A/N:

Cerita pengalaman beberapa kawan terpisah yang saya jadikan satu.


Disclaimer:

Naruto dan karakter dalam cerita ini dipinjam dari Masashi Kishimoto.


Persepsi

oleh

ForgetMeNot09

.

.

.

"Hey Hinata, pulang sama-sama yuk."

Ajakan itu adalah ajakan kesekian kali selama satu tahun aku mengajar di sekolah menengah ini. Aku hanya menepis dengan sopan, menyemai sebuah senyuman. Bergegas aku mengemas barang-barang yang berserak di atas meja. Setelah selesai, aku beranjak pergi keluar kantor.

Rupanya pria itu masih ngotot mengikutiku. Bahkan sampai di depan gerbang sekolah. Oh tak sadarkah dia, kami sedang menjadi perhatian para siswa yang mulai berhamburan keluar kelas? Beberapa dari mereka bahkan terang-terangan meledek pria itu, tetapi hanya dia tanggapi dengan senyuman.

Sedangkan padaku, para siswa itu tentu tak berani macam-macam. Aku terkenal sebagai guru yang tegas, dan bisa menjadi galak ketika privasinya dijadikan bahan ejekan. Kulepaskan satu delikan tajam pada gerombolan siswa itu, dan mereka seketika diam.

Hanya sekejap, karena selangkah aku keluar gerbang sekolah, riuh ramai kembali terdengar. Khususnya tertuju untuk pria berambut kuning yang malah pasang tampang keren di hadapan para siswa.

Aku menggeleng, sedikit merasa geli. Ada-ada saja kelakuan mereka.

Aku berjalan sedikit santai. Tak mengapa, sore ini aku tidak punya jadwal mengajar tambahan, jadi aku bisa sedikit bersantai. Sesekali bibirku bersenandung pelan, menggumamkan lagu cinta yang baru-baru ini tenar di televisi.

Aku memang harus berjalan dulu, dari sekolah ke jalan raya. Setelah itu naik bus kota yang akan membawaku ke rumah. Kurang lebih menghabiskan waktu satu jam perjalanan.

Lama? Ya memang, maka dari itu aku selalu memanfaatkan waktu di bus untuk tidur sebentar. Itu juga jika aku mendapatkan tempat duduk.

"Hinata!"

Aku menoleh ke samping. Ternyata pria itu sudah berjalan di sampingku dengan napas sedikit tersengal. Apa dia habis berlari?

"I-iya Pak Uzumaki?"

"Ce-cepat sekali jalanmu!"

Kulirik dari sudut mata, pria itu mengerucutkan bibirnya. Dasar kekanak-kanakan, membuatku tertawa pelan.

"Tidak juga, Anda saja yang terlalu lambat."

Pria itu mendengus, "Lagi pula kenapa kau terus menolak ajakanku sih?"

"Aku hanya tidak mau merepotkan," jawabku tenang.

"Aku tidak merasa direpotkan, arah pulang kita kan sama."

Haahhh sepertinya bakal jadi debat yang lama, jika aku tidak menghentikannya sekarang. Maka dari itu aku diam saja. Langkah kecilku rupanya mampu juga diimbangi olehnya.

"Ke-kenapa Pak Uzumaki tidak naik motor seperti biasanya?" tanyaku.

Jujur aku heran, biasanya pria ini selalu membawa motor besarnya yang keren itu. Lalu dengan pongahnya ia baru melepas helm saat sudah memasuki kantor. Apa perlunya kalau bukan untuk menunjukkan helm mahalnya itu pada kami yang hanya guru-guru biasa.

Yang baru saja itu hanya prasangkaku.

Entah kenapa, sejak masuk ke sekolah ini dan menjadi guru, aku sudah tidak suka dengan pria ini. Image seorang guru yang harus berwibawa mendadak lenyap gara-gara orang ini. Ya, memang, dia guru olah raga, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya kan? Datang ke sekolah dengan pakaian kaus yang tidak dimasukkan ke celana sementara aku suka memarahi muridku yang tidak memasukkan baju ke celana. Kau tahu di mana keanehannya?

Lalu tipe orangnya cenderung selengean. Para siswa mungkin lebih suka tipe guru seperti ini, dibandingkan guru galak macam aku. Namun, jika pendidiknya saja bertingkah begitu, bagaimana nasib anak didiknya nanti? Dia suka sekali bercanda dengan murid-murid, sampai semua murid tidak lagi menganggap dia guru tetapi sebagai teman. Kadang-kadang kulihat ada beberapa murid perempuan yang sengaja menggodanya …

… dan dia tersenyum!

Apa coba? Kamu itu guru woi! Jangan main senyum-senyum begitu dengan muridmu!

