NO MARRY


.

AU!Modern Lifehood, Strangers

.

Warning!Typo, Cliché, Omegaverse

.

Triggered!Dark-past(Rape, Abortion, Human Trafficking, Trust Issue)

.

Jurnalist!Max Gleenred x Novelist!Ash Lynx (Ashlan Callenreese) – Banana Fish

.


[You found me dressed in black, Hiding way up in the black,

Life had broken my heart into pieces.

You took my hand in yours, You started breaking down my walls,

And you covered my heart in kisses.]

SIADressed In Black


1| Confession


"I tought life passed me by, missed my tears ignore my cries, life had broken my heart my spirit, and then you crossed my path, you quelled my fears, you made me laugh, then you covered my heart in kisses."

Mendengar nada dering panggilan tersebut, Ash menghentikan sesi tanya jawabnya dengan jurnalis yang hendak melemparkan pertanyaan selanjutnya padanya. Menampilkan senyum palsu dan meminta izin untuk mengangkat telepon tersebut, Ash memasuki ruang kerjanya dan tak lupa untuk mengunci pintu. Beruntung, diantara semua ruangan di apartemennya, ruang kerjanya adalah salah satu ruangan yang kedap suara, sehingga apapun yang akan ia bicarakan dengan seseorang yang repot-repot menelponnya bahkan di jam sibuk kerja seperti ini, lelaki tersebut tak akan sungkan untuk berteriak mengaum layaknya singa yang istirahatnya terganggu.

"Apa maumu?"

("Aku mau tahu kalau kau tidak sedang bercanda saat mengatakan hal itu kepada Shorter, Ashlan Callenreese.")

"Mengatakan apa? Ada banyak hal yang kukatakan pada Shorter, Eiji." Ash melemparkan dirinya ke beanbag Aquamarine yang ada di sudut ruang kerjanya. Mengerti arah pembicaraan Eiji tetapi berpura-pura tidak tahu menahu. "Repot-repot menghubungiku di jam sibuk kerja dan bahkan memanggil nama lengkapku segala."

("Dengar, aku tidak peduli dengan preferensi seksual orientasimu dan kriteria pasangan idamanmu—Oh, dan mungkin aku juga tidak peduli jika kau memiliki fetish seksual yang aneh tidak terkira, dan aku juga tidak peduli jika kau akan menemukan pasanganmu ketika kau sudah tua renta,") Ash meremat-remat bantal beludu yang ada di dekapnya, berusaha mengontrol emosi untuk tidak mencela Eiji yang dalam mode cerewet selayaknya ibu-ibu komplek tukang gosip. ("Tapi katakan padaku bahwa omonganmu tentang 'aku tidak ada minat untuk menikah sampai kapanpun, sepertinya?' pada Shorter lima hari yang lalu adalah candaan yang tidak lucu, Ashlan?")

"Wah, Eiji," lelaki bersurai pirang itu berdecak dan merautkan wajah sinis, "Apa Shorter juga bilang padamu bahwa omonganku itu adalah candaan?"

("…. Tidak.")

Ash mengangguk dan menjentikkan jarinya, "Itu dia!" katanya bernada manis, "Shorter pun tahu jika tidak mungkin aku mengatakannya hanya sekedar candaan murah, benar 'kan, Eiji? Kita sama-sama tahu selera humor masing-masing."

("Tapi, Ashlan, kalau memang kau serius dengan omonganmu, pikirkan apa yang akan orang-orang katakan soal itu—")

"Shh, shh, shh," Ashlan memotong omongan Eiji, "Persetan dengan apa yang orang-orang katakan soal itu." Umpatnya. "Ngomong-ngomong, jam berapa di Jepang sekarang? Kupikir sudah waktunya anak-anakmu tidur, Eiji? Sekarang, bawa anak-anakmu pergi tidur, jangan lupa bacakan dongeng untuk mereka dan sampaikan salamku pada mereka juga lelakimu, oke? Dah." Sesingkat itu, Ash memutus sambungan telponnya walaupun ia tahu bahwa Eiji masih belum selesai untuk berbicara; dan agar Eiji tidak menganggu lagi dengan kembali menelponnya, lelaki itu bahkan repot-repot menonaktifkan ponselnya. Meninggalkannya di ruang kerja pribadinya, sementara ia melanjutkan wawancara dengan jurnalis majalah wanita di ruang tamu apartemennya. Entah sudah yang keberapa kali sejak ia mulai dikenal sebagai novelis muda terkenal New York 5 tahun yang lalu.

