Chapter 1

...The Genius Magic Student...

Summary: Naruto Namikaze, seorang remaja yang tidak memiliki sihir bawaan sejak lahir. Karena itulah, dia harus memelajari sendiri, sihir yang ada di dunia untuk menjadi yang terkuat.

Disclaimer: [Naruto] by Masashi Kishimoto | [High School DxD] by Ichie Ishibumi | [Fate Series] by Type-Moon | [Fairy Tail] by Hiro Mashima.

This Story by Me

Genre: Fantasy, School Life, Action, Adventure, Friendship, dan mencoba menyelipkan sedikit Humor(yang garing).

Pair: ...x...

Rated: M (For Save)

Warning: Alternative Universe, Magic World, Harem(maybe), OOC(s), OC(s)(mungkin), GaJe, PUEBI Salah, Penggunaan Kata Tidak Tepat, Typo(s), Miss-Typo(s), Alur Berantakan, And Many More.

Enjoy it~


Prologue


Chapter 1: Bertemu seorang gadis Demi-human


Di dunia ini hanya memiliki satu benua besar. Namanya adalah benua Etruria, yaitu benua besar yang menghubungkan seluruh daratan didunia.

Sejak dahulu, manusia selalu berperang. Mulai dari menggunakan kekuatan tubuh mereka sendiri sampai menggunakan senjata. Mereka berperang untuk melindungi diri mereka, untuk melindungi apa yang mereka miliki.

Tahun berganti tahun, manusia mulai menyadari bahwa didalam tubuh mereka terdapat suatu energi tersembunyi. Mereka menyebutnya sebagai Energi Sihir.

Banyak manusia yang menggunakan Energi Sihir untuk berperang, untuk memerebutkan daerah kekuasaan, untuk menjadi yang terkuat.

Kehidupan manusia semakin maju. Banyak manusia yang mulai mendirikan sebuah kota kecil. Seiring berjalannya waktu, kota-kota kecil itu mulai bersatu untuk menciptakan sebuah kerajaan.

Dan sampai sekarang, hanya ada empat kerajaan besar yang menguasai benua Etruria. Empat kerajaan besar itu, menguasai daerah masing-masing, yaitu pada empat arah mata angin.

Saat kegunaan sihir semakin berkembang, penyebutan Energi Sihir pun berubah menjadi "Mana".

Kerajaan-kerajaan besar juga mensahkan penggunaan sihir di depan umum. Tapi karena banyaknya penyalahgunaan dan tindakan kriminal menggunakan sihir, Pemerintah pun mulai membatasi penggunaan sihir secara terang-terangan.

Beberapa tahun kemudian, 4 kerajaan besar yang menguasai Benua Etruria mulai mendirikan sekolah khusus bagi Magic User, yaitu sebutan bagi orang-orang yang menggunakan sihir.

Dan setiap lima tahun sekali, 4 Kerajaan besar selalu mengadakan sebuah turnamen untuk memerebutkan gelar God Of Magic, yaitu gelar penyihir tekuat di dunia.

.

.

.

Puk!

Seorang remaja berambut pirang jabrik baru saja menutup sebuah buku yang ada ditangan nya. Buku yang bersampul merah dengan judul "Sejarah Dunia Sihir" itu diletakkan kembali oleh remaja tadi pada rak buku di sebelah meja belajar yang saat ini sedang dia gunakan setelah dia merasa lelah untuk melanjutkan membaca.

"Hoaam..." Mata sewarna safir milik remaja laki-laki itu melirik pada sebuah jam kecil diatas meja, yang ada di sebelah tempat tidur dengan ukuran normal.

Alis remaja itu terangkat sebelah. "Hmm, sudah jam sebelas malam ternyata. Tak kusangka, waktu berlalu begitu cepat." Matanya kembali beralih, kali ini pada sepucuk kertas yang ada diatas meja belajar miliknya.

"Akademi Konoha, hmm?" Remaja laki-laki itu bergumam sendiri. "Yah ... kurasa aku harus istirahat. Aku yakin ... besok pasti hari yang melelahkan."

Setelah merapikan kembali meja belajarnya yang berantakan karena terdapat banyak buku, remaja itu pergi menuju kamar mandi yang ada didalam kamar tidurnya, untuk mencuci muka yang dihiasi oleh tiga goresan seperti kumis kucing di masing-masing pipinya.

Remaja itu melangkah menuju ranjang miliknya setelah kegiatan di kamar mandi selesai. Tubuh tegap itu mulai terbaring di atas kasur empuk, yang sesaat kemudian, tangan itu mulai menarik selimut untuk menutupi tubuh yang memiliki kulit tan eksotis.

Menggerakkan tubuhnya beberapa kali untuk menyamankan tidurnya, mata safir itu mulai menutup, menuju ke alam mimipi.

.

.

...«T~G~M~S»...

.

.

Pagi hari. Dua kata yang selalu membuat semua orang merasa kesal. Tentu saja, karena menggangu saat-saat dimana mereka sedang menikmati mimpi indah nya masing-masing ...

Kriii-

–yah, sepertinya tidak semua orang.

