Rantai takdir menjeratnya.
Memaksa mereka untuk berkelana di dunia yang baru dengan kenangan masa lalu.
Semua hanya tertuju padanya, hanya ia seorang.
Tsuna.
Sawada Tsunayoshi.
Tsu-nii.
Sawada.
Tsunayoshi.
Berbeda panggilan pada setiap orang, tapi merujuk ke orang yang sama.
Dahulu, mereka melihatnya mati. Menjual nyawanya untuk membeli kebebasan. Mengorbankan hidupnya, demi orang lain. Naïf memang. Tapi seperti itulah ia di mata mereka.
Kini, mereka diberikan kesempatan kedua. Dunia yang awalnya berbeda, dipersatukan. Mereka hanyalah orang asing yang sama-sama bernasib sial—nasib sial karena kehilangan sosok yang berharga.
The one that got away
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Story © Hanyo4
Tidak ada keuntungan komersil yang didapatkan oleh penulis. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk kesenangan semata.
Alternate Reality, Friendship, Angst, (perhaps) mention of Sho-Ai in future chapter. Unrelated oneshoot (chap 1-6).
Chapter 1
-Yamamoto Takeshi-
.
.
Yamamoto Takeshi menerawang langit dari jendela besar yang ada di hadapannya. Sulit rasanya membayangkan kalau beberapa jam yang lalu ia terjun bebas sembari menatap awan. Beruntung, nyawanya dapat diselamatkan—namun tidak dengan mentalnya.
Takeshi merasa kosong. Amat teramat kosong. Hatinya bahkan mati rasa saat ia melihat ayahnya menangis memeluknya. Luka di tangannya tak sebanding dengan derita batin yang ia rasakan.
Tidak, mereka tidak mengerti. Mereka tidak mau dan tidak pernah mengerti.
Alasan kenapa Takeshi memilih untuk lompat dari atap sekolahnya. Alasan seorang Yamamoto Takeshi—atlet baseball kebanggaan sekolahnya, ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
"Takeshi," Tsuyoshi memanggil anaknya, tersenyum tipis tatkala iris kecoklatan menatap wajah paruh bayanya. "Kamar rumah sakit sedang ramai sekarang, apa tak masalah kalau kau berbagi dengan orang lain?" tanyanya lembut.
Takeshi mengangguk lemah. Kepalanya bersandar pada ranjang kaku yang ada di unit gawat darurat. Ia tak mengerti mengapa dirinya harus dirawat di tempat ini. Tubuhnya bahkan tak terasa sakit—atau mungkin belum? Mungkin karena morfin yang diberikan dokter dan perawat masih bekerja? Tapi yang pasti saat ini, Takeshi tidak merasakan apapun.
Kelopak matanya lama-lama terasa berat, tanpa ia sadari dirinya tertidur pulas. Di sisi Takeshi, Tsuyoshi memandang sendu putra semata wayangnya. Hari ini nyaris saja ia kehilangan satu anggota keluarga lagi. Tsuyoshi merasa gagal menjadi seorang ayah, ia tak bisa menjaga anaknya dengan baik.
Tsuyoshi menggigit bibir, menahan isak tangis. Jemarinya menyisir lembut rambut hitam milik sang anak. Sungguh, ia tak mau kehilangan Takeshi. Sangat tak ingin.
.
.
Saat terbangun, Takeshi merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. Ia mengerang, menahan sakit yang ada di bahunya. Pandangannya yang semula buram, kini mulai terlihat jelas. Rambut bewarna kecoklatan masuk dalam area pandang, kening Takeshi berkerut tak mengenali sosok sang pemilik.
"Kau sudah bangun?" Tanya orang itu.
Takeshi ingin menjawab, namun hanya erangan yang keluar dari mulutnya. Ia juga baru menyadari kalau separuh dari wajahnya ditutupi dengan masker oksigen.
Sosok berambut coklat itu berdiri dan menekan tombol yang ada di atas ranjang Takeshi. "Ah, kata ayahmu aku harus memanggil dokter saat kau bangun." Ujarnya sambil tersenyum ramah.
Tak lama dokter dan dua orang perawat datang. Sang dokter menanyakan bagaimana keadaannya dan apa yang ia rasakan. Takeshi hanya menjawab sekenanya dengan anggukan atau gelengan lemah, dua orang perawat lainnya sibuk mengganti dan menyuntikan obat pada cairan infus.
