that boy diary.
The begining.
menjalani kehidupan sebagai orang biasa bukanlah hal yang sulit untuk sebagian orang. namun hal yang sulit adalah saat kehidupanmu yang biasa menjadi tidak biasa lagi.
kehidupan remaja, seseorang yang kau cintai untuk pertama kali, begitu banyak hal yang ingin kau pertahankan tapi kau tidak mampu karena begitu banyak tuntutan yang harus dijalani.
jadi sebenarnya aku tak berharap apapun saat menulis diary ini selain berusaha membuat perasaan frustasi di dalam diriku jadi lebih baik.
aku tak tau memulai nya dari mana tapi akan aku ceritakan semuanya dari saat semua ini belum di mulai, kim Jongin begitu mereka biasa memanggilku.
aku memiliki seorang ayah, ibu, dan kakak laki-laki. dari kecil aku menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, ayahku bekerja sebagai salah satu pegawai di perkantoran, ibuku hanyalah ibu rumah tangga yang pandai memasak, sesekali ibuku mendapat pesanan dari beberapa orang untuk masakkannya, dan kakak ku sebagai mana kakak laki-laki pada umumnya. kami sesekali berkelahi, saling pukul, atau mengisengi satu sama lain dan berakhir aku yang menangis.
keluarga kami cukup taat agama, taat norma selayaknya keluarga-keluarga pada umumnya, jadi cukup banyak hal yang bagi keluarga kami tabu dan aku pun berusaha tidak melanggar nya. Setidaknya kalau aku tidak bisa jadi anak terbaik bagi keluargaku, aku tidak boleh mengecewakan mereka kan?
masa SD dan SMP ku berjalan dengan biasa, aku bukanlah anak yang cukup menonjol di sekolah, namun cukup terkenal karena bakat menyanyi ku, aku tak mengenal banyak orang, orang pun jarang memperhatikanku karena sejujurnya di sekolah selain di ekstrakulikuler paduan suara nilaiku hanya berada di rata-rata. aku tak banyak bicara, tak cukup pandai bergaul namun aku memiliki 4 orang sahabat yang dekat.
saat SMP aku pernah memiliki seorang pacar, dia gadis pertama yang kupacari namun aku tak yakin dia cinta pertamaku, karena dia duluan yang mengutarakan perasaannya, dan aku hanya menerimanya karena aku rasa akan menyenangkan memiliki seseorang yang bisa diajak melakukan banyak hal bersama. namun tak beberapa lama dia minta putus dariku karena dia bilang aku orang yang membosankan. hah, aku tak mengerti jalan pikiran perempuan.
jadi singkat kata, semuanya berjalan dengan normal dan biasa hingga aku lulus SMP dan masuk ke SMA.
namun saat SMA begitu banyak hal baru yang asing bagiku, dan jujur semuanya berawal dari sini.
aku masuk ke sebuah SMA Swasta yang cukup baik di lingkunganku, semester pertama di SMA aku masih merasa tidak ada yang spesial, teman baru, mata pelajaran baru, sistem pendidikan baru yang awalnya asing lama-lama sudah menjadi biasa untukku.
aku cukup akrab dengan teman-teman di kelas walaupun ada beberapa anak yang aku hindari karena aku tidak terlalu suka vibes mereka. Anak yang populer, anak pembuat onar, atau si pencari perhatian aku tak terlalu menyukai mereka.
salah satu yang aku hindari adalah teman sekelasku, namanya Jung Sehun. kami ditempatkan di kelas yang sama sejak masa orientasi.
Jung Sehun adalah anak yang menonjol. dia tampan, wajahnya memiliki lesung pipi saat tersenyum, kudengar keluarga nya juga cukup berada, walau sudah bukan rahasia umum lagi anak ini sebenarnya berandalan.
kau mungkin tidak akan menduganya karena saat dia sedang diam Jung terlihat begitu tenang. Dia terlihat seperti anak tampan yang tidak banyak tingkah, namun sebenarnya tidak begitu. aku sering memperhatikan nya, beberapa kali dia tidak masuk sekolah, dan saat masuk anak ini memiliki beberapa lebam di tubuhnya. Pernah suatu kali saat jam pelajaran kosong, tiba-tiba seorang kakak kelas menerobos masuk kelas kami sembari marah-marah dan mencari Sehun, tak berapa lama Sehun muncul kemudian terjadi perkelahian. Tidak berlangsung lama guru bimbingan siswa membawa Sehun dan kakak kelas tersebut ke ruang bimbingan.
