Naruto © Masashi Kishimoto

Late Night © White Apple Clock

Rate: T

Genre: Romance

MainPairing: ChouKarui

Warning: AU, percakapan non-baku, miss-typo(s), oneshot, OoC, etc.

DLDR!


.

.

.

Sudah satu jam Karui berkeliling komplek, mengarungi trotoar sepi dan sederet toko sudah tutup, akhirnya ia berlabuh pada taman bermain kecil di seberang apartemennya. Tangannya menimang-nimang surat putih sejak ia keluar dari apartemennya yang sederhana. Langkahnya begitu berat sepanjang perjalanannya, seolah-olah menarik paksa jangkar transparan yang mengikat kakinya hingga akhirnya tersangkut di taman bermain. Sejenak menimang lalu meratap surat putih itu, membukanya, lantas menghela napas berat–terjadi seperti siklus, selama satu jam. Berharap beban hatinya mengudara bersama hempasan napasnya namun sia-sia.

Kini Karui duduk nelangsa pada ayunan di bawah temaram lampu taman. Sorot matanya buram dihantam pendar-pendar cahaya lampu taman di belakangnya. Tidak ada siapapun singgah di sini atau yang melintas. Suasana yang cocok–pikirnya.

Cho Karui membuka kembali surat putih itu, membaca lekat-lekat seolah begitu menarik tetapi di satu sisi sangat muak melihat sepasang nama yang tertera yang dilukiskan dengan aksara-aksara indah tapi mampu merajam batinnya–ambivalensi menyerang benteng kokoh hatinya.

Surat undangan pernikahan sahabat tercintanya–yang begitu menjijikkan–dengan seorang pengantin pria pujaannya–cinta pertama Karui saat SMA.

Shiho dan Inuzuka Kiba.

Karui mendecih.

"Menyedihkan sekali," gumamnya pelan.

Kepala merah Karui mendongak, menatap lurus langit jelaga dihiasi bintang-bintang yang berdifusi ke setiap sudutnya. Karui memelas pada Ratu Malam, seakan-akan ingin mencurahkan betapa menyedihkan hidupnya.

Dikhianati sahabat enam tahun dan membawa pergi pangeran kuda putihnya–inilah kehidupan.

Di benaknya berpusat pada satu hal selama kakinya melangkah asal bagaikan navigasi kuno kapal perang Inggris. Matanya juga kosong, kehilangan sinarnya meskipun di setiap sisi trotoar yang ia lewati dibanjiri sinar lampu dan bulan. Kepalanya terus dihujam pertanyaan yang selalu sama. Tidak banyak, tapi cukup untuk memecahkan tempurung kepalanya.

"Haruskah aku datang? Untuk menampar wajahnya yang sok cantik itu? Atau menendang selangkangan pria bengis itu? Apakah sebaiknya aku tidak hadir?"

Karui kembali menghela napas.

Sejujurnya perempuan bermarga Cho tersebut lelah berpura-pura tegar, di hadapan mereka yang bertanya-tanya kenapa hal ini bisa begitu tragis menimpanya. Beberapa sahabatnya yang lain itu malah memprovokasi Karui, untuk merebutnya kembali sekalipun tangan mereka berpagutan dalam bahtera rumah tangga.

"Woah, guys, chill. Aku tidak segila itu," respons Karui seminggu yang lalu, ketika ia diajak nongkrong bersama kakak kelasnya, sohibnya yang lain sejak SMA.

Waktu terus berjalan mendekati larut malam. Eksistensi Karui belum berhenti di jalanan meskipun waktu sepertinya hampir tengah malam. Pantang pulang sebelum tenang, ia memang berniat untuk jalan-jalan sejenak menghilangkan beban pikiran perihal surat putih yang masih dalam genggamannya.

"Hah, sungguh aku sudah tidak percaya lagi dengan pria gara-gara Kiba bangsat," gumam Karui lirih setelah ujung kakinya menendang kerikil asal. Tepat satu meter jarak terpaut antara ia dengan tong sampah, spontan Karui meremas surat tersebut berbentuk bola sepadat mungkin lalu melemparnya ke dalam tong sampah beserta emosinya.

