Daiya no A Fanfiction

Disclaimer: Terajima Yuji

I just borrow his Chara

PERHATIAN!

MEDICAL AU! Kemungkinan OOC stadium 4! Ada banyak Typo berhamburan!

Dan semua yang memalukan dan tidak jelas

Selamat membaca

ONLY THE YOUNG

It keeps me awake

The look on your face

The moment you heard the news

You're screaming inside

.

Ethical Clearance sudah ditangan. Inform consent sudah siap disodorkan ke pasien dan keluarganya. Tim penelitian telah terbentuk. Dokter bedah sudah berada di genggaman tangan. Gelar Professor telah menanti di seberang perjalanan. Hanya itu yang ada di pikiran Miyuki Kazuya selama beberapa waktu ini.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Miyuki. Sawamura duduk sambil melipat kaki di kursi depan meja kerja Miyuki. "Apa kau sudah kerasan?"

"Bagian bedah lumayan seru, apalagi di IGD," jawab Sawamura. "Meskipun aku belum pernah bertemu dengan Kepala Departemennya."

"Saat ini beliau sedang pendidikan di luar negeri. Namun, aku sudah memberitahu bahwa kau akan bergabung di departemennya," jelas Miyuki. Sawamura hanya mengangguk acuh tak acuh.

"Jadi, kenapa kau mengumpulkan kami semua di sini?" tanya Sawamura sambil melihat beberapa dokter dan perawat di dalam ruangan Miyuki.

Ditanya seperti itu membuat Miyuki ingat kembali tujuan awalnya. Ia menggeser rekam medik yang sedang dibacanya dan mengeluarkan selembar kertas yang diberikan oleh komisi etik. "Penelitian ini telah mendapat ethical clearance," jelas Miyuki pertama-tama. "Dan aku ingin mengenalkan timku padamu," katanya pada Sawamura. "Kau juga harus mengenal timmu karena kalian akan terus bekerja sama selama penelitian."

"Dokter Anestesi, Okumura Koushuu. Dokter Patologi Anatomi, Kawakami Norifumi. Asisten bedah kedua Seto Takuma. Perawat bagian bedah Fujiwara Takako. Dan, Internis sekaligus asisten bedah pertama, Miyuki Kazuya."

Sawamura menatapnya. Antara setengah geli dan setengah bingung. "Kau? Katamu ini bukan darurat," kata Sawamura meniru ucapan Miyuki Kazuya saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Miyuki mengeluarkan kilat berbahaya dari matanya. Ia menatap Sawamura. "Itu adalah jaminan yang kuberikan pada tim etik. Meskipun aku internis, tapi aku juga konsultan gerontologi. Okumura-kun memang akan menangani anestesi, tetapi aku akan memberikan pendapatku kalau diperlukan, karena ini adalah bidangku."

Sawamura masih menatapnya. Tatapannya jelas mengatakan kalau ia sedang menikmati pria di depannya. "Ya sudah, terserah padamu. Aku hanya akan mengikutimu saja," ujar Sawamura akhirnya.

"Selanjutnya, aku mau membahas pasien pertama," kata Miyuki. Ia membuka rekam medik yang sedari tadi ia singkirkan. Seorang perempuan berusia 69 tahun. Colorectal cancer stadium II. "Sawamura, kau akan ikut aku mengobservasi pasien sore ini. Setidaknya, ia harus melihat siapa dokter bedah yang akan menanganinya."

Sawamura mengangguk paham. "Kapan kita akan melakukan operasi?" tanya Fujiwara. Ia adalah satu-satunya perawat dan perempuan di ruangan itu.

"Kalau dari hasil observasiku bagus, kita akan melakukan operasi minggu depan. Berdoa saja semoga semuanya sesuai dengan harapan," kata Miyuki.

Sawamura bisa merasakan bahwa si konsultan di depannya juga sebenarnya sedang tegang. Akhirnya, penelitiannya akan dimulai. Ia akan memikul berbagai jenis tanggung jawab dan beban selama penelitian ini. Sebagai internis, sebagai asisten bedah, sebagai dokter, dan sebagai peneliti. Sawamura memang belum lama mengenal Miyuki, tetapi ia bisa dengan cepat membaca karakter orang. Bahkan, seandainya Miyuki Kazuya disuruh memikul langit, kalau itu akan membawanya pada gelar Professor, ia akan menanggungnya sendirian.

Diskusi mereka terputus ketika bunyi nyaring dari kantong jas putih Sawamura berbunyi keras. "Sepertinya aku dipanggil," kata Sawamura sambil bangkit dari kursinya. Ia berbalik menatap tim, "mohon bantuannya kalian semua," katanya ramah dan segera meninggalkan ruangan Miyuki.

"Apa benar tidak masalah menggunakannya?" tanya Kawakami ketika Sawamura telah pergi dari ruang kerja Miyuki.

"Kau melihat sendiri performanya ketika ia mengangkat tumor kan?" Miyuki bertanya balik. "Bagaimana, Okumura-kun? Kau kan ahli anestesi, menurutmu Sawamura Eijun bagaimana?" Miyuki bertanya pada Okumura.

"Ia bisa menghindari turunnya tekanan darah hanya dengan cairan infus. Selain itu, tidak banyak cairan yang terbuang selama operasi berlangsung," katanya, "pekerjaanku menjadi lebih mudah."

"Kita bisa percaya padanya. Dia dokter bedah yang hebat," kata Miyuki.

.

"Melakukan penjahitan pembuluh darah. Needle ukuran 8," pinta Sawamura. Seorang perawat memberikan jarum dan benang. Sawamura menerimanya dan langsung menjahit pembuluh darah di sekitar hepar. Kecelakaan di jalan raya.

"Tekanan darah terus turun menjadi 50/30."

"Ambil kantong darah 10 unit lagi. Perawat, terus pasok infus."

Seolah tidak terganggu, Sawamura menjahit dengan tenang dan cepat. Dalam waktu lima menit, ia telah selesai pada hepar.

"Asisten, apa ada luka yang belum tertutup?"

"Perdarahan di limfa. Sepertinya robek ketika benturan," lapor asisten bedah.

"Needle yang ukurannya lebih besar," perintah Sawamura, "suction di sekitar limfa. Aku harus melihat dengan jelas lukanya."

Asisten bedah kedua yang melakukan suction. "Sensei, apa tidak masalah hanya 10 unit kantong darah?" tanya seorang perawat.

