Chapter I
...
Q: Tuan Loey, Apakah anda termasuk dalam kategori cinta pada pandangan pertama?
A: Tidak.
Q: Dimana dulu anda bertemu pertama kali dengan Nona B?
A: Sekolah, dia teman sebangku.
Q: Apa kesan pertama kali yang anda dapatkan?
A: (tersenyum) dia sedikit bodoh.
Q: (tertawa) Lantas kapan anda mulai mengembangkan perasaan pada Nona B?
A: Aku tidak tahu kapan tepatnya. Aku hanya menyadari bahwa aku akan bahagia jika aku hidup bersama dengannya nanti (menggenggam tangan mungil disampingnya.)
Q: Bagaimana cara anda menyatakan cinta kepada Nona B?
A: Saat hari kelulusan sekolah. Aku mengantarkan dia pulang ke rumah. Aku hendak melanjutkan studi di luar negeri, jadi aku jujur tentang perasaanku. Tapi saat itu juga aku ditolak. (cemberut)
Q: (menganga lantas tertawa) Oh aku jadi meragukan pesona Tuan Loey. (tertawa lagi.) Aku akan bertanya dengan Nona B dulu. Oh Maaf, aku seharusnya memanggilmu Nyonya Loey.
A: (menginterupsi) Kau bisa memanggilku B. Itu lebih enak untuk melanjutkan.
Q: Oh Baiklah, jadi B apa kesan pertamamu saat bertemu dengan Tuan Loey?
A: Aku sedikit takut. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain duduk disampingnya.
Q: Kenapa?
A: Dia tidak peduli dengan sekitarnya. Jika aku tidak bertanya, dia hanya diam.
Q: Lantas pertanyaan pertama apa yang anda ajukan?
A: Aku memperkenalkan diriku, dan aku bertanya siapa namanya? tapi dia diam saja. Aku pikir dia tidak mendengar jadi aku bertanya sekali lagi siapa namanya? lalu dia melihatku kesal, barulah aku dengar 'Loey' itupun dengan suara amat sangat lirih. Aku berpikir mulai saat itu aku harus menajamkan pedengaranku jika berbicara dengannya lain kali. (tertawa)
Q: (tertawa) Oh seperti ada banyak kisah menarik. Jadi B, bisakah anda bercerita lebih banyak?
A: (Menoleh ke samping, minta persetujuan dan diizinkan)
Bagi semua siswa baru di tahun pertama di sekolah tingkat tinggi, akan sangat menyenangkan dan mendebarkan. Mendapat seragam baru, teman baru, tempat baru, dan suasana baru. Tapi aku sedikit khawatir saat itu. Aku tinggal dengan tiga laki-laki di rumah kecilku. Ayah, Kakak dan Adik, sedangkan ibuku sudah meninggal. Keuangan kami tidak cukup bagus saat itu. Ayah bekerja di pabrik, hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sangat sedikit sisa untuk di tabung, sedangkan kami masih ada beban pinjaman di salah satu kerabat. Satu tahun sebelumnya aku mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi pada kaki dan itu berjalan dengan baik.
Jadi saat itu aku sudah belajar bagaimana cara berhemat, bagaimana membeli sayuran dan lauk pauk yang sedang diskon atau tawar menawar di pasar setiap hari Minggu. Aku bahkan membeli kebutuhan rumah yang berlabel beli satu dapat satu. Tapi sungguh aku tidak menyesali kondisi keluargaku saat itu. Aku bahagia dengan keluargaku.
Hari pertama sekolah, Aku sudah memastikan alarm pukul lima. Tapi siapa yang menduga kalau baterai jam weker ku habis. Aku melihat ponselku dan itu sudah jam enam. Kau bisa bayangkan, jam sekolahku jam 8, aku harus menyiapkan sarapan, membangunkan kedua saudaraku yang tidur seperti babi, antri kamar mandi, dan masih akan mendapat keluhan ''B' kenapa kau membeli shampoo stroberi ini lagi? sial bahkan sabunpun sama!" atau " B, dimana kau menaruh kaus kakiku?" . Atau "Kakak kenapa buku tulis ku bergambar kartun konyol?" dan "kakak kenapa kau selalu masak sup kecambah, aku butuh daging untuk pertumbuhanku?'"
Lalu akan ada pahlawan yang selalu berdiri disampingku "Jika kalian terus mengoceh, aku akan memotong uang saku kalian.Dan itu akan menjadi milik B." itu ayah.
"TIDAK!!!" mereka bahkan menjawab bersamaan. Aku selalu berpikir 'kapan mereka akan memiliki belas kasihan pada saudara perempuan satu-satunya ini?' aku menatap langit, hanya ada gambaran wajah Sehun dan Taeyong yang menganiaya saudaranya.
Karena hari pertama sekolah banyak siswa yang berangkat lebih pagi, jadi kelas sudah penuh. Dua menit sisa waktu, aku benar tak menyiakan waktu, aku menggunakan kakiku setengah berlari dan hanya satu kursi yang tersisa di pojok belakang, tanpa pikir panjang, aku duduk, mengatur nafas, entah perasaanku atau apa banyak yang melirik ke arahku. Tapi aku tak ambil pusing itu, aku hanya menyadari aku duduk dengan siswa laki-laki, dia hanya menatap ke arah luar, dia duduk tepat di samping jendela. Aku bisa merasakan kedinginan di sekitarnya. Mungkin karena sosoknya yang terlalu menonjol, aku sedikit ragu untuk menyapa. Tapi karena dia akan menjadi teman sebangku, aku mencoba memperkenalkan diriku.