Meski begitu, dirinya tidak pernah mempublikasikan diri ke publik bahwa ialah sang novelist muda terkenal yang sedang berada di puncak karir.

Pada novel-novelnya yang diterbitkan dan selalu laris terjual, tidak pernah menampilakan rupa wajahnya melainkan biodata singkat selayaknya para novelis lain dibukunya; alih-alih wajahnya yang terbilang androgini, ia memilih untuk menggantinya dengan karikatur karakter utama fiksi di setiap terbitan novelnya.

Pada tawaran-tawaran untuk menjadi model iklan produk merek terkenal pun, ia bersedia untuk diajak kerjasama apabila mereka setuju untuk tidak menampilkan wajahnya; baik untuk kebutuhan iklan televisi ataupun iklan majalah, Ash hanya akan bersedia memamerkan sebagian lekuk tubuhnya. Oleh karena itu, Ash lebih sering tampil sebagai model iklan pewangi tubuh, atau perhiasan, atau jam tangan, dan setelan pakaian musiman.

Pada tawaran-tawaran dari pihak stasiun televisi yang berusaha mengundangnya untuk hadir di acara-acara jagoan mereka, ia selalu menolak dengan berbagai alasan—bahkan tidak ambil pusing jika karena hal itu namanya mulai terdengar jelek karena dianggap sebagai orang sombong yang tidak ingin bergaul dan sok misterius (pada kenyataannya, justru tingkat kepopulerannya makin meningkat karena siapa yang sangka jika ternyata baik pria maupun wanita justru tertarik pada seseorang seperti Ash Lynx yang misterius tidak gampang dirayu?).

Pada jurnalis-jurnalis yang ingin mewawancarainya, ia meminta editornya untuk menahan ponsel atau kamera yang mereka bawa sebelum sesi wawancara tersebut dimulai dan diminta cukup untuk mempersiapkan perekam suara dan keperluan tulis menulis berisi daftar pertanyaan yang hendak diajukan padanya—dan ada beberapa kejadian ketika ia tidak akan menjawab pernyataan yang dirasa cukup pribadi untuk diceritakan kepada publik; Oleh karenanya, orang-orang tidak akan mengetahui apapun tentang Ash Lynx aka Ashlan Callenreese selain apa-apa yang pernah diceritakan di majalah terbitan yang sudah-sudah.

Seperti misalnya, kemungkinan Ash yang seorang lelaki Beta dengan preferensi seksual tidak diketahui, atau pujian-pujian terhadap Ash yang berusia 25 tahun tetapi tampak seperti usia 17 tahun. Ash yang dideskripsikan singkat seorang berwajah androgini dan tidak sungkan bahkan memakai pakaian wanita, apapun jenis, model, dan tampilan pada tubuhnya. Ash yang memelihara sepasang kucing Bengal jantan dan seekor Siberian Husky bermata heterokromia diambil dari tempat penampungan hewan sejak 4 tahun lalu. Ash yang sangat menyukai buah pisang dan justru memiliki ketakutan tersendiri terhadap buah labu; dan hal umum lainnya yang sangat monoton untuk diketahui. Meski begitu, apapun yang diceritakan di majalah itu selalu menjadi sasaran orang-orang untuk mengetahui sekiranya ada informasi pribadi terbaru di sana lengkap dengan foto kenampakan sesungguhnya, dan bagi penerbit majalah, nama dan kisah wawancara Ash Lynx akan selalu menjadi pancingan tepat untuk menaikan penjualan secara drastis.