"Tidak apa. Infus juga bisa menggantikan cairan yang keluar dari dalam tubuh," jelas Sawamura. "Aku tidak mau ambil risiko menurunnya natrium karena perdarahan."

Sawamura mulai menjahit limfa yang robek.

"Status?" tanya Sawamura.

"Tekanan darah berhenti turun dan tidak terdapat kelainan pada hasil tes biokimia," kata dokter anestesi.

"Oke. Kita lakukan gauze count dan setelah itu kita tutup regio abdomen."

"Baik."

.

Pasien di kirim ke bagian ortopedi karena harus menangani patah kakinya. Kalau bagian yang itu, setelah Sawamura melihat hasil Rontgen, ia memutuskan hanya membebatnya, karena tidak sampai merobek otot dan pembuluh darah. Setidaknya, pekerjaannya menjadi berkurang satu lagi.

"Terima kasih atas kerja keras Anda."

Sawamura dan beberapa dokter serta perawat yang tadi sibuk hilir mudik menangani kasus kecelakaan saat ini beristirahat di ruang istirahat departemen bedah dan kegawatdaruratan. Sawamura meminum sebuah teh hangat yang dibuatkan oleh seorang perawat. Shift sudah diganti, jadi mereka tidak perlu buru-buru beristirahat.

"Anda hebat sekali di dalam sana tadi," puji seorang perawat. Ia berdiri agak jauh dari Sawamura, berusaha memberikan privasi dan rasa hormat bagi para dokter. Sawamura melambaikan tangannya.

"Jangan berdiri, duduk saja di sofa di depanku," tawar Sawamura.

Perawat itu terlihat tidak enak. "Saya tidak pantas duduk sejajar dengan seorang dokter," katanya.

"Apa sih? Dokter juga masih manusia. Duduk sejajar dengan manusia tidak apa kan?"

Dengan ragu, perawat itu duduk di sofa depan Sawamura. Ia masih terlihat gugup dan Sawamura masih bisa memakluminya.

Sawamura Eijun hampir lupa bagaimana rasanya menjadi seorang dokter terhormat di sebuah rumah sakit. Perasaan itu sudah lama ia tinggalkan bersama dengan kekosongan hatinya. Selama ia berkelana ke banyak negara-negara miskin, tidak ada satupun yang menganggap penting status. Bisa bernapas dan makan sesuap nasi saja sudah bersyukur. Sawamura tidak hanya berkelana, tetapi ia juga menyelami peradaban dan kehidupan mereka. Sawamura menjadi bagian dari mereka.

"Sensei, sebelum Anda bekerja di sini, dimana Anda bekerja?" tanya perawat itu. Sawamura meniup-niup teh hangatnya.

"Aku sempat di RS Universitas, tapi sekarang tidak lagi," kata Sawamura. Setelah keluar dari Rumah Sakit Universitas, Sawamura memulai perjalanan panjangnya. Meniti tepi-tepi perbatasan. Menyeludup ke gerbong-gerbong barang di kereta di India, hanya supaya tidak berjejal dengan lautan manusia di dalam gerbong yang sudah seperti tumpukan sampah. Perjalanan yang benar-benar indah.

"Saya dengar bahwa Anda direkomendasikan oleh Professor Sakaki," kata perawat itu lagi. Sawamura bahkan tidak bertanya darimana ia tahu berita itu. Ah, Rumah Sakit memanglah dunia yang sempit. Terkungkung. Selalu membatasi gerak. Berita apapun mudah sekali menyebar, seperti angin yang membawa virus.

"Begitulah," jawab Sawamura datar. Memang benar seperti itu adanya, jadi ia tidak perlu menyangkal. "Kau dari akademi perawat mana?" tanya Sawamura.

"Akademi perawat swasta di Osaka," jawab si perawat.

"Jauh juga kau pergi sampai ke Tokyo," komentar Sawamura.

Si perawat tersenyum mendengarnya. "Kata Ibu saya, untuk mendapat pengalaman lebih banyak, semakin jauh semakin bagus."

Sawamura mengangguk dalam diam. Ya, pengalaman. Sawamura juga sama seperti itu. Semakin ia pergi jauh, pengalaman yang didapatnya semakin banyak dan ia menjadi semakin hebat.

Mereka kembali berbincang mengenai topik-topik seru. Pembangunan infrastuktur, kabar rumah sakit sebelum Sawamura bergabung, sampai betapa terkenalnya Miyuki Kazuya di kalangan para karyawan (untuk yang satu ini, Sawamura sama sekali tidak peduli. Lagipula, bukan dia yang meminta cerita tentang si internis). Muda, jenius, ambisius, dan bisa segalanya. Itulah rangkuman dari para karyawan rumah sakit mengenai konsultan muda yang sangat populer. Sawamura sendiri tidak begitu melihat Miyuki dengan pandangan seperti itu.

Kesan pertama mereka buruk, menurut Sawamura. Miyuki Kazuya memperlihatkan sisinya yang sangat kotor pada Sawamura tanpa takut ditolak. Kalau dipikir-pikir, selama ini pertemuan mereka memang terkesan untung-atau-tidak-untung. Miyuki di mata Sawamura tidak ada bagus-bagusnya. Namun, Sawamura menjadi pendengar yang sopan.

Si perawat mendadak berhenti bicara tentang teknologi gamma yang mungkin akan dibeli rumah sakit dan langsung berdiri dan menunduk dalam. "Miyuki-sensei," katanya sambil membungkuk. Hal itu membuat Sawamura ikut menoleh ke belakang. Di depan pintu istirahat, Miyuki Kazuya berdiri menjulang. Kacamata segi empatnya terpatri dengan sangat sempurna di wajahnya. Jas putih dokternya membuat kesannya semakin tegas dan berwibawa. Sawamura masih terkekeh geli kalau membayangkan ia pernah mengira Miyuki sebagai salesman.

"Aku mencarimu," kata Miyuki. "Teleponku tidak diangkat."

Sawamura baru ingat ia menaruh ponselnya begitu saja di lokernya. Sejak selesai operasi, ia tidak mengecek ponselnya lagi. "Maaf. Ada perlu apa?"

"Sudah jam visit. Kau masih ikut aku observasi pasien," katanya. Sawamura langsung berdiri dari kursinya. Gelas teh hangatnya diletakkan di meja kaca. Ia menoleh pada perawat.