Final, Karui bertekad untuk tidak pergi.

Perempuan tersebut berkarakter short-tempramental. Jangan sampai satu gedung runtuh hanya sekadar melampiaskan amarah, kesal, dan kecewanya pada dua orang itu. Karui tidak ingin diseret paksa oleh satpam karena merusak suasana perpaduan putih suci dan merah muda penuh cinta menjadi merah bara api.

Kini langkah kakinya memiliki tujuan–Karui memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Kelopak matanya mulai berat. Rasa kantuk mulai bertandang dan telah terbit satu kuapan dari bibir kecilnya. Perempuan berdarah Kumogakure itu merindukan keempukan tempat tidur dan nyamannya bantal. Memang sudah saatnya untuk pulang, Karui membatin.

Sepanjang Karui meniti langkahnya perlahan-lahan, rasa tidak enak menjalar di hati gadis itu. Ini terasa aneh baginya, sebab jika perasaan ini dicap karena ia takut sendirian seharusnya perasaan itu sudah ada sejak tadi. Bukan, ini bukan perasaan takut. akan tetapi nalurinya berteriak kalau Karui sedang dalam bahaya!

"Hei, what are you doing here?!"

Karui yang mulai berjalan cepat mengerem mendadak langkahnya tatkala melihat seorang lelaki berambut di cat coklat terang melambai ramah padanya dari kejauhan. Laki-laki itu memiliki postur badan tegap dan tinggi, berisi, pipinya tembam bertato pusaran, dan sepertinya ia orang lokal yang menyukai perawakan flower boy–intinya, Karui tidak mengenal sosok itu.

Tubuh Karui menegang, mulutnya terkatup rapat, dan tangannya mengepal kuat. Setelah bersikap ramah, lelaki itu melayangkan isyarat melalui mata hitamnya yang menyatakan bahwa ada seseorang yang perlu Karui takuti tepat di belakang Karui.

Kulitnya yang eksotis mulai berekskresi, mengeluarkan keringat dingin sambil membantin mampus-mampusan. Diam-diam perempuan itu berpikir untuk mempercayai pria tersebut atau berprasangka bahwa mereka bersekongkol. Persetan, Karui hanya bisa berjalan pelan-pelan. Dan entah kenapa, seperti ada ikatan magnet antara ia dengan si Pipi Pusaran–begitu Karui memandangnya.

Jarak di antara mulai menipis, begitu pula sosoknya yang mulai jelas di bawah lampu jalanan. "Your mom asked me to find you. She's worrying now in the living room."

Tubuh berisi Karui berhenti mendadak. Meskipun kalimat yang dilontarkan lelaki itu adalah salah satu faktornya–oh, come on. Karui itu anak kos!tetapi alasannya yang paling besar adalah ia mendengar sayur-sayup suara napas dan desingan pisau.

"Shit. Dia pasti tidak jauh dariku," maki si Merah dalam hati.

"A-alright. I just want to go home. Yeah, you know, i felt burdened."

Belakangan ini Karui tak sengaja mendengar berita di televisi yang memberitakan daerah apartemennya sedang dalam siaga satu sejak pembunuhan berantai satu minggu yang lalu. Korbannya semua perempuan, dominan berumur duapuluhan. Karui mulai merinding sambil mendekati pemuda yang tidak dikenalnya.

Tidak peduli bagaimanapun itu, yang pasti sosok di belakangnya lebih berbahaya daripada lelaki di depannya. Karui mulai mengikuti skenario penyelamatan ini.

"How do you know about my mom?"

"She called me in the middle of night. Afraid of losing you," jawabnya. Mereka mulai berjalan beriringan.

Tubuh tegapnya mulai mendekati Karui. "Sebelumnya biarkan aku perkenalkan diriku terlebih dahulu," bisiknya.

"Boleh aku rangkul?" ia bertanya dan dibalas Karui dengan anggukan canggung.

