Reason

Naruto by Masashi Khisimoto

Uchiha Family


And you are the reason

That I'm still breathing

Column Scott ~ You are the Reason


Itachi tak lagi mendengarkan teriakan ibunya, dia berlari keluar rumah sekuat tenaga. Berharap bisa pergi jauh, jauh sekali dari sang ibu. Pikiran itu terus-menerus menghantam benaknya bersamaan dengan kakinya yang kian meninggalkan rumah.

Lampu jalanan redup, dan kabut tengah malam membuat pandangannya agak kabur. Konsentrasinya pecah kemana-mana, ditambah dengan kecamuk pikiran yang membuat matanya makin panas

"Brak."

Bahkan ketika sebuah mobil mendadak menghantam tubuhnya, Itachi tak benar-benar paham apa yang terjadi. Sakit yang teramat sangat seolah merata dalam tubuhnya. Dan sebelum ia mampu berteriak, cahaya putih melahapnya dalam hitungan detik.


Ia tidak apa-apa. Tidak ada noda darah di tangannya, tidak ada lecet di kakinya, tidak ada retakan tulang patah atau semacamnya. Itachi benar-benar merasa tidak ada yang terjadi pada dirinya. Namun hiruk pikuk di belakangnya bertolak belakang dengan senyap yang seolah melintasi pikirannya. Teriakan orang-orang, kepanikan, ketakutan, dan kerumunan yang mendadak memenuhi jalan membuatnya tertegun.

Ia bisa menyaksikan orang-orang mengerumuni tubuhnya yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan. Darah dari dadanya merembes ke kaus putih yang ia kenakan, dan sebagiannya menggenang seperti tumpahan cat di atas putihnya salju. Salah satu kakinya terpuntir, dan tulangnya menyembul putih diantara daging serta kulit yang terkelupas. Betapa mengerikan ketika ia menyadari dengan pasti jika matanya terpejam, rambut hitamnya basah karena darah.

Segalanya seolah berhenti berputar. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Itachi mengulangi kalimat itu berkali-kali. Berharap ini cuma bagian dari mimpi buruknya, mimpi yang akan hilang ketika matanya terbuka. Maka ia harus bangun, ia harus segera bangun. Tapi berapa kalipun ia berusaha berteriak pada udara yang dingin, segalanya tetap sama. Oh tidak, bahkan napasnya pun tak mengeluarkan asap. Tidak, tidak mungkin ia mati.

Tapi, ketika penglihatannya menangkap sosok wanita berambut hitam panjang yang histeris melihat keadaannya, ia tiba-tiba berubah pikiran.

Atau sebaiknya, aku mati saja.


Apakah rasanya mati seperti ini?

Ia memasuki zona aneh yang membingungkan. Berpisah dengan kenyataan, padahal segalanya tampak begitu dekat. Seolah tak dibatasi. Namun ia tak bisa menyentuhnya, tubuhnya transparan dan ia tidak tahu harus bagaimana.

Entah kenapa, Itachi seolah tak bisa pisah dari tubuhnya. Ia seolah diseret dan tidak bisa pergi jauh dari raganya yang nyaris remuk. Maka ketika para petugas medis datang dan memasukkannya kedalam ambulance, ruhnya ada disana.

Ibu dan adiknya menyusul dengan mobil lain, tapi ia seolah tak peduli dengan apapun itu.

"Apa aku sudah mati?" Itachi mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, seolah ada yang akan menjawabnya. Dan meskipun ia tahu jika itu hanya sia-sia, ia tetap tak berhenti mengulanginya. "Apa aku sudah mati?"

"Belum."


Banyak yang bermasalah dari tubuhnya.

Paru-parunya bocor, limpanya robek, ada perdarahan dalam yang asalnya tidak diketahui. Tulang rusuknya patah. Dan yang paling serius, memar-memar pada otaknya.

Sekarang, di ruang bedah. Para dokter harus mengeluarkan limpanya, memasukkan tube baru untuk mengeringkan paru-parunya yang bocor dan menyumbat apapun yang menyebabkan perdarahan.