"Hi Aku B. Aku akan menjadi temanmu kedepannya." Aku semakin merasakan tekanan di punggungku dengan melihat sisi wajahnya yang tampan.
"Siapa namamu?" Kulihat Alis tebalnya sedikit naik, mungkin dia tidak mendengarku.
"Aku B yang akan menjadi temanmu, Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Dia akhirnya melihatku dengan tatapan masa bodoh.
"Loey."
Dan suara macam cello itu membuatku sedikit gugup.
Selama jam kelas pertama, aku benar tak mendengar suaranya lagi. Dia terlihat sedikit malas mendengar penjelasan guru. Berbanding terbalik dengan aku yang begitu bersemangat. Aku menyadari kemampuanku, aku memang harus lebih memperhatikan karena aku memang sedikit lambat. Entah kenapa, dengan gender yang berbeda di dalam keluarga kemampuan otakku juga berbeda. Aku iri dengan kecerdasan kedua saudaraku. Sial, aku selalu kalah dari mereka.
Saat jam istirahat berbunyi, Loey bergegas keluar. Ku tatap punggungnya dan aku menyadari dia begitu tinggi. Lalu ada beberapa gadis yang diam-diam mengikuti dibelakang.
"Apa kau tau? kau sangat beruntung." kata gadis yang duduk tepat di depanku.
"Huh?"
"Sebelumnya ada beberapa yang ingin duduk ditempatmu ini. Tapi dia memberikan tatapan dingin. Jadi mereka tidak berani." Dia menjelaskan pelan-pelan. "Oh aku Kyungsoo. Siapa namamu?"
"B."
"B, cobalah! kau pasti akan suka." Kyungsoo menyerahkan bungkusan kecil. Ada rasa hangat saat aku menerimanya. Aku merasa aku dapat berteman baik dengan gadis bermata bulat yang sekarang memasang senyum manisnya. Semanis gumpalan coklat yang meleleh dalam mulutku.
"Terima kasih Kyungsoo."
..
Sehun berada satu tingkat diatasku. kami bersaudara dalam satu sekolah. Aku bisa melihat dari jauh ada banyak pasang mata yang menatapnya kagum. Dengan wajah datarnya, mana mungkin dia peduli dengan sekitarnya. Bahkan saat berpapasan dengan adiknya ini, dia berpura-pura sibuk mengoceh dengan laki-laki berkulit sedikit gelap yang berjalan disampingnya.
Namun aku tak terlalu memikirkannya, saat dirumahpun Sehun sibuk dengan dunianya sendiri. Dia betah bermain dengan komputernya.
Aku menghabiskan jam istirahat ku berkeliling dengan Kyungsoo. Hari itu aku sudah menyukai bagaimana Kyungsoo berbicara. Dia apa adanya. Jika dia tidak suka sesuatu, dia akan mengatakannya dengan lugas.
"B, aku suka potongan rambutmu. Itu pas dengan wajah kecilmu."
Rambutku sedikit pendek waktu itu. Tidak ada gaya yang khas didalamnya. Itu hanya potongan bob yang menutupi leher dan dilakukan oleh Ayah sendiri. Sesuai dengan aku yang tidak memusingkan penampilan.
Saat pelajaran selanjutnya, aku kembali melihat Loey. Belum ada percakapan lagi diantara kita. Aku tidak tahu harus bertanya apa. Tapi aku berfikir karena dia sekarang adalah temanku, meski tidak menjadi dekat, aku harus berinteraksi dengannya. Jadi aku memilah kata-kata dalam otakku sekiranya itu bisa menjadi percakapan.
Waktu itu adalah pelajaran matematika dan berhasil membuatku pusing. Guru sudah menjelaskan lalu ada beberapa latihan yang harus dikerjakan.
"Apa kau paham yang dijelaskan oleh guru?"
Sekilas aku bisa melihat tatapan malasnya dari sepasang mata gelap itu.
"En." Tapi dia masih mau menjawabnya.
"Bisakah kau menjelaskan sedikit saja pada bagian ini?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Itu sangat mudah!"
"Tapi aku masih bingung."
"Dasar bodoh."
Baiklah aku tidak akan bertanya lagi padanya, Dia persis seperti Sehun. Dengan wajah begitu sempurna tapi perilaku nol besar, sangat menyebalkan.
Aku baru saja memuji dan mencelanya, tapi kemudian aku melihat buku latihannya yang sudah dikerjakan dengan cara yang lebih mudah ditempatkan di depanku.
Ya, aku tau sosok yang suka memandang ke arah luar jendela itu, hanya tak acuh di luarnya saja.
TBC
...
Pada cerita ini hanya berisi kilas balik dari pasangan yang sudah menikah, dengan kehidupan sekolahnya dulu yang menyenangkan. No drama drama...
Sekali lagi, Review kalian akan sangat membantu untuk chapter selanjutnya..
Terima kasih.
Ran Ran.
