peluk nirmala © tarinapple | 2020
boku no hero academia © kouhei horikoshi.
[ detak jantungnya cepat, genggaman tangan yang hangat—dan dengan sedikit bisik janji; nirmala bilang ia akan kembali.]
.
.
[ kacchako, head canon, typo(s), ooc/?, etc. ]
.
.
.
[ nirmala bilang ia akan kembali. ]
.
.
SUARA berisik namun penuh euforia mengisi tiap sudut aula. Tawa dan canda tersebar tanpa henti. Baik mereka yang lulus hari ini, adik kelas yang datang untuk memberi selamat, maupun para guru yang mendampingi. Semuanya bahagia, tanpa terkecuali.
Mereka yang lulus hari ini bisa dibilang angkatan emas. Belum ada angkatan Yuuei yang memiliki murid seheboh saat ini. Berkat banyaknya insiden serta latihan yang dipercepat, angkatan ini mungkin menjadi angkatan terbaik yang pernah ada di Yuuei. Mengalahkan angkatan All Might mungkin.
Tentu saja pusat ketenaran mereka ada di kelas A, dan juga kelas B.
"HEIII! KENAPA TIDAK ADA WINE?" Kaminari Denki dengan heboh menunjuk soda, susu, dan jus yang terhidang di meja. Mineta dengan santai membalas,
"Kita belum legal, bodoh. Kalau kau mau nanti kita minum di pesta tertutup."
"Pssttt! Jangan bilang itu keras-keras!" Sero menyela. "jangan sampai ada sensei yang tahu kalau setelah ini kita mau pesta tertutup."
"Iya, iya, tahu!" Kaminari mendecih.
Uraraka Ochako tergelak mendengarnya, hanya sesaat sebelum wajahnya berubah muram. "Ne, aku sungguh ingin ikut pesta tertutup!"
Asui Tsuyu mengangguk. "Aku tahu, Ochako-chan. Kita semua pasti ingin."
"Ayolah, ikut saja! Kita akan melakukan dance!" Ashido Mina memberi tambahan tak terduga pada deretan agenda mereka.
"Kapan kita akan melakukannya, Ashido-san? Apa setelah main UNO?" Yaoyorozu bertanya.
"UNOOO!" Ochako merengek ia menggenggam tangan transparan Hagakure yang terbalut sarung tangan tipis. "Aku ingin main UNO!"
"Yapp! Setelah main UNO, yang kalah akan menari paling pertama dengan gerakan yang paling memalukan," ungkapnya penuh semangat. Ashido Mina tidak bisa diam, ia menggerakkan tubuhnya ke sana ke mari seolah ada musik hip-hop yang menjadi latar belakang
"Kau merancang gerakannya?" Kirishima menimbrung. "itu bisa diduga."
"Diam kau!"
Sekitarnya tertawa lagi. Ochako bahkan sampai menitikkan air mata. Namun tawa gadis itu terjeda kala ada tangan yang menyentuh bahunya.
"Iida-kun!"
"Uraraka-kun, kapan kauakan melakukannya?"
Tiba-tiba ada merah yang merambati pipi bulatnya. "A-aku akan melakukannya setelah acara selesai!"
"Bagaimana dengan para Sensei?"
"A-aku sudah melakukannya kemarin! Aku mau ini tidak terlalu … terbuka?" Ochako melirik sekitar melalui ekor matanya. "Iida-kun akan membantuku,'kan?"
"Baiklah kalau itu yang kauinginkan!"
Berbaur dan ikut menyemarakan pesta mungkin hal terakhir yang diinginkannya saat ini, pikir Kirishima saat ia menjauhi kerumunan para gadis dan bergabung dengan dua orang penyendiri di pojok ruangan.
"Yo! Todoroki! Bakugou!"
"Kirishima," sapa Todoroki Shoto kalem. "bajumu bagus."
"Akh, jangan begitu kau! Aku tidak mau menerima pujian dari—" dari orang yang paling dipuja oleh masyarakat sekolah sepanjang sejarah Yuuei, setelah … All Might mungkin? "—darimu …"
"Ah, begitu, maaf," Todoroki menunjukan ekspresi kasihannya (yang gagal). "Bajumu jelek, Kirishima."
Dan pemuda berambut merah itu tidak mampu menahan seringainya. "Aku suka selera humormu."