Sebuah tangan tan baru saja mematikan alarm di jam kecil yang ada di atas meja. "Kurasa kau harus lebih cepat lagi, jam weeker." gumam remaja laki-laki berambut pirang dengan terkekeh pelan sambil melirik tangan kanannya yang masih menyentuh jam weeker miliknya.

Mata safir milik pemuda itu kembali bergerak, kali ini pada sebuah kertas yang ada ditangan kirinya. Di kertas itu, tertulis tentang surat rekomendasi untuk belajar di sekolah sihir Akademi Konoha.

Menghela nafas pelan, kedua tangan tan itu mulai melipat kertas tadi, dan menyimpan nya pada saku jas berwarna hitam bagian dalam, yang saat ini sedang dia kenakan.

Mata safir sebiru langit itu bergerak berkeliling, mengamati setiap sudut dari tempat yang merupakan kamarnya untuk terakhir kalinya, sebelum pergi untuk belajar di Akademi Sihir ...

Tok ... tok ... tok ...

"Naruto! Cepat turun dan sarapan! Kalau tidak cepat, kau akan ketinggalan kereta sihir yang menuju ke ibukota."

Terdengar sebuah suara seorang wanita yang berbicara dari balik pintu kamar milik pemuda tadi.

Pemuda berambut kuning jabrik itu melirik pintu kamar miliknya. "Baik, Kaa-san!" jawab remaja laki-laki itu yang kita ketahui bernama Naruto, pada suara tadi yang ternyata adalah ibunya.

Mata safir seperti langit itu kembali bergerak. Naruto memandang penampilan nya pada cermin besar yang ada didepannya ...

Rambut kuning model jabrik. Tiga goresan seperti kumis kucing di masing-masing pipi. Kemeja orange yang ditutupi oleh jas warna hitam, keduanya terlihat pas ditubuh tegapnya. Lalu celana panjang warna hitam, dan tidak lupa dasi warna merah yang melilit lehernya.

"Hmm, apa tidak terlalu berlebihan?!" mengangkat kedua bahunya tidak peduli, Naruto berjalan menuju meja belajarnya. "Yahh ... lagipula yang memilih ini adalah Kaa-san. Kalau aku tidak memakainya, nanti malah aku yang dimarahi."

Mata Naruto menatap sebuah gelang tangan yang ada diatas meja belajarnya. Gelang itu berwarna hitam, dengan sebuah permata kristal kecil berwarna blue sapphiere dibagian tengah. Sementara dibagian pinggir gelang sampai mengelilingi permata kristal tadi, dihiasi oleh tulisan-tulisan berwarna emas yang sulit dimengerti.

Tangan Naruto mengambil gelang itu. Memandang nya serius beberapa saat, kemudian mulai memakainya pada pergelangan tangan kanannya.

Menghirup udara sesaat, kemudian menghembuskan nya lagi. Tangan tan itu menarik koper yang ada di depan lemari bajunya. Koper itu berisi semua keperluan nya saat berada di Akademi Konoha nanti ...

Kemudian, kaki milik remaja laki-laki itu melangkah menuju pintu kamarnya, dan meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun.

.

.

...«T~G~M~S»...

.

.

Stasiun Kereta Sihir, Kota Renais.

Naruto Namikaze. Itulah nama dari pemuda pirang yang saat ini sedang berdiri di stasiun kereta sihir, menunggu kedatangan dari kereta yang akan membawanya ke ibukota dari kerajaan Ivalice, yaitu Konoha.

"Apa kau yakin akan baik-baik saja disana, Naruto?"

Naruto mengalihkan pandangan nya pada seorang wanita yang memiliki rambut merah sepinggul, pemilik dari suara tadi. Naruto menghela nafas pelan.

"Kau tidak usah khawatir, Kaa-san. Bukankah kita sudah membahas ini beberapa kali?!". Naruto tersenyum kecil saat melihat raut wajah khawatir ibunya.

Naruto menoleh kesamping ibunya, dan dapat dia lihat seorang pria yang memiliki rambut kuning jabrik cukup panjang dangan jambang yang menutupi kedua telinganya. Pria itu menatap teduh kearah anaknya.

"Yang di katakan Naruto benar ... kau tidak perlu khawatir, Kushina" kata pria tadi pada wanita berambut merah yang merupakan istrinya itu. Dia hanya tersenyum kikuk saat mendapat tatapan tajam dari istrinya.

"Kau 'kan tahu, Minato! Naruto itu tidak punya Natural Magic, apa hanya dengan Learning Magic Naruto akan baik-baik saja di Akademi?!" kata wanita tadi yang bernama Kushina, menuntut jawaban pada suaminya yang sedang tertawa garing sambil menggaruk pipi dengan jari telunjuknya.

"Tapi 'kan ... Naruto sudah bisa Magic-"

"Hmm, itu 'kan kau yang tahu! Aku tidak pernah melihat Naruto menggunakan sihir!" kata Kushina memotong perkataan Minato. Dia masih tidak terima, saat Naruto di rekomendasikan untuk masuk ke Akademi sihir oleh Minato. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia khawatir pada keadaan anaknya sendiri.

Menghela nafas pelan. Minato tahu, dia memang harus ekstra sabar saat menghadapi sifat keras kepala dari istrinya ini.

