Pertunjukkan konser wonpil pun berlangsung dengan megah dan mewahnya selama dua hari.
Wonpil pun mampu menampilkan penampilan terbaiknya, meskipun dia tetap berharap 2 kursi terdepan di isi oleh kak brian dan kak sungjin. Namun hasilnya tetep nihil, baik kak brian dan kak sungjin tetap tidak menampilkan batang hidungnya.
Wonpil mulai memperhatikan keadaan sekitar dan melihat bunga yang ada di meja nya sambil mengingat sejak kapan bunga itu muncul disana, mengingat sedari tadi tidak ada bunga di sana.
"Untukmu, yang terindah. From : jae, mungkin freaky jae. Because you call me freaky jae"
Wonpil tersenyum mengingatnya, bahwa setidaknya masih ada 1 orang yang mengingat hari bersajarahnya.
"Wonpil, ada mencarimu" salah satu staff menghampirinya
Wonpil tersenyum dan melihat orang itu, tak lama staff nya pun meninggalkan mereka berdua.
"Kamu pasti si freaky jae"
"Iya, 100 untuk kamu darling"
"Finally we meet. Thank you sudah melihat hari bersejarahku. Aku pikir kamu udah bapak-bapak tahu"
Tiba-tiba terdengar bunyi 'krrit kriit, boom... booom'
"Bunyi apa itu?"
Jae dan wonpil mendekati sumber bunyi tersebut dan melihat...
"Darah... aku takut darah"
Jae yang menyadari itu langsung memeluk wonpil erat.
Jae dan wonpil melihat sesosok mayat wanita dengan darah dimana-mana, dan mayat itu hanya terpotong menjadi beberapa bagian serta kedua kaki dan tangannya entah di mana, di hadapannya hanya sisa kepala dari seorang gadis. Tidak hanya kepala tetapi ada hati beserta jantungnya.
Polisi tak lama tiba di tempat kejadian dan jae menjelaskan apa yang terjadi serta meminta ijin untuk mengantarkan wonpil.
Jae mengantar wonpil ke apartemen jae. Bukan kah jae sudah berjanji kepada wonpil untuk menginap di apartemen jae.
Sepanjang perjalanan wonpil hanya diam tak banyak berbicara dan bergerak.
Begitu tiba di apartemen jae, wonpil langsung melihat-lihat.
"Wow jae apartemen kamu sungguh besar."
"Nikmatilah dan anggap rumah sendiri"
"Ummm freaky, toilet di mana? Aku ingin beberes"
Tanpa banyak bicara jae menunjukkan kepada wonpil.
Wonpil mulai membersihkan dirinya dan jae menunggunya didepan.
Setelah selesai membersihkan, wonpil kaget melihat jae masih didepan pintu kamar mandi.
"Kamu mandi terlalu lama, hampir satu jam. Untung aku tidak mendobraknya"
"Maaf freaky membuat mu menunggu. Aku tidak tahu kamu menunggu"
Jae langsung memeluk wonpil dan wonpilnya merasa kaget.
"Aku khawatir, bagaimana kalau kamu ada apa-apa didalam"
"Aku tidak apa-apa freaky, tidak apa-apa"
Jae langsung menarik wonpil ke kamarnya lagi.
"Jadi freaky bagaimana kamu bisa mengenal aku?! Tahu tentang aku?!"
"Kamu artis, tentu aku mengenalmu"
"Maksudku bagaimana kamu tahu tentang kakak-kakakku."
"Ah maksudmu, sungjin? Aku meminta doun mencari tahu tentangmu. Sampai aku tahu kamu naksir sama brian kan?"
"Freaky?! Itu rahasia aku?! Bagaimana kau tahu?! Sounds creepy kamu tahu"
"Itu tidak penting, makanya bersikaplah manis maka aku tidak akan membocorkannya"
"Huh dasar freaky, kau benar-benar menakutiku"
"Aku tidak menakutimu, aku hanya menjaga apa yang sudah punyaku akan ku jaga dengan sepenuh hati"
"bagaimana jika orang yang jaga malah jatuh hati pada orang lain? Atau bersama orang lain..?"
"tentu saja, aku melakukan apapun untuk mendapatkannya"
"Tidak bisa kah, kau mengikhlaskannya? Atau membiarkannya bahagia?"
"Tidakkah kamu cape wonpil..? Sudah hampir tengah malam kamu harus istirahat, besok masih ada konser lagi bukan..?
Wonpil cemberut mengingat besok dia masih harus konser
"apakah konserku akan tetap berlangsung mengingat tempatku jadi tempat crime?"
"tidurlah, kamu lelah sekali pasti"
Wonpil mulai menguap dan perlahan tertidur dikamar jae.
"tidurlah, pujaanku. Aku akan melakukan apapun untukmu sehingga tidak ada yang menganggumu."
jae mengecup kening serta pipinya wonpil sambil memakaikan selimut ke atas badan wonpil
"bersabarlah cintaku, tinggal sebentar lagi dan kau akan menjadi milikku."
Jae mematikan lampu kamarnya dan perlahan meninggalkan kamarnya.
