Happy Birthday, Hyung
AUTHOR : HUANG AND WU
GENRE : BROTHERSHIP, HURT/COMFORT
LENGTH : ONESHOT
CHARACTER : ALL EXO MEMBERS (OT9)
POINT OF VIEW : AUTHOR
RATE : K
SUMMARY :
Kau tahu arti dari saudara? Saudara adalah mereka yang berjuang bersama denganmu, untuk mencapai tujuan bersama. Ketika kamu jatuh, maka mereka akan membangunkanmu. Ketika mereka jatuh, mereka akan membutuhkan kamu untuk bangun. Cinta melingkupi mereka, dan walaupun dunia sudah berbalik dari mereka, mereka akan tetap satu. Berjuang untuk menghalau dinding-dinding pembatas yang memisahkan saudara mereka yang lain. Terinspirasi dari tampilan Happy Camp 2014 edisi EXO OT11, inilah Happy Birthday, Hyung.
Holla!
Well, Huang and Wu kembali dengan FF absurd untuk memuaskan hasrat menulis Huang and Wu yang kena writer's block untuk melanjutkan serial EXO's Special Oneshot Birthday Project (bow)
Sedikit mereview memori 2014, pas nonton Happy Camp yang edisi EXO OT11 itu bener-bener nyess banget. Mungkin karena Huang and Wu itu emang ngebiasin Kris dan Tao kebangetan, makanya pas nonton itu rasanya ada yang kurang (si tiang harusnya ada di samping Chanyeol). Kaget banget pas ada segment confessing yang problem Kris, dan disitu pertahanan Huang and Wu udah gak bisa ditahan lagi T_T
Well, FF ini didedikasikan untuk semua fans yang ada di sana. Kita tahu bahwa EXO tinggal 9 secara official. Tapi tentu, semua EXO-L yang mensupport EXO dari awal kayak dari era MAMA (ex. Huang and Wu) pasti selalu support OT12
WE ARE ONE!
Ps : Huang and Wu merekomendasikan readers untuk membaca FF ini dengan BGM yaitu EXO – PROMISE atau SING FOR YOU
.
-Happy Birthday, Hyung-
.
.
Start
November 2018, EXO Dorm
CKLEK
"Members!"
Lay memasuki dorm itu, dengan sebuah coat yang melingkupi tubuhnya. Ia membawa dua buah plastik besar belanjaan, dan kini ia tengah melepas sepatunya yang sudah sedikit putih karena salju.
"Kau sudah pulang?"
Suho menghampiri Lay, kemudian membawa dua belanjaan itu. Lay mengangguk, kemudian ia melepas coat-nya dan menggantungnya di dekat pintu. Suho merangkul pundak Lay, memberikan kehangatan saudara kepadanya yang sudah rela menembus salju demi makan malam mereka.
"Apa menu kita hari ini?"tanya Lay, dikekehi Suho.
"Kyungsoo dan Chanyeol sedang mempersiapkan makanannya. Baekhyun dan Sehun sedang menata meja makan, dan Minseok dengan Jongdae membantu mencuci piring bekas tadi siang."ucap Suho.
"Bagaimana keadaan Kai?"tanya Lay, dengan nada yang khawatir.
"Yah, dia sudah baikan. Dia sedang mencari resep makanan di internet. Kau tahu, lah. Dia kan pribadi yang cukup keras kepala kalau tidak membantu kita mempersiapkan dinner. Aku sudah memaksanya untuk menunggu saja, tapi dia tidak mau. Cedera pinggangnya membaik, tetapi ankle-nya belum."ucap Suho.
"Kalau begitu aku akan menghampiri Kai. Tadi aku membeli semprotan cedera untuknya, untuk mengganti miliknya yang sudah habis."
Lay memasuki ruang tengah, dan mendapati Kai yang tengah mencatat beberapa resep di atas kertas putih. Kai menatap kedatangan Lay, kemudian tersenyum dan menyapanya.
"Hai, hyung. Kau baik-baik saja, kan? Kami khawatir. Salju di luar tiba-tiba menjadi buruk, kalau dari laporan di televisi."ucap Kai, digelengi Lay dengan senyuman.