Tubuh itu terlalu remuk untuk dibiarkan hidup kembali. Terlalu mengerikan dan mustahil untuk bisa beraktivitas seperti biasanya. Tapi kenapa sosok putih dibelakangngnya terus-menerus mengatakan jika ia akan hidup. Bukankah itu lelucon paling tidak lucu?

"Jika aku mati, mereka tidak perlu susah payah begitu."

"Tuhan belum ingin kau mati."

"Tapi kenapa?" Kendati ia penasaran, ia tak mampu menangkap rupa makhluk itu. Yang sanggup terekam dalam penglihatannya hanya sosok putih dengan cahaya menyilaukan.

"Ibumu masih membutuhkanmu."

"Omong kosong."kalimat itu seolah menggema pada udara senyap di sekitarnya. "Dia tidak membutuhkanku."

"Kau akan tahu setelah ini."

Makhluk itu menuntunnya keluar, dimana ibunya dan Sasuke duduk dengan ekspresi putus asa di depan ruang operasi. Air mata wanita itu tak berhenti turun. Sementara Sasuke diam dengan mata sembap yang menyedihkan.

Untuk sesaat Itachi bisa merasakan perih yang teramat sangat, tapi ia kesal. Ia kesal dengan sang ibu, kesal dengan Sasuke yang suka sekali berulah, dan kesal dengan hidupnya yang tidak berjalan sesuai ekspektasinya. Ia butuh penjelasan masuk akal mengenai semua kejadian ini. Namun kehadiran sosok asing itu pun belum mampu menjawab keheranannya.

Lalu lubang hitam seolah menariknya. Memutarnya dalam pusaran jarum yang seolah bergerak begitu cepat. Warna putih kini mendominasi segalanya, membuat bocah itu sesak, bingung, dan pusing.

"Bukan tanpa alasan Tuhan menciptakanmu. Kau hanya harus tahu kenapa Dia menciptakanmu."


9 Juni, 17 tahun yang lalu.

Itachi menyaksikan seorang perawat yang tengah mengulurkan makhluk mungil dalam balutan selimut hangat pada ibunya. Jika diperhatikan dengan seksama, ia bisa melihat ekspresi kelegaan dan binar haru dari sorot mata wanita itu. Tidak ada keriput, ibunya masih begitu muda dan cantik. Diam-diam, ia bisa merasakan emosi kebahagiaan sederhana yang melingkupi ruangan itu.

"Dia tampan seperti ayahnya." Si perawat memuji sembari melukiskan senyum ramah.

Dan disebelah sang ibu, ayahnya berdiri dengan senyum yang seolah tak akan pernah berakhir. Pria itu lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Oh tentu saja, ayahnya saat itu mungkin masih berumur 24 atau 25 an.

"Yeah, dan dia akan menjadi pria tangguh yang tidak mudah menyerah seperti ayahnya." Ibunya terkikik pelan, mengabaikan rasa nyeri di perutnya.

"Boleh ku gendong?"

Ketika ia melihat bayi itu beralih tangan dari sang ibu, air matanya nyaris meleleh. Ia merindukan keluarganya yang utuh seperti dulu, dengan ayah yang tegas dan penuh wibawa, ibu yang penyayang meski cerewet, dan adik yang menyebalkan namun cengeng seperti Sasuke.


Kilasan bayangan berputar cepat, seperti layar proyektor lebar yang menayangkan bagaimana ia tumbuh tiap harinya. Dari yang hanya bisa menangis, tertawa, lalu bisa bicara dan berjalan. Semua berlalu menggembirakan. Lalu sampailah ia pada usia 3 tahun, ketika Sasuke lahir. Saat perhatian orang tuanya mulai terbagi untuk si makhluk mungil lucu itu.

Itachi bukannya iri, tapi sejujurnya ia tak begitu menyukai seorang adik. Karena adik adalah makhluk menyebalkan, suka ngompol, suka merebut mainanmu, perusak yang andal, suka menirumu dan hobi merengek manja. Setidaknya begitulah yang terpikirkan di benak Itachi kecil.

