Hai-haii! Aku kembali dengan cerita baru yuhuu~

Kita cerita-cerita di bawah aja yaa, saatnya menikmati bacaan hihi

Enjoy!

Sorry for typo ^^


.

.

Zimzalabim!

Bagian I: Mantra Penghapus

.

.

"Jika sihir itu ada, maka setiap kalimat yang kau ucapkan bagaikan mantra penenang bagiku"

[Sore hari di kediaman keluarga Wu]

"Luhannn? Cepat sayang, nanti kita terlambat!" pekikkan Baba-nya terdengar dari lantai bawah.

Sementara itu Luhan masih berkutik dengan rambutnya, rambut coklat karamel sepunggungnya itu sangat merepotkan dan tidak tahu harus diapakan. Ia ingin sekali memangkas rambutnya hingga sebahu agar tidak perlu repot menatanya, cukup menyematkan bandana manis di atasnya sudah cukup. Tetapi Baba-nya tentu tidak mengizinkannya memiliki rambut pendek.

"Luhann?"

"Astaga Baba tunggulah, aku sedang kesulitan dengan rambut panjang ini!" Luhan balik menjawab dengan keras dari kamarnya.

"Baiklah, dua menit cukup dan kau harus turun," teriak Baba-nya lagi.

Luhan tidak menjawab, ia sedang menggerutu sendirian. Bagaimana mungkin dua menit cukup untuk menata rambutnya? Luhan kembali mengambil sisirnya dan mengambil sebagian rambutnya dipinggir berniat mengikatnya, tapi sedetik kemudian ia melepas sisirnya dan membiarkan rambut indahnya tergerai tanpa hiasan apapun. Ia mengambil tasnya dan keluar kamar setelah berakhir memakai heels-nya.

Luhan turun dari lantai kamarnya dan menyusul Baba-nya yang sibuk berbicara di telepon. "Ba, Luhan siap," ucap Luhan malas.

Baba-nya memutuskan sambungan dan berbalik. "Kau cukup cantik. Ayo kita hampir terlambat," ajak Baba-nya.

"Cukup?" Luhan menggerutu lagi karena Baba-nya tidak menghargai usahanya berdandan dan memakai gaun aneh–menurutnya– dengan panjang tepat diatas lututnya, terlebih lagi adalah gaun itu berwarna pink yang sangat tidak Luhan. Meski sebenarnya Luhan memakai gaun pink soft yang sangat kalem. Pergi ke pesta adalah kebiasaan Luhan sejak dahulu. Mama-nya tiada saat ia masihduduk di bangku SMP membuatnya selalu menemani kemana pun Baba-nya pergi. Sejak saat itu Baba-nya tak pernah meninggalkannya sendirian dan saat Luhan beranjak dewasa, Luhanlah yang menolak membiarkan Baba-nya sendirian.

Sebenarnya Luhan sudah cukup lama tidak pergi ke pesta dan ia terlalu menikmati kehidupan tanpa pestanya. Tiba-tiba malam tadi Baba-nya mengatakan bahwa hari ini ia harus ikut ke pesta dan ditambah lagi ia harus mengenakan gaun bernuansa pink karena itulah konsep pestanya. Luhan benar-benar anti dengan warna pink karena saat kecil pakaian dan semua peralatannya berwarna pink, hal itu membuatnya mendapat julukan 'bocah pink manja.' Demi apapun Luhan membenci masa kecilnya yang terlalu diremehkan, ia juga heran mengapa ia bisa menyukai warna pink itu. Hiii~

Di perjalanan, Luhan cukup sibuk dengan ponselnya. Ia tak bersuara sekedar mengobrol ringan dengan Baba-nya. "Lu?" saat lalu lintas berubah hijau Yifan membuka suaranya.

"Hm?"

"Sepertinya ponselmu lebih penting daripada Baba," ucap Yifan lalu tertawa, masih menatap ke depan.

Luhan menatap Baba-nya sebal. "Tidak bisa dibandingkan antara kalian Baba. Ini Jongin, seharusnya Baba tidak membuat janji mendadak denganku. Luhan jadi membatalkan kencan dengan Jongin, dan sekarang Luhan harus membuatnya tenang"

"Aigoo, Putri Baba sangat lucu. Ternyata Jongin itu bisa juga mendapatkan hatimu dan perhatianmu."

