Strange Relationship
Disc. Masashi Kishimoto
a fanfiction sasuhina
Rated: M
Happy reading!
Mereka adalah sepasang kekasih, namun saling menyakiti.
Mereka adalah sepasang kekasih, namun saling menyelingkuhi.
Aa... kita mulai cerita ini dengan sudut pandang lelaki terkenal di konoha high school, Uchiha Sasuke. Dialah si pemikat para wanita, memiliki sikap manis terhadap kaum perempuan, mempunyai wajah putih dan tampan serta iris sehitam malam yang mampu membuat gadis-gadis memujinya, terpesona akannya, mengejarnya, takluk padanya. Begitu sempurna. Hanya saja, ia memiliki satu kekurangan, satu kekurangan yang menjadi penghalang bagi perempuan-perempuan pemujanya untuk bisa mendekatinya. Sasuke sudah memiliki kekasih. Namanya Hyuuga Hinata.
"Jadi... sayangku, kau sudah punya partner malam ini?" tanya Sasuke menyorot jail, mengangkat dagu Hinata lalu mengelus pipinya pelan. "Ingin kutemani?" bisik Sasuke intim. Mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih sejak, yah, kelas satu junior high school, sekitar lima tahun yang lalu.
Hinata mendesis, namun, tetap membiarkan jari Sasuke memainkan rambutnya, gadis itu menatap tajam Sasuke jengkel. "T-Tentu saja, kau harus ingat, selingkuhanku kali ini, benar-benar bisa membuatmu kalah." Hinata membalas yang disahuti senyum lebar Sasuke yang hanya ditunjukkan untuk kekasihnya tersayang ini, Sasuke mengecup rambut Hinata sebentar, kemudian menegakkan tubuh lalu berdiri dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. "Oke, ingat ini partnerku bernama Karin."
Hinata mendengus, "Oh selingkuhanmu kali ini gadis berpakaian kurang bahan, Sasuke-kun?"
Ada nada cemburu di sana, tetapi sayang sekali, Sasuke tidak menyadari akan hal itu.
Sasuke mengangguk tanpa sekalipun berpaling dari iris bulan Hinata yang menyerapnya, ia mengangkat bahu tak acuh. "Aku ingin mencobanya." Mengambil benda yang sedari awal tersimpan di kantung celana, Sasuke pun mengeluarkannya, itu adalah roti isi stoberi kesukaan Hinata, Sasuke memberinya seperti biasa. "Makanlah, aku pergi ya." Sasuke berujar lalu mengacak sebentar puncak rambut Hinata lalu pergi menuju kelasnya.
Bukankah hubungan mereka sedikit aneh? Oh atau perlukah diralat ulang?! Ya! Hubungan mereka memang aneh bahkan sangat aneh. Mereka sepasang kekasih yang memperbolehkan satu sama lain untuk saling selingkuh, hanya sampai mereka menemukan pilihan tepat, apakah tetap bertahan pada hubungan lima tahun mereka atau salah satu di antara mereka menemukan yang lebih baik. Dan apa pun pilihannya, mereka berjanji, tidak akan saling menyalahkan ketika keputusan akhir sudah diputuskan.
Lima tahun mereka berpacaran, bukankah kebosanan pasti datang pada hubungan yang seperti itu?
Maka, Sasuke mencoba suatu permainan. Permainan tentang hati. Dan dengan kepercayaan dirinya sendiri yang luar biasa, Sasuke bersumpah, permainan ini akan dimenangkan olehnya meski Hinata mencoba menyelingkuhi dirinya berkali-kali dengan laki-laki lain. Karena, Sasuke memang mencintai gadis itu. Sangat mencintainya sampai jika dihadapkan dengan gadis cantik lainnya sekalipun, pilihan Sasuke tetap jatuh pada Hinata seorang.
Ini hanya permainan.
Permainan yang sedikit demi sedikit malah menyakiti perasaan keduanya.
Malam pun datang, pesta dansa kecil telah diadakan oleh Shion untuk merayakan ulang tahunnya, dia--gadis berambut putih sepunggung merupakan gadis yang senang membuang uang demi kesenangan. Tak perlu menanyakan soal ekonomi, pekerjaan orang tua gadis itu cukup untuk dihamburkan hingga tujuh turunan sekalipun. Senyumnya melebar, saat, Karin menyalaminya dan mengucapkan selamat akan pesta malam itu. Shion mengangguk, kemudian, melirik partner Karin kali ini sembari tertawa.
