MY SECRET MARRIAGE

Summary : Sepuluh tahun telah berlalu dan Sakura baru kembali setelah menyelesaikan studinya di London. Sekembalinya ia ke Kota Ame, ibu mertua dan suaminya sudah menunggunya. Tunggu, suami? Ya suami Sakura yang selama ini tidak pernah Sakura temui secara langsung.

Disclaimer : Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto, cerita my secret marriage adalah murni ide gila author. Dilarang keras plagiat seluruh atau sebagian isi cerita.

Warning : AU, OOC, NaruSaku, Marriage Life, School Life.

oOo

Lama sekali ia tak berkunjung ke Tokyo, mungkin karena terlalu lama tinggal di luar negeri membuatnya lupa sudut-sudut kota yang dulu sempat memenuhi ingatan masa kecilnya. Ya, setidaknya serpihan ingatan masa kecil yang ia ingat cukup menyenangkan. Haruno Sakura, atau lebih tepatnya Uzumaki Sakura menghela napas panjang. Entah apa yang membuat dadanya terasa sesak tanpa alasan.

Chevrolet hitam membawanya menyusuri jalanan lenggang Tokyo. Menyapa deretan tiang-tiang reklame yang memamerkan iklan-iklan, lampu-lampu jalan yang sorotnya memantul pada setiap permukaan kendaraan, dan gedung-gedung pencakar yang kian tahun kian bertambah jumlahnya. Setelah itu dilewatinya jalan yang agak lenggang. Supir yang mengemudi sedikit menekan gas lebih mempercepat perjalanan. Tujuan Sakura adalah kediaman Uzumaki. Sejak sore ibunya mengabarkan jika keluarga sudah menunggu kedatangan Sakura, jika saja tidak ada peristiwa hilangnya cincin di bandara siang tadi tentu ia sudah sampai rumah sebelum hari gelap. Sakura kembali menghela napas panjang. Sesekali diliriknya sopir keluarga Uzumaki yang sejak tadi fokus mengemudi mobil. Sepertinya masih muda, mungkin empat puluh tahunan, dilihat dari bentuk wajah dan warna rambutnya.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu Paman?" Sakura mengalihkan perhatian supir di kursi kemudi.

"Ya tentu, tanyakan apa saja, Sakura-sama." Pak Tua tersebut mempesilakan.

"Sebelumnya," Sakura melirik name tag di baju Pak Tua Supir dari bayang-bayang jendela kaca mobil, "... Iruka-san. Apakah Tuan sedang ada di rumah saat ini? Maaf, karena Ibu tidak memberitahukan aku perihal Dia."

Iruka, pegawai lama keluarga Uzumaki yang sudah mengabdi puluhan tahun sejak masa ayahnya dulu menjadi pelayan hingga dirinya menjadi seorang supir, ia berpikir sejenak.

"Tuan ada di rumah, Sakura-sama." Kalimat singkat itu cukup menjawab pertanyaan di benak Sakura. Ia lantas tersenyum.

Kendaraan hitam itu melaju keluar dari wilayah Tokyo yang penat melintasi daerah Konoha yang tidak terlalu jauh berbeda kondisi kepadatannya. Hingga kemudian sampailah mereka di kawasan elite Amegakure Residence, tempat berjejernya bangunan-bangunan rumah super mewah dengan lingkungan yang didesain asri. Baru Sakura bisa mencuci mata dengan warna-warna hijau pepohonan. Udaranya pun terasa lebih segar dari sebelumnya. Ah ia hapal betul jika daerah Ame memegang julukan kota hujan, pantas angin terasa lebih menyejukkan.

Hanya melewati beberapa rumah dari gerbang Residence sampai mobil mereka sampai di depan sebuah gerbang berukuran raksasa yang menjulang menantang langit. Gerbang terbuka otomatis menyambut kedatangan Sakura. Di dalam ia bisa melihat air mancur dan jejeran pohon-pohon hias yang terawat.

Iruka membantu membawakan koper dan beberapa tas bawaan Sakura yang lainnya, sementara Sakura hanya menenteng satu koper kecil untuk ia seret sampai ke depan pintu rumah. Puluhan pelayan membungkuk menyambutnya. Seseorang dari mereka, yang memakai seragam sedikit berbeda mendekati Sakura.

