Dentuman musik semakin keras saat malam semakin larut. Hentakan demi hentakan nada yang menjadi satu dengan bahasa tubuh. Kemerlap lampu dengan berbagai warna, menyinari lantai dansa. Di salah satu meja bundar yang ditempati tiga wanita cantik dengan warna rambut berbeda terlihat. Ketiganya saling berlenggok, saling menghentak, mengikuti alunan musik sambil sesekali menegak cairan alkohol di botol.

"Aku tidak percaya, ini adalah malam terakhir long weekends kita!" seru salah satu gadis dengan rambut merah muda. "Besok kita sudah harus pergi ke kantor dan lihat, apa yang sedang kita lakukan sekarang?!"

Gadis berambut pirang yang dikuncir kuda itu tertawa, menyahuti teman bermata hijau jernihnya. "Dan kau tahu, apa yang lebih baik untuk menyempurnakan liburan terakhir kita?"

"Apa?!" kedua sahabatnya berseru sambil mendekatkan telinga mereka pada si pirang.

Bibir ranum itu menyeringai dan berbisik pada kedua sahabatnya. "Find a hot guy and making love with him!"

Salah satu gadis dengan rambut biru gelap itu tersentak, lalu memukul pelan lengan sahabat pirangnya. "Kau gila, Ino-chan!"

"Oh ayolah..., Hinata. Anggap saja ini sebagai kenangan sekali seumur hidupmu!" Ino kembali berujar sambil merangkul lengan Hinata. "Terakhir kali kau menggandeng kekasih saat umurmu enam belas tahun, dan itu sudah delapan tahun yang lalu. Sudahlah temukan laki-laki tampan dan bercinta dengannya malam ini!"

"Baiklah, kau benar-benar sudah mabuk, Ino." Gadis dengan rambut merah muda itu menarik pelan lengan Ino agar menjauh dari Hinata. "Lebih baik kita pulang sekarang saja, bagaimana Hinata?"

Gadis manis dengan gaun malam berwarna biru gelap itu mengangguk setuju. Selain Ino yang sudah mabuk berat, besok adalah hari penting baginya. Setelah setahun lamanya ia bekerja menjadi seketaris dari Nyonya Uzumaki, tidak pernah sekalipun ia melihat putra tunggal sekaligus pewaris perusahaan Uzumaki corp. Maka dari itu, besok adalah hari bersejarah baginya, karena untuk pertama kalinya Hinata akan bertemu dan melihat laki-laki bernama Uzumaki Naruto yang sangat diagungkan para karyawati senior di tempatnya bekerja.

"Ah! Sakura-chan, aku ke toilet dulu sebentar."

"Baiklah, kami tunggu di mobil."

Hinata mengangguk paham dan segera melangkahkan kakinya menuju toilet. Irama dari sepatu high heel berwarna perak itu terdengar bertalu. Ketika ia akan berbelok dipersimpangan lorong, tanpa sengaja dirinya menabrak dada bidang seseorang. Dirinya hampir saja oleng, jika saja sebuah tangan kekar tidak melingkar dipinggangnya yang ramping.

"Kau baik-baik saja?"

Suara berat itu terdengar pelan tepat di sisi telinga Hinata, memberi sensasi panas di wajah dan debaran jantungnya. Gadis manis itu segera mendorong pelan dada bidang berbalut setelan abu-abu itu dengan wajah merona.

"Sa-saya baik-baik saja. Terima kasih banyak, Tuan." Hinata mengangkat wajahnya hanya untuk bertemu pandang dengan sepasang mata berwarna biru laut.

Tatapan mata yang begitu lurus dan tegas itu, entah mengapa membawa sengatan kecil di dada Hinata. Gadis itu merasa tak asing dengan kedua mata biru laut itu, namun ia tak mampu mengingat dimana ia pernah melihatnya. Merasa terlalu lama bersitatap dengan laki-laki di depannya, Hinata menunduk dan berniat pergi.

"Sekali lagi, maafkan saya karena tidak melihat saat berjalan, dan terima kasih."

Usai memberi seulas senyum tipis, Hinata segera pergi meninggalkan pemuda yang cukup tampan itu. Ah, cukup bukanlah kata yang pas untuk menggambarkan pesona laki-laki itu. Hinata yakin, jika Ino bertemu dengan pria itu, teman pirangnya pasti sudah mengeluarkan rayuan andalannya.

Suara derai tawa terdengar dari bibir mungil Hinata ketika membayangkannya. Gadis itu bahkan sama sekali tidak menyadari, bahwa pria pirang yang tadi ia tatap, tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

...

"Hinata-chan, kenalkan ini putra tunggalku yang selalu aku ceritakan padamu." Pagi itu, senyum yang sudah Hinata persiapkan untuk menyambut pewaris Uzumaki corp, luntur begitu saja. "Namanya Uzumaki Naruto, dan mulai hari ini kau akan menjadi seketarisnya."

