Yuu's Home.

Mikaela Hyakuya

Ketika alarmku berbunyi pukul enam pagi, rasanya seolah aku baru saja memejamkan mata.

Dari balik bantal aku bisa melihat kalau kamarku masih gelap. Namun aku bisa mendengar suara klakson dari jalanan perkotaan diluar, hiruk-pikuk orang-orang yang sudah bangun dan berangkat memberanikan diri menghadapi pagi yang dingin dalam perjalanan ke kantor atau sekolah atau melakukan misi-misi penting apapun yang harus mereka lakukan.

Ini tempat yang berbeda dari tempat tinggalku.

Aku berguling menyamping, berniat untuk tidur kembali. Tapi mataku tidak terpejam juga, aku malah melakukan kalkulasi di dalam kepalaku tentang bagaimana akhirnya aku sampai disini menemui Yuu-chan setelah empat tahun lamanya, kabur dari tempat para vampir dan sampai kesini.

Yuu-chan…

Seberapa besar kesenangan yang kurasakan tadi malam.

"Selamat pagi, Mika! Rupanya kau sudah bangun. Kupikir kau akan tidur seharian." Yuu mengangkat spatula ditangan kanannya disebrang kasurku, berdiri didepan pintu, "Ayo, kita sarapan. Shinoa telah menunggu."

Aku memejamkan mata sebentar dan membiarkan diriku membayangkan hal yang terjadi tadi malam. Aku yang hampir terkubur oleh badai salju, tidak mampu menguasai diriku –tidak diberi darah oleh Krull Tepes si kecil yang menyebalkan itu, cemburu saat aku yang dibilang peliharaannya akan menemui keluargaku, Yuu.

Shinoa-san?

Sejak kapan dia kemari. Apakah dia memang benar-benar tidak mempunyai sopan santun, mengunjungi rumah temannya di pagi seperti ini. Atau kah memang Yuu dan Shinoa tinggal bersama? Itu tidak mungkin. Tidak ada cinta bersemi didalam sebuah tim. Apalagi di dunia yang kejam ini, apakah ada waktu untuk saling mencintai satu sama lain? Yuu-chan dan Shinoa-san?

Aku melompat bangun dari tempat tidurku lalu menyusul Yuu-chan ke dapur. Mencoba melangkah dengan hati-hati, agar mereka tidak mengetahui jika aku sedang menuju kesana. Hanya ingin mengetahui apa yang biasa mereka berdua lakukan. Aku merasa tidak menerima. Yuu-chan rupanya sudah sangat berubah. Saat di panti asuhan dulu, Yuu-chan sangat enggan untuk bangun pagi dan harus aku yang menyiapkan segalanya untuknya. Tapi aku tidak keberatan, aku senang.

Shinoa-san?

apakah aku tidak salah dengar? Yuu-chan mengatakan jika Shinoa-san berada dirumah Yuu-chan sepagi ini dan menungguku untuk bersarapan dan apakah aku harus sarapan bertiga bersama Shinoa-san juga? Padahal aku berharap hari ini akan menjadi hari terpanjang karena hanya ada aku dan Yuu-chan disini.

Saat aku mengendalikan diriku lagi, aku sadar kalau Yuu-chan sudah berada di depanku tangannya nyaris menepuk bahuku. Aku mengerjap. Mengabaikan Yuu-chan yang didepanku dan melangkah cepat, mengambil kursi di meja makan.

Shinoa-san?

Apakah aku benar-benar lemah saat ini? Padahal aku sudah menghisap darah Yuu-chan semalam. Bisakah aku memikirkan hal yang lain sepanjang hidupku?

"—kau baik-baik saja, Mika? Alis mu mengerut kau terlihat seperti memikirkan sesuatu." Tanya Shinoa-san disebrangku dan aku mengerjap.

"Maaf, apa?" tanyaku sambil bergegas mengambil porsi makan yang ada dihadapanku. Sungguh, Shinoa-san ini mengganggu semua rencanaku. Bagai kertas yang dirobek-robek, hatiku hancur berkeping-keping.

"Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya menyapa keluarga Yuu-san. Dia sampai kegirangan meneleponku di pagi buta tadi, katanya Mika datang menemuinya tadi malam setelah berkali-kali dia berdoa di kuil bersama Yoichii dan Kimizuki. Rupanya dewa mengabulkan doa Yuu-san kali ini, setelah empat tahun lamanya doa Yuu-san tidak didengar dewa." Shinoa-san menjelaskan, dia tertawa kecil diakhir kalimatnya.

"Oh, ya. Ya. Syukurlah." Jawabku mengangguk.

Yuu-chan mendongkak kearahku dibelakang. Rambutnya mengeras keatas seperti tersambar aliran listrik.

"HAAA, hanya itu responmu? Setelah mendengar ceritaku dari Shinoa bahwa aku begitu sangat ingin menemuimu, selama empat tahun setiap hari setelah menyelesaikan misi aku selalu pergi ke kuil." Yuu-chan menendang kursiku tanpa tenaga.