"Kapan-kapan kita berbincang lagi ya," katanya ramah. Si perawat hanya mengangguk singkat dan kembali menunduk karena masih ada Miyuki di ruangan itu. Sawamura kembali memakai jas putihnya yang sempat ia tanggalkan di punggung kursi, dan tanpa mengganti bajunya dengan kaos hijau celana hijau, ia mengikuti Miyuki yang sudah keluar duluan dari ruang istirahat.

"Rumah sakit swasta memang sangat mewah ya," komentar Sawamura sambil memandang interiornya yang sangat megah. Kehidupan Sawamura di rumah sakit ini hanya seputar IGD, ruang operasi, IGD lagi, ruang kerja Miyuki, ruang istirahat, dan ruang operasi lagi. Ia sama sekali tidak sempat mengagumi betapa besar rumah sakit yang sekarang menjadi tempat kerjanya.

"Tentu saja, kenyamanan pasien nomor satu," kata Miyuki. Namun, mereka tidak menuju bangunan megah tempat dimana para pasien dirawat. Seolah membaca raut bingung Sawamura, Miyuki berujar, "kau tidak mengira aku akan menjadikan para pasien VIP itu sebagai subjek penelitianku kan?"

Sawamura hanya mengangkat bahunya. "Siapa tahu."

"Kita ke bangsal kelas 3. Di sana, pasien dirawat menggunakan asuransi pemerintah," jelas Miyuki.

"Hoo, rupanya kau masih melayani penduduk miskin," kata Sawamura, setengah menyindir Miyuki. Mendengarnya, Miyuki berhenti mendadak dan berbalik. Hampir saja hidung Sawamura bertabrakan dengan kacamata Miyuki.

"Aku memang menginginkan gelar professor itu. Aku ingin penelitianku selesai dengan menghalalkan segala cara," kata Miyuki. Ia kembali ke mode ambisius. Dingin, tajam, menusuk. "Tapi, aku juga tetap seorang dokter. Aku tetap tidak akan mengabaikan para pasienku."

Ia kembali berjalan menuju sebuah gedung yang jaraknya agak jauh dari gedung utama maupun bangunan para pasien rawat inap VIP. Gedung itu sudah lumayan tua dan juga suasananya jauh lebih kumuh dari bangunan utama. Di sini, semua pasien yang biasa pengobatannya ditanggung asuransi negara berkumpul jadi satu. Karena bangsal kelas 3, satu kamar diisi sampai 12 orang, masing-masing 6 berhadapan.

Seorang perawat sudah menunggu kehadiran Miyuki. Ia langsung memberi hormat dan menyerahkan data pasien yang akan mereka kunjungi. Pasien pertama seorang lelaki usia 72 tahun, pasca-stroke, sedang mengalami rehabilitasi, tetapi mengalami perdarahan lambung. Kemungkinan karena penggunaan NSAID yang selalu dikonsumsinya.

"Kakek," ujar Miyuki lembut. Ia bahkan menggenggam tangan si pasien. Sawamura sama sekali tidak percaya bahwa Miyuki ini orang yang sama dengan yang Sawamura kenal. Miyuki Kazuya sedang dalam mode dokternya. "Untuk sementara, obat untuk sakitnya, kita hentikan dulu ya, karena itu yang membuat kakek sakit," jelasnya dengan pelan dan penuh kelemahlembutan. Tidak ada Miyuki Kazuya dengan tatapan yang akan membunuh siapapun, termasuk semut, yang menghalangi jalannya menuju gelar Professor.

"Untuk obatnya, kita ganti dengan yang lain. Saya akan meresepkan obat yang lain," kata Miyuki sambil mencatat di kertas resep. Ia segera memberikan kertas resep itu pada perawat.

"Terima kasih," kata si pasien.

Miyuki tersenyum dan keluar ruang bangsal (karena pasiennya hanya 1 yang ditangani oleh Miyuki. Sisanya milik dokter anak). Ekspresinya ketika pintu bangsal tertutup kembali seperti yang Sawamura kenal. Dingin, tidak ada hati, dan memaksakan kehendak. Sawamura bertanya pada perawat, "berapa pasien lagi?"

"Hari ini hanya 7 orang pasien," katanya. Tujuh? Semuanya orangtua dengan usia di atas 60 tahun? Ukh, ini adalah salah satu alasan mengapa Sawamura menolak untuk menjadi internis. Sawamura bosan dengan rutinitas seperti ini. Menjadi internis artinya Sawamura harus duduk berjam-jam di ruang praktek, mendengar keluhan mereka, meresepkan obat, atau merujuk ke bagian lain, dan visit yang membosankan.

Sawamura bukannya tidak suka oleh pasien, ia malah peduli. Namun, bedah adalah jalan hidupnya. Bedah adalah cabang ilmu kedokteran yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi sekaligus teknik improvisasi yang tinggi. Kalau tidak bisa fleksibel, maka nyawa pasien di atas ranjang operasi akan terancam. Ilmu bedah bukan hanya secara anatomi dan makroskopis. Bersama dengan dokter anestesi, dokter bedah harus berpikir dengan cepat apa yang terbaik bagi kondisi fisiologis pasien. Itulah bedah. Itulah Sawamura.

Mungkin pasien ke-4 atau ke-5, Sawamura sudah bosan sekali dan selalu menahan diri agar tidak menguap lebar-lebar. Miyuki Kazuya tampak tidak terganggu dan berjalan seperti tidak ada halangan. Miyuki sudah menghabiskan kehidupannya sebagai internis. Ia sudah terbiasa, seperti bernapas dengan sewajarnya. Kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang Sawamura tidak mengerti. Namun, itulah perjalanan Miyuki.

"Ini pasien kita," kata Miyuki. Mendadak, Sawamura kembali segar. Akhirnya, bagiannya akan muncul juga (meskipun tidak sekarang, tetapi Sawamura suka ikut menganalisa).

Seorang perempuan, 69 tahun, colorectal cancer stadium II, ulang Sawamura dalam hati. Ia sudah menghapal isi rekam medik yang diberikan Miyuki tadi pagi.

"Bagaimana keadaan Ibu hari ini?" tanya Miyuki dalam mode dokternya. Namun, karena Sawamura juga berkonsentrasi, jadi ia memaklumi tingkah Miyuki. "Apa ada yang terasa sakit?"

"Kotoran saya sering keluar begitu saja sensei," kata si perempuan. Miyuki mengangguk-angguk. "Rasanya perut saya semakin besar," katanya lagi. Miyuki mengelus-ngelus tangannya.