"Eh? Tu-tunggu dulu, Ku-Kushina-san. Mengapa anda tiba-tiba menjadikan saya sebagai seketaris Uzumaki-san?" Hinata berujar pelan ketika sudah berdiri di samping wanita paruh baya berambut merah. "Lalu bagaimana dengan anda?"

Kushina tersenyum cerah, ia menepuk lembut lengan Hinata, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. "Karena aku mempercayaimu, Hinata-chan. Kau seorang gadis pekerja keras, jujur, sabar, dan juga lembut. Daripada Naruto mencari seketaris yang belum tentu sebaik dirimu. Wanita tua ini akan mengalah dan membiarkan Naruto memilikimu."

Wajah putih Hinata kini merona sempurna begitu mendengar perkataan Kushina. Ia tidak terbiasa mendapatkan pujian langsung seperti itu. Terlebih ketika Kushina yang sudah memperlakukannya begitu baik, seperti seorang Ibu.

"Aku mendengar banyak hal tentangmu dari kaa-san." Suara berat itu mengalihkan atensi Hinata pada lelaki bermata biru laut itu. Ketika pria itu tersenyum, Hinata kembali merasakan sebuah sengatan kecil di sudut hatinya. "Mohon bantuannya, Hinata-san."

Hinata segera menyambut uluran tangan dari bos barunya itu. Sambil tersenyum tipis, ia menyahut, "Begitu pula dengan saya, mohon bantuannya Uzumaki-san."

"Baiklah, setelah ini aku harus menghadiri meeting di cabang Kyoto. Hari ini gunakan saja waktu kalian untuk lebih saling mengenal." Kushina tertawa kecil sembari menepuk pundak putranya, sebelum pergi meninggalkan mereka berdua di ruang kerja Naruto.

Suara pintu yang tertutup adalah suara terakhir sebelum keheningan melanda mereka berdua. Hinata berubah gugup, berada di satu ruangan dengan pria asing yang tiba-tiba menjadi bosnya, siapapun pastilah akan merasa canggung.

"Kau..., sama sekali tidak berubah."

Naruto yang tiba-tiba berujar, agaknya membuat Hinata terlonjak pelan. Gadis itu menoleh, merasa aneh dengan perkataan pria itu.

"Apa maksud anda?"

"Pekerja keras, jujur, sabar, dan juga lembut. Sudah delapan tahun dan kau masih sama seperti dulu, Hinata."

Kedua iris perak itu kini mengerjap, ia sama sekali tidak mengerti mengapa pria itu bicara seakan mereka saling mengenal. "Apa anda tidak salah mengenali seseorang? Saya tidak ingat pernah bertemu dengan anda sebelumnya."

Ketika kedua iris biru laut itu sedikit melebar, Hinata memiringkan kepalanya sedikit. Tidak mengerti mengapa pria itu begitu terkejut. Mereka benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya, benarkan?

Tatapan pria itu berubah tajam tiba-tiba, mengejutkan Hinata dan ia mundur tanpa sadar ketika Naruto mendekat.

"Kau benar-benar tidak mengingatku?" tanya Naruto yang semakin mendekat. "Sedikitpun?"

Ketika punggung Hinata membentur dinding, gadis itu berubah pucat. "Sa-saya benar-benar tidak mengenal anda!"

Brak!

Hinata merasa jantungnya berhenti berdetak saat Naruto memukul dinding di sebelahnya. Saat kedua atensi itu bertemu, bukanlah sengatan panas seperti sebelumnya yang ia rasakan. Kali ini gadis itu benar-benar ketakutan karena wajah pemuda pirang itu begitu dingin.

"Kalau seperti ini, apa kamu akan ingat?"

Belum sempat Hinata bertanya lebih lanjut, saat bibir mungilnya dibungkam begitu saja. Kedua iris perak itu melebar sempurna, ia menggenggam erat kedua pundak Naruto dan berusaha menjauhkan bibir yang tengah melumatnya tanpa henti.

"U-Uzumaki-sa—hmph!"

Hinata melawan, berusaha melepaskan jeratan dari kecupan yang memabukan. Suara kecapan dari bibir yang terus melumat itu terdengar. Ketika lidah yang akhirnya berhasil menembus mulut yang semula terkatup rapat itu. Suara desahan kini lolos dari bibir mungil Hinata, dan membuat lututnya lemas.

Naruto yang tahu bahwa Hinata tak mampu lagi berdiri, segera memeluk pinggang rampingnya dan membawa gadis itu untuk rebah di sofa hitam. Tanpa melepaskan lumatan yang terus menuntut agar mendapatkan balasan. Salah satu tangan Naruto mulai turun dan mengelus lembut paha putih yang dibalut stoking hitam.

"Ngh! He-henti—hmph!—a-ah!" Sekuat hati Hinata berusaha untuk tidak mengeluarkan suara aneh yang akan memancing pria itu untuk berbuat lebih. "He-hentikan..., aku mohon."