"Oh, kali ini bersama Uchiha?"
Karin yang ditanya, tersenyum genit, ia kembali menyenderkan kepalanya pada lengan tegap Sasuke, sedikit menggesekkan tubuh seksinya menggoda. "Malam ini, dia milikku, loh," ujarnya menyombongkan diri. Shion terkekeh. "Kau tahu, aku juga pernah menjadi pasangan Sasuke untuk menghadiri pesta lainnya, dan yang kudapat ialah, ditinggalkan." Shion mendengus kemudian melanjutkan. "Dan aku cukup sakit hati akan hal itu." Karin mengerutkan kening. "Jadi, Karin, kau akan segera tahu sikap buruknya nanti setelah kekasihnya datang. Oh dan satu lagi, selamat bersenang-senang!"
Karin menggeram, menyadari satu hal, ia tersenyum mengejek, alisnya naik, dengan bibir merah merekah sinis. "Tidak akan, karena tubuhmu tidak sebagus aku untuk menahan Sasuke tetap bersamamu. Haha." Karin tertawa yang dibalas Shion dengan mengangkat bahu, seolah mengatakan, lihat saja nanti. Dan hal itu, cukup membuat Karin geram.
Malam ini, Karin mengenakan gaun berwarna merah menyala senada dengan rambut terang yang memang sudah diwarnainya. Kedua bahu putih mulusnya dilihatkan beserta potongan rendah pakaian yang memperlihatkan belahan dada untuk menggoda siapa pun agar melihat isinya. Panjang gaunnya hanya sebatas pertengahan paha, juga kain yang ketat untuk membentuk lekuk tubuh. Jika saja, Karin bukan bersama Sasuke atau bersama pemuda lain yang mesum seperti Suigetsu, atau laki-laki hidung belang lainnya, mungkin gadis merah itu sudah diserang habis-habisan di dalam kamar.
Ya, tapi di sini Sasuke.
Laki-laki rupawan yang anehnya... tidak tertarik pada apa pun selain... selain--sebentar--bukankah semua lelaki menyukai tubuh perempuan? Maka Karin akan mencobanya, lagipula menjadi wanita one night stand tidak buruk juga jika bersama seorang lelaki Uchiha.
Sasuke menghembuskan napas berat, pandangannya masih tertuju mencari gadisnya, ia harus mengetahui, siapa yang akan dibawa oleh gadis itu malam ini. Karin kembali memanggil namanya, membuat Sasuke mengumpat dalam hati--oh bagaimana tidak?!--gadis itu hanya merusak moodnya karena dia benar-benar mengganggu dengan segala godaannya!
Shit. Sasuke melirik tidak berminat, ia berdehem manyauti.
"Sasuke-kun, apa kau tidak mendengar musiknya? Inti acara sedang dimulai. Kau tidak ingin berdansa denganku?" Karin berujar, menempeli lengan Sasuke manja.
Tidak. Sasuke menahan geraman. Risih jika ditempeli terus-menerus. Lain kali, Sasuke tidak mau berselingkuh dengan Karin Uzumaki itu, merepotkan saja!
"Ayolah Sasuke-kun," rajuk Karin sedikit dibumbui desahan. Ia menggesek dengan lembut dua payudaranya pada lengan Sasuke memberi rangsangan. Ck. Sasuke mendecih, masih tidak ada tanda kekasihnya datang. Baru sebentar saja, Sasuke sudah rindu dengan gadis berambut indigo bermata bulat itu. Sasuke memejamkan mata sejenak. "Baiklah." Finalnya kemudian dengan lelah. Karin tersenyum lebar lalu menarik Sasuke ke tengah ruangan.
Musik mengalun, layaknya, musik romantis pada umumnya, Sasuke melakukannya dengan setengah--seperempat--ah tidak, Sasuke melakukannya dengan tidak ikhlas itu tetap bergerak sesuai irama. Sampai, bisik-bisik kecil terdengar, beberapa perempuan penggosip yang berada di ujung tempat makan membicarakan satu objek yang belum Sasuke ketahui siapa. Semua orang seolah berhenti bergerak, meski musik masih mengalun dengan begitu indahnya, semua mata tertuju pada objek yang sama, Sasuke tertegun. Lama sekali, ia masih dalam kebisuannya sampai Karin mendecak kesal pada si objek. Saat itulah, lamunan Sasuke tergantikan oleh umpatan yang tak bisa dirinya tahan. "Sialan!"