"Bu, saya ingin mengenalkan seseorang," katanya. Ia membuat gestur agar Sawamura maju, sampai sejajar dengan Miyuki. "Sawamura-sensei. Beliau akan menjadi dokter bedah untuk operasi Ibu," jelas Miyuki.

Sawamura membungkuk. Si perempuan tua itu menggenggam tangan Sawamura. "Kau sudah berjalan jauh ya," katanya lembut. Sawamura tersenyum. Ia kembali teringat perjalanan yang selama ini ia tempuh.

"Ya. Sangat jauh. Tetapi, perjalanan Anda masih lebih jauh lagi," kata Sawamura. Ia menggenggam tangan si pasien yang sedang menggenggamnya. Si pasien tertawa.

"Orangtua ini tidak pernah kemana-mana. Sekarang ia terkapar di sini," katanya. Sawamura tersenyum.

"Saya akan berusaha menolong Anda."

Si perempuan tua hanya tersenyum lagi.

Miyuki Kazuya meresepkan obat anti-diare agar BAB-nya tidak keluar secara tiba-tiba setiap saat. Hal itu, selain membuat pasien menderita, tetapi para perawat yang bekerja juga ikut menderita. Sisanya, obat-obatan tidak diberikan. Hal ini dikarenakan pasien akan dioperasi minggu depan. Semua obat yang berisiko mengancam keselamatan operasi ditahan, setidaknya satu bulan sampai dua minggu sebelum operasi.

Setelah mereka selesai berkeliling bangsal kelas 3, Sawamura memberitahu Miyuki dan si perawat, "aku mau lihat hasil pemeriksaan darah lengkap, analisis gas darah, tes biokimia, sampai mikrobiologi dan parasitologi." Si perawat mengangguk dan undur diri pamit ke ruang jaga. Miyuki berjalan berdua bersama Sawamura ke gedung utama.

"Kau pintar basa-basi ya," kata Miyuki memulai percakapan. "Apa kau terbiasa berbasa-basi seperti itu?"

"Kau juga pintar bermuka dua. Berwajah malaikat di depan pasien dan memasang wajah tamak padaku," balas Sawamura. Sebagai respon, Miyuki hanya memandangnya sinis.

"Kau ingat saja apa tujuanmu disini," kata Miyuki. "Aku butuh bakatmu. Kalau bukan karena itu, kau sudah kubuang."

Sawamura terkekeh. "Tentu saja aku tahu. Mungkin sebaiknya kau juga ingat untuk hati-hati."

"Aku tidak butuh nasihat sampahmu," ujar Miyuki sedingin badai es di Russia. Ia menoleh pada Sawamura. "Besok pagi aku akan membawamu ke lab stem cell, tempat aku menumbuhkan jaringan baru," katanya.

Sawamura mendengarkan.

"Aku tidak mau mencari-carimu seperti tadi lagi. Kau adalah anjing yang kubawa, jadi kau sudah harus menungguku di ruanganku besok pagi." Lalu, Miyuki berjalan lebih dulu, dengan langkah yang lebar-lebar dan harga diri yang tinggi. Meninggalkan Sawamura sendiri di lorong rumah sakit yang megah.

Sawamura menggaruk-garuk kepalanya. Ia tersesat di bangunan utama.

.

Sawamura Eijun masih sempat mengucapkan selamat pagi kepada para staff di Departemen Bedah dan Kegawat daruratan, masih sempat bercanda sejenak dengan para perawat dan mereka tertawa mendengar Sawamura mengeluh kemarin ia tersesat. Setelah itu, ia masih sempat menolong anak kecil yang tersedak balok mainan (bagaimana caranya tersedak? Dimakan?) dan akhirnya, ia menuju ruang kerja Miyuki.

Rupanya, Miyuki Kazuya sudah menunggunya di dalam ruang kerja. Ia sedang menerima telepon entah dari siapa, yang jelas siapapun yang menelepon Miyuki adalah orang penting, terlihat dari cara bicara Miyuki yang semanis madu. Ia melirik Sawamura, tetapi mengacuhkannya.

"Baik. Saya akan memberikan hasilnya. Operasi pertama akan dilakukan minggu depan… Anda sekalian bisa tenang, karena saya punya dokter bedah terbaik (di sini Sawamura mau muntah mendengar Miyuki memujinya)… Baik… Terima kasih."

Dan telepon ditutup.

Setelah menutup telepon, ia tidak langsung menatap Sawamura, tetapi memijat pangkal hidungnya dan kembali memakai kacamata yang tadi ditaruh di mejanya. Hari ini masih pagi, tetapi Miyuki sudah tampak sangat kacau. Dasinya masih kendor, membuat Sawamura ingin mengencangkan dasi mahal itu dan membuatnya terlihat pantas. Namun, ia mengabaikan godaan itu.

"Sponsor?" tanya Sawamura.

Miyuki mengangguk. "Orangtua bau tanah… mereka pikir bisa segampang itu mengoperasi pasien?" gerutunya. Sawamura menahan tawanya melihat Miyuki seperti ini. Berapa banyak orang yang mampu melihat sisi brengsek dari Miyuki Kazuya Si Sempurna? Sawamura Eijun merasa orang yang sangat beruntung.

"Apa filed trip hari ini jadi?" tanya Sawamura.

"Ah, ya. Lab stem cell."

Miyuki memakai jas putihnya, merapikan dasinya dan berjalan di depan Sawamura. Sawamura, bagai budak, mengekor di belakangnya. Mereka sesekali berpapasan dengan dokter lain ataupun perawat. Saling menyapa (meskipun kebanyakan Sawamura yang menyapa balik. Miyuki hanya mengangguk dan kembali berjalan dengan dagu terangkat). Sawamura berpikir, kalau ia menghabiskan waktu di rumah sakit seperti Miyuki, apakah ia juga akan berjalan dengan percaya diri dan mengangkat dagu tinggi seperti itu? Apakah ia akan menjadi seperti Miyuki Kazuya, sangat terobsesi dengan gelar?

Kalau Sawamura Eijun saat itu tidak mengundurkan diri dari RS Universitas, mungkin saat ini ia sudah bisa menjadi Kepala Departemen, bahkan pejabat rumah sakit. Ia akan mengajar banyak mahasiswa dan diikuti oleh banyak dokter muda. Semua orang akan menunduk saat bicara padanya. Para perawat tidak akan tertawa lebar dihadapannya. Ia mungkin akan menikahi seorang perempuan cantik, punya anak, dan kehidupan yang didambakan semua orang.

Namun, bagaimana dengan perjalanannya?