"Ba, jangan mulai. Perhatianku juga ada pada Baba,"

"Hmm… tapi Lu, Baba tidak suka dengan Jongin. Ia terlalu protektif dan biasanya seseorang yang protektif–"

"Ba cukup! Jangan selalu menjelekkan Jongin, ia begitu karena sayang pada Luhan!" Luhan tahu tidak baik jika membentak orangtuanya sendiri, tapi ia selalu kesal tiap kali Baba-nya menentang hubungannya. Memang apa salah Jongin? Luhan pun tidak paham dengan cara pandang Baba-nya.

"Baiklah, Baba minta maaf," ucap Baba-nya.

Tidak ada jawaban hingga mereka memasuki kawasan perumahan elit di Seoul. Mereka pun berhenti di sebuah rumah besar. Tamu-tamu sepertinya sudah berdatangan kerena rumah ini terlihat sangat ramai. Luhan hendak turun saat mobil mereka sudah terparkir, tetapi Baba-nya menahan tangannya.

"Tunggu…" Luhan hanya diam dan memperhatikan Baba-nya yang membuka dasbor mobil di depannya. Baba-nya mengeluarkan sebuah kotak beludru biru dan membukanya. Sebuah jepit mahkota berwarna putih yang manis menyapa matanya. Jepit itu sampai di kepala Luhan, "Cha… pakailah, ini sekarang jadi milikmu," ucap Baba-nya tersenyum. "Maafkan Baba ne?"

"Ma…Mama," gumam Luhan.

"Ya, itu milik Mama. Kalian sangat mirip kecuali mata kalian tentu saja, tapi… kalian benar-benar cantik. Kkajja," Baba-nya keluar dan menunggu Luhan di sana.

Tanpa Luhan sadari air matanya jatuh, ia menghapusnya dengan cepat, "aish! Make up ku bisa luntur," getutu Luhan, tetapi dalam hatinya ia merindukan sosok ibu yang menyayanginya. Baba-nya juga menyayanginya, tapi hanya saja Baba-nya adalah sosok ayah, bukan ibu. Ia juga tahu Baba-nya hanya tidak ingin kehilangannya karena jika nanti ia menikah dengan Jongin, siapa yang akan menemani Baba-nya? Luhan menggelengkan kepalanya, "Aku bisa terus tinggal bersama Baba, Jongin pasti mau," ucap Luhan pada diri sendiri.

Luhan keluar dari mobil setelah menenangkan dirinya lalu menggandeng lengan Baba-nya. "Kkajja!" ucap Luhan senang.

Yifan terkekeh tanpa suara melihat betapa menggemaskan Putrinya yang sudah beranjak dewasa. Jika Yifan bisa, ia akan memilihkan pendamping hidup untuk Luhan yang terbaik, benar-benar terbaik. Ia tidak menyukai Jongin bukan tanpa alasan. Laki-laki itu, Yifan tahu jika laki-laki itu mempermainkan Luhan hanya dari matanya.

"Sudah tidak marah dengan Baba?" tanya Yifan.

Luhan mengangguk, "tentu saja. Tapi jika Baba masih menjelekkan Jongin–"

"Araseo Princess, mianhae hm?" Yifan tidak ingin Luhan terus membela Jongin, ia khawatir anaknya akan terluka lebih parah jika terlalu mempercayai Jongin.

Luhan tertawa, "gomawo Ba…" Yifan tersenyum sambil melihat jepit milik isterinya. 'Apa aku salah membiarkan Luhan masih dengan Jongin? Atau aku salah karena menghalangi kehidupan cinta putri kita? Tolong aku Zi…'

Luhan melihat sekitarnya, sepertinya rumah ini sangat familiar bagi Luhan. Apa ia pernah kemari sebelumnya? Tunggu! "Ba, siapa yang mengadakan pesta?" tanya Luhan sembari masih mengingat apa yang terasa sangat dekat dengannya.

"Oh Baba belum bilang? Anak dari Tuan Oh menikah hari ini,"

Luhan membuat otaknya lebih cepat berpikir, 'Oh?' apa ia pernah mendengar marga itu? Tentu saja, di Korea banyak sekali yang bermarga Oh.

"Oh Joon Myeon?!" Tiba-tiba Baba-nya memanggil sebuah nama yang benar-benar tidak asing. Luhan mengingatnya!

Luhan memandang laki-laki berwajah teduh yang tersenyum ke arah Baba-nya. Ia tidak terlalu tinggi tetapi sangat tampan dan di sebelahnya mungkin isterinya yang terlihat sangat anggun dan juga cantik. Wow apa keluarga ini semuanya semenawan mereka?