aku tentu saja hanya menonton dari balik bangku ku. tidak ada gunanya ikut campur pada hal seperti itu.
di kelas aku tak banyak bergaul dengannya, aku tak suka seseorang yang suka memaki dengan kata kasar, dan Sehun pun lebih sering bergaul dengan teman-teman satu gengnya. kalau tidak begitu penting aku bahkan tak bicara dengannya. Sehun terkadang sesekali mengganggu ku, mengatakan apakah aku robot yang tidak bisa tersenyum atau sebagainya, aku mengacuhkannya. FYI, dia sangat suka mengganggu orang-orang.
singkatnya hubungan kami seperti hubungan anak remaja laki-laki pada umumnya, aku berusaha tidak peduli padanya walaupun sesekali ku rasa dia mulai membuatku marah, seperti saat pelajaran olahraga dan anak laki-laki di kelas kami di bagi menjadi beberapa kelompok untuk bermain basket.
sial aku harus jadi kelompok Sehun, karena nama kami dalam absen berurutan tidak jauh, aku tidak terlalu baik dalam olahraga, tidak terlalu suka lari, ataupun olahraga fisik yang terlalu banyak berada di lapangan. Jika itu berenang aku lebih menyukai nya.
Sehun cukup menonjol dalam banyak bidang dalam satunya olahraga, dia menjadi kapten basket dan aku hanya menjadi pemain yang mengikuti arahan kaptennya.
beberapa kali dia melempar bola padaku aku menangkapnya tapi tak berapa lama anak kelompok kami yang lain berusaha merebut nya, aku kebingungan hanya bisa melemparkan bola kepada yang lain, beberapa kali ku dengan Sehun memaki ku. mengatakan anak laki-laki mana yang tidak bisa main basket, benar-benar bodoh, atau katanya seharusnya aku ikut regu anak perempuan saja. aku berusaha tidak mendengarnya dan tetap berusaha ikut serta dalam basket ini walaupun aku sebenarnya sangat tidak ingin.
hingga akhir permainan, regu kami kalah. 10 vs 8, itu hasil akhirnya. aku sebenarnya tidak peduli, dalam hatiku bersorak senang karena permainan ini selesai. Jadi aku bergegas akan keluar lapangan karena sejujurnya tubuhku sudah cukup gerah.
tapi sebelum sempat keluar dari lapangan Sehun berjalan di belakangku dan berkata sambil melewatiku "dasar banci!"
aku menatapnya berlalu dengan tangan yang terkepal erat. "Hei, kemari kau sialan!" itu umpatan pertama yang ku katakan padanya.
ia berbalik sambil menatapku dengan angkuh, bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. Aku menghampirinya nya dan tanpa banyak kata, BUGH! sebuah pukulan ku layangkan ke dagu nya. Ia sempat meringis dan tentu saja tak terima, ia menarik kerahku dan menatapku dengan tajam.
"Kim Jongin, banci sialan! Kau membuat grup kita kalah dan kau malah meninjuku!"
Aku balas menatapnya, "Aku tak peduli dengan regu ini, dan biar kuberitahu kau yang sedari tadi terus memaki ku."
"Itu layak untukmu, kau tidak berguna brengsek!" umpat Sehun yang kudengar sebelum dia balas menonjok hidung ku.
Sekilas tatapanku menjadi kabur, dan ku rasa sesuatu mengalir dari hidungku, sampai sesaat kemudian ku dengar suara ketua kelas berlari menghampiri kami.
"Lepaskan Jongin, Jun!" tubuhku ditarik dari belakang dan aku menyeka hidung ku, ah.. darah. Pikirku.
"Siapapun, berikan Jongin tisu!" lanjutnya.
Aku duduk di pinggir lapangan, menyeka hidung ku sembari menatap Sehun yang masih saja memasang wajah angkuhnya. Mata kami bertatapan, dan saat itu aku tau, aku tak ingin lagi terlibat apapun dengannya.
Dan begitulah hari itu berlalu, aku mengacuhkannya. Dia tak mengatakan maaf apapun padaku, tentu saja Oh sehun sialan itu memangnya pernah merasa bersalah? Tentu saja tidak. Bahkan saat guru olahraga membawa kami ke ruang bimbingan pun dia tak mengatakan apapun selain, "Dia memang tidak berguna, aku mengatakan kenyataannya." Sial, aku lagi-lagi harus berusaha menahan keinginan ku untuk meninjunya. Fuck, ini kali pertama ku masuk ruang bimbingan gara-gara Jung-asshole-Sehun.