Bahkan minggu lalu aku memergoki seorang siswi sedang menembaknya di halaman belakang sekolah yang sepi. Pria itu tertawa dan mengeluarkan senyum mautnya lagi. Ketika aku sadar aku menonton mereka, aku langsung pergi. Sialnya, guru pirang itu malah memanggilku mendekat. Untuk apa? Untuk membantunya mengantar siswi tadi yang ternyata malah pingsan.

Mengingat itu saja langsung membuatku menepuk dahi.

"Ada apa Hinata?"

Aku terkejut, tadi lupa kalau di sebelahku ada pria itu.

"Ti-tidak apa-apa Pak Uzuma-"

"Naruto saja! Kau seperti sedang memanggil ibuku kalau seperti itu."

Heee?

"Maaf tapi itu tidak sopan," ujarku.

Dia mengernyitkan dahi sebelum menjawab, "Kata siapa? Buktinya aku memanggilmu dengan Hinata tapi kau tidak berkata aku tidak sopan."

Ha! Pintar juga dia. Kukira hanya pintar menggoda murid saja.

"Ini dan itu beda, Pak Uzu-"

"Sama saja, tidak ada bedanya."

Aku menghela napas pasrah. Baiklah, suka-suka kau saja, Tuan, gerutuku.

"Omong-omong, apa Anda sudah menjawab pertanyaan saya?" tanyaku ketika mengingat percakapan terakhir kami sebelum aku melamun.

"Sudah, kau tidak dengar ya?"

Dia mengerling jenaka, dan aku hanya mengendikkan bahu.

"Motorku sedang di bengkel. Lagi pula, jika aku memakai motor, aku tidak bisa membujukmu ikut denganku kan?"

Aku tersenyum, mendengus dalam hati.

Tanpa sadar kami sudah sampai di halte bus. Aku melirik jam tangan, masih lima belas menit lagi sampai jadwal bus berikutnya.

Oh ya, tentang pria ini. Ada hal lain yang membuatku semakin tidak menyukainya. Aku mendengar gosip dari Matsuri, guru Sains yang menjadi sahabatku di sekolah itu. Katanya, guru pirang itu pernah jatuh hati pada penjaga UKS, itu dulu sebelum aku masuk ke sekolah itu. Namun sayangnya, penjaga UKS yang bernama Sakura itu menolaknya, karena memang sudah punya kekasih. Tentu saja pria itu patah hati, dan semakin parah sejak Sakura keluar dari sekolah untuk menikah.

Lalu bagian mana yang membuatku tidak menyukainya?

Ternyata setelah kejadian itu, Uzumaki jadi suka menggoda guru-guru wanita terutama yang masih muda. Bukan hanya guru, tetapi juga murid, seperti yang sudah kuceritakan tadi. Bahasa kasarnya, ia jadi playboy yang suka menguarkan aroma kelelakiannya untuk menjerat kaum wanita. Bahasa itu kukarang sendiri setelah membaca novel roman yang suka dibaca Hanabi.

Dari itulah, aku tidak mau kalau sampai pria itu menjeratku. Hell no, Tuan Uzumaki. Cukup Otsutsuki Toneri saja yang kuizinkan mematahkan hatiku, itu juga terpaksa.

Tiba-tiba aku merasakan tubuhku ditarik paksa. Aku tidak bisa menolak tentu saja karena kekuatan yang menarikku lebih besar. Aku mendongak, ternyata Pak Uzumaki. Usut punya usut dia menarikku masuk ke dalam bus.

"Kau terlalu banyak melamun, Hinata," ujarnya setelah kami mendapatkan tempat duduk di bagian tengah.

Aku kaget, tumben kan busnya sepi.

"Ma-maaf," sahutku lirih.

Aku memosisikan diri untuk menyandarkan punggung, lalu menarik tasku lebih rapat ke pangkuan. Walaupun aku duduk di sisi jendela, tetap saja aku harus selalu waspada kan?

Sudah kubilang tadi kan, kalau aku suka memanfaatkan waktu di bus ini untuk tidur.

Niatnya begitu, karena ternyata Pak Uzumaki malah mengajakku ngobrol. Mau diabaikan tidak sopan, tidak diabaikan aku ngantuk.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku membuka mata. Berharap pria ini segera menghentikan perbincangan dan menutup mulut.

Ya Tuhan, harapan tinggal harapan. Ada saja yang menjadi topik pria pirang itu. Mulai dari anak-anak di sekolah, sampai pada guru-gurunya. Tidak ada yang negatif, hanya cerita keseharian yang penuh warna. Bukan keluh kesah, cenderung ceria?