"Luhan kenalkan mereka klien Baba,"

Luhan otomatis membungkuk, "annyeonghaseyo, Wu Luhan imnida"

"Astaga! Ini Luhan? Luhan yang menggemaskan saat kecil dahulu?" Wanita yang Luhan anggap anggun itu ternyata bisa juga bertingkah menggemaskan hanya karena Luhan. "Luhan kau benar-benar tumbuh menjadi gadis cantik. Sempurna seperti Zizi, hanya saja mata kalian berbeda."

"Gamsahamnida, ajumma." Ucap Luhan sedikit malu

"Ah aku hampir lupa. Aku Zhang Yixing, aku juga dari Cina sepertimu. Ibumu adalah temanku," ucap Yixing yang terlambat memperkenalkan diri.

Luhan tersenyum dan mengangguk. Benar! Yixing, Joonmyeon! Mereka nama orangtua temannya dahulu. Rumahnya juga masih sama, rumah milik Oh Sehun teman sekolah dasarnya dan juga selang satu rumah dari sini adalah rumah Baekhyun.

Mengapa harus di sini?! Astaga ini berbahaya, sangat! Oh Sehun adalah orang yang pernah ia sukai. Apalagi waktu itu Baekhyun pernah berteriak sesuatu yang memalukan untuknya dan ayah Sehun mendengarnya. Ini seperti ia mengaku kalah karena tidak mendapatkan Oh Sehun. Astaga ia butuh kekasihnya saat ini!

"Mengapa kalian keluar? Bukankah acaranya belum berakhir?" tanya Yifan.

"Tentu saja belum, kami menyambut kalian," kekeh Joonmyeon membuat Yifan ikut tertawa.

Berbeda dengan yang lain, Luhan malah terlihat sangat khawatir. Apa Sehun masih mengingatnya? Semoga saja apa yang terjadi di masa lalu tidak ada yang mengingatnya.

Rumah ini sangat besar, ruang tamu rumah ini juga sangatlah besar apalagi keseluruhannya. Tidak diragukan lagi penghuni perumahan elit ini adalah orang yang bukan main-main. Saat Luhan hendak masuk, angin tiba-tiba berhembus membuat rambut Luhan berterbangan menutupi wajahnya. Sudah diduga rambut panjang memang merepotkan, pikir Luhan.

Luhan merapikan rambutnya dengan kesal. Meskipun rambutnya terlalu lembut hingga mudah dikembalikan seperti semula, tetapi ia tetap saja merasa repot.

"Luhan? Mengapa tidak mengikat rambutmu? Sepertinya kau cukup risih jika digerai seperti itu," pertanyaan Nyonya Oh membuat Luhan terkejut.

"A-ah? Sepertinya bagus seperti ini, Ajumma" jawab Luhan asal. Ia merinding mendengar jawabannya, sejak kapan ia memuji rambutnya?

Yixing tersenyum, "baiklah, kemari ikut aku" ajakkannya lebih cocok dengan sebuah paksaan karena tangan Luhan sudah digenggamnya dan membawanya ke lantai atas.

Sementara Nyonya Oh membawa Luhan ke suatu tempat. Tuan Oh dan Tuan Wu terlihat menikmati pestanya.

"Appa,"

"Sehun? Ah perkenalkan ini adalah klien Appa. Tuan Wu."

Sehun membungkuk hormat, "annyeonghaseyo Tuan Wu. Oh Sehun imnida,"

"Oh, annyeong Sehun. Ternyata kau cukup tampan juga."

Sehun tersenyum dengan menawannya membuat para anak gadis petinggi yang datang ke acara pernikahan itu menjerit tertahan, "gamsahamnida Tuan. Maaf tapi saya ingin mencari Eomma,"

Yifan mengangguk, "sepertinya aku harus mencari anakku, di mana dia?" tanyanya heran.

"Tenang saja, isteriku tidak akan melakukan hal menakutkan pada anakmu," kekeh Joonmyeon.

"Ah ternyata mereka sudah akrab," jawab Yifan.

Sehun membungkuk lalu pergi dari hadapan para ayah untuk mencari ibunya. "Dimana eomma…" gumam Sehun sambil mencari ke seluruh penjuru ruangan. "Apa di luar?" pikirnya lalu berjalan ke luar rumah.

Sehun kembali masuk karena tidak menemukan ibunya, "Di mana?" tanyanya pada diri sendiri.

"Eomma!"

"Sehun-ah, ada apa?" tanya ibunya.

"Imo dan keluarga akan terlambat kemari karena menunggu tunangan Kyungsoo datang–" Sehun tidak sengaja mengalihkan matanya pada gadis mungil dengan rambut yang diikat rapi bak putri kerajaan, matanya seperti mata rusa yang menawan, dan bibir mungilnya, gadis itu seperti boneka.

