Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take any profit by publishing this fict)

Marriage/Slice of Life/Canon Compliant/Alternate Reality/No Bullying/Friendship/Romance

SasuHina

Mr. Kappa

Menikahi seorang Uchiha Sasuke bukanlah perkara mudah. Hyuuga Hinata bisa bersaksi dan bahkan bersumpah soal itu. Pernikahan mereka bagaikan petir di siang bolong. Hal yang tak pernah diduga orang-orang di Konoha. Orang yang tahu pertama kali soal kabar pernikahan mereka jelas ketua klan Hyuuga, yakni Hyuuga Hiashi alias ayah Hinata. Hiashi tercengang. Mulut dan matanya sama-sama terbuka dan eskpresinya itu akan selalu terkenang jelas di benak Sasuke serta Hinata seumur hidup. Hiashi ingat benar dia baru saja membersihkan telinga kemarin, jadi tidak mungkin dia tiba-tiba tuli sampai salah dengar. Namun, di hadapannya, Sasuke dan Hinata duduk bersimpuh. Keduanya meminta restu Hiashi untuk beranjak ke pelaminan.

Hiashi tahu anaknya belakangan ini dekat dengan sang mantan buronan. Namun, Hiashi tidak menyangka bahwa mereka dekat dalam arti berpacaran pada saat itu. Yang sang pria ingat, Sasuke terkadang berdiri di depan teras kediaman Hyuuga, meminta izinnya untuk mengajak Hinata pergi keluar. Hiashi memberi izin. Dia pikir, mereka akan pergi dengan ninja lain yang seangkatan dengan mereka dan bukannya pergi berdua saja.

Kenapa Hiashi tidak menyadari gerak-gerik keduanya? Ketika Hinata pulang dengan pipi bersemu merah atau ketika Sasuke memayungi Hinata meskipun air hujan mengenai tubuhnya sendiri.

Apakah usia yang semakin tua telah membuat Hiashi menjadi sebegitu tidak peka?

Hiashi berdehem sebelum melontarkan tanya pada sang Uchiha. Apakah Sasuke yakin ingin menikahi Hinata? Apakah Hinata yakin ingin menikahi Sasuke? Apakah ada bukti bahwa Sasuke tidak akan meninggalkan Hinata setelah menikah nanti? Sejak kapan Hinata tidak lagi menaksir Naruto?

Namun, Sasuke menjawab semua pertanyaan Hiashi sekaligus menyapu keraguan di hati Hiashi. Sasuke menjawab tanpa basa-basi. Dia menjawab apa adanya, tidak memalsukan isi hatinya. Sasuke bahkan sadar bahwa dia adalah mantan kriminal dan memaklumi jika Hiashi merasa bimbang untuk menyerahkan anaknya pada lelaki semacam dia.

"Aku akan menjaga Hinata baik-baik. Aku janji." Ultimatum dari Sasuke yang lantas membuat bahu Hiashi terjatuh.

Hiashi bersujud di depan Sasuke, memohon agar Sasuke memperlakukan gadisnya dengan baik. Hinata telah diperlakukan tidak layak selama ini. Dia selalu dikucilkan dan semua itu karena ulah Hiashi. Karenanya, Hiashi tak ingin ada lelaki lain yang memperlakukan Hinata sama buruknya.

Sasuke membangunkan Hiashi dari posisi semula. Tangannya berada di bahu Hiashi, tatapannya menatap lurus pada dua bola mata yang sama dengan mata Hinata.

"Tanpa perlu dimohon pun aku akan menjaga Hinata seumur hidup."

Berbekal persetujuan dari Hiashi, pernikahan Sasuke dan Hinata pun dijadwalkan satu bulan dari sekarang.


Kabar bahwa keduanya akan melangsungkan pernikahan menggoncang kedamaian di Konoha. Tak ada yang pernah mengira bahwa keduanya akan menjadi sepasang suami istri. Tidak ada. Mereka berdua bahkan tidak tampak berteman, lantas bagaimana bisa? Hanya ada satu orang yang bisa memperkirakan hal ini terjadi. Dialah sang calon hokage. Naruto. Menjadi telinga dan mulut Sasuke selama sang pemuda dekat dengan Hinata membuat sang pemuda pirang berani bertaruh bahwa mereka akan menjadi pasangan serasi.