Kirishima menarik kursi, kini ia duduk di samping Bakugou yang mengaduk jus dengan sedotannya. Pemuda pirang itu tampak kusyuk dengan kegiatannya. Kirishima baru mau menepuk bahu Bakugou tetapi Todoroki meliriknya, memberi isyarat untuk jangan melakukannya.
Mungkin Todoroki sudah terlalu sering didorong menjauh oleh Bakugou. Mungkin teman hanyalah anggapan sepihak pemuda berhelai merah putih itu. Tetapi semuanya tidak membuat Todoroki Shouto gagal memahami tindak-tanduk Bakugou belakangan ini.
Begitu pula Kirishima. Ia memang sudah terlalu biasa menghadapi ledakan emosi seorang Bakugou tetapi tidak membuat sedikit pun jera untuk mengusiknya. Tapi karena keadaannya seperti ini, Kirishima memilih bangkit untuk memilih minuman di seberang.
"Aku mau ambil cola, kalian mau?"
Tidak ada jawaban dari Bakugou dan Todoroki hanya menggeleng.
"Wajahmu tidak sebaiknya mengkerut seperti itu—"
"Diam, bajingan setengah-setengah," Bakugo menusukkan sedotannya ke dasar gelas hingga bengkok. "aku tidak butuh pendapatmu."
"Oke." Todoroki membalas santai. Sedari tadi sejak acara pidato, saling salam dan pelukan serta penganugrahan siswa-siswi terbaik—Bakugo memasang ekspresi yang sama. Kendati ia sempat naik ke atas panggung, tidak ada nada tinggi dan ungkapan akan jadi nomor satu seperti biasanya. Rata-rata para guru menyimpulkan kalau Bakugou sudah mulai tenang karena sudah kelas tiga dan pada akhirnya lulus—namun sebagian teman sekelasnya tidak berpikir seperti itu.
Karena sebagian dari mereka tahu apa yang terjadi.
Dan sebagian dari mereka pura-pura tak mengerti.
Kirishima tak kunjung kembali, dan Todoroki menemaninya hingga teriakan PLUS ULTRA terakhir. Bakugou tidak merasa terbantu sama sekali dengan kehadiran bajingan setengah-setengah ini tapi entah mengapa kini ia sulit mendorongnya pergi.
"MINNAA!" Iida Tenya memulai gerakan khasnya, gerakan yang biasa dilakukan ketika ia meminta kelas A untuk segera berkumpul. Mungkin memang sudah tertanam dalam saraf tak sadar sehingga mereka semua telah membentuk lingkaran di dekat Iida.
"Terima kasih sudah datang ke acara malam inI! Aku sangat bersyukur meskipan ada seorang yang absen—"
"Lihat, dia bertingkah seperti panitia acara." Jiro berkomentar dan Kaminari menyikutnya keras-keras. Bisa ditebak kalau earphone Jiro sudah bersarang tepat di lubang telinga Kaminari sekarang.
"Apa lagi ini? Kita tidak langsung pulang?" Bakugou menggerutu.
"Kau tidak ikut pesta di Yaoyorozu?"
"Ha?! Kenapa pula aku harus ik—"
"Karena Uraraka-kun akan pergi ke I Island malam ini, tolong dengarkan satu dua patah kata darinya."
"Uraraka berangkat hari ini, ya?" Sero bertanya. "kukira ia akan memulai debutnya di sini."
"Kita semua sudah debut sejak kelas satu!" balas Hagakure riang.
"Ya … kita semua." Ojiro menimpali ragu.
Bisik-bisik mulai terdengar dari lingkaran kelas A maupun kelas lain yang beranjak pergi dari aula. Aizawa Shota melirik dari pojok panggung hiburan bersama Present Mic. Ia ingin bergabung tetapi setelah berpikir, Aizawa kira untuk membiarkan mereka menikmati waktunya masing-masing.
"A-ano … maaf kalau menggangu waktu kalian …" mula Uraraka agak gugup. "maaf ya harus menyita beberapa menit sebelum pesta tertutup diadakan," lanjutnya dengan bisikan.
"Hei, jangan menyebutnya keras-keras!" bisik Mineta … keras.
"Ahahaha maaf!" Gadis dengan balutan gaun peach dan taburan permata itu menggaruk kepala belakangnya. "sebelum aku berangkat, aku ingin mengatakan beberapa hal pada kalian. Kalian tahu, aku mungkin tidak akan bisa tidur jika tidak mengatakan ini.