Semakin ia berpikir seperti itu, semakin ia bersyukur bahwa mengundurkan diri dari RS Universitas adalah pilihan yang tepat. Mengembara ke berbagai belahan tanah di dunia yang luas ini, tidak bisa lebih disyukuri lagi. Menguji kemampuannya sampai melampaui batas maksimal adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga dan selamanya seperti itu.

Mereka sampai ke kompleks lain dari rumah sakit. Sebuah laboratorium tingkat tiga yang paling mewah yang pernah Sawamura lihat. Sawamura sendiri tidak banyak melihat laboratorium canggih. Selama ini, karena ia selalu berkelana di negara-negara miskin dan selalu berperang, laboratorium yang bisa mengecek analisis gas darah, pemeriksaan standar mikrobiologi dan paraasitologi adalah yang paling mewah. Standar dan banyak kekurangan, tetapi justru mengasah insting Sawamura menjadi semakin tajam, semakin akurat.

Sesuai dugaan, isi laboratorium juga sangat mewah. Semuanya bernuansa putih dan meneduhkan, tidak seperti di kamp medis yang setiap pesawat tempur lewat, tenda juga hampir terbang. Sawamura masih mengekor Miyuki naik ke lantai tiga dan ke ruang isolasi. Mereka mengganti pakaian mereka dibantu dengan staff. Lalu, mereka masuk ke dalam laboratorium dengan peralatan canggih. Mungkin, analisis gas darah pun dilakukan oleh mesin.

Miyuki mengajaknya menuju sebuah etalase yang terkunci rapat. Di dalam etalase tersebut tersedia puluhan model stem cell yang siap di cangkok ke dalam usus pasien.

"Bagaimana hasil uji in vivo?" tanya Sawamura.

"Aku melakukannya pada mencit, tikus, kelinci, dan terakhir pada anjing," kata Miyuki, "yang paling berhasil adalah pada anjing, karena sel-sel yang ditanam memberikan respon bagus terhadap sel-sel usus. Dan, metabolisme anjing yang paling mendekati manusia."

Miyuki menghela napas, "aku tidak mungkin pakai paus dan lumba-lumba meski untuk model penelitianku, hewan-hewan itu yang paling cocok."

Sawamura tertawa tanpa bisa ditahan. "Kau sempat berpikir seperti itu? Kau bisa dipenjara karena memakai hewan dilindungi secara illegal. Lagipula, tidak ada yang mau mendanai penelitianmu kalau seperti itu," katanya sambil setengah tertawa.

"Aku tahu," kata Miyuki gusar. Ia menatap Sawamura. "Yang jelas, operasi minggu depan tidak boleh gagal. Paham?"

Sawamura tersenyum. "Aku ada disini untuk alasan itu kan?"

.

Miyuki Kazuya, Sawamura Eijun, dan Okumura Koushuu mendatangi pasien empat jam sebelum operasi. Miyuki menjelaskan prosedur operasinya dan meminta persetujuan dengan menandatangani lembar inform consent. Si pasien sudah tidak punya keluarga lagi, jadi diwakilkan oleh kepala panti jompo tempat sekarang ia tinggal. Setelah mendapat inform consent, ketiga dokter itu pergi.

"Bagaimana menurutmu, Okumura-san?" tanya Sawamura saat mereka bertiga bersiap untuk menjalani operasi.

Okumura, yang tidak menyangka akan diajak bicara oleh Sawamura hanya menjawab," kalau berdasarkan data hasil lab tadi pagi, pasien bisa di operasi. Sekarang, aku hanya bisa berusaha yang terbaik."

Sawamura tersenyum lebar sekali mendengar jawaban Okumura. Gigi-giginya yang putih sampai terlihat. "Wah, aku jadi tenang kalau kau yang berkata seperti itu. He he he," katanya sambil tertawa.

Miyuki hanya diam dan tidak berkomentar apapun.

Pasien sudah di bawa ke ruang operasi, perawat operasi sudah menanti di dalam ruang operasi bersama dengan pasien. Tak berselang lama, lima orang dokter masuk ke dalam ruang operasi. Okumura segera memasangkan masker oksigen dan memasukkan obat bius. Sawamura berdiri di sebelah kanan pasien, sementara Miyuki dan Seto berdiri di sebelah kiri pasien. Professor Kataoka berdiri di ruang pengawas beserta beberapa dokter lainnya, yang penasaran dengan penelitian Miyuki, serta dokter bedah yang ia rekrut dengan rekomndasi dua orang professor.

Asepsis dilakukan. Duk bolong terpasang. Beberapa jaringan stem cell sudah disiapkan.

"Operasi dimulai."

"Scapel."

Fujiwara memberikan pisau bedah. "Reseksi total rongga abdomen."

"Rongga abdomen terbuka. Tahan."

Kawakami maju, mengambil sampel untuk pembedahan tumor.

"Stadium II. Batas 7 sentimeter."

"Tekanan darah normal. Tidak ada kelainan dalam gas darah. Menghambat aliran darah ke bagian usus besar," info Okumura.

Sawamura dengan cepat mengambil tumor, dengan kecepatan yang luar biasa (dan Miyuki sampai sekarang masih terkagum-kagum!). "Miyuki, pasang klep di pembuluh darah di sekitar usus besar, tapi jangan sampai terkena hepar."

Hanya di dalam ruang operasilah, Miyuki Kazuya akan melakukan semua perintah Sawamura tanpa banyak bertanya.

"Memotong tumor. Aku butuh pisau bedah yang lebih tipis."

Perawat mengganti pisau bedah. "Jaringan sel punca."

Perawat membawa sebuah jaringan yang sudah disediakan. Sawamura menatap Okumura. "Okumura-san, lancarkan aliran darah ke jaringan usus."

Okumura Koushuu terdiam dan menatapnya. Miyuki Kazuya hampir membentaknya, dan sisanya menganggap Sawamura orang gila. Bahkan, ruang pengawas ribut karena pernyataan Sawamura.

"Apa?" tanya Okumura, seolah dia tidak mendengar dengan baik.

"Kau tahu apa yang kau lakukan? Itu bisa mengakibatkan perdarahan masif," kata Miyuki.

Seto menatap dokter bedah asing itu dengan pandangan bertanya, tetapi ia tidak mengomentari apa-apa.

"Perawat, siap-siap untuk mengguyur pasien dan minta tambahan kantong darah sebanyak 20 unit," perintah Sawamura.