Naruto bukannya pura-pura tidak tahu atau berpura-pura bodoh dengan gosip yang beredar bahwa Hinata menyukai dirinya. Tidak. Naruto menyadari perasaan sang gadis dari tingkah lakunya, dari bagaimana sang gadis selalu jatuh pingsan tiap kali bertemu Naruto, atau bagaimana sang gadis akan bicara terbata dengan wajah memerah. Naruto sendiri awalnya mengerutkan dahi ketika Sasuke bilang bahwa dan Hinata berpacaran. Setahunya, pada saat itu, Hinata masih sering mengikutinya diam-diam. Namun, ketika Naruto berbalik, dia tak lagi menemukan sosok Hinata bersembunyi di balik tiang. Ketika sadar, Hinata tak lagi menyapanya dengan wajah bersemu merah. Ketika dia dan Sasuke berdiri berdampingan, langkah Hinata mendekat pada Sasuke dan bukan pada dirinya. Keanehan itu membuat Naruto bertanya dan Sasuke sempat menjawab sinis. Sampai akhirnya, Naruto sadar bahwa keduanya memulai lembaran baru dalam kehidupan mereka.

Ada rasa cemburu awalnya. Hinata selalu gesit terhadap segala hal yang menyangkut Naruto. Ketika Naruto pergi melaksanakan misi, sosok yang akan mengantarkannya adalah Hinata, lengkap dengan sekotak bekal di tangan. Ketika kembali dalam keadaan babak-belur, orang yang akan menemaninya selama menginap di rumah sakit adalah Hinata. Kini, sang gadis lebih banyak menyempatkan waktunya untuk Sasuke.

Semakin lama, Naruto semakin bisa menerima perubahan tersebut dan mendukung penuh keputusan keduanya. Karenanya, dialah satu-satunya orang yang tidak kaget dengan berita pernikahan tersebut. Ketika Kiba sampai melolong seperti Akamaru, ketika Shino tanpa sadar melepaskan lebah-lebahnya, ketika Ino tak sengaja membuat semua bunga di toko layu, ketika Sai menjatuhkan seember tinta hitam ke kanvas, dan ketika mata hijau Sakura tampak kosong selama berhari-hari, Naruto-lah yang tidak lagi terkena imbas apa pun dari berita tersebut. Harinya berjalan biasa. Hanya ada tambahan agenda mengucapkan "selamat" dan berburu kado pernikahan.


Pernikahan mereka berdua berlangsung dengan sangat meriah. Air mata haru bercucuran dan senyuman lebar terkembang. Bunga-bunga berjatuhan, menutupi lantai lokasi dengan warna putih dan ungu muda. Meski masih ada orang yang tak percaya dengan pernikahan ini, toh, Sasuke dan Hinata sudah berjanji di altar sana untuk saling menjaga. Meski masih ada mulut-mulut sinis yang meragukan kelanggengan bahtera rumah tangga mereka, toh, ucapan mereka tak menampik kenyataan bahwa Hinata akan menjadi Uchiha setelah ini.

Pasangan muda Uchiha-Hyuuga itu mendongkrak popularitas. Majalah yang membahas perihal kehidupan ninja di sepanjang negara Hi memasukkan acara pernikahan mereka di halaman paling awal, dengan foto ketika mereka mengucapkan ikrar sebagai sampul majalah. Videotron yang baru-baru ini dipasang di sudut desa Konoha pun memuat tentang pernikahan keduanya. Ucapan selamat, keraguan, ucapan selamat, dan keraguan silih berganti mengkomentari pernikahan mereka.