Sedangkan Naruto? Yaah ... dia sudah biasa melihat perdebatan orang tuanya, karena sifat ibunya yang memang terkenal akan ke-keras kepala-annya.

Melirikkan matanya ke sekeliling, dan Naruto hanya bisa menutup wajahnya malu dengan telapak tangan kanannya karena menjadi pusat perhatian dari orang-orang di stasiun 'berkat' kedua orang tuanya.

TIIIIINNNN!

Terdengar suara dari sebuah kereta, menandakan bahwa ada kereta yang sedang mendekat ke stasiun.

"Err ... Kaa-san, Tou-san ... sepertinya kereta tumpanganku sudah tiba, jadi ... aku harus berangkat." kata Naruto yang sukses membuat Kushina menatap tajam dirinya.

'Emm ... apa aku salah bicara?' batin remaja berambut pirang itu gugup, karena ditatap seperti itu oleh ibunya.

Kushina berjalan pelan kearah anaknya. Sedangkan Naruto menutup matanya, takut-takut kalau ibunya melakukan kekerasan fisik kepada dirinya. Yaah, meskipun dia pernah mendapat yang lebih buruk sih ... yaitu dihujani sihir tingkat tinggi oleh ibunya.

Grep. "Eh?" Naruto hanya bisa berekspresi bingung saat dipeluk oleh wanita berambut merah itu.

"Kau harus berjanji, kalau kau akan hati-hati disana dan jangan terlalu banyak membuat masalah, mengerti?" Ucap wanita yang kira-kira sudah berumur hampir 40 tahun itu dengan terisak pelan.

Entah mengapa Naruto merasa tersentuh saat mendengar ucapan dari ibunya tadi. Naruto tahu, ibunya selalu keras padanya memang karena untuk mendidik dirinya. Dia paham betul soal itu. Begitupula pada kedua kakaknya, ibunya juga mendidik keduanya dengan keras.

Membalas pelukan ibunya pelan, Naruto kemudian tersenyum. "Kaa-san tidak perlu khawatir. Aku disana paling lama juga cuma tiga tahun. Aku akan baik-baik saja, percayalah!". Naruto kemudian melepas pelukan ibunya dengan pelan.

Kushina yang mendengar perkataan dari Naruto terdiam beberapa saat. Mata violet itu memandang wajah anaknya, yang kemudian mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu ..."

Mata Naruto beralih menatap pada ayahnya yang juga memandang kearah dirinya. Pria berambut kuning jabrik panjang itu tersenyum pada anaknya kemudian merentangkan kedua tangannya.

"Tidak ada pelukan untuk Tou-san, Naruto?"

"Aku masih suka pada perempuan, Tou-san ..." Jleb banget dihati Minato.

"Uuhh ... " Minato memegang dada kirinya. " ... kata-katamu masih pedas seperti biasa, Naruto ..." Sementara Kushina hanya tertawa kecil melihat interaksi dari kedua anak-ayah itu.

"PERHATIANBAGI PARA PENUMPANG. KERETA SIHIR DENGAN TUJUANPEMBERHENTIAN IBUKOTA KERAJAAN IVALICE, KONOHA, AKAN SEGERA BERANGKAT. DIMOHON AGAR PARA PENUMPANG UNTUK SEGERA NAIK KEDALAM KERETA SIHIR"

Terdengar suara pemberitahuan dari speaker sihir, bahwa akan ada kereta yang meninggalkan stasiun.

Naruto memandang speaker sihir yang bersuara tadi beberapa saat, kemudian safir itu bergerak, menatap wajah dari kedua orang tuanya. "Yaah, kurasa aku harus pergi sekarang." Kedua sudut bibir itu terangkat, menampakkan senyum lebar dari seorang Naruto Namikaze.

Setelah beberapa saat terdiam, Naruto mulai berjalan menuju kereta yang akan dia naiki, tidak lupa untuk menarik kopernya juga. Berjalan dengan pelan tanpa mengucapkan sesuatu pada kedua orang tuanya. Hmm ... lagipula bukanlah gayanya, melakukan perpisahan dengan adegan-adegan sedih. Ya, itu memang bukan gaya Naruto ...

Sementara Minato dan Kushina hanya memandang dengan tersenyum kearah anak mereka yang sudah berjalan menjauh. Saat mata mereka melihat Naruto sudah memasuki kereta, keduanya pun saling berpandangan kemudian mulai berjalan meninggalkan stasiun menuju tempat parkir mobil sihir mereka.

.

.

...«T~G~M~S»...

.

.

Naruto saat ini duduk sendirian didalam kereta sihir. Mata safir miliknya memandang kearah luar jendela, pada para penumpang yang masih menunggu di stasiun.

"Emm ... p-permisi, a-apa kursi di sebelahmu kosong?"

Naruto memutar lehernya kearah samping kanan saat mendengar sebuah suara yang sepertinya ditujukan kepada dirinya. Dan dapat dia lihat, seorang gadis yang seumuran dengan dirinya, sedang berdiri dengan canggung sambil menatap Naruto.