Ketika usianya 9 tahun dan Sasuke 6 tahun, mereka ditempatkan dalam kamar yang sama. Menghabiskan malam dalam satu ruang namun tempat tidur yang berbeda. Tiap kali ibu mereka usai membacakan dongeng, dan mematikan lampu kamar, lalu pergi, Sasuke selalu menyusup kedalam selimutnya. Menempel erat pada tubuh sang kakak dengan alasan takut pada monster. Itachi kesal, tidak jarang ia menendang Sasuke hingga jatuh ke lantai lalu menangis dan membuat seisi rumah gaduh.

Bahkan ayahnya pernah memukulnya karena hal itu, namun ibunya akan selalu berkata dengan lembut namun tegas. "Jangan terlalu keras pada anakmu, kita bisa menasehatinya baik-baik. Karena didikan yang terlalu keras hanya akan membuat anak tumbuh menjadi penakut, atau bahkan yang lebih buruk lagi mereka bisa jadi pembangkang."

Saat itu, Itachi hanya menangis. Tak sepenuhnya paham dengan kalimat sang ibu. Namun dalam hati ia berjanji, suatu hari nanti ia akan membuat ibunya bahagia karena selalu menganggapnya anak yang baik.


Pada bulan-bulan akhir mendekati tahun baru, ayah dan ibunya sering sekali bertengkar. Tapi pikirnya, orang tua memang seperti itu. Mereka bisa jadi tim yang solid, dan musuh di waktu lain. Kadang ia akan berdiri sembari mengintip dari pintu kamar, mencuri dengar apa yang mereka perdebatkan. Sementara Sasuke akan meringkuk di atas tempat tidur sambil menangis ketakutan. Itu hal biasa, terlalu biasa hingga ia nyaris berpikir orang tuanya memang hobi ribut. Barangkali itu bakal terjadi sampai ia dewasa.

Ternyata tidak.

Pada awal Maret, ketika bunga sakura di pekarangan mulai bermekaran menjelang ulang tahunnya yang ke 10, orang tuanya bercerai. Itachi tidak benar-benar paham waktu itu arti kata bercerai. Pikirnya bercerai hanyalah masa untuk saling menenangkan diri bagi para orang tua yang hobi bertengkar, mereka akan hidup saling terpisah namun akan kembali lagi setelah suasana hati masing-masing pihak kembali membaik. Tapi ia salah, setelah mengelus kepalanya sebelum pergi waktu itu, ayahnya tak pernah lagi kembali ke rumah. Dia pergi, entah kemana dan jejaknya seolah terhapus oleh gerimis musim semi.


"Itachi, apa menurutmu ayah akan pulang sore ini?" Tanya Sasuke, 5 bulan setelah kepergian ayah mereka. Mata sipit anak itu menatapnya penuh harap, dan bola basket di tangannya mendadak terlupakan.

Si sulung mendengus frustasi. "Tidak bodoh, untuk apa ayah pulang?" Meski ia berharap ayahnya bakal pulang, namun ia tahu itu tidak akan pernah terealisasikan.

"Karena tanaman di halaman sudah harus dipangkas, dan mama akan memasak gulai kambing kesukaannya malam ini." Bocah 6 tahun itu tak mampu menahan senyumnya, dan harapan menyala-nyala di kubangan matanya.

"Itu bukan alasan yang kuat untuk membuatnya pulang." Ia menatap ring basket pendek di halaman belakang rumahnya, dan merasa hidupnya tak beruntung.

"Tapi kenapa? Kenapa ayah harus pergi?"

"Aku tidak tahu, dan diamlah Sasuke, kau membuatku jengkel." Dan dengan langkah kesal ia melangkah meninggalkan sang adik yang mulai menangis sesenggukan.


Setelah kepergian ayahnya, Itachi sering mendapati ibunya menangis diam-diam. Kadang sembari mencium kening Sasuke yang sudah lelap, ia akan bersenandung kecil, menggumamkan lagu sedih yang begitu memilukan.

Sejujurnya, Itachi sedih, dan kesedihan itu membuatnya memikirkan berbagai cara untuk membuat sang ibu bahagia. Ya tentu saja, ia akan berusaha membuat wanita itu bahagia suatu saat nanti.

Itachi kesal pada hidupnya, kesal pada sang ayah yang dengan seenaknya meninggalkan mereka, kesal dengan ibunya yang sekarang jadi wanita sok tegar dan makin cerewet. Hidupnya terasa kacau disana-sini, sementara ia tak mampu memperbaikinya.