Itulah kenapa kabar bahwa pernikahan mereka di ambang perceraian hanya berselang satu bulan sejak pernikahan mereka pun menjadi kabar yang sontak dibahas di mana-mana. Semua itu dimulai dari sebuah majalah yang menyiapkan paparazzi dan berhasil menangkap momen ketika Uchiha Hinata bergandengan tangan dengan sosok seseorang yang menggunakan tudung. Jika itu Sasuke, apa gunanya dia menggunakan tudung dan menutupi identitasnya? Seluruh dunia sudah tahu bahwa mereka adalah sepasang suami istri. Apa lagi yang perlu ditutupi?

Keduanya tampak berkencan di malam hari, tepat ketika sebagian besar penduduk desa telah terlelap, seolah sejoli itu tak mau memancing perhatian berpasang-pasang mata yang ada di sana, seolah mereka tak mau terciduk media dan menjadi bahan berita.


Naruto, kini sudah berstatus hokage, menaikkan kaki ke atas meja sembari mengutuk berita yang tidak berfaedah. Apa gunanya mencari cela dalam hubungan seseorang? Mereka ninja, bukan selebritas! Mereka tidak perlu hidup dengan diikuti kamera! Ada banyak artis dan aktor bertebaran di luar sana, tapi kenapa mencari berita sampai ke kehidupan para ninja?

"Berita pembuat gaduh. Ini pasti hanya akal-akalan media."

Naruto awalnya berpikir bahwa berita tersebut memuat gosip yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sampai suatu hari, ketika dia kembali dari gedung hokage malam-malam, mata birunya menangkap sosok Hinata tengah berjalan berduaan dengan seorang pria asing. Pria itu memiliki potongan rambut seperti kappa, mirip dengan potongan rambut Rock Lee. Tidak mungkin Hinata berselingkuh dari Sasuke hanya untuk berkencan dengan Rock Lee, bukan? Naruto tidak bermaksud mengejek Rock Lee. Pemuda ahli taijutsu itu memiliki kelebihannya sendiri. Namun, kenapa bisa?


Hiashi mengerjapkan mata berkali-kali. Dia baru saja kembali dari makam untuk meletakkan bunga dan berdoa. Dalam kepalanya, Hiashi hanya bisa memikirkan teh hangat yang akan Hanabi suguhkan, membaca kumpulan puisi, dan tertidur pulas. Namun, pemandangan di depan sana mau tak mau membuat langkah sang kepala klan terhenti.

Hiashi tidak mungkin salah mengenali anaknya sendiri. Di depan sana, di ujung gang, ada sosok anaknya yang tengah berjalan diam-diam. Langkahnya mencurigakan, seakan tengah menutupi sesuatu. Sesekali, kepala sang anak menengok ke kiri dan kanan, memastikan kondisi sekitar masih sepi. Tak menyadari bahwa di belakang sosok sang ayah tengah berdiri sambil mengerutkan dahi. Setelahnya, Hinata menarik sosok di sisinya dan berjalan menjauh dengan langkah tergesa.

Sosok di sisi Hinata ... Siapakah dia? Sosok itu berambut seperti kappa. Di Konoha, satu-satunya manusia kappa adalah Rock Lee. Apakah sang anak sudah pindah ke lain hati? Mata sang anak baik-baik saja, bukan? Mereka memiliki byakugan. Tak peduli ada berapa banyak orang yang bilang bahwa mata mereka seperti mata katarak, mata mereka adalah mata legendaris yang diturunkan dari klan Otsutsuki! Hinata tidak mungkin memilih orang lain, bukan? Terlebih Rock Lee ...?

Sepanjang jalan, Hiashi tak lagi bisa berkonsentrasi pada rencananya barusan. Pikiran sang pria tua itu kini dipenuhi oleh sosok sang anak dan seseorang yang kemungkinan besar adalah selingkuhan sang anak.


Hinata melirik ke kiri dan kanan. Dia tengah menggandeng sosok seseorang sebelum akhirnya keduanya sampai di rumah setelah berjalan-jalan. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di malam hari karena pemuda di depannya tidak suka perhatian dan keramaian. Sang gadis membuka tudung pemuda di depannya, menampakkan sesosok pemuda berkepala kappa yang tanpa mereka sadari telah menjadi berita gosip terpanas dan terkini di Konoha. Dia oniks menatap lurus pada Hinata dan sang gadis tersenyum kecil.