Entah kenapa rasanya nada suara Pak Uzumaki sarat emosi. Aku melirik ekspresi wajahnya, dan benar, penuh ekspresi. Berbinar-binar dengan sorot mata yang mengilat. Lalu aku ragu, apa biasanya dia seperti ini? Bukannya dia selalu mengeluarkan hormon itu, ya itu maksudnya, kalau sedang bergaul dengan mereka? Jika mimik yang ditampilkan seperti ini, bukankah ini artinya Pak Uzumaki bukan orang yang playboy melainkan … hangat?

Ya Tuhan, aku tak percaya mengatakan itu.

Apa Bapak kesepian? Aku berujar dalam hati.

Lantas, dengan segala kebaikan hati yang diturunkan oleh mendiang ibuku kepadaku, aku mulai menyahut setiap percakapannya. Tak terasa, Pak Uzumaki membuatku tertawa dan tersenyum tulus dengan segala cerita yang ia bawakan.

Satu jam berlalu tanpa kusadari. Menyadari pemberhentianku sudah dekat, aku berdiri. Pamit pada pria itu yang masih akan turun satu halte setelahku.

-X-

"Jadi bagaimana, Nona Saara?"

Ucapan itu menyapa gendang telinga tepat saat kakiku menapak di kantor guru. Jelas, itu suara Pak Uzumaki. Aku melirik malas pada sepasang manusia yang terlihat sedang bercanda tawa di ujung ruangan. Aku mendesah, sebelum mendudukkan diri. Baru kemarin dia mampu membuatku mengubah pandangan. Ternyata hari ini sudah membalikkan lagi pandanganku. Aku merasa kecewa, entah kecewa karena apa.

"Pagi Hinata."

Matsuri menyapaku dengan suara cerianya. Aku tersenyum, tak lama kemudian kami sudah akan memulai obrolan yang membuat kami lupa waktu. Namun, belum ada satu menit berlalu, Matsuri mencolek lenganku.

"Apa?" tanyaku.

Wanita itu hanya menaikkan dagunya, menunjuk di belakangku. Aku menoleh dan menyesal seketika itu. Mata pucatku bersirobok dengan permata biru Pak Uzumaki. Pria itu tersenyum, dengan senyuman mautnya. Apa itu semacam genderang yang mengisyaratkan perang untuk menaklukkanku? Sehingga aku harus waspada. Ataukah itu hanya sisa-sisa dari senyum yang dia berikan pada Saara, guru baru itu? Kalau yang ini benar, aku justru lega.

Tak mampu berlama-lama menatapnya, apalagi membalas senyumnya, aku menoleh kembali menghadap Matsuri.

"Apa?" tanyaku lagi.

"Hinata, apa kau baru saja terjerat senyum handsome mematikan itu?"

Aku memutar mata bosan. Matsuri memang suka keterlaluan kalau bicara. Buktinya meskipun berusaha aku tutupi, aku bisa merasakan jantungku yang berdetak kencang akibat kata-katanya.

"Jangan bodoh! Satu-satunya laki-laki yang bisa membuatku jatuh hati lalu mematahkannya hanya-"

"Otsutsuki Toneri."

"Nah itu tahu," lanjutku cengar cengir.

Matsuri mendekatkan dirinya kepadaku dan berbisik, "Jangan sombong! Kau tahu, Tuhan tidak suka orang-orang yang sombong."

Kan sialan!

Belum sempat membalas, bel sudah berbunyi. Bergegas kami para guru yang mendapatkan jadwal di jam pertama menuju ke kelas masing-masing.

Sedikit menoleh ke belakang, aku melihat Uzumaki pirang itu berjalan berdua dengan Saara. Sontak itu membuat heboh para siswa yang kebetulan berpapasan.

"Wahhh Pak Naruto, gebetan baru?"

Aku yang merasa jengah, karena teriakan itu dekat sekali dengan telingaku, memukul siswa yang berteriak tadi dengan tumpukan buku nilai yang kupegang.

"Aduh!"

-X-

Aku mengedarkan pandangan ke seisi kantin. Tak ada sosok Matsuri di sana, padahal dia sudah berjanji akan menemuiku di kantin saat jam istirahat. Aku mendesah sebal. Tidak makan lapar, makan sendiri rasanya tidak nikmat.

Lalu ponselku bergetar. Aku membukanya dan menemukan pesan teks dari Matsuri yang mengatakan dia tidak bisa menemuiku karena ada siswa yang membutuhkan pendampingan.

"Mau kutemani?"

Suara bariton yang berbisik di telingaku nyaris membuatku terlonjak. Aku mendelik pada si pelaku yang ternyata tengah menertawakan keterkejutanku.

