Bukan Aku

.

.

.

"SUDAH KUBILANG, BUKAN AKU!"

"DUSTA!"

Gempa berdiri dengan muka mengalahkan datarnya tembok. Sepulang sekolah, setelah rapat OSIS sampai sore, yang diharapkannya adalah bisa rebahan dengan tenang di rumah.

Bukannya menikmati adu teriak di ruang keluarga begini.

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta(c)

Cover fanart Halilintar dan Solar, oleh Fanlady.

Fanfiction "Bukan Aku" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

AU. Elemental Siblings. Humor-Family. Untuk #DailyDrabbleChallenge (words count: 900).

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

"Kak Hali, Solar, kalian ribut apa lagi, sih?"

Gempa mengurut pelipisnya, masih coba mengontrol emosi. Kedua saudara tertua dan termudanya sontak menoleh.

"BOCAH BLING-BLING INI NGABISIN GEL RAMBUTKU SEENAKNYA!"

"YAELAH, BUKAN AKU, KAK GEM! SUER!"

"WOY! ENGGAK USAH TERIAK-TERIAK KENAPA SIH, KALIAN?!"

Halilintar ngegas, Solar ngegas, Gempa pun ikut ngegas.

"Siapa lagi yang suka ngabis-ngabisin gel rambut kalau bukan bocah sok kecakepan ini, hah?"

Akhirnya sang kakak pertama menurunkan nada suaranya ke titik terendah.

"Fitnah!"

Si bungsu tak mau kalah, walau ia pun terpaksa merendahkan suara, mengingat tingkat keseraman muka Gempa di hadapannya yang udah kayak mau makan orang.

"Udah, cukup."

Halilintar beserta Solar langsung mengucap syukur dalam hati demi mendengar nada suara Gempa yang sudah kembali empuk walau masih agak dingin-dingin.

"Solar." Gempa menatap adik bungsunya dalam-dalam. "Benar, kamu enggak pakai gel rambut Kak Hali?"

"Enggak, Kak. Aku punya gel rambut sendiri. Lagian, gel rambutku itu spesial, tahu. Yah, sama kayak diriku yang berkilauan ini. Nggak level lah, aku pakai gel rambut rakyat jelata kayak punya Hali."

Halilintar langsung naik pitam. "Apa katamu?!"

"Udah, udah, Kak."

Untungnya, Gempa masih sempat menahan Halilintar yang seperti sudah siap menjadikan Solar samsak hidup.

"Memangnya Kakak punya bukti, Solar yang pakai gel rambut Kakak?" Gempa mencoba menengahi.

"Enggak, sih."

Jawaban kilat Halilintar membuat Solar mencibir. "Kan? Enggak jelas banget, main tuduh aja."

"Tapi kalau bukan kau siapa lagi, bocah alay?!"

"Ya bisa siapa aja!" Solar melemparkan pandangan mencela. "Taufan? Blaze? Kalau Ice dan Thorn, kayaknya enggak mungkin, sih."

"Enggak usah nyari kambing hitam!"

"Kau itu yang suka nuduh sembarangan, Halilintar!"

"Bocah ini—"

"KUBILANG, CUKUP!"

Akhirnya, suara menggelegar Gempalah yang cukup ampuh untuk menciutkan nyali kedua saudaranya. Sepasang iris keemasannya menatap tajam, sementara ia meregangkan jari-jari tangannya hingga berbunyi.

"Haaai~"

Sampai seruan riang itu mengisi ruangan yang mendadak terasa berat udaranya.

"Lho? Kak Hali, Gem, Sol? Kenapa kalian? Serius banget mukanya?"

Sesosok makhluk dominan biru meluncur mendekat dengan santainya.

"Kak Taufan, jangan naik skateboard di dalam rumah."

Kalimat penuh ancaman dari Gempa membuat pemuda 15 tahun yang baru datang itu, langsung cengengesan. Gempa menghela napas ketika Taufan setelah itu menenteng skateboard kesayangannya di tangan kiri. Cerita singkat tentang perseteruan petir dan cahaya pun keluar dari mulut Gempa, sementara Taufan manggut-manggut mendengarkan.

"Lho? Sebentar." Kening Taufan berkerut tiba-tiba. "Gel rambut itu maksudnya yang udah lama banget dibeli Kak Hali, yang pakainya diirit-irit supaya tahan lama?"

Halilintar mendelik ke arah adik pertamanya dengan tatapan 'ngapain-buka-kartu-woy-kipas-angin-rusak'.

"Memangnya kenapa, Kak?"

Bertanya Gempa, tepat ketika dirinya menangkap sosok Thorn dan Blaze baru saja datang entah dari mana. Keduanya mendekat, penasaran ada keributan apa.