"Saya Shizune, Sakura-sama. Kepala pelayan saat ini. Tuan dan Nyonya Besar sudah menunggu Anda di dalam."

Shizune meraih koper yang dibawa Sakura.

Sakura masuk ke dalam. Menyapa dinginnya lantai marmer dan pot-pot keramik yang hanya bergeming di sudut ruangan. Setelah para pelayan membubarkan diri usai penyambutan, rumah ini terasa begitu dingin -dalam arti dingin karena sepi seolah tidak pernah dihuni. Sakura menangkap siluet Ibu sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia pun berjalan perlahan menghampiri mereka. Di seberangnya duduk seseorang. Seorang pria bertubuh tegap dengan rambut pirang yang sedikit jabrik. Nampak jelas sekali dari posisi duduk berhadapan dengan Ibu bahwa pria itu adalah Dia.

"Saku-chan!" Ibu berteriak histeris ketika melihat Sakura mendekat. Lantas melompat dari posisi duduk memeluk Sakura. Lama sekali rasanya mereka tidak berjumpa.

"Bagaimana kabarmu Nak? Ibu khawatir sekali saat kau bilang dapat masalah di bandara. Tadinya Ibu mau menyusul ke sana, kalau saja tidak dilarang anak ini!"

"Aku baik Bu. Bagaimana kabar Ibu?" Sakura balik bertanya. Memang selama ini Ibu adalah sosok ibu bagi Sakura. Meskipun mereka bukan berasal dari darah yang sama.

"Apa tidak sebaiknya duduk dulu? Sakura-chan baru saja tiba Bu."

Deg!

Suara ini. Pertama kalinya Sakura mendengar suara suaminya setelah sekian tahun lamanya. Ya dialah Uzumaki Naruto, orang yang kini menyandang gelar sebagai Kepala Keluarga di Keluarga Uzumaki. Sakura mendongak dan pandangan keduanya bersitemu. Ia terpaku lama. Tinggi, tegap. Wajahnya tegas dan dewasa. Kedua bola matanya memperlihatkan iris berwarna biru seperti batu safir yang jernih, hanya saja rambutnya tak mengikuti genetik merah ibunya melainkan pirang seperti ayahnya. Inilah sosok seorang Uzumaki Naruto. Suami rahasianya selama ini. Kenapa rahasia? Karena ia sendiri tidak tahu tentang suaminya, jangankan berkenalan, melihat wajahnya saja tidak pernah.

"Duduklah dulu, Sakura-chan."

Sakura duduk seperti yang diminta Naruto.

"Apa kabar?"

Naruto memulai dengan sapaan. Sakura mengalihkan perhatiannya dari Ibu. Ia menoleh canggung. Apa yang mesti ia jawab? Baik? Tentu saja Naruto harusnya bisa melihat bahwa hari ini ia terlihat sangat baik. Ibu meraih bahu Sakura, lantas tersenyum. Paham keberadaannya bisa saja mengganggu dua orang ini berbincang, Kushina bangkit meminta diri.

"Aku harus menyelesaikan bacaanku. Kalian berbincanglah," ucapnya sebelum melesat pergi tanpa jejak. Sakura sampai kebingungan melihat tingkah ibu mertuanya yang tiba-tiba aneh.

Kembali ke Naruto. Sakura melemparkan senyuman sebagai jawaban. "Seperti yang kau lihat, aku baik, dan dari yang kulihat kau pun sepertinya baik." Sakura mengangkat bahu.

"Seperti yang kudengar, kau sangat simpel dan kaku," ejek Naruto.

Sakura kikuk tidak tahu harus menjawab apa. Ia melemparkan pandangan ke seluruh ruangan. Rumah ini sangat luas dan sunyi. Ya benar-benar sunyi. Sampai suara langkah kaki seorang pelayan terdengar sangat jelas. Pelayan itu membawakan nampan berisi dua cangkir teh.

"Jadi?" Naruto bertanya ambigu. Sakura mengangkat sebelah alisnya. Pelayan itu menaruh cangkir teh di atas meja sebelum kemudian pergi meninggalkan mereka.