"Jangan membuat orang jantungan!" desisku, tentu saja tak mau didengar murid-murid.

Pria itu tertawa lagi, kemudian menunjuk bangku kosong di deretan paling ujung.

"Kau duduk di sana, aku akan memesankan makanan untuk kita!" perintahnya.

Aku mematung, hei memang dia tahu pesananku?

"Nasi rames kan?" ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata, seakan bisa membaca pikiranku.

Aku menggelengkan kepala, tapi kuturuti juga maunya.

Sebenarnya agak heran sekaligus penasaran. Ke mana Saara? Kenapa guru pirang itu malah mengajakku makan berdua?

Rasa penasaranku terjawab saat mendengar obrolan dua orang siswa di dekat mejaku. Saara pulang lebih cepat karena ada urusan keluarga. Oh pantas saja, aku hanya pengganti rupanya. Rasanya kok ingin menangis. Namun kutepis itu jauh-jauh. Aku bukan wanita lemah, yang mudah patah hati, meskipun memang mudah sekali jatuh cinta. Eh?

"Kau ini suka sekali melamun ya Hinata."

Kudengar suara piring disodorkan di depanku. Aku melirik malas pada pria itu. Biar sajalah, yang penting aku makan dulu, lapar. Nasi rames ini rasanya benar-benar enak, mungkin bisa membuat pikiranku lebih lega. Apalagi kalau gratis seperti ini. Hei ini dia yang bayar kan?

"Kenhaphah tidhak bershamah Saarah?" tanyaku dengan mulut penuh.

Uzumaki itu tertawa, "Telan dulu makananmu, Hinata. Kau ini benar-benar tidak punya aturan ya!"

Aku marah, dia bilang aku tidak punya aturan? Hei siapa yang seenaknya menggoda para gadis lalu mematahkan hatinya? Bukankah itu yang namanya tidak tahu aturan?

"Tidak tahu aturan makan, maksudku. Jangan berpikiran aneh-aneh Hinata! Kau membuatku takut."

Kau yang aneh, batinku.

"Kenapa tidak bersama Saara?" ulangku.

Pria itu menatapku dengan senyum yang kata Matsuri handsome itu, lagi.

"Kau cemburu?"

"Hah? Aku cuma bertanya, kenapa tidak bersama Saara? Dari sisi mana aku terlihat cemburu?" elakku.

Semoga berhasil Hinata!

"Dari segala sisi Hinata," jawabnya yang membuatku mendengus.

Aku kembali melanjutkan makan, sedangkan pria itu masih menatapku, belum menyentuh makanannya sama sekali.

"Jangan menatapku begitu, aku jadi tidak nafsu makan," erangku.

"Kau membuatku terdengar buruk!"

"Memang!"

Dia menghela napas kasar. Kesal sepertinya. Lalu mulai menyantap makanannya. Kami cenderung diam. Aku yang memang sudah malas dan dia yang masih kesal. Itu terjadi sampai makanan kami tandas.

"Nanti pulang sama-sama lagi ya?"

Tiba-tiba dia menanyakan pertanyaan yang membuat perasaanku ambigu, antara senang dan tidak senang.

"Motormu belum selesai diperbaiki?"

Dia mengangguk.

-X-

Kali kedua aku pulang dengannya. Hari ini bus cukup padat, jadi kami tidak mendapat tempat duduk. Masih untung ada tempat, jadi tidak perlu menunggu sampai bus berikutnya. Namun sialnya, kami berdiri berdempet-dempet, saking penuhnya. Ini benar-benar tidak nyaman, kami nyaris tidak bisa bergerak.

Tubuhku dan Pak Uzumaki saling menempel. Aku bahkan bisa mencium aroma rumput yang menguar dari tubuhnya. Jangan berpikiran kalau aku mesum. Tubuhku yang pendek ini hanya setinggi bahunya. Maka ketika posisi kami seperti ini, wajahku jadi menempel di dada pria itu.

Aku tidak nyaman jujur saja, sedikit merutuki penumpang bus yang membludak. Baiklah, jika biasanya aku tidak masalah dengan itu, karena aku pulang sendiri. Kali ini jelas masalah besar. Ugh aku jadi menyesal, kenapa tadi membolehkan Pak Uzumaki membawakan tasku? Seandainya saja tidak, tas itu bisa kugunakan untuk menjadi sekat tubuh kami.

"Hinata, tolong jangan bergerak-gerak!"

Hah?