Rasa nyeri perlahan menghilang, Takeshi bisa menggerakan tangan kirinya. Perlahan ia melepas masker oksigen yang terpasang, namun belum lepas sempurna ada tangan lain yang menginterupsinya.
"Kau tahu, aku disuruh ayahmu untuk menjagamu sampai ia kembali. Katanya aku harus mengawasi agar kau tidak bertindak bodoh. Lagipula sudah agak lama juga aku tidak punya teman sekamar." Ujar orang itu.
Mengganggu. Itu kata yang terbesit di benak Takeshi. Entah siapa orang ini, tapi jelas ia sudah mengganggu zona nyamannya. Dan apa katanya tadi? Mengawasinya agar tidak bertindak bodoh? Memang apa yang bisa Takeshi lakukan sekarang? Lompat dari ranjang?
Sorot mata Takeshi menyipit, memandang sinis pemuda berambu coklat yang ada di sampingnya.
"Kau penasaran siapa aku?" genggaman tangannya dilepas tapi posisi masker oksigen miliknya dibenarkan seperti semula. "Aku Sawada Tsunayoshi, teman sekamarmu." Ujar Tsuna dengan nada riang.
.
.
Satu hal yang Takeshi pelajari dari teman sekamarnnya—Sawada Tsunayoshi adalah orang yang menyebalkan. Takeshi bukanlah orang yang mudah marah dengan orang lain, bukan juga orang penyendiri yang lebih nyaman dengan kesepian. Di sekolah, ia punya banyak teman. Ia juga sering mendengarkan temannya bercerita atau berceloteh tentang hal random. Namun tidak ada yang seperti Sawada Tsunayoshi.
Entah kenapa sejak kecelakaan itu emosi Takeshi tidak stabil. Ia lebih cepat marah dan merasa kesal, dan Tsunayoshi adalah penyebab utama dari emosinya yang naik turun.
Pernah sekali, saat jam check up Tsuna mengganggunya. Mengajak bicara perawat yang sedang memeriksanya. Anehnya para perawat itu tetap menanggapi ucapan Tsuna walau hal yang ia lontakan hanyalah perkataan basa-basi untuk membunuh waktu.
Takeshi lebih banyak mengabaikan pertanyaan Tsuna ketika mereka berbincang. Pura-pura menyibukkan diri dengan game atau komik yang dibawa ayahnya. Akan tetapi itu tak menyurutkan semangat Tsuna untuk berinteraksi padanya. Tsuna selalu antusias saat ia main ke bilik Takeshi, tirai yang memisahkan ranjang keduanya lebih banyak dibuka—karena Takeshi sudah lelah untuk menutupnya.
"Apa tidak ada wali yang menjengukmu?" Tanya Takeshi tiba-tiba. Jarang sekali ia yang bertanya duluan, namun baru kali ini pula hanya kebisuan yang menjawabnya.
Wajah Tsuna yang semula sumringah berubah datar sesaat, sorot matanya sendu. "Mereka sibuk bekerja untuk membayar biaya pengobatanku." Jawabnya lirih. Pemuda mungil itu mencoba untuk tersenyum—yang di mata Takeshi seperti ia melihat dirinya sendiri.
"Memang kau sakit apa?" Bodoh memang, sepanjang ia dirawat ia tak tau penyakit yang diderita teman sekamarnya. Di mata Takeshi Tsuna terlihat sehat dan lincah walau memang wajahnya selalu putih pucat—atau memang itu warna asli kulitnya?
Sekali lagi Tsuna diam. Ia lantas beranjak dari kursi yang ada di sebelah Takeshi dan berjalan menuju ranjangnya sendiri. "Nee, Yamamoto-kun," Takeshi menatap lekat Tsuna. "Akhir minggu ini kau keluar dari rumah sakit kan? Keadaanmu sudah jauh membaik. Jangan melakukan hal bodoh lagi ya, jangan buat Yamamoto-san menangis." Ucapnya.
Setelah percakapan itu, Tsuna lebih banyak diam menyendiri. Tirai yang memisahkan bilik mereka tertutup rapat. Takeshi tak tahu apa yang salah dari pertanyaannya. Mengapa tiba-tiba Tsuna menjauhinya. Seharusnya ia lah yang berhak marah karena Tsuna sudah merasa sok benar dengan menasehatinya. Lagipula siapa yang memintanya untuk ikut campur dalam urusan hidupnya? Memangnya Tsuna tahu apa yang Takeshi rasakan?
