"Jalur Merah – Chapter 1 : Pemandu"
Fanfiction by Dramaquenns
BoBoiBoy © Monsta.
Warning (s) : Horror-Friendship/ Horrornya sedikit/ banyak drama / typo/ dan lain-lain.
.
.
.
Sudah hampir dua jam sejak mereka tiba di kaki gunung, dan entah sudah sejak kapan area pendakian semakin sepi. Tidak terlihat lagi orang-orang yang membawa cariel seperti saat awal mereka memulai pendakian.
Taufan berhenti sejenak, mengusap peluh di kening, lalu menegak air. Ia berdecak menyadari botolnya sudah nyaris kosong. Persediaannya hanya tinggal sebotol ini. Taufan menoleh ke belakang. Teman-temannya masih berbaris rapih di atas jalan setapak. Semuanya tampak lelah. Bahkan Ying yang di awal pendakian bersenandung penuh semangat, mulai kehilangan suaranya. Entah, harus menempuh berapa kilometer lagi supaya mereka bisa sampai ke puncak dan menaklukan gunung ini, seperti yang Fang janjikan saat mereka merencanakan kegiatan liburan dua minggu yang lalu.
"Kita udah sampai belum, sih?"
Suara datang dari seorang pemuda bertubuh gempal yang berjalan di barisan belakang. Dadanya bergerak naik turun, langkahnya tampak lunglai di bawah cahaya matahari pagi yang belum terlalu terik. Botol minum melayang, nyaris mengenai kening pemuda itu —Gopal— dengan telak jika ia tak sigap menangkapnya.
"Sekali lagi nanya, kugelindingin kamu sampai ke bawah," sungut Halilintar jengkel. Ia berjalan paling depan, memimpin keenam temannya yang lain. Rambut hitamnya sedikit berkibar tertiup angin, sementara sepasang netra gelapnya menatap tajam ke jalanan menanjak di depan.
"Jangan galak gitu, dong. Aku 'kan cuma nanya, Kita 'kan udah jalan lumayan lama! Kenapa belum sampai juga?" cibir Gopal, tenggorokkannya sudah kering karena minumya sudah habis sejak tadi. Ia berharap dapat menemukan pos atau danau sebentar lagi.
"Baru juga dua jam, duh." Taufan yang berjalan tepat di depan Gopal memutar mata.
"Udah dibilangin kamu diam di penginapan aja," Ying mengeratkan ransel, napasnya memburu sedikit lelah. "Kalau ikut pasti kamu ngeluh terus."
"Kalau aku di penginapan kalian juga pasti maksa ikut, kan? Lagian emang kalian nggak ngerasa kalau penginapannya serem? Masa semalem ada suara orang cuci piring, kan aneh."
"Bukan kali. Itu Fang yang lagi ngasah pisau sama gunting," sahut Yaya yang berjalan tak jauh di belakangnya.
"Hah? Buat apa?"
"Buat ngempesin perut kamu kalau masih bawel." Taufan tergelak, disahut dengan tawa yang lain. Ia merangkul Fang yang berjalan di depannya. "Oh iya Fang, kamu pernah naik gunung ini, 'kan? Kita seriusan nih nggak pakai pemandu?"
"Nggak usah." Fang menyahut singkat. Ia meneguk air dari botol dan menyipitkan mata menatap matahari yang mulai beranjak naik. "Lagian gunungnya nggak tinggi-tinggi amat. Sebelum malam kita harusnya udah bisa balik ke bawah."
"Kalau kalian kebanyakan ngobrol kayaknya kita malah bakal nyampe ke atas besok pagi," gerutu Halilintar. Ia tampak jengkel dengan gerakan teman-teman yang menurutnya lambat. Namun sebelum pendakian, mereka sudah diperingatkan untuk tetap bersama mau semenyebalkan apapun timnya. Jadi, Halilintar hanya bisa tahan emosi hingga mereka sampai di puncak dan turun kembali ke penginapan.
"Hali kok sewot terus dari tadi, sih? Lagi PMS?" tanya Gopal.
"Eh, tau aja. Tadi pagi kayaknya Hali lupa minum Kiranti yang kubawain deh. Makanya jadi badmood terus, ya?" Taufan kembali tertawa, berpura-pura mengabaikan reaksi Halilintar yang seakan ingin melempar sesuatu padanya.
"Gempa, kamu gantian jaga depan."
Gempa yang sejak tadi asik menikmati pemandangan alam segera menoleh karena titah Halilintar, buyar sudah semua kata-kata puitis yang ada di kepalanya. "Hah? Kok aku? Tadi katanya kamu yang mau jaga depan."
"Bilang aja takut,"Sahut Taufan. "Pasti Hali bingung kalau tiba tiba di depan nanti ada yang cegat, 'kan?"
"Hus Taufan, jangan ngomong gitu ah," tegur Ying yang melangkah di epan Taufan. Wajahnya tampak serius saat ia mendelik pada laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. "Kamu nggak inget apa kata bapak-bapak yang jaga vila tadi? Kalau di gunung jangan ngomong sembarangan. Nanti kalau beneran kena gimana?."
Selain Fang, keenam orang yang lain memang belum pernah naik gunung. Belum punya pengalaman atau pengetahuan apapun soal gunung. Jadi wajar, jika Ying atau pun yang lainnya menelan mentah-mentah informasi dari penduduk yang lebih berpengalaman.
"Kena apaan? Kalau kena tai burung sih udah dari tadi!" Taufan menunjuk noda di lengan jaketnya.