Aku mendongak, wajah Pak Uzumaki memerah. Aku bingung, aku salah apa? Tanpa sadar karena merasa sesak, aku memang menggeliat untuk mendapatkan sedikit ruang bernapas. Apa itu membuatnya merasa tersudut atau bagaimana? Padahal kulihat dia tak bergerak sedikitpun, kakinya kokoh menancap pada lantai bus, mencegah kami oleng.

"Dadamu, Bodoh!"

Mataku terbelalak. Sontak rona merah menyepuh wajahku dengan indahnya. Aku menundukkan kepala, malu sendiri. Walaupun sedikit kesal karena dia memanggilku bodoh.

Pada akhirnya aku hanya bisa berdiri kaku, sampai bus berhenti di halte dekat rumahku.

Tak kusangka, pria itu malah ikut turun. Aku mengernyitkan dahi.

"Kenapa ikut turun?" cecarku.

Dia terlihat menghela napas berat. Seakan merasa lega telah keluar dari neraka dunia itu.

"Aku tidak kuat lagi … hhhh … lebih baik aku jalan kaki saja dari sini, toh sudah dekat," jawabnya.

Aku mengangguk. Kami berjalan berdampingan dalam diam tentu saja, karena aku masih merasa canggung dengan kejadian di bus tadi.

"Aku tidak habis pikir, kau setiap hari berdesakan seperti itu?" lanjutnya.

"Iya."

"Aku bisa mati jika jadi kau."

"Siapa suruh mengikuti saya pulang dengan bus? Anda kan bisa naik taksi."

"Dan membiarkanmu berimpitan dengan orang lain? Tidak terima kasih. Mulai sekarang aku akan pulang bersamamu."

Hah? Apa itu?

Sesampainya di rumah, aku menawarkan Pak Uzumaki untuk mampir, hanya basa basi. Namun pria itu menolak dan mengatakan lain kali saja.

-X-

"Apa yang terjadi denganmu Hinata?"

Matsuri mengejar langkahku ke perpustakaan. Aku hanya sedang merasa kesal, tapi tak mau jujur padanya. Yang kulakukan hanya mempercepat langkah yang tentu saja langsung diikuti Matsuri.

"Apa kau marah karena melihat Uzumaki Naruto berduaan dengan Saara di kantin sekolah?"

Damn straight!

Namun jika kau menyangka aku akan mengiyakan, you're so damn wrong!

Aku mendelik menatap Matsuri.

"Jangan mengada-ada Matsuri! Aku hanya kesal karena ulah murid-murid di kelasku tadi."

"Ya … ya … macam aku tak tahu saja."

Akhirnya tiba juga di perpustakaan. Setelah ini aku akan membaca buku Matematika dan menyelesaikan tiap soal yang ada di sana. Jelas, supaya aku bisa melupakan apa yang membuat hatiku merasa tidak enak.

Matsuri membanting buku Sains di meja kemudian duduk di depanku. Lagaknya ia membolak balik lembaran kertas tebal itu tetapi mulutnya masih berkicau.

"Kukira hanya Otsutsuki Toneri yang bisa melakukan itu, ternyata Uzumaki Naruto pun bisa juga. Sebenarnya Uzumaki yang terlalu kuat, atau kau yang terlalu lemah Hinata?"

Aku diam. Diam saja pokoknya, karena diam adalah emas.

"Padahal sudah setahun kau bertemu dengannya dan tahu bagaimana sifatnya, tapi kenapa baru sekarang kau terlihat … patah hati?"

Aku menatap Matsuri, tajam, tepat di bola mata kelamnya. Mungkin mata piasku ini tak memberi efek apa pun. Lantas aku kembali pada coretan Matematikaku.

"Atau mungkin karena dia terlalu dekat dengan Saara? Tidak seperti dengan wanita lainnya?"

Diam saja. Tetap bergeming Hinata!

"Atau karena belakangan ini dia sering pulang bersamamu, sehingga mau tidak mau ada sesuatu tumbuh di hatimu?"

Oke ini cukup!

Aku tidak tahan lagi. Aku meninggalkan buku Matematikaku dan mendongak. Matsuri terkejut tentu saja, karena ternyata wajahku sudah berlinang air mata.

"Ya Tuhan, kau menangis Hinata?"

Tidak, aku tertawa, umpatku dalam hati.

Satu jam pelajaran berikutnya kami menghabiskan waktu di perpustakaan. Matsuri mendengarkan semua yang kuceritakan. Biar saja bolos mengajar, hanya satu jam kan?

-X-

"Hinata, ayo pulang bersama."

Aku menggelengkan kepala. Dengan senyum yang kubuat manis aku menolak ajakannya. Kali ini aku harus bisa.

"Ma-maaf Pak Uzumaki, saya pulang bersama Matsuri."

"Eh? Kenapa?"