"Aku baik. Kai, aku membelikanmu ini. Semoga berguna."
Lay mengeluarkan sebuah botol semprotan yang masih tersegel dengan baik, dan menyerahkannya pada Kai. Kai menerimanya dengan senang, kemudian mengangguk dan menatap semprotan itu.
"Wuah, terimakasih, hyung! Ini pasti akan berguna."ucap Kai.
Kai memperlihatkan beberapa resep yang dia temukan di internet, lantas mulai mendiskusikannya dengan Lay yang notabene jago dalam hal memasak.
"Biasanya kita memasak apa?"tanya Lay.
"Hmm, hanwoo? Tapi, Kris hyung yang sering masak hanwoo-nya kan tidak ada.[1]"ucap Kai, dengan ekspresi yang sepertinya tidak menyadari ucapannya.
Seketika, mereka terdiam.
Kai mengerjap, kemudian berdehem awkward dan menatap Lay. Lay tersenyum–pahit–kemudian mengusap pundak Kai. Kai merasa bahwa Lay mencengkram pundaknya dengan lembut, dan tatapan Lay berubah berkaca-kaca.
"Yasudah. Kita masak hanwoo saja. Aku bisa memasaknya."
Lay menepuk pundak Kai beberapa kali, kemudian berdiri dan berjalan ke kamarnya yang ada di lantai selanjutnya. Kai terdiam, kemudian menundukkan kepalanya dengan murung. Ia menatap layar handphone-nya, kemudian mulai men-search bagaimana memasak hanwoo.
-XOXO-
"Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol!"
"Apa?"
Chanyeol berbalik, mendapati Baekhyun yang tengah mencari-cari sesuatu di dalam kulkas. Jongdae mencuci tangannya, kemudian menghampiri Baekhyun yang tampak kebingungan.
"Kau lihat potongan pizza yang aku pesan tadi siang? Rasanya tidak ada."ucap Baekhyun, mencari-cari di freezer dan di tempat lain.
"Kurasa kau belum memasukkannya ke dalam kulkas, Baek."ucap Chanyeol.
"Sungguh, kurasa aku sudah memasukkannya."ucap Baekhyun, kemudian mencari-cari di tempat selain kulkas.
Ketika ia membuka tudung saji, tampak sebuah bungkusan pizza yang sudah terbuka di sana. Ia menghela nafas, lega sekali ketika menemukan harta karun-nya.
"Huft, di sini kau!"ucap Baekhyun, kemudian duduk dan meraih potongan pizza-nya.
"Dasar sugogi [2]!"ejek Jongdae–tidak menyadari kata-katanya, kemudian meraih sebotol susu dari dalam kulkas.
Baekhyun terdiam. Chanyeol–yang tengah menata piring–pun ikut terdiam. Jongdae tidak menyadarinya, dan dia sibuk meneguk botol susu vanilla miliknya.
"Jangan ucapkan itu."
Jongdae menoleh, mendapati Chanyeol yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Jongdae mengerjap, kemudian pandangannya teralih pada Baekhyun yang juga hanya memegang potongan pizza-nya–selera makannya hilang seketika.
"Aku memang mengucapkan apa?"tanya Jongdae.
Chanyeol mencengkram sendok di tangannya dengan erat, tetapi kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Jongdae yang terlihat kebingungan. Baekhyun menghela nafas pelan, kemudian menaruh kembali potongan pizza-nya ke dalam wadahnya dan menutup tudung saji. Ia pun pergi dari dapur.
Chanyeol dan Jongdae menatap kepergian Baekhyun. Jongdae menatap Chanyeol, yang kini sudah memunggunginya lagi dan mulai meraih pisau. Ia mengambil asal sayuran dari rak, kemudian menaruhnya di atas tatakan dan mulai memotongnya.
Dilihat dari caranya memotong, ia terlihat emosi.
Dan Jongdae tak dapat memungkiri, bahwa Chanyeol terlihat menyeramkan.
