HALOOOOO MINNA!
Welcome to my first story!
Awalnya sih bikin nih story cuman buat hobi doang. Game, nulis, baca, dan lain-lain dah. (Apalagi lagi aku jarang banget koar rumah, dan sekarang masih korona)
Ini fanfic bukan yaoi or yuri.
Untuk chapter pertama bakal sedikit fast-pace, sama percakapan MC-nya kurang banyak, karena ane maunya dichapter dua langsung jump. MC-nya bakal OP dari awal (Muahahahaha, tetep kalah kalo sama pengalaman dan fisik jadi lawan Orochimaru koid lah), nanti juga Naruto ma Sasuke bakal nyusul powernya (Rikudo dan Rinnegan). Ini juga settingnya AU, pairingnya: OC (MC)x OC (adiknya Sasuke), bisa tambah maks 4 tergantung situasi dan kondisi tapi tetep main pairingnya itu. Pairing untuk karakter lainnya tetep sesuai canon.
Maaf, kalo jelek ya maklum mencoba, maaf juga kalo ada yang typo. Kritik dan saran dibaca ko, jadi silahkan comment.
Oke, selamat membaca. BTW ini fanfic kayaknya bakar rada panjang.
Chapter 1
Dunia Baru... aduh dunia baru
Namaku adalah Aoi.
Seorang programmer terkemuka dari kantor perusahaan game yang sudah tidak asing ditelinga masyarakat.
Setiap hari, suara ketikan computer sudah menjadi sebuah lagu bagi telingaku.
Ratusan hingga ribuan kode-kode dan algoritma sudah menjadi bacaan sehari-hariku.
Kelihatannya enakkan? Tapi kenyataan… kurasa tidak.
Disaat aku sedang menjalani hari-hariku dengan biasa-
*BAK!
Suara bantingan pintu menarik perhatianku. Saat aku berbalik, kulihat disana ada seekor gorila gendut yang hitam nan kribo, dengan urat panteng yang ada di dahinya, tidak dipungkiri lagi si bos sedang marah.
"Oi, saya ingin tahu siapa yang meningkatkan kesulitan didalam game!"
Tuh, kan. Kena dah gua.
Secepatnya aku menarik partikel-partikel kebenarian sebanyak mungkin, aku mengacungkan tanganku dengan gagahnya dan berusaha melawan keringat yang hampir keluar di wajahku.
"Kamu, masuk ke ruangan saya."
"Siap, pak."
20 menit kemudian
Aku keluar dari kantorku, membawa semua barangku yang ada dikantor pulang. Benarkan firasatku. Aku dipecat. Tapi, itu kan bukan salahku! Para client lah yang meminta kesulitan disetiap level ditingkatkan!
Aku yang sekarang sedang menyebrang lewat zebra cross berhenti ditengah-tengah sejenak, lalu dengan satu tarikan nafas yang dalam, "JAAAAAANNNNCOOOKKKK!"
*Tiiiiiiiiiiit
Aku mendengar suara keras klakson yang berasal dari sebuah truk, dan tiba-tiba didalam pandanganku semuanya menjadi gelap. Darah terasa mengalir keluar dari tubuhku bisa kurasakan, suara teriakan histeris orang-orang disekitar terdengar sangat buram.
'Apakah aku akan mati?'
Aduh laknat mati… besok Naruto Shippuden update. Overlord belum diekstrak karena aku adalah tim batch, katanya juga besok manga Domestic na Kanojo update lagi.
Yasudahlah, mau gimana lagi takdir sudah berkata lain. Selamat tinggal, keluargaku, sahabatku, waifuku, dan dunia tercintaku.
Apakah kau menyesali kehidupanmu sebelumnya?
'Suara… apa… ini?'
Apakah kau kecewa dengan dirimu yang dulu?
'Ya… aku sangat kecewa, kesombonganku terhadap kepintaranku ternyata diam-diam menggali lubangku sendiri. Aku terlalu bergantung kepada teori tanpa pernah melakukan praktiknya, aku selalu malas untuk berusaha keras, selalu menunda kesempatan-kesempatan yang ada. Karena itulah, impian dan mimpiku tidak pernah terwujud, dan aku berakhir di dalam dunia pekerjaan yang kejam dan mengikat. Ya, jawabannya aku sangat kecewa.'
Aku telah mengawasimu saat kau menjalani kehidupanmu, ternyata meskipun kau orangnya malas dan sombong terhadap intelektualmu, kau masih seorang yang baik dan dermawan.
'Haha… benarkah? Aku tidak pernah berpikir seperti itu.'
Jika kau ditawarkan untuk menjalani kehidupan baru, apa yang akan kau katakan?
'Menjalani kehidupan baru? Kedengarannya mustahil, tetapi, jika memang aku ditawari hal seberharga itu, yang pasti aku akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang aku buat seperti dulu, aku akan bekerja dan berusaha keras, lebih keras dari yang lain. Setelah itu, aku akan melebihi mimpiku, ja~uh~ melebihi mimpiku.'
Hmmm… menarik. Ohoh! Ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan, kebaikan dan kedermawanan yang kamu miliki di kehidupanmu yang lalu sepertinya patut untuk kuhargai, aku akan memberimu sebuah hadiah yang kuharap akan sedikit membantumu nanti.
Eh?
'Nanti? Hadiah? Apa yang kau bicarakan?'
Selamat menjalani kehidupan barumu, janganlah mengulangi kesalahanmu untuk yang kedua kalinya, kuharap kau bahagia dikehidupan barumu, Sakamaki Aoi.
'Hey-tunggu!'
Setelah itu, cahaya yang sangat terang mulai menyinari pandanganku.
Konoha
1 Januari, lokasi dirahasiakan
"NAMIKAZEEE MINAAAAAATOOOOOOOOOOO!"
Teriakan seorang wanita dengan rambut merah tomat yang panjang dapat didengar hingga keluar desa, untung saja seseorang yang bernama Minato itu sudah memasang sebuah segel peredam suara diruangan yang terlihat seperti ruangan bawah tanah ini.
"A-Ayolah! Sedikit lagi, Kushina-chan!"
Seseorang yang bernama Minato itu terus menerus menyemangati istrinya yang terlihat jelas sangat kesakitan, Minato adalah seorang pria dengan rambut spiky pirang dengan mata biru yang cerah. Sekarang, dia sedang melihat proses melahirkan istrinya, dan dia sekarang sedang bertugas sebagai penyemangat serta alat mencengkram untuk istri tercintanya, dia yakin tangannya akan sangat merah ketika nanti sudah dilepas.
