Lakuna
Disclaimer: Koyoharu Gotoge.
Genre: Romance, mystery, horor.
Warning: OOC, typo, gagal horor, ga fokus ke horor, update lama, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta untuk event bulanan di Fanfiction Addict dengan tema "horor".
Chapter 1 : Di Sini Siapa Yang Sakit?
Satu minggu sebelum liburan musim panas dimulai, Agatsuma Zenitsu pertama-tama yakin sekali semuanya hanya akan berlangsung membosankan.
Kantin di jam istirahat kedua memiliki suasana yang sedang-sedang saja, di mana bangku-bangku kosong masih dapat terlihat sejauh mata memandang. Hal terbaik dari atmosfer ini adalah Zenitsu diizinkan menikmati es krim cokelat favoritnya dengan ketenangan yang pas, serta duduk bersama Kamado Tanjiro yang juga memilih sajian dingin itu sebagai pelengkap hari, dan Hashibira Inosuke yang memborong roti sekantong penuh.
"Pelajaran fisika bener-bener bikin males, asli. Kenapa pula kita dapet guru killer? Di situ kadang aku merasa enggak adil." Usai terdiam lima menit lamanya Zenitsu membuka topik. Inosuke masih asyik menghabiskan sandwich ayam yang keempat. Sedangkan Tanjiro? Tingkahnya paling aneh yang membiarkan es krimnya meleleh.
"Untungnya dia enggak ngasih kita tugas. Padahal biasanya seneng banget nyusahin murid-muridnya." Inosuke berhenti mengunyah, lalu lamat-lamat menatap Zenitsu sebelum beralih pada Tanjiro yang membisu. Katakan saja sesuatu–bibir pemuda Agatsuma itu komat-kamit, entah dimengerti atau tidak.
"Oi, Gonpachiro. Emangnya ada pelajaran fisika?"
"Jangan bilang lo lupa bawa buku." Dengan Inosuke penggunaan "gue-lo" secara otomatis Zenitsu terapkan. Wajah tanpa dosanya tampak berpikir. Sejurus kemudian menggeleng yang daripada pusing-pusing, Inosuke melanjutkan makan.
"Mampus dah lu dikeluarin sama dia. Gimana kalo kita minjem buku ke kelas sebelah? Aoi-chan pasti mau." Nama gadis judes itu seketika mewarnai pipi, dan daun telinga Inosuke dengan merah jambu. Penuh keisengan Zenitsu menyikutnya. Gara-gara risi ia jadi memalingkan wajah, sambil terus melahap roti terakhir.
"Gimana, Tanjiro? Di sana ada Kanao-chan juga, kan."
Lalu mereka sama-sama menunggu, juga kecewa berbarengan mendapati Tanjiro yang tetap kosong. Kanao pasti sedih. Padahal Zenitsu dan Inosuke adalah temannya, tetapi bagaimana cara menjelaskan keadaan Tanjiro yang tidak biasa ini? Hanya entahlah yang lolos dari pemikiran Zenitsu. Ia terlalu sedih untuk berpikir, atau merasainya sebagai kesenduan yang Zenitsu harap semua sekadar mimpi buruk.
"Es krimmu leleh, tuh."
Kemudian hening lagi membuat Zenitsu menghabiskan es krimnya dengan sisa potongan yang masih besar. Tanjiro terus bertingkah seolah-olah hilang kesadaran sejak pagi. Ketika Zenitsu atau Inosuke bergiliran bertanya "kenapa?" bahkan guru-guru sampai mengkhawatirkannya, hanya diam yang akan Tanjiro perbuat sedangkan di luar pertanyaan tersebut, ia baru menjawabnya lima menit kemudian tetapi melamun lagi setelahnya.
"E-eh?! Kau benar. Maaf, Zenitsu. Padahal ini dibelikan olehmu, tapi aku malah membuang-buangnya."
"Kita ke UKS aja, ya? Lagian enggak ada ulangan atau tugas, kok. Tanjiro tinggal meminjam catatanku nanti." Tangan Zenitsu bakal terulur hingga lima menit lamanya, tetapi ia lebih mencemaskan Tanjiro yang tidak pernah berkata apa-apa. Sesuatu telah menjadi aneh. Namun, bagaimana Zenitsu serta Insouke harus bertindak mulai sekarang?
"Biar kugendong aja. Gonpachiro gak akan sadar ini."