-XOXO-
Sehun menatap layar handphone-nya, kemudian sedikit berinteraksi dengan fans di instagram miliknya. Kyungsoo ikut nimbrung, kemudian duduk di sampingnya.
"Wah, fans bahkan masih online hingga selarut ini."gumam Sehun.
"Santai saja. Mungkin mereka international fans, yang waktunya berbeda dengan Korea."ucap Kyungsoo.
Kyungsoo mulai men-searching hal-hal terbaru yang terjadi di sekitar mereka di naver blog. Sesekali, ia tertawa ketika menemukan beberapa fanart yang dibuat oleh para fans untuk album terbaru mereka, Love Shot.
Tetapi kemudian, ia terdiam seribu bahasa.
"Kau tidak mau berkomentar apa-apa, hyung?"gumam Sehun, masih sibuk dengan ponselnya.
Kyungsoo mengerjap, lantas menarik nafas pelan dan menghembuskannya. Ia mematikan layar ponselnya, kemudian pergi begitu saja dari samping Sehun.
"Hyung!"
Sehun merasa heran dengan Kyungsoo. Ia melirik ke samping, dan mendapati ponsel Kyungsoo di situ.
Sehun meraihnya, kemudian membuka lockscreen-nya. Untung saja Kyungsoo tidak mengunci layarnya dengan password, sehingga dia bisa membukanya. Sehun sedikit tersenyum, ketika menyadari bahwa hyung-nya yang satu itu sedang ceroboh hari itu.
Tetapi kemudian, senyuman itu hilang seketika.
Sebuah artikel yang tadi Kyungsoo buka muncul–lagi-lagi, namja itu ceroboh untuk meng-close artikel itu. Sehun menegakkan tubuhnya, matanya bergerak liar menatap kata demi kata pada artikel itu.
Luhan is about to hold his 2nd concert in Beijing!
Sehun terdiam. Ia men-scroll layar ponsel itu dengan tidak sabaran.
Di sana, tampak foto sebuah panggung yang cukup megah. Orang-orang dengan lightstick warna kuning memenuhi ruangan itu, membentuk sebuah yellow ocean yang indah dan benderang.
Di foto selanjutnya, tampak seorang namja dengan coat berwarna emas yang menari di atas panggung, dikelilingi oleh beberapa back dancers yang juga dengan apik membentuk formasi.
"I-ini.."
Mata Sehun berkaca-kaca. Ia menatap setiap kata demi kata di sana dengan tubuh yang semakin bergetar. Sehun mengerjap beberapa kali, menahan sesuatu dari matanya keluar dan membasahi wajahnya.
Airmata.
"Damn!"
Sehun mematikan layar ponsel itu, kemudian membantingnya ke sofa di sampingnya. Ia menangkup wajahnya dengan tangan besarnya, mengusapnya dengan kasar. Beberapa tetes airmata berjatuhan di sana, seiring dengan wajah yang mulai memerah dan tubuh yang bergetar hebat.
"Sehun?"
Sehun menoleh sedikit, mendapati Suho yang menatapnya dengan kebingungan. Sehun menyeka airmatanya dengan kasar, kemudian tersenyum kecil ke arah Suho. Suho meraih ponsel Kyungsoo, kemudian menaruhnya di meja di hadapan mereka dan duduk di samping Sehun.
"Kau kenapa, hmm?"tanya Suho, dengan nada khawatir.
"A-aku.. aku hanya.. aku..."kali ini, Sehun tak bisa melanjutkan kata-katanya.
.
.
"Kau merindukan mereka?"
Sehun menoleh, mendapati Suho yang menatapnya dengan senyuman–senyum yang Sehun yakini telah dipaksakan meski tak peduli itu menyakitkan. Suho mengusap pundak magnae dari EXO itu. Meskipun Sehun sudah menjadi semakin dewasa dan bijak dalam menyikapi berbagai hal, Suho sangat tahu siapa dan bagaimana pribadi Sehun.
Dalam beberapa hal tertentu yang Sehun anggap penting di dunia, dia tidak bisa bersikap bijak terhadapnya.
