disclaimer © Animonsta Studios
warning drabbles menjurus ficlets, rate T untuk bahasa non-baku dan kekerasan implisit, sedikit eksistensi super power, Twins!BoBoiBoyElementals, OOC parah, humor yang terkesan dipaksakan, EBI yang terlupakan, typo(s), diksi menghilang bak butiran debu, spesial menyambut masa-masa UTS namun terhalang COVID-19 sehingga mungkin ada beberapa pihak yang terpicu(?).
a! akronim
Gopal : stenli, marmar
Amar : Hadir
Stanley : presen
Iwan : Aku tidak dipanggil?
Gopal : besok uts ya
Stanley : yo
Gopal : hmm
Stanley : paan
Gopal : dei
Amar : Ya, Gop?
Gopal : ukk itu apa sebenarnya ?
Stanley : serius gak tau ? pantes aja nilaimu bisa negatif ! ngoahahaha !
Stanley : kalau untuk gopal mah utang kiri kanan :D
Amar : Terutama utang 'kat kedai :D
Stanley : eh ukk sama uts beda kok malah nanya ukk si
Iwan : UKK sama dengan UAS Genap. UTS beda lagi, teman-teman.
Stanley : hei Gopal, uts itu umur tak selamanya :D
Amar : Jadi utang tunaikanlah segera :D
Setelah itu, Gopal tak pernah mengutang lagi di Kedai Kokotiam Tok Aba dan BoBoiBoy, menurut keterangan Gempa.
b! belajar
Gopal termasuk siswa yang diciptakan Tuhan sebagai manusia yang kurang pandai secara akademik. Parahnya, Gopal tidak terlihat seperti ingin melawan takdirnya tersebut.
"Sudah belajar?"
"Eh, Thorn. Malas." Menyeruput es cokelat spesial yang nyaris berstatus utang, Gopal menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan kepala. "Kau sendirian? Mana yang lain?"
"Karena besok ujian, semuanya pada belajar. Thorn bingung ujian itu sebenarnya apa sampai semuanya takut begitu, padahal sepertinya tidak jauh berbeda dengan ulangan harian. Jadi Thorn pikir lebih baik membantu Atok," jawab Thorn yang sedang mengelap gelas-gelas basah yang baru saja dicuci. "Kenapa pula Gopal tak belajar?"
"Sudah kok."
Satu alis Thorn naik. Tadi jawabannya belum, sekarang sudah. Mana yang benar coba?
"Belajar menerima kenyataan, huhuhuhuhuhu …."
(Tunggu, Gopal tidak pernah menjawab belum.)
c! cara
Ada banyak cara dalam menghadapi soal ujian, dimulai dari yang mungkin hingga mustahil bak rencana penyelundupan barang-barang ilegal.
Tok tok tok tok
Iwan menoleh seolah paham. Dilihatnya Gopal yang baru saja mengetuk penanya ke meja. Sekilas terdengar asal, namun sebenarnya merupakan kode rahasia.
Tok tok tok—ada jeda—tok tok
Iwan kembali fokus pada soal di depannya, terlihat seperti mengabaikan tingkah laku Gopal, namun sebuah suara ketukan tunggal yang bersumber darinya tidak berkata demikian.
Tok
"Makasih Iwan," bisik Gopal. "Oke, nomor tiga puluh dua jawabannya A. Mantap deh."
(Tolong, jangan pernah tiru hal di atas kalau tidak mau ketahuan yang berujung diskors dua hari, dihukum membersihkan satu sekolah, dan nilai UTS nol, sekian dan terima kasih.)
d! deklarasi
"Incik Bos—ADUH!"
Cangkir besi melayang. Bagian belakang Probe timbul benjolan merah imajiner yang berdenyut.
"Diam! Aku sedang fokus belajar!" seru Adu Du, tersangka di balik terbangnya cangkir besi yang masih berisi sedikit air.
Probe bingung. "Belajar apa, Incik Bos? Ooooh, pasti Incik Bos mau mempelajari BoBoiBoy lalu mengalahkannya, bukan?! Incik Bos memang keren!"
Adu Du menyeringai. Probe sempat berpikir bahwa terkaannya tepat. Komputer bergender perempuan itu hanya menyaksikan dalam diam—Adu Du tidak memintanya mencari informasi terbaru mengenai BoBoiBoy seperti biasa, apa yang memangnya bisa dia lakukan selain itu?
"Aku ... aku ... AKU AKAN LULUS UJIAN DAN MEMBUAT CIKGU PAPA BANGGA! MUAHAHAHAHAHAA!"
Abdul Dudul tertawa. Probe menghubungi jasa pijat Wak Baga Ga. Gapapa, kepengen aja.
e! emosi
"Kembali lagi di TV33 bersama saya, Ravi J. Jambul!" Kameramen menyorot robot Mukalakus hasil modifikasi bersama Ravi dalam satu frame. "Saat ini saya sedang berada di SD Pulau Rintis. Anda bisa saksikan, para pahlawan kita sedang menghalau sebuah robot durjana!"
