Dia dan Teka-Tekinya

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


Chapter 1:

Teater Mimpi vs Tenda Sirkus


Lilin berangka tujuh belas itu tegak di tengah kue stroberi yang merah ranum, menciptakan suasana kontras ketika api jingga keemasannya berpendar-pendar di tengah kegelapan ruang makan ini. Lagu "Happy Birthday" yang terdengar palsu mengalun lembut. Sepasang mata cokelat yang menjadi bintang utamanya menatap lurus menemukan sang ayah tersenyum lebar, dan sedikit ke kiri untuk mendapati ibunya turut mengukirkan garis lengkung sejenis.

"Selamat ulang tahun, Dazai-kun. Bagaimana perasaanmu tentang sweet seventeen-mu?" tanya ayah angkatnya, yakni Mori Ougai yang dengan satu isyarat sederhana menyuruh Hirotsu memotong kue. Dazai belum menjawab. Mata itu lebih dulu pergi menemui kekosongan, pada kursi di sampingnya.

"Biasa saja. Berapa pun umurku itu tidak penting."

"Jangan bilang begitu, Osamu-kun. Meski Oda-san tidak kemari, kau harus mengatakan hal-hal baik," ucap Ougai Kouyou lembut. Satu butir stroberi dikunyahnya sehalus mungkin, mendominasi mulut sang ibu angkat dengan rasa masam yang menusuk-nusuk lidah.

"Lebih penting lagi hadiah apa yang kau inginkan, Dazai-kun? Asalkan kau jangan memintaku membawa Oda-san kemari."

"Bagaimana dengan calon istri? Ibu mengenal beberapa gadis cantik, lho. Kau bisa kenalan dulu."

Beberapa suap yang Dazai masukkan ke mulutnya hanya sebagai pengalih, agar seolah-olah ia memikirkan sesuatu selain kehadiran Oda di ruang makan. Di meja makan ini mereka bertiga adalah pelakonnya–menjalankan tawa serta obrolan kekeluargaan sebagai rutinitas semata supaya selayaknya keluarga ideal, tetapi sesungguhnya belaka sekali–memang terbiasa demikian, atau ia akan tersingkir dari panggung yang membesarkannya itu.

Kenyataannya adalah sandiwara. Sandiwaranya adalah satu-satunya yang menjadi realitas bagi Dazai. Dia muak sekaligus membenci mereka. Menusuk kue di hadapannya hingga bersisa remah-remah semata, seakan-akan ingin menghancurkan Mori sekalian dengan Kouyou.

"Budak."

"Apa, Dazai-kun? Tidak terdengar." Pisau dan garpu berhenti dipakai. Mori meletakkannya di samping piring. Memperhatikan paras Dazai yang tampak temaram, ketika berbekal pencahayaan seadanya.

"Berikan aku budak untuk hadiah ulang tahunku. Itu mudah bagimu, bukan?" Tidak ada yang tidak bisa bos mafia beli, terutama untuk calon penerusnya. Tanpa basa-basi Mori beranjak berdiri. Hirotsu yang memahaminya segera menyiapkan mobil, karena mereka harus tiba sebelum pukul sembilan malam.

Cahaya mobil limosin yang menembus kegalapan garasi, dan laju kendaraan tersebut diiringi radio yang memperdengarkan Lo-Fi mengisi malam milik Dazai, di mana pertama kalinya ia merayakan ulang tahun tanpa eksistensi Oda Sakunosuke.

-ll-

Teringat percakapan dua tahun lalu di tengah-tengah penantian, rupa-rupanya Dazai sudah bosan duduk di bangku merah pada barisan paling belakang ini.

Waktu belum tergelincir malam ini, karena kedatangannya di pukul 20.45 tidak kunjung menjadi 21.00 yang baru merangkak menuju 20.49, membuatnya menguap berulang-ulang. Datang lima belas menit lebih cepat bukanlah kebiasaan pemuda jangkung itu. Luasnya teater, lampu-lampu bercahaya megah, dan tirai merah marun yang masih menutupi panggung Dazai perhatikan lamat-lamat entah berarti apa, selama cahaya di matanya tidak menyala.