"E-eh?" Sehun terlihat salah tingkah sedangkan Luhan hanya bisa terdiam karena masih tidak percaya bahwa ia akan bertemu Sehun secepat ini, jangtungnya berdebar khawatir Sehun mengenalinya. Apa yang harus Luhan lakukan? Bisakah kalian memilihkannya? a) diam dan pura-pura tidak mengenal atau b) mengucapkan selamat atas pernikahannya, atauuu c) kabur?

Nyonya Oh hanya terlihat tersenyum penuh arti dan sangat mengerti situasi di depan matanya ini. "Ada apa Sehun?" sedikit jahil mengkin tidak apa pada anaknya sendiri.

"A-apa? Eomma?" Sehun malah terlihat seperti orang ling-lung.

Nyonya Oh merangkul Luhan, "Perkenalkan–"

"H-hai Se-Sehun. Selamat atas pernikahannya," Luhan membungkuk sambil memejamkan matanya erat. Ia merutuk dalam hati 'tenanglah Luhan, ia hanya masa lalu yang bahkan Sehun sendiri tak tahu kebenarannya!'

Sehun menatap Luhan bingung, mengapa harus bilang padanya? "A-ah… g-gamsahamnida," jawab Sehun masih diliputi kebingungan.

Nyonya Oh tertawa seakan tahu apa yang Luhan pikirkan. Kalian tahu? Yixing tahu bahwa Luhan adalah teman satu sekolah Sehun karena ia dan Zitao, ibu Luhan, berteman dan menyekolahkan anak mereka di sekolah yang sama saat di Cina. Tetapi ia mengurungkan niatnya mempertemukan Sehun dan Luhan sebagai teman sekolah, Yixing memang senang sekali menjahili anaknya.

"Di-dimana pengantin–"

Sehun menunjuk di mana kakak dan kakak iparnya berada, "di sana."

Luhan terkejut, ia melihat ke arah yang ditunjuk Sehun dan di sana adalah pasangan pengantinnya. 'Jadi bukan Sehun yang menikah? Astaga Luhan!' pekik Luhan dalam hati.

"J-jadi…" ucap Luhan tergagap, ia masih merasa syok karena kebenarannya.

"Minseok Noona dan Jongdae Hyung, ada masalah?" tanya Sehun heran pada gadis di depannya.

"T-tidak," Luhan merutuki dirinya yang terlalu cepat mengambil keputusan. Ia ingat bahwa Sehun memiliki kakak perempuan dua tahun lebih tua dari mereka. 'Dasar Luhan babo!' makinya.

"Baiklah, eomma tinggal dahulu ya. Eomma harus menyambut tamu yang baru saja datang," Nyonya Oh dengan tawanya meninggalkan Sehun dan Luhan dalam kecanggungan.

"Hmm–"

"Boleh aku tahu namamu?" tanya Sehun. Harus cepat dilancarkan sebelum seseorang merebutnya, pikir Sehun. Ya, ia mengaku tertarik pada gadis yang baru saja ditemuinya. Hanya tertarik, tidak lebih… ya untuk saat ini.

"Lu-Luhan, Wu Luhan" jawab Luhan kikuk.

"Nama yang cantik, cocok dengan matamu."

"Ma-maksudmu?" tanya Luhan terkejut.

Sehun sadar bahwa ia bersikap tidak sopan, "ah, maafkan aku. Hanya saja bukankah kata Lu bisa berarti rusa dalam bahasa Cina?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk takjub, "bagaimana kau tahu?" (Kau bertanya seolah-olah tidak tahu Luhan kkkkk)

"Aku pernah tinggal di Cina saat kecil selama 3 tahun." jawab Sehun. Luhan tersenyum merasa bodoh, tentu saja seharusnya ia tahu bahwa Sehun pernah tinggal di Cina.

Luhan, Sehun, dan Baekhyun adalah teman satu sekolah, tetapi hanya Baekhyun yang benar-benar tidak memiliki darah Cina. Baekhyun dan Sehun memang dekat sejak awal karena berasal dari Korea. Awalnya Luhan menyangka Baekhyun akan menikah dengan Sehun yang memikirkannya membuat Luhan sedih karena ia menyukai Sehun dan perlu diingatkan bahwa semua itu hanya masa lalu, karena ia sudah memiliki Jongin saat ini.

"Aku harus mencari Baba," ucap Luhan.

"Boleh aku temani?" Sehun merutuki dirinya, bagaimana jika ia ditolak?

Luhan tersenyum, "tentu saja boleh, Sehun-ssi."