"Kami ada proyek bersama, Naruto. Apa urusanmu?"

Yang baru saja itu Matsuri. Wanita itu mendelik pada Pak Uzumaki dan menarik tanganku menuju tempat parkir. Aku sempat melirik ke arah pria itu. Dia terlihat sedih?

Aku tak peduli, aku tidak mau lagi dipermainkan. Pokoknya sampai hatiku kembali seperti semula, dan nama Uzumaki Naruto tidak lagi membuat jantungku berdegup kencang, aku akan menghindarinya.

-X-

Hari Sabtu ini, aku menghabiskan waktu di kamar untuk membaca novel roman yang kupinjam dari Hanabi. Adik semata wayangku itu merasa heran, karena biasanya aku penggemar novel detektif, bukan novel roman.

"Apa Toneri sudah tergeser oleh pria lain?" tanyanya tadi pagi.

Aku membeku. Memang, aku menjadi penggemar novel detektif sejak berpacaran dengan Toneri yang seorang detektif polisi. Bahkan sampai setelah kami putus, aku masih belum bisa move on dari bahan bacaan itu. Namun sekarang, aku justru lebih tertarik membaca novel roman, terutama yang bergenre hurt.

Dulu aku sering meledek Hanabi karena koleksi bacaannya ini. Aku mengatainya ratu bucin. Ya, dia memang kan sedang bucin dengan pacarnya, Konohamaru. Ah itu bukan urusanku. Yang penting hari libur ini akan kuhabiskan dengan membaca novel, titik.

Sebelum pintu kamarku diketuk dan menjeblak terbuka.

"Kak, ada tamu."

Aku mengerutkan dahi. Siapa yang bertamu dan mengganggu hari liburku? Jelas bukan Matsuri karena dia bilang akan ke Suna hari ini sampai besok. Aku juga tidak punya teman akrab lain yang membuat mereka berkunjung ke rumahku.

"Bukan dari dinas?" tanyaku.

"Entahlah, yang jelas pakaiannya bukan pakaian dinas," jawab Hanabi.

Aku mengangguk. Kutarik asal selimut yang sejak bangun tidur belum kusibak. Tak perlu repot-repot merapikan penampilan. Lagi pula ini kan hari libur. Jadi aku melenggang keluar kamar menuju ruang tamu, tetap dengan kaus kebesaran punya Kak Neji, dan celana pendek. Aku juga tak mau repot mengikat rambut. Biar saja, biar tamu itu tahu kalau dia sudah mengganggu waktu berhargaku.

"Sia-"

Ucapanku terpotong. Aku terenyak saat mengetahui siapa tamu itu.

"Pa-pagi Hinata, apa a-aku mengganggumu?"

Uzumaki Naruto!

Dengan wajah memerah dan setengah gagap bertanya apa dia menggangguku?

Setelah mampu mengumpulkan serpihan nyawa yang sempat terserak, aku duduk di kursi tepat di hadapannya.

"A-ada perlu apa, Pak Uzumaki?"

"Sudah kubilang panggil aku Naruto!"

Aku memutar bola mata, tak peduli, kau sudah membuatku patah hati, teriak batinku.

"Baiklah, Pak Naruto. Ada perlu apakah Bapak kemari?"

Pria itu tampak sudah mampu menenangkan diri. Aku heran, ke mana rasa percaya diri yang biasanya dia tampilkan?

"Jangan resmi begitu dong, Hinata. Lagi pula, apa kau tidak ingin ganti baju dulu? Kau benar-benar cari perkara, menemuiku dengan penampilan seperti itu."

Aku terenyak. Jadi sejak tadi, inilah yang membuat dia gelisah? Dan kenapa aku baru menyadari ini?

Gugup aku bangkit dan berlari menuju kamarku. Kudengar dia tertawa.

Tak lama berselang, aku kembali ke ruang tamu, kali ini dengan pakaian yang pantas dan rambut yang kuikat tinggi. Pria itu menarik senyuman handsome yang membuatku merinding. Aku menundukkan kepala untuk menghindari serangannya.

"Jadi?" tanyaku setelah menempelkan pantat pada kursi.

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

Alisku naik sebelah, apa aku tidak salah dengar? Dia akan mengajakku ke mana?

"Ke mana?"

"Rahasia! Ikut saja dulu, yuk."

Ragu sebenarnya, tapi entah kenapa aku mengikuti saja kemauannya. Tak perlu ganti pakaian lagi, karena yang kukenakan baru saja sudah cukup sopan. Aku mengekori langkah Uzumaki ke halaman rumah.

"Naik motor?" tanyaku.