"Sawamura Eijun!" kata Miyuki meninggikan suaranya. Sawamura menatapnya. Tatapan dari bola mata emas itu sangat dalam dan menancap, seperti pasak besi. Miyuki Kazuya tahu artinya, bahwa kalaupun semua yang ada di ruang operasi ini menentang, Sawamura akan tetap melakukannya.

"Miyuki-sensei," desak Seto. Semuanya menatap ke arah Miyuki yang sedang bertatapan dengan Sawamura. Mereka berdebat dalam tatapan.

"Saat ini pemimpin operasi adalah dokter Sawamura. Lakukan semua perintahnya." Akhirnya Miyuki mengatakan hal itu. Okumura menatap Sawamura langsung ke mata, dan ternyata bola matanya bersinar semakin terang di bawah cahaya lampu operasi.

"Melancarkan aliran darah ke jaringan usus," info Okumura sambil menurunkan laju obat.

"Tambahkan muscle relaxan," perintah Sawamura. Okumura mengangguk dan menambah dosis obat tersebut.

Sesuai ketakutan, darah yang awalnya di hambat, mula mengalir, seperti air yang mengalir melalui pipa yang bocor.

"Penanaman sel punca."

Seolah tidak terganggu, Sawamura menjahit dengan tenang dan teliti setiap jaringan yang baru. Sesekali ia memberikan perintah pada perawat dan asisten.

"Tekanan darah menurun, 40/30," ujar Okumura.

"Naikkan kadar kalsium," perintah Miyuki. Sawamura sedang berkonsentrasi penuh, ia sama sekali tidak mendengar apapun saat ini. Perawat menyeka keringatnya. Okumura mematuhinya.

"Tingkatkan laju pemasukan cairan," perintah Sawamura. "Penanaman sel sudah selesai." Miyuki bernapas sedikit lega.

"Oke. Sekarang menutup rongga abdomen."

.

Miyuki Kazuya menemui Professor Kataoka setelah operasi selesai.

Ruangannya dingin dan hari ini Kataoka membuka jendela di ruang kerjanya agar angin bisa membantu sirkulasi udara. Bau rokoknya jadi tidak begitu menyengat.

"Aku melihat operasi tim mu tadi," katanya. Tentu saja Miyuki tahu hal itu. Kataoka pasti akan datang ke semua operasi Miyuki, karena professor Kataoka sebagai penanggung jawab penelitian. "Yang dilakukan oleh Sawamura itu sangat berbahaya dan berisiko," katanya. Lagi-lagi, Miyuki sudah tahu apa yang akan dikritik. Kepalanya sudah sakit sejak operasi karena harus memikirkan jawaban agar penelitiannya tidak dihentikan akibat ulah Sawamura. Kenapa ia susah sekali dikendalikan?

Miyuki menarik napas sebelum menjawab. "Professor, saya yakin apa yang dilakukan oleh dokter Sawamura sudah benar. Kalau kita melihat dari segi fisiologis tubuh dan prosedur operasi dimana aliran darah dihentikan ke jaringan yang dibedah, maka untuk sementara akan terjadi iskemia. Dengan mengalirkan darah ke jaringan, maka iskemia tidak akan terjadi. Dan hal itu berarti, jaringan baru yang ditanam juga memiliki kemampuan untuk berkembang dan metabolisme lebih baik dibandingkan dengan jaringan yang iskemia. Dokter Sawamura sudah memperkirakan hal ini dan semuanya dilakukan dengan pertimbangan matang," jelas Miyuki.

"Kalian berbedat di ruang operasi tadi."

"Saya akan menegur Dokter Sawamura agar lain kali membicarakan hal sepenting ini sebelum operasi," jawab Miyuki. Ia berusaha tidak menggeretakkan giginya karena kesal. Dia harus bersikap tenang sekarang. Kataoka tidak berbicara apapun, mungkin mempertimbangkan alasan dari Miyuki. "Apa ada hal lain, professor?" tanya Miyuki lagi.

Kataoka menggeleng. "Kau sudah boleh keluar, Miyuki."

.

"Kau tidak mendampingi Miyuki Kazuya menemui pasien?" tanya Okumura di ruang istirahat. Mereka meminum cola dingin yang dibeli oleh Takako.

Sawamura menggeleng. "Pasien yang sudah tidak berada di ruang operasi, sudah bukan milikku lagi. Sekarang giliran Miyuki Kazuya yang bersinar," katanya.

"Di mana kau kenal dengan Miyuki Kazuya? Apa kalian dulu satu universitas?" tanya Okumura penasaran.

"Dia datang begitu saja ke rumahku, memintaku untuk menjadi bagian tim ini," jelas Sawamura. Ia tidak pernah berbohong.

"Tindakanmu tadi sangat berisiko. Mungkin sekarang konsultan itu sedang mati-matian membelamu di hadapan professor Kataoka," kata Okumura lagi.

Sawamura juga sudah menduga hal itu, tetapi peduli apa dia. Itu kan urusan Miyuki Kazuya. Sawamura akan tetap menjalankan prosedur operasi sesuai dengan kepercayaan dirinya. Dan dia sangat percaya diri.

"Dan teknikmu. Teknisi anestesi nyaris tidak bisa mengikuti iramamu," komentar Okumura.

Sawamura sudah sering mendengar hal itu. Para dokter anestesi mengeluh soal iramanya yang terlalu cepat, sehingga Sawamura kadang harus mengalah dan menyesuaikan tempo. Padahal nyawa pasien tidak bisa mengikuti iramanya. Nyawa pasien digiring oleh irama bernama kematian.

"Tapi kau bisa kan? Karena itu Miyuki menunjukmu."

"Mungkin. Kalau operasi ini berhasil dan lanjut ke kasus kedua, aku akan berusaha. Itu tugas dokter anestesi."

.

Massachusetts sudah mulai terasa hangat, meskipun baru bulan April. Mahasiswa yang belajar seperti orang kesurupan, para dosen dan professor yang mengajar seperti robot yang di setting tidak akan berhenti, Universitas Harvard bukanlah tempat yang cocok bagi orang-orang yang hanya berbekal mimpi. Mental sekuat baja saja kadang bisa hancur tanpa sisa.

Perpustakaan adalah tempat nongkrong favorit mahasiswa di sini, dari mulai diploma sampai pejuang untuk meraih gelar doktoral. Di salah satu sudut perpustakaan, menghadap jendela, sambil menikmati keindahan yang kejam dari Harvard, ponselnya bergetar. Awalnya dia enggan mengangkat, karena membuyarkan konsentrasinya yang sedang serius. Namun, begitu melihat nama penelepon, ia jadi tidak bisa kalau tidak mengangkatnya.