Sehun tersenyum senang, "benarkah? Kalau begitu mari…"

Sehun dan Luhan jalan berdampingan, hal itu terlihat oleh Nyonya Oh. "Mereka benar-benar serasi Zizi," bisik Yixing senang.

Sehun dan Luhan masih bersama, mereka berbincang dan terlihat sangat akrab dengan Sehun yang semakin mengagumi Luhan dan Luhan yang masih merahasiakan bahwa mereka berada di sekolah yang sama dahulu.

"Luhan? Bukankah kau Wu Luhan?" seorang gadis dengan gaun hitamnya menghampiri Sehun dan Luhan yang sedang asik berbincang.

"Baekhyun? Bagaimana kau tahu?" bukan Luhan yang merespon melainkan Sehun. Luhan terlalu terkejut dan tidak tahu harus menjawab seperti apa.

"Benar kan, kau Wu Luhan?!" seru gadis itu.

Astaga benar! Dia adalah Byun Baekhyun, temannya dan Sehun sewaktu di Cina. Luhan tersenyum kikuk, ia juga khawatir rahasianya akan terbongkar, bukan, bahkan rahasianya sudah terbongkar. "H-hai Baek, a-apa kabar?" sapa Luhan.

Baekhyun menghambur ke pelukan Luhan, "astaga! Sudah berapa tahun kita tak bertemu? Aku merindukanmu dan kau…" Baekhyun melepas pelukannya dan memperhatikan Luhan dari atas hingga bawah lalu kembali ke atas, "dan kau, astaga kau cantik sekali. Aku sampai membuat taruhan pada diriku bahwa kau Luhan!"

"Wow Oh Sehun! Kau sudah bertemu Luhan terlebih dahulu ternyata," seru Baekhyun pada Sehun. Luhan menahan napasnya 'oh Tuhan tolong aku.'

"Sayang!"

Baekhyun menoleh ke belakang, "ah, maafkan aku Chan" Baekhyun terlihat merangkul lengan pria yang memanggilnya.

"Mengapa kalian bisa saling kenal?" pertanyaan Sehun yang terabaikan oleh Luhan.

"Kita harus cepat Baek," ucap si pria yang sepertinya adalah kekasih Baekhyun.

Baekhyun terlihat menyesal saat menatap Luhan, "Lu, maafkan aku. Aku harus pergi,"

Luhan mengangguk kelewat antusias dan bahagia, "y-ya! kau bisa pergi, tak masalah" setelah melihat pasangan itu tak lagi berada di jangkauannya, Luhan bernapas lega.

"Lu…"

Luhan merutuk dalam hati ketika mengingat Sehun masih bertanya tentang kejadian barusan. "Y-ya?"

"Kau kenal dengan Baekhyun?" tanya Sehun.

Luhan memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat, tidak masalah jika ia ketahuan berbohong nantinya, itu bisa dipikirkan kembali. "I…itu–"

"Oooppaaa!" tiba-tiba seorang gadis menabak Sehun dan memeluknya.

"Astaga Kyungsoo-ya, kau mengejutkanku!"

"Oppa! kenapa kau jahat sekali tidak menjemputku?" gerutu si gadis. Luhan percaya dalam hati bahwa tidak mungkin orang setampan Sehun belum memiliki kekasih.

"Bukannya kau bersama tunanganmu?" tanya Sehun dan sekali lagi Luhan merutuki dirinya yang terlalu cepat mengambil keputusan saat mengetahui gadis itu bukan kekasih Sehun. Tetapi entah mengapa Luhan merasa senang karena gadis itu bukan kekasih Sehun.

"Jongin oppa terlalu lama, aku kesal," si gadis terlihat mempoukan bibirnya.

Tiba-tiba jantung Luhan seperti mati suri, Jongin? Apa… –Luhan menggelengkan kepalanya, ia tak boleh mengambil keputusan begitu saja. Nama Jongin sangatlah banyak di Korea, ya, semua akan baik-baik saja. Tenanglah Luhan.

"Kyungsoo! Astaga sayang, kau cepat sekali. Sudah oppa bilang– Baiklah mianhae hm?" seorang laki-laki membuat Luhan membatu dengan halusinasi akut disertai petir yang menyambar otaknya.

"Jo–"

"Ayolah jangan bertengkar di hadapanku. Kalian membuat iri saja," ucapan Sehun seperti angin berlalu bagi Luhan yang melihat pria yang selama ini ia percayai berhianat di depannya.