Uluran tangannya Zenitsu hentikan, lantas dengan spontan ia mengepalkan jari-jarinya. Es krim di genggaman Tanjiro dilepas paksa. Inosuke berjalan duluan, sementara Zenitsu mengikuti di belakang tanpa menatap lagi ke depan. Ponsel dikeluarkan dari saku celana. Secara singkat Zenitsu menghubungi ibu Tanjiro bahwa putra sulungnya sakit, agar segera diantar pulang atau sekalian ke dokter saja.
"Ya. Ya. Terima kasih." Panggilan diputus pada menit kedua. Selama mereka terhubung Zenitsu tidak henti-hentinya bergetar. Ia yang hanya mampu mendiamkan pertanyaan ibu Tanjiro, menjawab "baik-baik saja" seakan-akan membisikkan angin lalu–seperti itu saja bagian mananya yang dapat dikatakan Zenitsu sudah melakukan sesuatu?
"Telepon siapa lo?"
"Ibunya Tanjiro. Abis lo antar ke UKS mending dia pulang aja. Kagak tega gue liatnya."
"Wajah lo bener-bener ga enak diliat, sumpah. Justru kalau lo murung kayak gini Gonpachiro bakal makin sakit. Percaya napa dia pasti sembuh?"
"Gimana enggak khawatir coba?! Pas gue cek Tanjiro kagak demam. Itu juga bukan gejala penyakit apa pun. Mana mendadak banget lagi, padahal kemarin Tanjiro masih sehat."
Suara langkah Zenitsu lenyap, digantikan kepalanya yang perlahan-lahan naik sewaktu Inosuke menoleh ke belakang. Bayangan jendela menutup separuh wajah. Baik itu Inosuke maupun Zenitsu sama-sama menyadari keanehan pada matanya, mengakibatkan mereka berpandangan dengan perasaan janggal–sederhananya, katakanlah Inosuke mendadak berpikir Zenitsu asing begitu pun sebaliknya.
"Hey, Inosuke. Apa kamu gak berpikir kalau–"
DEG! DEG! DEG!
Udara musim panas tahu-tahu mendingin membekukan pergerakan mereka. Untuk berdiri pun Zenitsu seolah-olah mengerahkan seluruh tenaga. Seperti berkhayal namun terasa nyata, netranya menangkap siluet manusia hitam pekat yang berdiri di samping Inosuke–bergerak-gerak macam berbisik–yang ketika melewatinya sekejap ia berlutut. Zenitsu merasa remuk. Sekujur tubuhnya bergetar sangat kuat, sampai-sampai raganya terasa copot satu per satu.
Sensasi itu berlangsung sesaat saja. Namun, yang disebabkannya terus berlanjut di mana Zenitsu sampai berpikir ia kehilangan kaki, tetapi ada sewaktu diraba-raba olehnya dengan mata membelalak. Mana mungkin Zenitsu berubah gila dalam sehari. Lagi pula siluet manusia tersebut apa? Ataukah benar Zenitsu berkhayal gara-gara ... apa?
Apa? Apa? Apa? Apa? Apa? APA? APA? APA? APA? APA? A–
"Monitsu. Apa lo juga ...?" Syukurlah Zenitsu mendengar Inosuke bersuara. Hampir saja dirinya berpikir ia gila. Nyaris sekali Zenitsu melupakan kenyataan, dan setelah tersadarkan ia mampu berdiri.
"Y-ya ... jantungku, rasanya mau ... copot." Berteriak sedikit saja Zenitsu pun tak sanggup. Lidahnya kaku bukan main. Kalau bicara lagi ia malah takut bakalan patah.
"Sebenernya apa yang terjadi, sih?!"
"Ma-mana gue tau coba! Kita harus ke UKS. Gimana kalo dia da–" Sesosok pria dewasa dengan pluit di leher sebagai ciri khas menghampiri mereka yang buru-buru mencoba berlari. Detik yang mengalir Zenitsu habiskan dengan membatinkan "mampus" yang semakin mampus, sewaktu Tomioka Giyuu-sensei telanjur menangkap bahu keduanya.
"Mau ke mana kalian? Bel sudah berbunyi dari tadi."
"Gonpachiro sakit, Sensei. Kami mau ke UKS kalo Sensei enggak kemari." Pegangan pada pundak mereka dilepas cepat. Melalui isyarat diiringi paksaan Giyuu memindahkan Tanjiro ke punggungnya, mendatangkan protes dari Inosuke yang tidak terima.