Umurnya sembilan belas tahun sekarang. Dazai sudah beberapa kali menemukan, dan membuang budak yang pernah dibelinya, dari memenangkan pelelangan di teater.

Mata serta tubuhnya terlalu hafal akan cahaya menyilaukan benderang ini, walaupun ia selalu menyewa barisan paling belakang. Jiwa mereka–para budak yang ditertawakan takdir–ditelanjangi oleh sinar lampu sorot, memperlihatkan bagaimana keputusasaan menjadi indah dengan menodai hingga melumat hasrat, karena para setan di jajaran bangku yang melemparkan teriakan-teriakan meriah itu menemukan kesintingan yang melebihi diri sendiri.

Jika setan-setan yang menyerukan antusiasmenya ini yang putus asa, maka sangat merusak mata. Namun, apabila budak-budak polos tak berdosa itu yang putus asa, keindahannya menjadi fatamorgana–tampak ada, walaupun sesungguhnya hanyalah kefanaan.

Seseorang yang sejak awal kotor, dibandingkan seseorang yang mula-mula berjiwa putih bersih kemudian pelan-pelan larut dalam hitam–sensasi tersebut jelas Dazai mengerti di manakah letak keindahannya, dan ia ... entah mengapa tak pernah tahu menyukainya atau tidak.

Apakah Dazai membenci sensasi tersebut? Kata Mori ia hanya bosan, sampai-sampai Kouyou ikut menimpali kemudian menyarankan; supaya Dazai berbagi bersama seseorang.

"Yo, Dazai-kun~ Lama menunggu?" Orang yang dimaksud menampakkan batang hidungnya, disusul senyuman lebar yang sering kali menghantam dada dengan kengerian. Dazai diam saja. Pemuda berambut dikepang itu–Nikolai Gogol–duduk di samping kanan Dazai yang terus bergeming.

"Jadi kau sudah mati?"

"Anggap saja aku sudah mati, biar kau tidak bicara padaku."

"Pfttt ... lucu sekali, Dazai-kun. Lagi pula aku memang ingin mencari budak. Lebih-lebih ada produk terbaik yang mereka tawarkan malam ini." Teater yang selalu ramai pun kian padat dari ujung ke ujung. Pintu masuk hampir ditutup. Namun, orang-orang masih tampak berbondong-bondong yang naik ke lantai dua.

"Sehebat apa memangnya? Teater ini jadi menyebalkan."

"Bagi Dazai-kun tidak ada yang sehebat Oda Sakunosuke, sih, ya. Bagaimana kalau dia dijual jadi budak di teater ini? Pasti kau la–"

Moncong pistol Dazai tempelkan pada kening Nikolai yang ekspresinya berubah datar. Penonton di sekeliling mereka bisu saja. Adegan tersebut hanyalah seperti gertakan klasik yang basi–segila apa pun Dazai mustahil ia menembak di sini, atau peraturannya jadi terlanggar–membuat Nikolai sejurus kemudian tertawa kecil. Pundak Dazai ditepuk-tepuk olehnya yang langsung ditepis kasar–dia pasti menjadi baperan gara-gara Nikolai (sengaja) membawa-bawa nama Oda.

"Selamat malam, Ladies and Gentleman! Selamat datang di Teater Mimpi, di mana kami menawarkan budak terbaik yang dapat Anda lihat, kecap, dan nikmati seolah-olah surga ada di genggamanmu."

Pembawa acara berperut buncit yang menyebabkan kancing kemejanya nyaris terlepas mendapatkan tepuk tangan meriah, meningkatkan tensi di sekeliling. Basa-basi sedikit dilanjutkan. Lagi-lagi Dazai menguap, sementara Nikolai berdebar-debar kala tirai dinaikkan perlahan–bersiap-siap dengan papan, dan sebuah spidol hitam untuk menuliskan harga yang ditawarkan sampai mencapai kesepakatan.