Gadis itu memiliki rambut panjang orange kecoklatan, dengan dihiasi dua telinga hewan warna coklat diatas kepalanya. Matanya berwarna orange, sedangkan bentuk wajahnya lancip. Kulitnya terlihat sangat putih tanpa cacat sedikitpun. Dia mengenakan pakaian model blouse panjang dengan rok yang menyambung sampai setengah paha, dengan bagian lengan atas yang mengembang. Bagian depan pakaiannya berwarna merah ke-orenge-an, sedangkan bagian samping dan belakang berwarna hijau tua. Lalu kedua lengan blouse nya berwarna putih, dengan garis-garis hitam panjang menghiasinya. Dibelakang tubuhnya terlihat sebuah ekor besar berwana coklat. Juga tidak ketinggalan sepatu boot yang menutupi kaki hingga sedikit pahanya.

Naruto menatap gadis itu dengan sebelah alis terangkat. Safir itu untuk sesaat menatap tertarik pada telinga hewan yang terlihat lucu baginya, dan kemudian mengangguk pelan. "Ya, silahkan."

Gadis tadi pun mulai mendudukkan dirinya di kursi kereta, setelah selesai menata barang yang dibawanya.

"Haah ... benar-benar perjalanan yang melelahkan." Gumam gadis pemilik rambut orange kecoklatan itu sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kereta. Mata orange itu terpejam, mencari kenyamanan bagi pemiliknya.

Tak lama setelah itu, kereta sihir mulai bergerak, melaju di rel yang semestinya, untuk menuju pemberhentian berikutnya, ibukota Kerajaan Ivalice, kota Konoha.

Di dalam kereta, Naruto memandang dengan bosan jalanan yang dilewati untuk menuju tempat tujuannya, melalui jendela kereta.

"Apa kau juga akan pergi ke kota Konoha?"

Naruto menatap aneh gadis yang sedang duduk bersebelahan dengan dirinya itu. 'Ya iyalah aku mau ke Konoha, tujuan kereta ini kan memang kesana. Ini cewek salah masuk kereta atau bagaimana sih?' batin Naruto sweatdrop.

"Hmm, begitulah ..." Jawab Naruto seadanya. Yah..Naruto tidak terlalu bodoh untuk mengungkapkan apa yang dia batinkan tadi.

"Aku juga ingin kesana, tepatnya ke Akademi Konoha!" ucap gadis itu dengan semangat. Senyum kecil muncul dari bibir tipisnya.

Naruto memandang tertarik pada gadis yang ada disebelah nya itu. "Akademi Konoha? Kau juga akan kesana?!"

"Ooh? Kau juga?!" Gadis itu terkejut. "Waah ... aku tidak menyangka akan bertemu dengan murid Akademi secepat ini!"

Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya, ini tahun pertamaku sih ..." kata Naruto dengan tertawa canggung.

Gadis itu menutup mulutnya. "Oh, maaf. Kupikir ... kau itu senpaiku". Gadis itu tiba-tiba tersentak karena teringat sesuatu.

"Benar. Maaf, aku lupa memerkenalkan diri ... " tangan gadis itu terulur pada Naruto " ... namaku Raphtalia, seorang Demi-human dari jenis rakun. Aku berasal dari desa Iden, sebuah desa kecil di kawasan kota Renais yang berada di sudut Kerajaan Ivalice"

'Seorang Demi-human, huh.' Sekarang Naruto mengerti kenapa gadis disamping nya ini memiliki dua telinga hewan diatas kepalanya juga sebuah ekor dibelakang -human, yaitu seperti kebanyakkan manusia lainnya, tetapi mereka juga memiliki beberapa ciri fisik hewan. Contohnya seperti telinga dan ekor hewan.

Naruto sendiri memang tidak terlalu terkejut, karena dia tahu, kalau di dunia ini tidak hanya diisi oleh manusia saja. Ada juga Demi-human, Manusia-hewan, Youkai, Vampir, Naga, dan masih banyak lagi.

Naruto mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, aku juga lupa memerkenalkan diriku tadi ... " tangan tan itu menyambut uluran tangan putih milik gadis yang dia ketahui bernama Raphtalia " ... namaku Naruto Namikaze, seorang Human. Aku berasal dari kota Renais, kota tadi kita berada sebelum kereta ini berangkat."

Raphtalia mengangguk pelan, tetapi dia langsung terdiam saat merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tunggu dulu. Namikaze ... Namikaze? NAMIKAZE?!–

Mata orange itu menatap Naruto terkejut. "K-kau seorang N-Namikaze?! K-klan besar Namikaze yang itu?!" Tanya Raphtalia sedikit gagap.

Naruto mengangguk.

"K-klan besar yang dipimpin oleh M-Minato N-Namikaze-sama?!"

Naruto mengangguk, lagi. "Ya, dia adalah ayahku"

"K-kau bahkan putranya Minato-sama?!" Teriak Raphtalia tidak percaya. Dengan cepat dia berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya kepada Naruto. Hal itu pun sukses membuat perhatian beberapa penumpang menjadi kearah mereka berdua.

