Disclaimer: Naruto dan Love Live Sunshine bukan punya saya.
Kanan berjalan menuju kelasnya, dia membawa sebuah buku yang berada dipelukannya. Gadis cantik berambut biru itu terlihat senang pada hari itu, dia akan bertemu dengan orang yang disukainya saat berada di kelas.
"Senpai! Aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?"
Langkah kaki Kanan terhenti, dia mendengar sebuah ucapan pernyataan rasa suka pada seseorang.
"Um, bagaimana ya?"
Kali ini ia mendengar suara lelaki yang sangat dikenalnya, sosok yang sangat disukainya. Gadis itu kemudian bergerak mendekati arah suara tersebut, lalu mengintipnya dibalik tembok, gadis dengan Iris Violet itu terkejut dengan sosok pemuda berambut pirang yang tengah tersenyu kikuk dengan wajah merona, di depan pemuda itu ada gadis dengan rambut Indigo sedang memenjamkan matanya menunggu jawaban yang diberikan oleh Naruto.
Kedua matanya menggelap, ia menggigit bibir bawahnya saat melihat orang yang disukainya itu tengah berhadapan dengan Kouhai populer di sekolah. Gadis itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua, menuju ke kelasnya. Dia sudah tak peduli jika pemuda itu menjadi kekasih dari gadis tersebut.
Beberapa saat berlalu, Kanan tak bisa fokus dengan pelajaran yang dijelaskan oleh gurunya, dia tak menyangka kalau masalah kecil itu bisa sampai membuat dirinya tak bisa menyerap pelajaran yang ada, dia terus memikirkan kejadian tadi pagi.
Bel sekolah berbunyi, pelajaran berakhir dan semua murid dipersilahkan untuk pulang setelah Guru mengucapkan salam. Semua murid pergi keluar kelas, sementara Kanan masih membereskan buku-buku yang ada di atas meja.
Gadis itu mendengar suara langkah kaki yang mendekati dirinya. "Kanan-chan, aku akan kerumahmu untuk memberikan catatan yang ditulis oleh Kurenai-sensei tadi." Kanan mendongak menatap Naruto yang tengah membawa tasnya, pemuda itu bersiap untuk pulang kerumah. "Kau dari tadi terus saja melamun."
"Eh, benarkah? Aku tak tahu itu. Baiklah kalau begitu, kau boleh ke rumah."
Naruto memasang senyuman lima jarinya, dia pun menggenggam pergelangan tangan Kanan, membuat sang gadis merona seketika. "Ayo kita pulang!" kedua violet itu menatap tangannya yang tengah digandeng oleh Naruto, dia pun mengangguk kecil mengiyakan ajakan Naruto barusan.
Keduanya pun sampai di rumah Kanan yang berdekatan dengan rumah Naruto. Keduanya masuk ke kamar milik Kanan, gadis itu menghela napasnya saat meletakkan tas sekolah miliknya, ia sedikit lelah saat berjalan menuju rumahnya.
"Baiklah apa saja yang di tulis oleh Kurenai-sensei."
Naruto membuka buku tulis miliknya, dia pun mulai menjelaskan beberapa hal yang di ajarkan oleh gurunya itu. Sementara Kanan menulis apa saja yang ada di dalam buku Naruto.
Satu jam berlalu dengan Kanan yang meletakkan pena miliknya. "Ah, lelahnya!"
Naruto meletakkan buku tulisnya di atas meja, dia menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan sebuah senyuman misterius. "Kanan-chan."
"Ada apa Naruto?" Kanan beranjak, dia pun duduk di pinggiran kasur. "Kau memanggilku, 'kan?"
Naruto mengangguk kecil, dia memundurkan badannya lalu bersandar di kedua kaki putih milik gadis berambut biru itu. "Aku ditembak oleh kouhai yang populer." Naruto merasakan tubuh Kanan yang menegang, tanpa sengaja gadis itu membuka kedua kakinya, membuat Naruto menyandarkan punggungnya di pinggiran kasur.
"La-lalu?"
"Enaknya bagaimana? Ditolak atau diterima?"
"I-itu terserahmu."