"DIAM KAU! KALAU SAJA AKU TAHU BAHWA MELAHIRKAN AKAN SESAKIT INI AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MELAKUKANNYA!"
"Ayolah jangan seperti, Kushina! Lihat-LAH! AYO SEDIKIT LAGI SAYANGKU!"
Dengan dorongan terakhir, akhirnya proses melahirkan ini selesai, ibu dan bayinya pun selamat. Mendengar tangisan putra barunya, Minato sang ayah baru menangis bahagia karena akhirnya dia menjadi seorang ayah. Kushina yang sudah sangat lelah tetap memaksa kepada para medis yang ada diruangan ini untuk segera membersihkan bayinya dan meletakkan bayinya disampingnya.
"Lihat dia, Minato. Dia terlihat sangat tenang dibandingkan tadi. Apakah kau sudah memikirkan nama untuknya?" Ucap Kushina sembari mengelus-ngelus bayinya menggunakan jarinya.
Minato mendengar ini hanya tersenyum bahagia, dia tidak bisa lagi berkata-kata.
"Tentu saja." Minato dengan segera menggendong anaknya lalu dengan bangga dia berkata, "Selamat datang dan terima kasih sudah datang, Namikaze Uzumaki Kazuto."
Tanpa disadari siapapun, hanya ada satu hal yang ada didalam pikiran Kazuto kecil.
'Hmmnn... Bahagia di dunia Naruto, hebat sekali. Sepertinya nanti aku harus berlatih mati-matian demi menjadi kuat. Anak dari Minato Namikaze, Si Kilat Kuning dari Konoha, aku rasa akan ada baaaaanyak sekali rintangan…'
Setelah kurang lebih 1 minggu berbaring di 'rumah sakit' bawah tanah itu, akhirnya Kushina bisa kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Kali ini aktivitas barunya adalah membesarkan putra tercintanya bersama dengan Minato. Setelah secara Minato dan Kushina secara resmi mengklaim bahwa Kazuto adalah anak kandung mereka, Jiraiya, Sarutobi, Kakashi, teman-temannya, dan seluruh warga Konoha turut bahagia atas kelahiran anak pertama Minato dan Kushina.
Jiraiya tidak bisa lebih bahagia lagi daripada ketika dia dipilih oleh Minato untuk menjadi ayah baptis dari Kazuto.
Minato, setelah dia menjadi seorang ayah sekarang dia sedikit overprotective terhadap keluarganya, dia sampai-sampai memasang segel Fuuinjutsu yang dibuat olehnya sendiri berfungsi sebagai sistem keamanan dirumahnya. Dia membuat berbagai segel keamanan seperti segel pengawasan tamu, dan lain-lain.
Dengan otoritasnya sebagai Hokage, Minato sengaja menaikkan bayaran untuk misi-misi shinobi yang berhubungan dengan Iwagakure, dikarenakan berita tentang anaknya pasti sudah terdengar sampai kesana dan dia tidak ingin keluarganya menjadi target dari musuh-musuhnya. Perang Dunia Shinobi ke-3 memang memberikan kenangan yang pahit bagi Iwagakure.
Bulan demi bulan sudah berlalu, keluarga Namikaze-Uzumaki menyadari perkembangan Kazuto kecil yang terasa lebih cepat dibandingkan anak-anak lain pada umumnya, lantas disini mereka berdeduksi bahwa Kazuto adalah anak yang bisa dikatakan jenius atau bahkan ajaib.
Sebenarnya, mereka hanya tidak menyadari bahwa Kazuto adalah Aoi dari dunia lain yang bereinkarnasi menjadi putra mereka. Tetapi, tetap saja Aoi sendiri mengakui bahwa mereka berdua adalah memang benar orang tua kandungnya. Berkat ingatan dari kehidupannya yang lalu, dia sudah mampu berdiri, berbicara, meskipun belum terlalu lancar, dan berjalan diusianya yang bahkan belum mencapai 1 tahun. Dia juga sudah mampu membaca. Tetapi, sama sekali belum terlalu lancar, dikarenakan meskipun bahasa yang dunia ini pakai sama seperti bahasa sehari-hari yang dia pakai dari dunia lamanya, tetap saja terdapat beberapa perbedaan didalamnya.
Ketika sudah lancar membaca, Kazuto secara diam-diam selalu menyelinap kedalam perpustakaan kedua orang tuanya saat malam. Pertama kali kesana hal yang dia rasakan adalah terkejut dengan kelengkapan buku-buku yang ada diruangan itu, disana dia selalu membaca berbagai macam buku, dan disaat-saat itulah dia juga menyadari bahwa dia mempunyai sebuah kelebihan yang biasa disebut dengan Photographic Memory, kemampuan khusus untuk mengingat dengan tingkat ketajaman yang bisa dikatakan mustahil bagi orang biasa. Kazuto kecil lebih suka berdiam diri diperpustakaan rumahnya, dibandingkan main keluar dan berkenalan bersama teman-teman sebayanya. Buku sudah seperti bagian dari dirinya. Ketika dia ditanya mengapa dia tidak mau main keluar, dia selalu saja menjawab, "Tidak mau."
Dia berpikir, kelebihan yang dia miliki adalah mungkin hadiah yang diberikan suara aneh itu, sebelum dia bereinkarnasi kedunia ini, bukannya sedikit membantu ini malah bisa mengubah drastis kehidupannya.
Berbagai informasi yang mustahil didapatkan oleh anak berumur 1 tahun, berhasil dia dapatkan berkat Photographic Memory miliknya dan juga tentunya berkat jiwa reinkarnasi berumur 24 tahunnya.
Mulai dari sejarah dunia ini, ninja, chakra, pelarjaran kurikulum akademi, dan masih banyak lagi. Tetapi, berkat ini dia juga menjadi sulit untuk melupakan sesuatu yang menurutnya harus dia atasi segera, jika tidak ini akan menjadi sebuah penghalang baginya dimasa depan.