"Namaku Akimichi Chouji. Aku baru pindah ke apartemen tempatmu tinggal minggu yang lalu."

Kepala lelaki bernama Chouji itu menoleh ke belakang, berpura-pura melihat sekeliling padahal sedang berjaga-jaga dari pelaku pembunuhan berantai. Karui menoleh terhadap Chouji, wajah lelaki itu tidak memiliki tanda-tanda kejahatan.

Entahlah, yang pasti Karui tetap harus berhati-hati.

Apartemen mereka agak jauh memang, jadi mereka agak lama untuk sampai di tempat aman tersebut. "Minggu lalu korbannya adalah sepupuku."

Karui terkejut. Hampir saja ia berteriak kalau saja ingatan tidak menamparnya bahwa ia sedang dalam situasi untuk tidak bersuara dan tetap tenang. "Mengapa bisa?"

"Di malam aku menempati kamar apartemenku itu, sepupuku berniat untuk merayakan kepindahanku. Katanya ia tinggal di apartemen yang sama, hanya saja berbeda unit. Waktu itu ia sedang sendirian, sebab rekan kerjanya tiba-tiba tidak bisa menemaninya. Kemudian, terjadilah hal tragis tersebut."

Dalam jarak satu meter ke depan, mereka melihat ada convenience store yang buka 24 jam. Kedua insan itu berniat untuk istirahat sejenak, sembari menunggu situasi aman dan terkendali.

Karui mengambil sebotol minuman teh hijau kesukaannya dan sebungkus sashimi sedangkan Chouji membeli secangkir kopi panas, ramen pedas, dan setusuk sosis. Bar yang menghadap ke jalanan menjadi pilihan tempat mereka. Daripada duduk di kursi luar, lebih aman sebab bisa melihat situasi sekitar di dalam toko tersebut.

Konversasi di antara mereka mulai mengalir lancar. Karui pelan-pelan tertarik dengan figur di sebelahnya. "Kau pirang, tapi bisa berbahasa Jepang. Campuran kah?"

Chouji mengangguk.

"Kenapa pindah?"

"Kuliahku di Seoul sudah selesai, minggu lalu aku baru merayakan kelulusan." Chouji mencampurkan bumbu ramen yang mie-nya sudah matang. "Almarhumah sepupuku memintaku untuk pindah, katanya ia merasa kesulitan sejak tinggal sendirian di kota ini."

Ini sudah suapan ke dua sashimi milik perempuan bermata kuning itu. Mulutnya masih mengunyah dalam diam sembari mendengar cerita si Akimichi yang tampaknya belum selesai.

Chouji melanjutkan penuturannya, "aku berniat ke sini untuk menemani sepupuku, tetapi takdir berkata lainaku malah menghadiri pemakamannya."

Cerita singkat Chouji selesai, Karui pun selesai melahap sashimi yang ia beli–isinya hanya lima potong, lumayan untuk mengisi perutnya. Perempuan itu segan untuk membalasbingung.

Memang di mana-mana, menceritakan hal yang sedih akan berujung pada kecanggunganapalagi dengan orang yang baru kau temui. Karui meneguk tandas minuman teh hijaunya, berbarengan dengan Chouji yang baru saja menghabiskan semangkuk ramen. Karui tidak membawa jam, tetapi lelaki itu membawanya. Jam tangan yang melingkar gagah di pergelangan tangan Chouji menunjukkan angka tiga.

"Wah, tidak terasa sudah dua jam ya," Karui membatin. Atensinya bergulir pada jalanan yang sepi dan remang-remang, mencoba membunuh waktu di antara kecanggungan ini.

"Kau tidak pulang?" tanya Chouji, sebelum meminum kopi panasnya.

Kepala merah itu menggeleng pelan. "Sebenarnya tadi aku berniat untuk mencari udara di luar apartemen, aku sedang kepikiran sesuatu."

Mata hitam Chouji menatap dalam bulir mata Karui, menunggu balasan dari perempuan itu. "Yeah, girls problem, you know."

Chouji hanya mengangguk paham, ikut tersenyum tertular dari Karui. "Well, ini bukan bidangku." Chouji melepas tawa kecilnya.