"Tidak ada yang ingin kau tanyakan? Kita tidak pernah bertemu sebelum ini?"

Sakura menggeleng. Naruto memandangi wajah istrinya. Bola mata yang besar, iris berwarna hijau yang jernih, serta rambut lurus panjang berwarna merah muda dan garis wajah tirus yang halus. Ketika tersenyum, wajahnya terlihat sangat manis. Deretan giginya sangat rapi, dan suaranya juga lembut.

Cantik

Satu kata untuk Sakura. Naruto terpaku beberapa waktu hingga deheman Sakura membuyarkan lamunannya.

"Biar kubawakan kopermu ke atas."

Akhirnya mereka memutuskan mengakhiri obrolan tidak berguna itu. Naruto meraih koper dari sebelah Sakura menggiring istrinya menuju kamar mereka. Manaiki tangga melingkar di tengah ruangan. Melewati lorong yang cukup panjang. Sampai ke ujung di mana terdapat sebuah pintu berukuran besar. Kamar utama rumah besar itu. Tentu saja karena Naruto adalah kepala keluarga di sini.

Naruto membuka pintu untuk Sakura. Hal pertama yang menyambut penglihatan Sakura adalah deretan buku dari rak yang menempel pada tembok ruangan. Ada meja berkaki pendek di dekat rak-rak buku. Pandangan Sakura menyapu seisi kamar. Terlalu besar untuk disebut sebuah kamar, ia membatin. Dari pojokan lain ia bisa melihat sofa dan televisi berukuran super besar. Dari pojok lain, gorden pada jendela kaca bergerak-gerak tersentuh angin. Di sisi lain, terdapat tempat tidur berukuran king dibalut sprei dan bed cover abu-abu polos.

Naruto membawa Sakura menuju lemari pakaian super besar dalam bentuk ruangan, sebuah meja berisi banyak koleksi dasi, dan berpasang-pasang sepatu laki-laki. Sebagian baju Sakura sudah digantung oleh pelayan yang lebih dahulu membawakan kopernya tadi. Sakura mulai membongkar kopernya, ia juga membawa baju dan sedikit buku kesayangan yang tidak bisa ia tinggalkan.

"Biar aku yang rapikan." Naruto melangkahkan kaki mendekat. "Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh. Mandilah terlebih dahulu. Setelah itu kita akan makan malam."

Sakura mengernyit. "Selarut ini?"

"Memangnya kau tidak lapar?"

"Aku sudah mengisi perut dengan sepotong roti di perjalanan tadi."

Naruto berpikir sesaat. "Baiklah kalau begitu." Ia melanjutkan menata pakaian dalam lemari. "Mandi saja. Setelah itu istirahat."

"Baiklah. Terima kasih."

Selesai mandi Sakura bergegas mengenakan gaun tidur berwarna putih yang dibalut dengan jubah panjang. Ah rambutnya masih basah. Ia tidak bisa menemukan hairdryer di mana pun. Di mana Naruto menyimpan benda itu? Apa karena kamar ini terlalu luas?

"Mencari apa?"

Sakura tersentak dengan suara suaminya yang tiba-tiba muncul di belakang. Sungguh ia belum terbiasa dengan kehadiran laki-laki di dalam kamar yang sama.

"Aku mencari hairdryer?"

Naruto baru ingat. Ia belum sempat meminta Shizune membelikan hairdryer baru karena yang sebelumnya rusak. "Duduklah," pinta Naruto.

Sakura sedikit bingung dengan permintaan suaminya namun tetap menurut untuk duduk di meja rias sambil menatap refleksi dirinya di dalam cermin. Naruto datang membawa sebuah handuk berwarna putih lalu mulai menggosok-gosok rambut Sakura yang basah supaya kering.

"Kau tidak perlu melakukan ini. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Diamlah."

Sakura berjengit ketika suaminya memegang kedua pundaknya. Naruto memandangi refleksi Sakura dari dalam cermin. Ia menaruh handuk di tangannya sebelum kemudian memeluk Sakura dari belakang. Mereka terdiam dengan posisi itu untuk beberapa saat. Sakura memejamkan mata. Bagaimana pun Naruto adalah suaminya. Tubuh Sakura menggigil karena takut. Ini pertama kalinya ia dipeluk oleh laki-laki. Sakura merasakan deru hangat napas Naruto di lehernya. Tanpa sadar Sakura meraih tangan yang melingkari lehernya, menggenggamnya erat.