Terutama hal-hal yang menyangkut tentang orang-orang terdekat Sehun selama ini, semenjak ia debut. [3]
"Hari ini adalah hari ulangtahun ayahmu di EXO, jadi bersiaplah dengan pakaian yang baik. Members yang lain juga sudah aku beritahu. Kita akan rayakan, seperti tahun-tahun sebelumnya."
Sehun terdiam, menatap dalam tepat pada mata Suho yang bergetar namun tetap kuat. Suho berusaha keras menahan airmatanya keluar.
Dan dia berhasil.
"Ayo. Kyungsoo sudah mulai membuat kuenya, sesuai dengan bahan yang dibeli Lay tadi. Lay dan Chanyeol tengah memasak hanwoo."
-XOXO-
Meja itu bundar, dengan piring-piring yang sudah tersiap di sana. Jongdae dan Baekhyun ditugaskan untuk mengurus piring di meja itu, menatanya dengan rapi dan baik.
Jongdae terdiam, menatap penataan piring yang dilakukan dirinya dengan Baekhyun di sana.
"Ada apa?"tanya Baekhyun, to the point.
.
.
"Ada 12 piring."
Baekhyun terdiam, menatap jajaran piring di sana.
12 kursi, mengelilingi satu meja bundar, dengan 12 piring yang tertata di sana. Satu piring besar dengan dua piring sedang ada di tengah, tertata dengan sangat baik.
"Jangan lagi, Jongdae."
Jongdae menoleh, menatap Baekhyun yang kini tengah menahan airmatanya. Ia tersenyum, kemudian mempercepat tugasnya menyelesaikan penataan piring itu.
-XOXO-
"Hati-hati dalam menuangkan cream cokelatnya!"
"Tapi kita harus menuangkan banyak biar enak!"
Kyungsoo dan Kai tengah berdebat, dengan Kyungsoo yang memegangi sebuah plastik berisi cream cokelat dan Kai yang memegangi sebuah kue di tangannya. Kue itu terhias dengan baik, dan tampak nikmat untuk dimakan.
"Hati-hati."
Kyungsoo menuangkan cream itu di atas kue, kemudian tersenyum menatap hasil karyanya. Kai menaruh piring itu di atas meja, kemudian meraih dua buah benda dari dalam plastik yang dibeli Lay tadi.
Dua buah lilin berbentu angka 2 dan 8.
Kai menaruhnya dengan hati-hati di atas kuenya, kemudian tersenyum. Ia menatap kue itu dengan pandangan tak bisa diartikan, dan ia hanya terkekeh–kekehan yang terdengar pahit.
"Kau ingat kue ulangtahun-nya yang kemudian dia hiasi dengan cabai hijau besar di Shimshimtapa Recording? [4]"tanya Kai, dengan nada yang mulai agak bergetar.
Kyungsoo mengangguk, kemudian menatap Kai yang kini tengah menghela nafas berat. Kai terkekeh, menatap kue itu dengan perasaan yang terasa semakin dalam dan dalam.
"Dia bodoh sekali."gumam Kai, disusul kekehan pahit.
Kyungsoo tak dapat menahan diri untuk mendekap Kai dari samping. Kai tersenyum, kemudian menepuk punggung Kyungsoo dengan lembut. Hyung-nya ini berusaha menghiburnya, jadi Kai berusaha keras agar Kyungsoo tidak merasakan apa yang dia rasakan sekarang.
Perasaan itu adalah sedih.
-XOXO-
"Kau sudah atur panggangannya?"
"Sudah, hyung."
Chanyeol mengatur api di kompor, kemudian mulai meng-grill daging yang ia tata tadi di atas pemanggang. Lay mengawasi pergerakan Chanyeol, kemudian sesekali menunjuk sisi daging hanwoo mereka yang belum matang.
"Sudah wangi, belum?"tanya Chanyeol, kemudian mengipasi dirinya–untuk mencium wangi dari daging itu.
"Bagus, Yeol. Terus begitu."ucap Lay, kemudian mengambil sebuah piring untuk menaruh daging mereka.
"Hyung."