"Sasuke-kun," panggil Hinata.

Ya, sosok berkepala kappa yang sedang dipertanyakan seantero Konoha tak lain dan tak bukan adalah Sasuke. Kepala aneh sang pemuda bermula ketika Hinata memutuskan memotong rambut Sasuke yang dia nilai sudah panjang dan perlu dipotong. Hinata punya pengalaman memotong rambut. Paling tidak, dia pernah memotong rambutnya sendiri ketika kecil. Itulah kenapa Hinata menjadi satu-satunya Hyuuga dengan rambut pendek di atas bahu ketika mendiang Neji dan ayahnya yang berjenis laki-laki saja memiliki rambut sepunggung.

Namun, Hinata tak tahu bahwa keahliannya sebatas memotong rambut secara rata karena begitulah dia memotong rambutnya sendiri bertahun-tahun lalu. Karena itulah, dahulu ada beberapa orang yang bilang bahwa rambutnya cukup mirip dengan rambut Rock Lee. Kini, hasil tangan (berkeringat) dingin Hinata adalah rambut Sasuke yang benar-benar seperti rambut Rock Lee.

Wajah Sasuke tampak memucat ketika melihat refleksinya sendiri di cermin. Rambut bagian depannya dipotong rata hingga di atas alis dan dengan model rambut seperti ini, tak akan ada yang terkesan dengan Sasuke. Mereka akan menertawakan sang suami.

Itulah kenapa mereka berkencan di malam hari dengan cara mengendap-endap layaknya kucing yang hendak mencuri ikan.

Itulah kenapa Sasuke mengenakan tudung tanpa jeda.

Keduanya tak sadar bahwa kelakuan mereka berdua telah mengundang kegaduhan bagi benak-benak penduduk di Konoha. Mereka tak sadar bahwa ada banyak orang yang syok karena berembusnya kabar keretakan rumah tangga mereka. Terlebih, orang yang dikabarkan berselingkuh adalah Hinata, gadis terbaik se-Konoha.


Hinata tengah berjalan sendiri ke pertokoan usai membeli sayur-mayur untuk bahan makan malam ketika sekumpulan wanita Konoha mencibirnya.

"Tak tahu malu!"

"Sasuke-kun idola kita ketika di akademi, tahu!"

"Mati saja sana!"

Mata lavandula Hinata mengerling. Menautkan alis, Hinata kebingungan. Apa yang dia sudah perbuat sampai-sampai sejak tadi pagi dia dihujani cibiran dari penduduk Konoha, utamanya oleh para wanita muda di sana?

Ketika berpapasan dengan Ino, Hinata mendapatkan salam dingin. Tak ada sapaan yang keluar dari istri Sai itu. Dia hanya melihat lurus ke depan dengan ekspresi menahan marah. Ketika jarak keduanya terpaut satu meter, barulah Ino menoleh sembari bicara dengan nada ketus.

"Aku sangat kecewa padamu, Hinata!"


Sasuke tak mengerti kenapa kedatangannya ke kantor hokage mengundang banyak tatapan simpati. Hari ini dia memutuskan mengenakan sorban, sama seperti ketika dia baru kembali ke Konoha beberapa tahun lalu. Sorban tersebut baru dia temukan pagi tadi dan Hinata mengusulkan agar Sasuke mengenakannya.

Masuk ke ruangan hokage, Sasuke mendapatkan kejutan berupa dekapan kencang dari Kiba, Shino, Naruto, dan bahkan Shikamaru. Apa mereka sedang mabuk? Siang-siang begini dan di ruang hokage? Alis Sasuke terangkat.

Tak mengendus bau sake, Sasuke jelas semakin heran.

"Ada apa dengan kalian?"

"KAU YANG ADA APA? KENAPA TIDAK PERNAH CERITA PADA KAMI, SASUKE! KAU BISA BERKELUH KESAH PADA KAMI! KAMI 'KAN TEMANMU!" Naruto berteriak.

Sasuke memandang datar pada sosok teman di depannya sebelum akhirnya melangkah mundur dan menutup pintu sebelum lekas beranjak pergi.