Raphtalia memang berasal dari desa terpencil, tetapi dia cukup tahu siapa itu Minato Namikaze. Minato merupakan seorang bangsawan dari klan Namikaze, klan besar yang terkenal akan kejeniusan otak mereka. Dia juga merupakan penguasa dari kota Renais, yaitu salah satu kota termaju didalam naungan Kerajaan Ivalice. Berterima kasihlah pada kejeniusan Namikaze yang bisa menggabungkan antara ilmu sihir dan ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, si pemilik julukan Kilat Kuning itu juga merupakan salah satu dari sedikitnya orang yang bisa menjadi orang kepercayaan dari Raja Ivalice.

Naruto sendiri hanya memandang bingung kearah Raphtalia. Dia tidak mengerti, kenapa gadis Demi-human itu membungkuk kearah dirinya.

"Maaf. Aku akan cari tempat duduk lainnya!"

"H-huh?!"

Grep! "Tunggu dulu!" Naruto langsung memegang pergelangan tangan kiri gadis rakun itu, saat dia akan mulai melangkah. Sedangkan Raphtalia memandang terkejut pada pergelangan tangannya yang dipegang secara tiba-tiba.

"Kenapa kau ingin cari tempat duduk lain?! Cepat kembali duduk!" ucap Naruto pelan, karena malu menjadi pusat perhatian penumpang yang lain. Tangan kanannya masih setia memegang pergelangan tangan Raphtalia.

"T-tapi, s-saya tidak pantas untuk d-duduk disebelah A-a-anda!" Raphtalia berucap dengan gagap, saat merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya sedikit menguat. Seakan-akan pemuda didepannya ini tidak akan membiarkan dirinya untuk pergi mencari tempat duduk yang lain.

"Sudahlah ... cepat duduk kembali. Kau membuat kita jadi pusat perhatian disini." ucap Naruto dengan pandangan memohon. Jujur saja, Naruto paling malas jika harus menjadi pusat perhatian orang disekitarnya.

Raphtalia melirik sekelilingnya dan rasa malu langsung hinggap dihatinya , karena ternyata banyak penumpang kereta sedang memerhatikan dirinya dan pemuda yang berasal dari klan besar Namikaze itu. "Uuhhh~ ... baik-"

Drrrrttt! "Kyaaa!"

Tiba-tiba kereta bergetar dengan keras, membuat beberapa orang terkejut. Begitupula pada Naruto dan Raphtalia. Dan entah beruntung atau sial, Naruto yang masih memegangi pergelangan tangan gadis Demi-human itu karena merasa terkejut tidak sengaja menariknya, sehingga membuat Raphtalia jatuh kearah dirinya, juga bahkan sampai-

Bruk. Cup~

-membuat kedua bibir itu bertemu...

.

.

.

Canggung.

Itulah yang saat ini dirasakan oleh dua makhluk dengan beda jenis itu, satu laki-laki dan satu perempuan, satu dari Human dan satu dari Demi-human.

Setelah kejadian tadi, entah mengapa keduanya hanya duduk diam dengan kepala yang menunduk. Bahkan wajah Raphtalia masih terlihat memerah sempurna.

" ... "

"Maaf!/Maaf." keduanya saling bertatapan terkejut.

Naruto menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Mata safir itu melihat kearah luar jendela kereta sihir. "Silahkan kau duluan saja." ucap Naruto dengan gugup.

Mata orange milik Raphtalia melihat Naruto yang sedang mengalihkan tatapan matanya. Setelah beberapa saat, dia kembali menunduk. "Maaf. Gara-gara saya, Anda harus ..." Semburat merah kembali muncul di kedua pipinya saat dia mengingat kejadian tadi.

Dengan cepat Naruto memandang Raphtalia. Secara samar, semburat merah juga muncul pada pipi remaja Namikaze itu. Salahkan ucapan dari gadis Demi-human itu yang mengingatkan nya kembali pada kejadian memalukan yang baru saja mereka alami.

"Tidak tidak tidak! itu tadi kesalahanku." Naruto berkata dengan panik, "Kalau saja aku tadi tidak menarikmu, kau tidak akan-"

"Tidak ..." Raphtalia memotong ucapan Naruto dengan suara pelan. Kepala orange kecoklatan milik gadis itu bergerak pelan. Menggeleng. Semburat merah masih menempel pada wajahnya, meskipun tidak semerah tadi.

"Kalau saja saya tadi mendengarkan Anda untuk langsung duduk, kita tidak mungkin ber-berci-uman. Karena itulah ... " kepala gadis itu semakin menunduk, kedua tangannya meremas ujung rok miliknya dengan kuat, " ... jika Anda ingin memarahi saya, tidak apa-apa. Jika Anda ingin menghukum saya, akan saya lakukan."

Naruto mengurut pelipisnya pelan. 'Ya ampun ... ini jadi merepotkan.' batin pemuda berambut jabrik kuning itu. Mata safir nya menatap gadis yang baru dia kenal beberapa saat yang lalu. Gadis rakun itu sedang menunduk cukup dalam.

"Haah ... begini saja, kita anggap ini selesai dengan kita yang sama-sama bersalah. Bagaimana?"

Raphtalia dengan cepat mengangkat kepalanya. Dia menatap tidak percaya pada putra Minato Namikaze itu. "Eh?! benarkah?" Dia menggeleng pelan. "Tidak, maksud saya ... bagaimana dengan hukuman saya?"