Yuu-chan bodoh. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya aku menahan rasa sakitku untuk tidak menghisap darah manusia karena aku takut menjadi monster dihadapannya nanti. Aku takut dia tidak ingin mengenaliku lagi. Gila, bahkan darah manusia pertama yang kuhisap adalah miliknya. Yuu-chan bodoh. Membuat aku kehabisan berpikir tentang dirinya.

"Tapi, aku senang, Mika." Yuu-chan melabuhkan dirinya pada punggungku, memeluk diriku. Tangannya memutar di leherku. Aku merasakan nafas Yuu-chan kembali saat aku tersadar. "Selamat datang kembali, Mika." Yuu-chan berbisik.

Aku berusaha untuk tidak menitikan air mataku di pagi yang cerah ini, tidak ingin merusak suasana, namun aku tidak sanggup menahannya lagi. Air mataku tak terbendung lagi. Setiap kali Yuu-chan menghembuskan nafas yang terasa di leherku, aku beberapa kali mengucapkan syukur.

Yuu-chan masih hidup.

Setelah peperangan yang terjadi di Bandara Nagoya. Aku melihatnya dia benar-benar dimanfaatkan oleh manusia yang tidak berperasaan. Manusia itu benar-benar memanfaatkan Yuu-chan sebagai kelinci percobaan. Dia berubah menjadi monster yang menakutkan, menurut Krull ini pertama kalinya manusia mengamuk seperti ini. Hampir-hampir Yuu-chan tidak mengenali dirinya sendirinya, tubuhnya seperti dikendalikan oleh sesuatu. Pikiran manusia sudah mulai gila.

Sayangnya saat itu aku sedang dalam masa kutukan vampire dari tebasan pedang manusia. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Melihat Yuu-chan dari kejauhan. Terpaksa aku dibawa Krull dan meninggalkan Yuu-chan di medan peperangan dengan keadaan yang seperti itu. Peperangan terkahir antara manusia dan vampire pada era Heisei.

"—aku kembali, Yuu-chan." Mencoba memutar balik badanku, aku ingin membalas pelukan Yuu-chan.

Shinoa-san mengetok piring dengan sendoknya, terdengar sangat nyaring.

"Ufu, Hyakuya bersaudara reuni yang kedua kalinya." Shinoa-san terkekeh-kekeh, menggodaku dan Yuu-chan. "Kalau begitu, aku tidak ingin mengganggu reuni kalian. Aku pamit." Shinoa-san beranjak dari kursinyaa.

Shinoa-san

Lagi-lagi aku terpikirkan tentang siapa Shinoa-san ini bagi Yuu-chan. Hingga akhirnya aku merasa tidak enak untuk terus dipeluk Yuu-chan lebih lama karena Shinoa-san akan pergi. Walau disisi lain dari diriku merasa senang. Akhirnya, aku bisa bernostalgia bersama Yuu-chan.

"Shinoa, tunggu!" Yuu-chan segera melepasku, dia mengacungkan tangannya, memberhentikan langkah Shinoa-san.

Shinoa-san mengangkat alisnya, "Kenapa?"

Aku hanya menatap Yuu-chan sedikit heran bergantian dengan Shinoa-san yang sama herannya. Lebih herannya lagi Yuu-chan tidak mengatakan apapun selain menatapku dan Shinoa-san bergantian. Kami saling tatap keheranan.

Ruangan lengang sebentar. Yuu-chan menyeringai.

"Silahkan pergi, Shinoa. Tinggalkan kami berdua. Hanya berdua. Jangan bilang pada Shinya ataupun yang lainnya jika Mika disini. Itu sangat bahaya." Yuu-chan mempersilahkan Shinoa-san pergi sambil memberikan sedikit peringatan.

Aku senang Yuu-chan. Aku telah menantikan hal ini.

Shinoa-san mengangguk cepat. Paham . Dia segera pergi meninggalkan kami berdua dengan lambaian tangannya.

"Sampai bertemu nanti, Mikaela-san." Shinoa-san menutup pintu rumah Yuu-chan.

Yuu-chan merapikan dapurnya yang sempat berantakan, aku sudah tidak biasa lagi dengan pekerjaan rumah. Aku hanya membantunya mengangkut piring-piring kotor dan mengumpulkannya di westafel. Ini masih pagi, matahari masih hangat masuk ke sela-sela jendela di dapur Yuu-chan. Melihat Yuu-chan yang sedang mengelap meja makan, entah kenapa dia begitu terlihat indah. Matanya berbinar-binar memancarkan secercah harapan. Garis bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Aku yakin saat ini Yuu-chan sedang membayangkan kehidupan dimana manusia dan vampire tidak harus berperang lagi memperebutkan wilayah kekuasaan.

Alih-alih peperangan, ditahun setelah peperangan di Bandara Nagoya selesai dan vampire kalah telak untuk menaklukan wilayah Nagoya. Para bangsawan vampire dan para manusia yang berurusan telah membuat perjanjian untuk tidak saling memerangi satu sama lain. Ferid-sama dari pihak vampire yang turun langsung menemui Kureto Hiiragi dari pihak manusia. Mereka bersepakat atas perjanjian itu. Dengan syarat sebagian Nagoya boleh dikuasai bangsa vampire dan tidak akan menculik para manusia, terutama anak kecil.