Ada selip penyesalan tiap kali melihat sang ibu pulang kerja, tampak kelelahan dan selalu berusaha tersenyum di depan anak-anaknya. Wanita itu bekerja sebagai perawat di rumah sakit terdekat, dan berusaha mengambil banyak shift untuk menambah pemasukan. Mau bagaimana lagi, saat itu usia Itachi baru belasan dan ia tak bisa melakukan apapun kecuali memberikan janji yang bermuluk-muluk namun tak tersampaikan.


"Aku pernah seperti itu? Aku pernah berjanji untuk membahagiakan mama?" Hatinya terenyuh, bahkan kenangan itu sudah banyak terhapus dari memorinya.

"Yeah, manusia memang banyak lupanya." Sosok itu masih berdiri tepat di belakang Itachi. "Itu baru sebagiannya."


Waktu berputar kembali, kali ini berhenti di waktu ia masih 13 tahun. Malam, dimana hujan mengguyur Tokyo dengan intensitas mengerikan, ibunya baru pulang kerja. Seragamnya basah, air menetes dari tiap sudut pakaian dan tubuhnya. Namun, senyum wanita itu masih terulas ketika mendapati Itachi masih duduk menunggu di ruang tamu, sementara Sasuke sudah lelap di kursi yang lain.

"Kau belum tidur?" Tanyanya, dia tampak menggigil ketika mengunci pintu.

"Ma..." Itachi yakin, tangisnya sudah ingin meledak saat itu juga.

"Ya?"

"Ma, suatu hari nanti aku akan menghasilkan banyak uang. Agar mama tidak perlu bekerja sekeras ini."

Wanita itu diam, menahan dingin yang seolah meremukkan tulangnya. Namun, senyumnya begitu tulus. Harapannya tumbuh makin besar setelah mendengar lontaran kalimat anak sulungnya. Semoga itu mampu terwujud, semoga.


"Plak!" Tamparan itu begitu menyakitkan. Itachi bisa merasakan gelenyar panas yang menembus peredaran darahnya, dan membuat hatinya sakit.

"Mama bilang jangan pernah memukul adikmu!"

"Ma, tapi dia yang mulai duluan."

"Mama jelas lihat sendiri bahwa kau yang memukulnya dulu. Jangan mengelak, dan minta maaf! Cepat!" Amarah menyala-nyala di mata wanita itu, mata yang biasanya memancarkan kelembutan dan kasih sayang yang tak terbatas.

"Ma--"

"Mama tidak paham kenapa kau jadi susah diatur seperti ini." Helaan napasnya kacau, sementara Sasuke masih sesenggukan di belakang sang ibu. "Turuti kata mama atau kau tidak akan mendapat uang jajan selama seminggu."

Astaga, yang benar saja. Itachi merutuk kesal. Kenapa seorang kakak harus selalu bertanggung jawab untuk kesalahan yang seharusnya jadi salah adiknya? "Aku tidak mau. Dan aku tidak akan pernah mau minta maaf karena itu bukan salahku." Rahangnya mengeras, dan demi apapun ia tak gentar dengan ekspresi marah ibunya. "Karena anak mama cuma Sasuke, Sasuke dan Sasuke. Terserah." Bersamaan dengan suaranya yang menggema sepanjang ruang tamu kakinya berlari menuju kamar, membanting pintu kamar hingga berdebam.

"Itachi."

Bahkan bentakan sang ibu tak menggugurkan sikap keras kepalanya.


Usia Itachi 15 tahun, kelas 3 SMP. Seperti kebanyakan anak lelaki lain yang sudah merasa sok dewasa, Itachi benci perhatian ibunya. Ia benci ketika wanita itu memasukkan bento secara diam-diam ke ranselnya. Memasukkan lotion tabir surya ke dalam kotak pensilnya. Dan memaksanya membawa susu ke sekolah. Astaga, ayolah, tentunya sang ibu tahu jika dirinya sudah besar dan tak perlu perhatian berlebihan semacam itu.