"Kenapa jadi Sensei yang gendong? Sensei meremehkanku?!"
"Wajahmu pucat begitu, baik-baik saja dari mananya? Zenitsu juga. Kalian berdua harus ke UKS."
Apa pun, asalkan tidak menentang Giyuu yang paling Zenitsu takuti sehingga ia tunduk saja, membuat Inosuke kian berisik di belakang mereka terutama gara-gara Zenitsu berpura-pura mengabaikannya. Pada UKS yang dijaga oleh Tamayo-sensei ketiga remaja itu disambut hangat. Selesai berbasa-basi sejenak Giyuu undur diri -menyerahkan anak didiknya kepada Tamayo yang langsung menghampiri Zenitsu dan Insouke.
"Tolong ceritakan keluhan kalian, Agatsuma-san, Hashibira-san."
"Emmm ... Tamayo-sensei. Sebenernya dibandingkan keluhan, kami rasa ini lebih seperti cerita." Tepatkah keputusan Zenitsu apabila bercerita pada seorang prajurit medis yang notabene, mustahil memercayai kegaiban? Tetapi Tamayo menunggu. Menunggu Zenitsu menumpahkan kesahnya yang memang ingin berkeluh.
"Di koridor sekolah kami melihat bayangan hitam, wujudnya manusia. Setelah itu tahu-tahu saya sama Inosuke merasa sakit."
"Bayangan hitam aneh itu juga berbisik sesuatu! Dia ngomong, 'Kalo mau tau Gonpachiro kenapa, pergi ke bangunan lama sekolah'."
"Lupakan, Inosuke." Jadi bayangan yang sepeti berbisik itu benar adanya, kah? Gigi yang semula terkatup kini menggigit bibir, sementara jemari Zenitsu meremas celananya menahan gejolak luar biasa yang menusuk-nusuk dada. Mendadak kepalanya pening. Wajah seseorang, rupa yang tertutup coret-coretan spidol hitam tak beraturan, seringai tajamnya ... kenapa Zenitsu teringat yang begituan?
"Lupakan, Inosuke."
"Lupakan gimana? Kita harus ke sana, Monitsu. Firasat gue bilang Gonpachiro enggak bakal sembuh, kalo kita gak mencari jawabannya di bangunan lama."
"BOHONG, BOHONG, BOHONG! FIRASAT ITU BOHONG PADAMU INOSUKE. SENGAJA DIBUAT BEGITU BIAR LO PERGI MESKI KE SANA JUGA TANJIRO GAK BAKAL SEMBUH!"
Dalam satu tarikan napas yang panjang Zenitsu mengeluarkan segalanya yang siap secara dadakan. Napas anggota komite kedisiplinan itu terengah-engah. Segelas air bening Tamayo siapkan. Zenitsu menggenggamnya dengan tangan yang tremor. Menjatuhkan pemberian tersebut menciptakan suara pecah yang bising. Bekas-bekas beling di lantai marmer Inosuke injak begitu saja. Kakinya berdarah-darah yang sama sekali dicampakkan.
Babi bodoh ini mau ke mana? Zenitsu memang malas bercanda soal menyuruh Inosuke melupakannya, lagi pula. Namun, setiap kali Zenitsu sadar ternyata ia hanya berteriak dalam hati. Tahu-tahu mereka sekadar menyaksikan Inosuke menghilang di balik pintu, tanpa Tamayo atau Zenitsu berhasil mengeluarkan suaranya demi mencegah Inosuke pergi.
"Tamayo ... sensei."
BRUKKK!
Ah ... Zenitsu bisa mendengarnya–suara asing yang menyuruh dia beristirahat itu, dan tubuh Zenitsu langsung menurut seakan-akan diperintah oleh kakek yang disayanginya.
Baru akan dimulai, Agatsuma Zenitsu.
-ll-
Silau. Kulit wajah Zenitsu yang diterpa seberkas sinar menyilaukan membuatnya panas, sehingga suka atau benci ia terpaksa membuka mata. Pemandangan yang pertama kali menyambutnya adalah langit-langit kamar. Barulah meja belajar beserta segenap perabot yang tentu familier. Ini kamarnya. Zenitsu jadi tertawa lemah usai berpikir, "masa dia lupa?" walaupun samar-samar; ia memang merasa melupakan sesuatu.