Gerakan tangan yang sejak tadi terus bergerak hingga membuat kemeja yang Hinata pakai berantakan, akhirnya berhenti. Naruto terdiam, ia merasa telah berbuat terlalu jauh, hingga membuat gadis dalam dekapannya kini terisak pelan.

Pria pirang itu mengulurkan tangannya, berniat menghapus air mata disudut mata gadis itu. Namun ketika tubuh mungil itu malah tersentak pelan, seakan takut. Raut wajah Naruto melembut dan dengan hati-hati mengusap pelan pipi gembil milik sang gadis.

"Aku merindukanmu..., Hinata."

Hinata membuka matanya yang semula tertutup, ketika suara berat itu berujar lembut. Kali ini yang ia lihat adalah sepasang mata biru yang menatapnya penuh kasih dan rindu. Bukan lagi sebuah emosi penuh amarah, kecewa, dan terluka seperti tadi. Debaran serta desiran aneh itu kembali ketika Naruto memeluknya erat.

"Maaf sudah membuatmu takut," Naruto melepaskan pelukannya dan berdiri. "Hari ini pulanglah, dan coba mengingat kembali siapa diriku sebenarnya."

Hinata beranjak duduk, masih dengan sisa air mata yang menetes di sudut mata. Gadis itu memandang punggung atasannya yang tengah membuka pintu ruang kerja. Saat pria itu hendak melangkah keluar, Naruto kembali berbalik dan menatapnya.

"Orangtuaku bercerai dan nama belakangku berubah. Dulu, aku biasa dipanggil Namikaze Naruto."

"Namikaze..., Naruto...?"

Sebuah nama yang tidak asing ditelinganya, namun juga mendatangkan perasaan bahwa ia tidak ingin mengingatnya. Sekali lagi, Hinata mengucap nama itu, seakan mencerna baik-baik agar dapat mengetahui arti dari nama itu. Sampai kepingan kenangan lama yang ia kira sudah terkubur dalam, muncul kepermukaan.

"Senpai..."

.

Author: Cocoa2795

Rating: M

Genre: Romance with lemon dan Drama.

Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. Ter-inspirasi dari manga yang dibuat oleh Nakamura. This story is mine.

Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thank you.

.

Cinta pertama, sebuah momen manis yang didambakan hampir semua orang, Khususnya perempuan. Saat itu Hinata berusia enam belas tahun, hidup dalam kekangan tradisi keluarga hingga membuatnya menjadi pemalu dan terkesan kaku. Meski begitu, Hinata tetaplah seorang gadis muda, dimana hatinya akan jatuh pada seseorang tanpa sempat ia sadari.

Hanya berawal dari sentuhan tidak sengaja ketika memilih sebuah buku di perpustakaan sekolah. Tanpa Hinata sadari, kedua iris peraknya terus saja terpaku dan mengikuti punggung seorang remaja pirang yang merupakan kakak kelasnya. Menjadi seorang stalker, tanpa berani beradu tatap pada sang mentari.

Namun entah keberanian darimana saat itu, ketika mereka kembali tidak sengaja bertemu. Saling bersentuhan tangan ketika hendak mengambil buku yang sama. Ketika ia tak sengaja menyebut nama laki-laki itu, bibirnya tak lagi kelu saat sebuah kata terlontar begitu saja.

"Aku menyukaimu..., senpai."

Hinata merasa dirinya bermimpi ketika cintanya akhirnya berlabuh. Mendapat respon baik dan bahkan mereka mulai berpacaran. Mencoba saling mengenal satu sama lain dengan rasa canggung yang membuat perutnya terasa geli. Hinata bahkan ingat, bagaimana tegang dirinya ketika kakak kelasnya menggandeng tangannya dan bahkan mengajaknya ke rumah.

Kepalanya terasa kosong, hanya mampu mengikuti di belakang punggung kokoh yang selama ini hanya ia lihat di kejauhan. Mengira kisah cinta ini tidak mungkin berakhir bahagia, seperti drama yang sering kali ia tonton. Namun saat keduanya mulai menikmati rasa nyaman yang akhirnya datang, Hinata tak mengira sebuah ciuman mendarat di bibirnya saat itu.

"Na-Namikaze-senpai...,"

"Aku ingin melakukannya, bolehkah?"

Bisikan lembut di telinganya serta pelukan erat yang diberikan remaja pirang itu, membuat Hinata tak sanggup untuk menolak. Gadis itu membalas pelukan kekasihnya dan berbisik pelan dengan tangis tertahan.

"Bo-boleh...,"

Sentuhan lembut yang diberikan kakak kelasnya itu terasa panas ketika menyentuh kulitnya. Membuat Hinata tak kuasa mendesah terus menerus dengan pikirannya terasa melayang.

Crak crak crak!

"Nh..., ja-jangan terlalu..., dalam—senpai..., Ah!"