Sang reporter penantang maut berlari mendekati medan perang bersama kameramennya yang setia. Suasana sangat panas.
"Tunggu sebentar, tunggu sebentar!" seru Ravi. Mukalakus berhenti menembakkan laser. Yaya berhenti menahan Mukalakus dengan kekuatan pengendali gravitasinya. Ying berhenti mengendalikan waktu. Kembar tujuh pengendali elemen berhenti melancarkan serangan. Gopal masih mengintip dari balik tiang gawang. "Saya mau mewawancarai Tuan Robot Hijau ini. Apa alasan engkau berbuat kejahatan dengan menyerang sekolah?"
Bersumber dari ruang kendali dalam robot Mukalakus, sebuah jawaban yang sarat akan kekesalan pun menggema—
"AKU TAK PAHAM MATERI UJIAAAAAAAAAN!"
—yang disusul makian serta umpatan khas Bumi maupun Planet Ata Ta Tiga, yang harus disensor demi kesehatan mata dan jiwa.
f! fakta
Sudah menjadi trivia yang sangat umum diketahui kalau Fang sangat menyukai—dan tentunya jago—basket, tetapi benar-benar payah dalam sepakbola.
Kebetulan sekali ujian praktik olahraga untuk siswa adalah sepakbola. Kebetulan sekali ujian praktik olahraga untuk siswi adalah tolak peluru. Kebetulan sekali murid laki-laki berjumlah dua belas sehingga bisa dibagi menjadi dua tim. Kebetulan sekali Gempa yang lemah lembut berakhir satu tim dengannya, sementara keenam kembaran yang kompak jago sepakbola itu menjadi tim lawannya. Kebetulan sekali—
"Fang, terima ini!"
—dia bisa menggiring bola menuju gawang yang dilindungi Halilintar. Fang bisa melihat Gempa yang baru saja mengoper bola padanya berlari di sisi kanan, dengan kondisi dikepung Blaze dan Ice, sementara dirinya sendiri masih dikejar oleh Taufan, Thorn, dan Solar. Dari belakang, Iwan dan Amar berlari menyusul, sementara Gopal beralasan dirinya menjadi bek belakang—aslinya takut dengan Halilintar.
Hah. Siapa peduli?
"Akulah Tsubasaaaaaaaaa!"
g! gitar
Terlalu stres belajar, Taufan memutuskan untuk membetot gitar bas kesayangannya dan berhasil menciptakan sebuah lagu dengan nada lagu kartun TAPOPS favoritnya dan Blaze di malam itu.
"Besok ujian di ruang Disiplin~
"Matematika Bahasa IPS IPA~
"Kananku Solar kiriku Halilin~
"Pasti kubisa, kubisa, kubisa—
"MENYALIN!"
Taufan dibuang ke galaksi sebelah.
h! hari
Hari akhir ujian adalah hari yang paling ditunggu oleh semua murid. Yaya dan Ying tak sabar ingin melihat nilai mereka. Gopal tak sabar ingin memainkan seri permainan Papa Zola terbaru bersama Taufan dan Blaze, meski karakter favoritnya selalu terlihat hampir setiap hari, Gopal tak acuh. Halilintar tak sabar ingin melanjutkan kelas taekwondonya. Gempa tak sabar ingin membantu kakeknya di kedai. Thorn dan Solar tak sabar ingin membudidayakan anggrek bulan yang telah mereka rencanakan jauh sebelum ujian dimulai. Ice tak sabar ingin hibernasi. Fang tak sabar ingin mempelajari resep membuat donat lobak wortel supaya tidak takut kehabisan stok di kantin lagi.
TL;DR, semuanya tak sabar.
"Selamat, Murid-murid Kebenaran!" sorak Cikgu Papa Zola. "Kalian semua telah menuntaskan hari-hari penuh ujian selama seminggu lebih ini!"
"Terima kasih, Cikgu Papa!" seru seluruh murid dengan senyum ceria, secerah wajahmu. Iya, kamu.
"Nah, setelah ini, ada hari yang harus kalian tunggu," ujar Cikgu Papa Zola.
Sebuah suara menyahut, "Apa itu, Cikgu Papa?"
"Hari remedial kamu semua laaaaaaaahhhh! Kalau bukan itu, apalagi?!"
Krik krik. Hanya ada suara jangkrik.
"Teman-teman ... bukannya Papa Zola ini karakter gim?"
"Eh, benar juga. Sejak kapan kita panggil Cikgu, ya?'
Mayoritas penduduk kelas mendadak amnesia.
i! ingat
Taufan : pal
Gopal : ha
Taufan : kamubilangkamusahabatbaikakukan?
Gopal : asdfghjkl pakek spasi taupan tolongla
Gopal : pastilah. kamu kan emang sahabat baik aku
Taufan : besokujiyanhahaha
Gopal : hahah, troz?
