Shingeki no Kyojin Hajime Isayame
Eren/Annie present [ Special Gift Valentine for You ]
Genre : Romance
Warning : Alternatif Universe, Out of Chara, Minim Deskripsi
"Seperti yang ku katakan Annie, aku merindukanmu, kita sudah berpisah cukup lama, apakah kau sama sekali tidak peduli padaku?" Annie, gadis memiliki warna rambut pirang pucat hanya pasrah ketika tubuh kecilnya di rengkuh begitu saja oleh pria berperawakan hampir dua meter ini.
"Ya, lama tidak bertemu, Bertolt. Terakhir kita saling bertukar obrolan sekitar 10 tahun yang lalu bukan?" meskipun terdengar akrab, namun nada datar dan wajah tanpa ekspresi gadis itu seakan mengatakan, 'aku risih dengan posisi seperti ini. Bisa kau lepaskan pelukan mu?'
"Ya dan kau tidak berubah, Ann. Lihat, aku bahkan hampir saja melupakan mu, kau terlalu sempurna untuk di lupakan."
"Terima kasih." kemudian Annie melanjutkan ucapannya, "Tapi um bisa kau melepaskan pelukanmu?" fakta bahwa dia kurang nyaman memang tak bisa di elakan lagi.
Laki laki yang di asumsikan sebagai teman masa kecil Annie mengkerut tidak suka, "Apa kita menganggu sesuatu di sini? aku merasa kau tidak menghargai aku setelah terbang dari Eropa untuk menemuimu, Ann."
Annie tidak menunjukan perubahan ekspresi apapun, ia hanya merasa nostalgia dan reuni dengan teman masa kecil tidak harus berlebihan, cukup dengan mengobrol dari hal yang tidak penting sampai hal penting sekalipun. Jujur saja, ia tidak pernah di peluk oleh laki laki selain ayahnya, tentu saja hal ini membuatnya risih.
"Memang menyakitkan. Kau menyuruhku datang jauh jauh ke atap sekolah hanya untuk melihat mu berpelukan dengan orang lain? jika kau berniat untuk menyakitiku, selamat, kau berhasil Annie."
Bagaikan tersambar petir ribuan volt saat itu, bagaimana ekspresi itu terlihat tidak bersahabat, ia tahu bagaimana sifat sosok berdiri di pintu memisahkan atap dan tangga tak pernah mengeluarkan nada sedingin ini, bahkan setelah ia menjahili nya sekalipun.
"E-e-eren, tunggu—" jatuh dalam image nya, tak pernah sekalipun Annie sang [ Lone Wolf ] mengeluarkan ekspresi sepanik itu. Meski agak susah, Annie akhirnya berhasil melepaskan pelukan paksa remaja jakung di hadapannya, kemudian berlari menghiraukan teriakan Bertolt meminta penjelasan yang sudah jelas bukan urusannya.
Bagi Annie, kemarahan dari kekasih nya itu adalah hal terakhir yang di inginkan oleh gadis ini. Eren, ia adalah laki laki yang sabar, bahkan beberapa kali Annie menjejalkan tendangannya membawa Eren terbang dalam adu tanding bela diri, Eren hanya mengumpat kesal (jelas tidak serius) dengan wajah menurut Annie, um bodoh.
"E-eren. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" laki laki memiliki tinggi badan sedikit lebih unggul dari gadis itu tidak bergeming. Annie meremas tangan Eren untuk menguatkan hatinya, "Orang idiot pun pasti berpikir apa yang ku rasakan. Kau mungkin tidak nyaman denganku, aku memaklumi nya, aku memang bukan siswa populer hingga kau melakukan ini, aku tak menyalahkanmu."
"Itu tidak benar, bagaimana kau bisa berpikir sekejam itu?" rencana yang awalnya ingin mengajak Eren untuk merayakan hari jadi atas hubungan mereka yang ke satu tahun, berbuah menjadi hari di mana Annie menghancurkan kepercayaan warna dalam kehidupannya beberapa tahun ini.