Dan hari berikutnya berlalu, dia bersikap seolah-olah tak pernah ada perkelahian di antara kami. Ia masih sering sesekali menggangguku tapi aku tak ingin peduli lagi.
Aku hanya ingin menjadi biasa. Aku tak pernah ingin menjadi dekat dengan orang seperti Sehun.
Something strange just happen.
Dear diary, tak terasa waktu sudah berlalu cukup cepat. Ini semester keduaku di kelas satu. Kegiatanku akhir-akhir ini tak terlalu banyak karena kakak kelas sedang menghadapi ujian nasional jadi para guru lebih fokus ke anak kelas 3.
Mungkin beberapa minggu terakhir ini aku cukup disibukkan dengan bimbingan pelajaran dan juga ekstrakurikuler paduan suara. Omong-omong saat hari kelulusan kakak kelas nanti sekolah kami akan mengadakan showcase.
Tentu saja aku sudah terpilih mewakili anak kelas 1, aku memiliki cukup banyak piagam penghargaan yang didapat dari hasil lomba menyanyi sewaktu SMP, hal itu membuat guru seni musik ku pak Kang Daeseong menunjuk aku secara langsung.
Jadi setidaknya 4 kali dalam seminggu aku menghabiskan sore hariku di ruang seni untuk latihan.
Aku benar-benar ingin tampil dengan baik, pak Daeseong tidak bilang aku akan menyanyi solo atau berkelompok, jadi yang ku lakukan untuk saat ini aku hanya akan fokus untuk olah vokal.
Aku pikir semuanya akan baik-baik saja sampai saat pertunjukan, kurang lebih showcase itu akan diadakan dalam kurun waktu 3-4 bulan lagi ku rasa.
Namun sore ini saat aku akan menuju ruang seni, tiba-tiba kulihat seorang gadis yang berasal dari kelas lain memanggil seseorang dari kelasku. aku kenal gadis ini, Wendy Son, dia salah satu teman ekstrakulikuler ku. aku pikir dia mencariku, namun aku salah. Gadis itu menghampiri Sehun dan membuat aku bertanya-tanya kenapa. Untuk sesaat ku lihat Sehun hanya diam mendengarkan ucapan Wendy dengan alis yang agak bertaut. Namun tak berapa lama Sehun dan Wendy keluar dari kelas jadi aku mengikuti mereka. Wendy dan Sehun menuju ruang seni.
"Ah! Oh sehun kemarilah!" ucap pak Daeseong penuh semangat, "Wah, Jongin juga sudah datang ya!" ia berbalik menatapku, Sehun pun berbalik menatapku. "Apa?" aku tanpa ragu masuk kedalam ruang seni menghampirinya, kemudian duduk di atas bangku piano.
Aku meliriknya malas, tanpa semangat jariku mulai menyentuh tuts piano sambil sesekali melirik malas pada Sehun.
"Jongin, aku minta perhatianmu sebentar." ucap pak Daeseong terdengar lebih tegas, jadi aku mengalihkan tatapanku padanya.
"Kau pasti bertanya kenapa aku memanggil Sehun kemari, jadi seseorang kenalanku salah satu guru dari sekolah mu saat SMP Oh sehun, dia adalah temanku…" pak Daeseong menatap Sehun yang terlihat tak tertarik dengan semua ini.
"Dia bilang kamu bagus dalam menyanyi tapi aku tak tau kenapa kau tak menyanyi lagi, oh omong-omong aku pernah melihat videomu saat kau tampil untuk pentas seni sewaktu SMP."
Aku diam-diam menggelengkan kepalaku tak percaya, "Heol, Yang benar saja. Berandalan ini hanya bisa memukul orang." gumamku yang langsung di balas tatapan tajam oleh Sehun. "Aku bisa mendengarmu, Kim!" ucap Sehun padaku. Sial, dia mendengarnya.
Pak Daeseong menggelengkan kepalanya. "Sepertinya kalian tak terlalu dekat ya padahal sekelas, Sehun boleh tunjukkan padaku bakat mu? Aku ingin sekali mendengar Jongin dan kau menyanyi bersama untuk showcase nanti."