"Bagaimana jika aku menolaknya, lalu menembakmu?" Naruto mendongak melihat reaksi yang akan dikeluarkan oleh teman masa kecilnya itu. "Kau tak punya pacarkan? Aku juga belum punya pacar, jadi kita pacaran saja, bagaimana?"
Semburat merah pekat muncul di kedua pipi Kanan, bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya masih kelu hanya untuk mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku bersedia loh menjadi pacarmu, serta Suamimu kelak nantinya."
"Ba-baka!" Kanan pun mencium bibir Naruto, membuat pemuda itu terdiam tak membalas ciuman tersebut. Kanan menarik bibirnya, lalu menatap Naruto dengan malu-malu. "Aku pasti menerimanya, bego," gumamnya.
Naruto beranjak dari tempatnya duduk, dia membalikkan badannya tepat di depan Kanan, kedua tangan pemuda itu bertumpu di atas kasur. Bibirnya mendekati bibir plum milik Kanan.
Jemari mereka menyatu saling bertautan saat kedua bibir mereka menyatu, Kanan sangat menikmati ciuman yang diberikan oleh Naruto. Di dalam hatinya sungguh bahagia saat Naruto secara tidak langsung menginginkan dirinya menjadi pasangannya.
Ciuman Naruto beralih ke pipi merah Kanan, lalu ke leher jenjang milik gadis itu, Naruto menciumi leher Kanan dengan mesra. "Uhh, Naruto," gumam Kanan memanggil nama pemuda itu.
"Kanan-chan." Naruto menarik bibirnya, tautan tangannya pun dilepas, dia menyingkap seragam Kanan ke atas, menampilkan sebuah bra putih yang menutupi payudara milik gadis itu. Naruto meremas pelan buah dada Kanan. "Punyamu besar ternyata."
"Di-diam, bego."
Pemuda itu tertawa kecil, lalu menyingkap bra putih Kanan. Naruto meremasnya lembut, lalu mendekatkan bibirnya ke puting susu Kanan yang berwarna merah jambu, Naruto pun menggunakan lidahnya untuk menjilati puting susu Kanan, dia juga menghisapnya seolah air susu keluar dari puting susu Kanan.
"Kyah! Naruto!"
Tubuh Kanan menegang saat Naruto bermain dengan bagian tubuhnya yang sensitif, dia memeluk kepala Naruto dan ambruk kebelakang tepat di atas kasur empuk milik Kanan. Naruto terus bermain dengan puting susu Kanan.
"Naru, berhenti."
Perkataan Kanan seolah masuk ke telinga kanan Naruto, lalu keluar ke telinga kirinya. Dia tak mendengarkan perkataan tersebut, dan terus melanjutkan aksinya. Kedua tangan Naruto mengelus perut datar Kanan, dan terus turun kebawah hingga sampai pada rok yang dikenakan oleh Kanan, Naruto memasukkan tangannya ke dalam rok serta celana dalam putih Kanan.
Pemuda itu bermain dengan kewanitaan milik gadis tersebut menggunakan jari-jarinya, Naruto merasakan kewanitaan Kanan sudah mulai basah akan sebuah cairan, dia pun menarik kepalanya dan menatap gadis yang saat ini tengah menutup kedua matanya saat dia di rangsang oleh Naruto.
Pemuda itu menarik tangannya, lalu membuka celana panjangnya untuk mengeluarkan kejantanannya yang sudah menyesakkan celananya, dia tak lupa untuk melepas celana dalam Kanan, dan membuangnya sembarangan.
"Kanan-chan." Naruto mengarahkan kejantanannya itu ke liang senggama milik Kanan. Dia menggesekkan ujung kejantanannya ke pintu masuk liang senggama Kanan, lalu mendorongnya masuk ke dalam. Naruto meringis merasakan sempitnya dinding rahim Kanan. "Akh!"
"Na-naru! Keh!"
Sebuah darah keluar dari liang Kanan, Naruto langsung menatap gadis yang saat ini tengah menahan rasa sakit. "Maafkan aku."
"Tidak apa."