Kazuto jujur saja merasa sangat bahagia sekarang, tetapi sepertinya sedikit dari kebahagiaan itu harus terambil darinya.
xxxxxxx
10 Oktober
Insiden Penyerangan Kyuubi
Didalam sebuah pelindung yang sangat kuat terdapat sepasang suami bersama istrinya yang sedang berbaring lemah ditanah, bersiap untuk menyegel Kyuubi kedalam anak baru mereka yang baru lahir, atau menyegelnya kedalam anak pertama mereka yang sudah berumur 1 tahun lebih itu.
"Minato! Apa kau gila akan menyegel Kyuubi kedalam salah satu anakmu sendiri!" Kushina berusaha untuk membatalkan apa yang sedang dilakukan Minato, dia pribadi tahu bagaimana kehidupan seorang Jiinchuriki, karena dia sendiri adalah mantan Jiinchuriki, dan itu adalah hal yang sama sekali tidak menyenangkan.
Jika Minato benar ingin menyegel Kyuubi kedalam salah satu dari mereka, maka kehidupan salah satu dari meraka akan dipenuhi dengan rasa takut dan dan satunya dipenuhi dengan rasa kebencian.
Jika Kyuubi disegel kedalam Kazuto, mungkin tidak akan berubah, jika memang berubah itu pun hanya akan berdampak sedikit baginya. Namun, tidak untuk Naruto. Dia lahir tepat pada saat Kyuubi menyerang dan para warga Konoha yang menyimpan rasa kebencian terhadap Kyuubi akan berpikir secara satu pandangan yang sama, bahwa Naruto adalah inkarnasi dari Kyuubi dan Kazuto hanya akan menjadi korban luka disini.
Naruto lahir dengan sebuah tanda seperti kumis rubah di pipinya, sedangkan Kazuto sama sekali tidak memiliki tanda seperti itu.
Kushina sebagai seorang ibu tidak ingin anak-anaknya mendapat perhatian yang terbagi menjadi dua.
Tetapi, sayang sekali, Minato yang seperti biasanya keras kepala tidak menghiraukannya.
"Tidak, Kushina! Tidak ada cara lain lagi. Aku akan menyegel Kyuubi kedalam mereka berdua."
"Apa?! Bagaimana kau akan melakukannya! Hanya ada satu Kyuubi disini!" Untuk terakhir kalinya Kushina berusaha untuk membatalkan penyegelan ini.
Minato menyiapkan kunai Hiraishin favoritnya, lalu dengan kecepatan tangan seorang master, berbagai macam simbol-simbol Fuuinjutsu seketika muncul di udara. Kushina mengenali segel yang akan digunakan Minato itu, rasa takutnya hanya malah semakin besar.
"I-itu… JANGAN MINATO!"
"TIDAK KUSHINA! TIDAK ADA CARA LAIN LAGI! Jika aku menyegel Kyuubi kedalam salah satu dari mereka, pastinya salah satu dari mereka yang menjadi Jiinchuriki akan lebih berat menjalani kehidupannya, di lain pihak yang tidak menjadi Jiinchuriki akan ada kemungkinan menjadi seseorang yang dimanja dan sombong dimasa depan karena kau tahu bagaimana sifat para dewan sipil sialan itu. Karena itulah aku mengambil resiko membuat mereka berdua menjadi Jiinchuriki agar mereka bisa bersama dan melindungi satu sama lainnya. Aku mengorbankan hartaku, kekuatanku, tekadku, impianku, nyawaku, lalu segala yang aku punya dan inginkan untuk kedua anakku, Kushina! Kau diam saja disitu dan tunggu ini semua berakhir, aku Namikaze Minato, Hokage Keempat Desa Konoha dan kepala keluarga Namikaze-Uzumaki memerintahkanmu untuk membesarkan kedua anakku dengan kesetaraan, kasih sayang, dan cinta! SHIKI FUUJIN!"
Simbol-simbol yang mengapung diudara itu seketika bersinar, lalu beberapa detik kemudian, dibelakang Minato, muncullah sesosok makhluk yang terlihat seperti Shinigami (Emang Shinigami :v), membawa sebuah pedang kecil ditangannya. Kushina saat ini hanya bisa menangis histeris, dia tidak bisa melakukan apapun lagi karena dia terlalu lemah sehabis melahirkan.
Tetapi dengan dorongan dan kepercayaan terakhir, dengan sedikit chakra yang dia miliki, Kushina menahan Kyuubi supaya penyegelan berjalan lebih mudah menggunakan rantai chakra khusus milik clan Uzumaki.
"TIDAK! TIDAK AKAN PERNAH KUBIARKAN DIRIKU DISEGEL LAGIIIII!" Kyuubi meraung lalu dengan kuku tajamnya berusaha untuk membunuh kedua anak mereka. Kazuto yang sudah bisa mengingat saat ini sangat ketakutan dan melihat semuanya tanpa bisa melakukan apa-apa, dia akan menjadi seorang Jiinchuriki? Ayah dan Ibunya akan mati disini?
Minato dan Kushina secara spontan melindungi anak mereka dengan mengorbankan tubuh mereka sebagai perisai. Minato melindungi Naruto, sedangkan Kushina melindungi Kazuto. Percikan darah yang banyak melumuri wajah kecil Kazuto dan Naruto yang sedang menangis.
"Seperti biasa kau keras kepala… K-Kushina… ack!... ya… mau bagaimana lagi… adakah kata-k-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" Minato yang saat ini dilumuri darah dengan lemahnya bertanya kepada Kushina.
Kushina tampaknya sudah bisa menerima takdir yang diberikan kepadanya.