"Apa! Tidak! Dia bahkan bukan anggota paduan suara!" Aku berseru tak terima.
Sehun tersenyum miring, "Aku setuju dengan mu, Kim. Aku pun tak berniat untuk hal ini. Aku akan pergi. Pak Daeseong kau lihat sendiri murid mu juga tak menginginkannya."
Tapi pak Daeseong terlihat tidak peduli dengan protes ku, "Jongin, kau berhak berpendapat tapi tak berhak melarang keputusan guru. Bagaimanapun jika hasilnya baik, tentu saja bukan hanya kau, atau aku yang bangga." Pak Daeseong menghela nafasnya.
Sehun berjalan menghampiriku, "Kau dengar? Gurumu yang menyuruh ku jadi bisa minggir! Memang kau pikir piano ini milikmu." ucapnya ketus membuatku mau tak mau beranjak sembari mengepalkan tangan ku.
"Baiklah, saya akan menyanyikan sebuah lagu, tapi untuk masalah tampil di showcase aku akan pertimbangkan lagi nanti." pak Daeseong hanya mengangguk mendengar ucapan Sehun.
Jadi sore itu ku dengar piano mengalunkan nada lembut yang berasal dari jari-jari Sehun, sebuah musik yang tak asing. Ada sedikit nada dan kunci yang diubah membuatku bertanya, intro lagu apakan ini.
Sampai sesaat kemudian ku dengar Sehun mulai bernyanyi, "To be young and in love in New York City, To not know who I am but still know that I'm good long as you're here with me."
Mataku membulat, bibirku sedikit melongo tak percaya. Sesaat baru ku sadari dia menyanyikan lagu milik Lauv yang berjudul I Like Me Better. Jari-jari itu, nada, dan suaranya terlihat begitu…
Aku benci mengakuinya tapi ini indah seperti ia sedang menyanyikan lagunya sendiri.
"To be drunk and in love in New York City
Midnight into morning coffee
Burning through the hours talking
Damn, I like me better when I'm with you"
Ku lihat matanya melirikku dengan sombong sembari bibirnya masih bernyanyi.
Suara Sehun begitu lembut, diiringi dengan dentingan piano yang tepat membuat pak Daeseong bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya.
Aku benci!
Seperti ia lagi, lagi memukulku tepat di wajah saat ini.
Aku benci merasakan perutku yang tiba-tiba terasa penuh oleh kupu-kupu saat mata kami bertatapan
Aku benci merasakan wajahku yang terasa panas.
Hal aneh ini terjadi, debaran jantungku terasa tak normal. Aku benci!
Aku bahkan tak menyadari saat Sehun sudah selesai bernyanyi, pak Daeseong menepuk bahuku membuatku kembali ke kenyataan.
"Aku harusnya bertemu denganmu lebih awal Oh sehun." pak Daeseong menghampiri Sehun dan menatapnya penuh harap.
"Setelah melihatnya sendiri, kau benar-benar harus tampil di showcase."
Sehun bangkit dari kursi piano dan berdiri menatapku. "Bukankah bagus, Jongin. Ku rasa kali ini kau takkan meragukannya." lanjut pak Daeseong.
Aku tak tau harus berkata apa. Perasaanku saat ini benar-benar tak bisa ku mengerti, bagaimana aku bisa bersemu dan merasa kesal secara bersamaan saat Sehun memandangku dengan wajah angkuhnya.
"Aku.. aku tak tau pak Daeseong, aku izin pulang kali ini. Perutku sakit." Ucapku cepat dan tanpa menatap kebelakang lagi aku berlari meninggalkan ruang seni.
Satu hal yang pasti, aku tau ada yang salah dengan perasaanku, ada hal aneh yang terjadi saat aku menatap Sehun, menatap laki-laki itu. Dan aku tau ini salah.
Dear diary, hari ini aku begitu ragu melangkah memasuki kelas, tubuhku seolah tak ingin ada di sini. Jiwaku pun ikut memberontak. Jadi aku mematung di depan pintu.
semalaman aku tak bisa tidur, kejadian sore itu masih terlintas di pikiranku, aku tak ingin bertemu Sehun atau pak Daeseong. Beruntung jadwal ekstrakulikuler hari ini kosong, tapi sial aku malah melihat wajah itu begitu memasuki kelas.
aku tak ingin melihatnya atau menatap wajahnya. aku tak ingin merasakannya perasaan salah yang menjijikkan itu lagi. Jadi aku memalingkan wajahku dan langsung menundukkan wajahku di meja.
