Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fanfiksi ini. Hati-hati dengan kesalahan penulisan, kealayan para tokoh dan keabsurdan kalimat. Didedikasikan untuk hari ulang tahun Jean Kirschtein selaku Kuda Perancis paling seksoy.
.
Dear, Diary…
.
Aku ingin bercerita suatu hal. Ini mungkin akan terdengar sedikit gila tapi entahlah aku terlalu bingung untuk bercerita pada siapapun, jadi yah aku tulis saja untukmu. Aku tahu kamu tidak akan percaya hal yang kuceritakan, tapi dengarlah, ini nyata! Sumpah!
Ini akan kumulai dengan pertanyaan, apa kamu mengenal Eren Jeager dan Jean Kirschtein dari kelas A? Sumpah demi apapun kalau kulihat mereka berdua lagi aku akan sangat malu. Kenapa bisa?
Baiklah kejadian itu seperti ini, aku sedang berjalan menuju gymnasium utama ketika pulang sekolah. Yah, harusnya aku bisa memotong jalan dengan lewat koridor Selatan, tapi kamu tahu aku terlalu takut karena lorong di sana terlalu gelap. Jadi aku memutar dan lewat pintu depan. Tidak ada yang terjadi saat itu sampai di gudang penyimpanan alat-alat kebun. Aku berjengit saat kudengar suara kekehan saat lewat situ. Oh percayalah, ketika kau sendirian dan melewati gudang itu pasti bulu kudukmu akan meremang. Bahkan ketika siang pun!
Aku mencoba untuk mengabaikan suara-suara itu. Ya! Suara itu seperti dua orang. Tapi aku memang terlalu bodoh dan penasaran. Aku telusuri asal suara misterius itu. Oke, sepertinya aku cocok jika disuruh memainkan peran sebagai tokoh utama film horror yang selalu kelewat penasaran. Hahaha, aku bercanda.
Suara itu dari balik gudang penyimpanan, aku tidak berani maju lebih jauh jadi aku hanya jongkok di antara semak-semak setinggi pinggang. Oh persetan dengan rasa takut, aku melongok pelan-pelan untuk melihat apa yang terjadi.
Ya seperti yang kamu duga! Itu Jean dan Eren! Aku merasa agak lega, jujur saja. Kukira suara-suara itu setan atau bahkan lebih seram lagi; orang jahat. Aku menghela napas lega sambil bersiap bangun dan pergi dari sana, tapi suara melengking Eren membuatku membatu.
"Milikmu besar juga ya, Jean."
Oh terkutuklah diriku yang kembali mengintip mereka. Eren dan Jean berdiri berhadap-hadapan di balik tembok gudang yang sempit itu. Eren tampak terperangah menatap ke arah bawahnya dan Jean bergantian.
Demi Bumi dan jagat raya, kalian sedang apa sih sebenarnya?
Aku masih saja mengamati mereka walaupun semak-semak ini sedikit menghalangi pandanganku. Duh, aku ingin maju dan melihat lebih jelas, tapi itu sama saja membongkar penyamaranku kan?
Kulihat Jean sok dan berlagak menggoyang-goyangkan pinggulnya. Dia berucap, "Tentu saja. Memangnya milikmu? Lihat milikku juga lebih panjang."
Aku terperangah saking takjubnya sampai-sampai tidak sadar, wajahku memerah.
Eren manyun sambil menatap Jean, tampak tidak terima. Namun wajahnya kembali berseri-seri ketika menunduk ke bawah lagi. Kali ini ia tampak gemas.
"Tapi kenapa milikmu lucu sekali sih? Boleh kucium?"
"Oh, silakan saja." Jean menimpali.
Oh astaga astaga astaga!
Kenapa sih dengan pikiranku? Aduh maaf aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi kalau mau menyalahkan, salahkan saja si Eren tuh!
Eren dengan berbinar langsung jongkok di hadapan Jean dan aku tidak tahu apa yang terjadi karena semak-semak ini menghalangi! Aku kemudian hanya bisa menutupi muka sambil merutuki diri yang tak hentinya berpikiran tidak-tidak.
Eren kembali memekik girang kemudian, "Ya ampun bulu milikmu juga sangat lembut!"