Ketika titik sensitifnya kembali disentuh untuk yang kesekian kalinya. Tubuh mungil itu melengkung semakin dalam, bersama deru nafas yang memburu. Hinata memeluk erat tubuh polos remaja pirang itu. Membiarkan tubuhnya kembali naik turun mengikuti irama dari hentakan pinggul lelaki itu.

"Mmmh! Ah! a-ah..., Ah! Ah! se-senpai!" Hinata semakin memeluk erat leher jenjang Naruto, lalu perlahan mulai menciuminya dan menggigitnya pelan.

Mendapatkan gigitan pelan di lehernya itu membuat perut Naruto terasa geli. Hal itu semakin membuatnya bergairah, hentakan pinggulnya semakin cepat dan semakin dalam. Hal itu membuat keduanya semakin terbuai pada kenikmatan dunia yang baru kali ini mereka rasakan.

"Hinata..., ah! pa-panggil namaku, Hinata! a-ah!"

"Se-Senpai... Na-Namikaze-senpai..., ugh! Ngh—a-ah..."

Naruto kembali melumat bibir mungil yang memanggil namanya, mencoba mengecap rasa manis dari bibir yang selalu tersenyum malu padanya. Sementara itu, Hinata yang tak kuat menahan sentakan dari kekasihnya, hanya mampu pasrah pada setiap sentuhan yang remaja pirang itu berikan.

Ketika malam semakin larut dan bulan bersinar indah di luar sana. Hinata memeluk erat sang kekasih yang masih senantiasa memberikan kecupan-kecupan lembut. Rasa lelah yang mulai ia rasakan membuat matanya memberat. Ketika matanya mulai terpejam, Hinata seakan mendengar suara kakak kelasnya yang berbisik pelan ditelinganya.

"Aku menyukaimu..., Hinata."

Saat itu, pemilik rambut berwarna biru gelap mengira kalau mungkin ia salah dengar. Bagaimanapun selama mereka menjalin kasih, kakak kelasnya tak pernah sekalipun mengucap kata cinta padanya. Karena itu, jika itu adalah mimpi maka Hinata tidak akan pernah mau terbangun dari tidurnya.

...

Hinata tidak pernah menyangka sinar mentari bisa begitu menyakitkan. Meski kemarin dia diperbolehkan untuk pulang cepat, meski ia sudah langsung pergi tidur begitu sampai di apatemen kecilnya. Namun semua itu tidak membuat perasaan Hinata menjadi lebih baik. Tidak membuat gadis itu terlelap dan malah terjaga semalaman karena takut, jika ia tertidur maka mimpi tentang masa lalu akan mendatanginya.

Kedua iris perak itu mengerjap, saat ia mendapati sosok laki-laki yang membuat hati dan pikirannya kacau, kini tengah tertidur lelap di sofa ruang kerjanya. Hinata sudah berdiri di samping sofa hitam itu hampir dua puluh menit lamanya. Semula ia terkejut, mendapati atasannya tertidur di ruang kerja dengan pakaian yang sama seperti kemarin.

Sekelebat pertanyaan mulai bermunculan, mungkinkah Naruto bekerja hingga larut malam dan malah menginap di kantor? Lalu haruskah ia berbicara pada Kushina untuk membiarkan dirinya kembali menjadi seketaris sang pemilik Uzumaki Corp? Namun apa yang harus ia katakan jika Kushina menanyakan alasannya?

Tidak mungkin bukan, jika ia mengatakan kalau dirinya tidak mau bekerja sama dengan mantan kekasihnya? Hinata mengacak rambut panjangnya dengan gemas, merasa konyol karena mana mungkin ia bisa mengatakan hal itu.

"Ngh...," erangan pelan dari Naruto menyentak lamunan Hinata.

Hinata mengerjap dan mulai melangkah mendekat, berusaha sepelan mungkin dan tanpa suara sedikitpun. Dirinya tidak mau mengambil resiko membangunkan atasannya dan membuat keadaan berubah canggung. Ketika dirinya kini berdiri di samping Naruto yang tertidur, atensinya tanpa bisa ia cegah mulai memandangi wajah atasannya itu.

Bulu mata yang cukup panjang, garis hidung dan rahang yang tegas, serta guratan halus di kedua pipi pemuda itu. Semakin Hinata melihatnya semakin ia ingat, bagaimana rupa Namikaze Naruto yang setengah mati ia lupakan. Seorang remaja periang dengan senyum mentari yang telah menjerat hatinya.

"Apa sebaiknya aku membangunkannya? Pukul sepuluh nanti akan ada meeting dengan Sabaku Corp." Hinata bergumam pelan, bimbang dengan tindakan yang harus ia lakukan. Namun akhirnya ia memilih untuk membangunkan atasannya itu, "U-Uzumaki-san—UWAH!"

Bruk!

Kedua iris perak itu mengerjap kaget saat sebuah tangan menariknya. Wajah Hinata berubah merah ketika mendapati Naruto yang tengah menatapnya dengan tatapan sayu. Buru-buru ia memalingkan wajahnya dan mencoba beranjak dari posisinya yang menindih atasannya itu.

