Boboiboy menatap layar tablet di hadapannya. Terdapat wajah sang ayah di sana, tersambung oleh video call yang tengah mereka lakukan. Ia di sini, di rumahnya. Sementara ayahnya ada di planet asing yang Boboiboy tidak tahu namanya.

"Selamat ulang tahun, jagoan Ayah." ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum.

Sang anak tersenyum lebar, mengusap wajah lelaki yang telah membesarkannya itu dengan perasaan rindu yang amat besar. Hampir saja ia menangis, namun sekuat tenaga menahannya karena tidak ingin mengkhawatirkan ayahnya.

"Makasih, Ayah."

Ayahnya tersenyum tipis. "Boboiboy mau kado apa? Nanti Ayah bawakan sepulang dari misi." tanyanya kemudian.

Boboiboy terdiam. Ia berpikir bahwa dirinya tidak menginginkan kado ulang tahun apapun. Baginya, mengobrol dengan ayahnya yang berada sangat jauh dari tempatnya duduk sudah lebih dari cukup. Dan mampu membuat hatinya senang sekaligus lega.

"Boboiboy... tidak mau kado, Yah."

Mendengar jawaban pelannya, sang ayah terdiam diikuti senyumnya yang memudar. Pria itu terdiam untuk beberapa saat, sekilas raut muramnya terlihat namun hanya sebentar. Ayahnya sudah tersenyum lagi meski terkesan dipaksakan.

"Kenapa? Biasanya Boboiboy selalu meminta kado ke Ayah?"

"Iya sih ..." Boboiboy menunduk. "Cuma ... Boboiboy lagi nggak mau kado apa-apa." katanya jujur.

Sang ayah akhirnya mengangguk maklum. "Baiklah. Kalau begitu, Boboiboy ingin apa untuk ulang tahun ke depannya? Boleh Ayah tahu?"

Cukup lama hening menyelimuti keduanya. Ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain melalui tablet sebagai perantaranya. Boboiboy melipat bibirnya. Ia mengambil napasnya, sebelum kembali menatap ayahnya intens.

"Boboiboy ..."

"Boboiboy cuma mau ayah pulang di ulang tahun Boboiboy tahun depan,"


"Hope" by Meltavi

A Boboiboy Fanfiction © Animonsta

For #HBDOurHero (walaupun telat hiks)

AU, Gaje, OOC, nggak ngefeel ;_;, dll

Selamat membaca~

.

.

.


Jam weker yang berbunyi nyaring di nakas membuat kesadaran Boboiboy terjaga sepenuhnya. Cowok itu meraih-raih benda berisik di sampingnya, mematikannya, lalu kembali terpejam selama beberapa detik. Sebenarnya ia tidak mau bangun pada hari ini. Ya. Hari ini. Hari yang seharusnya membuatnya bahagia, namun justru malah sebaliknya.

"Boboiboy! Bangun! Sudah jam enam lewat, kau bisa terlambat nanti!"

Teriakan kakeknya terdengar membahana di bawah sana. Boboiboy menghela napas. Memaksa tubuhnya untuk bangkit meski tidak ada niat sedikitpun. Kakinya berjalan menuju kamar mandi, namun pada saat ia tak sengaja menatap kalender, pergerakannya langsung terhenti.

13 Maret 2020

Hari ulang tahunnya.

Dan masih teringat jelas ucapan ayahnya saat itu.

"Baiklah. Kalau begitu, Boboiboy ingin apa untuk ulang tahun ke depannya? Boleh Ayah tahu?"

"Boboiboy cuma mau ayah pulang di ulang tahun Boboiboy tahun depan,"

"Oke. Ayah janji."

Janji...

Ayahnya sudah berjanji, yang artinya harus ditepati. Tapi, janji itu diucapkan enam tahun yang lalu. Dan sampai sekarang pun, janji itu belum ditepati.

Setiap ulang tahunnya, Boboiboy selalu duduk di depan teras rumahnya, berharap sosok ayahnya datang dengan senyum lebar dan tangan yang direntangkan untuk memeluknya erat. Ia akan menunggu di sana, sampai ayahnya benar-benar muncul meski kenyataannya tak pernah datang. Tahun pertama, Boboiboy mencoba mengerti dan sebulan setelahnya ia baru bisa menagih janji itu. Ayahnya bilang ia tidak bisa pulang karena ada misi.