"Ra-rambutku masih basah. Naruto."

"Haruno Sakura, kau tahu bagaimana terkejutnya aku karenamu?" bisik Naruto di telinga Sakura. "Kau tahu berapa banyak hal yang aku korbankan untuk status pernikahan ini? Jadi aku harus mendapatkan sesuatu yang sepadan darimu malam ini."

Sakura berkeringat dingin. Apa yang hendak Naruto lakukan? Sakura sudah dididik oleh pelayan keluarga Uzumaki untuk menjadi istri yang baik sesuai adat keluarga mereka. Tahun-tahun sunyinya di luar negeri adalah neraka baginya. Tak sehari pun ia bisa merasakan tenang mengingat statusnya sebagai istri seorang Uzumaki. Keluarga yang cukup terpandang di Jepang.

Sakura membuka mata dan sedikit terkejut ketika tahu bahwa lampu kamar mereka telah dimatikan secara otomatis menggunakan remote control dan ia tidak bisa melihat apa-apa selain hitam. Sakura lalu merasakan tubuhnya diangkat melewati kegelapan lalu dijatuhkan di atas alas yang empuk. Ia kini berada di atas kasur mereka. Sakura tidak berpikir ia bisa berontak dari situasi ini. Bagaimanapun Naruto adalah suami sahnya.

"Apa yang sebaiknya kita lakukan malam ini?"

Wajah Sakura memerah padam namun tidak terlihat di dalam gelap. Jantungnya berpacu seperti suara drumband bertalu-talu begitu keras. Tubuhnya yang dingin seusai mandi mendadak panas.

"Me-memangnya apa?"

"Ini first night kita kan?" ujar Naruto.

Sakura tidak bisa melihat apa pun, juga tidak bisa bernapas, tapi ia tahu bahwa Naruto menopang tubuhnya di atas Sakura. Ia menyentuh dada Naruto, merabanya perlahan. Lalu naik ke wajah Naruto, menyentuh bibirnya, membelai rambutnya, lalu mengangkat diri meraih bibir suaminya dengan bibirnya. Ia pun memulai sebuah ciuman. Apa tidak terlalu cepat? Batinnya. Bagaimana tidak, ia merasa sangat gila karena memulai ciuman ini. Dan lagi, ini ciuman pertamanya, di tempat yang gelap, bersama orang yang tidak ia kenal. Entah dari mana keberanian Sakura berasal.

"Aku adalah milikmu." Sakura balik berbisik dengan suara yang bergetar. Kentara sekali bahwa dirinya sangat ketakutan.

Naruto tersenyum. "Ya, seharusnya itulah yang terjadi."

Mereka terjebak dalam keheningan yang tiba-tiba menyelinap di antara keduanya. Perlahan lampu kamar menyala remang-remang. Dapat dilihatnya wajah Naruto yang begitu dekat. Terlalu dekat untuk membuat napas Sakura sesak seketika.

"Seharusnya memang itu yang terjadi." Naruto menggeleng. "Tapi aku tidak bisa."

Naruto bangkit dari posisinya setelah kemudian lampu kamar dihidupkan kembali.

"Tidurlah kau pasti lelah."

Entah kenapa Sakura justru merasa lega. Setelah itu Naruto keluar dari kamar mereka dan tidak kembali sampai Sakura jatuh tertidur karena tubuhnya sangat lelah.

oOo

To Be Continued

Note :

Cerita ini diangkat dari seri original wattpad saya yang sudah berjalan setengah cerita. Sejujurnya saya agak kurang suka lapak sebelah entah karena apa. Saya lebih suka cerita fanfiction dan lapak fanfiction sampai-sampai cerita ini saya alihkan ke sini. Mungkin karena karakternya lebih pas untuk Sakura dan Naruto kali ya, karena saat saya menulis versi ori-nya dalam bayangan saya adalah karakter NaruSaku. Semoga reader menikmati ceritanya. Silakan tinggalkan jejak untuk kelangsungan cerita ini. Terima kasih.

Happy reading!

RnR