Tapi…
Bukankah Takeshi juga sudah mencampuri urusan pribadi Tsuna dengan pertanyaannya kemarin? Apa pertanyaan itu sangat sensitif untuk Tsuna hingga pemuda itu menjauhinya sekarang?
.
.
Sore itu, tepat sehari sebelum kepulangannya, Takeshi mengunjungi ruang pemeriksaan dokter bersama ayahnya. Membahas hasil rontgen tangannya. Ia diperingatkan untuk tidak memberi beban berlebih pada tangan kanannya, dan disarankan untuk rehat sejenak dari klub baseballnya. Takeshi tidak memiliki banyak pilihan selain menyetujuinya.
Saat ia kembali menuju kamarnya, ia bisa melihat banyak perawat yang masuk ke kamarnya dengan wajah panik. Beberapa diantara mereka mendorong tray yang berisikan alat-alat kedokteran. Pintu kamar rawatnya tertutup rapat, seorang perawat menyarankannya untuk menunggu sebentar di lorong.
Berdiri di depan pintu, Takeshi mencoba untuk mengintip. Jendela kecil yang ada di pintu tak bisa menampilkan seluruh pemandangan yang ada di dalam kamar. Namun ia bisa mendengar samar suara perawat serta dokter yang berbincang.
"Tsunayoshi-kun, tenanglah ini akan segera berakhir. Tsunayoshi-kun, jangan menyerah kau pasti bisa. Ayo Tsuna-kun terus lawan kau adalah pasien paling kuat yang ada di rumah sakit ini!" Takeshi kenal suara ini, suara dokter yang sering mengunjungi Tsuna.
Apa yang salah dengan Tsuna?
Pintu kamar rawat dibuka lebar, ranjang Tsuna didorong keluar. Walaupun hanya sesaat, Takeshi bisa melihat wajah pucat Tsuna yang amat kesakitan. Pada detik itu juga Takeshi membatu, matanya tak lepas dari kerumunan perawat yang membawa ranjang Tsuna menjauh, kemudian hilang di persimpangan lorong.
"Takeshi? Kau tidak apa-apa?" Tanya Tsuyoshi, menyadarkan anaknya dari lamunan. Takeshi mengangguk kaku. Baru pertama kali ia melihat seseorang yang sedang berjuang, untuk tetap hidup. Takeshi kira hal seperti itu hanya ada di cerita komik fiksi.
"Apa yang terjadi dengan Tsuna, oyaji?"
Tsuyoshi menggeleng, "Sepertinya sakit yang Tsuna-kun derita bukan penyakit biasa…" Matanya menerawang ke ujung persimpangan lorong, tempat dimana ranjang Tsuna dibawa. "Bahkan pada saat seperti ini tidak ada orang yang menjenguknya, aku tidak tega membayangkan bagaimana perasaan Tsuna-kun yang berjuang sendirian." Ujarnya lirih.
—dan Takeshi sadar akan hal yang ia miliki, tidak dimiliki oleh Tsuna.
.
.
Pagi itu, seharusnya Takeshi pulang. Bukankah ia sudah penat dengan aroma antiseptik ini? Bukan kah ia rindu dengan teman-temannya yang ada di sekolah? Bukan kah ia rindu dengan futon yang ada di kamarnya?
Pagi itu, Takeshi menatap kosong ranjang yang ada di sebelahnya.
Pagi itu Takeshi sadar bagaimana rasa kesepian yang sesungguhnya.
Takeshi membayangkan dirinya sebagai Tsuna, memandang hampa tembok putih yang memenjarakan kebebasannya.
Apa ini kah yang selalu Tsuna rasakan?
Jika iya, bukan kah seharusnya Tsuna menyerah saja? Membiarkan maut menjemputnya? Membiarkan deritanya berakhir dalam tidur abadi? Tapi mengapa? Mengapa ia terus berjuang? Untuk siapa Tsuna berjuang jika taka da orang yang menemaninya di saat tersulit?
"Takeshi?" Tsuyoshi memanggilnya, "Ayo pulang." Ucap pria paruh baya pelan.
Takeshi beranjak, sebelum keluar ia menyempatkan diri memandang kamar itu sekali lagi. Mematri kenangan yang ada.
Kenangan apa? Bukannya selama ini ia hanya menyia-nyiakan keberadaan Sawada Tsunayoshi?