Di sana, Hinata berdiri, berdampingan dengan Gaara, menggunakan gaun berwarna putih bagai sang malaikat kecil dan sang pemikat sekaligus. Kedua bahunya sampai punggung belakang terbuka, menampakkan kulit putih pucat yang mulus. Dada Hinata yang terbungkus gaun begitu terlihat tidak baik, dadanya memadat dan sesak, sangat menggoda bagi siapa pun yang melihatnya. Panjangnya gaun mencapai mata kaki, bagian bawah gaun menyebar seperti princess dalam serial disney. Sasuke meninggalkan Karin begitu saja, menghampiri Hinata untuk kemudian menariknya kasar, sampai gadis itu melepaskan genggamannya pada Gaara. Hinata berujar panik, "Sa-Sasuke-kun?"
Tidak ada jawaban apa pun dari Sasuke. Pesta menjadi riuh, semua penonton memusatkan pandangan pada Sasuke yang terus menggenggam tangan Hinata menuju halaman belakang dekat kolam renang. Setelah sampai, Sasuke mendudukkan gadis itu di tempat kosong, menyorotnya dalam menggunakan tatapan intimidasi.
Lelaki Uchiha itu juga membuka pakaian luarnya, lalu memakaikannya pada tubuh Hinata sembari mengumpat jengkel. Hinata bergerak gelisah, memandang Sasuke bingung dengan sorotnya yang lurus, ia mengulurkan tangan menyentuh wajah Sasuke hati-hati. "A-apa kau baik-baik saja, Sasuke-kun?"
Damn.
Sasuke melotot kesal, ia mencoba untuk merapatkan pakaian luarnya pada Hinata untuk menutupi tubuh gadis itu yang dipuja oleh semua kaum pria. Sialnya, jas hitam pria itu tidak ada kancing, sehingga, tubuh bagian depan Hinata masih terlihat, hal itu membuat Sasuke mengerang. "Aku benci ini."
Hinata yang masih di ambang kebingungan, mengerjap tidak paham, matanya berkilat saat dugaan bahwa Sasuke tidak menyukainya datang membayangi begitu saja. "Benci pada a-apa?"
"Kau." Singkat, padat, dan dingin. Iris Hinata membulat. Sasuke kembali berujar tajam. "Sudah kubilang, kau tidak cocok menggunakan pakaian seperti ini." ketusnya tak acuh. "Sepatumu juga." Sasuke mengumpat, ia berlutut di hadapan gadis itu, dan melepaskan sepatu yang dikenakan Hinata tanpa meminta izin terlebih dahulu pada sang pemiliknya. Hinata menggigit bibir resah. "Ta-tapi bukankah Sasuke-kun ingin mencoba gadis dengan pakaian terbuka?"
Hinata kembali menyorot Sasuke sedih. "Ka-kau tidak menyukainya?"
Sasuke nyaris menjerit saat pertanyaan itu meluncur dengan bebas dari bibir ranum Hinata. Sadarkah gadis itu, bahwa penampilannya bisa membuat seorang Sasuke Uchiha hilang kendali?! Kuso.
Sasuke menghembuskan napas, ia mengusap wajah Hinata pelan. "Dengar, putuskan selingkuhanmu itu, dan kau harus tahu bawa kau tidak perlu mengubah apa pun demi aku." Sasuke menyorot Hinata lekat, memberi sorotan memuja pada gadis pemilik jiwanya. "Kau tidak perlu menggunakan make up, gaun terbuka, atau sepatu kekecilan." Sasuke tersenyum ringan, mengecup pipi Hinata sayang. "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk begitu, karena kau cantik bahkan tanpa perlu mengubah dirimu."
Hinata termenung, sedetik setelahnya senyumnya merekah lebar, rasa panas menjalar dari leher, telinga and dua pipinya, ia mengangguk senang dengan debaran hebat dari jantungnya.
"Kita pulang ya?"
Dan apakah Hinata bisa menolak setelah semua tindakan romantis itu? Tidak, tentu saja, gadis itu mengangguk.