Boboiboy mencobanya lagi tahun depan. Duduk, memandangi jalan, menanti sang ayah datang. Namun tetap, ayahnya tidak pulang. Pun dengan tahun-tahun berikutnya. Hasilnya nihil.

Yang keempat kalinya, Boboiboy menunggu seharian walau dirinya sudah lelah sekali menunggu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Harapannya terus semakin terkikis seiring berjalannya waktu. Ia masuk ke rumahnya dengan kekecewaan yang amat besar. Tapi ketika ia menengok kembali, Boboiboy menemukan sebuah kotak berwarna cokelat sudah tergeletak di dekat pagar rumahnya. Pada saat ia membuka kotak itu, Boboiboy mendapati benda berbentuk bulat. Warnanya kuning, serta terbuat dari besi. Dan siapa sangka ternyata itu adalah sebuah robot.

Robot kecil yang bisa melayang. Ochobot namanya. Kado dari sang ayah. Begitu yang tertulis di catatan kecil bersama Ochobot.

Saat pertama kali memang aneh rasanya mengenal robot. Tapi lambat laun, Ochobot seolah menarik dirinya untuk berteman. Mereka bercerita, bahkan Ochobot bisa menghiburnya ketika sedih. Boboiboy seolah mendapatkan teman baru yang amat luar biasa dari ayahnya. Karena hal itu, ia bisa sedikit melupakan kekecewaan akibat janji ayahnya yang lagi-lagi tidak ditepati.

Semenjak itu, ia berteman dengan robot kuning bernama Ochobot itu. Ochobot bilang ayahnya belum bisa menepati janjinya dikarenakan misi yang harus diselesaikan. Mendengar kata misi membuat Boboiboy muak. Ia sampai berpikir, sepenting apa misi itu hingga bisa menghalangi ayahnya untuk bertemu dengannya di tanggal 13 Maret? Apa dirinya sudah tidak berarti lagi untuk ayahnya? Apa memang benar misi lebih diutamakan daripada dirinya?

Ia pernah bertanya pada Ochobot, dan robot itu menjawabnya dengan serius. Ternyata misi ayahnya merupakan misi menyelamatkan bumi dan galaxy. Boboiboy terkesiap mendengarnya. Dulu, ayahnya juga bilang begitu pada saat dirinya masih kecil. Karena tidak mengerti, Boboiboy hanya menganggap itu lelucon, ayahnya sedang bercanda. Namun ia benar-benar tidak menyangka itulah kebenarannya.

Pemikirannya pun berubah. Ia tak lagi menuntut sang ayah untuk segera menepati janjinya. Boboiboy berganti meyuruh ayahnya untuk tetap berhati-hati, selalu selamat selama menjalankan misi. Ayahnya terkejut karena ia mengetahui semua itu. Sekarang Boboiboy tidak peduli lagi dengan janji itu, asalkan ayahnya baik-baik saja. Asalkan ayahnya tidak terluka. Walaupun terkadang, hati kecilnya masih mengharapkan ayahnya datang pada hari ulang tahunnya.

Boboiboy menghela napasnya panjang. Sudah cukup memikirkan itu semua. Ia harus tetap melakukan rutinitasnya.

Tidak apa-apa ayahnya tidak pulang lagi di hari ulang tahunnya. Setidaknya Boboiboy masih memiliki Tok Aba dan Ochobot yang selalu menemaninya di sini.

Ya. Ia harus bersikap dewasa sekarang.

"Boboiboy! Cepat, kau lama sekali!"

Suara khas robot itu menyapa pendengarannya dari balik pintu. Boboiboy tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah suara itu.

"Sebentar lagi!" balasnya.

"Buruan! Aku ingin membantu Tok Aba membuka kedai. Nanti kau makan dengan siapa kalau tidak denganku?!"

Bukannya takut dengan omelan Ochobot, Boboiboy malah terkekeh. Ochobot itu cerewet sekali, melebihi ibu-ibu yang mengomeli anaknya karena rebahan mulu.

"Iya, iya! Dasar bawel!"

"Bawel-bawel gini tapi kau selalu merengek padaku. Seperti kemarin, saat kau minta bantuan padaku untuk menembak Ya–"

"OCHOBOOOT!"

"Ups."

Terkadang Boboiboy lupa robot itu bisa sangat menyebalkan. Lihat 'kan, mulai ngibarin bendera perang.

"Aku pergi dulu! Bye bye!"