Dengan langkah gontai ia berjalan keluar, Tsuyoshi menatapnya khawatir, "Kau tidak apa-apa Takeshi? Atau masih ada yang sakit?" gelengan lemah yang menjawabnya.
Keduanya berjalan menuju lift yang ada disebrang meja perawat.
"Takeshi-kun," panggil seorang perawat. Takeshi berbalik, memandangnya lekat. "Apa sebelum pergi kau ingin pamit dengan Tsuna-kun?" tanyanya agak ragu. "Sudah lama Tsuna tidak memiliki teman sekamar. A—apa kau tidak keberatan menemuinya sebelum keluar dari rumah sakit?"
Takeshi diam sejenak sebelum memutuskan untuk mengangguk.
Ya, pasti aneh rasanya jika nanti Tsuna kembali ke kamar dan hanya disapa oleh keheningan. Taka da salahnya kan kalau Takeshi pamit secara formal—walau hubungan keduanya tidak sedekat apa yang orang lain pikirkan?
Perawat itu memandu pasangan ayah-anak ke lantai lain. Saat pintu lift terbuka, yang menyambutnya hanya lorong sepi—tak seramai dengan bangsal rawat inap. Sebagian besar lorong didominasi oleh kaca—bukan dinding seperti di lantai atas.
Perawat itu kemudian berdiri di salah satu kaca besar. "Tsuna-kun" panggilnya lembut.
Takeshi mengangkat wajah, melihat ke arah yang ada di hadapannya. Ekspresi terkejut tak bisa ia tutupi tatkala melihat tubuh teman sekamarnya terbujur lemah di atas ranjang. Banyak mesin-mesin aneh di sekitarnya—mungkin untuk menjaga kondisi Tsuna agar tetap stabil.
"Tsuna-kun, hari ini Takeshi-kun keluar dari rumah sakit. Kau ikut senang kan dengan kesembuhan orang lain?" perawat itu mulai bercerita sendiri, yang Takeshi lihat matanya mulai berair tak bisa menahan sedih. "Makanya, kau harus kuat Tsuna-kun! Kami semua yakin kelak kau akan lulus dari rumah sakit ini! Bertahanlah sedikit lagi, pasti akan ada donor yang cocok untukmu."
Tangan Takeshi mencengkram fabrik kain yang menutupi tubuhnya. Dadanya terasa sakit, tapi bukan sakit penyakit. Pagi itu, Takeshi menangis sembari memeluk ayahnya. Memohonnya agar tetap berada di sisi Tsuna hingga pemuda itu sadar, baru setelah itu ia akan pamit secara langsung.
.
.
Hari kedua, Tsuna mulai bangun dari tidur panjanganya.
Hari ketiga, sebagian dari mesin-mesin penopang hidup itu mulai dilepas dari tubuh Tsuna.
Hari keempat, Tsuna mulai kembali ke dirinya yang biasa—merengek meminta cemilan manis atau bercerita panjang lebar ke perawat-perawat yang ada.
Hari kelima, Tsuna kembali ke kamar rawat inapnya diantar dengan kursi roda oleh beberapa perawat. Tsuna tahu tidak akan ada orang yang menyambutnya di sana, tidak ada lagi teman sekamar yang akan mendengarnya bercerita kalau para perawat sedang sibuk bekerja. Tsuna tahu karena ia sudah tebiasa. Teman paling setianya di tempat ini adalah kesepian, yang lain hanya datang lalu pergi—dan Tsuna sudah terlatih untuk ditinggal pergi.
"Yo, Tsuna." Panggilan itu membuyarkan segala ekspektasinya.
"Ya—Yamamoto kun?" tanyanya tidak percaya.
Tepat di sebelah ranjangnya, pemuda berambut hitam menyambutnya. Ada yang berbeda dengan Takeshi saat ini, ia tersenyum. Baru pertama kali Tsuna melihat teman sekamarnya tersenyum. Tsuna beranjak dari kursi roda, mencoba untuk menggapai Takeshi. Berharap sosok Takeshi yang ada bukanlah ilusi yang diciptakan imajinasinya.
Saat kakinya mencoba untuk berpijak, ia goyah. Beban tubuhnya tak seimbang, ia tak memiliki tenaga untuk berdiri. Takeshi dengan sigap menangkap tubuh Tsuna walau tangan kanannya masih disangga oleh alat penopang.