"Annie!" gadis itu tidak bergeming sedikitpun, bahkan setelah mereka menjadi bahan perhatian seluruh murid sekolah, Annie benar benar tidak peduli, "Ingat kata kata ku dulu? ketika aku mengklaim dirimu sebagai milik ku?" dengan keberaniannya, ia menatap dua pasang mata yang ia kagumi itu berkaca kaca.
"A-aku... "
Ingin sekali Annie mengeluarkan seluruh air matanya melihat senyum tanpa beban dari Eren seakan mengatakan, 'semua akan baik baik saja'. Ia menggelengkan kepalanya, Annie harus berani, ia tidak ingin kesalahpahaman ini berujung bad story.
Eren menepuk pelan surai pirang keemasan gadis itu, "Semua kebahagiaan mu adalah tujuan hidupku saat ini, Ann. Aku tidak peduli dengan apapun, selama kau bahagia itu sudah lebih dari cukup untuk ku. Kau menyukainya, mungkin sedikit menyakitkan, tapi aku akan... "
"Diam!"
"!"
Eren tersentak, ia tidak menyangka Annie akan mengeluarkan nada sedingin itu di saat ia hampir saja mengalirkan air matanya. Memang bukan hal baru bagi Eren jika seorang [ Lone Wolf ] terkenal di sekolahnya bukan kepribadian yang baik, ia dingin kepada siapapun, bahkan kepadanya. Eren lebih tahu dari siapapun di sekolah ini, sulit berinteraksi kepada sesama membawa Annie untuk melepaskan semuanya dengan cara ia sendiri.
"Kau yang tak tau apapun, kau tak tau apapun tentang ku Eren. Kau hanya melihat tanpa memberikanku kesempatan untuk berbicara, bagaimana kau bisa berpikir untuk memutuskan hubungan jika kau tidak tau apapun, aku—aku..."
Bibirnya bergetar singkat, air matanya yang ia usahakan untuk tidak keluar justru berkhianat membuat seakan Annie adalah gadis lemah hanya di hadapan Eren, "Bagaimana aku bisa hidup tanpa mu? Eren bodoh! kau bahkan tidak mempercayaiku, apa artinya kepercayaan ku padamu?" detik terus berjalan hingga memakan waktu beberapa puluh detik, namun Annie belum mendapatkan jawaban apapun untuk membuat hatinya lega.
Namun tak berlangsung lama ketika Annie menyadari sesuatu dari perubahan sikap Eren berikutnya.
"Pffft~~"
"Eh?"
Gadis itu mengeluarkan pekikan aneh, ia mengkerut melihat ekspresi menyebalkan dari Eren membuat rona merah memenuhi wajahnya yang datar, semua perasaan yang muncul jika bersama Eren muncul secara bersamaan.
Eren menjulurkan lidahnya sendiri dengan air mata geli menumpuk di ujung matanya, "Mana mungkin aku memutuskan hubunganku semudah itu, dasar bodoh."
"Apaan?"
Eren mendorong kening Annie menggunakan jari tengah dan telunjuknya, "Annie, wajahmu! menyenangkan!"
"Kau mengerjai ku? lalu bagaimana dengan kesalahpahaman ini?" meskipun ada sedikit rasa kesal, malu, lega, tapi tetap saja ia masih bingung bagaimana mendeskripsikan perbuatan Eren hari ini.
"Haha mana mungkin aku cemburu bodoh! yang benar saja aku meninggalkan permata ku, dengar ya Ann, aku sudah mengenalmu lebih dari 5 tahun, kita berempat bersama Mikasa dan Armin selalu bersama, bodoh sekali jika aku tidak mengenalmu!"
Bagaimana ia rasakan, ini benar benar sungguh menggelitik hatinya, jarang sekali ia mendapatkan momen untuk menjahili sang [ Lone Wolf ] selalu serius setiap saat, bagaikan karma atau semacamnya, setiap kali ia memberikan pelajaran yang berharga untuk Annie, entah kenapa Eren lah yang terlebih dahulu jatuh.
"Eren!"
"Wajah mu Ann, wajahmu!" Eren mundur beberapa langkah, ekspresi ngeri terpancar di wajahnya plus keringat dingin membawa dampak ke daerah sekitar, semua murid bahkan menjauh dari sana mendapatkan sebuah alarm berbahaya yang menyuruh mereka untuk mundur.