Taufan : tolongjanganlupakanakukalauakumati
Gopal : mana mungkin aku lupa padamu taupan
Taufan : makasiharamugam
Gopal : ..maaf, anda siapa?
j! jenius
Namanya Solar. Usianya sebelas tahun. Dia adalah seorang siswa dengan nomor absen empat, sama dengan peringkatnya di kelas—juara satu dan dua sudah pasti antara Ying dan Yaya, juara tiga merupakan milik Fang karena Solar tidak tertarik dengan juara bila tidak ada hadiahnya. Anggota tetap perpustakaan SD Pulau Rintis. Pernah memenangkan olimpiade nasional bidang Matematika. Satu-satunya dari tujuh bersaudara yang tidak takut akan sesuatu seperti balon meletus (Halilintar), jadwal berantakan (Gempa), boneka Barbie hilang (Blaze), insomnia (Ice), ataupun ular (Taufan dan Thorn). Masih tergolong jago olahraga, meski tidak perkasa seperti keempat kakak tertuanya, tetapi dia juga tidak selamban Ice dan Thorn.
Singkat cerita, Solar itu calon orang perfek.
Solar, pap soal tahun kemarin, PIM (1)— khas Halilintar, singkat, padat, jelas.
Solarpliskumohontolongbantuguebelajarmatem — khas Taufan, masih belum mengerti fungsi tombol spasi.
Maaf kalau aku mengganggu, apa Solar bisa bantu aku? Menurutmu, rumus mana yang lebih mudah dipakai untuk menghitung sisi segitiga? — khas Gempa, hati-hati dan sangat menjunjung tinggi yang namanya sopan santun.
Solar, maen yuk! — khas Blaze, yang ada di pikirannya hanya bermain, tidak peduli yang namanya H-1 UTS.
. — khas Ice, seolah di kibornya hanya ada titik. Yang bisa paham apa maksudnya hanyalah keenam kembaran yang bersangkutan termasuk Solar. Intinya sih minta bantuan juga.
Solar, ujian itu sebenarnya apa? Kayaknya darurat — yang terakhir khas Thorn. Tidak pernah sadar akan yang namanya marabahaya karena terlalu naif.
Solar menghela napas sambil melempar ponselnya ke tempat tidur. Menjadi Einstein junior memang susah, tapi tidak begini juga!
"Plis kakak-kakakku. Kita semua masih tidur satu kamar berbeda kasur."
k! kkm
Tersebutlah suatu kisah di grup elektronik khusus siswi minus Ying dan Yaya. Mengapa tidak ada mereka berdua? Sederhana saja, Ying tidak memakai ponsel yang canggih, sementara Yaya justru tidak memakai ponsel sama sekali.
Amy : puja yang mulia kkm
Amy : terimalah persembahan dari otak hamba yang nista ini
Suzy : ^ 2
Siti : ^ 3
Nana : belajar tems, belajar
l! lembar
Dengan mental yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi ujian, Halilintar bersama kelima adiknya memasuki kelas 5 Disiplin yang dijadikan sebagai salah satu ruang ujian. Lima? Adiknya yang satu lagi—sebut saja inisialnya Gempa, eh itu bukan inisial sama sekali—harus memasuki ruang ujian yang berbeda dengan mereka semua.
Masih ada sepuluh menit sebelum ujian dimulai, Halilintar memutuskan untuk belajar setelah menempati kursinya. Sebagai catatan, posisi bangkunya berada di paling depan, tepatnya pojok kiri yang berbatasan langsung dengan dinding. Di sebelah kanan tempat duduknya ada Taufan, sementara di sebelah kanan Taufan ada Solar. Blaze duduk di belakang Halilintar, Ice duduk di belakang Solar, dan Thorn duduk di sebelah kanan Yaya yang duduk di belakang Ice.
Halilintar mengambil lembaran-lembaran kertas yang sudah dijepit dengan klip. Semalam, Halilintar sudah merangkum semua materi untuk ujian hari ini, dan seharusnya tidak ada masalah.
Seharusnya begitu, kalau saja tinta hitam yang seharusnya mengisi kertas-kertas itu tidak menghilang tanpa jejak.
Diliriknya Taufan dengan tatapan dengki. Yang bersangkutan cekikikan ala mak lampir.
"Omae wa mou shindeiru."
Taufan menoleh. Jiwa weaboo (2) sang kakak sulung sepertinya kumat. "Apa?"
(Tidak. Taufan benar-benar tidak tahu meme itu.)
m! monster
Sepersekian detik kemudian, Taufan sudah berada di lapangan upacara bersama Halilintar.
"AMPUN, HALILIN! AMPUUUUNNN!"
Halilintar membuka simpul tali tiang bendera. Taufan ingin kabur, namun Pedang Halilintar terlanjur sukses menancap di tudung jaketnya. Taufan sebenarnya bisa saja melarikan diri, tapi Taufan tidak mau jaket biru kece badainya robek dan rusak! Tidaaaaaak!
"HALIIIIIIIIIIIII! LEPAAAAAAASS! HUWAAAAAAAAA!"