"Apalagi kita menghabiskan sepanjang tiga tahun ini di asrama. Pulang pun hanya satu-dua hari, libur panjang kita habiskan dengan praktek magang—aku mungkin tidak akan bisa tidur tenang sesampai di sana nanti. Kasurku di asrama terlalu nyaman,"
Bakugou Katsuki mengepalkan tangannya erat di balik kantong celana. Mata merahnya berusaha menangkap ekspresi lain selain tawa dari wajah Uraraka.
"tapi mungkin dengan mengungkapkan seluruh perasaanku di sini … aku bisa sedikit lega di sana! Aku melakukan ini untuk diriku sendiri, maaf ya sekali lagi kalau menyita waktu kalian,"
Todoroki sedikit tertegun. "Uraraka…" gumamnya sebelum sekilas melirik Bakugou yang menaruh perhatian penuh pada gadis itu.
"Aku sungguh bersyukur bisa sampai di titik ini," ungkapnya haru. "aku tidak menyangkal tentang ujian masuk yang bukan sepenuhnya kekuatanku—dan selanjutnya aku begitu banyak melakukan kesalahan, merepotkan kalian berkali-kali, akibatnya aku jadi tidak percaya diri. Tapi seseorang berkata padaku kalau semua yang aku capai saat ini adalah hasilku sendiri, jerih payahku sendiri, jadi jangan menangis … katanya.
"Aku sempat menangis, aku sempat jatuh. Tapi kalian selalu ada untuk mengatakan padaku kalau aku tidak boleh gagal untuk bangkit lagi. Aku tahu ini terdengar murahan tapi—meskipun aku melalui semuanya dengan kekuatan sendiri, tidak mungkin aku akan berhasil tanpa bantuan kalian semua!"
"Ochako-chan," Asui menimpali. "jangan berkata begitu atau aula ini akan banjir air mata."
Dan benar saja, sebagian populasi kelas A telah menitikkan air mata. Tak terkecuali Todoroki—ah, kecuali Todoroki dan Bakugou. Kedua orang itu nampak terkesima.
"A-aku tidak akan pernah menangis lagi!" Ochako berkata begitu kendati mata cokelatnya telah berkaca-kaca sejak tadi. "aku sudah cukup menangis karena memikirkan kepergianku sejak semalam. Kalian jangan menangis!"
Tapi tidak ada yang mau berhenti. Mereka hura-hura sejak pagi, dan sore ini agaknya mereka sadar tidak akan tinggal dibawah atap yang sama lagi. Tidak ada lagi sikat gigi tertukar, celana dalam tertinggal, atau bersih-bersih yang terjadwal. Semuanya akan terhenti saat ini juga.
"Na, Uraraka, kauakan kembali,'kan?!" Kirishima bertanya sembari menggosok matanya dengan lengan. "Kapan kaukembali? Kita akan mengadakan reuni secepatnya!"
Mereka tertawa kemudian.
"Uhm! Aku akan secepatnya kembali ketika semuanya sudah selesai," jawab Uraraka dengan senyum. "kita masih bisa chatting kok!"
"Nanti kalau kita semua sudah punya nama, ayo kita buat agensi pahlawan 3-A!" usul Sero yang direspons 'oooooh' oleh teman-temannya.
"Bukan ide yang buruk, bahkan agensi itu bisa jadi besar. Tapi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bebas dari sidekick?" tanya Yaoyorozu.
"Kita simpan ide itu! Sampai saat itu kalian semua jangan ada yang mati!" perintah Iida. Dan semuanya mengepalkan tangan ke udara dan bersorak,
"HOOOOOHH!"
"Ano, minna!" Uraraka berkata lagi. "Boleh tidak aku memeluk kalian semua?"
"Uwaaa boleh sekali!" respons cepat dari Mineta dan Asui dengan sigap melempar pemuda pendek itu keluar aula dengan lidahnya. Beberapa meringis melihatnya, antara prihatin akan tingkah Mineta yang tidak berubah atau Asui yang bertambah cepat dalam aksinya.
"Boleh, ya?" pinta Uraraka. "aku ingin memeluk kalian semua. Sekali ini saja. Boleh, ya?"