"Ma, tolong. Jangan membuatku malu di depan teman-temanku." Dia mundur ketika sang ibu maju hendak menciumnya. Ritual pagi yang seolah melekat erat, diantar ke sekolah dan ibunya akan mencium pipinya di dekat gerbang. Itu benar-benar memalukan.

"Apa yang salah Sayang? Aku ibumu." Wanita itu mengernyitkan kening. Dan Itachi merasa lawan bicaranya benar-benar tak peka.

"Lupakan saja, intinya aku sudah besar. Jadi jangan meletakkan bento di tasku, atau tabir surya atau botol berisi susu. Dan satu lagi aku tidak mau ciuman. Itu menjijikan." Dia berjalan menjauh dari Mikoto yang masih mematung melepasnya.

Ketika melangkah memasuki gerbang sekolah, ia sempat melihat ekspresi jengkel Sasuke. Masa bodoh, adik mengesalkan seperti Sasuke harusnya tidak tinggal dengannya.


Sekolah terasa seperti neraka, atau mungkin itulah definisi paling mengerikan bagi tempat yang membuatmu tak nyaman. Dari awal ia memang bukan anak menonjol, bukan anak dari keluarga kaya raya yang memiliki perusahaan dimana-mana. Barangkali namanya sering disebut hanya karena ia populer di kalangan siswi berkat wajah menawannya, dan para siswa mengenalnya sebagai Itachi si ahli sepak bola. Namun akhir-akhir ini satu sekolah jadi mengenalnya karena kabar menjijikan yang membuat amarahnya naik ke ubun-ubun.

"Lihat, itu anak dari si janda genit itu." Hidan dan gengnya selalu saja mengatainya begitu. Awal-awal ia masih bisa bertahan, namun semakin lama olokan itu membuat telinganya panas.

Meski benci parah dengan sang ibu, Itachi tak terima ibunya dikatai demikian. Ibunya bukan wanita genit yang brengsek. Wanita itu selalu pergi ke gereja tiap minggu, bahkan memaksanya dan Sasuke untuk pergi bersama. Ibunya wanita yang taat beribadah, tidak murahan seperti yang selalu dirumorkan masyarakat.

Sampai pada titik puncak kemarahan, ia memukul Hidan. Melampiaskan seluruh kejengkelannya pada anak itu. "Ibuku bukan janda genit seperti yang kau katakan."

Ketika teman-temannya lari ketakutan, nyatanya Hidan hanya meringkuk di lantai dengan pipi memar dan air mata yang menggantung di kelopaknya. Anak itu tak memiliki nyali sendirian. Maka dengan bangga Itachi menghabisinya, membuatnya babak belur tanpa ampun.


"Saya minta maaf, saya sungguh-sungguh minta maaf." Mikoto membungkuk dalam-dalam di hadapan kepala sekolah. Sementara Itachi di bangku sebelahnya hanya menunduk, tak mampu mengekspresikan emosinya.

"Nyonya Uchiha, saya tahu anda sibuk, dan saya juga tahu anda single parent. Tapi hendaknya perhatikan anak anda, didik dia dengan baik. Apa yang dia lakukan hari ini benar-benar fatal. Orang tua Hidan bahkan ingin melaporkannya pada polisi." Wanita paruh baya dalam balutan jas itu menatap datar Mikoto. Kegeramannya seolah membuat emosinya tak stabil. "Dia hampir membunuh Hidan."

Itachi ingin membela diri, ia ingin agar kepala sekolah tahu jika ia hanya membela diri dan Hidan mengoloknya setiap hari. Namun tenaganya seolah terkuras habis. Seolah ada segumpal daging yang menutupi tenggorokannya. Dan pada akhirnya ia hanya membiarkan si kepala sekolah memberikan ceramah panjang lebar, sementara ibunya berjanji akan mendidiknya dengan baik.


"Mama tidak habis pikir, apa yang kau lakukan? Kau sudah tahu bahwa dalam keluarga kita tak ada sosok ayah, tidakkah kau bersimpati pada mama? Tidakkah kau berusaha jadi anak yang baik untuk mama?" Mikoto menampar putra sulungnya. Sekuat tenaga menahan emosinya selama perjalanan pulang dan sekarang, bersama linangan air matanya ia menumpahkan semua kelelahan yang dibebankan di pundaknya yang ringkih.