"Kau benar-benar Yamamoto-kun?" tanyanya lagi untuk memastikan.
Takeshi mengangguk mantap. Dibantu oleh perawat, mereka membopong tubuh Tsuna menuju ranjangnya. Memastikan selang infusnya tidak terlilit, kemudian kembali memasang alat bantu pernapasan sementara ke wajah Tsuna.
"Kau tidak pulang? A—apa kau sakit lagi?"
Takeshi menggeleng. "Aku menunggumu untuk kembali Tsuna."
"Menungguku? Untuk apa?"
"Untuk minta maaf atas apa yang aku katakana tempo hari," wajah Takeshi merunduk sejenak sebelum akhirnya menatap Tsuna dengan pandangan penuh ambisi. "Dan berterima kasih padamu."
"Kalau karena ucapanmu yang beberapa hari lalu, aku rasa aku yang salah Yamamoto-kun. Maafkan aku karena sudah bertingkah dingin padamu…. Tapi berterimakasih untuk apa?" tanyanya bingung,
Takeshi tersenyum, tangan kirinya menggengam pelan tangan kanan Tsuna. "Terima kasih karena sudah berjuang, terima kasih sudah membuatku sadar apa yang seharusnya aku jaga dan syukuri. Terima kasih sudah menjadi teman sekamarku yang terbaik."
Tsuna menangis haru. Baru kali ini ada orang luar—selain perawat dan dokter, yang memintanya untuk terus berjuang. Takeshi membawa tubuh Tsuna ke pelukannya.
Setelahnya, Takeshi bercerita panjang lebar tentang kehidupannya. Tsuna lebih banyak berbaring sambil mendengarkan, tubuhnya masih dalam pengaruh obat sehingga ia mudah lelah. Tak lama, matanya terpejam. Takeshi yang sadar lawan bicaranya sudah tertidur, mengelus lembut pucuk kepalanya.
"Jangan tidur terlalu lama, Tsuna. Masih banyak hal yang ingin kuceritakan."
.
.
Malam harinya, Tsuyoshi datang. Membawakan sang anak tugas sekolah yang sempat terlewat selama dirinya absen. Layaknya orang tua yang ingin anaknya belajar dengan sungguh-sungguh, Tsuyoshi menemani dan membimbing Takeshi mengerjakan tugasnya. Sesekali matanya mencuri pandang pada sosok pemuda mungil berambut coklat yang sedang tertidur pulas di sebrang ruangan.
"Tadi, Tsuna-kun sudah sehat?" tanyanya memecah sunyi.
Takeshi menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatap ke arah ranjang Tsuna. "Ya, sudah mulai cerewet. Tapi masih lemah, kata dokter masih dalam pegaruh obat. Harus banyak istirahat."
"Takeshi, bukankah sudah saatnya kau pulang? Aku tidak akan memaksa kalau kau memang belum siap untuk pulang. Tapi sore tadi, teman-teman klubmu datang dan bertanya kapan kau akan masuk sekolah." Tanya Tsuyoshi.
Takeshi membuang pandang, mencoba menyibukkan diri dengan lembaran tugas yang ada di depannya.
Tanpa keduanya sadari, Tsuna mendengarnya
.
.
Pagi setelah sarapan, Takeshi kembali sibuk bercerita dengan Tsuna. Tsuna tersenyum kecil, sesekali tertawa saat Takeshi menceritakan momen yang lucu.
Perbincangan mereka berhenti saat ada seseorang yang masuk. Senyum Tsuna pun lenyap. Tirai yang membatasi bilik keduanya tertutup rapat, dan Takeshi secara terpaksa kembali ke ranjangnya.
"Ku dengar keadaanmu sempat kritis kemarin." Ujar orang itu.
Tsuna memandangnya sejenak, "Ada urusan apa kau disini, Oregano-san? Bukannya mereka akan jauh lebih senang saat nyawaku ada di ujung tanduk?" Tanya Tsuna sinis.
Oregano membenarkan letak kacamatanya, kemudian menyodorkan sebuah map. Tsuna membuka dan membacanya. "Kami sudah menemukan donor yang cocok. Setelah berkonsultasi dengan pihak dokter, kau akan dioperasi setelah keadaanmu stabil." Jelasnya dengan nada datar.