"Ada apa Miyuki?" tanyanya.

"Aku baik. Kau sendiri? Bagaimana penelitianmu? Apakah kau mewujudkannya?" tanyanya lagi.

"Menunggu turun ethical clearance. Aku pasti akan mewujudkannya dan mengejarmu!"

"Kau masih sangat ambisius. Syukurlah itu tidak berubah. Jadi, ada apa meneleponku?"

"Aku ingin memberitahu bahwa aku merekrut seorang dokter bedah untuk kepentingan penelitianku."

"Dokter bedah?"

"Iya, rekomendasi dari professor Kataoka dan professor Sakaki. Jadi, aku hanya ingin memberitahumu bahwa untuk sementara, sampai penelitianku selesai, dokter itu akan ditempatkan di departemen bedah dan kegawatdaruratan. Departemenmu."

"Apa dia hebat?"

"Dia dokter perang di Afghanistan. Baru-baru ini aku mengujinya. Ia sangat handal."

Entah mengapa, cengkraman di ponsel itu menguat. Perutnya terasa terlipat dan ususnya terbalik. Jantungnya mendadak berdetak jauh lebih cepat. Ia memaksakan diri untuk tetap tenang dan suara yang tidak bergetar.

"Siapa namanya?"

"Sawamura Eijun. Kalau kau kembali ke Jepang, aku yakin kau tidak akan bosan dengannya."

Takdir apa lagi yang sedang bermain di sini? Apa sudah tidak cukup semua ini? Ia sudah pergi begitu jauh untuk melupakan nama itu. Ia menghabiskan tahun-tahunnya untuk belajar mati-matian dan menenggelamkan diri ke dalam sibuknya dunia penelitian di universitas ini. Dia kira, dengan seperti itu memori itu akan hilang dengan sendirinya. Masa lalu akan menjadi ampas tidak berarti.

Namun, ia salah. Ternyata, hantu-hantu dari memori itu masih terus menerornya. Kini, ia kembali menerornya sekaligus membuatnya terpojok dan tidak bisa berkutik. Memori itu sudah hampir lebih dari 6 tahun, tetapi ia masih mengingat detailnya seperti baru terjadi 5 menit yang lalu. Ironis sekali, karena justru ia semakin mengingat ketika berusaha melupakan.

"Senpai?"

"Ah ya. Aku masih di sini," katanya setelah bangkit dari keterkejutannya. "Oh ya Miyuki, aku akan pulang ke Jepang 3 minggu lagi."

.

"Professor Kataoka memaafkanmu," kata Miyuki. Ia baru selesai praktek lalu visit. Miyuki Kazuya sudah menanggalkan jas putihnya dan dasinya sudah disimpan ke dalam tas kerjanya. Ia pasti mengalami hari yang berat sekali.

"Pasien bagaimana?" tanya Sawamura. Jidat Miyuki berkedut-kedut mendengar pertanyaan acuh tak acuh dari Sawamura. Di saat ia sedang mati-matiian membela dokter serampangan di depannya, si biang kerok malah memikirkan hal lain.

"Kondisinya stabil. Aku meresepkan morfin sampai jahitannya tidak begitu bengkak lagi," ujar Miyuki kasar.

Sawamura justru tidak peduli pada kondisi Miyuki. Ia justru menarik napas lega karena si pasien tidak kenapa-napa. "Kapan akan di MRI lagi?" tanya Sawamura.

Miyuki menggebrak mejanya. "Itu urusanku! Urusanmu hanya sampai di meja operasi," katanya kasar. Hari ini ia dibuat sangat lelah dan semuanya karena dokter bedah yang ia bela di depan professor Kataoka.

Sawamura akhirnya mengalah. "Baik, baik. Terserah kau saja, Miyuki-sensei," katanya. Bukannya memperbaiki suasana, tetapi Miyuki malah dibuat semakin marah.

"Kau sadar tidak apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak mengikuti prosedur operasi?" Miyuki bertanya kasar.

"Jawabanku sama dengan jawaban yang kau berikan untuk professor," jawab Sawamura tenang. Miyuki tampak ingin memukulnya dan menghajarnya sampai mati, tetapi ia menahan dirinya.

Kau masih butuh kemampuanku.

Seolah-olah itulah pesan tersirat dari aura tenang yang dikeluarkan oleh Sawamura.

Darimana kepercayaan diri itu muncul? Miyuki selalu bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang menyebabkan dokter seperti Sawamura menjadi begitu handal? Apakah pengalamannya selama ini di negara-negara perang? Atau memang bakatnya sejak awal? Ataukah keberuntungan?

Miyuki tidak percaya pada keberuntungan. Ia berusaha keras sedari awal tanpa mengandalkan keberuntungan. Dan Miyuki yakin kalau Sawamura akan sependapat dengannya. Dokter itu sudah mengasah instingnya bertahun-tahun. Dari mulai awal perjalanannya sampai ia berada di titik ini.

Miyuki menghempaskan diri kasar ke punggung kursi. "Apapun yang kuperdebatkan, itu tak kan ada artinya untukmu kan?"

Sawamura hanya menggedikkan bahu. "Tidak. Namun, kau harus tahu bahwa aku selalu berusaha optimal untuk pasien."

Miyuki tertawa kering dan terkesan sinis. Ya, untuk pasien. HANYA UNTUK PASIEN. Kenapa Sawamura tidak bisa berjuang untuk Miyuki juga? Untuk bagian Miyuki mana? Miyuki Kazuya memungut Sawamura Eijun untuk dijadikan anjing penurut yang akan membawa Miyuki menuju kesuksesan penelitian. Seharusnya Sawamura menjilat Miyuki sampai ia tidak bisa terlihat lagi wajahnya. Harusnya seperti itu.

Namun, Sawamura tidak seperti itu. Dibandingkan membawa anjing penurut, yang dibawa oleh Miyuki seperti serigala yang sudah lama hidup di alam liar. Bergerak berdasarkan insting dan Miyuki sadar kalau Sawamura itu berbahaya. Kalau Miyuki salah langkah, dialah yang akan dimangsa oleh serigala liar itu. Untuk sejekap, Miyuki merasa takut.

"Kau harus kembali ke IGD kan? Kembalilah," kata Miyuki. Sawamura, tanpa di suruh dua kali langsung keluar dari ruang kerja Miyuki. Ia juga tidak mau lama-lama dimarah-marahi oleh si konsultan. Telinganya sudah sakit mendengar Miyuki hanya bisa marah-marah atau menyindirnya. Miyuki di mata Sawamura memang tidak ada bagus-bagusnya.