Itachi menunduk, menangis dan merasa kesal dengan perlakuan ibunya. Ia belum menemukan tenaga untuk bicara dan membiarkan celoteh marah sang ibu memenuhi ruang keluarga.

"Pikirkan mama Nak, pikirkan mama." Linangan air menyedihkan meleleh dari mata sang ibu yang biasanya teduh.

"Ma..." Dengan tanpa minat, iris hitam itu mengerlingnya. "Aku tidak terima dia mengatakan mama janda genit yang tidak tahu diri. Maka aku memukulnya."

Mikoto terkesiap, tangisnya pecah dan dalam sekali gerakan bocah 15 tahun itu sudah berada dalam pelukannya.

Dalam kisah sehari-hari mereka, pertengkaran Itachi dan sang ibu menjadi hal yang lumrah bagi Sasuke. Anak itu akan diam menyaksikan dari balik meja makan, atau menangis sesenggukan di tangga. Namun hari ini, bocah 12 tahun itu hanya menyaksikan dengan tangan yang masih lekat memegang pena. Soal matematika di hadapannya terbuka terabaikan.


Ayahnya mengunjunginya pada malam sebelum natal. Itachi ingat dengan pasti apa yang terjadi. Ketika mereka tengah mengadakan makan malam sederhana di ruang makan sempit, dan bel berbunyi nyaring di depan.

Ia bisa menyaksikan ibunya membuka pintu, lalu sosok ayahnya menyembul dari balik pintu. Ia dan Sasuke merasa itu adalah kejutan yang luar biasa di bulan desember yang dingin. Namun sang ibu mengusirnya. Ibunya tak memperbolehkan pria itu masuk.


"Harusnya mama tahu, aku begitu merindukan ayah waktu itu."

"Lihatlah ke pintu dengan jelas, kau akan tahu kenapa mamamu mengusir ayahmu waktu itu."

Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Itachi melongokkan kepalanya. Meski tak bisa menyentuh wujud sang ayah atau ibunya, tapi ia bisa melihat apa atau lebih tepatnya siapa yang ada di balik pintu. Seorang wanita, berambut pirang sebahu tengah berdiri di samping ayahnya.

"Itu selingkuhan ayahmu, selingkuhan yang sudah dinikahinya."

Kalimat itu lebih mengerikan ketimbang guntur saat hujan tengah malam.


"Pergi dari sini, kami sudah tak membutuhkanmu lagi." Teriakan bergetar sang ibu seolah bakal merobohkan bangunan, dan detik berikutnya terdengar pintu berdebam keras dan bunyi 'cklik' kunci pintu.

"Kenapa mama mengusir ayah?" Sasuke bertanya polos.

"Mama tahu jika kami sangat merindukan ayah, tidak seharusnya mama mengusirnya seperti itu." Kali ini ia yang berteriak,lebih kalap dari kemarahan sang ibu sendiri. Vas bunga menghalangi penglihatannya waktu itu, ia tak bisa menyaksikan wanita yang dibawa ayahnya, ia hanya tahu jika ayahnya datang. Hanya sebatas itu.

Ibunya seolah kehilangan akal sehatnya, Itachi menyaksikan wanita itu berjalan gontai ke kamar dan menutup pintu tanpa mengatakan apapun.


"Dia tidak mau kalian kecewa jika tahu bahwa ayahmu sudah menikah lagi."

"Aku sudah cukup besar waktu itu, harusnya mama memberi tahu kami."

"Kau pernah mendengar betapa tangguh hati seorang ibu? Dia tak ingin kau membenci ayahmu seperti kebenciannya."


Ketika masuk SMA ia dipaksa ibunya ikut bimbingan belajar, dituntut masuk IPA dengan nilai bagus. Dan selalu diberi ceramah panjang lebar mengenai kebaikan dan keburukan. Pergaulannya tidak sebebas anak-anak seusianya, dan karena itu Itachi mulai berontak.