Bahu Annie bergetar, aura suram jelas sekali membawa Eren kepada rasa takut melebihi apapun.
"Makan ini!"
"An—Whoaaa aduh."
Karakter [ Lone Wolf ] memang pantas untuk Annie. Dalam sekali kibasan, keseimbangan remaja laki laki itu bahkan terjatuh membawa wajah Ikemen Eren menyentuh tanah terlebih dahulu.
"Bisakah kau bersikap lembut padaku, Ann?" Eren meringis pelan merutuki nasib wajahnya, "Temani aku besok seharian, atau tidak sama sekali." ucap Annie tak kalah datar dari lantai yang mencuri ciuman pertama dari kekasihnya itu.
"Baiklah baiklah, maafkan aku." semua tak akan terjadi jika Eren tidak melakukan kesalahan dengan mengusik serigala penyendiri itu bukan?
.
.
.
"Guten Morgen, meine Liebe (selamat pagi, cintaku)." Annie Leonhart membanting pandangannya ke kanan dan kiri mengabaikan Eren masih tersenyum lembut, "Maaf, apakah kau berbicara kepadaku?" nada datar yang khas tersebut membawa kekehan pelan dari mulut Eren.
"Jika pintu di belakang mu Annie Leonhart, mungkin aku sedang menyapanya." Eren mengulurkan tangannya, "Sejak kapan kau berdiri di depan pagar rumahku? apa kau sangat bersemangat hari? kau bisa tertangkap oleh keamanan dengan kebiasaan mu seperti stalker, Eren!" gadis itu menerima uluran tangan Eren kemudian berjalan kearah mobil Mercedes hitam gelap yang terparkir menghalangi sebagian jalan di Cluster tersebut.
"Dan menyapaku menggunakan bahasa Jerman, oh hebat, sedangkan kita berdiri dan bernafas di tanah Russia." Eren memberikan jalan untuk Annie dengan membuka pintu mobilnya bagaikan Butler profesional.
Ia tersenyum lebar dengan membusungkan dadanya, "Mungkin hanya Romeo dan Juliet membawa cinta mereka ke dalam kematian, namun aku, Eren Yaeger, berjanji demi kecantikan Dewi Aergia, akan ku bawa cinta dan kasih sayang ku padamu menuju ke pelaminan, sayang." walaupun beberapa orang berlalu lalang mengakhiri aktivitas mereka sore ini, tak satupun alasan untuk membuatnya malu dengan apa yang sudah ia katakan barusan, bahkan dengan keberanian tidak main main, ia mengecup lembut punggung tangan Annie menciptakan rona tipis di kedua pipi gadis itu.
"Kau baru saja bersumpah pada Dewi yang salah, Eren. Aku berani bertaruh, nilai sejarahmu pasti di bawah rata rata." tak ada perempuan manapun tidak mabuk asmara di perlakukan layaknya putri kerajaan, apalagi jika pelaku yang membuat ia melayang adalah pria sangat kau cintai. Namun sejujurnya inilah yang di rasakan oleh Annie, ia bingung mau berekspresi apa, bahkan karena kebingungan itu, Annie harus membuang muka ke arah manapun yang penting jangan wajah Eren, itu membuatnya malu dan ingin menjerit kegadisan sekarang juga.
"Aku pikir Dewi Aergia adalah Panutanku." Eren mulai berdiri, namun belum memiliki niat untuk ke pintu kemudi, "Kau dan malas mu itu Eren. Perlu aku jelaskan bahwa Dewi Aergia adalah Dewi kemalasan, sedangkan Cupid melambangkan cinta dan kasih sayang, tau kah Eren. Dewa cinta Mitologi Yunani ini merupakan salah satu symbol Valentine Day 14 Febuari ini?"
"Terima kasih pengetahuannya, tapi cukup, entah kenapa pembicaraan ini membuat kepalaku agak panas ya." Annie mendengkus, bisa di bilang, salah satu kelemahan bagi Eren adalah menghafal, meski dalam hal menghitung kekasihnya bisa di andalkan. Tapi ia memaklumi itu, karena menurutnya setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan masing masing.
