"Date"
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning (s) : AU, elemental siblings, nyempil TauYa dikit, bahasa dialog non-baku.
Untuk #DailyDrabbleChallenge, prompt dari Harukaze Kagura : Ngedate Halu.
.
Selamat membaca!
.
.
.
"Serius amat liatin HP-nya." Taufan menusuk potongan apel di meja dan melirik saudara kembarnya yang duduk diam di sebelah. Kedua netranya terpaku pada layar ponsel di tangan. "Lagi nge-chat siapa, sih?"
"Mau tau aja," ketus Halilintar.
"Halah, paling juga nge-chat cewek," cibir Taufan. "Siapa, sih? Ying, ya?"
"Sok tau."
Taufan kembali mencibir. Ia memalingkan wajah ke layar televisi dan mengganti saluran dengan bosan. Kenapa tidak ada acara menarik hari ini?
"Fan, kayaknya kecap habis, deh."
Taufan mendongak. Kekasihnya muncul dari dapur, masih memakai celemek dan membawa-bawa sudip. Ya Tuhan, kenapa penampilannya istri-able sekali? Taufan jadi ingin mempersuntingnya saat itu juga?
"Masa', sih? Kayaknya kemarin baru beli, deh," kata Taufan. "Bentar, aku coba cari."
Taufan meletakkan garpunya dan bangkit. Ia sempat mendengar Halilintar bergumam dan melirik. Tunggu, apa Halilintar sedang tersenyum sendiri pada layar gawainya? Sudah Taufan duga, pasti Halilintar sedang mengobrol dengan perempuan. Tapi, siapa?
"Ya, coba kamu chat Ying, deh," cetus Taufan saat ia tengah menuang kemasan kecap isi ulang ke dalam botol.
"Buat apa?" tanya Yaya heran. Ia menumis bawang dan menyiapkan nasi goreng untuk makan siang mereka.
"Tanyain, dia lagi nge-chat sama Hali, nggak?"
"Emang Hali lagi nge-chat sama Ying?"
"Ya makanya kamu tanyain," Taufan berdecak. "Aku tanya ke Hali dia nggak mau jawab."
"Emangnya kenapa kalau mereka emang lagi chattingan?" Yaya mengangkat alis heran.
"Yah, nggak apa-apa, sih. Cuma kepo aja," Taufan nyengir, sang kekasih hanya memutar mata.
"Nggak usah kepoin urusan orang, deh. Nanti yang ada Hali ngamuk lagi."
"Iya, iya," Taufan menghela napas. Ia menyerahkan botol kecap pada Yaya dan mengawasi gadis itu mengaduk nasi di wajan.
"Ya, mau jadi istri aku, nggak?"
"Nggak sudi."
.
.
.
"Lihat deh, Gem."
Gempa yang tengah fokus pada tabel statistik di laptopnya mendongak. "Apa?"
"Lihat tuh, Hali." Taufan menunjuk dengan sendok es krimnya.
Halilintar masih belum beranjak dari konter dapur sejak setengah jam yang lalu. Jarinya bergerak lincah menggulir layar ponsel. Sesekali ekspresinya tampak mengernyit seolah tengah berpikir. Namun di lain waktu, senyum tipis tertarik di sudut bibirnya.
"Menurut kamu dia ngapain?" tanya Taufan.
"Entah," sahut Gempa cuek. Ia memilih untuk kembali fokus pada laporannya.
"Menurut kamu Hali udah punya pacar?" Taufan menyipitkan mata penasaran. Sesendok es krim vanila disuapkan ke mulut tanpa mengalihkan pandangan dari saudara kembarnya.
"Ya kali aja," Gempa mengedikkan bahu.
"Siapa ya ceweknya? Kayaknya bukan Ying, deh." Taufan termenung sejenak, mencoba berpikir. "Tapi emangnya dia dekat sama cewek mana lagi, coba?"
Gempa memilih untuk tidak menanggapi. Ia membiarkan saja saudaranya itu tenggelam dalam rasa penasarannya sendiri.
Taufan bangkit dari sofa. Ia melangkah tanpa suara ke arah dapur, sebia mungkin berusaha mendekati Halilintar tanpa disadari pemuda itu. Taufan ingin mencari tahu, gadis mana yang mampu membuat seorang Halilintar tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan ponselnya?