TOK ... TOK ... TOK ...
"Bagaimana keadaanmu, Zenitsu?"
"Kakek masuk aja. Keadaanku udah lebih baik, kok." Pria paruh baya yang membawanya dari Nagoya ke Tokyo itu sekalian mengantarkan semangkuk bubur untuk sarapan. Harum kecap asin yang terhirup kian melebarkan senyuman Zenitsu. Tanpa berpikir panjang atau melamun lagi, mumpung masih hangat Zenitsu langsung melahapnya.
"Kemarin Tamayo-san menghubungi Kakek agar membawamu pulang. Kepalamu pusing atau kenapa setelah menggendong Tanjiro?"
"Hmmm ... seingatku seperti melihat bayangan hitam yang aneh. Tapi kurasa cuma halusinasi, deh."
"Berarti kelelahan biasa, ya? Untuk hari ini istirahat saja. Atau kau mau menjenguk Tanjiro?" Kakek yang pengertian, bukan? Anggukan Zenitsu mana mungkin melewatkan kesempatan tersebut. Malahan keponakannya bakal capek, jika tidak diizinkan mengecek sahabatnya.
"Boleh. Jam sebelas aku pergi."
Jam menunjukkan pukul sepuluh kala Zenitsu ingat untuk mengecek. Ternyata ia tertidur lumayan lama. Ketika malam pun Zenitsu yakin sungguh-sungguh terlelap, dan benaknya tidak memimpikan apa-apa selain kekosongan yang hitam–meningatkannya pada bayangan kemarin yang entah bagaimana, semakin dipikirkan lama-kelamaan mendatangkan perasaan familier.
Seolah-olah rasanya Zenitsu pernah melihat bentuk siluet itu di suatu tempat entah di mana. Mungkin ingatan masa kecil yang terlupakan, sebatas kebetulan yang cukup menarik sehingga tersimpan, atau tiba-tiba Zenitsu memperoleh kekuatan supernatural, begitu? Dia ini kebanyakan menonton film fantasi bersama ... rupanya.
Iya. Si ...
Si ... lho.
Kaigaku.
"Apaan, sih? Sapa pula Kaigaku?" Kesal dengan pemikirannya yang acak kadut Zenitsu memutuskan berangkat saja. Pakaian apa pun di lemari ia ambil asal. Lebih penting memikirkan Tanjiro yang semoga saja membaik, seperti keinginan ... juga.
Kali itu tidak satu pun nama yang keluar begitu pula Kaigaku itu. Usai izin ke kakek–padahal baru pukul 10.25, tadinya mau disuruh mandi dulu tetapi urung, ketika kakek menemukan air muka keponakannya menegang -Zenitsu mengendari sepeda butut yang baru disentuhnya lagi. Rumah mereka nyaris dekat namun agak jauh. Apabila kurang darurat Zenitsu pasti berjalan kaki, daripada memakai kendaraan yang menyusahkan di jalan menurun ini.
"Zenitsu?" Sepedanya buru-buru ia rem kala menangkap suara ibu Tanjiro. Beliau tengah membawa keranjang belanjaan berisi sayur-mayur. Zenitsu mengulurkan tangan menawarkan bantuan. Ada keraguan tersirat dari istri pemilik toko roti itu.
"Sepedanya tidak apa-apa jadi didorong?"
"Enggak apa-apa, Bi. Udah dekat lagian."
Perjalanan yang tersisa terasa memberatkan Zenitsu akibat atmosfer kurang bersahabat. Jelas sekali ibu Tanjiro khawatir. Putra sulung Kamado itu pasti belum membaik, atau jangan-jangan memburuk yang berhenti Zenitsu pikirkan–ia akan tahu setelah membuka pintu kamar Tanjiro. Jantungnya dag-dig-dug sekali sewaktu memutar kenop.
"Tanjiro. Ini aku Zenitsu." Tanpa menunggu balasan Zenitsu membukanya duluan. Tanjiro tampak berbaring di ranjang. Meninggalkan semangkuk bubur yang telah mendingin di atas nakas, entah sebenarnya menyeriusi apa hingga lupa lapar.
"Kamu tidak masuk sekolah?" Direspons. Saking gembiranya Zenitsu berlari memeluk Tanjiro, bahkan menangis haru sekaligus merayakan dirinya yang tak perlu menunggu lima menit untuk dijawab.