.
.
.
"Aku sudah makan tadi, boleh aku melewatinya?" berdiri di sebuah bangunan Classic khas Eropa, Annie memandang aneh sekelilingnya, tempat makan berbintang yang menyajikan berbagai makanan Eropa kelas atas.
"Dengan?"
"Susu dan roti gandum." Eren tersenyum lebar, "Maka kau tidak bisa menolak kali ini."
"Kenapa?" bagi Annie, hanya dengan susu dan roti gandum sudah cukup untuk bisa menahan lapar sampai malam tiba. Pundak gadis itu bergetar pelan, "Kenapa kau tidak memberitahuku, bodoh! aku bisa menolak makanan apapun jika itu bisa makan bersamamu."
"Kau tidak tanya." yang selanjutnya terjadi adalah sikap yang membuat Annie untuk tidak menendang pantat kekasihnya itu, ia bahkan mengepalkan tangannya melihat wajah innocent tak bersalah dari Eren seakan mengejeknya dari dalam.
"Jika perutmu tidak sanggup, kita bisa memesan satu porsi berdua." bohong jika Annie tidak mati matian menahan untuk segera pergi dari resto ini. Eren, laki laki itu entah kenapa Annie merasa tidak mempunyai harga diri sedikitpun, ia selalu bersikap konyol di manapun berada.
Annie memeluk lengan kekar Eren, "Kau yang traktir ya?"
"Eh sungguh sepiring berdua?"
"Ya tidaklah bodoh." umpat kesal gadis itu membuat Eren tertawa lucu. Ia selalu menikmati setiap detik bersama cintanya, mengenal Annie adalah anugerah terindah dalam kehidupannya, bahkan ia tak pernah bosan untuk tidak bersyukur kepada siapapun yang memberikan takdir seindah ini.
Ia tidak peduli dengan pandangan orang lain mengenai Annie, ia sudah mengenal Annie lebih lama dari siapapun yang menganggap Annie buruk. Annie bagi Eren adalah perempuan kikuk anti sosial yang selalu menjatuhkan keseimbangan nya jika ia merasa kesal dan membutuhkan sebuah pelampiasan, ia tak pernah marah atau pun membalas perbuatan Annie meskipun Mikasa, sepupu jauh keluarga Yaeger selalu saja membawa pengaruh buruk kepada mental Annie. Mikasa membela dirinya, namun justru ia menolak semua perhatian dari Mikasa.
Satu satunya keinginan Eren Yaeger untuk saat ini dan selamanya adalah, menjadi orang paling sering melihat senyuman menawan permata dalam kehidupannya baik duka maupun suka, ia tahu tak ada cinta sejati, semua hanya permainan yang berakhir tergantung bagaimana player memilih keputusannya, ini tidak terlalu berbeda dari Game Visual Novel yang sering Eren mainkan di waktu kosong. Tapi seenggaknya ia mengerti, bahwa cinta bukan sarana untuk bersenang senang, bukan untuk melampiaskan hasrat mereka, tetapi menunjukan bahwa cinta dan kasih sayang bukan hanya sebuah rumor belaka.
Eren bukanlah remaja dengan keromantisan level buaya, semua kata kata pujian yang ia berikan untuk Annie merupakan kejujuran isi hatinya. Sebuah kata kata romansa manis berujung duka sangat tidak Eren sukai, apalagi kebanyakan dari mereka mengcopy di Internet.
"Eren, kau lihat apa?" Annie memiringkan kepalanya bingung, sejujurnya ia sedikit malu menjadi satu satunya objek tatapan tanpa berkedip seakan Eren sudah mengklaim dirinya untuk ia sendiri.
Nampaknya dewi Fortuna berpihak pada Eren karena pengunjung tidak terlalu ramai dan ia bebas memilih tempat duduk senyaman mungkin untuk mereka berdua. Eren tersenyum kaku, "Tak ada, Ann. Jadi? mau pesan apa?" Annie mengangguk, mata lentiknya bergerak dari atas ke bawah, sedangkan jari telunjuk bergerak searah dengan pandangannya.