"Luhan-ssi, perkenalkan–"

Tepat saat mendengar nama Luhan disebut, laki-laki yang baru saja datang menoleh pada Sehun dan berakhir menemukan perempuan yang sangat ia kenal di sebelah sepupu Kyungsoo. Jongin tidak bisa berkata-kata, ia seperti rampok yang tertangkap pemilik rumah.

Luhan bangkit dari kursinya dan berlari ke arah Baba-nya yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya. Tetapi ia menghentikan langkahnya dan berbelok ke lorong yang ia sendiri tidak tahu tempat apa di sana.

"Luhan!" Jongin seperti baru saja tersadar dari hipnotis, ia otomatis berlari mengejar ke mana Luhan berlari.

"O-oppa, ada apa ini?" tanya Kyungsoo, ia juga ikut terkejut dengan apa yang terjadi.

Sehun menangkap ada yang tidak beres, "ayo kita susul mereka," ucap Sehun sambil menarik tangan Kyungsoo.

Jongin berhasil menyusul Luhan lalu menarik tangannya, "Luhan!"

Luhan berbalik karena tarikan Jongin memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca dan memerah sempurna karena menahan tangisnya. "Kau…"

Jongin menatap Luhan dengan sedih, "maafkan aku Lu. Kau boleh memukulku, pukul aku Luhan agar kau puas…"

PLAK!

Satu tamparan mulus mendarat di pipi kiri Jongin. "Ini tidak cukup bagimu Kim Jongin!" Luhan menghempaskan tangan Jongin darinya lalu mundur beberapa langkah. "Kau… sejak kapan kau membohongiku?!"

"Maafkan aku Lu," ucap Jongin sendu.

"Sejak kapan kau membohongiku?! Jawab aku!"

"Lu…"

"Kim Jongin!" teriak Luhan lagi.

Jongin hanya terdiam, kepalanya tertunduk dan tak berani menatap Luhan. Ia tak menyangka bahwa semua ini akan dengan cepat terungkap. "Jadi apa arti kita selama enam bulan ini Jongin…" Luhan menahan air matanya sekuat tenaga agar tak mengalir.

"Jadi kalian berhubungan selama enam bulan?" Kyungsoo menyela pertengkaran mereka.

"Kyung…"

Kyungsoo mendekat dan berdiri di hadapan Luhan. "Jika kau ingin tahu, kami sudah dijodohkan sejak aku duduk di kelas tiga SMP. Kami juga sudah bertunangan setahun yang lalu dan sebentar lagi aku akan lulus SMA. Setelah itu, Jongin oppa akan menikahiku! Kau tahu apa artinya Jalang?!"

"Kyungsoo–"

"Diamlah Kim Jongin jika kau tidak ingin kulaporkan pada Appa!" ancam Kyungsoo. Menyangkutkan dengan orangtua benar-benar Jongin benci, ia diam dan hanya bisa berharap agar Kyungsoo tak melakukan hal berlebihan pada Luhan. Kyungsoo menunjukkan telunjuknya pada dahi Luhan, "keu mencoba merusak hubungan kami kan?!" Luhan berakhir terjatuh di lantai karena dorongan Kyungsoo.

"Kyungsoo cukup!" Sehun sudah tidak tahan lagi menjadi penonton pertengkaran mereka. Sehun membantu Luhan berdiri dan hal itu hanya membuat Kyungsoo semakin panas. "Oppa tidak pernah mengajarimu berkata kasar seperti itu, Do Kyungsoo! Oppa kecewa padamu," kemudian Sehun membawa Luhan pergi dari sana.

Baru beberapa langkah, Luhan menghentikan langkahnya dan melepas genggaman Sehun dari tangannya, "kita sudah tak ada hubungan lagi, Kim Jongin." Ucap Luhan lalu berjalan mendahului Sehun. Apa kali ini juga ia terlalu cepat mengambil keputusan? Apakah benar jika tidak mendengar penjelasan dari Jongin terlebih dahulu?

Sehun berbalik dan menatap Jongin, "sepertinya kau harus meninggalkan kebiasaanmu mempermainkan wanita. Sadarlah kau sudah memiliki kekasih– ah maksudku calon isteri," setelah itu Sehun berlari menyusul Luhan.

"Oh Sehun sialan!" maki Jongin, ia tak suka dipermalukan di hadapan Sehun seperti ini.

"Luhan-ssi, kau baik-baik saja?" tanya Sehun saat melihat Luhan duduk di halaman belakang rumahnya.

Luhan menghapus jejak air matanya, "maafkan aku Sehun-ssi, aku tidak bermaksud tidak sopan karena masuk kemari,"

"Tidak masalah, tapi apa kau baik-baik saja?" Sehun hendak melangkah mendekat tetapi Luhan menahannya.