Tapi Ash masa bodoh, persetan dan tidak ambil pusing dengan kehidupan bak selebritisnya yang sekarang. Baginya, tujuan hidupnya saat ini hanya satu: membuang lembar masa lalu, menulis lembar masa depan dan menikmati kesuksesan dengan aturan mainnya. Jika cara untuk mempertahankan tujuan hidupnya adalah dengan untuk tidak menikah, maka Ash akan melakukan hal itu tidak setengah hati. Maka dari itu, ketika ia memberitahu keputusan untuk tidak menikah tersebut kepada Shorter, ia tahu betul bahwa Shorter mengerti jika omongannya bukan sembarang omongan layaknya pemabuk berat.

Ash masih ingat air muka Shorter ketika ia mengatakan itu: kacamata hitamnya yang melorot sedramatis itu, ia yang tersedak Starbucks Machiatto Lattenya, dan wajah dongonya selama lima menit tidak peduli bahwa air liurnya menetes menjijikkan di meja makan mereka bekas tersedaknya. Ash masih ingat sensasi tubuhnya yang ringan ketika ia tertawa lepas melihat reaksi Shorter yang kartunis sekali.

"Dengar," Shorter mulai memberikan saran terkait keputusannya. "Aku merasa jika kau yang mengatakannya maka kau benar-benar memegang perkataanmu itu. Tapi, Ashlan," lelaki berambut Mohawk ungu itu menggelengkan pelan, "Ashlan, rasanya belum pernah aku mendengar bahwa ada seseorang dengan second gender sepertimu menjalankan hidupnya sebagai orang tanpa pasangan hidup? Paling tidak, sepengetahuanku sejauh ini belum ada kejadian seperti itu."

Ash mendengus kesal. Diantara semua hal busuk yang orang-orang perlihatkan padanya, perlakuan merendahkan kemampuannya adalah hal yang paling Ash benci sampai ke akar hati. "Memangnya apa hubungannya dengan second gender ku?"

"Kau pasti tahu," Shorter mengedikkan bahu. "Bahwa orang-orang dengan second gender sepertimu adalah orang-orang yang secara alami memiliki insting besar untuk berkeluarga; jadi, dengan kau berkata seperti itu padaku, ada dua hal yang sedang terjadi: satu, kau menolak insting alamiah second gender mu, dan dua, kau melukai harga diri second gender ku."

Ash mengaduk tidak nafsu Neapollitan Spaghettinya, memandang bosan ke langit seja jingga dengan diiringi arakan awan kelabu. Meskipun apa yang dikatakan Shorter barusan adalah kebenaran umum, tapi bukan berarti Ash diam seribu bahasa untuk mempertahankan keputusannya, "Memangnya kau ingin mengklaimku?"

"Bukan begitu, Ashlan. Maksudku adalah dengan kau berbicara seperti itu padaku—yang kau tahu adalah seorang Alpha, maka secara blak-blakan kau tidak ingin dimiliki oleh orang-orang seperti kami, dan itu cukup menyebalkan kau tahu? Secara alami, sesosok Alpha tidak pernah mendapatkan penolak dari second gender sepertimu."

"Bisakah kita tidak membahas tentang second gender? Aku merasa jijik mendengarnya."

Shorter menggumam, "Baiklah, baiklah, Yang Mulia, apapun yang kau inginkan; tetapi bukan berarti kau bisa membuang jati diri lainmu itu, dan jika kau nekad melakukannya, kau tahu apa akibat yang akan kau hadapi: tubuh dan jiwamu akan rusak, lalu kau akan mati sebagai specimen gagal. Kukira itu bukan akhir dari tujuan hidupmu yang sekarang, benar?"

Ash mengetuk-ngetukkan garpu pada permukaan piringnya, dan suara nyaring itu cukup mampu meredam kekecewaan dan rasa lelah dengan perdebatan tak diinginkan antara keduanya. Lelaki bersurai pirang itu melirik kearah kawan lamanya, yang kini sibuk mengecek sosial media pada ponsel pintarnya. "Kau tahu?" itu berhasil mengundang lirikan penasaran dari lawan bicaranya, "Terkadang kau sangat cerewet seperti Eiji. Rasanya menyebalkan sekali setiap aku mengingat bahwa sepertinya dimomong oleh kalian yang sama-sama cerewet."

