"Flashback" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Warn : AU, HalYi, gaje, OOC, nggak sesuai EYD, dll.
Day 5 #dailydrabblechallenge Prompt "Tiket nonton" dari Furene Anderson
Happy reading
.
.
.
"Kamu ngapain?"
Halilintar menghampiri Ying yang tengah duduk di sofa, menjejerkan kertas-kertas berwarna kuning keemasan di atas meja. Ia baru saja membuat jus untuk mereka berdua, dan ketika kembali, Halilintar sudah mendapati Ying sibuk menyusun kertas yang Halilintar ketahui merupakan tiket bioskop.
"Cuma mau liat-liat aja," ucap Ying. Gelas berisi jus alpukat disodorkan, Ying menerimanya dengan senang hati sambil mengucapkan terima kasih.
Halilintar mengambil tempat di sebelah gadis itu. Sembari menyesap jusnya, kedua netra Halilintar menatap satu per satu kertas kuning yang hampir pudar warnanya itu. Jumlahnya sangat banyak, ada tiga baris dari ujung kanan sampai kiri.
"Aku baru tahu kamu ngumpulin ini," ujar Halilintar.
"Sengaja," balas Ying, membuat Halilintar menoleh padanya dengan ekspresi tanya. "Buat kenangan aja. Lagian nggak rugi juga kok kalo disimpen," tambah Ying.
Halilintar manggut-manggut, memilih untuk mengiyakan karena ia juga setuju dengan kekasihnya. Diperhatikannya lagi tiket-tiket nonton itu, membaca judulnya satu per satu. Dari yang action, sampai ke romansa anak remaja ada. Ia dan Ying memang mempunyai hobi menonton film. Jika ada film baru di bioskop, mereka akan langsung meluncur untuk menontonnya.
Tangan kecil Ying mengambil tiket paling ujung. Ia mendekat pada Halilintar, menunjukkan tiket yang diambilnya.
"Kamu inget, nggak? Ini film pertama yang kita tonton," kata Ying. Halilintar mengangkat alisnya, menunggu lanjutan perkataan sang gadis. "Dan itu film horor. Aku inget, kamu yang milih itu. Terus aku baru ngeh, kalo kamu emang sengaja milih film horor biar bisa modus ke aku," kata Ying dengan seringaian.
Halilintar terdiam sesaat untuk mencerna maksud perkataan Ying. Detik selanjutnya, ia mengerutkan kening. "Mana ada aku kayak gitu. Kamu ngarang," sela Halilintar, matanya bergerak ke segala penjuru ruangan.
Ying menahan tawa melihatnya. Sebuah kebiasaan Halilintar jika tertangkap basah, dan Ying tahu betul pacarnya itu sedang ngeles.
"Heleh. Ngaku aja kali." ledek Ying, membuat Halilintar sedikit memerah wajahnya.
"Mana ada!"
"Ada!"
"Gak. Aku gak kayak gitu," Halilintar membuang muka, menghindari tatapan tuntutan dari Ying.
Ying terbahak. Menjadi kepuasan sendiri jika melihat Halilintar malu-malu seperti sekarang. Ia tahu Halilintar ingin mengucapkannya, namun tidak bisa karena ego menghalanginya.
Meski Halilintar tidak mau mengakuinya, Ying tetap masih bisa mengingat apa yang terjadi hari itu. Hari di mana ia dan Halilintar nonton bersama untuk yang pertama kalinya. Ying menyerahkan pilihan tontonan pada Halilintar. Dan ya, Halilintar memilih genre horor.
Karena masih polos, Ying iya-iya saja. Ia tidak menyadari bahwa ada udang di balik batu dari putusan Halilintar tersebut. Ternyata Halilintar sengaja memilih horor agar Ying takut, dan bisa memeluk lengannya erat. Bayangannya sih, gitu. Tapi realitanya malah Halilintar yang ketakutan, sementara Ying datar-datar saja saat menontonnya.
Halilintar mendelik pada Ying yang masih tertawa kecil. Gadis itu kalau sudah meledeknya, benar-benar deh. Ngeselin banget.
"Ketawa aja terus." cibir Halilintar mulai kesal. Ying terkekeh. Halilintar memilih untuk mengabaikannya dengan mengambil tiket yang lain.
Seringaiannya muncul saat kepalanya mengingat apa yang terjadi ketika mereka menonton film itu. Dan Halilintar balas dendam.
"Ingat ini?" Halilintar menunjukkan tiket bioskop itu di depan wajah Ying, membuat sang gadis terkejut sebentar sebelum membaca judul film di sana.
"Dua Garis Biru?"
"Yep."
Dahi Ying mengerut tak paham. "Terus kenapa?"
Halilintar menghela napas. 'Kan, lemot deh. Batinnya. "Kamu nggak inget pas nonton ini kamu kenapa?"
Ying menggeleng polos.
Hampir saja Halilintar mencubit pipi chubby itu karena gemas. "Kamu nangis, Ying. Nangis kejer banget sampai orang-orang liatin kita."
Butuh beberapa detik untuk Ying mengerti maksudnya. Halilintar mengangkat sebelah alis, menggoyang-goyangkan tiket nonton itu di depan Ying, meledek. Hingga akhirnya, mata Ying membelakak sempurna.
"HEEE?!" serunya kaget.
Halilintar memasang wajah kemenangan. "Sudah ingat, tuan puteri?" ejeknya, tersenyum miring sambil memaju-majukan wajahnya pada Ying.
Ying auto mundur dan menahan wajah Halilintar dengan telapak tangannya. "Diem, diem, diem," ucap Ying berulang kali.
Halilintar terkekeh sambil menyingkirkan tangan Ying dari wajahnya. "Mau aku ceritain?"
"NOOO!"
"Oke, jadi gini. Kamu waktu itu–"
Tangan kecil Ying membekap mulutnya. "Gak! No! No way! Aku nggak kayak gitu,"
"Kamwu bapwer gwara-gwara Bwimwa samwa–" racau Halilintar tidak jelas. Bekapan Ying semakin kencang, dan Halilintar tidak menyerah. "–Dwaranya bwingung mawu ngapwain pas tawu–"
"HALIIIIIII!"
Halilintar melepaskan bekapan Ying secepat mungkin dan berlari menjauhi gadis itu sambil berseru. "Terus kamu nangis, nangis kejer banget sampai ingusnya ke mana-mana–"
BUK!
Bantal sofa mengenai sisi tubuh Halilintar, pelakunya sudah tentu Ying. Halilintar terus melakukan aksinya, berlari mengitari ruang keluarga rumah Ying sambil menghindari lemparan bantal gadis itu.
"–aku sampai dikira yang nyebabin kamu nangis sama orang-orang. Kamu baru berenti mewek pas aku beliin es krim–ADAW!" Halilintar meringis kala casing hape milik Ying mendarat tepat di jidatnya. Buset dah. Untung bukan hapenya beneran.
"HALI BISA DIEM GAK?!"
"Galak banget kayak kucing garong PMS,"
"HALIIIIII!"
"Ampun, mbak e!"
Sore itu, mereka kejar-kejaran sambil teriak-teriak penuh ledekan dan kekesalan.
.
.
.
.
Finizh
a/n :
maavin kalo gaje. Semoga kak Fur suka yoooo~
repiw?