Tsuna tertawa, "Kalian lucu sekali. Bukannya sudah kubilang untuk tidak campur dengan urusanku? Meski masih menyandang marga yang sama, hubungan keluarga kita sudah putus di atas lembar hukum. kalian telah melanggar kesepakatan yang dijanjikan." Ucapnya.
"Tidak ada kesepakatan yang dilanggar, Tsuna-kun. Pihak Sawada sudah berjanji akan menyokongmu hingga kau sembuh sepenuhnya. Sebelum itu, kau masih tanggung jawab kami."
"Aku tidak butuh donor yang kau dapatkan."
"Kau tidak punya banyak pilihan, Tsuna-kun. Dan bukan keputusanmu untuk menolak operasi ini. Aku hanya datang untuk menyampaikan berita, bukan untuk negosiasi." Oregano beranjak dari duduknya.
"Bilang pada mereka, jika operasiku gagal, jangan repot-repot untuk datang melayat. Aku sudah menuliskan mekanisme pemakamanku di lembar perjanjian." Ujar Tsuna.
Oregano pun pergi.
Mendengar pintu ditutup, Takeshi bangun dari ranjang dan bergegas menyibak tirai.
"Siapa itu tadi?" tanyanya dengan nada khawatir.
Tsuna merunduk, mengeratkan cengkramannya pada map. "Sekretaris ayahku… atau mungkin mantan ayahku."
"Tsuna… apa kau baik-baik saja? Aku janji tidak akan mencampuri urusanmu jika kau tidak mengijinkannya, tapi aku hanya ingin tahu apa kau sekarang baik-baik saja?" suara Takeshi bergetar, dalam hati ia takut mendengar jawaban dari Tsuna.
Isak tangis dan gelengan menjadi jawaban.
Sama seperti kemarin, Takeshi memeluk erat tubuh Tsuna. Yang berbeda hanyalah,
Kali ini Takeshi juga ikut menangis.
.
.
"Kau ingat siapa nama lengkapku, Yamamoto-kun?" Tanya Tsuna setelah keduanya merasa tenang.
"Sawada Tsunayoshi, bukan?"
Tsuna mengangguk, matanya menyorot pada televisi yang sedang menampilkan segmen berita bisnis. "Kau tahu siapa dia?" tanyanya lagi.
Takeshi melirik ke tv, sesaat bola matanya membola melihat orang yang sedang diwawancarai. Spontan, ia menatap Tsuna kemudian menatap tv lagi. "I—itu—"
"Kakakku, Sawada Ieyasu." Tsuna tersenyum kecut. "Kami satu ayah, beda ibu."
Takeshi masih terkejut dengan informasi yang diterimanya. "Tapi bukannya Ieyasu itu anak tungg—ah, tidak. Ada rumor yang menyebutkan kalau ia punya saudara. Apa itu kau, Tsuna?"
Tsuna mengangguk. "Enam tahun yang lalu ada kecelakaan yang merenggut nyawa istri dari Sawada Iemitsu. Beberapa memberitakan kalau saudara yang kau maksud itu ikut meninggal."
"Tapi kau tidak meninggal, Tsuna! Kau bertahan hidup, dan kau ada di hadapanku sekarang!"
"Tapi tidak menurut mereka. Sawada Tsunayoshi sudah meninggal di mata mereka. Dengan begitu, jauh lebih mudah membagi bagian di perusahaan. Atau bahasa mudahnya, keberadaan Sawada Tsunayoshi sudah dihapus oleh mereka."
"Mereka?"
"Ayahku dan kakakku. Sejak awal keberadaanku ini hanyalah benalu. Aku tidak sehebat Ieyasu yang sempurna di segala hal, hanya barang cacat. Dan tentu kau pasti tahu kan apa yang akan pabrik lakukan terhadap barang cacat? Membuangnya."
"Kau bukan barang, mereka adalah keluargamu. Tidak seharusnya anggota keluarga bersikap seperti itu! Tidak ada orang tua yang sekejam itu!" ujar Takeshi frustasi, menolak segala kebenaran yang dilontarkan.
Tsuna diam, memandang Takeshi sendu. "Tapi orang tuaku seperti itu, Yamamoto-kun." Tsuna mengulur tangan, membingkai wajah Takeshi. "Bersyukurlah atas apa yang kau miliki, karena sebagian orang di muka bumi ini mungkin tidak punya kesempatan yang sama seperti mu." Ucapnya lembut.