Dia mengangguk, memberikan helm padaku. Lagi-lagi aku menurut. Tak masalah, daripada aku kembali meratapi kisah dalam novel roman yang belum selesai kubaca.

Motornya melaju dengan kecepatan standar. Sepanjang jalan kami hanya diam. Jujur aku masih merasa canggung, mungkin begitu juga dengan dia. Caraku berpegangan pada jaketnya pun bisa dibilang longgar. Aku sedang tidak mau dipermainkan lagi olehnya. Tujuanku kali ini ikut dengannya pun, untuk melatih diriku agar menerima kenyataan bahwa Naruto bukan pria untukku.

Motor itu berhenti di taman kota. Wow Anda mengagetkanku dengan selera Anda, Tuan. Tak kusangka, taman kota yang banyak pasangan kekasih, bahkan keluarga menghabiskan waktu di sini.

Aku turun dan melepas helm, memberikannya pada Naruto. Laki-laki itu berjalan mendahuluiku, menuju salah satu bangku taman yang kosong.

Taman ini dahulu tidak terlalu ramai. Orang lebih banyak menghabiskan waktu di GOR yang dimanfaatkan sebagai pasar tumpah. Namun, sejak ditambahkan beberapa wahana dan diadakannya acara "mendongeng" oleh pemerintah kota, taman ini menjadi banyak peminat.

Aku duduk di samping Naruto. Kuperhatikan pria itu, penampilannya cukup kasual. Hanya celana jin hitam dipadu dengan kaus putih polos yang terbungkus kemeja kotak-kotak. Lengan kemeja itu panjang dan dilipat hingga ke siku. Aku terpaku, dia terlihat tampan hanya dengan seperti ini.

"Sampai kapan kau mau memandangiku, Hinata?"

Mulai lagi, dia menyeringai saat mengatakan itu. Aku mendengus.

"Hanya heran, seleramu berpakaian bagus juga."

Naruto terkekeh, pandangannya kembali ke depan.

Sekitar dua menit kami saling diam. Aku sebenarnya kesal, tetapi daripada perbincangan kami canggung, aku memilih menikmati keheningan.

"Apa kau percaya kalau aku katakan aku jatuh cinta padamu, Hinata?"

Hah?

Itu pernyataan atau pertanyaan atau ujian?

Meski tidak aku pungkiri, kalimat itu membuat detak nadiku melaju, aku mengelak. Mati-matian kutahan rasa hangat yang akan menjalar ke pipi. Maka beginilah jadinya, aku menatap datar tanpa ekspresi pada manik biru laki-laki itu.

"Tidak," jawabku lugas tanpa getaran.

Aku hebat!

"Kalau kukatakan itulah yang sebenarnya terjadi?"

"Tidak juga."

"Kalau aku berani bersumpah demi Tuhan, bahwa aku mencintaimu?"

"Jangan jadi manusia durhaka, Naruto! Membawa nama Tuhan untuk sesuatu yang palsu!"

"Aku tidak akan melakukan itu! Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku mencintaimu!"

Aku masih menatap lurus. Di sana ada seorang anak menangis lantaran es krimnya jatuh. Aku tersenyum.

"Sudah wanita keberapa?" tanyaku.

Naruto terdiam sejenak, tampaknya dia tidak paham dengan pertanyaanku, "Maksudnya?"

"Sudah wanita keberapa yang kau beri pernyataan seperti itu?"

Sorot mataku menajam, intensinya jelas menguliti pria itu hingga kejujurannya terkuak.

"Kedua," jawabnya mantap.

"Sakura?"

"Apa?"

"Shion?"

"Hah?"

"Tayuya?"

"…."

"Amaru?"

"…."

"Shizuka?"

"…."

"Saara?"

"Tunggu Hinata!"

Aku berhenti menyebutkan nama-nama perempuan yang pernah dekat dengannya.

"Apa kau baru saja menyebutkan nama murid-murid kita?"

"Yang kau goda? Ya," ujarku tenang.

Naruto mendesah. Tampaknya dia lelah?

"Berita buruk apa tentangku yang sampai padamu?"

"Tidak ada, hanya sejak ditolak Sakura, kau jadi playboy."

Naruto menepuk dahinya keras.

"Berita itu tidak ada yang benar, Hinata!"

Apa dia gemas? Kenapa dia meremas-remas jemarinya di depan wajahku?

"Sakura, teman masa kecilku. Wajar jika saat dia menjadi penjaga UKS aku sering mengunjunginya. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada suaminya, Uchiha Sasuke, sepupu jauhmu."

Hah? Jadi Sakura itu Sakura yang itu? Yang menikah dengan si pantat bebek? Aku tidak tahu, dunia hanya selebar daun kelor.