"Kau terlihat tak baik, Kim." itu sapaan pagi yang ku dengar dari teman sebangku ku, Lee Taeyong.
aku menghela nafas panjang. "Pak Daeseong meminta si berandalan Oh sehun itu untuk duet denganku di showcase sekolah besok, kau tau dia memintanya secara pribadi." ucapku tanpa basa-basi.
mata Taeyeong membulat untuk sesaat. "Ah, tentu saja. Aku satu SMP dengan bocah itu, dan sejujurnya aku tak terlalu heran jika pak Daeseong ingin dia tampil di showcase."
"Tapi bagaimana aku bisa bernyanyi dengan anak yang membuat hidung ku berdarah dan bahkan tak meminta maaf sama sekali, benar-benar sialan!" nada suaraku meninggi. Taeyong mengendikkan bahunya. "Aku turut prihatin, bro. Tapi setidaknya biar ku beri tahu, Sehun sebenarnya bukan anak yang sebrengsek itu. Cobalah berteman dengannya."
Saran yang tidak masuk akal. Begitulah pikirku. "Sudahlah Tae, aku benar-benar tidak mood." Aku menundukkan wajahku di meja lagi, hingga sesaat kemudian ku dengar suara orang yang paling tidak ingin ku temui pagi ini memanggilku.
Oh sehun berdiri di depan mejaku masih dengan tatapannya yang menyebalkan. "Ikuti aku! Aku harus bicara."
Sial, dia pikir dia siapa. Bersikap seolah-olah dia bos di tempat ini. "Fuck off, Bastard!" aku mengacuhkannya. Dan ku tau dia tak suka.
"Kau mau aku menyeretmu, hah? Aku meminta mu baik-baik dan kau mengumpatiku." Nadanya mulai terdengar tak sabar. Mata anak-anak di kelas kami mulai memandang ke arahku.
"Ikutilah, Jong. Kau tak suka perhatian kan." Bisik Taeyong, yang akhirnya membuatku beranjak dari tempat duduk. Dia benar, aku tak suka perhatian.
"Jika itu tak berguna aku bersumpah akan membuat rahangmu patah, Jung." Aku berbisik sembari mengikutinya yang menyeringai.
Kami berdiri berhadapan di dekat ruang ganti anak laki-laki. Aku menatapnya tak suka, menunggu kata sialan yang akan keluar dari mulutnya.
"Aku tau kau tak suka dengan pak Daeseong yang memilihku untuk ikut showcase."
"Tapi kau tau, saat kau pulang kemarin pak Daeseong berkata padaku, jika kau menolak bisa saja pak Daeseong menggantikanmu dengan orang lain untuk bernyanyi denganku. Dan kau mungkin hanya akan dapat jatah bernyanyi dalam grup paduan suara. Ah, kasarnya sih ku rasa dia lebih berusaha mempertahankan aku daripada kau." Mataku membulat tak percaya, dadaku bergemuruh marah, sebenarnya aku tau pak Daeseong ini memang guru yang sedikit pemaksa tapi tak ku sangka dia merubah rencana semaunya. Aku tak bisa kehilangan kesempatan tampil di showcase kali ini!
"Biar ku tebak, kau pasti tak terima kan? Karena ku dengar saat showcase besok banyak produser dari agensi hiburan datang untuk mencari trainee baru, bayangkan jika mereka melihatku… Bukankah kau akan di acuhkan hmm? Ku dengar kau sangat ingin jadi penyanyi." Sehun tersenyum licik. Aku benar-benar benci anak ini. Aku juga benci pak Daeseong.
"Akan ku tunjukkan…" Aku mengepalkan tanganku. Ku tatap matanya tajam. " Akan ku tunjukkan kau tidak bisa merebut posisiku!"
Begitulah yang aku ucapkan sebelum meninggalkan Sehun sendiri di lorong ini.
Lusa akhirnya datang, hari ini Sehun resmi bergabung dengan kelompok paduan suara, pak Daeseong begitu berseri-seri menatap Sehun yang melatih vokalnya. Ah sialan, kalau bukan karena aku ingin di lirik para produser itu aku takkan sudi berada di sini.
Pak Daeseong tak henti-hentinya memuji Sehun, tentang betapa bagus teknik vokalnya, betapa dia mampu mencapai nada yang sulit, dan lainnya.