Sepanjang ujian berlangsung, Taufan tergantung di tiang bendera.
n! negosiasi
"Apa untungnya aku membantumu dalam ujian?"
"Stok donat lobak merah setahun. Oh, dengan cokelat panas spesial Tok Aba."
Jabat tangan mengakhiri diskusi. Untuk pertama kalinya, Fang dan Ice sepakat dalam sebuah konspirasi laknat.
o! origami
Thorn jago melipat kertas membentuk apa saja, bahkan sempat menjadi hobinya di masa lampau, sebelum akhirnya Thorn jatuh cinta pada dunia botani.
Itulah yang dilakukannya saat sadar kalau ujian itu tidak menyenangkan setelah selama ini melaluinya.
"Thorn, apa kamu tadi mau memberi jawaban pada Halilintar?! Bagaimana mungkin murid kebenaran melakukannyaaaa?!" seru Cikgu Papa Zola selaku pengawas ujian.
"Hah?!" Merah delima kembar membulat horor. "Apa—"
Sebuah pesawat kertas telah mendarat di depan bangkunya. Tertiup angin sepoi-sepoi, sayap pesawat itu seolah berteriak Ambil aku! Ambil aku!
Tertular kepolosan Thorn, Halilintar pun mengambil pesawat kertas itu.
"Sudah ditemukan berbuat salah, malah diteruskan! Haish, kelihatannya kamu perlu dakwah kebenaran dari seorang kebenaran!" Cikgu Papa Zola berseru dengan telunjuk yang terarah pada Halilintar. "Sudah! Tak usah kauisi lagi lembar ujian itu!"
(Padahal Thorn mau menerbangkan kertas ujiannya ke luar melalui jendela yang terbuka, tapi malah jatuh di dekat Halilintar. Dewi Fortuna terlalu sibuk nonton drama India.)
p! program
Sebuah soal mata pelajaran Seni Budaya, tepatnya nomor tujuh, menyertakan sebuah gambar menyerupai gagang gitar akustik untuk membantu—menyusahkan—pengerjaan soal. Sebelumnya, guru Seni Budaya telah meminta semua murid untuk membuat masing-masing dua soal esai. Di antara sekian banyak soal, terpilihlah sepuluh butir yang berperan besar dalam akumulasi nilai.
Titik pertama berada di senar dua, fret satu. Titik kedua berada di senar empat, fret dua. Titik ketiga berada di senar lima, fret tiga. Kunci apakah itu?
Entah mengapa, seperti sudah disetel, seluruh kepala dengan mode otopilot berotasi ke arah Taufan yang merasa terintimidasi. Buat soal sulit? Siap-siap menerima pembalasan dendam. Begitulah mata mereka berbicara.
"Apa? Aku main gitar bas yang cuman empat senar, mana aku tahu! Bukan aku yang membuat soalnya!"
Di perpustakaan, pelakunya tertawa terpingkal-pingkal setelah ujian berakhir. Oh, karena tidak boleh berisik, jadilah sebuah tawa keras tanpa suara—bagaimana persisnya diserahkan kepada imajinasi.
q! quod vide (3)
Atas permintaan dengan sogokan ensiklopedia yang sudah lama menjadi dambaan, Solar menemani Taufan dan Ice belajar Bahasa Inggris dalam rangka menghadapi remedial.
"Sol, ini apa ya?" Taufan menunjuk sebuah soal.
"Ngantuk," keluh Ice.
Seekor nyamuk hinggap di pipi Ice. Taufan menampar Ice dengan penuh suka cita, yang ditampar langsung mencolok hidung pelaku. Setidaknya, kematian nyamuk itu sudah cukup mengobati rasa sakit pada pipi yang memerah dan lubang hidung yang melebar dua milimeter.
Jasad si nyamuk jatuh di atas soal yang tengah dikerjakan Taufan, tepat di sebelah opsi B yang merupakan jawaban benar. Solar yang melihatnya langsung tertegun.
Ingatkan Solar untuk mencari nyamuk satu stoples spesial untuk kedua kakaknya.
r! rumit
Di antara semua teman-temannya, Fang berani berpendapat bahwa hubungan Yaya dan Ying sangat sulit untuk dipahami. Kedua gadis yang sama-sama berinisial Y itu hampir selalu kompak dalam setiap hal, kecuali ujian, di mana mereka berdua sangat kompetitif dan juga menakutkan.
Untungnya, untuk ujian kali ini, mereka tidak satu ruangan. Ying menghadapi ujian di kelas 5 Jujur dan satu ruangan dengannya, sementara Yaya berada di kelas 5 Disiplin bersama kembar BoBoiBoy minus Gempa yang tersesat. Kalau mereka satu ruangan seperti semester lalu, Fang ingat Ice bahkan tidak pernah tidur selama ujian, menandakan beratnya hawa ruang ujian kala itu.
"Ying, kamu tidak apa-apa?" tanya Fang. Wajah gadis keturunan Cina itu terlihat sangat pucat. Dari gestur tubuhnya, tampaknya dia kelelahan.