"Murid-murid yang kau sebutkan tadi, yeah mereka memang menggemariku. Tapi yang benar saja, masa aku mau memacari gadis yang umurnya terpaut jauh dariku, apa aku ini pedofil?"

Mungkin saja kan? Aku merutuk dalam hati. Dan aku semakin benci pada laki-laki ini, sudah tahu mereka menggemari malah dilayani.

"Saara? Kau terlalu buta sampai tidak menyadari nama keluarganya kan?"

Yang ini membuatku mendongak. Pria itu gusar, membuka ponsel dan menunjukkan laman situs web milik yayasan sekolah tempat kami mengajar. Menunjukkan nama seseorang di daftar guru yang tercantum.

Uzumaki Saara.

Mataku membola, benar-benar tidak aku sangka!

"Di-dia istrimu?" aku benar-benar tidak tahu lagi, apa bisa bertahan dengan kondisi ini.

"Arrghhh … kau membuatku gila Hinata!"

Aku terkejut, takut juga melihat Naruto yang sepertinya benar-benar marah. Kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang marah kan?

"Dia adik sepupuku, Hinata!"

Eh benarkah? tapi kenapa waktu itu dia menggodanya?

"Ma-Masa?"

Aku menelan ludah saat tatapan Naruto padaku semakin tajam. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajahku. Tubuhku kaku, tak bisa kugerakkan, wajahku sudah pasti memerah pekat. Ini terlalu dekat! Lagi pula ini tidak boleh terjadi, bagaimana kalau ada murid atau teman kami yang kebetulan melihat?

"Besok aku akan datang ke rumah, membawa orang tuaku. Kuharap kau memberi tahu keluargamu untuk mempersiapkan diri."

Dia berbisik di dekat telingaku. Sepertinya ada emosi yang tertahan di sana.

"A-apa maksudnya?"

Naruto berdiri, tersenyum tak bersemangat, "Aku lelah menjelaskannya padamu yang keras kepala, Hinata. Jadi lebih baik aku langsung melamarmu saja."

Mataku melebar. Me-melamar? Apa maksudnya, melamar seperti melamarku untuk dijadikan istri?

Ya Tuhan, apa ini benar? Hahaha dia pasti bercanda. Mana mau aku jatuh ke dalam jebakannya.

-X-

Keesokan harinya~

"Kakak!"

Aku menggeliat kesal, saat Hanabi membangunkanku kasar. Aku tahu, aku memang sudah seharusnya bangun dan memasak untuk sarapan, tapi hei aku hanya ingin tidur sebentar lagi.

Kulirik adikku gemas, apa dia lupa apa yang diajarkan ayah tentang sopan santun? Bukannya harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk?

"Ada tamu di bawah, cepat ganti baju!"

Setelah mengatakan itu Hanabi pergi begitu saja. Apa-apaan itu tadi? Menyuruhku ganti baju untuk menemui tamu yang sudah mengganggu waktu berhargaku? Paling-paling itu Naruto lagi mau mengajakku keluar. Aku menolak ganti baju, biar seperti ini saja biar dia tahu kalau aku tidak mau pergi dengannya.

Lagi dan lagi, aku hanya memakai kaus Kak Neji (ya, aku suka karena memang nyaman, dan juga salah siapa meninggalkan baju di rumah ayah saat dia sendiri sudah punya rumah). Karena kaus yang ini panjangnya sampai di atas lutut, aku tidak mau repot-repot pakai celana. Toh tertutup kan?

Saat sudah sampai di ruang tamu, aku memasang wajah mengantuk dan malas, mataku bahkan memejam.

"Siapa?"

Karena suasana hening, tidak ada yang menjawab, aku membuka mata.

Keputusan yang salah sekaligus benar.

Apa yang kudapatkan saat itu hampir membuatku mati karena malu.

Bagaimana tidak? Jika di sana ada Naruto dan dua orang lain di sampingnya, dengan penampilan rapi, sedang menatapku tak percaya. Juga di kursi dekat tempatku berdiri, kulihat ayah ...

... menatap tajam penuh aura kematian.

Aku meneguk ludah paksa dan tertawa hambar, sebelum kabur dengan kecepatan kilat.

"Jadi apa Anda masih yakin mau melamar anak gadis saya?"

Meski sayup, aku mampu mendengar suara tegas ayah, dan suara tawa mereka semua.

Ya Tuhan ...

-X-

"Jadi bagaimana Hinata? Karena mereka bersikukuh tetap melamarmu setelah apa yang terjadi tadi, dan kau sudah mengenal Tuan Uzumaki, jadi ayah serahkan sepenuhnya padamu."

"..."

"..."

"..."

"I-iya."

TAMAT