"Satu per satu?" Kirishima menggaruk pelipisnya. "kalau satu-satu sih … apa seseorang tidak akan marah?"
"Tidak, kok!" Uraraka menuju ke arah Kirishima yang langsung salah tingkah, apalagi setelah melihat gadis dengan pipi bulat itu merentangkan tangannya, tersenyum lebar. "Boleh, ya?"
"B-baiklah kalau kau memak—"
"UWOOOOH!"
Kirishima dan Uraraka sukses berpelukan. Sebentar saja, tetapi kehebohan makin terasa ketika gadis itu sungguhan memeluk satu per satu teman sekelasnya. Mau perempuan atau laki-laki. Gadis itu tertawa lebar, sesekali menitikkan air mata—apalagi ketika dipeluk teman-teman perempuannya.
"Kabari aku kalau kau pulang, ya, kero!" Asui memeluk sahabatnya erat. "akan kujemput di bandara."
"Tsuyu-chan!" Uraraka tertawa. "kau tidak perlu repot-repot."
Bakugou dan Todoroki mengamati dari kejauhan. Pemuda pirang itu mendecih saat Uraraka melambai ke arah mereka. Todoroki sendiri menyambut pelukan gadis itu dengan tenang, pelukan teman, tetapi Bakugou menolak untuk melihat.
"Terima kasih, ya, Todoroki-kun!" katanya seraya melepas pelukan. "terima kasih sudah memaklumi banyak kesalahanku saat kita satu kelompok."
"Ah, aku juga," balasnya, tersenyum tipis. "terima kasih sudah mendengarkanku tentang masalah Ya—"
"Aaa, Todoroki-kun! Jangan bilang keras-keras!"
"Maaf."
Uraraka kemudian menengok ke arah Bakugou yang (berusaha) terlihat tidak memperhatikannya. Tetapi dengan tidak peduli, langkah kakinya mendekati sang pemuda dengan hati-hati. Ada senyum yang terlukis di paras itu, bukan senyum yang biasa ditampilkan Uraraka Ochako. Mata cokelatnya pun fokus pada Bakugou Katsuki di hadapannya.
"Apa?" tanyanya acuh tak acuh. Mata merahnya menangkap senyum itu, getir kemudian merambatinya. Bakugou menolak melihat ketika Uraraka menggenggam tangannya.
"Ayolah, Bakugou-kun. Setelah semua jasa-jasamu, tidak mungkin aku tidak memelukmu," rengeknya. Helai cokelat pendek hasil karya Yaoyorozu itu berguncang karena tawa kecilnya. "jangan memasang wajah seperti itu, oke? Ini hari kelulusan kita."
Bakugou melihatnya, tetapi menolak balik menggenggam.
"Ayolah, pelukan teman, oke?"
Pelukan teman, ya? Bakugou menyeringai. Seringainya tidak tampak bergairah seperti biasa, bahkan kehilangan alasan untuk terlihat seperti itu lagi. Kenapa, ya? Bakugou berulang kali memikirkan ini. Ia sudah terjebak sejak kelas satu dan sudah berulang kali menanganinya. Hancur lebur lalu tersusun lagi, hancur lagi. Perasaannya memang seperti itu. Ia sudah berulang kali menahannya, jadi yang seperti ini bukan apa-apa.
Tetapi ia mungkin tidak bisa memeluk Uraraka. Tidak akan pernah bisa memeluknya jika hanya ada label teman di antara mereka.
Tetapi. Tetapitetapitetapi. Mata cokelat itu menggoyahkannya. Binarnya tidak secerah yang biasa. Tidak berkilauan seperti hari yang pernah ada. Itu membuatnya tidak bisa berdiri teguh lagi. Keputusannya goyah di saat terakhir, dan tangan itu sudah melingkar di pinggang sang gadis.
Bakugou tidak berbohong saat ia bilang jantungnya selalu aneh ketika berada di dekat Uraraka. Ia tidak bohong ketika ia mengeluh kalau perutnya mulas setiap melihat senyum penuhnya. Ia tidak mengada-ada ketika tangannya serasa tersetrum listrik kala Uraraka menggenggamnya, untuk menyelamatkannya. Tetapi ia berdusta kalau bilang hari ini ia baik-baik saja.
Katsuki bohong kalau bilang ia tidak menyukainya.