Berbeda denganku hari ini aku tak terlalu bisa fokus, pikiran ku begitu bercabang, aku ingin latihan dengan baik tapi jika amarahku terus menggebu-gebu seperti ini aku tak yakin bisa melakukannya.
"Jongin, hentikan! Pitch mu sangat buruk, tidak biasanya kau seperti ini, bukankah Sehun sudah memberi contoh dengan sangat baik? Apa kau ingin menyerah? Hentikan saja kalau kau tak ingin melakukanya!"
Harga diriku terhina. Ini kesekian kalinya pak Daeseong memarahiku, benar aku tak bisa latihan seperti biasanya, tapi jika dia terus memperhatikan Sehun lebih dari murid ekstrakurikuler nya sendiri, aku tak cukup bisa menerimanya. Ku gertakan gigi ku menahan amarah. Aku berusaha menahan mataku yang mulai terasa panas.
Tanganku mengepal, benar-benar ingin menghancurkan segala hal yang ada di sini.
Ku dengar pak Daeseong menghela nafas panjang, " Istirahat 20 menit. Saat aku kembali ku harap teknik vokal mu jadi lebih baik, Jongin." Itu yang di katakan sebelum ia meninggalkan ruang seni.
Make it the wrong thing right.
Hari ini berjalan lebih berat dibanding biasanya, tak banyak perkembangan dalam latihanku, rasanya melelahkan, menyesakkan, dan mengecewakan. Pak Daeseong bilang walaupun kami masih punya waktu cukup lama untuk berlatih, namun jika beberapa kali latihan aku tak mengalami banyak peningkatan semuanya takkan berakhir baik terutama untukku.
Bagaimana aku bisa menjalaninya dengan baik kalau rasa kesal ku pada Sehun terus saja menggelayuti pikiran.
Aku berjalan tertunduk sambil menggenggam tali tas ranselku. kuhela nafasku yang terasa berat. Sesampai nya di halte bus, aku lebih memilih duduk termenung untuk sesaat, aku berusaha menjernihkan pikiranku.
jika aku berbaikan dengan Sehun apakah semuanya jadi lebih baik? begitulah, pikiranku bercabang, aku mengacak rambutku frustasi, tak peduli bus yang seharusnya ku naiki sudah datang aku memilih melewatkannya.
Tanpa ku sadari hujan turun dengan cukup deras tiba-tiba. menyebalkan! kenapa saat seperti ini aku bahkan tak membawa payung! Argh! benar-benar hari yang sial untukku.
Tanganku menggigil kedinginan. Aku benar-benar lelah, dan entah sejak kapan mataku mulai terasa panas lagi mengingat semua yang terjadi hari ini.
Aku berusaha menahan air mataku supaya tidak menetes. Demi Tuhan, apakah hari ini tidak bisa lebih buruk lagi? Aku ingin mengumpat pada Tuhan.
Dan tepat setelah itu, ku lihat seseorang dengan seragamnya yang setengah basah menghampiri halte, dari seragamnya ku tahu dia anak sekolahku, aku meliriknya sesaat dan ya dia Sehun. Terimakasih untuk kesialan hari ini Tuhan.
Dia menatapku tanpa minat kemudian duduk di sebelahku, "Menangis karena dimarahi habis-habisan oleh pak Daeseong hari ini, Kim? Ckck.. Kau bahkan lebih buruk dari dugaanku."
Nadanya terdengar sinis. Aku berusahalah mengacuhkannya.
Ku tahan air mataku karena tak ingin terlihat lemah, sial. saat seperti ini kenapa bus nya bahkan tak kunjung datang.
"Mengacuhkanku huh? Kenapa menangis untuk kesalahan mu sendiri. Kamu berlatih dengan menahan rasa bencimu padaku dan sekarang kau bersikap seolah paling tersakiti di sini? Apa kau tak pernah mendapat kritik seumur hidupmu huh??" lanjutnya. Persetan, aku tak tahan lagi.
"DIAM KAU Oh sehun!" Nafasku naik turun karena amarah yang ada di ubun-ubun. Tak tahukah betapa keras aku berusaha? Kenapa dia berkata seolah-olah dia begitu layak menghakimi ku.
"KAU… kau bahkan tak pernah meminta maaf padaku setelah kau membuat hidungku berdarah, benar aku minta maaf karena telah menonjokmu lebih dahulu. Tapi sebelum itu, apa aku pernah mengganggumu?" Tanpa kusadari air mata yang sedari tadi kutahan mengalir begitu saja.