Lambaian tangan Eren di sambut ramah oleh pelayan resto itu, "Falscher hase untuk satu porsi, dan—"
"Falscher hase, tolong samakan dengan orang ini, terima kasih." kemudian sang pelayan mencatat menu sarapan untuk kedua tamunya, "Ada lagi?"
Eren menatap Annie, seakan mengerti dengan tatapan itu, ia mengangguk pelan, "Ah dua gelas Apfelsaft, tolong jangan terlalu manis."
Pelayan itu mencatat pesanan lagi sambil mengucapkan, "Dua Falscher Hase dan dua Apfelsaft segera di sajikan, mohon tunggu sebentar." ucapnya sambil berlalu dengan seulas senyuman profesional.
"Apa ini hanya kebetulan atau memang kau meniruku?" Annie menatap Eren masih membolak-balikan buku menu, "Tidak ada yang kebetulan, aku memang merindukan Jerman saat ini. Bagaimana dengan mu?" kekeh pelan Eren.
"Sedikit, lagipula bagaimana kau mengetahui minuman favorite ku?" tanya Annie, "Semua aku tahu tentang mu, Ann. Kau suka makanan manis dan berlemak, kau tidak takut tubuh mu mengembang tak terkontrol?"
"Apa maksudmu, kau tidak menyukai ku jika suatu hari berat badan ku naik?" Annie memincingkan matanya, namun dengan cepat Eren membalas menghindari kesalahpahaman tentang kesensitifan wanita, "Tidak sama sekali, kau sudah sempurna, Ann. Agak kejam rasanya kau berprasangka buruk tentang ku?" Eren tertawa lembut.
Annie memutar matanya, "Mengerikan, sedangkan kemarin kau meragukan kepercayaanku!"
"Ayolah, aku sudah minta maaf hingga tengah malam tadi." Eren menghela nafas panjang, "Tapi tak apa kok, jujur, membayangkan nya saja sudah membuatku sakit, Eren!" tidak ada yang lebih di takutkan oleh Annie selain kemarahan Eren melebihi apapun, memang ia tak pernah melihat seorang Eren Yaeger murka, tapi fakta mengatakan bahwa marahnya orang sabar jauh lebih mengerikan dari kemarahan siapapun masih berlaku hingga abad ini.
Ia tersenyum, "Sesuai janjiku, Ann. Aku akan mengikuti kemanapun kau pergi dan apapun maumu, bukankah aku pernah bilang bahwa aku sangat ingin menjadi laki laki paling sering melihat senyumanmu?"
Gadis itu terdiam, tangan lentiknya masih bermain main di buku menu sedangkan ia masih termenung dengan kata kata itu. Memang ia sering mendapatkan 'gombalan' dari Eren kapanpun mereka bertemu, namun tetap saja, ia akan selalu seperti ini dan tak tau harus berkata apa untuk membalas selain mengatakan 'Eren bodoh!' untuk menutupi ekspresi yang selama ini membatasi Annie kepada Dunia luar.
"Eren, pernah kah kau berpikir bagaimana kau di mataku? apakah kau memiliki rasa penasaran untuk mengetahui segalanya?" Annie bermonolog ringan, "Tak pernah. Aku tahu kau menyimpan segalanya, mungkin aku akan tau suatu hari nanti."
Tak lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang, kedua remaja SMA berbeda gender itu mulai menikmati makanan mereka masing masing tanpa suara hingga Eren membuka sesi tawar menawar, "Mau mencoba punyaku?"
"Kita memesan dua menu yang sama, Eren. Tak ada yang berbeda meskipun aku mencobanya." ucap Annie, kemudian memasukan potongan daging cincang makanan khas Jerman itu kemulutnya, "Tentu saja ada. Aku menyuapimu, semua akan terasa berbeda, bukalah mulutmu sayang!" meskipun beberapa kali Annie sudah menolak, tetap saja laki laki itu terlalu egois untuk mengalah.