Shorter menyeringai kekanakan, "Habisnya, Eiji sudah pulang ke Jepang dan siapa lagi yang bisa mengemongmu sebaik dan serajin dia selain aku? Kau ini sudah kuanggap saudara sedarah sendiri, tahu!" lelaki itu menyingkap helaian rambut menjuntai sebahu yang menutupi pandangan Ash di balik telinganya.

Ash yang mendapat balasan itu hanya bisa tersipu malu dan berusaha menghalau godaan-godaan tentang betapa merah merona wajahnya sekarang dari Shorter.

"Ngomong-ngomong, bagaimana progres novelmu sekarang?"

"Ah, keparat kau! Kenapa kau merusak suasana dengan bertanya seperti itu? Sudah kubilang jika aku terkena writer block sudah hampir tiga minggu!" Ash mencengkram pipi Shorter dan berusaha menyamarkan wajah kesalnya. "Editor sialan itu tidak membantuku sama sekali dan tiap minggu selalu menanyakan progres terus menerus! Barusan kau bertanya seperti itu, rasanya aku ingin mendorongmu jatuh dari balkon apartemen ini."

"Ah, maaf, maafkan aku, Ash!" Shorter berusaha melepaskan cengkraman Ash pada pipinya yang setiap kalimat teruntai dari bibirnya mengakibatkan semakin erat cengkramannya. "Sebagai permohonan maaf, bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang di bar malam ini?"

Novelis muda itu melepaskan cengkramannya, kemudian duduk dan menikmati Neapolittan Spaghetti yang mendingin dan tampak tidak estetis sambil menggumam, "Kau lupa jika mulai besok adalah jadwal mingguan pre-heatku bulan ini? Jadi mulai malam ini aku tidak bisa keluar kemana-mana. Terlebih lagi scent block dan suppressantku habis tidak tersisa."

"Oh, kau benar." Shorter tertawa canggung. "Kalau gitu, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini." Ia mulai merapikan bekas makan siangnya, meletakkannya di wastafel dan tak lupa membuang bungkus makanan yang ia beli sebelum mampir ke apartemen kawan lamanya. "Atau, kau ingin aku membeli scent block dan suppressant untukmu? Kukira klinik terdekat tidak jauh dari sini." Tapi Ash yang menggeleng dan beralasan bahwa editornya malam ini akan mengunjunginya untuk memberikan obat yang sudah ia titipkan sekaligus membicarakan progres novel terbarunya.

Saat itu, Ash sudah pasti yakin bahwa ia tidak perlu repot-repot menyuruh Shorter untuk menutup mulut dan pura-pura tuli mengenai pembicaraan tersebut pada orang lain—terutama Eiji, karena Ash tahu, apapun yang terjadi padanya, Eiji akan menelpon Shorter terlebih dulu mengenai kabar sang novelis muda, termasuk seluk beluk apapun yang Ash ceritakan pada Shorter; dan kemudian barulah Eiji repot-repot menelponnya dengan kecerewetan yang luar biasa.

Ashlan Callenreese pun berpikir, bahwa mungkin itu naluri alamiah seorang ibu Omegan untuk overprotektif terhadap orang-orang yang ia pedulikan dan ia cintai, bahkan mengurusi hal-hal yang tidak perlu sekalipun berkorban untuk menomorsatukan yang lain dan menomorsekiankan dirinya sendiri.

Mungkin karena alasan itulah, dan dengan masa lalunya yang terbilang tragis dan menjijikkan untuk diingat kembali, Ashlan Callenreese memutuskan untuk menutup kenyataan second gender nya kepada khalayak umum, dan tidak akan menikah serta menjalani sepanjang hidupnya sendirian tanpa pasangan.

Selain ia yang selalu ingin dinomorsatukan oleh orang lain termasuk dirinya sendiri, ia juga berpikir bahwa siapa pula yang sudi untuk menjadi pasangan sehidup semati Omega busuk dan rusak seperti dirinya?


.

To be continued

.