Setelahnya tak ada lagi suara cempreng Ochobot. Boboiboy mendengus. Tahu betul robot bulat itu tengah kabur untuk menghindari tendangan mautnya.

Tidak ingin memikirkannya lebih lanjut, Boboiboy segera membersihkan diri untuk bersiap berangkat ke sekolah.

Limabelas menit kemudian, Boboiboy sudah rapi dengan seragam sekolahnya dibalut jaket oranye. Ia mengambil tas beserta topinya, lalu turun ke bawah untuk sarapan bersama Ochobot. Boboiboy jarang sarapan dengan Tok Aba, karena pria paruh baya itu harus menyiapkan kedai cokelatnya pagi-pagi sekali. Ia hanya bisa merasakannya pada hari libur. Tapi itu tidak apa, karena mereka bisa sarapan bareng-bareng pada malamnya.

Ochobot menyodorkan sepiring nasi ke depan cowok itu. Ia sedikit takut-takut menatap tuannya–begitu anggapannya untuk Boboiboy walau cowok itu mengatakan mereka adalah teman–. Takut jika tiba-tiba Boboiboy melayangkan tendangan supernya akibat candaannya tadi.

Demi apapun, tendangan Boboiboy tuh beneran sakit banget. Mungkin karena Boboiboy mahir dalam bermain sepak bola, dan kebetulan bentuk tubuhnya mirip sekali sepak bola. Perpaduan yang sangat pas.

"Apa?!" sentak Boboiboy ketika bertatapan dengan robotnya itu. Ia masih kesal karena tadi. Untung saja Tok Aba sedang di kedai. Kalau tidak, mau ditaruh di mana wajahnya saat Tok Aba tahu dirinya menembak Yaya–tetangga mereka– sebulan lepas. Mending kalau emang Yaya membalas perasaannya. Namun realita tidak sesuai dengan ekspektasinya.

"Hehehe ..." Ochobot cengengesan. "Ya maap ... 'Kan cuma bercanda." ucapnya membela diri.

Sesudah memberi tatapan sinis yang sanggup membuat Ochobot meneguk ludah–seandainya ia bisa–, Boboiboy mulai sarapan tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Ochobot menghela napas lega kala mengetahui tuannya tidak memperpanjangnya lagi. Ia duduk–melayang lebih tepatnya–di hadapan Boboiboy dengan memperhatikan lamat-lamat cowok itu.

Hari ini tentu saja Ochobot ingat dengan baik sebagai ulang tahun Boboiboy. Juga bertepatan dengannya yang muncul di dunia ini sebagai hadiah untuk anak itu. Ochobot tidak akan pernah lupa wajah bingung Boboiboy saat pertama kali bertemu dengannya. Takut, bingung, kecewa, adalah yang Ochobot tangkap di wajahnya pada hari itu.

Sesuai tugas yang diberikan padanya, Ochobot terus menemani Boboiboy dan akan selalu ada bersamanya. Ia menjelaskan semua hal pada Boboiboy. Tentang ayahnya. Tentang misinya. Meski sebenarnya tidak tega memberitahu hal itu, Ochobot tetap harus. Karena ini tugasnya.

Namun Ochobot tidak tahu. Setelahnya, Boboiboy menangis. Pertama kali Ochobot melihat tuannya menangis. Ia bingung harus berbuat apa agar tangisan itu berhenti. Ochobot sampai harus menganalisis apa yang harus ia lakukan, dan baru menemukan jawabannya selepas itu.

Yang mana membuat tangan robotnya terulur, menyentuh bahu tuannya untuk diusap pelan, sebelum dirinya memeluk tubuh yang bergetar hebat itu.

"Jangan menangis..." Itu yang ia ucapkan selama tangannya mengusap bahu Boboiboy, sampai tangisan itu benar-benar berhenti.

Sejak hari ia memberitahu segalanya pada Boboiboy, Boboiboy tidak mau mendengar ucapan selamat ulang tahun pada hari kelahirannya. Saat ditanya kenapa, Boboiboy tidak menjawab. Membuat Ochobot khawatir karena takut ialah penyebabnya.

Dan tahun kemarin, ia menuruti perintah pertama tuannya itu. Ochobot tidak mengatakan apa-apa pada 13 Maret datang. Saat hari itu juga, Boboiboy cenderung pendiam. Tidak banyak bicara, lebih banyak mengurung diri di kamar. Ochobot berusaha membiarkannya. Ia mencoba mengerti, meski dirinya tidak mempunyai hati sebagai perasa. Ochobot meyakinkan dirinya, mungkin saja Boboiboy ingin sendiri di hari ulang tahunnya.

