"Kata mamah pulang."

"Ini mau."

"Sekarang-

.

Blacklistname Present:

Blue

-A love that plain n simple

.

-sama aku."

Laki-laki yang duduk di atas vespa matic itu, memberikan helm. Sekarang di hadapannya ada calon penumpang. Tanggung jawab keselamatan otomatis dipindahtangankan padanya, setelah sang gadis duduk di belakang.

Namun Ying malah bergeming untuk beberapa saat, menatap lama pada helm yang kini berubah warna menjadi putih-dari enam bulan terakhir ia melihatnya, adalah biru.

Hatinya ragu. Lantas satu pertanyaan muncul di benaknya, alih-alih ia jadikan alasan untuk memperulur waktu.

"Kenapa kamu yang jemput?"

Dua pasang mata bertemu.

Air melemaskan tangannya. Alhasil helm yang sebelumnya di atas udara, jatuh membentur pahanya.

"Mamah kamu nelpon pas aku lagi tidur."

"Tumben bangun?"

Memutuskan kontak, Air menoleh ke arah lain untuk tertawa. Lucu juga, Ying masih mengingatnya. Sebuah pertanyaan yang sering kali gadis itu lontarkan, sebagai tanda marah apabila Air tidak bisa dihubungi karena tertidur.

Ying mengangkat kedua alis tak mengerti. Kembali menatapnya, Air tersenyum. "Masih inget, kamu?"

Kata-kata Air ambigu. Membuat dahi kecil Ying mengkerut, otaknya berputar meminta jawaban.

Air terkekeh. "Lupa, ya?"

"Apaan emang-

Wajahnya mengekspresikan rasa kaget kemudian. Menutup separuhnya dengan tangan, pipi Ying memerah setelah sadar apa yang ia ucapkan sebelumnya.

Air tertawa lagi. Kini lebih keras.

"Ih!" Dipukulnya bahu sang pemuda untuk melampiaskan rasa malu. Air meringis nyeri, Ying memberengut kesal.

"Pulang yu, keburu malem." Masih dengan sisa tawa, Air menepuk jok belakang dua kali. Namun yang menatapnya, terbang mengingat memori.

Di sana, Ying pernah menjadikannya sebagai tempat favorit untuk beristirahat. Sebuah sandaran setelah menjalani hari-hari berat, di mana Air akan datang menjemputnya, lalu ia duduk di atas skuter biru dengan nyaman dan memeluk Air erat dalam tidurnya. Membiarkan sang pengendara itu melajukan kendaraannya kemanapun dia mau. Yang penting bersama Air, begitu pikir Ying dulu.

"Masih inget cara naiknya, ga?"

Ying mendengkus geli mendengarnya. Teguran Air berhasil menariknya keluar dari lamunan.

"Ya inget, lah!"

Keduanya tertawa.

Akhirnya Ying beranjak menaiki vespa Air, dengan sebelumnya memakai helm yang dipinjamkan sang pemilik.

Beban skuter tidak terlalu bertambah berat mengingat badan Ying yang kecil, masih sama seperti dulu.

"Udah?" Bertanya untuk memastikan, Ying menjawab dengan kata yang sama namun intonasinya sebagai pernyataan.

Air menyalakan starter, ia pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan halte sekolah, menyusuri jalan penuh kendaraan, ditemani langit yang kelabu sehabis hujan.

Enam bulan terakhir ia berkendara sendiri. Jujur, Air kesepian. Tiap jalan yang ia tempuh tidak berwarna, hanya hitam atau putih. Cantiknya langit sore dikala ia pulang sekolah pun, tidak semenarik dulu. Bahkan Air tak sudi menatapnya lama-lama, karena itu bisa mendatangkan nyeri.

Tapi sekarang ada Ying. Lagi. Yang ia tatap dari kaca spion, sorot matanya bersinar menyapu pemandangan. Air tersenyum. Ada hadirnya sungguh membuat sesuatu yang ada di dalam sana terobati.

Yaitu Rindu.

.

.

.

.

.

"Tadi hp-nya mati?"

Pada detik ke 90 lampu merah, Air memulai percakapan.

Ying menyahut, namun mengharuskan Air mengulang pertanyaannya.

Ia pun menengok sedikit dan menyandarkan bahunya ke belakang. "Tadi hp-nya mati?"

Kebiasaan, begitu batin Ying memaki pemuda di depannya. Ia mendekatkan diri dengan memajukan kepala, oh, suara Air masih saja kecil bahkan di jalan raya. "Apa? Kerasin suaranya!"

Menaikkan volume, Air sedikit berteriak. "Tadi hp kamu mati?"

"Iya. Kenapa emangnya?"

"Tadi mamah kamu panik. Kenapa belum pulang-pulang, katanya."

"Padahal aku udah ngabarin."

"Khawatir aja mungkin."

"Iya kayanya."

Dan percakapan itu pun berakhir, karena lampu merah berganti warna.

Kebiasaan Ying apabila sedang sibuk entah dengan urusan klub atletik atau dengan urusan sekolah, adalah lupa men-charge ponselnya. Membuat semua orang panik seakan-akan gadis itu hilang. Namun dahulu, mama Ying cukup mempercayakannya pada Air. Jadi kecemasannya tidak terlalu tinggi.

Sebenarnya sekarang pun masih begitu. Namun orangnya bukan Air lagi, melainkan yang lain. Hari ini ia ada di luar kota, mengikuti olimpiade untuk membawa nama baik sekolah. Lantas mama Ying tak ada pilihan lain selain melampiaskan kekhawatirannya pada Air. Untuk yang ketiga kali, dalam satu bulan ini.

.

.

.

.

.

Vespa biru berhenti di depan rumah ber-cat putih dengan pagar berwarna senada. Air menatapnya sesaat, ini tempat istimewa yang selalu ia rindukan. Orang-orangnya, suasananya, segala halnya.

Presensi mama Ying hadir di depan pintu. Menunjukkan ekspresi lega, setelah melihat keduanya datang. Air pun tersenyum, seraya menundukkan kepala sopan.

"Nyampe, Ying."

Ying turun dari motor. Menghadap Air, dengan kepala yang menunduk dalam. Ia kesusahan membuka pengait helm di bawah dagunya.

"Bisa ga?"

Gerakan Ying makin agresif. Pengait tidak juga terlepas, dan suara isakan terdengar tiba-tiba.

Air menyatukan kedua alis ketika menyaksikannya.

Dilihatnya bahu kecil itu bergetar, membuatnya dengan cepat menangkup wajah Ying untuk ditenggakkannya, sehingga sejajar dengan milik Air sendiri.

Ia, menangis.

Rasa sakit seperti dulu, tepat jika melihat Ying seperti ini, kembali mengambil alih diri Air.

Sorot mantan sang kekasih membuat kedua tangan Ying lemas jatuh ke bawah.

"Kenapa?"

Sesak, Ying menjawab walau bersusah payah agar terdengar jelas. "K-k-ka-kang-ng-ngen kamu. Tapi udah gabisa."

Ia tersedu-sedu. Suaranya parau dan menyedihkan.

"Jangan dateng lagi, Ir."

Dan Air menitihkan cairan yang sama sepanjang perjalanan pulang, dalam diam.

End

fic kedua dari projek #highschoolvibes aku

awalnya ingin buat TauYa. tapi aku tetiba suka sama mereka.

mereka kapal baruku sekarang hhe