"Ma-maafkan saya U-Uzumaki-san..., sa-saya berniat membangunkan anda karena ada meeting pukul sepuluh nanti." Hinata mulai berdiri, namun tangannya kembali ditarik oleh Naruto dan membuatnya kembali jatuh pada dada bidang pemuda itu. "U-uzumaki-san."

"Apa kau sudah mengingatku?" Naruto berujar dengan suaranya yang serak akibat baru bangun tidur. "Kau ingat ketika kau bilang suka padaku?"

"To-tolong cepat bersiap untuk meeting, U-uzumaki-san!" Hinata kembali mengalihkan pandangannya, mencoba kembali beranjak dan melepaskan tangannya yang digenggam Naruto.

"Hinata."

"I-Ini sudah setengah sepuluh, anda harus cepat!"

"Hinata, dengarkan aku!"

Tidak..., Hinata tidak mau mendengar apapun yang ingin Naruto katakan padanya. Jujur saja, hanya mendengar pemuda itu menyebut namanya, sudah membuat dirinya merasa aneh. Hinata tidak mau, jika ia mendengar apa yang akan dikatakan pria itu akan membuat pertahanan yang sudah ia bangun selama delapan tahun ini, hancur dengan sia-sia.

"Tolong lepaskan aku!" kali ini Hinata menyentak keras, dirinya sudah tidak sanggup untuk membendung panik yang melanda.

"Kau bilang menyukaiku, tapi membuang dan melupakan segalanya. Kau benar-benar kejam, Hinata!" Suara Naruto yang sedikit meninggi segera membungkam Hinata yang terkejut mendengarnya. "Mau cinta seperti apapun yang pernah aku rasakan, selama delapan tahun ini yang aku tahu pasti adalah, aku tidak bisa melupakanmu."

Kedua iris sebiru lautan itu memandang tegas pada rembulan di depannya. Mencoba untuk memberitahu lewat tatapannya, bahwa ia berkata jujur. Namun kembali sepasang rembulan itu mengalihkan atensinya. Hinata menunduk, ia jatuh terduduk dan tidak melawan lagi meski pergelangan tangannya masih terkunci pada tangan besar Naruto.

"Bohong...," ujar Hinata pelan seperti berbisik, "Bohong..., bohong, bohong, bohong, kau bohong!" dan kali ini gadis itu kembali menyentak dan memandangnya dengan tatapan marah. "Kau tidak pernah menyukaiku, saat aku bertanya apa kau suka padaku? Kau malah tertawa! Yang kau inginkan hanya tubuhku, dasar brengsek!"

Hinata kembali meronta, mencoba melepaskan genggaman Naruto kembali dan menghentaknya lebih keras. Ia tidak peduli jika suaranya akan terdengar sekantor, yang Hinata inginkan saat ini adalah pergi dari sini.

"Aku tidak pernah melakukannya! Apa kau tidak salah dengan ingatanmu itu?" Naruto segera beranjak duduk dan menatap lurus pada Hinata. "Lagi pula, bagaimana mungkin kau masih bertanya apa aku menyukaimu atau tidak setelah kita tidur bersama!"

Raut wajah Hinata kembali merona, ia tidak mau mengingat kembali, hari dimana ia memberikan harta berharganya. Karena hari itu juga merupakan hari terburuk baginya yang merasa telah dipermainkan oleh Naruto. Melihat Hinata hanya terdiam dengan menggigit bibir bawahnya, raut wajah pemuda pirang itu kembali melembut. Ia dengan pelan menarik wajah gadis itu agar kedua mata mereka bertemu.

"Kau salah paham, Hinata. Sekalipun aku tidak pernah ada niat mempermainkanmu." Ketika sudut mata perak itu melelehkan air mata, Naruto cepat-cepat menyekanya dengan ibu jari. "Jadi bisakah aku mendekatimu lagi? Bisakah aku membuatmu mengatakan suka padaku lagi?"

Tanpa menunggu balasan dari Hinata, pria bermata biru itu melontarkan kecupan lembut pada bibir yang bergetar pelan. Menciumnya pelan tanpa nafsu dan hanya sebuah kecupan tanda sayang. Mencoba meyakinkan Hinata, bahwa ia bersungguh-sungguh pada perasaannya.

"Hinata..., aku menyukaimu."

Seharusnya Hinata merasa bahagia mendengar penuturan Naruto. Bukankah ini yang dia inginkan sejak dulu? Mendengar kata-kata sayang dari pemuda pirang itu. Jika saat ini Hinata membalas ciuman itu, memeluk pemuda itu, dan melupakan kesalah pahaman konyol dulu, bukankah itu artinya Hinata bisa hidup bahagia? Seperti akhir drama yang ia kagumi sejak dulu.