"Aku benci kau," katanya penuh penekanan, tepat setelah kepala Uraraka ditenggelamkannya di dada. Gadis dalam dekapannya menahan napas, menahan gejolak, menahan air mata yang akan jatuh kalau ia membuka mulut untuk membalas.
"Muka bulat, kau seharusnya tidak pernah menjadi lawanku saat itu," ungkapnya frustrasi. "karenanya semua ini tidak akan terjadi."
"Tapi aku tidak menyesal pernah melawanmu," Uraraka memeluknya. Berjinjit, melingkarkan tangannya di leher pemuda itu. "aku tidak pernah menyesal ketika kau menemukanku menangis di gedung olahraga. Aku tidak pernah menyesal menerima ajakanmu untuk sparring, untuk jalan-jalan di kota saat musim panas itu, untuk satu kelompok saat latihan. Aku tidak pernah menyesal mengundangmu untuk makan di rumah orang tuaku—aku tidak pernah menyesal melakukannya.
"Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu."
Bakugou tertawa remeh, nadanya parau. "Tapi aku menyesal. Aku menyesali segalanya yang terlibat denganmu."
"Kau menyesal karena ikut campur tentang pertengkaranku dengan Deku-kun dan kau—"
"Aku tidak memintamu melakukan kilas balik," Nadanya naik, tetapi Bakugou tidak berteriak. Wajahnya tidak menunjukan marah, namun lebih terlihat seperti kecewa dan lelah yang dicampur aduk. "aku melakukannya karena akuingin. Aku sudah mengatakannya padamu berulang kali, Uraraka. Kau bisa memukul siapapun kalau kau mau, tetapi kau tidak pernah memukulnya."
"Dia tidak menyakitiku."
"Ia menyakitimu, jelas-jelas," Tekanan pada kata-katanya makin dalam, dan Katsuki jelas-jelas juga meremas pinggang Uraraka. "aku tahu itu akan terjadi kalau aku melepaskanmu."
"Dan aku tidak mau mendengar kilas balikmu," Uraraka ingin melepas pelukannya, tetapi tidak bisa. "aku mengetahui risiko dari pilihanku."
Bakugou menahan geraman frustasinya. Ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membuat gadis ini tetap berada di sini, di sampingnya, di pelukannya. Ia tidak tahu bagaimana cara merayu perempuan, ia tidak tahu bagaimana cara berkata-kata manis. Ia hanya tahu cara bersikap jujur, dan itu pun sudah gagal ia terapkan ketika berurusan dengan Uraraka Ochako.
"Aku tidak pernah ingin berakhir seperti ini," kata Bakugou, pada akhirnya. "kutarik ucapanku barusan. Aku tidak menyesal bertemu denganmu."
Mungkin ia menyadari kalau semua perkataannya akan membebani Uraraka nanti …
Uraraka sekilas tersenyum. Ada kelegaan muncul di hatinya, sesuatu yang ia nanti sejak lama. "Kau jujur?"
"Ya," katanya, mempererat pelukannya. "aku jujur. Aku hanya menyesali keputusanmu untuk pergi."
Detak jantungnya semakin cepat, ada tangan hangat yang menggenggamnya. Gadis itu berjinjit, memeluknya sekali lagi dan berbisik, "Aku akan segera kembali."
Ada banyak kisah yang terukir, tetapi tidak sempat menjadi bahan pikir sebelum pergi. Uraraka Ochako pergi, akan pergi, dan akan kembali. Gadis itu melelehkan air matanya sekali lagi di pundak Bakugou Katsuki, tangannya melingkar erat—seolah tak mau lepas. Karena semuanya tiba-tiba terputar di kepala, dan tidak mau berhenti.
Semua kenangan itu tidak mau berhenti berputar di kepalanya. Isakannya hampir lepas kalau saja Bakugou tidak berbisik, "Jangan. Jangan menangis. Jangan menangis lagi."
Ia menghabiskan tangisan tanpa suara dalam peluk Bakugou. Dan pemuda itu menghancurkan hati sekali lagi. Tetapi ia tidak keberatan. Tidak pernah sama sekali. Selama itu untuk Uraraka Ochako, ia tidak akan pernah keberatan.
Sesak menghampirinya saat Bakugou melepaskan pelukan. Mata merahnya menyorot Uraraka lembut, lalu dua tepukan pada bahunya membuat sekujur tubuh gadis itu bergetar, dan kata-kata Bakugou yang penuh keikhlasan itu merasuk padanya.