"Aku baik-baik saja," jawab Ying sambil mengusap keringat dinginnya dengan sapu tangan.
"Mau ke klinik sekolah sebentar? Minimal minum obat dulu." Sifat keibuan Gempa menampakkan diri dengan langsung menyarankan, "Fang, sebaiknya kamu membawa Ying ke klinik sekolah."
Fang mengangguk, berpikir kalau sampai Ying pingsan dan kenapa-kenapa, hilang sudah satu temannya yang berbaik hati memberinya donat lobak merah.
Fang, landak ungu, sebelas tahun, adalah seorang teman jahanam.
Tak ingin keras kepala, lengan kiri Ying memutari tengkuk Fang, sementara Fang menahan tubuh Ying yang bisa ambruk kapan saja dengan lengan kanannya yang menahan bagian pinggang Ying. Fang tahu kalau perjalanan menuju klinik sekolah melewati kelas 5 Disiplin, tapi Fang tidak menyangka bahwa Yaya dari dalam ruang ujian bisa melihatnya sedang memapah sang sahabat.
"Ying! Wajahmu pucat sekali!" Yaya terlihat panik. Ying terlihat setengah sadar. Fang terlihat mengernyitkan dahi, heran. "Aku bantu memapah Ying ke klinik sekolah, ya!"
"Aku ... tak akan kalah darimu dalam ujian ini, Yaya, meski aku sakit …."
"Aku juga. Jangan harap aku mau mengalah. Hmph!"
Otak Fang berdenyut. Seaneh-anehnya pertemanan Halilintar dengan kakak kelas bernama Retak'ka karena sama-sama menyukai shoujo anime (4), persahabatan antara duo Y ini masih tak bisa Fang mengerti!
s! sial
"Ada materi A sampai F. Karena mana mungkin aku kelar mengulang semuanya hanya dalam semalam, jadi aku cuman belajar materi A dan B, tapi yang banyak keluar malah materi C sampai F! Apalagi namanya kalau bukan sial? Hiks hiks."
"Lebih sial mana dengan merasa sudah khatam materi A sampai F, tapi pas ujian malah lupa?"
Nana dan Amy berpelukan.
t! tidur
Cikgu Timi tersenyum simpul.
"Permisi …."
Wanita yang disinyalir nyaris berkepala tiga itu menoleh ke arah pintu. Ice berdiri di sana dengan wajah mengantuk.
"Silakan masuk, Ice," tutur Cikgu Timi. Ice pun menurut dengan duduk di hadapan guru Bahasa Inggrisnya tersebut.
Ditunjukkanlah lembar jawaban milik Ice yang kosong. Hanya ada jejak air yang mengering di sana—Cikgu Timi berusaha untuk tidak berpikir negatif dengan mengira jejak air tersebut adalah air liur.
"Ice, tertidur lagi?"
"Sa-Saya minta maaf, Cikgu."
Dalam hati, Ice sudah merencanakan jadwal malamnya kali ini; menyantet Fang yang mengkhianatinya. Padahal mereka berdua sebelumnya sudah sepakat, di mana Fang akan mengisi lembar jawabannya dan akan dibayar dengan stok donat lobak merah. Ice tidak mau tahu bagaimana bisa orang lain di ruangan yang berbeda mengerjakan ujiannya, pokoknya mereka itu sudah sepakat!
Mati saja kau di kutub selatan, Fang!
(Nun jauh di sana, Fang tersedak saat menelan donat lobak merahnya, tidak sadar kalau dia sudah menandatangani kontrak kematian. Astaga Ice, padahal kamu sendiri juga salah.)
u! ulah
Seasam-asamnya hubungan Halilintar dengan keenam adik kembarnya, setidaknya masih ada manis-manisnya, kecuali dengan si adik paling kecil bernama Solar.
Menurut Halilintar, Taufan itu berisik, tapi selalu bisa menghiburnya meski lebih banyak mengacau. Gempa itu terlalu cerewet dan hampir sering berdebat dengannya karena sifat Gempa yang menjurus ke OCD, tapi paling bisa diandalkan di antara mereka bertujuh. Blaze itu hobi mencari masalah dan nyaris tidak peka dengan situasi dan kondisi, tapi Blaze bersama Taufan adalah dua orang yang berhasil menghidupkan suasana di dalam rumah, bahkan sebenarnya Taufan itu orang yang pendiam seperti Gempa, namun semua berubah saat "negara api" menyerang. Ice hobi tidur di mana pun dan kapan pun yang dia suka, tapi saat dibutuhkan, Ice tidak menghilang seperti Avatar. Thorn bersikap sangat polos dan berpendirian lemah hingga Halilintar kadang merasa geram, tapi mereka semua termasuk Halilintar menganggap Thorn sebagai saudara yang paling berharga.
Sementara itu, Solar ...