"Jangan bercanda!" Hinata berdecak pelan, dan mendorong Naruto menjauh. "Mau itu salah paham atau tidak, jangan pernah berfikir kalau aku akan kembali jatuh cinta padamu!"

Usai berkata seperti itu, Hinata segera berdiri dan mengambil kesempatan untuk kabur ketika akhirnya Naruto melepaskan cekalan tangannya. Pria pirang itu berdecak pelan dan mengacak rambutnya gemas. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan sikap keras kepala Hinata.

"Aku pasti akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku, Hinata."

Sementara itu Hinata sudah berada di toilet perempuan, ia segera menelpon Kushina. Tekadnya sudah bulat, untuk meminta pengunduran diri agar ia bisa pergi dari kantor ini. sesekali Hinata mengusap bibirnya dengan lengan baju, berharap sensasi kecupan yang Naruto berikan padanya tadi bisa hilang.

"Loh, memang aku belum memberitahumu Hinata-chan?" Kushina yang balik bertanya membuat Hinata terdiam, "Saat ini aku sedang berada diluar kota, jadi tidak mungkin aku bisa mengurus surat pengunduran dirimu. Terlebih sekarang yang mengurus karyawan langsung adalah Naruto. Kalau kau mau mengundurkan diri, kau harus mengajukannya pada Naruto."

Mendengar penjelasan dari Kushina, membuat lutut Hinata lemas seketika. Mengajukan pengunduran diri pada Naruto? Hinata sudah tahu apa jawabannya, mana mungkin durian sialan itu akan membiarkan dirinya pergi dari kantor ini. Hinata mengerang kesal sembari berjongkok dan mengacak rambut panjangnya dengan gemas.

Mengapa dewi keberuntungan tidak berpihak padanya?

Naruto yang baru saja selesai memakai blazer abu-abunya menoleh, ketika suara pintu ruang kerjanya terbuka. Raut wajahnya terlihat datar, namun bibirnya jelas tertarik sedikit ke atas melihat Hinata berjalan menghampirinya dengan sebuah map berwarna hitam.

"Apa kau datang untuk bilang suka padaku? Ternyata cepat juga."

Hinata berdecih pelan mendengar penuturan yang kelewat percaya diri itu. "Sabaku-sama sudah datang dan tengah menunggu di ruang meeting."

"Hn, baiklah. Tapi sebelum itu, pakai blazermu. Bajumu terlalu ketat, kita mau meeting bukan mau acara Take Me Out."

Kedua iris peraknya hampir saja memutar malas mendengarnya. Bagamana bisa pria itu berkomentar tentang pakaiannya yang sama sekali tidak ketat. Ayolah, Hinata bukan seorang perempuan yang akan berpakaian terbuka seperti seketaris-seketaris di luar sana. Namun melihat tatapan menutut dari Naruto, mau tak mau akhirnya Hinata menurut dan berbalik untuk mengambil blazernya yang ia sampirkan di kursi kerja.

...

Selama hampir seminggu bekerja dengan Naruto, cukup untuk membuat tekanan darah Hinata naik. Pria pirang itu selalu saja memberinya tumpukan kerja, menolak hasil kerjanya dan menyuruhnya mengulang kembali. Tidak membiarkan dirinya pulang kalau pekerjaan belum selesai walau waktu pulang sudah lewat. Ditambah lagi dengan segala kelakuannya yang terkadang mencuri kesempatan ketika Hinata lengah.

Sams seperti saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sudah sepuluh menit yang lalu jam kerja berakhir, dan Hinata masih di meja kerjanya. Jemari lentiknya sibuk mengetik keyboard komputer dan mengerjakan proposal yang sudah ditolak Naruto bahkan sebelum pemuda sialan itu membacanya.

"Ditolak!"

Hinata hampir ingin melempar sepatu berhak miliknya ke wajah pemuda itu saat Naruto mengembalikan hasil kerjanya. "Saya baru saja memberikannya pada anda sepuluh detik yang lalu. Setidaknya tolong dibaca dengan seksama, Uzumaki-san."

"Sudah kubaca," Naruto kertas hasil pekerjaan Hinata di meja dan bersedekap. "Proposal macam apa ini? Kau tidak punya motivasi atau memang hanya segini kemampuanmu?"

"Tentu saja tidak, saya sudah mengerjakannya dengan sepenuh hati."

"Hah! pembohong. Jangan pulang sebelum kau selesai menyelesaikannya."

Ctak!

Hinata mengakhiri sebuah kalimat proposal di komputer dengan menekan tombol keyboard sekeras mungkin. Pelipisnya sudah berkedut sejak tadi, terlebih ketika tingkah atasannya yang membuat darahnya naik.

Tidak ada motivasi katanya? Hanya segini kemampuannya? Sejak kapan laki-laki yang dulunya hanya memasang wajah konyol dengan senyum super lebar itu mulai bertingah menyebalkan seperti itu.

"Tapi bagaimana aku memperbaikinya? Aku bahkan tidak tahu letak kesalahan yang membuatku harus lembur lagi."