Sistemnya adalah lelang. Dimulai dari seratus juta yen hingga miliaran yang berdasarkan pengalaman Dazai, rata-rata ia memperoleh budak seharga 210 juta–paling murah–sedangkan yang termahal yaitu 685 juta. Tubuh mereka diekspos terang-terangan. Tangan diikat rantai. Pelatihnya yang ikut berdiri di atas panggung kemudian menyuruh budak yang diajarnya menari, guna menggoda penonton agar segera dibeli.

Di atas panggung, badan yang masih berisi akan menari meliuk-liuk mempertontonkan lekuk tubuh mereka, usai borgol dilepas. Ekspresinya pun sudah dilatih, supaya hanya memperlihatkan wajah menggoda yang tampak lemah sekaligus rapuh guna merangsang birahi, ketika budak tersebut menatap lamat-lamat ke arah penonton.

"Budak berambut panjang itu kelihatannya menarik. Bagaimana denganmu, Dazai-kun?"

"Aku hanya ingin melihat yang terbaik."

"Berapa miliar yang sudah kau siapkan, huh?" tanya Nikolai menyeringai. Papan harga diangkat tinggi-tinggi. Dengan heboh pembawa acara menyambut pemenang pertama di pelelangan.

"Tidak penting."

"Jangan bilang kau mau menculiknya. Jika 'iya' akan kutolong. Kalau 'tidak' tetap kita culik."

Gila. Dazai mendengkus kasar atas tawaran Nikolai yang serius. Mereka berhenti bertukar kata. Secepat kilat menyambar pelalangan tahu-tahu sudah mencapai akhir, membuat sorak-sorai kian bergemuruh hebat memenuhi teater. Budak terbaik itu memiliki rambut jingga yang halus. Tubuh ramping untuk seukuran cowok, dan pandangannya nyalang menantang sinar dunia–cocok dengan warna matanya yang sebiru laut di lepas pantai.

"Meskipun pembawa acaranya membosankan, kuakui mereka bukan pembohong. Dia benar-benar yang terbaik, bukan? Wajahnya tampan, tetapi di sisi lain memiliki kecantikan tersendiri."

"Iya, ya. Kalau begitu buatmu saja. Anak kayak dia pasti merepotkan." Tanpa menjelaskan maksudnya Dazai bangkit dari kursi yang ia duduki. Nikolai terheran-heran menontoni punggung sang sahabat. Meskipun penasaran berat, ia memutuskan tak menyusul mengingat sebuah alasan.

Mobil yang ia parkir dinyalakan mesinnya. Dalam kecepatan 65 km/jam Dazai membelah jalanan malam menuju sebuah tempat yang informasinya ia beli melalui situs, lalu mengobrol sebentar sebelum mematikan handphone–semenjak Dazai meninggalkan teater Nikolai membanjiri sosmednya, dengan memanggil nama dia atau menuliskan "ping" padahal zaman BBM tinggal kenangan.

Sejak mereka bertemu di usia sebelas tahun, Dazai memang tidak pernah menceritakan apa-apa, bahkan sekadar memberitahu di mana ia sekarang. Sama seperti perasaannya kepada Kouyou dan Mori, percaya menjadi hal yang sulit karena beberapa alasan yang cukup disimpannya seorang diri.

"Selamat malam, Tuan. Apa Anda yang bernama Dazai Osamu?"

Atau mungkin akan diceritakannya, apabila di dalam tenda sirkus tersebut Dazai menemukan budak favoritnya. Agak mengejutkan juga kala sang pemilik–Fyodor Dostoyevsky–menghampiri Dazai yang tengah memarkir mobil asal-asalan. Tamu pertamanya dikawal masuk. Bau darah terhirup di mana-mana yang beberapa di antaranya menampakkan warnanya–berasal dari sebuah sel, tempat seorang bocah meringkuk memegangi perut.