Naruto terkekeh pelan. Dia memandang lembut Raphtalia. "Tidak perlu dipikirkan. Lagipula itu hanya sebuah ciuman." kata Naruto dengan senyuman tipis yang menempel di wajahnya, 'Yaah ... meskipun itu ciuman pertamaku sih ...' lanjut Naruto dalam hati.

Sedangkan Raphtalia hanya diam terpaku, saat melihat senyuman milik pewaris klan besar Namikaze itu, yang entah mengapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan tanpa dia sadari, mukanya kembali memerah seperti kejadian saat mereka yang tidak sengaja berciuman.

Naruto mengangkat sebelah alisnya saat melihat wajah Raphtalia yang memerah. Dia menyentuh kening gadis itu, membuat pemiliknya langsung tersadar. "Hmm ... tidak panas. Apa kau tidak apa-apa? mukamu memerah lho."

"A-ah!" Raphtalia langsung menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. Dia malu. "Sa-saya baik-baik saja. Anda tidak perlu cemas, Na-Naruto-sama!"

Naruto hanya mengangguk singkat. Setelah itu, dia pun mulai menyandarkan tubuhnya pada kursi kereta. Mata safir nya menatap pohon yang dilewati kereta sihir melalui jendela. Sementara Raphtalia mencoba untuk mengatur detak jantungnya agar kembali normal.

Setelah itu, keduanya pun mulai menikmati perjalanan mereka menuju kota Konoha dengan tenang.

.

.

...«T~G~M~S»...

.

.

Kota Konoha.

Saat ini Naruto dan Raphtalia sedang berdiri diluar stasiun kereta sihir kota Konoha, dengan barang bawaan mereka masing-masing.

"Kita sekarang menuju kemana, Naruto-sama?" Tanya Raphtalia. Mata orange milik gadis itu terus bergerak kesana kemari memerhatikan gedung-gedung besar yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sementara kakinya terus melangkah mengikuti arah langkah dari pemuda Namikaze yang dia kenal beberapa saat yang lalu.

Naruto berhenti melangkah, yang kemudian diikuti Raphtalia. Naruto menghela nafas. Dia menatap lelah pada gadis yang saat ini sedang berdiri disampingnya. "Raphtalia, sudah kukatakan berapa kali, kalau kau tidak perlu memanggilku dengan embel-embel -sama."

"Anda 'kan bangsawan, Naruto-sama. Tentu saja saya harus memanggil Anda dengan hormat." Raphtalia berucap dengan serius.

"Gaaah...!" Naruto mengacak-acak rambut jabriknya "..sudahlah. Lupakan tentang bangsawan dan juga kehormatan. Aku paling tidak suka dengan keformalan, kau tahu?!" Naruto menatap wajah putih Raphtalia sesaat, kemudian melanjutkan berjalan yang langsung diikuti oleh gadis Demi-human itu. "Kita ini seumuran, jadi bicaralah seperti saat pertama kali kita bertemu!"

"T-tapi Naruto-sa–"

"Dengar ya, Raphtalia ... " Naruto memotong ucapan Raphtalia secara pelan. Pandangannya masih lurus kedepan. " ... jika kau di Akademi Sihir nanti, akan ada lebih banyak bangsawan disana. Apa yang akan kau lakukan? Menghormati mereka semua? Menganggap derajat mereka lebih tinggi darimu, sehingga kau merasa tidak pantas berteman dengan mereka?"

Raphtalia terdiam. Dia memikirkan ucapan dari pemuda yang saat ini berjalan didepannya. Kakinya masih tetap berjalan tapi pikirannya malah melamun. Pikiranya mulai kembali saat mendengar lagi suara dari pemuda itu ...

"Jika kau berpikir seperti itu, apa kau akan memiliki teman disana? Kalau kau tidak memiliki satupun teman disana ... " Naruto menolehkan sedikit kepalanya kebelakang, memandang gadis dibelakangnya dengan sebelah matanya, sedangkan sebelahnya lagi tertutup. Sudut bibirnya sedikit terangkat. " ... bukankah itu akan menyusahkanmu sendiri?"

Naruto kembali memandang kedepan. Dia terus berjalan, membiarkan Raphtalia yang diam berdiri di belakangnya.

Setelah mendengar perkataan Naruto barusan, Raphtalia menjadi sadar. Ya, dia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang gadis desa. Raphtalia sebenarnya belum pernah pergi ke kota besar sekalipun. Gadis itu bisa sampai disini juga karena dirinya yang hanya iseng mencoba mengirim surat pendaftaran di Akademi Konoha. Si pemilik surai orange kecoklatan itu tidak menyangka kalau surat yang dikirimnya akan diterima. Setelah sampai di kota Renais, dia juga bingung harus melakukan apa. Tak tahu apapun dan tak mengenal siapapun disini. Juga tak memiliki teman seperjalanan untuk diajak berbicara. Tetapi untunglah gadis Demi-human itu mengingat salah satu warga di desanya mengatakan kalau dirinya harus mencari kereta sihir dengan tujuan kota Konoha.