"Naruto, Kazuto… jangan jadi orang yang pilih-pilih makanan, makanlah yang banyak dan jadilah anak yang besar dan kuat, jangan lupa mandilah setiap hari dan jaga selalu agar tubuhmu tetap hangat. Tidurlah yang cukup dan bertemanlah, tak peduli berapa banyak teman yang kalian miliki, yang penting pastikan teman-teman itu dapat dipercaya, kalau hanya ada beberapa yang seperti itu, tidak apa-apa kok beberapa itu cukup, lalu jangan lupa belajarlah yang banyak. Ingatlah semua orang punya kelebihan dan kekurangan, janganlah kalian iri satu sama lain, diakademi nanti patuhilah selalu guru kalian, lalu jauhilah tiga larangan shinobi, simpanlah uang hasil misi kalian, jangan minum alkohol sebelum kalian berumur 20 tahun atau nanti tubuh kalian akan sakit. Lalu untuk wanita… ya… ibu adalah seorang wanita jadi ibu tak tahu apa yang harus ibu bilang tapi hanya ada wanita dan pria didunia ini, nanti kelak kalian pasti akan memilih wanita, cuman jangan pilih yang aneh-aneh, kalu bisa pilihlah yang mirip seperti ibu. Lalu berhati-hatilah terhadap ayah baptis kalian yaitu Jiraiya, jangan sampai kalian terbawa mesum seperti dia, dattebane… Ingatlah yang paling penting, Naruto, Kazuto… akan ada banyak kesusahan… dan waktu-waktu yang terasa sangat sakit bagi kalian berdua dimasa yang akan datang. Milikilah sebuah impian dan buatlah impian itu menjadi kenyataan. Masih… masih… masih banyak lagi yang ingin ibu katakan kepada kalian, ingatlah kalian berdua adalah saudara, selalu jagalah satu sama lain, menyayangi satu sama lain dan setia membantu satu sama lain. Kazuto kau sebagai seorang kakak harus bisa menjadi pedoman bagi adikmu, lalu Naruto sebagai adik kau juga harus mematuhi perkataan-perkataan kakakmu. Ibu ingin tinggal bersama kalian, selalu bersama kalian, dan selalu menjaga kalian, ibu sangat menyayangi kalian… Maaf, Minato aku tidak mematuhimu tadi dan sekarang aku malah menghabiskan banyak sekali waktumu…"
Minato hanya tersenyum melihat pemandangan didepannya ini. Meskipun Minato sedikit kesal karena istrinya tidak mendengarkannya, tetapi kasih sayangnya sebagai seorang ibu membuat kesalnya itu sama sekali tidak berarti.
"Tak apa Kushina… Kazuto, Naruto… Ini pesan ayahmu jadi dengarkanlah, sama seperti ibumu yang keras kepala dan cerewet tadi, jadilah orang yang hebat, tak peduli kalian akan menjadi shinobi atau tidak, selagi kalian bisa menjadi diri kalian masing-masing, ayah dan ibu akan selalu… selalu menyayangi kalian berdua."
Dengan tenaga terakhir Minato berteriak, "FUUIN!"
Sang Shinigami memotong jiwa Minato lalu menangkap Kyuubi dengan tangannya dan membaginya menjadi 2 bagian, Yin dan Yang. Lalu menyegel Yin kedalam Kazuto dan Yang kedalam diri Naruto. Tanpa sepengetahuan Minato dan Kushina, warna mata kiri Kazuto seketika berubah menjadi warna ungu violet dengan pupil mata persis seperti Kyuubi.
Setelah Kyuubi tersegel Minato dan Kushina mati dengan memeluk kedua anak mereka dan senyuman terakhir yang terukir diwajah mereka tidak akan pernah bisa dilupakan Kazuto.
Diluar Kazuto hanya terdiam, tetapi didalam jiwanya, dia menangis kencang merasa telah kehilangan sesuatu yang sangat tak tergantikan darinya. Ini akan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Segel pelindung yang dibuat Minato hancur dan Kyuubi sudah tersegel, seketika sesudah itu Sarutobi Hiruzen, sang Sandaime Hokage, dan beberapa ANBU datang.
Kesedihan tidak bisa ditahan oleh Hiruzen, begitu pula para ANBU yang ada dibelakangnya.
"Minato, Kushina…" Hiruzen meneteskan air matanya. Para ANBU dibelakangnya memberi hormat terakhir kepada Minato dan Kushina. Hiruzen dan para ANBU yang ada tahu bahwa Minato telah menyegel Kyuubi kedalam kedua putranya.
"Maafkanlah kakek tua yang lemah ini karena terlambat untuk melindungi orang tua kalian. Kazuto," Hiruzen melihat sesobek kertas dikeranjang anak Minato dan Kushina yang kedua, disitu tertulis sebuah nama, "Naruto."
Hiruzen mengambil anak mereka lalu pergi kembali ke Konoha untuk membereskan ini semua. Dan berharaplah siapapun dibalik penyerangan ini, semoga dia tidak bertemu dengannya, kalau tidak, siapapun dia bersiaplah untuk merasakan amarah dari Sarutobi Hiruzen, orang yang dijuluki sebagai Dewa Shinobi saat ini.
Sesampainya kembali ke Konoha, Hiruzen mempercayakan Kazuto dan Naruto kepada ANBU untuk dibawa ke rumah sakit terbaik Konoha untuk perawatan. Saat ini dia harus mencari Jiraiya dan mengatakan apa yang baru saja terjadi secepatnya.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Hiruzen menemukan murid lamanya itu sedang melihat kekacauan Konoha dari atap Gedung Hokage. Merasakan kedatangan gurunya Jiraiya segera menyambutnnya.
"Sensei." Sambut Jiraiya tanpa berpaling sama sekali.
"Jiraiya."
"Minato dan Kushina?" Jiraiya bertanya, meskipun sebenarnya dia sudah tahu kemungkinan yang terjadi kepada mereka berdua, tetapi dia masih ingin tetap menyakinkan pikirnya.
"Mereka berdua sudah tiada." Pernyataan dari Hiruzen ini terasa seperti tombak menusuk kedalam hatinya. Tangisan tak bisa dia tahan lagi. Minato dan Kushina sudah seperti anaknya sendiri, kematian mereka berdua sudah pasti akan terasa sakit baginya.
"Lalu, bagaimana dengan mereka, sensei? Jangan bilang-" Sebelum Jiraiya meneruskannya Hiruzen segera memotong ucapannya.
"Tidak, Jiraiya. Tapi, kau tahu kan… Shiki Fuujin."
Jiraiya terkejut mendengarnya, tidak heran Minato dan Kushina mati, secara teori seharusnya Minato dan Kushina bisa selamat dalam peristiwa ini meskipun kemungkinan besarnya mereka akan mengalami luka yang sangat serius, tetapi mereka berdua sepertinya mempercayakan impian, tekad, dan segala yang mereka inginkan dan miliki kepada kedua putra mereka.
"Aku akan membawa Kazuto, sensei." Hiruzen menangkap sesuatu yang aneh dalam kalimat itu. Seperti ada yang kurang.
"Maksudmu kau hanya akan membawa Kazuto?" Hiruzen ingin memastikannya sekali lagi. Dia masih tidak percaya mendengar perkataan muridnya tadi.
