Memori

Yaya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sebuah mobil menghantam tubuh Ying. Untuk kedua kalinya ia melihat hal yang nyaris sama dengan itu menimpa sahabatnya sendiri.

drabble, side story from Pulih


Yaya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sebuah mobil menghantam tubuh Ying. Ia masih ingat kecelakaan di persimpangan jalan beberapa tahun yang lalu itu. Dirinya sempat mematung sebelum cepat-cepat menghampiri kerumunan. Tubuh yang tadi ia lihat dari belakang kini tergeletak.

Mana Yaya tahu kalau hari itu akan menjadi hari terakhirnya melihat Ying.

Barangkali ia lebih beruntung dari yang lain karena hari itu ia sempat mendapati gadis berkacamata itu.

Di lain sisi ia merasakan... sesal?

Banyak pertanyaan berkumpul, salah satunya mengapa ia tak bisa menarik Ying dari insiden?

Kembali ke masa sekarang. Rasanya Yaya baru saja melambaikan tangan, tersenyum, dan mengatakan agar Fang berhati-hati. Pria itu telah mengantarnya ke kantornya lalu motornya kembali melaju sesuai tujuannya. Yaya tidak langsung masuk ke tempat ia bekerja, melainkan menatap punggung Fang sampai kira-kira dia hilang dalam lalu lalang kendaraan.

Senyum Yaya langsung luntur begitu suara tabrakan terdengar. Bukan hanya dirinya yang terkejut, semua orang yang mendengar menoleh ke sumber suara. Di sana pria bersurai ungu tergeletak.

Lagi dan lagi.

Tanpa perlu diberi aba-aba air mata Yaya mengalir. Kakinya seolah terpaku pada aspal jalan. Tubuhnya bergemetar. Ia mengabaikan beberapa orang yang menenangkannya lewat kata-kata atau sentuhan. Perhatiannya tertuju pada seorang saja. Siapa lagi kalau bukan Fang?

Sudah jelas Yaya benar-benar bersyukur ketika Fang terbangun, menampilkan kembali bola mata indahnya pada dunia. Senyumnya mengembang. Ia masih berkesempatan bertemu atau mungkin mengobrol dengan Fang. Menunggunya selama seminggu bukan hal yang sederhana. Harapan-harapan baik dipanjatkan bersamaan langkah yang terus membawaku padamu.

"Aku pikir aku akan kehilangan lagi karena keadaannya, tapi dia kembali, Boboiboy."


Entah mengapa aku tak lupa dengan apa yang menimpa Ying. Begitu juga yang terjadi padamu.

Aku mengerti semisal aku akan kehilangan sesuatu di suatu hari. Akan tetapi, di detik-detik sebelumnya kau masih bernapas walau dia tidak sadar. Lantas apa aku tidak boleh berharap agar dia kembali sadar?

Tak heran ketika kau sadar, kurasa dunia berhasil merebut kembali warnanya.

[fin]


Yaya, Fang, Ying, dan mimpi. Memori dan Pulih berkaitan.