Shion tertawa, ia berjalan anggun menghampiri Karin sembari memegang gelas cantik dengan isi cairan berwarna keemasan. Ia tersenyum mengejek, saat melihat gadis berambut merah itu memasang wajah jengkel tidak karuan. "See?" ujarnya terkekeh senang. "Dia hanya main-main denganmu, sayang, prioritasnya hanyalah gadis itu. Hyuuga Hinata." Saat itu, Karin berani bersumpah pada apa pun yang berada di atas sana, bahwa, jika saja pesta itu tidak ramai oleh perempuan penggosip, Karin sudah menerjang Shion dengan berbagai cakaran dan jambakan.
--[art]--
Ino memekik, teman sekelas Hinata itu berujar senang. "Aku melihatnya loh! Aku melihat Sasuke-kun membawamu ke halaman belakang dan berlutut! Kyaaa romantis sekali!" sahutnya heboh, ia menangkup kedua pipi menatap Hinata menggoda.
"A-ano..." Wajah Hinata sepenuhnya memerah, ia menautkan kedua jari gugup, tubuhnya berkeringat dingin. "Ino-chan..."
Sakura menyenggol bahu Ino sembari tertawa. "Hentikan Ino, kau bisa saja membuatnya pingsan." Diucapkan begitu, malah semakin membuat Ino senang mengusili Hinata. Lagipula, Ino menjadi tahu alasan mengapa Sasuke begitu posesif dengan Hinata. "Nah Hinata, aku jadi bertanya-tanya, apa kau sudah melakukannya bersama Sasuke?" tanya Ino mulai menyadari satu hal.
"E-eh... m-melakukan apa?"
"Hei, kau meracuni pikiran polos Hinata!" seru Tenten ikut pada obrolan pada jam istirahat ini. Well, beberapa murid yang masih berada di kelas memiliki alasan: mereka malas menuju kantin atau sudah membawa bekal sendiri. Ino dan Sakura, tentu saja sedang menjalani program diet. Berbeda dengan Tenten dan Hinata, mereka juga membawa bekal tapi tidak sedikit seperti Ino dan Sakura.
Ino tertawa. "Kita semua pernah melakukannya, 'kan? Lagipula, Hinata, apa kau tidak lelah menjalani hubungan sepasang kekasih tetapi memperbolehkan perselingkuhan? Apa hatimu sama sekali tidak terusik jika melihat Sasuke bersama wanita lain?" Ino melanjutkan pertanyaannya ringan. "Lihatlah, kau tahu sendiri, aku dan Sakura pernah mengencani Sasuke, ini serius, kau sungguh tidak terusik?"
Hinata terdiam, ia menggigit bibir.
Sedikit penjelasan, Sasuke nyaris pernah mengencani semua perempuan cantik yang ada di sekolah mereka, meski hanya sebentar, lelaki itu mau-mau saja jika diajak untuk berkencan walau sudah mempunyai Hinata.
Sakura, Ino, Shion, Sarah, Konan, dan kemarin Karin sudah pernah bersama Sasuke, menjadi selingkuh lelaki itu sementara. Tenten tentu saja sudah memiliki Neji yang sedang kuliah di luar kota. Awalnya Sakura dan Ino memang salah satu fans Sasuke, mereka mau saja menjadi selingkuhan lelaki itu walau berakhir ditinggalkan sih. Tapi, semakin ke sini, Ino dan Sakura sudah menemukan pemudanya masing-masing. Misalnya: Sai dan Naruto.
Berbeda dengan Hinata, gadis itu hanya berselingkuh dengan dua laki-laki, itu pun, Hinata masih merasa bersalah pada keduanya; Kiba dan kemarin Gaara. Uh, gadis sepertinya memang tidak memikat seperti Sasuke.
"Ba-bagaimana... bagaimana caranya agar aku bisa mengatakan pada Sasuke-kun, kalau aku i-ingin mengakhiri semua ini, Ino-chan?" Hinata berujar, suaranya terdengar begitu resah. Tiga perempuan yang ada di sana terdiam.
"Kupikir hal itu mudah, Hinata." Tenten menceletuk sembari mengunyah daging kecapnya. "Kau tahu, jika kau suruh Sasuke untuk berlutut di hadapanmu di tengah lapangan sembari memegang sebuket bunga. Lelaki itu pasti akan melakukannya."
Kedua iris Hinata membulat, keningnya berkerut. "A-aku t-tidak mungkin menyuruh Sasuke-kun seperti itu!"