"Ya."
"Bagaimana dengan Naruto? Kau akan meninggalkannya begitu saja? Begitukah maksudmu?" Tanya Hiruzen dengan tajam, amarah sedikit menguasainya saat ini.
"Bukan seperti itu, sensei. Sadarlah bahwa Kazuto-lah yang lebih terancam bahaya sekarang. Dengan matinya Minato dan Kushina, memberi kesempatan kepada musuh-musuh Minato untuk membalaskan dendam mereka melalui Kazuto, karena kita tahu bahwa kelahiran dan datangnya Namikaze Uzumaki Kazuto sudah menjadi berita panas di dunia shinobi. Naruto sendiri bisa saja kita tutupi, tetapi jika aku membawa Naruto bersamaku, aku takut dia akan ikut terancam dalam bahaya nantinya."
Hiruzen memejamkan matanya sejenak, dia berusaha memikirkan cara lain yang lebih halus daripada ini.
"Tidakkah ada cara lain, Jiraiya? Setelah peristiwa ini, aku takit pikiranmu tidak terlalu jernih. Kumohon pikirkanlah sejenak."
"Tidak ada lagi cara lain, sensei. Jika pun ada itu akan lebih berbahaya dan mengancam daripada ini. Tenang saja, aku berjanji akan berusaha menjelaskan dan mengganti segalanya kepada Naruto nanti, saat aku kembali lagi ke Konoha. Pada saat itu aku akan menjamin Kazuto sudah cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri, setidaknya dari para ninja setingkat Genin, atau bahkan mungkin setingkat Chuunin. Sisanya dia akan meneruskan jalan kehidupannya sendiri dan saat itu juga, giliran Naruto-lah yang akan aku bimbing."
Hiruzen menghela nafas panjang, dia berharap ini adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. "Kapan kau akan kembali, Jiraiya? Lalu, kau itu seorang pria, Kazuto masih membutuhkan asupan nutrisi, bagaimana caramu menyelesaikan masalah ini?"
Jiraiya berpikir sejenak, dia sedang berpikir perkembangan Kazuto selama beberapa tahun kedepan.
"Untuk kapan aku kembali, ada baiknya saat Naruto memasuki akademi Konoha atau mungkin di pertengahan akademi, itupun jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ya… intinya, saat itu telah tiba kau bisa memberitahuku melalui pesan seperti biasanya. Untuk kebutuhan Kazuto, sepertinya cara terbaik adalah untuk menyewa seorang wanita atau pengasuh sementara."
Hiruzen mengangguk, dia setuju pada topik akademi, sehebat apapun Kazuto nantinya, dia masih tetap membutuhkan yang namanya pertemanan dan penjalinan hubungan sosial. Untuk penyelesaian kebutuhan Kazuto, dia sebenarnya tidak menyukai solusi itu sama sekali, ini sepertinya cara yang menguntungkan Jiraiya untuk meneruskan penelitiannya.
"Baiklah, aku harap kau tahu apa yang kau lakukan, Jiraiya. Aku akan mengumumkan berita palsu tentang hilangnya Namikaze Uzumaki Kazuto, dan kau kutugaskan untuk mencarinya dan membawanya kembali saat Naruto memasuki Akademi Shinobi. Aku juga akan menutup informasi-informasi penting mengenai Minato dan Kushina, terutama informasi yang berhubungan dengan keluarga dan garis keturunan. Ingatlah hal penting ini Jiraiya. Kazuto adalah keluarga terakhir yang Naruto miliki, dengan dijalankannya rencanamu ini, Naruto tidak akan bisa mengenali saudara kandungnya, dia akan berpikir bahwa dia tidak mempunyai apa yang bisa disebut dengan keluarga. Kau baru saja memutus tali yang terikat itu, Jiraiya, dan kuharap seperti yang kau katakan tadi, semoga kau bisa menjelaskannya kepada Naruto saat kau bertemu dengannya nanti dan menyambungkan kembali tali yang sudah terputus itu."
Jiraiya memberikan hormat kepada gurunya itu. "Aku berjanji, sensei. Tapi, apakah ini tepat untuk membuat berita palsu tentang hilangnya Kazuto?"
"Tenang saja, Jiraiya. Sudah kubilang, biarkan hal-hal seperti itu padaku."
Setelah semuanya jelas, Hiruzen pergi meninggalkan Jiraiya sendirian. Jiraiya disana hanya menatap terbitnya matahari, dia kembali meneteskan air matanya. "Maafkan aku, Naruto. Aku berjanji, suatu hari kalian berdua akan bisa bersama kembali."
Hujan membasahi desa Konoha, kematian Hokage Keempat dan istrinya, menjadi pukulan keras bagi Konoha. Proses pemakaman dihadiri oleh seluruh warga desa Konoha, baik shinobi maupun masyarakat biasa, kesedihan tak bisa mereka bendung. Sebagai rasa hormat warga Konoha kepada Hokage Keempat dan istrinya, mereka memilih tempat terbaik untuk makam mereka berdua. Makam yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang indah.
xxxxx
Didalam Ruang Dewan Konoha
Rapat penting Konoha
Semuanya sangat berantakan. Itulah yang ada didalam pikiran Sarutobi Hiruzen saat ini.
Kematian Hokage Keempat dan istrinya, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Konoha.
Kehancuran yang Kyuubi berikan, sepertinya akan lumayan menguras perekonomian Konoha.
Dan sekarang, para dewan sedang protes, berteriak, dan berkicau tidak karuan seperti seekor burung yang gila.
"DIAM!" Sentak Hiruzen dengan sedikit insting membunuhnya, itu cukup untuk membuat mereka semua diam. Dalam pikir mereka, pastinya tidak ingin membuat orang yang dijuluki Dewa para Shinobi ini kesal.
"Seperti yang kalian tahu, kematian Hokage Keempat menyebabkan kekosongan kekuasaan di Konoha, ini tentunya berimbas buruk pada Konoha. Maka dari itu, aku, Sarutobi Hiruzen, secara sementara waktu akan menduduki kembali kursi Hokage sampai ada seseorang yang layak untuk menerima gelar Hokage selanjutnya, asal kalian tahu saja, sebenarnya Jiraiya bisa saja menduduki posisi Hokage tetapi dia pasti akan menolaknya secara mentah-mentah, lanjut ke topik, apa ada dari kalian yang mempunyai masalah dengan ini?"