Dan akhirnya, disinilah dia berada. Di kota Konoha bersama seorang pewaris klan Namikaze yang baru dia kenal beberapa jam yang lalu.

Raphtalia memandang punggung tegak milik pemuda Namikaze itu yang semakin menjauh. Jujur saja, kesan pertama Raphtalia pada saat melihat Naruto adalah orang yang cuek, acuh, dan tidak peduli pada keadaan sekitarnya. Tapi setelah dirinya mengenal lebih dekat pada sosok itu, Raphtalia sadar bahwa dia tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Nyatanya, Naruto bahkan peduli padanya, tentang teman yang akan dia miliki nanti saat di Akademi Sihir.

Sudut bibir gadis Demi-human itu melengkung keatas. Entah mengapa, dia jadi ingin lebih mengenal pemuda Namikaze yang saat ini berjalan di depannya. Raphtalia pun berjalan cepat untuk mengejar Naruto yang sudah berjalan cukup jauh darinya. "Naruto-sama! tunggu aku!"

Naruto menoleh kebelakang, menatap jengkel pada Raphtalia. "Sudah berapa kali kubilang untuk jangan menambah kata 'SAMA' di belakang namaku?!"

Gadis berambut orange kecoklatan itu melambatkan jalannya saat sudah disamping Naruto. Mata orange nya melirik kearah lain, sementara lidahnya terjulur sedikit. "Tehee~maaf-maaf ... " matanya menatap Naruto yang masih terlihat kesal " ... bagaimana kalau kupanggil, hmm ... Naruto-kun?"

Pemuda itu tampak berpikir sebentar, kemudian menghela nafas. "Yaah ... kurasa itu lebih baik daripada yang tadi." Raphtalia pun menatap Naruto dengan tersenyum.

Keduanya pun terus berjalan menuju Akademi Konoha karena memang jarak antara stasiun kereta dan Akademi hanya terpaut beberapa puluh meter saja.

"Oh iya. Kau punya sihir apa?" Tanya Raphtalia kepada Naruto. Matanya memandang kagum pada gedung-gedung besar yang mereka berdua lewati. Maklum, dia belum pernah sekalipun pergi ke kota besar.

"Hm? sihir?"

"Iya. Aku punya Natural Magic yaitu Element Magic tipe cahaya, sedangkan Learning Magic ku adalah Healing Magic. Kalau kau?" tanya Raphtalia. Matanya masih tetap setia melihat daerah sekitarnya.

"Aku ... tidak punya Natural Magic."

"Huh?!" Dengan cepat Raphtalia menoleh kepada pemuda Namikaze disampingnya itu. Dia menatap tidak percaya pada Naruto, seolah-olah dia tadi salah dengar pada ucapan laki-laki itu. "K-kau yakin?"

"Ya."

"Ka-kalau Learning Magic?"

"Hmm, kalau itu aku punya ... " safir itu menatap dengan tenang kearah depan, membiarkan Raphtalia memandangnya dengan wajah yang sangat penasaran " ... namanya Magic Maker."

Raphtalia mengangkat sebelah alisnya. Dia belum pernah mendengar nama sihir itu. "Apa itu semacam ... sihir baru?" tanya gadis rakun itu.

Naruto mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku menciptakannya sendiri." Raphtalia menutup mulutnya terkejut. Dia tidak menyangka kalau Naruto sepintar itu.

Perlu diketahui, memelajari sihir baru menggunakan Learning Magic itu tidaklah mudah. Kebanyakan orang zaman sekarang, sihir yang mereka kuasai pada tahap tertinggi itu berasal dari Natural Magic. Jarang sekali orang-orang menguasai sihir tahap tinggi pada Learning Magic. Bahkan orang-orang tidak banyak yang bisa menguasai Ancient Magic, kecuali orang yang memang pada dasarnya memiliki Natural Magic pada jenis itu. Karena itulah, kebanyakan orang yang menguasai Learning Magic hanya pada Basic Magic saja.

Orang yang menguasai banyak Learning Magic bisa dikatakan sebagai orang yang pintar, otak diatas rata-rata. Sedangkan Naruto bahkan bisa menciptakan sihir sendiri?! Raphtalia tidak tahu harus memanggil pemuda itu dengan apa. Jenius? Raphtalia rasa itu tidak pantas diberikan pada orang yang bahkan bisa menciptakan sihir baru.

"B-benarkah?" Naruto mengangguk pelan.

"Waah..aku tidak menyangka kau sejenius itu." Raphtalia mengangguk dengan mantap. "Seperti yang diharapkan dari putra Minato Namikaze-sama" kata Raphtalia dengan penuh semangat. Sedangkan Naruto hanya bisa tertawa garing sambil menggaruk kepala kuningnya yang tidak gatal. "Tidak juga."

Naruto melirik sekilas pada pemilik rambut orange kecoklatan yang sedang berjalan disampingnya itu dengan pandangan lurus kedepan. Secara diam-diam, dia menghela nafas lega.

Setelah itu, keduanya pun terus melangkah sambil terus berbincang. Bahkan sesekali mereka juga tertawa bersama.

