setengah sadar. Ujung daging cokelatnya mengkilat karena keringat. Sasuke tiba-tiba sangat kelaparan.
Sambil terus mengaduk liang anaknya, Sasuke melahap daging sintal itu dan menyedotnya seperti ingin mengisap saripati yang belum terbentuk di sana.
Pinggul Sarada mengaduk-aduk jari di dalamnya, menggosok jari-jari itu dengan liang daging di dalam tubuhnya sendiri.
"Ya, Sarada. Gerakkan pinggul itu lebih cepat."
Sasuke membuat Sarada klimaks tiga kali di malam itu.