Ino tertawa ia menyenggol Sakura hingga membuat gadis berambut merah muda itu merengut. "Benar! Aku sendiri tidak yakin bisa menyuruh Naruto berlaku romantis padaku!" ujar Sakura kesal. Ino mengangguk, ia mengusap puncak kepala Hinata lembut. Hinata itu memang polos sekali, wajar saja, Sasuke begitu tergila-gila pada gadis Hyuuga itu. "Nah, maksudnya adalah, kau hanya perlu jujur saja, Hinata."
"H-hm?"
Ino tersenyum, "Katakan padanya bahwa kau ingin mengakhiri permainan itu karena kau mencintainya. Kau cemburu pada semua itu. Katakan semuanya, aku yakin dan bertaruh, Sasuke akan senang mendengar hal itu." Ino kembali berujar dengan pekikkan menggoda. "Dan jangan lupa, kau harus mencoba seks dengan Sasuke, Hinata. Kau tahu, rasanya luar biasa!"
"Ino!"
Tenten dan Sakura menjerit bersamaan yang disahuti tawa gadis pirang itu dan wajah merah Hinata.
--[art]--
Ah... baiklah, sekarang berganti, kita mulai cerita ini dengan sudut pandang si gadis Hyuuga. Gadis kikuk bersuara gagap pemilik detak jantung Sasuke Uchiha. Haha. Atau anggap saja begitu. Hinata berdiri menatap Sasuke dan Sarah ragu, Sasuke menoleh, ia meninggalkan Sarah begitu saja dan menghampiri Hinata, menggenggam tangan Hinata erat tanpa sedikit pun menoleh pada gadis yang menjadi selingkuhannya sekarang. Hinata mengangguk pamit pada Sarah dengan tidak enak, lalu mengikuti langkah Sasuke yang menuntun mereka menuju ke arah mobil Sasuke.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari lima belas menit yang lalu, suasana sekolah konoha masih dipadati murid-murid yang mengikuti ekstrakulikuler dan yang malas pulang ke rumah. Seperti dua sejoli itu, sepertinya kali ini, Sasuke akan mangajak Hinata kencan untuk kesekian kalinya. Hinata menggigit bibir, wajahnya masam mencoba untuk mengutarkan keinginannya pada Sasuke. Keinginan untuk mengakhiri permainan mereka.
"A-ano... sa.. Sasuke-kun..."
"Hm?"
Bagaimana ini? Hinata sama sekali tidak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya. Jantungnya berdetak. Bagaimana setelah ini, Sasuke pergi meninggalkannya? Memutuskannya? Menjauhinya karena gadis indigo itu yang tukang mengatur. Memikirkannya saja, sudah membuat Hinata nyaris menangis. Lalu, gadis itu teringat sesuatu. Hinata membuka tasnya, lalu meminum air yang diberikan Ino padanya. Ino bilang, air itu, merupakan ramuan jujur yang ada pada keluarga Yamanaka turun-temurun, jika Hinata tidak sanggup mengutarkan kejujurannya pada Sasuke kelak. Tentu, Hinata mempercayai kebohongan itu.
Dan sekarang adalah saatnya!
Tenggorokan Hinata terasa terbakar, dan, Hinata merasa wajahnya semakin memerah dengan kesadaran yang semakin hilang dalam dirinya. Hinata mengerang, cegukan kecil terdengar. Sasuke menoleh, tangannya yang sedang menyetir, sedikit memperlambat kecepatannya saat melihat kondisi Hinata yang aneh.
"Sasuke-kun..." Suara lembut itu terdengar lirih dan menggoda sekaligus.
Shit. Shit. Shit. Ada apa ini?!
Well, sudut pandang berganti, kita lihat dari bagaimana Sasuke bersikap.
Sasuke menelan salivanya gugup. "K-Kau kenapa Hinata?" Sial, bahkan suaranya saja benar-benar terdengar idiot. Sasuke tahu ada yang tidak beres terhadap Hinata, lelaki itu pun menghentikan mobilnya sebentar untuk mengecek kondisi gadis itu. Raut kecemasan tergambar jelas di wajahnya. "Kenapa?"
Melihat kekhawatiran lelaki itu, membuat kedua mata Hinata berkaca-kaca, ia merangkak mendekati Sasuke untuk duduk di pangkuannya. Nafas gadis itu terasa panas, Sasuke mengerutkan kening saat hidungnya mencium aroma alkohol. Hinata mulai terisak, hidungnya kembang-kempis tersedu seperti anak kecil. Sasuke berani bersumpah, sesaat pikiran kotor menyelimuti otaknya untuk menyerang Hinata saat itu juga! Hinata mencengkeram rahang Sasuke hati-hati, wajahnya lebih tinggi beberapa senti dengan lelaki itu, ia berujar sesegukkan. "Ka-kata I-Ino... a-aku harus mengatakan semuanya kalau aku cemburu..."