'Ada yang tidak beres dari mereka ...'


Malamnya, Sasuke tengah bersila di ruang depan sembari menyusun laporan misi untuk diserahkan pada Naruto. Hinata tengah berada di dapur saat itu, memasak makan malam. Keduanya saling bercerita tentang pengalaman yang menimpa mereka berdua hari ini dan tidak paham dengan apa yang sebetulnya tengah terjadi. Ketukan terdengar dari depan pintu, membuat Hinata bergegas ke teras.

"Sasuke-kun, tolong aduk karinya, ya. Aku akan membukakan pintu."

Langka bagi keduanya disambangi oleh tamu malam-malam begini. Namun, ketika melihat banyak kepala menyembul dari pintu, Hinata hanya bisa mematung. Hiashi, Hanabi, Naruto, Shikamaru, Kiba, Shino, dan Kakashi adalah tamunya. Tentu Hinata tak punya pilihan lain selain mempersilahkan mereka masuk.

Namun, seruan Naruto membuat Hinata terperanjat.

"Bisa-bisanya kau berselingkuh dari Sasuke, Hinata!" Naruto tampak kecewa, seakan Hinata telah berbuat salah.

Hinata hanya diam, tak menanggapi ucapan Naruto. Terlalu syok dengan tuduhan yang diarahkan kepadanya. Berselingkuh? Dirinya? Itukah alasan orang-orang Konoha menatapnya sebal seharian tadi? Tunggu! Sejak kapan Hinata berselingkuh?

"Tunggu! Pemuda berkepala kappa itu ada di dapur!" Hanabi mengarahkan telunjuknya pada sosok pemuda yang tengah mengaduk isi panci.

Hiashi buru-buru melangkah ke dalam. Tangannya terkepal. Pria lanjut usia itu mencengkeram kerah sang pemuda berambut kappa sebelum akhirnya melayangkan tinju ke pipi sang pemuda—

—"Ayah?"

Suara Sasuke terdengar dari arah dapur walaupun sosoknya tak terlihat di mana pun. Mata lavandula Hiashi meneliti sosok berkepala kappa di depannya sebelum akhirnya jatuh duduk karena lemas.

Kiba menepuk tangan seolah mengerti bahwa kejadian ini adalah salah paham. "S-sebentar. Itu berarti Mr. Kappa yang dibahas selama ini adalah Sasuke?"

"Kak Hinata tidak pernah berselingkuh." Hanabi mendengus puas.

"Sasuke?" Naruto menyentuh perutnya sendiri. "Rambut macam apa itu?"

Kondisi yang sebelumnya tegang kini luruh oleh gelak tawa. Mereka semua menertawakan kebodohan mereka yang bisa-bisanya termakan isu media. Pantas saja sosok Sasuke kembali terlihat dengan sorbannya. Pantas saja sebelum sorbannya ditemukan, sosok Sasuke tak pernah terlihat keluar rumah.

Wajah Hinata merah padam.

"A-aku yang membuat rambut Sasuke-kun jadi seperti itu," sesal Hinata.

Tawa tak mereda dan Sasuke harus menyumpal mulut mereka dengan sesendok kari. Paling tidak, itu membuat mereka berhenti tertawa karena tersedak.

Esoknya, Hinata kembali memotong rambut Sasuke. Syukurlah, kini rambut Sasuke tak lagi mengingatkan mereka pada kappa. Rambut Sasuke kini mirip dengan rambut Naruto, hanya saja sedikit lebih panjang. Gosip bahwa Hinata berselingkuh belum juga usai setelah Hinata kedapatan berjalan dengan pemuda berambut spike hitam. Seantero Konoha baru sadar bahwa mereka salah paham ketika Sasuke berdiri di sisi Naruto untuk acara penyambutan dan di situlah Naruto membeberkan identitas Mr. Kappa yang sebelumnya misterius.

"Ada sambutan tambahan, Mr. Kappa?"

Hadirin yang ada pun dibuat tercengang sebelum tertawa bersama.

Fin

Cokelat Abu

Thank you