Sumpah aku ingin memotong telingaku rasanya.
Aku kembali mengamati mereka dan sekarang Eren sudah kembali berdiri berhadapan dengan Jean. Masih setia memperhatikan ke bawah. Ya ampun tidak adakah yang ingin menjelaskan masalah ini padaku!?
Tapi sumpah kali ini aku benar-benar tidak tahan lagi dan berniat keluar dari persembunyian.
Eren mendadak terlihat kegelian dan Jean di hadapannya tampak puas terkekeh sambil masih menggoyangkan pinggul dengan angkuh.
"Aduh Jean! Milikmu menggelitikku! To-tolong hentikan!"
Jean cuma terbahak dan kenapa dia terlihat amat puas sih?!
Ya Tuhan, aku benar-benar berdiri dari persembunyianku saat suara kegelian Eren berubah menjadi desahan pendek-pendek.
"Ah, ah, ah!"
Dengan wajah memerah dan mata berkunang-kunang aku menghampiri mereka sambil bersumpah serapah.
"DEMI TUHAN KALIAN KALAU MAU MELAKUKANNYA JANGAN DI SEKOLAH DONG BODOH!"
Aku terengah-engah dengan marah sambil menatap mereka berdua. Mereka berdua dengan kompak menoleh ke arahku dengan polosnya. Aku berhenti bernapas saat aku sedikit menurunkan pandanganku ke bawah mereka berdua.
Oh, sial.
"Hei, kau sejak kapan kau ngumpet di sana?" Jean bertanya padaku dengan nada suara yang agak tersinggung.
"Kau lihat semuanya ya?" Kali ini Eren menatapku dengan pandangan khawatir dan panik.
Aku tidak bisa menggerakkan satupun tubuhku. Uh, aku ingin sekali berlari kabur, tapi telapak kakiku seakan dipaku oleh mereka berdua. Jean mendecak dan berjalan lambat-lambat ke arahku.
"Hei. aku. bertanya. apa. kau. daritadi. ngumpet. di sana?" Pertanyaan ini membuatku ngeri.
Aku merutuki diri. Kenapa aku terlalu bodoh. Kenapa aku terlalu penasaran. Kenapa pikiranku sangat menjijikkan.
Iya terlalu menjijikkan karena aku telah membayangkan hal mesum pada mereka berdua dan sepasang kelinci.
Sumpah, KELINCI!
Aku terbata-bata menyusun kalimat. "Ja-jadi kalian melihara kelinci? Di sekolah?"
Eren tanpa diduga menghamburku dengan panik. "Tolong jangan beritahu siapapun aku dan Jean mengasuh kelinci di sini! Dan jangan pernah bilang siapapun soal apa yang aku lakukan pada kelinci-kelinci itu! Oke!?"
Aku refleks mengangguk pasrah.
"Ja-jadi maksudmu dengan milik Jean lebih besar dan panjang itu tubuh kelinci itu ya?" Tanyaku. Salah satu kelinci yang paling besar berbulu abu-abu menghampiri kakiku. Aku memperhatikan teliganya, astaga panjang sekali.
"Tentu saja, memang apa lagi?" Tanya Eren balik penasaran.
"Ah, tidak…"
Bodoh, aku tidak bisa bilang kan tadi aku memikirkan hal lain.
"B-baiklah, aku harus segera pergi ya…" Kataku sambil berbalik badan.
Tapi Jean meneriakiku dan sontak aku langsung berbalik takut-takut. Aku tidak berani menatap mata mereka berdua dan pandanganku cuma kuarahkan pada kelinci-kelinci lucu ini.
"Ingat, jangan dibicarakan dengan orang lain." Katanya penuh penekanan.
Aku mengangguk dengan lebih kuat dan langsung kabur tanpa basa basi. Persetan dengan ini semua, sepertinya aku tidak bisa melihat Jean dan Eren dalam kondisi normal lagi.
.
Selesai.
.
A/N
Hasil delusi yang kelewat nganu, monmaap sebesar-besarnya…
Saia kangen banget Jean-Eren, dan akhir-akhir ini makin langka nemuin fanfik mereka. Jadi saia pengen aktif lagi nulis buat ramein kapal ini, hehehe. Makasih ya yang udah mampir baca! See ya!