Namun ketika malamnya, Ochobot terkejut mendapati Boboiboy duduk termenung di teras rumah. Menunggu. Seperti ritualnya pada saat ulang tahun. Dari situ Ochobot memahami, tuannya masih menaruh harapan ayahnya akan pulang di tanggal 13 Maret. Dan ia tidak bisa melakukan apapun selain menontoninya dari pintu rumah.

"... chobot?"

Lambaian tangan Boboiboy berhasil menyadarkan Ochobot dari renungannya. Mata bulat biru robot itu mengerjap, menatap bingung wajah tuannya yang memandangnya heran.

"A-apa?"

"Kau diam saja daritadi. Apa yang kau pikirkan?"

Ochobot terdiam. Jadi daritadi ia melamun?

"Ah, tidak kok. Aku hanya ... melamun."

Boboiboy mengernyit. "Aku baru tahu robot bisa melamun."

Ochobot menggaruk kepala besinya. "Aku 'kan robot canggih. Jadi bisa lah!" katanya bangga. Meski itu hanya sekadar alibi.

Boboiboy mencibir. Memilih tidak membahasnya lebih lanjut, ia memakai tasnya.

Melihat tuannya sudah bersiap pergi sekolah, Ochobot bangkit.

"Aku berangkat dulu. Sampai nanti."

Boboiboy melangkah menuju pintu. Belum sampai kakinya ke ambang pintu, suara Ochobot membuatnya berhenti. Bukan, bukan karena ia terkejut Ochobot berucap tiba-tiba. Namun perkataannya.

"Selamat ulang tahun ..."

Tubuh Boboiboy tidak bergerak sedikit pun. Ia diam mematung, sampai Ochobot kembali bersuara.

"Aku tahu kau tidak mau mendengarnya. Tapi ..." Helaan napas terdengar. "Biarkan sekali ini saja. Aku ingin mengatakannya ... Untukmu, Boboiboy."

"... Selamat ulang tahun ..."

Hening.

Sampai kemhdian pintu ditutup pelan tanpa ada balasan dari Boboiboy.

•••

"Selamat ulang tahun."

Kata itu mengingatkan dirinya pada sang ayah beberapa tahun silam. Ucapan selamat ulang tahun dari ayahnya saat wajah mereka saling berhadapan meski layar tablet menjadi penghalangnya. Boboiboy ingat betapa senangnya ia saat mendengar ucapan itu. Sebelum dirinya mengatakan keinginan pada sang ayah, sebelum dirinya harus bersabar menanti kepulangannya, sebelum dirinya menyadari betapa beratnya misi sang ayah.

Ucapan selamat ulang tahun memang yang paling dinantikan saat hari kelahiran seseorang tiba. Namun, saat pada akhirnya ucapan itu membuat dirinya dihantui harapan berujung kekecewaan, Boboiboy memilih untuk tidak mau mendengar ucapan itu. Dadanya selalu sesak, dan Boboiboy terkadang bisa menangis tanoa aba-aba.

Tapi, Ochobot mengucapkannya tadi. Boboiboy tidak bisa marah, karena ia juga mengerti Ochobot ingin mengucapkan selamat ulang tahun disaat ia melarangnya. Namun entah kenapa, Boboiboy tetap merasa sedih.

Kini ia berada di teras rumahnya, duduk termenung memandangi ujung jalan. Entah apa yang ia lakukan saat ini, Boboiboy tidak benar-benar mengerti. Hatinya yang mengatakan, bahwa untuk tahun ini saja ia menunggu ayahnya pulang untuk terakhir kalinya. Terkabul atau tidak harapannya, Boboiboy tidak peduli lagi. Ia benar-benar hanya ingin melakukannya.

Angin malam berhembus kencang langsung menusuk kulitnya. Boboiboy menyadari ia hanya memakai kaos putih pendek. Pantas saja dirinya kedinginan. Untungnya celana yang ia pakai panjang dan hangat. Dihelanya napas panjang, mendongakkan kepala untuk memandangi bintang yang menghiasi langit hitam di atas.

Bintang mengingatkannya pada setiap harapan yang ia buat setiap hari. Walau kebanyakan orang membuat permohonan pada saat bintang jatuh, Boboiboy hanya cukup melihatnya saja, dan mengucapkan harapannya di dalam hati.