Lay menatap Chanyeol, dan Chanyeol hanya diam di sana. Sesekali membalik daging di hadapannya, namun tidak ada feeling sama sekali di sana.
"Tadi Jongdae mengucapkan satu hal yang membuatku teringat akan seseorang."ucap Chanyeol, membuat Lay mengernyit.
"Siapa orang itu?"tanya Lay.
.
.
"Magnae EXO-M."
Lay terdiam, menatap Chanyeol yang kini tengah mendongak–menahan airmatanya. Lay mulai menggigit bibirnya, kemudian tersenyum. Ia menepuk pundak Chanyeol, kemudian hanya menghela nafas berat.
"Lanjutkan pekerjaanmu. Anak-anak lain menunggu di ruang makan."
Lay pun menaruh piring yang dia ambilkan untuk Chanyeol di sampingnya, kemudian menepuk pundaknya sekali lagi dan berlalu begitu saja.
Meninggalkan Chanyeol yang pertahanannya runtuh.
Dan namja yang terkenal kuat itu pun menangis dalam diam.
-XOXO-
"Di situ. Bagus."
Kai menaruh piring kue-nya di tengah meja makan, kemudian menyalakan korek api dan menyulutnya ke lilin di atas kue itu. Chanyeol menaruh piring berisi hanwoo di samping kue itu, dan Suho menaruh beberapa potongan sayur yang dibuat Chanyeol sebelumnya di samping lainnya–berfungsi sebagai lalapan mereka.
"Semua duduk di kursi masing-masing."
Suho duduk di kursi yang terposisikan di tengah, tepat menghadap ke arah kue di tengah. Mereka mulai mengambil tempat duduk, dan wajah mereka berubah serius dan terlihat menahan kesedihan.
Suho menghela nafas berat, menatap kue di hadapannya.
Terdapat tiga kursi kosong di sana, dengan piring dan juga sendok yang tampak tidak tersentuh.
Suho tersenyum, kemudian menangkup tangannya untuk berdoa. Yang lain juga ikut melakukan apa yang Suho lakukan. Tanpa terasa, mereka tak dapat lagi membendung airmatanya.
"Ya Tuhan, aku sangat berterimakasih dengan apa yang sudah terjadi pada kami, dan kami akan memohonkan yang terbaik untuk apa yang akan terjadi nanti. Aku berterimakasih karena sudah memberiku kawan-kawan yang sudah menemaniku dan mengajarkanku banyak hal. Aku berterimakasih karena Kau sudah membuatku menjadi leader yang kuat."
Suho menunduk, mulai menggeleng-geleng tidak jelas seiring dengan airmata yang mengalir. Kawan-kawannya yang lain juga seperti itu–Kai bahkan memejamkan matanya erat dan berusaha untuk menahan tangisnya, tetapi tidak bisa.
Suho kembali mendongak, dengan mata tetap terpejam–menjaga kekhyusukan dalam berdoa.
"Aku berterimakasih.. karena menghadirkan 11 orang penting dalam hidupku. Aku berterimakasih karena Kau telah memberikan kesehatan dan kesuksesan pada kami berdua-belas. Aku berterimakasih karena Kau menjaga kami dengan baik, menjaga kami semua dengan sangat baik."
Suho menarik nafas, rasanya berat sekali. Dadanya serasa sesak, dan tubuhnya mulai bergetar. Tetapi, dia harus melanjutkan–seperti yang ia selalu lakukan di setiap ulangtahun member EXO.
12 ulangtahun.
"Hari ini hari ulangtahun-nya, dan aku berharap semoga ia juga merayakannya di sana. Aku harap, ada orang lain di luar sana yang merayakannya untuk-nya, mendukung-nya dari dekat. Kami terkekang di sini, tapi kami tahu, bahwa doa kami akan selalu tersampaikan pada-nya yang ada di sana. Ya Tuhan, jagalah KRIS kami dengan baik."
