"Fanboy"
.
.
.
A drabble for #Dailydrabblechallenge with prompt by @Nakashima Asuka.
Boboiboy is own of Monsta Studios
Hope you like it.
.
.
.
Sebenarnya aku suka hujan. Selain karena katanya yang membawa 99 persen kenangan, hujan kadang bisa membawa peruntungan tersendiri untukku.
Namun semua peruntungan di kala hujan tidak terjawab sejak aku konsisten untuk menggarap tugas akhirku atau masa kuliah paling menyeramkan yang orang bilang dengan SKRIPSI.
"Oh kamu OTS ya?"
Aku berusaha mengangguk dan memasang wajah sedatar mungkin. Berusaha mengabaikan ekspresi aneh yang ditawarkan gadis penjual tiket. Aku berani taruhan gadis itu pasti akan berpikir aku benar-benar kurang kerjaan karena telah mengikuti acara semacam ini.
Ah, masa bodolah. Yang penting aku dapat informan.
Gadis itu memberi beberapa photocard dan sebuah cupholder. Dan ya tentu saja di dalam benda-benda kecil yang tak berguna itu terpampang foto-foto member salah satu boyband yang paling fenomenal dan naik daun saat ini.
Mataku melirik. Oh, kenapa juga para panitia itu harus melihatku sampai segitunya?
Aku tersenyum dan berpura-pura antusias memandangi foto-foto kecil di tanganku.
"Wah ternyata ganteng ya mereka? Makasih loh semuanya."
Shit. Aku benar-benar seperti cowok yang nggak normal sekarang. Ying pasti akan menertawakanku jika tahu aku datang ke acara ini. Dia akan berteriak histeris dengan tak eloknya, meledek, dan mempermalukanku di depan Yaya dengan mengatakan bahwa aku telah menjadi bagian dari komunitasnya. Dia akan memutarbalikkan semua hinaan yang telah kulayangkan untuk boyband yang dipujanya selama ini.
Aku menyesal saat berbalik untuk menghampiri meja yang tersedia. Satu, peserta dari event birthday yang sebenernya tak guna ini adalah semuanya perempuan. Oke. Aku katakan sekali lagi. Semuanya perempuan. Kedua, Tidak seperti event birthday pada umumnya, di event birthday boyband ini tidak ada sosok idola berdiri di tengah aula, menyanyikan lagu atau memberi kata sambutan. Namun aku tidak habis pikir bagaimana semua perempuan itu bisa berekspresi senang hanya dengan foto-foto dan stand banner tentang idola mereka. Yang lebih absurd lagi, ada beberapa peserta event yang dengan sumringahnya berfoto dengan stand banner seolah sosok kertas itu adalah idola mereka yang nlyata.
Aku benar-benar kehilangan akal. Apa otak Fangirl memang setidaknormal ini?
Setelah menghela napas, berdamai dengan kebingungan akan culture shock aku menghampiri konter. Kabar baiknya aku dapat es cokelat yang enak sebagai ganti tiket masuk. Dan lagi tatapan aneh aku terima dari sang barista.
"Tumben banget ada fanboy datang," komentarnya.
Aku berdecak, "Sorry, bukan fanboy. Aku Dateng mau wawancara salah satu peserta di sini."
Sang barista mengangguk saat memberikanku minuman. "Buat skripsi?"
Aku mengangguk. Tak mau berbincang lebih lama, minuman kuterima. Masa bodoh lagi dengan Fangirl yang berbisik-bisik. Aku segera duduk, meletakkan gelas, mengeluarkan ponsel menghubungi informanku.
15 menit dan aku belum mendapat jawaban. Dua orang Fangirl yang duduk di seberang mejaku berteriak histeris melihat video klip terbaru dari idola mereka diputar di laya kecil yang terpajang di sudut ruangan.
"Oppa Jin ganteng sih di sini!"
"Konsepnya itu loh yang parah, mereka bener-bener berani ambil konsep musik video yang beda dari boyband lain sih."
Aku memutar mata. Cantik-cantik minus.
30 menit dan informanku masih belum memberi jawaban. Aku mulai cemas dengan keadaannya. Aku benar-benar mengharapkan kedatangannya sehingga aku takut berakhir menjadi korban PHP.
'Kamu di mana?'
Aku kembali mengirimkan pesan yang sama. Dan lagi gadis itu sama sekali tidak ada tanda-tanda online untuk sekadar memberiku kabar.
45 menit. Waktuku di acara ini hanya tinggal 15 menit lagi. Aku sudah kenyang dengan lagu atau teriakan histeris dari para peserta. Beberapa dari mereka sempat mengajakku foto namun aku terlalu enggan meninggalkan tempat duduk. Akhirnya mereka berfoto dan duduk bersamaku. Aku diberi beberapa pernak-perbik gratis--yang tentu saja ada wajah idola mereka-- sebagai tanda perkenalan.
Meski agak risih, namun aku cukup menikmati keseruan mereka dalam menceritakan berbagai banyak hal. Terutama saat mereka bilang bahwa idola yang mereka kagumi telah berjasa banyak. Apalagi ada yang sampai menulis atau belajar menggambar karena mereka ingin idola mereka ada di sebuah karya.
Aku nyaris melonjak saat ponselku di atas meja berdering. Yaa Tuhan, akhirnya Engkau memberi jawaban atas doa-doaku. Akhirnya aku punya kesempatan untuk keluar dari acara yang memuakkan ini lebih cepat.
'Kak, aku tunggu di luar ya. Kalau mau wawancara di sini aja, soalnya nggak berisik.'
Aku tersenyum antusias. Aku benci mengatakannya, tapi perempuan-perempuan itu seperti tidak rela saat kutinggalkan. Aku menyesal tidak sempat memberi akun instagramku pada mereka padahal mereka sepertinya berharap. Tentu saja. Kapan lagi ada fanboy ganteng sepertiku yang ikut acara kacangan begini, kan?
Secepat namaku, aku sampai di luar dalam hitungan detik. Sosok yang duduk di salah satu kursi seorang diri membuatku terkejut.
Dengan hati-hati, kuhampiri gadis itu.
"Ngapain kamu di sini, Ying? Buntutin aku?"
Ying. Teman seperjuanganku itu mendongak. Matanya berbinar saat bertemu dengan mataku. Firasatku jelek begitu gadis itu tersenyum.
"Nungguin kamu. Katanya mau wawancara."
Sebelah alisku terangkat. "Aku nungguin yang lain kali."
Ying tertawa. "Aku kok yang kamu tungguin, nama informan kamu Vanila kan? Itu aku."
Mataku mengerjap beberapa kali. Gadis itu benar-benar tertawa tanpa rasa bersalah. Ia menyuruhku duduk namun aku terlalu menolak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ayo Taufan, duduk ih."
Akhirnya aku menurut. Mataku masih memicing mengawasi Ying yang sedang tersenyum geli.
"Well, gimana rasanya pertama kali gabung sama Fangirl?"
Gadis itu menyeringai. Jadi aku terjebak tipu daya Ying? Sial. Aku jadi ingin menyiram diriku dengan es cokelat.
.
.
A/N :
Taufan kalau jadi Army jangan suka Jungkook.
Itu aja wkwkwk.
Why ga jelas banget gini sii?