Doa itu tak pernah luput dari keselamatan ayahnya. Semoga ayahnya baik-baik saja di sana. Tanpa satu pun luka, tanpa sedikitpun merasakan sakit. Ochobot pernah bilang ayahnya adalah anggota yang hebat, kuat pastinya. Mendengar itu membuat Boboiboy sedikit lega. Setidaknya, ayahnya memang tangguh untuk mendapatkan luka apapun. Ia percaya, ayahnya bisa melewati itu semua. Menyelesaikan semua misinya, dan bisa bertemu dengannya kembali. Yang tidak bisa ia tahu kapan.

Malam semakin larut. Pulau Rintis pun semakin sepi. Boboiboy tetap duduk di sana, ditemani heningnya malam dan semilir angin yang kian menusuk. Waktu yang terus berjalan semakin mengikis harapannya.

Tunggu. Bukankah tadi ia sudah siap dengan segala kemungkinannya? Memilih untuk tidak peduli lagi apakah harapannya akan terkabul atau tidak. Lalu, mengapa sekarang ia menjadi seperti ini?

Boboiboy menghela napas. Sadar akan kelabilannya, ia akhirnya bangkit dari posisi duduk. Bersiap untuk kembali masuk ke rumah walau hatinya terasa berat. Dilihatnya sekali lagi jalanan di depan mata, yang tetap kosong tidak ada apa-apa. Pelan tapi pasti, tubuhnya berbalik. Mengambil langkah pertama saat telinganya mendengar suara sesuatu yang bergesek dengan aspal.

Srek.

Boboiboy terdiam. Beberapa detik setelahnya, sebuah suara kembali terdengar. Sangat pelan, pelan sekali sampai-sampai ia ingin meneteskan air mata.

"Boboiboy ..."

Suara itu. Suara yang amat ia rindukan. Suara berat dan tegas namun bisa terdengar lembut di telinganya. Boboiboy melipat bibirnya, masih belum berani untuk menoleh. Sesuatu di dalam dadanya seperti ingin membuncah keluar.

"... jagoan Ayah ..."

Dan air matanya meluruh detik itu juga.

Tanpa menunggu lama lagi Boboiboy membalikkan tubuhnya. Pandangannya langsung bertemu sosok itu, sosok yang selalu ia harapkan kedatangannya. Senyum terbentuk di wajah yang hampir menua itu, tak mampu lagi membendung perasaan bahagia.

Kaki Boboiboy melangkah. Lalu berjalan cepat. Kemudian berlari. Hingga pada akhirnya, tangan kokoh sang ayah dapat menggapai tubuhnya untuk didekap erat. Pelukan hangat yang mana langsung membuatnya merasa aman. Dieratkannya pelukan itu, menumpahkan segala rindu yang amat besar di antara keduanya.

"Ayah ..." isak Boboiboy, wajahnya ia sembunyikan di pundak tegap pria itu.

Ayahnya tersenyum haru. Sesekali matanya mengerjap agar cairan liquid itu tidak keluar. Tidak selama anaknya masih memeluknya erat.

"Maaf Ayah terlambat ..." ucapnya pelan sembari mencium surai hitam Boboiboy. "Maafin Ayah, Boboiboy ..."

Boboiboy semakin terisak. Ia menggeleng sebagai jawaban bahwa Ayahnya tidak perlu meminta maaf. Tangannya semakin erat mendekap ayahnya, seperti tidak mau melepaskannya. Kalaupun ini mimpi, Boboiboy tidak mau menyia-nyiakan bunga tidur indah ini.

Tapi semua yang ia rasakan begitu jelas. Sosok hangat di depannya benar-benar nyata. Harapannya datang. Penantiannya tidak sia-sia. Dan janji itu, akhirnya tertepati.

"Selamat ulang tahun, Boboiboy ..." ucap Ayahnya.

Malam itu, Boboiboy menemukan kado terbaik ulang tahunnya.

.

.

.

.

Finizh

a/n :

Happy (late) birthday Boboiboy! /tebarconfetti

Iyaa, tau kok emang udah telat banget. Tapi setidaknya masih bulan maret, jdi nggak papa lah ya~ /seenaknya

Ini kurang nge-feel sih menurut aku. Udah tau lemah nulis angst, tapi tetep aja nulis. dasar aku /plaak

Kayaknya itu aja. Sekian semuanya^^

Bubaai