"Dan juga, untuk TAO dan LUHAN, jagalah mereka. Jagalah mereka, dan penuhilah kebutuhan mereka. Temani mereka dengan kawan-kawan yang lebih setia kawan dibanding kami, dan janganlah Kau buat mereka bersedih. Ya Tuhan, jika kami memang masih memiliki kesempatan, maka pertemukanlah kami. Walau itu terdengar mustahil, tapi aku tahu, bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Mu, Sang Maha Kuasa."
Lay menangkup wajahnya, dengan airmata yang terus mengalir. Suho menangkup tangannya dengan lebih erat–sampai-sampai, buku-buku jarinya memutih saking eratnya.
"Tolong jaga mereka, Ya Tuhan. Jagalah mereka, seperti Kau menjaga kami bersembilan. Jagalah mereka, dan berikan mereka kesuksesan dan kebahagiaan. Jagalah mereka, untuk kami. Amin."
Suho mengusap wajahnya setelah mengamini, kemudian menarik nafas berat. Ia membuka matanya yang basah, mendapati kawan-kawannya juga ada dalam kondisi yang tidak lebih baik dari dirinya saat ini.
Suho meraih sebuah pisau. Ia menatap kawan-kawannya, kemudian tersenyum di atas tangisnya.
"Ayo, kita tiup."
Mereka bersembilan berdiri, menatap kue di tengah meja yang kini lilinnya masih menyala. Mereka sedikit mendekatkan kepala mereka pada kue itu, kemudian bersiap untuk meniup.
"Happy Birthday, hyung."gumam Suho.
WUSH!
Kesembilannya meniup nafas pada saat yang sama, membuat lilin itu padam.
Suho mempersiapkan pisau kuenya, kemudian mulai memotongnya menjadi 12 potongan. Suho mengoper potongan kue itu, dan tidak ada satupun yang protes tentang ukuran potongan kue. Suho berusaha agar 12 piring di atas meja terpenuhi oleh kue.
Suho juga meraih potongan hanwoo di sana, kemudian menyodorkan piring hanwoo itu ke sebuah kursi kosong yang tepat berada di hadapannya. Suho serasa deja vu, dengan seseorang yang duduk di kursi itu.
"Hey, itu hanwoo-ku! Terimakasih, kawan-kawan! Hanwoo ini adalah hadiah terbaik dalam ulangtahunku!"
Suho terkekeh di atas tangisnya, kemudian menatap kursi itu dalam diam. Ia meraih sendoknya, kemudian mulai memakan potongan kuenya itu.
Walau kue itu terasa agak pahit, tetapi cinta memenuhi kue itu sehingga rasanya sangatlah sempurna.
Chanyeol–di atas tangisnya–menatap Suho yang mulai makan kue itu sendirian. Ia meraih sendok, dan memutuskan untuk menemani Suho menghabiskan kue-kue itu. Ia tak peduli apakah rasanya aneh atau tidak. Semua terasa sempurna.
Tapi tentu akan lebih sempurna jika ketiga orang tersayang mereka ada di sana.
Member yang lain mulai meraih sendok, dan memakannya walau tangis semakin membanjiri wajah mereka. Lay memakan kuenya dengan agak tersengal-sengal, dan kemudian Suho membantunya dengan menyuapkan kue itu ke mulutnya.
Malam itu, udara terasa hangat dan member EXO bahkan tidak merasa kedinginan.
-XOXO-
Pagi menjelang. Salah seorang member bangun lebih cepat, kemudian ia memakai jaketnya dan berjalan ke arah ruang tengah.
Minseok memasuki ruangan itu, kemudian berjalan ke arah kulkas. Sudah kebiasaan baginya bahwa setiap pagi ia harus minum susu untuk tenaga, dan hari itu schedule mereka pun terbilang padat. Minseok membuka pintu kulkas, kemudian meraih sebotol susu dan membukanya.
Saat ia menutup kulkas dan berbalik, ia melihat bekas makan mereka tadi malam di meja bundar ruang makan.
Tiga potongan kue ada di sana, dengan sepiring hanwoo yang sudah mereka masak dengan penuh kehangatan. Hanwoo itu sudah mendingin, dan tiga potongan kue itu pun nyaris membeku karena cuaca dingin di Seoul.
