disclaimer © Animonsta Studios
warning OOC, AR, miss EBI, typo(s), bunny plot, plot hole/plotless, death chara(s), mungkin cliffhanger, diksi labil dikarenakan sedang mencari jati diri.
submitted to #DailyDrabbleChallenge Day 6 dengan tema "Lagu"
prompt by Meltavi

[Fiersa Besari - April]

cakaran A/N tabok Edel plis, tabok. Diriqoeh minta maaf atas konten ini hshshs—


Yaya suka menghabiskan harinya dengan menyesatkan diri sendiri dalam labirin tumpukan buku. Beragam bacaan dilahapnya, seperti buku-buku dongeng dengan pesan moral, majalah anak-anak langganan yang selalu rilis setiap bulan, komik-komik berwarna, hingga buku-buku pelajaran. Baginya, buku tak akan pernah membuatnya bosan.

Dia punya teman, namanya Ying dan Gopal, tetapi sayangnya Ying ikut dengan orangtuanya ke Cina tanah kebangsaannya, sementara setiap kali Yaya datang ke rumah Gopal, Yaya selalu dipaksa Gopal untuk ikut bermain dengan robot-robot dan monster karet, menyusun dialog terkeren dalam skenario hebat mengenai hancurnya dunia. Yaya tidak tertarik dengan itu.

Mereka punya tetangga baru, kata ibunya. Seorang kakek dengan satu cucu yang seumuran dengannya, ibunya memperjelas. Sepuluh menit setelah kabar itu, Yaya dan ibunya datang mengunjungi rumah sebelah yang baru ditinggal pergi oleh sebuah truk putih besar.

Ibunya mengucap salam sambil mengetuk pintu. Ada suara engsel kunci bergeser, lalu pintu terbuka dengan jawaban salam yang menyusul setelahnya. Kakek itu meminta Yaya memanggilnya dengan sebutan Tok Aba, Yaya menerima keramahan itu.

Saat itulah, di usia delapan tahun, Yaya bertemu BoBoiBoy.

Laki-laki itu berpakaian hitam dengan garis-garis merah tak berpola. Topi berwarna sama menutupi hampir keseluruhan wajah, namun Yaya mendapati mata merahnya beberapa kali. Kulit putihnya begitu pucat dan menarik perhatian. Beberapa jumput rambut mencuat tak tertutupi topi, warnanya sama; putih.

Yaya memperkenalkan diri sesuai permintaan ibunya sebelum mereka datang berkunjung. BoBoiBoy mengangguk, menggumam senang berkenalan denganmu sambil menyebut namanya.

Setelahnya, Yaya tak pernah melihat BoBoiBoy di mana pun.


Yaya duduk di salah satu ribuan bangku yang mengelilingi panggung berbentuk lingkaran. Kedua tangannya mengepal di atas paha, membawa kain merah muda dalam genggaman telapak yang sudah berair. Mungkin Yaya telah lupa cara untuk berkedip atau bahkan bernapas, sebab fokusnya jatuh pada seorang pria tinggi yang memutarkan tongkat selebar rentangan tangan. Begitu lincahnya tongkat itu menari-nari melewati sela-sela jari dan merotasi pergelangan tangan. Yaya terpukau.

Titik-titik salju artifisial menghujani panggung. Sang pemutar baton menari indah di bawah siraman butiran-butiran sewarna kapas. Tongkat itu masih berputar menemani tarian pria berbusana hitam di sana, di panggung yang menunjukkan kemilaunya.

Pertunjukkan berakhir dengan tongkat yang berdiri horizontal seimbang di ujung telunjuk. Hadirin berdiri, menyusul gema gempita tepuk tangan membahana. Dalam duduknya, Yaya ikut menyumbangkan rentetan tepuk tangan yang tak mungkin akan disadari sang resipien.

Yaya pernah menyaksikan tarian itu, namun tidak selihai yang dilihatnya sekarang. Yaya adalah spektaktor satu-satunya kala itu, sementara kini pria mayoret ini dipuji semua orang. Diferensiasi menghantam asanya.


Saat menginjak bangku sekolah menengah pertama, Yaya baru tahu masalah kesehatan yang BoBoiBoy miliki. BoBoiBoy divonis albino dengan tingkat kesensitifan kulit terhadap cahaya yang cukup tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya, BoBoiBoy belajar di rumah. Pantas saja Yaya tak pernah melihat BoBoiBoy di mana pun.