Sasuke terhipnotis, iris bulat berwarna ungu itu menyerap dalam iris hitamnya hingga membuat Sasuke tak bisa berpaling. "Tapi... Ino benar... a-aku cemburu... a-aku hanya mau Sasuke-kun saja..." Gadis itu terkekeh geli, aroma nafas vanilla menyebar memenuhi indra penciuman Sasuke. Sasuke membungkam.
"A-aku cemburu dengan se-semuanya! Semua gadis... semuanya... a... aku ingin mengakhiri permainan ini Sasuke-kun..."
Cemburu apa?
Selanjutnya adalah kosong. blank. Sasuke tak bisa berpikir dengan benar dan semakin tidak bisa berpikir saat benda berwarna pink lembut itu menempel pada bibirnya tergesa. Iris hitam Sasuke membulat. Ia bisa merasakan bibir Hinata yang amatir mengemut bibirnya, memainkan lidahnya sebentar lalu menjauhkan diri. Tersenyum lebar--amat teramat lebar layaknya malaikat kecil. "Sasuke-kun 'kan hanya milikku."
Dan, Sasuke tahu, ia tak bisa menahan diri setelah kata klaim itu terucap dengan mudah dari bibir ranum Hinata.
--[art]--
Hinata melenguh, nafasnya tercekat, Sasuke memberi tanda pada lehernya berupa kecupan dan gigitan kemerahan. Gadis itu mengerang lirih saat merasakan darahnya berdesir oleh kecupan basah itu. Sasuke lebih memilih membawa Hinata di sebuah hotel milik Uchiha--melihat betapa buruknya penampilan Hinata--daripada Sasuke memulangkannya pada Hiashi--calon mertua kolotnya itu, bisa-bisa, kepala Sasuke terpenggal dengan tidak elit--big no. Sasuke tepat berada di atas tubuh Hinata, mengurung gadis itu dalam kuasanya.
Hinata itu memang... cantik, ah tidak, dia manis dan spesial. Saat junior high school dulu, Sasuke terpikat pada Hinata yang memiliki pipi tebal seperti mochi, gadis cengeng, namun, baik hati itu, benar-benar terlihat sok dan kuat sekaligus. Dia menolong Sasuke, mengulurkan tangan pada lelaki itu yang kehilangan kehatangan semenjak kepergian Mikoto di umur delapan tahun. Hinata itu polos dan lugu, mudah dibodohi dan dimanfaatkan, namun, justru hal itu yang menjadi daya pikatnya. Gadis itu tersenyum kikuk sembari berkata gagap mencoba menghibur Sasuke kecil saat keadaan hujan. "U-untukmu... a-ano... agar kau ti-tidak sakit..." katanya sambil mengulurkan sebuah payung lipat, padahal, tubuh Sasuke sudah terlebih dahulu basah oleh air. "A-ah a-aku tinggalkan payungnya di sini ya? Ma-maaf..." Benar-benar tulus dan aneh.
Tapi, siapa yang menebak, dialah yang akan menjadi gadis pemilik hatinya? Kunci kebahagiaan Sasuke sampai mampu membuat Sasuke jatuh cinta hingga titik yang terbilang menakutkan. Sasuke kembali menatap Hinata dewasa yang berada di bawahnya, gadis itu terkekeh kecil, kemudian mengecup pipi pucat Sasuke pelan--layaknya usapan halus sebuah bulu. Sasuke tersenyum. "Apa kau bahagia, Hinata?"
Hinata mengangguk antusias, air matanya kembali mengalir akibat pengaruh alkohol yang tinggi, Sasuke dengan setia mengelap air mata gadisnya pelan. Hinata mencium sudut bibir Sasuke, mengusap rahang tegas lelaki itu sembari bergumam kacau. "A-aku selalu bahagia, bahagia jika bersama Sasuke-kun..." ujarnya masih di tengah cekikikan. "Setiap hari, rasa-rasanya, Sasuke-kun ada di mana-mana!" jeritnya tiba-tiba berteriak. Sasuke tertawa. "Tapi... tidak masalah, karena, aku mencintaimu..." lanjut gadis itu lagi menyunggingkan senyum polos teramat lebar.