Seorang kakek yang banyak dibaluti dengan perban terlihat jengkel, dia tidak bisa mengemukakan kejengkelannya ini karena situasi Konoha yang sedang berantakan. Dia adalah Shimura Danzo, seorang kakek tua yang berambisi menjadi seorang Hokage atau lebih tepatnya seorang Diktator. Dia rela melakukan hal sekeji apapun, jika itu memang menguntungkan Konoha. Dia adalah seorang patriot yang kental. Demi Konoha, dia bersedia melakukan atau bahkan mengorbankan apapun.
Para Dewan Shinobi sedang berbicara dan bertukar pendapat satu sama lain, setelah beberapa menit mereka semua sepakat lalu dilanjut oleh para Dewan Sipil yang berpendapat sama untuk setuju bahwa Sarutobi Hiruzen akan kembali ke kursi Hokage.
"Baiklah, kalau begitu. Topik selanjutnya aku membawa berita buruk, bahwa anak dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, yaitu Namikaze Uzumaki Kazuto telah menghilang dari desa ini."
"APA?!" Yang pertama berteriak setelah mendengar 'berita' itu adalah para Dewan Sipil. Mereka terlihat seperti peduli, tetapi sebenarnya mereka semua hanyalah penjilat. Kehilangan anak dari Hokage Keempat pastilah mendatangkan kerugian besar bagi mereka.
Sedangkan kubu netral, yang tidak merasakan kesedihan apapun hanyalah ketua dari klan Uchiha yaitu, Uchiha Fugaku.
Yang benar-benar sedih atas hilangnya Kazuto adalah para Dewan Shinobi. Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina adalah teman seperjuangan mereka.
Hilangnya anak mereka Kazuto menjadi hilangnya ikatan persaudaraan dengan teman mereka yang baru saja meninggal itu.
Hyuuga Hiashi, ketua klan Hyuuga yang merupakan teman terdekat Minato merasakan kesedihan yang paling berat daripada teman-temannya yang lain.
"Mencoba menolak kenyataan hanyalah hal yang hanya orang bodoh lakukan. Hokage-sama, kuharap kau sudah mencari solusi untuk masalah ini. Minato adalah temanku, dan anaknya sudah kuanggap seperti keponakanku sendiri. Aku mohon padamu, Hokage-sama. Temukanlah dia."
"Permintaanmu itu terdengar sedikit mengganjal bagiku, Hiashi. Apa yang akan kau lakukan jika Kazuto sudah pulang kembali ke Konoha."
"Kemungkinan tentangku memanfaatkan Namikaze Uzumaki Kazuto tidaklah benar, Hokage-sama. Jadi lebih baik, secara hormat, anda hilangkan firasat itu, anda sendiri tahu bukan, bagaimana sifatku secara pribadi? Jika anda tidak bisa melihatnya berarti semua pembicaraan dan pertemuan yang kita lakukan hanyalah sia-sia."
"Maafkan aku, Hiashi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi minggu ini membuat pikiranku berkabut."
"Tidak apa-apa, aku mengerti, Hokage-sama. Lebih baik sekarang, kita prioritaskan keadaan desa, untuk masalah Namikaze Uzumaki Kazuto sendiri, sepertinya anda sudah melakukan tindakan, jadi aku sudah tidak terlalu khawatir lagi."
Melihat pembicaraan di ruangan ini dikuasai leh hanya dua orang, Nara Shikaku pun ikut bergabung dalam pembicaraan.
"Dengan hormat, Hokage-sama. Aku tebak anda pasti mengirimkan Jiraiya untuk mengatasinya, bukan?" Ucap Shikaku dengan sedikit nada tinggi dibagian 'mengatasinya'.
Hiruzen tersenyum, sepertinya seorang Nara memang lebih hebat dalam membaca pikiran secara langsung dibandingkan dengan seorang Yamanaka.
"Bagaimana jika setelah ini satu atau dua permainan shogi dirumahmu, Shikaku?"
"Itu adalah sebuah kehormatan, Hokage-sama."
"Baiklah dengan ini, aku sebagai Hokage memerintahkan kalian untuk memberikan upaya terbaik kalian dalam pemulihan desa ini, dan mulai sekarang kasus Namikaze Uzumaki Kazuto akan menjadi kasus tingkat S, dan sekarang ada satu kasus terakhir yang berhubungan dengan Kyuubi yang harus kalian dengarkan dan apapun yang akan aku katakan kuharap kalian bisa menerimanya dengan akal sehat kalian."
Dan dengan ini kasus Namikaze Uzumaki Naruto pun dibuka.
Berpindah ke Jiraiya, didalam sebuah rumah kecil yang kumuh dan kosong, dia sedang menyiapkan keperluan untuk melakukan perjalanan jauh.
Layanan 24 jam yang rumah sakit berikan, membuat Jiraiya sedikit kesulitan untuk mengambil Kazuto, tapi dengan sedikit unsur kekerasan, dia akhirnya berhasil mengambil Kazuto yang sedang tertidur lelap dipangkuannya. Sekarang saatnya dia untuk pergi dari Konoha dan bergegas menuju tempat persembunyiannya di Yuki no Kuni (Tanah Salju).
Dalam memenuhi kebutuhan pangan Kazuto, selama kurang lebih 1 bulan perjalanan ini dia sepertinya sudah menyewa kurang lebih 20 wanita untuk mengasuh Kazuto (Dia tidak bisa memilih pengasuh tetap dikarenakan bahaya yang mungkin saja bisa menimpa wanita tak bersalah itu atau bisa saja sebaliknya, Kazuto yang berada dalam bahaya) selama dia melanjutkan penelitiannya, baik dalam arti pribadi dan arti mata-mata Konoha.
Dasar iblis kecil, dia sudah menyusui di 20 payudara yang berbeda.
Hiruzen memberikan uang yang sangat banyak kepada Jiraiya, saking banyaknya Jiraiya pingsan ketika melihat banyaknya angka nol didalam cek yang dia terima. Sepertinya kekayaan Minato memang tidak main-main. Dia berhasil mengalahkan gurunya dalam berbagai hal, kekuatan, wanita dan… bahkan uang.