Setelah kepergian Sawamura, ruang kerja Miyuki kembali kosong dan ia memejamkan matanya yang perih dan lelah. Penelitiannya masih jauh dari kata rampung. Ia belum sampai seperempat langkah menuju gelar professor. Banyak yang harus dilakukannya sekarang. Miyuki harus terus memonitor kondisi pasien, melakukan MRI, memasukkan data dan membuat case report.

Ia juga menambahkan daftar baru di jadwalnya yang padat agar berhati-hati dengan Sawamura dan sebisa mungkin menjinakkan serigala liar itu. Namun, masalahnya Sawamura hidup seperti tanpa celah dan kekurangan. Mungkin karena ia tidak punya jabatan yang harus dipertahankan, keluarga yang diberi makan dan tunjangan, ia hidup benar-benar bebas seperti burung tanpa kelompok. Bebas terbang ke mana-mana, dan tidak bisa diancam. Mau mengancam Sawamura dengan apa? Ayahnya pemilik perkebunan sendiri dengan sertifikat tanah yang jelas. Apa yang mau disita dari situ?

Miyuki Kazuya bepikir, apakah ia juga bisa hidup sebebas itu kalau ia melepaskan posisinya di rumah sakit? Saat ini Miyuki memiliki banyak kelemahan dan celah yang sangat mudah untuk diserang. Sama seperti orang-orang di puncak lainnya, banyak sekali celah yang bisa dimanfaatkan. Mau setebal apapun baju zirah yang dipakai, orang selalu menemukan kelemahan dan kekurangannya, karena itu Miyuki selalu berhati-hati, sampai kadang ia merasa kalau ia memiliki gangguan kepribadian cemas.

Kalau ia hidup seperti Sawamura, ia tidak bisa menikmati kehidupannya yang sekarang ia jalani. Semua orang tidak akan menunduk ketika berpapasan dengannya. Semua orang akan mengangkat dagu lebih tinggi darinya. Dan yang lebih parah, ia harus membungkuk di hadapan orang yang lebih atas posisinya. Sementara, Miyuki sendiri sudah muak menunduk dalam-dalam.

Kalau ia berkelana seperti Sawamura, kedua mata Miyuki tidak akan terbuka lebar dan otaknya akan terkungkung dalam dunia sempit. Ia tidak akan tahu bagaimana perkembangan dunia medis yang terus melahirkan banyak penelitian setiap waktu. Bagaimana serunya berbedat di ruang konferensi dan bagaimana senangnya ia ketika ia berhasil menemukan sesuatu dari penelitiannya.

Tidak, ia sama sekali tidak menyesal. Justru, inilah Miyuki. Inilah perjalanannya.

.

"Perempuan 20 tahun. Pingsan sejak 20 menit yang lalu. Denyut nadi cepat, tekanan darah rendah dan keringat dingin."

Para perawat membaringkan seorang pasien di salah satu ranjang IGD. Sawamura berlari ke arah si pasien sambil mengalungkan stetoskop. "Pasien shock. Pasang infus NaCl 0.9%!" perintahnya. "Asada, lakukan ABCDE!"

A, adalah untuk Airway. "Memeriksa jalan napas. Jalan napas tidak terganggu dan tidak ada sumbatan di jalan napas."

"Lidahnya bagaimana?"

"Lidah tidak jatuh."

B, adalah untuk Breathing. "Pasien bernapas dengan normal."

C, adalah untuk Circulation. "Nadi berdenyut 130 kali per menit dan tekanan darah 90/70."

"Pasang infus di kedua tangan pasien. Pasang EKG untuk melihat apakah ada aritmia atau tidak," perintah Sawamura.

"Tidak perlu."

Dua kata itu menghentikan seluruh pergerakan tubuh Sawamura. Semua yang ada di IGD juga berhenti. "Berikan infus Dextrose 5%," katanya lagi. Perawat langsung mengangguk dan berlari mengambil cairan glukosa itu.

Sawamura masih berdiri seperti orang epilepsi abstain di depan ranjang. Suara ini... suaranya sama sekali tidak berubah, malah Sawamura selalu bisa mereka ulang bagaimana nada suara itu. Semoga salah, semoga salah...

"Ah, Kepala Departemen, Anda sudah kembali!" seru beberapa perawat. "Bagaimana Amerika? Apa Anda akan mulai praktek lagi hari ini?"

Orang itu tertawa. Sawamura mendengar tawanya yang ternyata masih sama seperti dulu. "Aku hanya ingin memberi salam pada para professor hari ini, tapi ternyata ada kasus di IGD," katanya lembut.

"Oh ya, departemen kita ada dokter baru." Tanpa sadar, tangan Sawamura dibimbing lembut oleh perawat. Saking lembutnya, Sawamura tidak kuasa menepisnya. Seandainya saja ia diseret, Sawamura punya alasan untuk berbuat kasar. Sawamura masih tidak berani melihat. Seluruh tubuhnya, tanpa disadari menggigil. Perutnya melilit dan ia seperti orang dengan panic attack. Namun, ia berusaha untuk tidak muntah.

"Ya, aku sudah dengar dari Miyuki," kata orang itu. Sawamura pelan-pelan menaikkan kepalanya, sampai ia bertemu langsung dengan tatapan orang itu. Kakinya seperti tidak bertulang lagi. "Kita bertemu lagi Eijun."

"Yuu..."

.

BERSAMBUNG

You did all that you could do
The game was rigged, the ref got tricked
The wrong ones think they're right
You were outnumbered, this time


A/N: Padahal udah rencana berhenti nyampah di fandom ini dengan Medical AU! tapi, ternyata cerita ini lahir. Ini merupakan cerita lanjutan dari VOYAGE, jadi mungkin kalian bisa baca cerita VOYAGE dulu baru ke sini, atau kalaupun tidak baca cerita VOYAGE juga tidak jadi masalah, karena tidak terlalu berhubungan.

Cerita ini gak akan saya buat terlalu banyak chapter, mungkin sekitar 2 chapter saja.

Silahkan tinggalkan jejak berupa komentar, kritik, dan saran yang terbuka bebas untuk umum tanpa syarat dan ketentuan. Atau sekedar menekan tombol favorite dan follow

Semoga para pembaca menikmati cerita ini

Salam,

Sigung-chan