Meskipun begitu, BoBoiBoy selalu terlihat sendirian di tepi sungai di penghujung senja setiap kali Yaya membawa sepedanya pulang dari sekolah, duduk di sana sambil memutar-mutar pena yang jatuh setiap tiga detik sekali. Yaya biasanya hanya melihat, namun kali ini Yaya menghampiri BoBoiBoy. Tidak seperti biasanya, BoBoiBoy berputar lincah dengan kaki kiri sebagai tumpuan, sementara kaki kanan merentang lurus ke arah luar, dengan tangan menggenggam tongkat berpita panjang berwarna merah. Dalam rotasinya, BoBoiBoy mendapati Yaya dan langsung berdiri mematung.

"Apa kamu datang hanya untuk menghinaku juga?"

Bohong jika Yaya tidak melihat air mata dan jejak basah di wajah BoBoiBoy, tetangga yang baru dilihatnya setelah tiga tahun lamanya. Bohong pula jika Yaya tidak tahu apa gunjingan dari teman-teman sekolahnya saat membahas cucu Tok Aba.

Penampilannya menyeramkan seperti hantu. Ada yang berpendapat lebih mirip alien. Beberapa bilang seperti vampir atau manusia yang dikutuk. Mungkin ada yang memergoki BoBoiBoy merangkai benang-benang wol dalam rajutan, sehingga ada pun orang mengatai BoBoiBoy seperti perempuan. Komentar-komentar lainnya tak ingin Yaya ingat, terlalu kejam dan sepertinya BoBoiBoy sendiri sudah mengetahuinya.

"Aku tak mau kau ikut dihina. Sebaiknya kamu segera pergi, Yaya."

"Aku suka dengan tarianmu, BoBoiBoy."

Hening.

"Jangan berpikir aku menghinamu. Aku tidak seperti itu. Aku memang menyukainya. Orang-orang lain pun pasti juga menyukainya. Jangan pernah pedulikan hina-hinaan itu, sebab selalu ada orang yang akan mendukungmu. Kamu layak hidup untuk dicintai, BoBoiBoy."

BoBoiBoy menangis keras dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri. Setelahnya, Yaya tak pernah melihat BoBoiBoy di mana pun. Rumah di sebelahnya tak lagi berpenghuni keesokan harinya.


"Sebuah truk menjadi penyebab kecelakaan sebuah kereta dengan jalur keberangkatan Pulau Rintis—Kuala Lumpur. Sejauh ini, dua belas orang yang menjadi penumpang kereta telah ditemukan dalam keadaan tewas—"


Membersihkan pakaian yang dia kenakan dari debu, Yaya berdiri, bersiap untuk melangkah keluar. Tidak sia-sia Yaya menghabiskan waktu luangnya dengan menonton teater musikal. Saatnya untuk menyelesaikan tesis besok, batin Yaya menyusun jadwal hariannya.

"Permisi."

Yaya menoleh, kaget menemukan pria mayoret yang tadinya berhasil memukaunya dari atas panggung. Karena tidak duduk di kursi terdepan, sebelumnya Yaya tidak mampu melihat jelas wajahnya, tetapi setelah bersua pandang, sensasi nostalgia menggelenyar dalam dada.

"Maaf, saya pikir Anda adalah asisten kami yang sedang saya cari," sesalnya.

Mengangguk mengerti, Yaya memberi pujian, "Tidak apa-apa. Omong-omong, pertunjukkan yang sangat luar biasa, Tuan."

"Terima kasih." Ada sedikit jeda. "Boleh saya tahu nama Anda?"

Jawaban meluncur. "Yaya Yah."

"Yaya?" Jeda lagi. "Kenapa saya seperti tidak asing dengan nama itu?"

"Mungkin Tuan mendengarnya dari suatu tempat. Nama Yaya termasuk umum." Tapi tentunya tidak ada yang bernama lengkap Yaya Yah selain aku.

Pemuda itu berujar, "Sepertinya begitu. Senang berkenalan dengan Yaya. Saya harap Yaya akan datang lagi di pertunjukan kami yang berikutnya."

"T-Tentu saja, Tuan—"

"Ah, betapa tidak sopannya saya." Pria itu tersenyum renyah. "Saya Halilintar. Salam kenal."

Seharusnya Yaya paham, BoBoiBoy, teman masa kecil yang malu Yaya sandang—mereka hanya bertemu dua kali—dan ungkapkan, sudah mati.


tamat


~himmedelweiss 12/04/2020