Halilintar tiba-tiba saja bangkit dari kursi. Taufan nyaris terjengkang dalam usahanya mengerem langkah mendadak. Ia hanya nyengir tanpa dosa saat sang kakak menyipitkan mata curiga padanya.
"Kamu mau ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain, kok," sahut Taufan santai. "Mau ambil es krim lagi di kulkas."
Halilintar mendengkus. Ia berjalan melewati Taufan yang berusaha mengintip layar ponsel yang digenggam tangannya.
"Mau ke mana, Li?" tanya Taufan penasaran.
"Nge-date."
Taufan membelalak. "Serius!?" ia berseru heboh. Gempa sampai mengangkat wajah dari laptopnya. "Malem-malem gini? Sama siapa?"
Halilintar berlalu tanpa membalas. Taufan segera mengekorinya ke lantai dua.
"Kamu mau nge-date ke mana? Taman bermain? Pasar malam? Nonton?" Taufan melempar pertanyaan bertubi-tubi. "Kalau kata aku, sih, buat kencan pertama itu bagusnya ke bioskop. Biar nggak canggung kalau nggak ada bahan obrolan gitu, 'kan. Terus sekalian kamu bisa tau seleranya dia kayak apa. Kalau dia sukanya model film action kayak Yaya, berarti dia tipe cewek yang nggak gampang diluluhin. Kamu harus pinter-pinter ngambil hati dia berarti. Tapi kalau seleranya film romantis—"
"Berisik," tukas Halilintar, mendelik jengkel. "Nggak usah ikut campur urusan orang kenapa, sih?"
"Ih, aku 'kan cuma penasaran," cibir Taufan. "Ini momen langka, seorang Halilintar akhirnya dapat pacar! Mau diadain syukuran, nggak?"
"Nggak perlu," ketus Halilintar. Ia membanting pintu kamarnya menutup di depan wajah Taufan.
"Kira-kira siapa, ya?" Taufan meletakkan telunjuk dan jempol di dagu sambil berpikir. "Ah, nggak penting sama siapa. Yang penting Hali akhirnya laku. Aku terharu."
Taufan menggeleng dan mengusap air mata buaya di sudut matanya. Ia kemudian bergegas ke kamarnya sendiri dan mulai membongkar lemari. Jika Halilintar akan menghadapi kencan pertamanya malam ini, Taufan sebagai saudara yang baik dan pengertian, juga lebih berpengalaman, akan memastikan saudaranya terjun ke medan perang dengan atribut lengkap.
.
.
.
"Kalau kencan, yang paling penting itu penampilan. Jadi kamu jangan dateng pakai jaket lusuh kamu yang biasa. Harus pakai baju bagus."
Taufan menjejerkan beberapa kemeja di kasur Halilintar.
"Kamu mau pakai yang mana? Ini semua baju aku yang paling bagus. Aku pinjemin buat kamu deh biar kencan kamu hari ini lancar."
Halilintar hanya memandangnya tanpa ekspresi. Sebelah aslinya terangkat, tapi ia tidak berkomentar apapun.
"Terus ya, cewek nggak suka cowok bau. Jadi kamu harus pakai parfum, jangan kebiasaan cuma pakai minyak telon doang setiap hari."
Taufan meletakkan botol parfum dan gel rambut di samping pakaiannya. "Terus rambutnya juga dirapihin dikit. Mau aku bantu modelin biar makin kece?"
Halilintar tampak tidak peduli meski Taufan sudah mengerahkan semangat berapi-api. Ia berdecak. Lengannya tersilang menatap sang kakak yang masih betah berselonjor di kasur memainkan ponsel.
"Kamu niat mau kencan nggak, sih? Kok belum siap-siap? Jangan bilang kamu mau pergi tanpa mandi?"
"Ini aku lagi kencan," sahut Halilintar tenang.
"Hah? Gimana?" Taufan memandangnya heran.
Halilintar menunjukkan layar ponselnya pada Taufan. ia menyipitkan mata, memandang tampilan sebuah permainan kencan daring di sana. Taufan tercengang, memandang saudaranya tak percaya.
"Jadi yang kamu maksud nge-date itu ... date di otome game!?"
.
.
.
fin
A/N :
udah lama nggak nulis humor elemental, jadi nggak tau ini garing atau nggak haha. Dan nggak bisa nggak nyelipin kapal kesayang, dong /plak
Makasih yang udah menyempatkan diri membaca!