Halilintar akui Solar itu cerdas, meski umurnya tiga puluh menit lebih muda darinya. Halilintar akui Solar itu punya selera yang bagus dalam hal apa pun. Tentunya, dengan senang hati Halilintar mengakui kalau Solar sangat menyebalkan.
"Solar, sudah belajar untuk ujian IPS besok?" tanya Halilintar ketika tak sengaja berpapasan dengan Solar di dapur.
"Sudah, lagi pula materinya mudah. Tidak perlu waktu lama untuk mempelajari semuanya."
"Tinggal jawab "sudah" tanpa bersikap sombong apa susahnya, sih?"
"Sengaja."
Itu baru satu bukti mengapa Halilintar berkata kalau Solar itu sangat menyebalkan.
"Hei Solar, bagaimana ujian Penjas tadi? Belum selesai ujiannya, kamu sudah keluar! Soalnya mudah ya bagimu?" tanya Stanley usai keluar dari ruang ujian. Solar berdiri di dekat pintu dengan roti gandum dalam genggaman.
"Hmm," Solar memejamkan kedua iris emasnya, tampak berpikir. Halilintar tak sengaja mencuri dengar percakapan itu, "soalnya susah, keterlaluan malah. Aku cepat keluar karena aku frustasi dengan soalnya, hahahaha—
Pada saat pengumuman nilai, Solar mendapatkan nilai tertinggi ketiga setelah Yaya dan Ying—
"—aku rasa, nilaiku bakalan C! Aduh, harus belajar untuk remedial, nih!"
—nilainya A, omong-omong.
Suatu hari di masa depan, kekesalan Halilintar memuncak hingga mencapai tahap di mana Halilintar bisa membanting tubuh Solar dengan ilmu judonya. Yang bersangkutan tidak terluka secara fisik, hanya trauma ringan.
v! versus
Karena tidak ada yang mencetak gol di ujian praktik sebelumnya, Cikgu Papa Zola akhirnya memutuskan untuk melaksanakan ujian praktik olahraga yang baru, yaitu lari estafet.
Dua belas siswa dibagi menjadi tiga tim. Fang, Blaze, dan Amar berada di pos pertama, menjadi pemain yang memulai pertandingan. Pos kedua diisi oleh Gopal, Ice, dan Taufan. Di pos ketiga, berdirilah Thorn, Iwan, dan Stanley. Sementara itu, di pos terakhir, terdapat tiga pemain yang akan menentukan pemenang, yaitu Halilintar, Solar, dan Gempa.
"Bersedia ..." Fang, Blaze, dan Amar memasang sikap start jongkok.
"Siap ..." Peluit berada di ujung jari, mendekati mulut Cikgu Papa Zola.
"Yaa!"
Peluit berbunyi dan ketiga siswa yang berada di pos pertama segera berlari. Gopal mengulurkan tangan dengan panik. Fang terlihat lebih unggul dibanding Blaze dan Amar. Dia harus bisa sebaik Fang!
"Gopal!" Fang buru-buru menyerahkan tongkat estafet pada Gopal. Sempat tergelincir, namun untungnya tongkat tersebut tidak jatuh.
Berjarak seratus meter, ada Thorn yang sedang bermain dengan kepik yang tiba-tiba hinggap di topinya, sedangkan Iwan dan Stanley sudah bersiap dengan start berdiri mereka.
"Eiii! Thorn!" panggil Gopal setelah sukses berdiri di depan Thorn. Stanley sudah berlari ke pos keempat usai menerima tongkat dari Taufan. Ice? Masih lima meter di belakang Gopal, tapi tak butuh waktu lama untuk menghapus jarak tersebut. "Cepaaaaaaaaaat!"
"O-O-Oke oke!"
Menerima tongkat dari Gopal, Thorn bersiap untuk berlari, tetapi badannya ditabrak oleh Iwan dengan tongkat estafet dari Ice di tangan. Alhasil, keduanya jatuh. Iwan terlihat masih bisa bangkit kembali dan melanjutkan larinya, sementara Thorn terbaring tak berdaya.
"Sakit ...," lirih Thorn.
Gopal panik. Fang yang berada di pos kedua sama paniknya. Cikgu Papa Zola hendak menghentikan perlombaan untuk menolong Thorn sebelum melihat sesuatu yang mengejutkan.
Halilintar yang berada di pos keempat, yang seharusnya menerima tongkat estafet dari Thorn, dan yang seharusnya mengakhiri pertandingan dengan membawa tongkat estafet kembali ke pos pertama, kini justru berlari ke pos ketiga, melewati Iwan dan Stanley yang berlari ke arahnya, atau lebih tepatnya ke pos keempat.
"Thorn!" panggil Halilintar begitu tiba di pos ketiga, menghampiri Thorn yang sedang duduk di atas lapangan berpasir dengan bantuan Gopal, Ice, dan Taufan. Mereka tak bisa berbuat apa-apa karena Cikgu Papa Zola belum meniup peluit sebagai tanda berakhirnya ujian. "Apa kau terluka? Mana yang sakit?"