Naruto menatap Kanan yang tersenyum disertai air mata yang keluar dari kelopak matanya. Hati Naruto seolah teriris melihat Kanan yang menahan rasa perih, dia pun memeluk tubuh gadis itu, membawanya ke dalam dekapannya, lalu mencium bibir plum milik Kanan dengan mesra. Kanan sendiri membalas ciuman serta pelukan Naruto, dia sungguh mencintai pemuda itu.
"Lanjutkan Naru."
Naruto mengangguk, dia pun menggerakkan pinggulnya sembari memeluk tubuh Kanan. Kedua tangan pemuda itu mengelus punggung putih Kanan, dia merasakan betapa halusnya punggung dari gadis itu.
Kanan menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang ingin keluar, dia meletakkan dagunya di bahu Naruto sembari memeluk pemuda itu. Aroma citrus menguar dari tubuh Naruto, rona merah semakin menjalar hingga ke telinganya. Kanan sungguh terangsang akan aroma maskulin itu.
"Kau sangat wangi, Kanan-chan."
Setelah mengatakannya, Naruto meletakkan Kanan ke kasur, kejantanannya masih berada di dalam tubuh Kanan. Pemuda itu mengangkat kedua kaki jenjang Kanan, dia pun kembali menggerakkan pinggulnya, Naruto merasakan betapa licin dinding rahim Kanan.
"Kanan -chan!"
"Naru!"
Pemuda itu terus menggerakkan pinggulnya, namun ia mempercepat gerakkannya, dan menenggelamkan kejantanannya dalam-dalam ke liang senggama Kanan. Dia mengeluarkan cairan putih kental dan memenuhi rahim Kanan, bersamaan dengan itu, gadis berambut biru itu juga sampai pada Klimaksnya.
Keduanya berteriak memanggil nama pasangannya.
...
..
...
Naruto saat ini tengah menyandarkan punggungnya di pinggiran kasur milik Kanan, kedua tangannya memeluk pinggul ramping milik gadis itu. Keduanya sudah telanjang bulat karena beberapa ronde yang mereka lakukan. Naruto meletakkan dagunya di bahu Kanan, sementara Kanan menyandarkan punggungnya ke dada bidang Naruto.
Keduanya menikmati istirahat mereka karena aktifitas yang baru saja mereka lakukan. Kanan begitu senang setelah dia menjadi kekasih Naruto, dia sungguh tak menyangka jika Naruto juga menyukai dirinya.
"Aku seperti seseorang yang paling beruntung di dunia."
Naruto mengeratkan pelukannya terhadap Kanan. "Beruntung?"
"Ya, aku beruntung ketika kau juga menyukaiku." Naruto menyeringai jahil, dia lalu menjilati leher Kanan. "Kyah! Apa yang kau lakukan, bego?!"
Pemuda itu mendekatkan bibirnya pada telinga Kanan. "Aku menginginkannya lagi, sayang."
"Eh, ah, umm, bo-boleh, lakukan sesukamu. Kyah! Jangan ketiak!"
"Tak masalah kan." Naruto tertawa setelah dia menjilati ketiak milik Kanan. "Mari kita lanjutkan, mumpung besok masih libur serta orang tuamu sedang keluar kota."
"Um, tapi jangan di—kyah, Naru!"
...
..
.
Omake:
"Naru!" Kanan berlari kecil mendekati Naruto. "Pulang yuk!"
Naruto yang telah selesai membereskan bukunya pun mengangguk kecil disertai dengan sebuah senyuman tipis, dia pun mengambil tas miliknya, dan menggandeng tangan Kanan untuk berjalan keluar dari kelas.
"Ayo!"
Kanan tersenyum senang, dia pun memeluk lengan Naruto, menempelkannya pada belahan dadanya. "Mau menginap di rumahku?"
Naruto langsung menatap Kanan. "Seriusan? Orang tuamu sering keluar kota ya."
"Mereka sibuk, aku jadi kesepian dirumah."
"Kalau begitu aku akan pindah ke rumahmu saja biar kau tak kesepian." Kanan tertawa dengan candaan yang dilontarkan Naruto barusan. "Aku serius."
Tawa Kanan terhenti, dia menatap Naruto dengan pandangan terkejut.
"Dan tak akan ada istirahat bagi kita."
"Ehhhh...!"