Sasuke tertegun. Lima belas detik kemudian otaknya mulai bekerja secara normal. Rasa panas menjalar membuat kedua pipi pucat Sasuke terhiasi kemerahan. Sasuke mendesah berat, ia membenamkan wajahnya pada perpotongan bahu dan leher Hinata menyembunyikan wajah yang--oh memalukan itu!
Hinata tertawa renyah, tawanya berhenti saat Sasuke mencium gadis itu cukup ganas dan tergesa, melumatnya layaknya tak ada hari esok. Hinata terengah, kelopak mata gadis itu setengah terbuka menatap sayu Sasuke disertai warna kemerahan. Lenguhan panas kembali terdengar, Sasuke menyingkap seragam gadis itu untuk memperlihatkan tubuh putih kepucatanya dengan payudara terlindungi bra berwarna soft. "Hhh..h..."
Sasuke kembali mencium Hinata panjang, menjilati rasa manis yang ada pada bibir ranum Hinata, tangannya melepaskan pengait gadis itu untuk bisa meremas payudara Hinata pelan. Hinata mendesah tertahan, sudut matanya kembali basah oleh air mata, ia memanggil nama Sasuke dengan lirihan memabukkan, dan Sasuke tahu, ia memang bergairah akan hal itu. Bra Hinata sudah terlepas, dua buah payudara padat itu seperti menantang Sasuke untuk segera menyentuhnya.
"Rhhah..." erang gadis itu meremas rambut Sasuke kuat, gelombang aneh seolah terus menerkamnya, Hinata merasa perasaan yang tak bisa diungkapkan, perutnya bergejolak geli. "Ahh..." Payudara Hinata membusung, kedua matanya terpejam menikmati bagaimana Sasuke memanjakan kedua bagian tubuhnya. Puting Hinata menegang, gadis itu menggeleng putus asa. "...s-sasuke...hhh.." Saliva Sasuke terlihat sekilas membasahi puting Hinata, Sasuke memijat dan menekan payudara itu--memainkannya.
Hinata terengah, jantungnya berdetak keras. Sedetik kemudian iris bulan itu membulat, entah bagaimana celana dalam Hinata telah lolos di bawah sana. Jari Sasuke mengoyak pertahanan inti gadis itu, mengobrak-abrik hingga nyaris membuat Hinata menggila, tubuh gadis itu panas dingin dan gelisah, bergelinjang tidak teratur. "O-oh... sasu..hh..." Remasan lainnya terasa di payudara Hinata yang terasa membesar, gadis itu memejamkan mata berderai air mata. Rasanya terlalu menakjubkan, perut Hinata terasa akan meledak dengan semakin gencarnya jari Sasuke memasuki lubang intinya. "A-aku... aku... i-ingin... aaahhhhh..."
Basah.
Hinata ambruk dengan wajah berantakan, tubuhnya melemas, serta payudara besar yang bergoyang sesuai tarikan napas tersengal. Sasuke mengecup Hinata sayang, mengelus wajah gadis itu pelan-pelan. Hinata sudah melewati gelombang yang terasa membawanya menuju ke atas langit. Gadis itu terlihat tak berdaya, ia menatap Sasuke, lalu merasa bingung, saat lelaki itu kembali memakaikan Hinata celana dalam dan menutupi dada gadis itu dengan seragam yang belum sempat dilepaskan. Hinata mengerutkan kening. "Kenapa berhenti Sasuke-kun?"
Sasuke kembali naik, menindi Hinata kemudian bergeser untuk tidur di samping gadis itu, Sasuke memeluk Hinata dalam rengkuhannya. "Aku belum menikahimu."
Hinata mengangguk lalu tersenyum lebar. "Aku suka menikah!" ujarnya antusias masih dalam pengaruh alkohol, jika tidak, gadis itu pasti sudah merah merona sekarang mendengar pengakuan yang dilakukan Sasuke. "Aku suka memakai gaun panjang seperti princess disney saat menikah."
Sasuke mengecup kening Hinata, menciumi rambut gadis itu yang beraroma vanilla lembut. "Lalu?"
"Lalu, oh aku juga ingin punya dua anak, satu laki-laki, dan satu perempuan. Dan..." Sasuke mengelap sisa-sisa air mata Hinata dengan jari-jemarinya, mengusap wajah merah gadis itu tanpa bosan. "Dan?"