Karena perjanjian itulah aku dilarang Krull untuk bertemu dengan Yuu-chan, para manusia sedang membangun kembali peradaban dan akan memulai transisi dari era Heisei ke Reiwa saat ini. Krull menutup rapat-rapat segala informasi tentang manusia apalagi tentang Yuu-chan. Hingga aku merasa depresi dan berniat untuk melenyapkan Krull dengan memberi tahu Ferid-sama jika Krull sedang berencana mengkhianati dirinya. Sayangnya, Krull selalu mengetahui niat jahatku karena darah Krull mengalir kental pada diriku. Setiap aku akan mengadu pada Ferid-sama saat Krull mulai menggodaku dengan informasi tentang Yuu-chan, saat itu pula dia mengancamku untuk tidak memberikan alamat Yuu-chan dan tidak memberikan ijin. Krull si kecil memang kejam. Tapi sejauh ini dia banyak membantuku .

"Mika…"

"Hmm..?"

"Kau ingin menghisap darahku lagi tidak?"

Yuu-chan, bodoh. Tawaran macam apa itu. Darah manusia mampu bertahan lama ditubuhku dibandig darah Krull.

"Tidak, Yuu-chan, aku telah menghisap lebih dari satu liter darahmu. Kau hanya memiliki 5 liter darah ditubuhmu. Jika aku hisap lagi aku tidak –"

"Bercanda, Mika, santai saja." Yuu-chan memotong pembicaraanku, sambil tertawa yang dipaksakan. Dia memang ahli dalam memotong pembicaraan semua orang. Apalagi kalau bukan karena dia tidak ingin mendengar penjelasan yang akan memojokkannya dirinya. Dengan kata lain, dia kalah berargumen.

Yuu-chan mengeluarkan beberapa pedangnya dari lemari samping kulkasnya, lalu menghunusnya satu-satu. Ia menceritakan semua kisah pedangnya. Mulai dari pedang yang pertama yang pernah aku berikan saat dikediaman para vampire, pedang yang diberi Guren saat latihan mustika iblis, pedang dari Shinya dan masih banyak lagi. Yuu-chan sangat ekspresif saat menceritakan pedang-pedang itu. Dia bangga akan dirinya sendiri. Meskipun bodoh dia tetap melakukan apa yang dia ingin lakukan dan melindungi orang-orang disekitarnya yang dia sebut teman.

Sebelum kutanyai maksud dari teman itu apa, dia sudah lebih dulu menjelaskan jika teman adalah orang-orang yang membantu kita disaat susah, melindungi dari semua marabahaya, mampu melakuka kerjasama tim. Itulah teman. Dia menganggap Shinoa-san adalah teman terbaiknya daripada Kimizuki, Yoichi, dan Mitsuba. Walupun begitu Yuu-chan akan tetap melindungi mereka apapun yang terjadi. Disaat nanti perang akan terjadi lagi, dia siap mempertaruhkan segalanya demi melindungi mereka.

"Maaf, Mika, bukan berarti aku tidak menganggapmu teman." Yuu-chan mendekatiku dan memegang bahu kananku, "Kau adalah keluargaku. Lebih dari teman. Maka dari itu aku akan lebih melindungimu lebih dari siapapun, Mika." Dia menepuk bahuku.

Aku mengangguk cepat. Mencerna baik-baik perkataan Yuu-chan, yang membuatku tidak ingin meningglakan Yuu-chan lagi dan ingin merencankan pelariannya sesegera mungkin.

Yuichiro Hyakuya

Shinoa-san melipat beberapa kertas diatas mejanya, kemudian menumpuknya diatas buku-buku besar. Yoichi menikmati secangkir kopi hitam yang dibuatkan Mitsuba dan Kimizuki sibuk menghubungi adiknya, Mirai, yang mulai bekerja di laboratorium membantu Guren. Mitsuba masih asyik dengan mesin kopi baru. Aku hanya menatap keluar jendela menikmati sunset yang indah, mengingat Mika yang menyukai sunset. Selalu mengajakku pergi ke sungai di pinggir panti hanya untuk melihat sunset.

Telepon di meja Shinoa berdering, setelah tiga kai berdering, Shinoa mengangkatnya.

"Dengan Hiiragi Shinoa." Ujar Shinoa. Hanya satu-dua menit saja percakapan Shinoa dengan si penelepon itu, wajah Shinoa berubah menjadi masam. Sesuatu pasti sedang terjadi padanya.

"Woi, Shinoa, apa-apaan dengan wajahmu itu?" Aku berteriak sambil menunjuk pada wajahnya yang masam, mengganggu sunset indah kali ini.

Shinoa yang pandai menutupi dirinya, dari yang tadinya masam dia langsung kembali ceria. Beranjak dari kursinya, mendekat padaku. Telunjuknya ditempelkan pada mulutku. Jarak ini terlalu dekat, aku tidak nyaman. Tapi Shinoa tidak ingin bergerak mundur walau sesenti sekalipun aku telah mencoba bergerak mundur, dia tetap mengikutiku.

"Ada misi baru." Shinoa setengah berbisik.

--to be continued--