.

Uzumaki Karin memandang Uchiha Sky Tower di depannya dengan perasaan gugup. Dia sudah memikirkan hal ini berulang kali. Dan akhirnya dia memutuskan bahwa orang itu berhak untuk mengetahuinya. Ya. Dia harus memberitahu orang itu tentang situasinya saat ini.

"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"

Seorang resepsionis berambut pirang yang terlihat cantik dan ramah menyapanya.

"Saya ingin bertemu dengan Uchiha Sasuke."

"Baik, apakah anda sudah mempunyai janji sebelumnya?"

"Tidak."

"Baik, silahkan, Anda bisa mengisi blanko ini terlebih dahulu untuk membuat janji, kemudian-"

"Apa?! Tidak, tidak, ini sangat mendesak. Bisa kau katakan kepadanya saja jika Uzumaki Karin ingin bertemu?"

Resepsionis tampak berpikir sejenak sebelum mengangkat telepon di depannya. Karin menunggu dengan perasaan berkecamuk.

"Wakil Direktur tidak memiliki waktu banyak, jadi dia hanya bisa menemui Anda 10 menit. Apakah tidak masalah?" tanya resepsionis itu setelah menutup teleponnya.

Apa? Wakil Direktur? Karin membeku.

"Nona? Nona? Kau mendengarku?"

"Ah, iya. Maksudku, tidak apa – apa. Sepuluh menit cukup. Biarkan aku menemuinya."

"Silahkan, Anda bisa menuju ke lantai 21 dan sekretaris Wakil Direktur akan mengantar Anda menemui Uchiha-sama."

Karin kemudian mengucapkan terimakasih dan menuju ke arah yang dituju. Jantungnya semakin berdegup kencang sering langkahnya yang semakin dekat menuju orang itu. Sekejap saja dia sudah berada di depan pintu ganda berukir.

"Silahkan, Nona. Uchiha-sama sudah menunggu Anda di dalam."

Sebelum Karin mempersiapkan diri pintu itu sudah terbuka.

Orang itu berdiri disana membelakanginya. Tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Dari caranya bicara sepertinya itu telepon penting yang berhubungan dengan perusahaan. Pria itu berbalik dan memberi isyarat kepada sekretarisnya yang mengantar Karin untuk keluar dan membiarkan mereka berbicara berdua.

"Silahkan duduk, Miss Uzumaki," ujar orang itu tersenyum formal yang terlihat asing dimata Karin. Sama sekali bukan seperti orang yang beberapa minggu lalu ia kenal. Ah, tapi memangnya dia mengenal pria di depannya itu?

"Aku yakin kau masih mengingatku," Karin berusaha sekuat tenaga membuat suaranya tidak bergetar. Dia adalah Uzumaki Karin. Dan Uzumaki Karin tak akan gentar di hadapan siapa pun.

Sasuke berhenti beberapa detik sebelum menjawab lugas.

"Ya, tentu saja. " Sasuke menyeringai seksi. Oh shit, membuat Karin kembali mengingat malam itu. "Lalu apa yang kau inginkan? Aku tak bisa tidak mengatakan bahwa aku tersanjung kau sampai repot mencariku hingga kemari."

"Aku hamil."

Seringai di wajah Sasuke menghilang detik itu juga. Ekspresi wajahnya langsung mengeras.

"Dan janin itu adalah milikmu."

"Tch, ternyata kau sama dengan wanita – wanita itu."

"Apa?"

"Berapa? Berapa yang kau inginkan?"

"Uchiha Sasuke, aku mengatakan yang sebenarnya. Ini adalah anakmu."

"Kau punya bukti?" Karin hanya terdiam. Sekujur tubuhnya mati rasa.

"Aku tidak mau berbelit – belit dan sebutkan berapa yang kau inginkan. Jangan bermimpi untuk menjadi Nyonya Uchiha dengan menggunakan alasan konyol seperti hamil dan sebagainya. Kita sama – sama tahu bahwa malam itu kita menggunkan proteksi."

"Kau tak percaya padaku."

Itu bukan pertanyaan. Karin menatap tepat ke dalam iris jelaga Sasuke dengan pandangan kosong. Bukankah dia seharusnya sudah terbiasa direndahkan oleh orang – orang macam Sasuke.

Ah, seharusnya dia sudah menduga ini yang akan terjadi. Memangnya apa yang dia harapkan? Sasuke akan menyambut berita ini dengan melonjak girang?

Tapi mengapa?

Mengapa melihat tatapan jijik di mata Sasuke tepat mengarah padanya membuat hatinya begitu sakit?

"Jangan coba – coba playing victim menggunakan hal klise semacam cinta, tak butuh uang, atau semacamnya. Itu tidak berlaku untukku. Percayalah, aku sudah cukup sering menghadapi wanita rendahan seperti kalian," ujar Sasuke acuh tak acuh, menuliskan nominal cek dan mengangsurkannya ke arah Karin. Sepuluh detik penuh Karin hanya memandangi cek itu sebelum mengulurkan tangan untuk menerimanya.

Sasuke tersenyum sinis.

"Kau cukup pintar dibanding wanita – wanita sebelumnya ternyata. Baguslah. Kita jadi tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bicara omong kosong,"

Sayang sekali kalau dipikir – pikir. Sasuke mendesah dalam hati. Sebenarnya Sasuke cukup tertarik dengan Uzumaki Karin. Dan kalau boleh jujur, wanita berambut merah di hadapannya inilah penyebab sleeplees nights-nya akhir – akhir ini.

"Hari ini adalah hari terakhir kita bertemu. Jangan pernah menunjukkan batang hidupmu di hadapanku,"

"Baik. Jika itu keinginanmu."

Karin tiba – tiba berbalik sesaat sebelum mencapai pintu keluar dan menatap tepat ke kedalaman mata Sasuke.

"Kau yang memilih jalan ini, Sasuke. Semoga kau tak akan menyesal."

.

.

.

...sebuah prolog...

.

.

.

cerita lama saya belum kelar dan saya bikin cerita baru? :)'

.

[2.3.2020]