Jemari Tsuna menghapus air mata Takeshi. "Tsuna," panggil Takeshi. "Berjanjilah kau akan terus berjuang. Jika bukan untuk dirimu sendiri, setidaknya berjuanglah demi aku, temanmu."
Tsuna tersentak sejenak, kemudian tersenyum. "Yamamoto-kun, kau punya dunia yang lebih luas dari pada disini."
"Apa maksudmu?"
"Kamar rumah sakit ini hanya mengekangmu, lagi pula bukannya kau sudah sehat? Kau punya kehidupan di luar sana—tidak sepertiku. Kau bisa bersekolah, pulang ke rumah, bermain dengan teman sebaya mu…"
"Kau juga temanku, Tsuna. Dan aku tidak akan meninggalkan temanku."
"Ya, kau juga temanku. Kalau teman berarti kita harus percaya satu sama lain kan?"
Takeshi tersenyum dan mengangguk, "Ya." Ia megenggam lembut tangan Tsuna yang tengah menyentuh pipinya. "Aku janji akan kembali ke sekolah dan mengunjungi tempat ini setiap hari." Tsuna hendak melayangkan protes namun Takeshi dengan cepat menyelanya. "Dan kau, Sawada Tsunayoshi. Berjanjilah untuk bertahan hidup dan keluar dari rumah sakit ini. Nanti setelah kau keluar dari sini, kita akan pergi berkeliling ke tempat-tempat yang aku cerita kan."
Tsuna tertawa. "Baik, aku janji."
.
.
Takeshi ingat dengan ramalan cuaca pagi tadi, katanya hari ini akan cerah.
Takeshi tidak tahu harus bersyukur atau mengutuk cuaca.
Di hadapannya, sosok teman yang pernah berbagi kamar dengannya terbujur kaku. Bunga lili putih mengelilingi jasadnya.
Tepat satu setengah bulan yang lalu, keduanya mengucap janji. Takeshi menepati janjinya, ia selalu menyempatkan diri ke rumah sakit, nyaris setiap hari. Bahkan dua hari yang lalu, ia masih berbicara dengannya.
Nyawa Sawada Tsunayoshi tidak bisa diselamatkan di meja operasi. Tubuhnya menolak organ yang didonorkan.
Meskipun pemuda mungil itu memiliki semangat juang untuk hidup, takdir menentangnya.
Takeshi merasa kosong saat ia melihat peti ditutup dan mulai dikremasi.
Takeshi berteriak, menyadari ia takkan pernah bisa melihat teman sekamarnya lagi. Ia memberontak, menolak kenyataan bahwa Tsuna sudah wafat.
Tsuyoshi dibantu dengan beberapa pelayat lainnya, menahan tubuh Takeshi yang memberontak. Takeshi baru tenang setengah hari kemudian.
Para pelayat—yang hanya berisikan dokter dan perawat yang mengenal Tsuna, mencoba untuk menghibur Takeshi.
Di akhir hari, mereka semua mengantar abu Tsuna ke rumah abu. Sisa abu ditempatkan pada guci keramik kecil yang ditutup rapat, di salah satu loker kaca, fotonya terpampang. Foto saat Tsuna bersama dengan yang lainnya dan Takeshi sembari tersenyum lebar. Foto yang diambil saat Takeshi hendak keluar dari rumah sakit.
Hingga proses selesai, tak ada satupun anggota maupun perwakilan dari keluarga Sawada yang datang.
Meski begitu, sebuah karangan bunga duka hadir. Karangan bunga tanpa nama yang ditujukan untuk Tsunayoshi seorang.
-Part Yamamoto Takeshi : End-
Lili putih : kesucian, kemurnian, ketulusan, kemuliaan, pengabdian juga persahabatan.
Holla! selamat datang di ff terbaru saya. sudah lama saya ga nulis angst (setahun lebih sepertinya) maaf kalau tulisannya agak kaku dan banyak grammar yang gaje!
Chapter 1 ini diperuntukkan untuk Yamamoto, dan chapter-chapter selanjutnya akan menceritakan guardians lainnya dengan Tsuna.
Antar chapter 1 dengan chapter selanjutnya tidak ada hubungannya sama sekali, bisa dikatakan ini mengambil prompt paralel world yang perchapter fokus dengan hubungan Tsuna dengan salah satu (atau mungkin dua) guardiansnya. jika masih kurang jelas, saya membuka sesi diskusi di kolom review /heh
Terima kasih telah membaca!
Salam hangat,
Hanyo4