Minseok menyudahi minum susunya, kemudian memutuskan untuk merapikan piring-piring bekas tadi malam. Tangannya bergetar, begitu meraih dua lilin yang tadi malam mereka pakai. Ia menaruh semuanya di atas wastafel dapur.
Ketika meraih tiga potongan kue tadi malam dan sepiring hanwoo itu, Minseok tak dapat menahan kesedihannya.
Minseok berjalan ke sebuah kulkas khusus yang tampak digembok, kemudian menaruh piring-piring itu di sampingnya. Ia meraba rak makanan, dan menemukan sebuah kunci di situ. Ia pun membuka gembok kulkas itu, lantas membukanya.
Menampilkan banyak makanan yang terawetkan di sana, dengan rak-rak kulkas yang tampak tertata. Sebuah note menghiasi setiap rak kulkas di sana.
2014
2015
2017
2018
Minseok tersenyum miris, kemudian menaruh sepotong kue di salah satu rak dengan label 2018 di situ. Ia juga menaruh potongan hanwoo di rak itu. Setelah itu, ia meraih sebuah sticky notes yang ada di atas kulkas, kemudian menulis dengan pulpen.
Kris, November 6th
Minseok menempelkan sticky note itu di piring yang baru saja ia taruh, kemudian menatap setiap sticky note yang tertempel pada makanan-makanan lain.
Barulah kita menyadari, bahwa kulkas itu adalah kulkas khusus yang EXO siapkan untuk ultah former members mereka.
Ada Luhan, April 20th dan Tao, May 2nd pada rak 2018, ada juga Kris, November 6th pada rak 2017. Minseok tersenyum miris, kemudian memutuskan untuk menutup kulkas itu dan kembali menggemboknya. Ia kembali menaruh kunci itu pada tempat mereka biasa menyembunyikannya, sehingga tidak akan ada yang tahu keberadaannya dan tidak akan bisa membuka kulkas itu.
Wajahnya mengukir senyum miris, dengan setitik airmata yang jatuh dari matanya.
Minseok meraih sticky notes lagi, lantas mulai menulis dengan agak cepat. Setelahnya, ia menempelkannya pada pintu kulkas tersebut dan segera pergi untuk mempersiapkan schedule EXO selanjutnya.
Apa yang dia tulis?
.
.
WE ARE ONE, WE ARE EXO!
.
.
Good friends are HARD to find
HARDER to leave
And IMPOSSIBLE to forget..
.
.
THE END
Note :
[1] : Kris adalah member EXO yang paling senang memasak hanwoo, dan dia memang sering dipercaya oleh EXO untuk memasak hanwoo–lihat We Got Married edisi Taemin-Naeun dimana EXO memasak hanwoo untuk Naeun (Kris dan Kyungsoo yang dipercaya untuk masak).
[2] : Sugogi adalah panggilan Tao untuk Baekhyun. Baekhyun dan Tao sama-sama ber-zodiac Taurus. Kebetulan, pengucapan 'Baekhyun' oleh Tao masih belum lancar, jadinya Tao memanggilnya dengan sebutan 'sugogi'. Dan sampai sekarang, julukan itu masih dipakai oleh EXO-L.
[3] : Orang-orang terdekat Sehun di EXO adalah Kris (berperan sebagai ayah-nya di EXO), Luhan (sahabat dekat sekaligus sibling-nya di EXO), dan Tao (sesama kawan magnae di EXO)
[4] : Pada salah satu episode Shimshimtapa dimana EXO menjadi guest, di situ Kris menghias kuenya dengan cabai besar (paprika, kalau tidak salah) and it was very dumb if I have to recall it
No comment
This is my feeling toward EXO
Huang and Wu yakin, dalam hati mereka yang sedalam-dalamnya, ketiga nama itu masih terukir dengan baik, menciptakan memori yang worth to keep dan tidak akan mudah untuk dilupakan.
And I still believe that one day, they'll cross path again.
WE A12E ONE!
WE ARE EXO!
PROUD TO BE EXO-L!
HUANG AND WU