"Masih belum selesai juga?" suara Naruto yang keluar dari ruang kerjanya, membuat Hinata menoleh dan beranjak dari duduknya. "Lamban sekali."

Oh dewa..., jika saja membunuh seseorang itu tidak mendapat dosa berat. Mungkin saat ini juga, Hinata sudah melempar pria dengan mulut menyebalkan itu ke laut terdalam.

Naruto menghampiri dan duduk di samping Hinata sembari menghela napas pelan. "Perlihatkan padaku, proposal yang kau buat."

"Ta-tapi saya belum selesai mengerjakannya. Besok pagi saya pastikan proposal sudah ada di atas meja anda. Uzumaki-san silahkan pulang duluan saja."

"Ck, sudah cepat perlihatkan padaku. Atau kau memang ingin menginap di kantor?"

Perkataan Naruto itu membuat hati Hinata ciut seketika. Jelas dirinya tidak ingin lembur terlalu lama atau bahkan harus menginap di kantor. Akhirnya dengan berat hati, Hinata duduk kembali walau sedikit bergeser agar tidak terlalu dekat dengan atasannya itu.

"Apa kau memiliki laporan dari Sabaku corp?"

"Uh, iya."

"Sejak mereka bekerja sama dengan kita, sudah berapa persen keuntungan yang mereka dapatkan dari kita selama enam bulan terakhir ini? gunakan dua hal itu untuk memberikan perbandingan pada mereka."

"Uh, tu-tunggu sebentar bisa saya catat dulu." Hinata segera mengambul catatan kecil miliknya dan pulpen lalu mulai mencatat.

"Setelah itu, kau harus memikirkan promosi seperti apa yang ingin kau lakukan. bagaimana desain selebarannya, menguntungkan kah bagi pihak kita maupun Sabaku corp."

"A-ah! to-tolong jangan terlalu cepat." Hinata segera menarik pelan lengan Naruto ketika pemuda itu berbicara tanpa jeda. Kemudian manik atensinya kembali tertuju pada catatannya tanpa menyadari Naruto yang kini terdiam.

Manik biru lautnya memerhatikan lekat-lekat bagaimana raut serius Hinata yang sedang mencatat. Membuatnya teringat kembali saat mereka bersekolah dulu, dan juga menimbulkan keinginan untuk menciumnya.

Cup!

Hinata melebarkan matanya saat Naruto menarik dagu dan menciumnya. Spontan tangan mungilnya mengepal dan memukul puncak kepala Naruto. Hinata menjauh dengan raut kaget dan wajah memerah.

"A-apa yang kau lakukan?!"

Naruto mengusap kepalanya dan menatap gadis itu dengan raut santai. "Kau terlalu serius, aku ingin menghilangkan ketegangannya, itu saja."

"Tolong seriuslah sedikit, Uzumaki-san!"

Pemuda pirang itu menatap lekat Hinata yang masih memerah, sebelum kemudian ia berdiri dan menarik tangan Hinata. Gadis itu mencoba melepaskan cekalan ditangannya, dan tidak mengerti mengapa Naruto tiba-tiba saja menariknya dan membawanya masuk kedalam ruang kantornya.

Sementara itu, Naruto segera mengunci ruang kerjanya dan mendorong Hinata duduk di atas sofa. Raut Hinata kini sudah berubah pucat, ia panik dengan tindakan Naruto.

"To-tolong berhenti bercanda, Uzumaki-san. Kalau anda tidak mau proposal itu selesai, maka biarkan saya pulang."

"Kita perlu bicara," ujar Naruto sembari duduk di samping Hinata. "Apa kau membenciku?"

Raut panik yang diperlihatkan Hinata sirna, dan berubah menjadi terkejut. Ia tidak menyangka mendapatkan pertanyaan itu dari Naruto. Benci..., Hinata yang merasa dipermainkan waktu itu memilih mengurung diri. Memilih pergi, kabur dari hadapan pria di depannya ini.

Dadanya selalu sesak setiap kali Hinata mengingat Naruto. Rasa kecewa yang membuatnya tidak ingin menjalin cinta pada siapapun. Bisakah perasaan ini Hinata artikan sebagai benci? Lalu bagaimana dengan debaran yang selalu hadir setiap kali Naruto menatapnya, memanggil namanya dan menyentuhnya. Haruskah Hinata juga mengartikan bahwa ia masih mencintai laki-laki pirang ini?

Heningnya Hinata serta tatapan kosong yang gadis itu perlihatkan, membuat Naruto gusar. Ia tidak ingin gadis itu akhirnya mengucap kata benci untuknya. Dirinya benar-benar seperti hilang arah, ketika Hinata lenyap dalam hidupnya tanpa kata.

"Hinata...," Naruto memanggilnya lembut, mengusap pelan pipi gembil gadis itu.