"Syukurlah, Tanjirooo. Aku khawatir banget tau. Kukira kamu bakal bengong selama-lamanya."
"Omong-omong di mana Inosuke? Apa jadi dia yang sakit?"
Cepat sekali kebahagiaan tersebut meluruh yang kini digantikan rasa heran tanpa batas. Inosuke siapa? Semenjak kepindahan Zenitsu ke Tokyo, dan mereka bertemu di kelas satu SMP, Tanjiro dan Zenitsu selalu berdua sedangkan teman-teman lain hanya sesekali, pernah menongkrong bersama-sama. Entah itu Zenitsu atau Tanjiro saling gagal memahami. Sekarang siapa yang sakit di antara keduanya, huh?
"Bicara apa kamu ini? Emangnya kapan kita punya temen bernama Inosuke?"
"Jadi benar Zenitsu melupakan Inosuke?" Nada serta cara bicara Tanjiro seolah-olah mengetahui hal itu sejak awal. Apa lagi sekarang? Bahkan Zenitsu tidak sempat menghitung seberapa lama ia berbahagia, usai melewati badai yang ternyata terlalu naif apabila Zenitsu pikir sudah tuntas.
"Bukannya lupa, Tanjiro. Tapi emang enggak kenal."
"Masa kamu lupa sama Inosuke? Dia berteman dengan kita sejak di SMP. Suka pakai topeng babi kalo lagi jalan-jalan, dan kalian sering menonton film fantasi di rumahmu." Begitu, kah? Terus siapa Kaigaku yang sempat Zenitsu sebut saat mencoba-coba mengingat? Kedua tangan Tanjiro mengguncang bahu sahabat pirangnya. Sayup-sayup ia seperti menahan tangis, dan Zenitsu menjadi tidak tega.
"Ayo kita ke bangunan lama, Zenitsu."
"Bangunan lama ... di mana?"
"Di belakang sekolah kita! Kalau ke sana nanti amnesiamu sembuh."
"Sembuh? Aku ini enggak sakit, Tanjiro. Justru kamu yang dari kemarin tingkahnya aneh banget." Hanya saja Tanjiro terus memelas yang lambat laun meruntuhkan Zenitsu. Pundak kiri Tanjiro ditepuk lembut. Penuh kemantapan Zenitsu mengangguk menyetujui keinginannya.
"Kita pergi besok?"
"Langsung hari ini, Zenitsu. Pas bubaran sekolah. Mana mungkin aku diam ketika kamu melupakan Inosuke?"
"Kondisimu gimana? Jangan memaksakan diri." Lalu Zenitsu harus bertanya mengenai asal-usul dari permintaan Tanjiro. Meminta dijelaskan lebih lanjut menyangkut Inosuke, mungkin. Siapa tahu Zenitsu ingat agar mereka tak perlu ke bangunan lama sekolah.
"Udah sehat, kok. Boleh tolong ambilkan buburnya? Perutku lapar."
Di pinggir kasur Zenitsu menemani Tanjiro menghabiskan buburnya. Terkadang mereka mengungkit Inosuke. Layar handpone Tanjiro memperlihatkan foto tiga orang pemuda–yang bagi Zenitsu hanya berdua–kemudian menunjuk Inosuke–yang memang di pengelihatan Zenitsu tiada seorang pun lagi–sambil tersenyum. Zenitsu semakin ingin mengatakan Tanjiro masih sakit. Namun, di hadapan garis lengkung itu Zenitsu hanya tak berdaya lalu terdiam.
Siapa yang sebenarnya sakit di sini? Benarkah memang Tanjiro atau Zenitsu juga demikian, tetapi ia sama sekali tidak merasainya? Semakin dipikirkan Zenitsu justru buntu. Walaupun Tanjiro sudah banyak berceloteh, dan seharusnya Zenitsu senang, pemuda Agatsuma itu malah tuli yang sekadar mendengar;
Pergilah ke bangunan lama sekolah. Siapa yang sakit nanti kau akan tahu jawabannya.
Yang dibisikkan oleh seorang pemuda, namun luar biasa mengagetkannya adalah suara itu sama dengan yang menyuruh Zenitsu istirahat.
"Maaf, Tanjiro. Mau dibicarakan gimana pun aku tetep enggak inget." Pembahasan tentang Inosuke semakin memusingkannya, ditambah lagi suara tersebut belum redam yang sangat memenuhi seisi kepala. Tanjiro tersenyum mafhum. Sebaiknya ia menawarkan hiburan lain, bukan?