"Kaki Thorn mendadak lemas, Kak ...," jawab Thorn. "Maafkan Thorn, Kak Hali …."
"Bicara apa kamu? Tidak perlu minta maaf!" Halilintar berjongkok di hadapan Thorn. "Ayo, naik ke punggung Kakak!"
"Tapi Kak …."
"Kita selesaikan pertandingan ini bersama-sama, meski kita berada di posisi terakhir." Halilintar tampak bergeming dari posisinya. "Genggam tongkatnya, Thorn."
Thorn mengangguk, tak memberontak pada saat Halilintar mengangkat tubuhnya. Agar tidak jatuh, Thorn mengalungkan kedua lengannya pada leher Halilintar, dengan tongkat estafet yang diusahakan semaksimal mungkin untuk tidak mengenai apalagi menyakiti bagian tubuh Halilintar.
Solar dan Gempa sudah lama menerima tongkat dari Iwan dan Stanley, tetapi mereka belum bergerak dari pos. Malahan, mereka berdua justru berteriak kompak, "Kak Hali, semangat!"
"Kita ikuti mereka, bagaimana?" tanya Taufan pada Ice dan Gopal.
"Kita selesaikan pertandingan ini bersama-sama," ujar Ice, mengulangi perkataan Halilintar pada Thorn. Gopal dan Taufan serempak mengangguk.
Gopal memberi isyarat mengundang dengan lambaian tangan. Seolah mengerti, terlihat dari pos kedua, Fang bersama Blaze dan Amar berlari menuju pos ketiga. Setelah mereka berenam berkumpul, semuanya berlari menyusul Halilintar yang masih dalam perjalanan menuju pos keempat dengan Thorn di gendongannya.
"Kenapa kalian malah ikut bersamaku dan Thorn? Kalian melanggar aturan dengan meninggalkan pos kalian, tahu," desis Halilintar.
"Kakak tidak sadar diri ya," jawab Taufan sambil menggeleng tak menyangka.
"Kita selesaikan pertandingan ini bersama-sama, bukan?" timpal Blaze.
Halilintar mendesah, menyadari sesuatu yang salah. "Kalian salah paham …."
"Lagi pula, siapa yang peduli dengan pertandingan?" sahut Fang. Tumben.
Ketika mereka tiba di pos keempat, Gempa hanya tersenyum. "Hanya perlu seratus meter untuk mengakhiri ini."
"Kak Hali memang kakak yang hebat," puji Solar tanpa nada sarkas sama sekali. "Aku dan Kak Gempa terlalu terkejut dan tidak berpikir untuk menjemput Thorn seperti yang Kak Hali lakukan."
"Ayo ...," ajak Gempa pada kesebelas lawan bicaranya, "kita selesaikan semua ini."
Kedua belas murid berjalan bersama menuju pos pertama sekaligus pos terakhir, tak acuh dengan ujian yang dapat dikatakan masih berlangsung. Cikgu Papa Zola mengusap air matanya dengan sapu tangan. Menurutnya, apa yang telah kedua matanya saksikan sendiri ini jauh lebih mengharukan dibanding seri televisi Segundi Mawar Merah yang terkenal itu.
"Kalian semua hebat, Murid-murid Kebenaran!"
w! windu
"Satu windu ... berapa tahun? Kelihatannya pernah belajar ini, tapi …."
Taufan tersenyum miring.
Aku windu sama kamu :*
Pulang sekolah, Taufan dipanggil ke ruang guru. Nak Taufan, kamu masih sebelas tahun tapi sudah tahu "windu" dan pakai emot cium segala.
x! x dan y
"Sol, kok bisa-bisanya kamu jago Matematika, sih? Menang olimpiade pula, padahal kudengar materi SMP juga masuk," tanya Blaze sambil mengurut keningnya, pening. Efek setelah ujian Matematika memang dahsyat—jejak rambut putih Blaze bertambah.
"Oh bisa dong, kan aku pintar," jawab Solar.
"Serius," celetuk Halilintar. Sebenarnya dia penasaran juga, tapi agak malu kalau harus secara tidak langsung mengibarkan bendera kekalahan. Bagaimana pun, sebagai kakak tertua, dia harus bisa unggul dibanding adik-adiknya.
"Memang iya." Solar tersenyum bangga. "Matematika SD belum ada apa-apanya. Angkanya belum nikah sama huruf x dan y."
"Cukup." Blaze mengangkat tangan, mual mendengar jawaban atas pertanyaannya sendiri. Bayangannya akan huruf-huruf itu sangat menyeramkan. "Sudah cukup aku mengerjakan soal A yang pergi ke kolam renang empat hari seminggu, si B tiga kali seminggu, dan si C lima kali seminggu lalu ditanya kapan mereka datang barengan. Zaman sekarang kok ponsel masih tak punya, sih?! Tinggal kirim SMS, tanya gitu kapan bisa barengan datang. Aneh memang orang yang tak mau pakai ponsel itu!"
"Apa?!"
