Grave of Fireflies © Ghibli Studio. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini.
.
.
Pada malam 21 September, aku mati.
Tapi, kata orang, sebelum kita mati, kita akan bisa mengingat segalanya. Benar, segalanya. Semuanya.
Seita mengingat kata-kata itu ketika bersandar lemas pada tiang. Entah di mana atau bagaimana ia bisa ada di sini, ia sudah lupa. Kaos tanpa lengan dan celananya yang kotor sudah robek-robek. Seluruh tubuhnya remuk redam. Perutnya yang kelaparan membuatnya kehilangan tenaga. Sudah lama sekali ia tidak makan, sampai-sampai ia sendiri lupa bagaimana rasa makanan itu. Namun, rasa lapar dan sakit itu tidak lagi terasa.
Atau mungkin, seluruh panca inderanya telah mati, seperti halnya lidah dan sorot matanya yang juga mati.
Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya. Seorang lelaki bertubuh gemuk tampak terkejut melihat Seita. Ia cepat-cepat menghindar diiringi keluhan, "Dasar gelandangan!"
Beberapa yang lain hanya lewat tanpa peduli. Beberapa yang lain menyuarakan simpati, tetapi tidak bergegas menolong Seita. Beberapa yang lain bertanya-tanya apakah ia sudah mati. Dalam hati, Seita sendiri juga bertanya-tanya; apakah ia benar-benar sudah mati? Jika belum, apakah ia akan segera mati?
Seorang lelaki paruh baya menaruh roti di dekat Seita dan bergumam, "Sungguh memilukan, banyak gelandangan di sini." Kemudian lelaki itu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Akan tetapi, Seita tidak mengambil roti tersebut. Bisa dibilang, ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk mengambilnya. Ia tidak berdaya. Wajahnya sangat pucat dan dekil. Tubuhnya tersisa tulang berbalut kulit. Hanya tinggal menunggu waktu saja, hingga ia benar-benar bertemu dengan malaikat kematian.
"Okaa-san!"
Seita mendengar suara teriakan itu, tapi ia tidak menoleh mencari sumber suara tersebut. Mungkin kelaparan membuatnya berhalusinasi. Pasti suara itu berasal dari kepalanya. Tidak mungkin suara anak-anak itu masih hidup. Pasti itu hanya hantu. Ya, pasti begitu.
Sekarang … hari apa?
Hanya itu yang dapat Seita batinkan sebelum kekuatannya untuk tetap duduk berselonjor hilang pegangan. Ia ambruk dengan posisi menyamping, meringkuk. Napasnya menjadi pelan. Snagat pelan. Mengurut satu-satu.
Seekor lalat tiba-tiba hinggap di pipinya. Apakah itu benar-benar lalat? Atau … atau itu adalah kunang-kunang?
Mengingat satu frasa 'kunang-kunang' membuat pikiran Seita bekerja sangat keras. Ia ingat jika kunang-kunang pernah memberinya kebahagiaan dan perasaan itulah yang berhasil membuat bibirnya bergerak, bersuara lirih nyaris tak terdengar tapi masih dapat terjangkau telinga.
"Setsuko …."
Sesudah itu, Seita tidak terlalu dapat melihat dengan jelas. Pandangannya begitu kabur. Buram. Hitam putih. Tapi anehnya, sekarang ia bisa mengingat segalanya. Seumpama rekaman film yang diputar, ia dapat menyaksikan dirinya—dalam ingatan—sedang tersenyum bahagia.
Dan Seita memercayai kata-kata itu. Ia teringat kebahagiaannya saat ia masih bersama dengan orangtuanya; ibunya yang berwajah lembut dan ayahnya yang penyayang. Ia juga teringat akan wajah adik perempuannya, Setsuko, yang lucu dan menggemaskan.
Hari-hari Seita pada masa itu penuh dengan kebahagiaan meskipun dalam rumah yang sangat sederhana. Ingatan lainnya bergerak semakin cepat; ingatan di mana mereka berempat makan bersama, ingatan ketika mereka berfoto bersama, ingatan saat Seita mengantar sang ayah ke pelabuhan, ingatan tatkala Setsuko menangis, ingatan manakala Seita menggendong Setsuko, ingatan saat Seita dan Setsuko menumpang di rumah bibi mereka yang galak … saat Seita menyuapi Setsuko, mengajak Setsuko ke pantai, menggenggam tangan Setsuko untuk melihat kunang-kunang ….
Di detik-detik terakhir napasnya, detak jantungnya, Seita masih berharap ia dapat bersuara lagi. Ia ingin menyelesaikan kalimatnya tadi.
Seita sangat ingin meminta maaf kepada Setsuko. Seandainya ia tidak begitu egois, mungkin saat ini Setsuko tidak harus mati dengan cara yang mengenaskan seperti itu. Seandainya Seita bisa menjadi kakak yang lebih becus dan bisa merawat Setsuko dengan baik, maka adik perempuan yang disayanginya itu pasti masih hidup. Seandainya saja ia dapat menjaga sikapnya di rumah bibinya pada waktu itu, mungkin bibinya akan lebih bersikap ramah. Seandainya saja ia bekerja dan membantu keluarga bibirnya walau tidak banyak, mungkin akhir cerita ini tidak perlu menjadi tragedi.
Seandainya ….
Benar, seandainya dan seandainya. Lagi-lagi seandainya. Teramat pedih membayangkan akhir hidupnya sendiri yang penuh dengan penyesalan. Dan Seita memang harus merasa menyesal. Ini adalah kesalahannya. Kematian Setsuko adalah kesalahannya.
Ibunya memercayakan keselamatan adik kecilnya itu, tapi ia sendiri malah menelantarkannya. Seita tidak bisa mengurus Setsuko dengan benar. Ia tidak bisa memberi perlindungan dan rasa aman. Ia tidak bisa memberikan Setsuko pakaian, makanan, dan rumah yang layak.
Mungkin ada benarnya. Penyesalan selalu ada di belakang. Penyesalan selalu datang terlambat. Penyesalan selalu bertarung pada akhir.
Ketika detak jantung Seita sudah sepenuhnya berhenti, kalimat itu tetap tidak bisa ia suarakan.
Ah, sudahlah.
Barangkali Seita bisa menemui Setsuko dan mengatakannya nanti. Barangkali Seita akan segera bergabung bersama Setsuko dan kedua orangtuanya. Mereka akan memandangi makan mereka dengan hati lapang, kemudian mereka berempat akan pergi ke kebun, tempat di mana kunang-kunang menyala, memberi kebahagiaan. Mereka akan menjadi keluarga yang utuh. Mereka akan tertawa bersama lagi seperti kehidupan mereka di dunia.
Mungkin begitu. Atau tidak.
Mata Seita terpejam. Kosong. Gelap.
Kemudian ia melihat ribuan cahaya kunang-kunang, terbang rendah, bersinar kuning-kehijauan. Di antara cahaya itu, Seita melihat Setsuko, dalam balutan baju dan tudung merah muda seperti yang terakhir diingatnya. Wajah manisnya yang menggemaskan tampak ceria. Tangan kanannya memegang kotak kaleng permen, sementara tangan kirinya melambai kepada Seita.
"Setsuko … maafkan aku."
Seita menghampiri Setsuko dan menuntunnya, menjauh dari cahaya kunang-kunang.[]