Setelah beberapa menit, mereka akhirnya dapat melihat sebuah sekolah sihir besar. Dibagian atas gerbang yang kelewat besar itu tertulis "Konoha's Akademi".

"Waaah! Jadi ini Akademi Konoha?! kita akan belajar ditempat sebesar ini?!" teriak Raphtalia dengan mata yang berbinar-binar. Dia juga melihat beberapa murid yang berlalu-lalang didalam Akademi.

Memang sekarang tidak banyak murid di Akademi, karena ini memang masih hari libur. Awal tahun pelajaran Akademi Konoha akan dimulai 3 hari lagi. Jadi wajar jika saat ini Akademi masih terlihat sepi.

Naruto hanya memandang geli pada Raphtalia. Yaah ... dia tahu kalau gadis itu berasal dari desa. Jadi dia memaklumi itu.

"Naruto-kun, ayo cepat kesini! tempat ini sangat luas!" kata Raphtalia yang sudah melewati gerbang Akademi.

"Hai' hai', Raphtalia. Kau tidak perlu berteriak, aku masih bisa mendengarmu dengan jelas, kau tahu?!" Naruto pun mulai memasuki halaman depan Akademi Konoha.

"Kau lihat, halamannya saja sudah sebesar ini. Bagaimana dengan bagian dalamnya ya ..? Menurutmu, kira-kira berapa luasnya semua wilayah di Akademi ini?"

"Entahlah..kenapa tidak kau tanyakan saja pada bangunan disini."

"Mou~aku serius, Naruto-kun!"

"Aduh aduh...oke, aku cuma bercanda. Kau tidak perlu memukulku seperti itu kan. Itu sakit kau tahu..?!"

"Huh! Aku kan cuma memukulmu pelan"

Dan Naruto pun harus berusaha untuk mengembalikan suasana hati Raphtalia yang sedang kesal.

Yaah..inilah awal dari perjalanan, pengalaman, dan segala hal baru yang akan Naruto temui saat berada di sekolah sihir Akademi Konoha!

.

.

.

To Be Continued


Magic's Updates:

Di fic ini terdapat dua cara atau metode untuk memelajari sihir: (1) Natural Magic dan (2) Learning Magic.

Magic. Sering disebut sebagai sihir bawaan sejak lahir. Setiap makhluk hidup pasti memilikinya, tergantung dia mau memelajari dan mengasah sihir bawaan nya agar menjadi lebih kuat atau tidak. Meskipun di beberapa kasus ada juga yang tidak memiliki Natural Magic, seperti Naruto contohnya. Memelajari sihir dengan metode ini merupakan yang paling mudah, karena orang-orang memang sudah paham karakteristik dari sihir yang dimilikinya sejak lahir. Beberapa sihir yang dapat dipelajari; Element Magic, Blood Magic, Ancient Magic, dll.

2. Learning Magic. Merupakan sihir yang di dapat dengan cara memelajari Sihir yang ingin dimiliki. Meskipun begitu, memelajari sihir baru tidaklah mudah, karena orang yang ingin memelajari suatu sihir harus benar-benar paham betul karakteristik dari sihir yang ingin dipelajari. Jika ada sedikit saja yang salah, maka sihir itu akan gagal. Karena itulah, kebanyakan orang-orang hanya bisa memelajari sihir dasar saja. Segala jenis sihir dapat dipelajari, kecuali Blood Magic.

Jenis-jenis Sihir:

-Basic Magic. Sihir dasar yang dapat digunakan oleh semua orang.

-Element Magic. Sihir yang paling umum dimiliki oleh setiap orang. Karena pada dasarnya, pemilik Natural Magic memang kebanyakan dari sihir jenis ini. Sihir jenis ini kebanyakan berasal dari unsur alam di bumi.

-Healing Magic. Sihir tipe support untuk menyembuhkan diri sendiri atau orang lain.

Macam-macam sihir:

-Element Magic, Light. Sihir yang digunakan untuk mengendalikan cahaya.

-Magic Maker. Sihir jenis baru yang katanya diciptakan oleh Naruto sendiri. Belum diketahui bagaimana Naruto menciptakannya. Kekuatan masih belum diketahui.

[A/N]:

Yo..! Saya balik lagi nih!

Sudah satu Minggu ya, saya gak Update. Maaf, karena saya lagi ngumpulin data buat fic saya, dan juga karena proyek fic baru ini. Gimana nih?! Wajib lanjut apa kagak?

Mungkin itu dulu dari saya...

Sampai jumpa di Chapter selanjutnya. Ciao!

Lanjut? Yes / No?

.

.

.

Please favorit and follow me..!

Give me a Review..?


Tolong berikan saya kritik, saran, dan dukungan yang baik, agar saya bisa memerbaiki cerita ini untuk kedepan nya.

Jika ada kesalahan penulisan, kata yang kurang/hilang dan tanda baca yang salah, saya mohon maaf.

Jika readers-san ingin bertanya atau ingin menyalurkan ide, kalian boleh kok coret-coret di kolom Review asalkan menggunakan kata-kata yang baik, dan di Chapter selanjutnya akan saya usahakan untuk menjawabnya.


Tertanda. FI. AkaRyuu666. (7-4-2020).