"Terakhir kali Kak Hali pakai gel itu minggu lalu, pas dia mau ngapelin Ya—"

Taufan disikut. Sekali lagi tatapan tajam Halilintar mengintimidasinya.

"Intinya ... gel rambutnya udah dipakai sampai habis waktu itu, 'kan?" Taufan mengusap-usap lengan kirinya yang tadi kena sikut. Sakit woy, keras banget! "Kan Kak Hali udah rencana mau beli lagi yang baru. Masa' lupa?"

Halilintar tersentak. Lantas mukanya mulai memerah. Sementara, Solar sudah pasang senyum mengejek penuh kemenangan.

"Bwahahahaha ... Kak Halilin udah pikun!" tiba-tiba Blaze ikut campur.

"Kak Hali tua!" Thorn di sampingnya ikut terpingkal-pingkal. "Pantesan udah punya uban! Bwahahahaha ...!"

Keduanya langsung ambil langkah seribu. Seram melihat wajah si sulung yang sudah seperti kepiting rebus.

"WOY! SINI KALIAN, KARPET!"

Gempa cepat-cepat mencekal lengan Halilintar sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

"Kak Hali, language."

Semua yang ada di situ terlonjak kaget ketika tiba-tiba terdengar suara bernada malas entah dari mana. Ternyata Ice, sang kembaran kelima, tengah tidur dengan damai di sofa panjang sambil memeluk boneka pausnya.

"Ya udah, sekarang udah jelas, 'kan? Ini cuma salah paham." Taufan nyengir kuda, padahal kuda aja enggak nyengir Taufan. "Kak Hali minta maaf dong, ke Solar."

"Ogah!" Halilintar menyahut sengit.

Solar terkekeh sendiri, lantas pergi sambil geleng-geleng kepala. Kalau mau tahu, ekspresinya tadi seriusan ngeselin.

"WOY! SINI KAU, BOHLAM LAMPU! KAU MENGEJEKKU, 'KAN!?"

Halilintar mengejar Solar yang bergegas naik ke kamarnya di lantai dua secepat cahaya. Sementara, Taufan mulai cengar-cengir sendiri.

Tak usah diberitahu pun, Gempa paham, kakaknya yang satu itu bahagia. Setelah ini dia bakal punya bahan untuk meledek sang kakak sulung selama berhari-hari. Lihat saja dia, menyusul naik ke lantai dua sambil bersiul-siul mencurigakan.

Dan Ice masih tidur.

Tinggal Gempa seorang diri, merenungkan semua yang baru saja terjadi. Bersama sepi, dan segala serangga yang menyangga.

"Kenapa semua saudaraku nggak ada yang bener, siiih?"

.

.

.

TAMAT

.

.

.


* Author's Note *

.

Hai, haiii~! Pakabar semuanya?

Mencoba nulis humor lagi setelah sekian lama. Apa sudah cukup ancur? XD

Special thanks buat Fanlady yang udah menginisiasi tantangan ini. Juga Blacklist Name yang sudah mempersembahkan prompt buatku. Makasih juga buat Furene Anderson, Harukaze Kagura, Meltavi, dan Nakashima Asuka, yang udah bersama-sama meramaikan challenge kali ini. Silakan nanti kawan-kawan berkunjung ke drabble mereka juga, yah~ ;-)

Stay safe, stay optimist, everyone. Tetap semangat~ :-D

.

Regards,

kurohimeNoir

25.03.2020


.

.

.

Extra

.

.

.

Solar tersentak ketika pintu kamarnya mendadak terbuka. Walau tadinya sedang berkonsentrasi penuh mengerjakan tugas di meja belajarnya, sang langganan juara kelas itu sukses menangkap sebuah benda yang dilemparkan kepadanya.

Gel rambut. Merk yang biasa dipakainya, dengan varian terbaru yang belum sempat dibelinya.

Solar menoleh ke ambang pintu. Abangnya yang beriris merah delima berdiri tegak di sana dengan kedua lengan terlipat di depan dada.

"Apa ini?"

Solar tetap bertanya walau sudah tahu jawabannya. Sesuai perkiraannya, Halilintar tak mau menjawab.

"Permintaan maaf, ya? Oke, kuterima."

Kali ini, Halilintar hanya membuang muka, walau reaksi adiknya sungguh menyebalkan seperti biasa. Selang dua detik, sulung dari tujuh bersaudara kembar itu tersenyum, sangat samar. Lantas segera beranjak pergi.

"Halilintar!" Solar menyeru kakaknya yang sudah menghilang dari pandangan. "Nanti kau boleh pakai juga gel ini, kok. Yah, walau itu enggak akan membuatmu bisa menyaingi diriku yang sempurna ini—"

"ENGGAK BUTUH!"