"Bisakah kau tidak kemari? Aku malu sekali," ucap Luhan sambil membenamkan wajahnya pada kedua lututnya.

"A-ah, baiklah…"

Hening tercipta diantara keduanya hingga Sehun membuka suara, "apa kau benar-benar mencintai Jongin?" tanya Sehun.

Sehun melihat Luhan menggeleng, "jangan bicarakan dia. Aku mohon,"

"Baiklah, maafkan aku…"

Tubuh Luhan bergetar di depan mata Sehun. Ia ingin sekali mendekat dan memeluk tubuh mungil yang sedang tersakiti itu, tetapi ia tak berani, ia takut akan membuat Luhan semakin sedih dan terpuruk. 'Kim Jongin kau memang berengsek! Membuat wanita menangis seperti itu!' maki Sehun. Dengan tangan yang terkepal kuat, Sehun keluar dari taman dan mencari keberadaan Jongin. Emosinya semakin menjadi saat melihat Jongin seperti tak berdosa tertawa bersama bibi dan pamannya, yaitu orangtua Kyungsoo.

Dengan hati yang berapi, Sehun menghampiri dimana keluarga itu berkumpul. Dalam satu tarikan pada kerah baju Jongin dan pukulan kasar menghantam pipi mampu membuat Jongin tersungkur dengan tidak hormatnya di lantai membuat seluruh tamu undangan menatap mereka terkejut.

"Sehun Oppa! Apa yang kau–"

"Kau bilang boleh memukulmu bukan? Itu balasan Luhan untukmu!" hardik Sehun.

Sehun berbalik dan membungkuk pada tamu undangan. "maafkan atas gangguan kecil ini. Silakan kembali menikmati pesta anda. Noona, Hyung mianhae" ucap Sehun tenang lalu pergi dari tempat pesta dan kembali ke taman tempat Luhan berada.

"Ada apa ini? Apa yang dilakukan Sehun?" ucap Tuan Oh.

"Sehun menyebut Luhan, apa terjadi sesuatu pada Luhan?" tanya Nyonya Oh khawatir.

Tuan Wu benar-benar khawatir pada anaknya dan setelah melihat Jongin dibantu wanita lain, ia beranjak dari kursi. "Maaf Tuan Oh, bisakah aku pulang terlebih dahulu? Aku khawatir pada anakku,"

"Baiklah. Maaf jika terjadi sesuatu pada Luhan dan terima kasih sudah datang," jawab Tuan Oh.

Yifan mengangguk, "tidak masalah, selamat atas pernikahan anak perempuanmu." Lalu ia mengikuti ke mana Sehun pergi.

Yifan menghentikan langkahnya ketika sampai di sebuah taman setelah mencari cukup lama. Ia melihat betapa tersakiti Luhan ketika seluruh tubuhnya bergetar. Ia tidak jadi menghampiri Luhan karena Sehun di sana sedang memeluk putrinya dengan penuh ketenangan. Yifan menunggu di depan pintu sambil tersenyum sedih. Ia senang ada yang menenangkan Luhan karena ia sendiri tak tahu apakah ia mampu menenangkan Luhan. Tetapi ada perasaan sedih saat bukan ialah yang memeluk dan menenangkan Luhan. Bahkan Luhan tak pernah menangis di depannya, kecuali saat Mama-nya tiada.

Setelah setengah jam berlalu, Yifan memberanikan masuk ke taman. "Apa sudah selesai?" tanyanya membuat kedua insan yang sedang berpelukan itu terperanjat.

"Ba-Baba…"

"Tu-tuan Wu?"

Keduanya terlihat seperti telah melakukan sesuatu yang tidak pantas, wajah mereka memerah. Luhan berdiri dan berlari seperti anak kecil yang baru saja kembali pada ayahnya. "Ba… maafkan Luhan," ucap Luhan.

Baba-nya hanya mengusak lembut rambut Luhan. "Memangnya ada apa?" tanyanya.

"Tu-tuan Wu sebenarnya…"

Yifan tersenyum pada Sehun, "terima kasih sudah menenangkan Luhan." Lalu ia mengajak Luhan untuk pulang. Sehun hanya terdiam dan tak tahu harus bagaimana, apa yang sebenarnya Tuan Wu pikirkan? Ia melihat ayah dan anak itu keluar dari taman.

Tuan Wu berhenti dan berbalik. "Kau harus berkunjung ke rumah jika ada waktu. Luhan pasti kesepian. Bukankah kalian teman semasa sekolah dasar?" ucapnya lalu tersenyum.