Minggu ini adalah minggu terakhir sebelum Jiraiya pergi meninggalkan Kazuto lagi, pastinya untuk menyelesaikan misi sampingannya. Dia begadang semalaman hanya untuk menulis pelatihan-pelatihan yang nanti akan dilakukan Kazuto dimasa depan. Hiruzen juga mempercayakan gulungan dan kunai Hiraishin, Rasengan milik Minato, dan gulungan Kenjutsu pribadi Kushina, The Storm Dragon, kepada Jiraiya, karena Hiruzen tahu, itu adalah warisan Minato dan Kushina yang hanya Kazuto dan Naruto-lah yang berhak mendapatkannya.
Jiraiya berencana akan memulai pelatihan Kazuto sedini mungkin, karena dia tahu bahwa Kazuto bukanlah anak biasa, dia bisa dengan mudahnya menjawab beberapa pertanyaan akademi yang Jiraiya lontarkan untuknya, ini adalah hal yang menakjubkan dan menakutkan secara bersamaan. Diumurnya yang bahkan belum mencapai 2 tahun, dia sudah mengerti teori-teori tentang chakra, shinobi, perang dan cara kerja dunia ini hanya dengan melewati media buku.
Saat kembali nanti Jiraiya akan mencoba untuk membuka sirkulasi chakra Kazuto dan memulai pelatihan dasar chakra padanya.
Setelah bersiap-siap untuk pergi, seseorang mengetuk pintu dan masuk kedalam kamar Jiraiya. Setelah dilihat, dia adalah pengasuh Kazuto kali ini, yaitu Yui. Dia adalah seorang ibu muda yang masih berumur sekitar 23 tahunan, bahkan umurnya tidak mencapai 25 tahun, dia tidak mau memberitahukan umur aslinya karena dia menganggap itu tidak sopan. Menanyakan umur kepada seorang wanita adalah hal yang terlarang.
Dia pernah bilang padanya bahwa suaminya adalah seorang penjaga daimyo, dia meninggal pada saat perang saudara antara daimyo Yuki no Kuni dan saudaranya dimulai.
Ditinggalkan oleh suaminya, dia sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Segala pekerjaan dia terima selagi itu bukan pekerjaan yang negatif dan seksual, pekerjaan seperti mencuci baju, berkebun, mengasuh, dan lain-lain yang bertipikal seperti itu dia terima. Semua itu dilakukan dirinya untuk membesarkan putri kecilnya yang berumur 3 tahun yaitu, Fujikaze Yukie.
Yui juga bilang bahwa dia masih memiliki seorang keluarga, yaitu Sandayu yang merupakan paman dari Yukie. Tetapi setelah perang saudara yang terjadi 3 tahun lalu, dia menghilang.
Dari semua cerita yang Jiraiya dengar, terdapat kejanggalan didalamnya. Pada saat dia menceritakan tentang bagaimana daimyo Yuki no Kuni terbunuh, dia tahu persis seolah-olah dia berada disana saat kejadian itu terjadi. Tapi, ketika Jiraiya bertanya tentang itu, Yui berusaha mengelak dengan mengatakan bahwa dia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, teman suaminya yang selamatlah yang menceritakan itu semua padanya.
"Ada apa Yui?" Tanya Jiraiya.
"Apakah anda akan pergi sekarang, Jiraiya-sama?"
Jiraiya sudah tidak kuat lagi mendengar honorific darinya. "Sudah kubilang hentikan dengan 'sama' nya itu… Ya, aku akan pergi sekarang, kau tahu tugasmu seperti biasakan? Lalu, apa yang kau inginkan?"
Yui terlihat khawatir untuk mengatakan sesuatu.
'Ada yang dia sembunyikan…' Pikir Jiraiya. Melihat tingkahnya seaneh ini tidak perlu seorang Yamanaka untuk melihat apa yang dia sembunyikan.
"Aku ingin tahu masalahmu, aku harap tidak ada 'kebohongan' sekarang." Sesaat mengatakan ini, mata Yui melebar akan kekejutan yang dia rasakan.
"B-Baiklah… A-Aku minta maaf s-sebelumnya, Jiraiya-san. Bukan maksudnya aku ingin menjadi wanita m-matareliastis atau bermaksud sesuatu… t-tapi k-kau akan p-pindah saat kembali, kan? J-jadi… B-Bisakah aku dan Yukie ikut denganmu? K-kau tidak perlu lagi mencari pengasuh baru saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengasuh Kazuto hingga besar, a-anda bahkan bisa mengurangin gaji saya! Tapa saya mohon tolong bawalah saya dan Yukie, kalau tidak bisa, kumohon bawa saja Yukie denganmu kumohon-"
"Wo! Wo! Tenanglah! Ada apa ceritakanlah padaku."
Setelah beberapa menit bercerita tentang siapa mereka sebenarnya, Jiraiya menghela nafas panjang sambil memegang dahinya karena sepertinya masalah kehidupannya baru saja bertambah.
"Biar kupastikan sekali lagi. Kau adalah istri dari daimyo Yuki no Kuni, Kazahana Soosetsu. Dan saudara dari Soosetsu yaitu paman dari Yukie, Kazahana Doto menargetkan putrimu, yang sebenarnya bukanlah Fujikaze Yukie tetapi Kazahana Koyuki, putri dari Yuki no Kuni, untuk mengambil kunci dari warisan keluarga Kazahana, yang merupakan kalung peninggalan ayahnya yang saat ini dia pakai, dan mengambil seluruh harta keluarga Kazahana untuk kepuasan pribadinya. Dan sekarang kau meminta padaku untuk pergi bersamaku, sementara waktu sampai kau menemukan tempat yang aman, untuk melingdungi Koyuki dan juga menghindari saudara iparmu itu, dan juga karena pekerjaan ini menguntungkanmu sebab bayarannya yang cukup besar, jadi kau juga tidak mau kehilangan pekerjaan ini? Begitu?"
Yui, tidak Kazahana Hikari hanya mengangguk.
"Ahhh… kau baru saja menambah penderitaan hidupku."
"Maafkan saya, Jiraiya-san. Tapi kumohon lindungilah kami, jika anda mau aku bahkan bersedia menjadi wanita an-" Dengan segera Jiraiya menyetop kalimat itu.
"Woah woah! Tunggu dulu, mengapa kalimat 'wanita' itu terdengar seperti paksaan bagiku? Bukannya kau seharusnya terpesona olehku?!"
