Disclaimer: Masashi Kishimoto
Fic ini milik Chimi.
Warning: banyak typo, sedikit ooc, crack pair, pendek.
Rinai hujan masih bertahan mengguyur bumi sore itu. Udara dingin menyeruak dari sela-sela fentilasi yang terbuka di sebuah cafe yang menawarkan berbagai minuman hangat yang mendukung cuaca saat ini.
Dengan suasana ramai memenuhi karena sebagian banyak adalah orang yang hanya mencari tempat untuknya berteduh, meskipun hanya memesan segelas cokelat panas.
Di pojok ruangan terlihat pemuda berambut merah tengah memperhatikan rintik-rintik hujan dari jendela yang tepat berada di sampingnya.
Cangkir kopinya tinggal separuh dan sudah sedikit mendingin, menandakan bahwa dirinya cukup lama berdiam diri di dalam kafe. Ditemani sepotong tiramisu untuk mengganjal rasa laparnya yang kini hanya tinggal piring kecilnya saja alias telah habis ia santap.
Menghela nafas kecil, ia menengok ke arah jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Tetapi sang mega rupanya belum menunjukkan akan meredakan hujan.
Harusnya saat ini ia tengah berada dalam rumahnya, bersantai dengan playstation miliknya atau mengurung diri di kamar demi mengerjakan setumpuk tugas sekolah.
Terimakasih untuk hujan yang menahannya di sini. Yang membuat dirinya mati kebosanan. Dan menyia-nyiakan waktu seperti ini.
Jadenya melirik ke seluruh ruangan cafe itu. 'Penuh sekali,' gumamnya pelan. Ia pun meraih cangkirnya dan meneguk kopi yang telah mendingin itu hingga habis.
Klining
Bel tanda seseorang masuk berbunyi dan juga sapaan ramah pegawai cafe menyambut pelanggan yang baru saja datang. Pemuda bertato ai itu melirik acuh, lalu menggulirkan bola matanya ke luar jendela kembali. Menerawang 'kapan hujan ini akan berhenti?'. Jangan sampai karena hujan ini yang tak kunjung reda menjadikan cafe ini berjubal layaknya bis sekolah di menit terakhir.
"Permisi," pemuda itu menoleh saat suara merdu itu merasuk telinganya. Dilihatnya seorang gadis berperawakan kecil dengan mantel kedodoran itu tengah berdiri di seberang meja.
"Bolehkah aku duduk di sini?" celotehnya dengan senyum yang cukup manis. Pemuda merah berlingkar mata panda itu melihat sekeliling cafe. Ah, ternyata semua benar-benar penuh. Dan sepertinya hanya bangku di depan miliknya lah yang kosong.
"Terima kasih," gadis itu tersenyum riang menaruh nampannya dan mendudukan bokongnya.
Hei, apakah ia sudah mempersilahkan gadis ini untuk duduk?
"Cuaca di luar benar-benar buruk. Lihat, rambut dan mantelku!! sedikit basah meskipun aku pakai payung," gadis itu berceloteh ria sambil menunjuk rambut dan mantelnya yang basah, tanpa memikirkan dirinya yang telah lancang duduk sebelum dipersilahkan.
Pemuda itu menghela nafas sebal. Ia mengacuhkannya dan lebih memilih melanjutkan aktifitas memandangi hujan.
"Hei, aku tahu seragam itu!" seruan gadis berbagi meja itu mengagetkan si rambut merah.
Hingga pemuda itu sedikit terlonjak kaget, meskipun tidak terlihat kentara karna wajahnya yang memang minim ekspresi itu. Ia mendengus pelan, merasa terganggu dengan tingkah si gadis mungil yang ia perkirakan masih SMP. Ia memberikan deathglare terbaiknya, memerintahnya untuk diam. Tapi sepertinya gadis itu tidaklah takut, melainkan tersenyum dan merapatkan mantelnya.
"Maaf," jedanya diiringi senyum, "Kau siswa Konoha Gakuen?" tambah gadis itu.
"hn" gumaman tidak jelas dikumandangkannya. Kemudian meleparkan pandangan ke luar jendela kembali. Berharap si gadis mengerti bahwa dirinya enggan untuk diajak berbincang.