Aku menangis terisak-isak. Sehun hanya terdiam menatapku.
"Aku… Aku juga ingin bernyanyi dengan baik sepertimu, tak banyak yang bisa ku lakukan tapi bernyanyi adalah satu-satunya hal yang kusukai. Melihat pak Daeseong begitu memujimu padahal kau bahkan bukan resmi anggota paduan suara, kamu pikir apa aku tidak iri?"
"Bahkan menangis di depanmu seperti ini sudah cukup memalukan… Kau mau membuatku lebih buruk lagi?" Aku menyeka air mataku yang terus menetes di hadapannya.
Aku mengangkat kepalaku. Melihat Sehun tersenyum. Bukan senyum menghina. Bukan senyum meremehkan seperti biasanya.
Kulihat perlahan tangannya terulur. Dia mengacak rambutku, dan ku rasakan efek kupu-kupu berterbangan seperti saat itu. ini salah! Ini salah karena ku rasa dadaku mulai terasa hangat.
"Seharusnya kau meluapkan emosimu sedari tadi, Kim. Rasanya lebih baik melihatmu mencaciku, dibanding melihatmu diam seperti tadi."
Aku menepis tangannya. "Berhentilah bersikap sok baik! Kau memuakkan, Hun!" Aku berlari menembus hujan. Aku merasa dia mengikutiku, benar saja sesaat ku rasa dia menahan tanganku.
"Apa aku sebegitu brengseknya di matamu? Huh!" Sehun menatapku dengan tajam.
"Aku minta maaf untuk waktu itu, Kim. Aku tak pandai dalam pertemanan. Kau tau aku begitu ingin bersikap baik dengan semua orang tapi tak mudah karena… sekalipun aku jelaskan tak semua orang bisa mengerti. Tapi melihat kita memiliki hobi yang sama, aku pikir kita bisa berteman tapi ku rasa kau juga menganggapku begitu rendahan. Sepertinya aku salah mengerti kau." Sehun melepaskan genggaman tangannya. Ku lihat punggungnya menjauh, dan ku rasa, kali ini aku lah yang membuat nya kecewa.
Pagi ini, lagi-lagi aku seolah tak bersemangat pergi ke sekolah. Setelah kemarin aku tak tahu harus bersikap bagaimana dengan Sehun.
Dengan ragu aku melangkah memasuki kelas, dan saat itu jugalah mata kami bertatapan, dia memalingkan wajahnya dariku. Aku ingin memanggilnya tapi bibirku kelu. Aku tak terbiasa menghampiri orang lebih dulu, dan aku tak ingin orang-orang berbisik tentang kami. Jadi seharian itu aku berusaha mencari saat yang tepat untukku sekadar meminta maaf tapi kurasa waktu tidak mengizinkan.
Sehun terus mengacuhkanku sekalipun dia tahu kami tengah berada di situasi yang memungkinkan untuk sekadar bicara berdua.
Ah jadi begini rasanya, saat mengatakan hal baik begitu sulit, dan hal buruk lebih mudah di katakan, aku mengerti sekarang rasanya menjadi Sehun saat orang-orang menganggap dirinya tak lebih dari sekadar biang onar.
Aku mengutuk diriku sendiri, tak tau ini sebenarnya salah siapa. siapa yang memulai dan siapa yang harus mengakhiri.
Perutku lapar tapi aku tak ingin makan, kepalaku pusing tapi aku tak bisa berhenti berpikir. Menyendiri seperti ini di atap sekolah terasa cukup membantu walaupun aku masih merasa frustasi
Tubuhku terlonjak saat ku dengar pintu terbuka, dan langkah seseorang mendekat. Ku lihat Sehun di sana, aku tak tau tapi tiba-tiba aku ingin sekali berlari ke arahnya. Menjelaskan begitu banyak hal, mungkin begitu banyak kesalah pahaman di antara kami.
Tapi masih seperti tadi, bibirku hanya bisa membisu. Aku mematung sampai ia berdiri di sampingku.
Jantungku berpacu lebih cepat, saat mata kami bertatapan, di antara bibirnya terselip sebatang rokok belum dibakar. Sehun kemudian mengapit batang rokok itu dari bibir ke tangannya. Bibirnya lagi-lagi menyeringai.