Sebagai remaja yang masih gencar mencari jati dirinya, ia lebih suka main basket di lapangan ujung kota atau hanya sekedar nongkrong bersama teman-teman. Paling tidak ia berharap sang ibu bisa memahaminya. Tapi ternyata, tidak. Wanita itu tak mau tahu urusannya. Wanita itu ikut campur dalam segala aktivitasnya dengan alasan demi masa depan. Masa depan sialan, masa depan payah, dan ia mulai bosan di rumah. Ingin bebas dari ibunya. Ingin bebas dari segala hal yang mengekangnya.


Seperti malam itu, ia pulang terlambat. Sekolah sudah bubar dari pukul 4, tapi karena keinginan untuk nongkrong bersama teman tak lagi bisa dibendung ia memilih tak segera pulang. Ia meninggalkan bimbel, dan ibunya marah besar.

Masih dengan seragam perawatnya, wanita itu memarahinya habis-habisan. Membuatnya muak parah.

"Aku sudah 17 tahun ma, jangan ikut campur terlalu jauh soal hidupku." Teriakannya menggema pada dinding ruang tamu, dan segala emosi bercampur aduk.

"Mama tahu itu, jangan berteriak di depanku seolah kau yang paling tahu." Matanya melotot tajam, dan gurat-gurat kemarahan tercetak diantara wajahnya. "Mama sudah mengeluarkan banyak biaya untuk sekolahmu, untuk bimbelmu, untuk semua kebutuhanmu. Dan mama hanya berharap kau jadi anak yang baik, mama harap kau mulai serius dengan impian masa depanmu."

"Harusnya mama juga paham posisiku. Aku jenuh ma, paling tidak mama harus mengerti jika aku ingin hidup seperti teman-temanku." Ia tidak peduli tentang larangan berteriak, ia tidak peduli, sama sekali.

'Plak'

Tamparan itu menyakitkan, tapi Itachi sudah terbiasa. "Tampar lagi, tampar terus. Kau selalu melebih-lebihkan masalah."

"Jangan membentak--"

"Aku tidak peduli." Ia bisa menyaksikan Sasuke yang hanya diam dan menghela napas dari balik tumpukan buku tugasnya. Bocah itu selalu begitu, seolah dia bisu dan tak ingin ikut campur urusan ibu dan kakaknya.

"Mama peringatkan sekali la--"

"Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar. Aku pergi, pergi jauh darimu dan rumah sialan ini." Rasa marahnya meluap hingga ubun-ubun, dan saat itu yang ia pikirkan hanya 'kabur, melarikan diri dari mama, dan tak kembali ke rumah.'

Lalu kecelakaan itu terjadi.


Entah sudah berapa lama jiwanya terpisah dari raganya. Tahu-tahu operasi selesai dan ia sudah berbarig di ruang ICU.

Pukul 02.38, ICU hening. Para dokter dan perawat tak lagi ia temui mengelilingi tubuhnya, sebagai gantinya ia melihat ibunya duduk berurai air mata disisinya. Matanya sembap dan jejak air mata nampak jelas di wajahnya.

"Tetaplah tinggal Sayang, tetaplah tinggal. Mama dan Sasuke menginginkan kau tinggal lebih dari apapun di dunia ini." Mikoto meremas tangannya sendiri, tak mampu menyentuh kulit putra sulungnya karena takut jika tubuh yang baru beberapa jam lalu menjalani operasi itu akan hancur. "Mama tahu, mama bukan ibu yang sempurna. Mama jauh dari ibu yang selalu ada dalam ekspektasimu. Mama tak bisa memberi kehidupan yang layak untuk kalian. Mama minta maaf."

Itachi mematung di sisi raganya. Apakah jika ia tidur di atas raga setengah remuknya maka ia akan bisa bangun kembali? Tapi ia tak tahu caranya, ia tak tahu bagaimana harus membuka mata kembali. Dan meskipun dari lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin memeluk sang ibu, kenyataannya ia tak bisa.