Yaya melotot. Blaze berakhir "X" karena dihajar "Y".
y! yoghurt
Fang punya seorang kakak, namanya Kaizo. Selama ini Fang tidak pernah menceritakannya. Thorn dan Solar baru tahu saat mereka berkunjung ke kediaman sahabat mereka yang berambut landak itu—Solar memanggilnya Fangcupine kadang-kadang.
Diulangi, nama kakak Fang itu Kaizo. Kata Fang, kakaknya itu sudah SMA, jadi Solar memprediksi kalau mereka bertiga lima sampai tujuh tahun lebih muda. Secara penampilan, dengan tubuh langsing mengalahkan Miss Universe, Kaizo itu seperti Fang yang datang dari masa depan.
"Salam kenal Kak Kaizo, nama saya Thorn. Ini adik saya, Solar," ujar Thorn memperkenalkan diri sambil menyalim tangan Kaizo.
Wajah Kaizo tidak menunjukkan sebuah ekspresi yang pasti. "Perkenalan kalian mirip Upin dan Ipin."
"HAHAHAHAHA!" Fang spontan tertawa. Kakaknya memang tak suka melucu, tapi sepertinya Fang versi dewasa itu tak sadar kalau kalimatnya kadang bisa mengundang gelak tawa.
Kaizo baru pulang dari sekolah ketika Thorn dan Solar sedang bertamu. Ingin melepas lelah sejenak, Kaizo memilih untuk duduk di salah satu sofa yang tak diduduki setelah melempar tasnya ke lantai.
Di saat itulah, pengait tas Kaizo lepas dan isinya berhamburan. Inisiatif, Thorn membantu dengan mengambil buku-buku dan kertas-kertas dengan isi yang tak mampu dipahaminya.
Tak sengaja, Thorn tak sengaja melihat isi kertas yang kali ini bisa dia mengerti.
"Kak Kaizo dapat tiga puluh di ujian Bahasa Inggris? Thorn saja dapat seratus," ujar Thorn polos, tak sadar sudah meninju jantung Kaizo. Kaizo merasa terledek meski Thorn tidak bermaksud demikian.
"HALAH ANAK SD SOK AMAT!"
Wajah Kaizo berubah masam dikerubungi Streptococcus dan Lactobacillus. Kaizo lagi PMS, harap maklum.
z! zodiak
"Menurut ramalan zodiak, besok hari sialnya Pisces," ujar Taufan dengan nada sok seram. "Mampus kamu Kak Hali, memang kayaknya besok hari sialnya Kak Hali. Kak Hali kena remedial IPA."
"Nyari maut kamu, Kak Taufan," ujar Ice sambil meninggalkan ruang keluarga tempat mereka bertujuh sedang berkumpul, enggan menyaksikan pertumpahan darah.
"Zaman sekarang masih percaya ramalan zodiak," sahut Blaze.
"Jangan percaya yang begitu. Percaya cukup sama Tuhan," ujar Gempa sang anak alim.
Bila biasanya Halilintar akan mengamuk sesuai dengan ekspetasi Taufan, kali ini Halilintar hanya tersenyum. "Kamu lupa ya? Kita kan kembar. Lagi pula, bukannya semua murid harus mengikuti remedial IPA karena Adu Du? Apa kamu sudah belajar, Taufan? Santai sekali."
Taufan berlari ke kamar, menghubungi ayah tercinta.
"Ayah, ini aku anakmu."
"Yang mana?"
Taufan meringis. "Taufan, Yah. Taufan. Besok hari sialnya Pisces, Yah. Kalau aku gagal di remedial, habis masa depanku. Aku sudah tidak kuat lagi, Ya—"
Tut tut tut. "Panggilan Anda sedang kami alihkan ke Layanan Khusus Pencegahan Bunuh Diri. Mohon tunggu beberapa saat."
"Apa—"
"SIR! Don't. Do. That!"
Nama kontak "Ayah" di ponsel Taufan berubah menjadi "Bapak Amatoib". Mau ditambah "yang tak pulang-pulang" tapi tidak muat. Durhaka memang.
tamat (dengan tidak elitnya)
catatan kecil :
(1) Periculum in Mora atau berbahaya bila ditunda (artinya Halilintar juga panik soal ujian)
(2) obsesi berlebih terhadap hal-hal berbau Jepang (Halilintar nggak wibu kok, sans!)
(3) bahasa Latin, artinya lihatlah (mungkin tidak nyambung dengan drabble, maaf!)
(4) kartun perempuan, isi tontonannya mayoritas dipenuhi karakter perempuan, atau tujuan tontonan itu sendiri untuk perempuan (iya, Retak'ka sama Halilintar tontonan nobarnya itu)
Bagi yang sedang menunaikan masa-masa UTS atau ujian apa pun, semangat berjuang! Terkait dengan COVID-19, mari kita menjaga kebersihan diri dan tidak lupa untuk berdoa, semoga kita semua dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. ^-^
~himmedelweiss 20/03/2020