"Kawat di dalam perutnya baru kucabut. Pemilik sebelumnya adalah psikopat." Kemudian dibiarkan meratap, seakan-akan kematian bergegas menjemputnya. Dazai pun menyaksikan pemandangan sejenis di sel-sel lain. Kebanyakan adalah budak sekarat yang luka parah atau sakit, lalu dibuang sang tuan.

"GPS, kah? Tempat ini lebih luar biasa dari yang kupikirkan."

"Kalau dideskripsikan, tempat ini bukanlah seperti Teater Mimpi yang menawarkan budak terbaik. Aku hanya menawarkan budak-budak terburuk. Tuan Dazai bisa melihatnya sendiri, bukan?"

"Tenda sirkusmu itu memiliki konsep yang miring, ya."

"Ibaratkanlah tenda sirkus di perbatasan ini sebagai tempat kematian mereka, setelah dibuang sang tuan. Bukankah lebih baik daripada tergeletak di jalanan? Hal itu bukanlah tanda kebebasan, melainkan membuat mereka jadi tak berarti apa-apa."

"Jadi kau mau bilang lebih baik mereka mati sebagai budak di tempat ini, daripada dibiarkan di jalanan?" Mata merahnya tidak menunjukkan setitik pun simpati. Jelas betul Fyodor mana berharap budak-budak yang dibuang ke sini dibeli "manusia"–hanya membiarkan identitas tersebut dipertahankan, sebagai bentuk kasihan yang absurd.

"Begitulah. Apa kau masih tertarik? Budak di Teater Mimpi lebih menggiurkan, bukan?"

"Enggak juga, tuh~ Meski kuakui budak terbaik mereka memang luar biasa."

"Tidak ada yang bisa diharapkan dari budak-budak di tempat ini. Bahkan meskipun kau membawanya ke dokter, umur mereka enggak akan lama."

Manusia dihancurkan oleh manusia, agar yang menjadi manusia hanyalah satu yang membuatnya tampak berkuasa sangatlah menggelikan. Perjalanan mereka hampir mencapai ujung. Area yang didatangi bertambah gelap saja, ditambah bau busuk yang sangat menyengat yang berasal dari dua mayat–selagi Fyodor membersihkannya Dazai melihat-lihat lagi, lantas berjongkok saat menemukan sesosok remaja yang tertutup bayangan.

"Dia juga sudah mati?" Fyodor yang sibuk memasukkan mayat ke dalam karung menengok sebentar. Pelanggan pertamanya–hanya Dazai yang tertarik membeli informasi tempat ini, kemudian sukarela jauh-jauh kemari–menunjuk seseorang yang tergeletak kesakitan, dengan napas naik-turun di sudut sel.

"Nomor 45587 belum mati. Tetapi, dia punya penyakit paru-paru yang lumayan parah."

"Siapa namanya? Sejenak Fyodor seperti membeku di tempat. Ketika ia kembali melihat Dazai yang membelakanginya, pemilik tenda sirkus merangkap tuan dari budak-budak itu semakin tidak memahami Dazai yang seolah-olah, berada sekaligus berbeda jauh dari pelanggan-pelanggan yang selama ini membeli "barangnya" atas alasan iseng.

"Akutagawa Ryuunosuke."

"Hebat juga kau masih ingat nama-nama mereka, sebelum diberikan kode."

"Jika kau mau membelinya kita bisa diskusikan sekarang. Waktuku terbatas." Tidaklah banyak, mengingat Fyodor harus mengurus mayat budak yang meninggal gara-gara penyakitnya. Samar-samar Dazai tersenyum–ternyata benar tenda sirkus penuh rahasia ini lebih baik ketimbang di jalanan, atau ruang bawah tanah tempat manjikan menyimpan budak, karena ada Fyodor yang mau memperlakukan mereka sebagai manusia, untuk terakhir kali.