"Ah maafkan saya, Jiraiya-san. Dengan sifatmu yang bejat ini kutakut kau tidak akan pernah bisa menemukan wanita seumur hidupmu." Yui mengatakannya secara datar tanpa takut akan akibat. Mendengar itu dari mulut Yui, panah serangan kritis menusuk hati kecil Jiraiya. Hati kecilnya tidak dapat membendung ucapan itu.
Jiraiya berusaha mengembalikan pikirannya dengan cara batuk lalu dia berkata, "Baiklah. Kau boleh ikut dan bisa tetap menjadi ibu asuh Kazuto, tetapi ingatlah kau belum tahu siapa Kazuto sebenarnya, jadi sekali saja kutemukan kau memanfaatkan Kazuto untuk kepuasanmu, bahkan jika kau adalah istri dari seorang Daimyo yang disanyangi seluruh rakyat Yuki no Kuni, tidak pernah akan kubiarkan kau hidup, mengerti?" Ancam Jiraiya dengan sedikit insting membunuh, badan Yui gemetar setelah mendengar ancaman dari salah seorang sannin legendaris itu.
"A-Aku berjanji t-tidak akan melakukan itu, Jiraiya-san."
"Baiklah kalau begitu kuserahkan Kazuto padamu. Aku pergi dulu!" Jiraiya pun pergi via jendela.
"Ah! Bagaimana dengan tawaranku menjadi wanitamu, Jiraiya-san?!" Yui berteriak dari jendela.
"TIDAK USAH!" Teriakan Jiraiya membuat Yui tertawa kecil. Meskipun Jiraiya orang yang serius dan bejat dia juga kadang bisa sedikit menyenangkan dan lucu. Syukurlah dia memilih pilihan ini.
xxxxx
Time Skip
Pelatihan Kazuto
Ditengah ladang rumput yang hijau, Kazuto kecil terlihat sedang bermeditasi. Konsentrasi adalah faktor yang sangat penting disini, karena itulah tempat sunyi dengan hembusan angin yang sejuk seperti ini sangatlah cocok untuk dasar pelatihan chakra.
"Tetaplah berkonsentrasi, Kazuto. Rasakanlah aliran chakra dalam tubuhmu. Carilah sumber dari chakramu lalu bukalah." Jiraiya berusaha sebisa mungkin untuk memudahkan pengajarannya.
'Aliran… Sumber… Listrik?' Kunci yang diberikan Jiraiya sudah cukup untuknya.
Chakra meledak keluar dari dalam tubuh Kazuto, saking besarnya Jiraiya membutuhkan bantuan chakra dikakinya untuk melawan hantaman angin yang dihasilkan oleh ledakan chakra Kazuto.
'BESAR SEKALI!' Teriak Jiraiya dalam benaknya. Diumurnya yang relatif masih sangat muda, diulangi, BALITA! Balita ajaib. Dia sudah memiliki chakra sebesar ini. Darah seorang Uzumaki memanglah luar biasa. Chakranya sangatlah kuat dan murni lalu ditambah dengan faktor bahwa dia adalah seorang Jiinchuriki dari Kyuubi, chakra miliknya saat ini setara dengan seorang Jonin, pada saat memasuki akademi nanti sepertinya Kazuto sudah akan mencapai chakra dari seorang Kage.
Yang dirasakan Kazuto saat ini hanyalah perasaan sejuk. Seketika semuanya menjadi dingin. Hanya ada satu kata yang muncul didalam benaknya, "Air?"
Kazuto membuka matanya dan terkejut karena dia tiba-tiba saja berada ditempat yang terlihat seperti 'got pembuangan'.
"Sial." Kazuto melompat kebelakang. Sebuah kuku raksasa hampir saja menghantamnya. Sebuah tawa kejam bergema ditelinganya.
"Baru pertama kali aku melihat manusia kecil dan lemah sepertimu sudah bisa berkonsentrasi setinggi ini, sampai-sampai kau bisa memasuki alam bawah sadarmu sendiri. Ini menarik." Kuku raksasa itu kembali masuk kedalam kurungan yang ada didepan Kazuto.
Dibalik bayangan itu terlihat jeals mata rubah berwarna merah menyala dikegelapan, dengan sembilan ekor menari dibelakangnya. Makhluk itu adalah, "Kyuubi."
"Konsentrasi dan pemahaman setinggi ini, mengingatkanku kepada seseorang dimasa lampau. Seorang bocah pintar bersama adiknya yang bodoh. Dan kau mirip sekali dengan sang kakak."
'Yang dia katakan barusan… kalau tidak salah dia sedang membicarakan Ashura dan Indra ya.' Untung saja didunia sebelumnya Kazuto sudah mengikuti sampai episode pertarungan antara Ashura dan Indra. Tetapi setelah itu dia mati duluan sebelum bisa menonton episode selanjutnya.
"Aku mempunyai firasat bahwa otakmu jauh melebihi tubuhmu. Jadi, apa yang kau mau, bocah?"
"Tidak ada yang kumau darimu (Untuk saat ini). Kalau begitu aku pergi!" Kazuto pergi berlawanan arah dengan Kyuubi.
'Ah aku lupa.' Kazuto terhenti ditempat, tempat ini berhubungan dengan pikirannya kan?
Kazuto mengubah tempat ini dari got menjadi sebuah pemandangan yang sangat indah. Gunung, sungai, padang rumput yang indah terlihat sejauh mata melihat. Kyuubi tidak bisa berkata saat ini.
'Dia…'
"Melihatmu terkurung ditempat pembuangan kurang enak untuk dilihat, bukan?"
Setelah itu, Kazuto pun menghilang dan kembali ke dunia nyata.
'Dengan umur yang bahkan belum mencapai 2 tahun, dia sudah bisa berpikir dan berbicara seperti itu? Aneh sekali, ada yang sangat janggal disini. Apakah karena efek samping dari penyegelan menggunakan Shiki Fuujin? Mungkin itu. Ah… memikirkannya membuatku gila.'
Kyuubi pun kembali tidur.
xxxxx
Di gerbang desa Konoha
'Aku pulang, Naruto.'
Yots! Mungkin segitu aja buat chapter pertama. Buat yang suka, terima kasih sebanyak-banyaknya, buat yang kurang suka, ya gak papa sih tapi tetep terima kasih buat sempet baca. Yo! Ketemu lagi di next chapter! Stay safe, and Stay healthy!