"Mama janji akan berusaha jadi ibu yang baik, mama akan berusaha mendengarkan keluhanmu Sayang. Mama akan meluangkan waktu lebih banyak untukmu dan Sasuke dan mama juga tidak akan memaksamu untuk belajar terlalu keras lagi." Wanita itu diam sejenak, mengatur napasnya dan menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan isakan yang nyaris lolos. "Mama mencintaimu Sayang. Kau dan Sasuke adalah alasan mama bisa bertahan hingga detik ini. Kehidupan seolah sudah menghancurkan mama sejak bertahun-tahun lalu. Sejak ayahmu pergi meninggalkan kita, mama sepenuhnya kehilangan arah. Mama tidak tahu harus berbuat apa, mama bingung dan benci dengan hidup mama. Apa yang selalu jadi impian mama untuk bisa menghabiskan hari tua bersamamu, Sasuke, dan ayahmu, hancur berantakan."

Andai ia berada dalam raganya, mungkin ia tak lagi mampu menahan tangis yang membuatnya sesak. Tapi segalanya berbeda sekarang, ia hanya bisa menyaksikan sang ibu menangis memilukan tanpa bisa menenangkannya.

"Mama mohon, jangan tinggalkan mama dan Sasuke. Sudah cukup ayahmu yang meninggalkan mama, kau jangan pergi juga." Mikoto menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, namun dadanya belum cukup lega.

Sosok itu benar, ada alasan khusus kenapa ia dilahirkan ke dunia. Dan alasannya adalah untuk membahagiakan ibunya. Sudah cukup kehidupan yang pahit membuat wanita itu sedih, ia tak ingin menambahi bebannya. Maka dengan janji tak terucap ia akan berusaha jadi anak yang baik jika jiwanya bisa menyatu lagi dengan raganya.

Kenangan-kenangan kehidupannya yang dulu, melesat begitu cepat hingga membuatnya pusing. Bayangan-bayangan tersebut berdatangan dan segalanya bertabrakan, mirip kaset rusak. Itachi melihat dengan jelas cahaya yang membutakan, serangan rasa sakit seolah merobek tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya ia bisa merasakan betapa sakit tubuh remuknya itu.

Dalam beberapa detik berikutnya ia bisa merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Itu ibunya. Dan ia berharap bisa menggenggam tangan itu. Ia ingin memeluk wanita itu erat-erat sembari minta maaf. Mengabaikan seluruh kesakitannya, ia berusaha menggerakkan jemarinya.

"Itachi?" Suara pelan sang ibu mengalun dalam gendang telinganya.


.

.

.

.

Berbulan-bulan setelahnya

Suara pintu depan dibuka, dan sosok Mikoto muncul dalam balutan seragam perawat. Wanita itu berusaha menyunggingkan senyum yang bahkan tak mampu menutupi ekspresi lelahnya. "Kau belum tidur Sayang?"

Itachi mengalihkan pandangan ke arah sang ibu, dan tak lagi fokus dengan buku bacaannya. "Larut sekali ma hari ini, apa ada masalah?"

Mikoto menghela napas, setelah mengunci pintu dia berjalan mendekati Itachi. "Ada sedikit urusan, Sayang." Lagi-lagi senyumnya tersungging rapi. Ia tak akan bilang jika ia baru saja bertemu Fugaku, mereka berbincang sebentar mengenai keadaan Itachi yang semakin membaik. "Dan sekarang mama sudah pulang, cepatlah tidur."

Bocah 18 tahun itu mengangguk, dan berjalan ke arah kamarnya. "Selamat malam ma."

"Ya, selamat malam Sayang." Dia menatap pintu kamar putra sulungnya hingga tertutup kembali. Ada selip senyum tulus yang tersembul pada bibirnya, dan rasa syukurnya pada Tuhan menjadi berkali-kali lipat.

Mungkin benar kata orang 'selalu ada hikmah di balik cobaan.' Dan meskipun lewat kecelakaan menyedihkan itu, akhirnya putra sulungnya bisa berubah. Entah apakah kepalanya mengalami benturan hebat, atau ada kejadian yang tak diketahuinya mengenai Itachi. Tapi yang jelas ia bersyukur pada Tuhan, sangat-sangat bersyukur.

end

Oke, mungkin feelnya nggak bisa ditangkep. Dan thanks buat yg udah mau baca.

Cuma mau bilang, bersyukurlah kalian yg masih memiliki orang tua lengkap. Karena tdk semua anak seberuntung kalian.

~Lin

04 April 2020