Namun ketika Hinata tersadar, gadis itu malah menepis tangan Naruto. Mencoba lari dari tatapan maupun dari situasi mereka saat ini.

Naruto kembali mencekal tangan Hinata, "Jangan lari, Hinata!" sentaknya pelan. Berharap gadis itu tidak lagi mencoba kabur dari situasi yang berawal dari kesalahpahaman ini.

Hinata tidak tahu harus menjawab apa. Dadanya sesak, dan jantungnya berdetak cepat saat ini. Pikirannya serasa kosong, bahkan ketika Naruto mulai mencium bibirnya. Melumat pelan bibir mungilnya, mengecup dan menghisapnya pelan.

"Mmh...," desahan pelan lolos dari bibir Hinata. Matanya yang sempat terpejam kembali terbuka ketika Naruto melepaskan ciuman mereka.

"Hentikan..., kenapa kau terus melakukan ini padaku?" Ketika akhirnya Hinata mendapatkan kembali suaranya ia berujar pelan. "Kenapa kau terus membuat kepalaku terasa pecah dengan sikapmu itu. Kau bahkan tidak menyukaiku, Uzumaki-san."

"Apa kau pikir berada di sampingmu itu mudah bagiku?" Naruto menggenggam erat tangan Hinata dan memandang mata perak itu dengan teguh. "Aku tidak sedang mempermainkanmu. Jika orang yang aku cintai berada di depanku, saat kerja, atau kapanpun. Jelas aku akan mencampur adukan semuanya dengan perasaanku."

"Jangan memancingku, Hinata. Karena aku sudah berusaha menahan diri selama ini." Naruto kembali memberikan Hinata ciuman, namun kali ini dengan lumatan yang cukup menyulitkan Hinata untuk melawan.

Naruto bahkan kini mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja Hinata. Jemarinya mulai memijat pelan payudara Hinata hingga membuat gadis itu melenguh pelan. Sesekali Naruto menggigit pelan bibir Hinata agar lidahnya bisa masuk dan berperang lidah. Mendapat serangan terus-terusan dari Naruto membuat Hinata merasa lemas.

"Hmph!—engh! Haa..., haa...,"

Naruto melepaskan ciuman panjangnya, membiarkan Hinata meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara itu, bibir Naruto mulai turun pada leher jenjang Hinata. Menciumnya dari atas kebawah lalu menggigit dan menghisapnya kuat. Sengaja memberikan tanda kepemilikan dileher putih Hinata dan membuat gadis itu mengerang pelan.

"Aku mencintaimu..., Hinata." Bisikan di telinganya, membuat Hinata mengerang geli. Terlebih ketika Naruto menjilat pelan daun telinganya yang merupakan salah satu area sensitifnya.

Perlahan Hinata mulai melingkarkan kedua tangannya pada leher Naruto. Mulai membalas lumatan yang Naruto berikan dan membiarkan tangan pemuda itu melucuti pakaiannya. Rok hitamnya telah lepas dan kemeja putihnya terbuka sempurna. Naruto menelan ludah saat melihat penampilan Hinata yang begitu memikat.

"Hinata...,"

Naruto menciumi tulang belikat yang terlihat menonjol itu. Saat keadaan semakin memanas, terlebih penampilan keduanya yang sudah sama-sama setengah telanjang. Sebuah suara menyebalkan hadir di tengah-tengah mereka. Suara dering ponsel Hinata yang semua dibiarkan saja, namun tak juga berhenti berbunyi.

Riiiing! Riiiing!

Hinata merogoh ponsel yang sudah tergeletak di lantai dan melihat siapa yang menelpon. "Ku-Kushina-san...," ujarnya sembari menatap Naruto yang kini berwajah masam.

Naruto berdecak kesal, "Cepat jawab!" sentaknya sembari mengacak rambutnya gemas.

"Pe-permisi!" Hinata buru-buru mengangkat telpon sembari memungut pakaiannya dan mengenakannya kembali. "A-ada apa Kushina-san? Ti-tidak, saya sedang tidak sibuk, kok."

Usai merapikan kembali penampilannya, Hinata segera berbalik dan menunduk untuk pamit pulang. Melihat Naruto yang hanya diam di atas sofa, Hinata memilih tidak mau ambil pusing dan segera membuka kunci pintu. Namun belum sempat ia membuka pintu ruang kerja, Naruto menahannya dan mengecup pipi Hinata.

"Kita lanjutkan lagi kapan-kapan," bisik Naruto dengan suara pelan dan mendorong tubuh mungil Hinata yang mematung untuk keluar dari ruang kerjanya.

"Halo, Hinata-chan? Kau masih di sana?" suara Kushina dari balik telpon terdengar, menyadarkan Hinata yang sempat terdiam.

"I-iya saya di sini, Kushina-san...," suara Hinata terdengar ceria, begitu berbeda dengan raut wajahnya yang kini sudah memerah. Bersama debaran jantungnya yang tak kunjung mereda.

.

.

.

continue