Kedua bola mata indah keturunan Leonhart itu bergerak random ke segala arah, ia bersikap malu malu kucing justru membuat Eren menahan gejolak untuk tidak mencubit pipi kekasihnya itu. Hanya dengan Eren lah Annie bebas melakukan apapun yang ia inginkan, bebas berekspresi tanpa merasa di Kekang oleh masa lalu keluarganya.
"Hei Eren, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? aku ingin kau menjawabnya dengan jujur, bisa kah?" ucap Annie memainkan pisau dan garpunya, matanya tidak fokus ke acara makan malam, justru entah kenapa ia sama sekali tidak menikmatinya.
Ia masih memikirkan kejadian kemarin...
Lagi lagi Eren tersenyum untuk membuat Annie merasa lebih rileks, "Aku tahu kita sudah dekat selama 5 tahun dan satu tahun yang lalu kita meresmikan hubungan lebih jauh dari sekedar sahabat. Kau tahu bukan masalah hidupku? kita bagaikan langit dan bumi. Sejak satu tahun yang lalu, aku memikirkan rencana konyol sang pencipta mengenai hubungan kita, aku sungguh tidak mengerti, bagaimana kau menerima ku di sisimu, aku semakin tidak mengerti ketika kau melindungiku di saat seluruh sekolah justru menganggap ku sebagai serangga. Aku takut jika pada akhirnya hubungan ini membawa dampak tidak mengenakan antara dua keluarga, lebih dari itu, aku tahu tak ada cinta sejati, Eren, semuanya omong kosong bukan? jadi katakanlah padaku, Eren. Kau mencintaiku atas dasar apa?"
Eren diam mendengar itu, "Kau ingin tau apa yang ada di pikiranku mengenaimu bukan? maka dari itulah aku akan menjawabnya sekarang, Eren." Annie menarik nafas cukup panjang, air matanya mulai mengalir di sudut mata indahnya, "Di mataku, kau hanyalah pria bodoh berujung idiot, menyebalkan, selalu merecoki kehidupanku, selalu selalu selalu membuatku merasa nyaman berada di sisimu. Kau pria bodoh tanpa izin mencuri seluruh perhatianku hanya untukmu, aku membenci Eren Yaeger, aku membencimu!"
Ia mengabaikan seluruh pengunjung resto menatap mereka aneh, Annie tidak peduli, ia harus memastikan sesuatu di sini. Annie takut berpisah dengan Eren tapi lebih baik di banding menjalani hubungan dengan dusta, ia tak tau apa apa dengan hati manusia, hatinya untuk Eren masih sama tak ternodai apapun, namun apakah Eren juga sama?
Sebenarnya Annie tidak mau mengungkit masalah kemarin, namun hatinya benar benar gundah dalam semalam, ia takut jika semua perbuatan Eren kemarin adalah tindakan atas kemauan Eren sendiri.
"Eren, apakah kepura puraan mu kemarin, hanya karena kau merasa kasihan kepadaku? seorang gadis menyedihkan tanpa teman, bahkan di sekolah pun tak ada yang menyapa karena memang gadis itu tidak pernah di anggap ada, katakan sesuatu Eren, apa kau merasa kasihan padaku?"
Sudah cukup dengan ini semua! mungkin ia memiliki fisik menyamai laki laki bahkan melebihinya, namun tetap saja ia adalah seorang gadis labil, rapuh pada beberapa bagian, ia akan merasa sakit jika hatinya di lukai, semua normal, ia gadis normal, tapi kenapa? semua orang menjauh hanya karena ia berbeda? apa ini adil?
Tidak perlu banyak bicara panjang lebar. Eren menarik tempat duduknya, ia pergi tanpa satupun suku kata pun meninggalkan Annie sendiri, masih menunduk bahkan sama sekali tidak berniat untuk mengejar laki laki itu.
Ini keputusannya, sakit memang, tapi ia harus berani mengambil keputusan jika ingin semua baik baik saja.
Pada akhirnya yang ia takutnya memang benar, ia tak bisa menolak jika besok, atau bahkan sekarang mendengar keputusan sepihak untuk mengakhiri hubungan mereka tercetus dari mulut Eren.