"Semoga sukses."
Bakugou selesai. Tugasnya sudah selesai. Dengan nyeri yang sangat kuat di dadanya, pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong dan berjalan menuju Todoroki.
Semuanya pura-pura tidak melihat. Seperti biasa.
"Ochako-chan," panggil Asui yang mendekat ke arah Uraraka yang menundukan kepalanya dalam-dalam. "maaf, tapi, ada telepon dari Midoriya-chan …"
Bakugou mendapat dua kali tepukan bahu dari Todoroki, dan pula Kirishima. Kaminari dalam sekejap berlari ke arahnya, merangkul bahu sok akrab dan Bakugou kembali mengumpat. Ia baru saja akan membalas Todoroki mengenai ajakan pesta tertutup, namun gagal bicara ketika suara itu memanggil namanya.
"Bakugou-kun!" Uraraka berteriak, cukup membuat satu aula mendengarnya. Senyap seketika kala Bakugou berbalik dan menaikkan satu alisnya. Sementara tangannya dibalik kantong terkepal erat. Jangan. Jangan katakan apapun.
"SEMOGA SUKSES!"
Sepasang netra merah itu melebar. Uraraka Ochako tersenyum dengan air mata yang menumpuk untuk keluar, lengkap pula dengan jempol yang teracung tinggi. "Semoga sukses," ulangnya, lebih tenang.
"Aa," Bakugou mengeluarkan tangan kanan dari kantongnya, mengancungkannya dengan seringai tipis. "Kau juga, Uraraka."
Uraraka Ochako menggigit bibir bawahnya, menyaut ponselnya yang bergetar dari Asui lalu memeluk gadis berhelai hijau itu, menuju ke teman-teman perempuannya, mengabaikan ponsel dalam genggaman. Semuanya masih dalam pandangan Bakugou Katsuki. Bagaimana semuanya kembali menyalami gadis itu, lalu bagaimana ia melambai dengan riangnya saat memasuki taksi. Bagaimana ia menghindar untuk menjabat tangan Katsuki lagi.
Baik Ochako maupun Katsuki menolak untuk saling menggenggam lagi.
Karena dengan begitu aku tidak akan melepaskanmu lagi.
Keduanya hanya bertukar salam perpisahan lewat tatap, dan sedikit senyum terukir pada paras angkuhnya. Ochako hanya mampu tersenyum tipis.
Karena dengan begitu aku tidak akan sanggup pergi.
Uraraka Ochako pergi, secepat janji 'aku akan kembali' yang dihembuskannya ke telinga Katsuki tadi. Gadis itu sungguhan pergi, taksinya melaju tinggi. Dan Katsuki tahu dia tidak bisa apa-apa lagi.
Karena ia tahu sesungguhnya Uraraka Ochako tidak akan pernah kembali.
.
.
.
.
[ nirmala bilang ia akan kembali.
tetapi anggara tahu kalau itu bukan janji.
nirmala bilang ia akan tetap di sini
tetapi anggara tahu kalau itu hanya ilusi. ]
[ selesai. ]
.
.
.
.
nirmala: bersih; suci; tidak bernoda. (interprestasi sosok uraraka ochako)
anggara: buas; liar. (interprestasi sosok bakugou katsuki)
ke depannya saya akan memakai nirmala dan anggara untuk tiap fic kacchako saya, semoga tidak bosan, ya. (iy klo ad yg baca;'')
.
.
a/n:
cape bgt nulis ini, gabohong saya;'( padahal mah cuman duduk.
ini saya tulis dengan penuh keambiguan dan scene-scene tidak penting karena pada dasarnya saya suka banget basa-basi /apa sih nak. pokoknya saya minta maaf atas segala kekurangan fanfik ini. tapi saya tak hentinya berharap untuk mendapat sedikit ulasan maupun kritik dan saran dari kawan-kawan sekapal yang mampir, mwehehe;3
btw curhat dikit, saya pengen banget nonton movie-nya huhuhu;') plus mau lihat kapal saya berinteraksi walau cmn seupil, saya ikhlas;')
terima kasih sudah baca sampai sini;)!
salam hangat,
tari.
maunya saya bkin sidestory, tp kalau sempat y, kalau ada niat jg. muah;3
.