"Apa? Mau mengadukanku ke guru bimbingan karena aku merokok?"
Mataku membulat. Alisku tiba-tiba berkerut. Lihatlah, dia selalu memulai percakapan yang seolah-olah ingin mengajakku untuk berkelahi.
"Berikan aku sebatang!" ujarku cepat. Ku dengan Sehun terkekeh pelan mendengar ucapanku. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, beserta pemantik. Aku mengambil batang rokok itu dengan ragu-ragu. Ku dengar merokok bisa merusak pita suara tapi, akan lebih memalukan kalau aku tiba-tiba membatalkan permintaanku.
"Jangan lakukan jika memang tidak pernah merokok." ucapnya pelan, aku meliriknya sembari mengambil sebatang rokok darinya.
Sial, aku bahkan belum pernah mencoba merokok.
Ah apa boleh buat, daripada menanggung malu. Begitulah pikirku. Aku mengapit rokok di antara bibirku, Setelah Sehun menyalakan rokok nya, ia kemudian membakar rokok di antara bibirku dengan pemantiknya. Mata kami kembali bertatapan dan lagi-lagi ku rasa… Ini tidak normal dan salah. Degup jantung di antara dadaku.
Jadi perlahan aku menghisap lintingan nikotin itu, sembari membuat normal kembali degup jantungku.
Ini pertama kalinya aku merokok tapi aku tidak terbatuk-batuk, dan kurasa ini tidak begitu buruk. Sehun terkekeh melihat bibirku mengebulkan asap kelangit.
"Hey, tak begitu buruk kan? Tapi ku sarankan jangan sering-sering. Bisa-bisa suaramu menjadi lebih buruk dari kemarin." Dia mulai menggodaku lagi, dan entah kenapa kali ini rasanya dia terlihat lebih bersahabat.
Aku mengetukkan puntung rokok itu ke lantai, "Kau memperingatkan aku seperti itu, sedangkan kau sendiri masih menghisap rokokmu. Telan saja asap rokokmu sendiri Hun." Balasku. Lagi-lagi bocah itu terkekeh menanggapi ucapanku.
Tanpa kata-kata lagi, dalam diam aku dan Sehun tenggelam dalam pikiran kami, aku tak tau mulai dari mana tapi aku harus mulai bicara. Jadi saat batang rokokku sudah mulai pendek aku membuangnya ke lantai kemudian mulai menatap Sehun dengan serius.
"Aku minta maaf, untuk ucapan ku saat ini atau kemarin." Aku menunduk, entah kenapa aku begitu malu untuk menatap matanya.
"Aku bahkan tak pernah mau mengerti kau orang yang seperti apa tapi terus menghakimi mu diam-diam. Benar-benar ironi, aku sakit hati saat orang lain mengakimi ku tapi aku selalu menghakimi mereka lebih dulu." Lanjutku lagi.
Langkah Sehun mulai mendekat. Dia sudah membuang rokoknya kemudian mengacak rambutku. Seperti kemarin, dan aku tau lagi-lagi jantungku bertingkah di atas ambang normal.
Ini salah. Kesalahan yang tak bisa ku hentikan karena aku akui, perasaan ini begitu menggelitik dan menyenangkan. Seperti candu.
"Terima kasih sudah mengungapkannya, Kim. Dan kau tau jangan dengarkan omong kosong Daeseong. Kau pantas, dan kau tidak seburuk itu, maaf juga untuk segala hal buruk yang ku kataka padamu selama ini." Sehun menepuk bahuku. Rasanya semua beban yang ku pikul melayang ke udara. Bahuku terasa begitu ringan, sinar matahari jauh lebih cerah, senyuman Sehun… Dia begitu hangat. Dia benar-benar seperti pria gentle yang ada di film-film. Benar-benar pikiran yang bodoh.
Bukankah ini normal ketika aku memuji teman laki-laki ku ketika inilah kenyataannya?
Sehun berjalan melalui, kulihat punggungnya menjauh, kali ini tidak terasa sakit seperti kemarin. Ia berbalik dan kembali tersenyum.
"Sampai jumpa di latihan berikutnya, tapi ku harap kau tidak jadi pecundang seperti kemarin."
Aku mengangguk, dan tanpa kusadari tanganku melambai ke arahnya.
Dadaku terasa hangat oleh semua atmosphere ini. Oh sehun, ku rasa… Kali ini kita bisa jadi teman. Begitu pikiriku.