Mereka mengarungi malam dalam diam kembali. Chouji melirik Karui dari ujung ekor matanya, berusaha menahan gelagapan. Jujur saja, sedari tadi ia sebenarnya merasa canggung jika bersama perempuan yang belum ia kenal sama sekali. Untungnya, usaha Chouji untuk tetap santai bersama Karui berhasil di mata perempuan itu.

"Ehm, kau tidak pulang?" Celetuk Chouji, mencoba kembali memecah keheningan.

Karui mengangguk, tetapi ia menahan pergerakan Chouji yang ingin bangkit dari tempatnya. "Sebentar, ada yang mau aku beli dulu sebelum balik."

Arah pandang Chouji hanya mengamati Karui yang berjalan menuju kulkas minuman dan etalase roti, kemudian membawa beberapa belanjaan menuju kasir. Tanpa komando yang disadarinya, lelaki blasteran itu berjalan menyusul Karuiberdiri di sebelah perempuan itu.

Mereka pun keluar dari convenience store, berjalan beriringan dalam diam. Karui kembali melihat langit, bintang-bintang bahkan belum beranjak. Malam ini cukup tenang bagi Karui, meskipun beberapa jam yang lalu adrenalinnya sempat terpacu.

Yakin karena suasana malam yang buatmu tenang, Rui? Bukan sejak ada kedatangan Chouji?–inner-nya berbisik nakal, si Cho menggeleng kepalanya pelan mengusir suara halus itu.

Kalau dipikir-pikir benar juga, awalnya juga Karui sempat kesal karena undangan itu. Kemudian diikuti pria aneh, berujung pada Chouji yang menyelamatkannya.

"By the way, aku antar sampai depan kamar atau mau sampai lobby apartemen?"

Karui tertegun dari lamunannya, tidak sadar dia sudah di depan gedung apartemen. Baru saja mau mencerna penawaran Chouji, lelaki itu kembali berujar. "Sepertinya lebih bagus kuantar sampai depan kamar, ayo."

Perempuan itu terbelalak heran. Pikirnya, apa-apaan sih cowok ini, nanya sendiri jawab sendiri, pake narik tangan segala!

Sesampainya mereka di depan kamar Karui, Chouji hendak melangkahkan kakinya pergi setelah Karui mengucapkan terima kasih. Lagi-lagi, Karui menahan Chouji dengan mencengkram pergelangan tangan Chouji.

Chouji sampai berpikir, apa-apaan sih cewek ini dari tadi, mencegat mulu.

Tanpa kalimat yang menyertai aksinya, Karui hanya menyerahkan sebungkus plastik yang ia bawa dari convenience store. Chouji hanya bingung, sambil menerima pemberian Karui.

"A-apa ini?" tanya Chouji, ia membuka sedikit plastik itu, menampakkan sekotak minuman coklat dan sebungkus roti keju.

"Ucapan terima kasih," semburat merah tipis hinggap di pipi Karui, "terima kasih karena sudah menolongku tadi."

Chouji hanya tersenyum, dengan lebar. "Tidak apa-apa. Nanti aku ganti ya," sahutnya sambil mengangkat bungkusan itu.

"E-eh, tidak perlu!" balas Karui kelabakan. "Tidak perlu! Itu murah kok–"

Kepala coklat Chouji menggeleng, sementara Karui bingung.

"Aku ganti sama kita ketemuan besok, ya! Kau ada waktu kan?"

Diam kembali menghampiri mereka. Karui terdiam, memikirkan jawaban. Sedangkan Chouji diam, menunggu jawaban.

"Oke."

Senyuman Karui bagaikan penyakit yang menular pada Chouji. Lelaki campuran Jepang-Korea itu tanpa sadar ikut tersenyum, selaras dengan perasaannya yang menghangatkan hatinya.

"Oke, aku tunggu besok di depan lobby, ya."


THE END


A/N :Hello readers! Self-quarantine ngapain aja nih? Wkwkwk, semangat yaa semua!


Yosh, mind to review?