"Dan..." Hinata terdiam mencoba berpikir, tak menemukan apa pun di otaknya, ia memajukan bibir dengan lucu. "Dan aku tidak tahu kelanjutannya, otakku tidak bisa berpikir!"
Sasuke tertawa, mencium bibir Hinata dengan kelembutan. "Dan... ingin kuberitahu?"
"Huum!" angguk Hinata bersemangat, ia memejamkan mata mulai merasa lelah, alkohol membuat kantuknya datang menjemput cepat, memaksa Hinata agar bertemu dengan mimpi. Senyum Hinata perlahan memudar menjadi kecil, ia semakin kehilangan kesadaran seiring berjalannya waktu. Selanjutnya gelap. Benar-benar gelap.
Sasuke tersenyum, menatap Hinata yang sudah tertidur dengan napas teratur. Sasuke berbisik tepat di telinga gadis itu. "Dan aku selalu mencintaimu sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan." Pelukannya mengerat pada tubuh Hinata, mendekap gadis itu dalam sebuah rasa aman. Mengecup kedua mata Hinata bergantian--layaknya sebuah kebiasaan, lalu menyusul Hinata tidur menuju alam mimpi.
[Omake]
Tenten mengerutkan kening menatap Ino berjengit. "Kau memberi Hinata apa?" tanya gadis bercepol dua itu saat melihat gelagat aneh yang dikeluarkan Ino. Gadis berambut pirang itu tersenyum lebar. "Air yang berkadar alkohol tinggi, tentu saj--eh kau mau ke mana Tenten!" seru Ino menarik tangan Tenten saat gadis berambut cepol itu mencoba mendatangi Hinata untuk merebut minumannya. "Oh Tuhan! Sakura! Bantu aku menahannya!"
Dan terjadilah tarik-menarik antara mereka bertiga. "Aku ingin memberitahu Hinata! Damn, kalian berniat membuat keperawanan Hinata hilang di tangan Sasuke?" teriak Tenten tidak terima gadis polos nan baik itu jatuh sepenuhnya ke pelukan Sasuke si playboy.
"Tenten kau harus tahu bahwa Sasuke adalah lelaki baik! Kau harus lihat dulu hasilnya besok, sungguh!" ujar Sakura sembari mendorong tubuh Tenten untuk memundurkan langkahnya, sayangnya Tenten tidak selemah itu, ia bahkan masih sanggup melangkah meski Ino memeluk perutnya sembari berlutut agar gadis itu tidak melangkah menghampiri Hinata dan mengacaukan rencana mereka. "Aku berani bersumpah, Sasuke akan tetap menjaga kesucian Hinata meski Hinata sedang dalam pengaruh alkohol! Demi Tuhan Tenten, kau harus tahu mengapa Kiba babak-belur minggu kemarin!"
Tenten berhenti memberontak. Ia terdiam. "Kenapa?"
"Karena Sasuke yang memukulnya! Kau tahu Gaara? Dia juga dikroyok oleh teman-teman Sasuke kemarin sampai Gaara harus masuk rumah sakit."
Tenten terperangah, kedua irisnya membulat. "Itu yang disebut baik? Meski aku tahu Sasuke akan melakukan apa pun yang diperintahkan Hinata. Bukan berarti aku menyetujui keperawanan Hinata hilang oleh lelaki itu!"
"Itu keren Tenten!" jerit Ino yang masih merasa sosok Sasuke seperti cerita dalam novel romantis. Ia mengeratkan pelukannya pada Tenten agar gadis itu tidak bisa melangkah. Sakura pun turut membantu. Bukannya apa, Sakura juga mendukung rencana gadis Yamanaka itu. "Kupikir Ino benar juga, karena agar hubungan Sasuke dan Hinata menjadi jelas."
Dan, terlambat. Hinata dan Sasuke sudah masuk ke dalam mobil juga berjalan keluar gerbang.
Tenten menghela napas. "Kalian yakin Hinata akan baik-baik saja?" tanya Tenten menyerah yang diangguki Ino dan Sakura bersamaan. "Yakin seratus persen!"
Mereka tidak memperkirakan bahwa rencana mereka kali ini, benar-benar berhasil dengan luar biasa.
Note: Hahahaha, salam kenal semua, gimana ceritanya?
RnR
story by artnius
Strange Relationship--Selesai