"Baiklah. Kubeli dia. Kerja kerasmu betul-betul menyentuhku~"

Sejumlah uang disodorkan pada Fyodor yang tidak diberi kesempatan menyebut harganya, apa lagi menjelaskan ia membersihkan mayat demi mayat untuk kenyamanannya selama mengawasi. Rantai yang mengekang leher Akutagawa ditarik kasar oleh Fyodor. Walaupun tampak kesulitan berdiri, Akutagawa tetap menundukkan kepalanya mengikuti yang Fyodor ajarkan–minimal budak-budak tak tertolong ini bersikap sopan agar sedikit bernilai.

"Fyodor-kun tahu? Menurutku kau mendirikan tenda sirkus ini hanya untuk merawat mereka saja."

"Pergilah. Jika kau masih ingin kemari suatu hari nanti, jangan mengobrol aneh-aneh denganku." Tampaknya lokasi "sirkus" berubah-ubah seiring waktu melangkah. Kunci untuk melepaskan rantai di lehernya Dazai terima dengan mulus. Bola mata Fyodor berputar malas, mendapati Akutagawa disuruh melambaikan tangan.

Rencananya adalah Fyodor akan pindah tiga hari kemudian. Namun, rasa-rasanya besok subuh ia ingin segera pergi. Menyuruh Ivan, Alexander, Nathaniel, dan Oguri, memindahkan budak yang tersisa sedikit sekali, atau tidak jadi karena seorang konglomerat bakalan kemari–bisnis tetaplah bisnis yang mesti berjalan sepanjang yang hidup memerlukan uang untuk bertahan, meskipun budak yang dijual kemari diberi harga terlalu kecil.


Sedari di mobil sampai tiba di mansion raksasa keluarga Ougai, tawa kecil Dazai tak kunjung berhenti mengundang kebingungan dari Hirotsu yang menunggu tuannya berhenti.

Perihal remaja berusia empat belas tahun yang leher, dan tangannya dibelenggu rantai, Hirotsu tahu bahwa dia adalah budak yang akan Dazai bawa. Bagian membingungkan dari Akutagawa hanyalah ia tampak dekil, penyakitan, serta berwajah suram yang bukan tipikal budak Teater Mimpi–bersih sekaligus "sehat" harusnya.

"Osamu-sama?" panggil Hirotsu berniat menghentikan tawa Dazai. Setitik air mata sampai menggenang di pelupuk. Menyadari ia terlalu berlebihan, Dazai buru-buru menghapusnya lantas berdeham, guna meluruskan suasana yang aneh.

"Hirotsu-san mau tahu? Masa dia meminta tinggal di bagasi saat kubawa kemari? Lucu banget, kan, ya? Aku tidak salah memilih Akutagawa-kun."

"Namanya Akutagawa?" Dari atas sampai bawah Hirotsu memperhatikan Akutagawa yang spontan menelan ludah. Dia pasti gugup. Menanyakan dari manakah budak ini berasal bisa dilakukan nanti, karena kelihatannya Hirotsu mesti bersiap-siap menghubungi dokter Yosano.

"Ya. Perkenalkan dia Hirotsu. Kepala pelayan di sini."

"Selamat datang, Akutagawa-kun. Setelah saya menghubungi Yosano-sensei, mari kita bicara soal anak ini."

Selamat datang yang tidak pernah Akutagawa dengar, dan mereka berdua yang memanggil menggunakan namanya–bukan kode panjang yang dicetak di area lehernya memakai timah panas–justru memperparah tremor di sekujur tubuh ringkihnya. Keluarga yang begini adalah yang terburuk–lebih kejam dibandingkan yang langsung mencambuknya di pertemuan pertama, karena Akutagawa dibawa untuk dijatuhkan semakin dalam saja.