"Mau bermain PS? Zenitsu paling suka balap mobil, 'kan?"
"Boleh. Ayo main daripada gabut."
Kesenangan itu tidak pernah benar-benar terasa nyata, mungkin. Di luar jendela langit mulai berpendar-pendar kejingga-jinggaan. Ketika jam menunjukkan pukul empat sore Zenitsu dan Tanjiro bergerak–ibunya sempat cemas kalau-kalau Tanjiro kambuh, yang ujung-ujungnya luluh juga dengan senyuman Tanjiro, sama seperti Zenitsu. Semoga mereka baik-baik saja. Semoga keduanya selamat yang terus-menerus Zenitsu ucap dalam hati, menepis firasat buruk.
Padahal Zenitsu sendiri tidak tahu-menahu perihal bangunan lama sekolah, akan tetapi instingnya terus mengulang-ulang keburukan yang bakal terjadi. Bahwa mereka dibuat dapat mengetahui kebenaran jika datang kemari, namun sesungguhnya sia-sia belaka. Diam-diam Zenitsu pun menyadari sesuatu yang kira-kira; semakin ia menolak perintah untuk ke sana, kepalanya pasti mengeluarkan bunyi berdesing yang lama-kelamaan mengeras.
"Zenitsu. Awas!"
Hampir. Sangat nyaris sepeda yang Zenitsu kendarai akan menabrak tiang listrik, gara-gara pandangannya berbayang-bayang disebabkan suara berdesing tersebut. Sejenak Zenitsu menarik napas. Berkali-kali mengatakan ia pasti ke bangunan lama sekolah, dan mencari siapa yang sakitnya benaran–jika tidak begitu, bisa-bisa selanjutnya Zenitsu membuat Tanjiro ikut ditabrak truk atau mengalami kecelakaan lain.
"Gak apa-apa, 'kan, Zenitsu? Aku jadi merasa bersalah, karena kamu hampir menabrak tiang listrik."
"Tadi aku cuma sedikit meleng, kok. Lagian masa mau mundur? Udah sampe, nih."
Gerbang sekolah yang dicat hitam berada di depan mereka. Sepedanya diparkirkan di dalam yang dibantu seorang satpam, dan dengan terpaksa Zenitsu berbohong ia meninggalkan barang di kelas. Membutuhkan lima menit belas kurang untuk tiba di bangunan lama. Seperti beruntung seolah-olah keduanya diizinkan memasuki tempat keramat itu–pengawasan di sekitar sini berkurang drastis–Zenitsu tambah mual saja ketika sudah sangat dekat.
"Kita ... benar-benar masuk?" Pintu besi berkarat yang gemboknya hilang entah ke mana Tanjiro lihat tanpa keraguan. Mereka pasti melakukan ini. Jikalau Zenitsu mendadak berubah pikiran pun, Tanjiro akan mengeceknya sendirian yang jelas-jelas berbahaya.
"Ayo, Zenitsu. Kumohon masuklah bersamaku."
"Pasti, kok. Di dalam sana jangan sampai terpisah, oke?"
Firasat buruk Zenitsu kian mengacak-acak akal, mendengar pintu didorong pelan mengeluarkan denyit yang membikin ngilu. Zenitsu langsung berlindung di belakang Tanjiro, saat keduanya seakan-akan memasuki kegelapan tak bercelah. Dari saku celana Tanjiro mengeluarkan ponsel guna menyalakan senter. Lantai kayu yang reyot berada di mana-mana. Setiap sepatu Zenitsu menginjaknya, ia pasti merasa ingin jatuh melewati jurang.
"Menurutmu kita harus ke mana?" tanya Tanjiro sambil menggerakkan cahaya senternya, supaya menjangkau seluruh area. Ada loker yang berbaris rapi di belakang punggung. Tangga menuju lantai dua, atau sebuah jalan lurus entah mengarah ke mana yang terlalu mencurigakan.
"Naik ke lantai dua aja. Mengecek loker kurasa gak guna. Jalan lurus di samping tangga mencurigakan banget."
Tangga kayu yang mereka naiki pun sama kondisinya dengan lantai yang begitu rapuh. Kaki Zenitsu sempat tersangkut pada lubang yang diciptakan injakannya. Kadang-kadang menabrak Tanjiro yang memimpin jalan, lalu entah bagaimana sarang laba-laba menyangkut di rambut. Lagi pula di mana mereka sekarang? Meskipun lurus terus, rasa-rasanya Zenitsu berputar-putar di satu tempat.