Sehun terlihat bingung dengan ucapan Tuan Wu dan memaksa otaknya untuk berpikir. Teman semasa sekolah dasar? Pikir Sehun.

"Babbaaa!"

Astaga Baba-nya telah membongkar rahasianya, bagaimana ini?! Panik Luhan. "Baba aku membencimu sungguh," kesal Luhan.

"Geure, Nado saranghae. Wo ai ni…" lalu Baba-nya tertawa setelah melihat Luhan yang berwajah khawatir.

Selama di perjalanan pulang, Luhan hanya terdiam dan tidak berbicara apapun. Apa ia masih bersedih karena dibohongi?

..

Beberapa menit yang lalu…

"Lu… Luhan-ssi," panggil Sehun. "Kau sudah lebih baik?" tanya Sehun dari pintu. Tak ada jawaban, "bolehkah aku masuk?" setelah melihat anggukkan dari Luhan, Sehun mendekati Luhan dengan perlahan.

"Kau baik-baik saja?" –Sehun.

"Sepertinya…"

"Apa masih sakit?" –Sehun.

"Mungkin,"

"Kau marah padanya?" –Sehun.

"Aku hanya merasa bodoh. Bagaimana…" Luhan tertawa pahit, "bagaimana bisa aku tertipu?" air mata Luhan kembali mengalir membuat Sehun merasakan kepedihan dari sorot mata Luhan.

"Apa aku harus pergi?"

Luhan menggeleng, ia membutuhkan seseorang untuk menenangkannya. Ia tak peduli lagi jika harus menangis di hadapan orang lain selain Mama-nya.

"Kalau begitu, izinkan aku mengobati lukamu. Bisakah?" tanya Sehun. Luhan hanya diam, terlalu bingung karena Sehun mengucapkan kata-kata yang ambigu ditelinganya. Tanpa persetujuan, kemudian Sehun mendekat dan menarik Luhan dalam dekapannya, memberi kehangatan yang bisa ia salurkan.

Sehun mendengar isakan Luhan yang bergema di gedang telinganya dan menyalurkannya pada hatinya. Ia berharap hatinya dapat menyerap semua kesedihan Luhan.

"Lu, bolehkah aku mengenal dirimu lebih dekat?"

Luhan terkejut dengan pertanyaan Sehun. Ia tak menjawab apapun, dunianya terasa kosong dan hening.

"Sepertinya aku menyukaimu…"

..

"Sepertinya aku menyukaimu…"

"Sepertinya aku menyukaimu…"

"Sepertinya aku menyukaimu…"

Luhan bersemu merah dan tersenyum saat mengingat bagaimana Sehun mengatakan bahwa– astaga Luhan tak sanggup lagi membayangkannya.

"Sepertinya anak Baba sudah baik-baik saja, apa Sehun benar-benar membuatmu baik?" tanya Baba-nya.

"Aku sedang bermusuhan dengan Baba karena telah membongkar rahasiaku. Jangan bicara padaku!" Luhan kembali cemberut dan hal itu membuat Baba-nya tertawa ringan.

Luhan kembali tenggelam dalam pikirannya, jadi Sehun sudah tahu dirinya atau belum? Mendapat fakta Sehun menyukainya tanpa mengetahui bahwa mereka pernah berteman membuat Luhan khawatir, bagaimana jika Sehun berubah pikiran saat tahu dirinya adalah Luhan di masa lalu Sehun?

.

.

to be continued-

or

no?

.

.


Heihooo~

Cerita kali ini tentang HUNHAN lagi, lagi dan lagiii hehehe. Mau cerita sedikit nih, ide cerita ini bener-bener mendadak dan butuh pengembangan hampir setahun -_- lebay banget yak kkkk. Pertimbangannya banyak banget sih soalnya, sampe galau mau diposting atau enggak.

Jadi idenya muncul waktu aku diajak ayah ke acara pernikahan dan ternyata yang nikah adalah kakak perempuan temen SD aku dulu! Hahaha. Yah udah dag dig dug gitu kan bakal ketemu temen lama. Ternyata gak ketemu sama sekali atau aku yang gak ngenalin? Gaktau juga kan kkk. Terbentuk deh ide cerita yang agak gila. Idenya aja yang sama, tapi pengembangan ceritanya bener-bener imajinasi aku kok! xD

Semoga gak bosen sama genre cerita yang lagi lagi 'romance' - 'drama' gitu" ya hehe. Semoga berkenan ^^ Genre lainnya masih disimpen...

Gimana lanjut gak? Hihi

Mohon reviewnya ya ^^

Gamsahamnida

*loveforHUNHAN yeayy!