Pertama-tama hatinya dijejalkan oleh kebaikan yang hilang darinya, sampai-sampai membuat Akutagawa merasa nasib mulai berubah untuknya. Pada semangkuk sup yang menjadi makanan terbaiknya ternyata obat tidur sudah dicampurkan. Ketika terbangun Akutagawa pun sadar, tuannya sebatas menciptakan mimpi indah yang nyata itu atas sebuah perkataan;

"Tuhan menciptakan manusia dengan dua tangan, kaki, mata, dan telinga, agar menjadi indah. Ketika manusia ingin menciptakan manusia yang lain, dan yang melakukannya adalah orang jahat, mereka cenderung menginginkan ciptaan yang bisa mengabadikan jejak kejahatan."

Tempat terbaik untuk mengabadikannya bukanlah catatan milik kantor polisi, melainkan ingatan seseorang yang dapat menjadikan mereka–dia, mantan tuan Akutagawa–kekal selama-lamanya bahkan ketika dihakimi di neraka.

"Jalanmu lambat banget. Sebentar lagi Yosano-sensei datang, kok. Tenang saja."

Siapa Yosano-sensei itu? Dokter berjas putih dengan senyuman ramah, kah, tetapi sebenarnya bersandiwara yang hanya ingin melampiaskan nafsu birahi saja? Akutagawa juga takut, apabila cairan-cairan aneh dimasukkan ke tubuhnya yang dijadikan lahan percobaan. Sang tuan membawa ia ke sebuah ruangan–mungkin di dalamnya terdapat alat-alat penyiksaan, dan haruskah Akutagawa memohon supaya kakinya langsung dipukul saja daripada di–

"Ayo masuk. Ngapain diam di sana?"

Mendadak Akutagawa melupakan kelanjutan perkataannya, sewaktu menemukan ruangan normal yang diisi ranjang, meja belajar, televisi lebar, serta almari berukuran raksasa. Mendapati kasur single bed yang tidak berubah itu Dazai langsung mendudukinya. Melalui isyarat sederhana pula ia menyuruh Akutagawa menghampiri–paras tuannya tampak menawan disiram separuh cahaya bulan purnama.

"Tentu kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"

Kedua kakinya Dazai buka lebih lebar, memberikan akses pada Akutagawa yang perlahan-lahan berlutut. Jari-jari kurus kerontang itu meraih sabuk yang Dazai kenakan. Melepasnya dalam tempo yang tidak terlalu cepat maupun lambat. Melempar benda tersebut ke sembarang arah, barulah ibu jari bersama telunjuknya menurunkan ritsleting celana hitam Dazai apabila–

"Lakukan dengan benar, oke? Hirotsu-san menungguku di luar untuk menjelaskan tentangmu. Jangan lupa diminum."

Padahal mulutnya dibuka untuk memanjakan sang tuan dengan permainan lidah. Namun, tepat sebelum Akutagawa menurunkan celananya, Dazai justru menyumpalnya menggunakan roti cokelat yang entah sedari kapan ia keluarkan. Bayang-bayang Dazai lenyap ditelan pintu. Tak ketinggalan sekotak susu stroberi diletakkan di atas nakas yang diperintahkan, untuk Akutagawa habiskan secara benar ... kah?

Tetapi Akutagawa tidak melakukannya, karena roti dan susu kotak tersebut belum kadaluarsa–dia sudah tak mampu mengenali kebaikan sekecil apa pun.


Bersambung ...


A/N: Utangku jadi nambah jelas. cuma aku ngebet banget mau bikin fic slave!Akutagawa dan master!dazai. meski ya ini gak akan kek fic2 yang pernah kalean baca, karena aku gak ngambil konsep "dazai membeli budak buat melampiaskan nafsu". untuk chap selanjutnya bakal lebih condong ke fluff, percayalah. bakal dicampur juga ama sedikit angst, sama misteri yang kurasa gak akan terlalu menonjol di sini. buat ending jujur blom kepikiran. tapi di sini aku udah bikin apa tujuan dazai dan apa tujuan akutagawa nanti, makanya semoga bisa tamat meski ada kemungkinan hiatus.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. setiap review yang masuk bakal aku SS kok~