"Tanjiro. Kamu sadar enggak kita cuma muter-muter dari tadi?" Menurut perkiraan Zenitsu mestinya mereka menemukan tangga lantai tiga, atau sebuah ujung apabila bangunan ini hanya mempunyai dua tingkat. Tidakkah ini mulai menyerupai film horor? Apa Zenitsu dan Tanjiro bakal bertemu hantu nanti? Diculik? Kena kutukan?
"Sepertinya begitu. Akan kuarahkan senternya ke dinding."
Terdapat pintu-pintu yang berjejer dengan plat kusam di atasnya. Kelas X-1, X-2, X-3 ... walaupun tulisannya agak kabur, baik Tanjiro maupun Zenitsu bisa membaca cukup jelas. Haruskah mereka berpencar? Mengecek satu per satu ruangan bersama-sama pasti membuang-buang waktu, dan lagi ...
Ternyata memang sia-sia, pergi kemari itu.
BRAKKK!
Suara yang seperti benda dibanting itu menegakkan bulu kuduk mereka. Senter langsung Tanjiro arahkan ke belakang. Macam kesetanan pula ia malah berlari menuruni tangga diikuti Zenitsu, dan dengan napas terengah-engah keduanya menyadari lantai satu menghilang–lenyap tanpa jejak ditelan kegelapan, membuat Zenitsu menggeleng-geleng sulit percaya.
"E-enggak mungkin lantainya hilang! Nanti gimana cara kita pulang coba?!" Tas! Untung sekali Tanjiro membawanya, demi menyempurnakan penyamaran mereka. Zenitsu merogoh bagian dalamnya berharap menemukan sesuatu, dan jawaban yang ia temukan yaitu sebuah kotak pensil kaleng.
"Maaf, Tanjiro. Aku juga terpaksa melempar kotak pensilmu."
"Tunggu sebentar, Zenitsu. Itu milik Shigeru-kun. Kami bertukar kotak pensil karena dia tak menyukainya, tapi dia minta dikembalikan setelah ibu menasehatinya."
Namun terlambat. Benda tersebut telanjur Zenitsu lempar sekuat tenaga yang sama sekali tidak menimbulkan kebisingan apa-apa, mengakibatkan kakinya seketika lemas dengan banjir keringat dingin. Yang terbanting barusan lalu apa? Bagaimana mungkin Zenitsu menyebut itu adalah pintu? Padahal di bawah sana kosong sekali sampai-sampai Zenitsu pikir, tiada kotak pensil yang dibuangnya ke sembarang arah.
"Ayo naik lagi. Jangan menyerah di sini."
Pikiran Tanjiro juga kacau ketika menarik pergelangan tangan Zenitsu agar sahabatnya bangkit. Senter ponsel Tanjiro mati tiba-tiba, padahal baru dicas yang Zenitsu saksikan sendiri. Lampu di koridor lantai dua berkedip-kedip. Perlahan-lahan mereka melangkah yang lama-kelamaan udara menjadi berat, hingga menyebabkan Tanjiro serta Zenitsu sesak napas. Tetapi menyerah di sini terasa membahayakan mereka. Tanjiro jadi berpikir bagaimana kalau-
DEG!
"Pin ... tu ...?" gumam Tanjiro yang dapat melihat sebuah pintu yang terang benderang. Kakinya bergerak sendiri meninggalkan Zenitsu yang ingin berteriak, tetapi tidak ada yang keluar membuat ia memukul-mukul lantai.
"Zenit ... su ... tolong ... aku ..." Siapa yang mau ke sana? Tanjiro terus menggeleng menolak memutar kenop pintu. Namun, ia tetap membukanya menampakkan kumparan cahaya putih yang perlahan-lahan melahap Tanjiro, sedangkan di belakang Zenitsu mati-matian berusaha menggerakkan kaki.
Kebenaran soal Inosuke. Siapa yang sebenarnya sakit di antara mereka–Zenitsu menghalau seluruh keinginan itu, menganggapnya bodoh, bahkan membuangnya dengan mengeluarkan tangisan histeris. Tangan-tangan tak kasatmata yang berasal dari kegelapan melepaskan kaki Zenitsu. Ia langsung berlari menghampiri Tanjiro. Berhasil meraih pundaknya, kemudian ikut disedot oleh cahaya tersebut menuju entah ke mana.