"Sabaku no Gaara," gadis itu mengeja name tag siswa yang diketahui bernama Gaara. Hingga sang empunya melotot galak, mengalihkan pandangannya pada gadis itu dengan sempurna. Ia menatap tajam gadis itu yang sibuk terkikik geli. Apanya yang lucu, kheh?
"Kau tahu? Kita ini satu sekolah loh,".
Gaara mana peduli. Tapi cukup membuatnya heran. Ia pikir gadis ini masih junior rupanya dia seumuran dengannya.
"Aku pernah dengar namamu, loh," celoteh gadis itu lagi, "Tapi dimana yah?" tanyanya memasang pose berpikir.
Gaara tidak suka pada orang yang SKSD dengannya. Bagaimanapun, gadis ini baru saja bertingkah tidak sopan padanya. Sok akrab!! Ck menyebalkan sekali. Rasanya ia ingin menenggelamkan semua perempuan yang berusaha sok kenal padanya. Ck, menjijikan!!!
"Ah iya, aku baru ingat!!" gadis itu terlonjak sedikit menggebrak meja, hingga membuat Gaara sedikit mundur. "Bukankah kau itu ketua tim sepak bola?!" tudingnya menunjuk wajah Gaara dengan tidak sopan.
Ggggrrrr
Rasanya Gaara ingin menonjok gadis ini, kalau ia tak mengingat makhluk di depanya ini adalah seorang perempuan.
"Oh iya aku lupa mengenalkan namaku hehehe," gadis itu tertawa lebar menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Namaku Fu, anak 2C, anggota klub memasak," sambungnya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
Sangat tidak sopan jika Gaara menolak dan tidak menghiraukan niat baik gadis yang tadi mengenalkan namanya, Fu.
Tanganya menghangat kala tanganya bersentuhan dengan tangan milik Fu. Begitu hangat, lembut dan menenangkan. Mengingatkannya pada sentuhan ibunya.
Tanpa ia sadari, bibirnya sedikit melengkungkan senyuman.
Setelah bersalaman, keduanya saling bungkam. Fu yang tengah asyik menikmati pesananya dan juga Gaara yang terlalu fokus memperhatikannya.
Gaara terkekeh geli melihat cara makan Fu yang berantakan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Fu dengan wajah polosnya.
"Kau sangat childish saat makan," jawab Gaara menyodorkan tisu pada Fu, "ada coklat belepotan di sudut bibirmu," lanjutnya.
Wajah Fu memanas mendengar ucapan Gaara. Dengan malu-malu ia meraih tisu dari tangan Gaara.
Hening kembali menyelimuti.
"Ah!!" seru Fu, "hujan sudah berhenti!!" sambungnya menengok ke luar jendela. Benar adanya, rinai hujan telah mereda beberapa saat lalu hanya tersisa rintik kecil yang menetes dari atap bangunan.
Entah mengapa itu membuat Gaara sedikit tidak rela.
"Aku sangat senang bisa berkesempatan berbicara denganmu, lain kali... bolehkah kita berbincang kembali," Ujar Dulu sambil tersenyum manis.
"Ya," kata itu lolos begitu saja dari bibir Gaara dan sedikit lengkungan pada bibirnya. Ah, ada apa dengannya.
"Kalau begitu sampai jumpa," pamit Fu, ia melenggang ke arah pintu dan saat ia sampai pada bibir pintu, ia sematkan menoleh ke arah Gaara yang masih memandangnya. Ia melambaikan tangannya dengan riang dan tentu saja dibalas anggukan pemuda berambut merah.
Selepas kepergian gadis enerjik itu, Gaara terdiam lalu tersenyum simpul.
Hujan? tidak terlalu buruk jika ia bisa berkesempatan bersama gadis itu lagi.
Apa justru sekarang ia menjadi mengharapkan hujan setiap hari dan kesempatan bertemu dengannya lagi?
Yah mungkin saja.
owari
bagaimana... bagaimana?? apa ooc banget. ini fic GaaFu keduaku loh.