"ANNIE LEONHART! AKU TIDAK PEDULI PANDANGANMU TENTANG KU! TIDAK PEDULI SEBURUK APA KAU PADA PANDANGAN MASYARAKAT, KAU ADALAH KAU, GADIS JUTEK MENYEBALKAN SELALU MENENDANG KAKIKU SAAT MOOD MU BURUK, CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR UNTUKU."
Bukan hanya Annie, bahkan seluruh Staff Resto dan pelanggan kebetulan mulai sedikit ramai mengalihkan pandangan mereka ke arah lantai dua terdapat pemuda 18 tahunan berteriak bagaikan orang kesetanan, seakan tidak peduli dengan sekitarnya, ia tersenyum maniac tanpa beban apapun.
Eren kembali mengambil nafas dalam, "NAMAKU EREN YAEGER, MURID KELAS 3-3 MOSKOW HIGHSCHOOL ACADEMY. TANGGAL 14 FEBUARI 20XX, DENGAN INI MENYATAKAN KEPADA SELURUH DUNIA BAHWA AKU SANGAT SANGAT SANGAT SANGAT SANGAT MENCINTAI ANNIE LEONHART BESERTA SELURUH KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA, TAK ADA SIAPAPUN ATAU APAPUN UNTUK MEMISAHKAN CINTA KITA, TIDAK PEDULI DUNIA BERUSAHA MEMISAHKAN KITA. AKU BANGGA DAN YAKIN BAHWA, AKU MEMANG BENAR BENAR MENCINTAI ANNIE LEONHART, KAU DENGAR, ANN? KAU TIDAK BISA MENOLAK APAPUN JIKA AKU TIDAK PEDULI DENGAN ORANG LAIN, AKU MEMPERCAYAIMU BUKAN KARENA INGIN, TAPI KARENA AKU HARUS MEMPERCAYAIMU."
Tidak ada yang bisa menghentikan tingkah konyol Eren, bahkan beberapa dari para pengunjung mengabadikan momen tersebut sebagai Video.
"Happy unniversary and Happy Valentine Day, Annie. Aku tidak bisa memberikan mu coklat atau hal hal berbau romantis lainya, namun dengan ini, bolehkah aku menjadi yang pertama di kehidupanmu? ini hadiah Valentine dariku, Ann. Tolong terima lah." sebuah cincin emas dengan permata merah delima menjadi bukti kuat, betawa seriusnya Eren mengungkapkan semua isi hatinya kepada dunia.
"Apa yang kau lakukan? dasar bodoh, kau membuatku malu tau." sang surai coklat membanting pandangannya ke belakang, sebuah senyum terindah selain milik ibunya dan mata yang berkaca kaca, wanita muda itu berlari kecil menyambut uluran pelan pujaan hatinya dan menghirup aroma parfum pemilik surai coklat tanpa malu seperti sebelumnya.
"Aku tidak berjanji untuk menjaga senyum mu selamanya, Annie. Namun aku memastikan bahwa kau harus tetap tersenyum setelah berjalan di sampingku ok?" Eren menyematkan cincin itu di jari manis Annie membuat gemuruh tepuk tangan pecah dalam kebahagiaan yang di rasakan [ Lone Wolf ] untuk pertama kalinya, "Aku, Annie Leonhart berjanji untuk seluruh sisa hidupku untuk menemani Eren Yaeger sekarang dan selamanya."
"Ini hadiah Valentine terbaik, Eren. Aku bahagia, aku bahagia."
"Aku tahu, Annie, aku tahu."
"Kebahagiaan Valentine tak harus dengan sebuah makanan manis, cukup dengan satu hal yang berharga maka hari itu adalah hari terbaik dalam satu tahun."
End.
Aku gak tau ini bakal kena atau enggak ya senpai, aku gak bisa buat cerita Romance jadi seadaanya dulu deh.
Ini Fanfic Event FI tema Valentine, aku berharap bisa meramaikan Event ini semampuku meskipun enggak yakin sih (Lol :v). Grub Chat Fanfiction Indonesia masih terbuka lebar untuk Author ataupun Reader untuk belajar dan berbagi cerita, silahkan PM Founder Grub ini jika minat untuk gabung ya, Senpai
Sampai jumpa