"SIAPA YANG PEDULI SAMA INOSUKE! Aku dan Tanjiro sehat. Apa pun yang terjadi kami harus selamat. Harus selamat. Harus selamat. HARUS SELAMAT! ITULAH JAWABANKU. APA KAU MENDENGARNYA?!"
Selama berputar-putar dalam cahaya yang menyerupai corong itu Zenitsu terus meneriakkannya, sambil seerat mungkin mencengkeram bahu Tanjiro agar tidak terpisah. Tahu-tahu Zenitsu terjatuh menimbulkan suara berdebum yang keras. Jari-jarinya sudah berhenti memegang. Secepat mungkin Zenitsu menoleh ke kiri serta kanan, tetapi tiada Tanjiro di mana pun membuat Zenitsu seketika lemas.
"Kok jadi gini, sih? Tau gitu gue enggak setuju aja sama ide Tanjiro."
Lebih baik kepalanya pecah akibat menolak suara tersebut, daripada tersesat dalam teka-teki bangunan ini yang mungkin selama-lamanya menjebak mereka. Terang-terangan Zenitsu menangis. Nama Tanjiro sesekali terselip berharap ia ditolong, karena Zenitsu tidak kuat lagi bermain-main di sini. Mustahil bisa pulang. Orang-orang akan melupakan eksistensi keduanya. Pasti Zenitsu benar yang entah mengapa dia sangat yakin.
"Pada era Taisho sebelum perang dunia pertama meletus. Hiduplah sebuah keluarga yang tinggal di gunung. Saat itu musim dingin. Namun, sang kakak tetap pergi untuk menjual kayu bakar di kota."
Tidak. Bukan seperti itu suara Tanjiro yang meskipun lembut, tetapi harusnya lebih berat. Mungkin milik seorang gadis. Seolah-olah tersihir Zenitsu terus mengikutinya, juga sedikit demi sedikit ia menjadi tenang membuat harapannya kembali bertahan.
"Lo juga terjebak kayak gue? Gimana kalo kita keluar sama-sama dari ... sini?"
Terpaku–kata itulah yang satu-satunya mendasari mengapa Zenitsu terhenti di sini, dan mulutnya membentuk huruf "O" yang perlahan-lahan menganga. Ternyata benar ada seorang gadis di perpustakaan butut ini. Rambut hitamnya diurai bebas. Memiliki sepasang netra pink pucat yang menggemaskan, dan dia mengenakan seragam musim panas seperti Zenitsu yang nyaris lupa; bahwa sekarang ini merupakan hitungan mundur sebelum liburan dimulai.
"Apa kamu juga mau mendengarkan cerita?" Buku berkover putih polos diperlihatkan sang gadis kepada Zenitsu yang membeku. Wajahnya cantik benar. Hati Zenitsu macam dicubit kemudian dag-dig-dug sendiri.
"Ce-cerita, ya? Kurasa boleh juga."
"Duduklah di sampingku. Cerita ini sangat bagus, lho."
Ada yang tidak beres. Namun, Zenitsu kurang memikirkannya karena sekarang ini; ia sekadar ingin sedikit menghibur diri sendiri dengan gadis yang samar-samar menyerupai Tanjiro.
Bersambung ...
A/N: Ya ini cerita chapter dan jangan banyak ekspektasi. kemungkinan besar aku bakal update lama. juga di next chapter itu lebih fokus ke romance sama misterinya. karena fandom KnY di ffn sepi, kurasa gak akan apa2 publish di sini juga karena kemungkinan ditagih kecil wkwkw. horor-nya sendiri ya ... mungkin cuma lebih kek pemanis (?) yang bakal aku munculin juga, walau ga akan full horor karena itu sulit. di chap ini aja horor nya ga berasa banget. tapi seenggaknya bikin kalian bertanya2 ya mungkin~ buat selanjutnya ini bakal fokus ke zenitsu x nezuko ya. dan sekali lagi unsur romance bakal kuat banget. lukuna itu sendiri berarti: ruang kosong/bagian yang hilang, berasal dari bahasa latin, blom ada di KBBI.
Seperti biasa kuucapkan thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. sampai jumpa di chapter 2 yang moga kagak lama. aku perkiraan cerita ini bakal tamat dalam 4 chapter lah, ga usah panjang2.