"Mampus. Emang enak? Woi, Taufan kejatuhan tai burung. Jangan deket-deket, nanti ketularan bau!" Gopal tertawa terbahak-bahak sampai Ying harus memukulinya dengan ransel agar diam sebelum Halilintar turun tangan.
"Aku serius, lho. Jangan kebanyakan bercanda di sini, deh. Nanti malah kenapa-napa lagi."
"Apaan sih, Ying. Kamu jangan kebanyakan nonton film horror deh. Lagian sekarang itu—"
"Banyak omong." Halilintar yang entah sejak kapan sudah berada di depan Taufan, menarik kerah jaketnya. "Kita tuker tempat. Kamu di depan aja. Biar nggak berisik."
Taufan mencibir, ia menurut dan menyusul Fang yang kini memimpin jalan. Mereka melewatkan beberapa menit berikutnya dengan berjalan dalam diam. Taufan sesekali tetap berceloteh, dan Gopal terus menanyakan apa mereka sudah sampai.
Matahari semakin beranjak naik, namun sepertinya cuaca tidak bersahabat hari ini. Awan putih tadi pagi sekarang berubah kelabu. Bisa gawat jika hujan turun sebelum mereka tiba di shelter.
Taufan kembali mengedarkan pandangannya ke alam. Pohon-pohon menjulang tinggi, suara serangga hutan terdengar di baliknya. Keenam temannya masih terdiam, berusaha mengumpulkan energi agar mereka tak kelelahan sehingga mereka harus menghabiskan banyak waktu untuk istirahat.
Setelah tiga puluh menit Taufan dan Fang memimpin jalan, terdengar seruan Gopal yang meminta break. Mereka beristirahat di salah satu pohon. Yaya menegak airnya, duduk bersandar pada Ying yang tengah menepuk-nepuk pahanya yang mulai lemas.
Gopal dan Taufan langsung telentang di atas rumput. Halilintar menyandarkan punggungnya di pohon, sementara Gempa mensejajarkan kakinya sambil melihat-lihat kompas.
"Oh iya kamu bukan pertama kali naik gunung ini ya? Sebelumnya kamu naik sama siapa, Fang?" Taufan bangkit terduduk, menoleh pada Fang yang sejak tadi diam dan serius.
"Sama abangku," kata Fang seraya memandang botol airnya yang telah kosong. Sepertinya mereka harus mampir untuk mengisi air nanti. Kebetulan ia ingat pernah melihat sebuah danau dalam perjalanannya kemari sebelum ini.
"Oh, punya abang?" Taufan terkejut. Kedua iris safirnya sedikit berkilauan di bawah pantulan cahaya matahari. "Kok nggak pernah cerita?"
"Kalian nggak pernah nanya."
"Kenapa nggak ajak abangmu juga?" Halilintar mengikat tali sepatunya, sebelum kembali menyandarkan punggung. "Kan seenggaknya kalau kamu ajak dia, kita bisa lebih ngerasa aman sedikit karena dijagain yang lebih tua. Pasti abangmu sering naik gunung, 'kan?"
"Ya sering, sih." Fang membenarkan. Tatapannya sedikit melamun memandang burung gagak yang tengah mematuk bangkai tupai tak jauh dari mereka duduk. "... Tapi biasanya dia pergi sendirian."
"Oh, gitu? Yah, sayang banget. Coba kalau dia juga ikut." Taufan menenggak sisa air minumnya dan menyimpan botol di ransel.
"Kita lanjut jalan?" tanya Gempa, kembali menyimpan kompas di saku jaket. "Kalau kelamaan istirahat malah nanti kemalaman baliknya."
"Oh iya bener." Fang segera bangkit. "Kita baris kayak tadi ya. Gempa paling belakang, dan aku di depan."
"Kita nggak rolling?" Yaya ikut menyimpan botolnya dalam tas. Ia sedikit mengibaskan bagian depan jilbabnya untuk mengusir gerah. Meski langit tampak berawan, tapi perjalanan mendaki cukup membuat mereka banyak berkeringat.
"Kalau mau rolling terserah, tapi yang pasti aku tetap di depan," putus Fang,
"Iya. Biar kalau dihadang makhluk jejadian kamu duluan yang disamber," celetuk Gopal yang bangkit dengan malas-malasan.
Fang meliriknya, menaikkan tali ransel. "Biasanya yang ngomong gitu yang duluan disamber, sih." Matanya kembali memeriksa kelengkapan teman-temannya. "Udah semua, kan? Ayo, jalan."
Fang bergidik, menyesali ucapannya sendiri. Namun ia menurut untuk kembali ke barisan. Fang, Yaya, Taufan, Gopal, Ying, Halilintar dan Gempa. Mereka kembali melangkah menjejak jalan setapak yang akan menghubungkan mereka pada puncak.
"Habis ini tujuan kita di shelter 2 ya? Karena mendung kemungkinan di sana hujan, kalian udah sedia jas hujan kan?" tanya Fang, menoleh pada teman-temannya.
"Kalau hujan berarti nanti dingin dong?" komentar Ying. Rambut kuncir kudanya bergoyang seiring setiap langkahnya. "Ya ampun, aku nggak bawa jaket tambahan lagi. Kayaknya jaket yang kupakai kurang hangat, deh."
"Ya elah, kok nggak bilang suruh bawa jas hujan? Payung aja aku nggak bawa, apalagi jas hujan," keluh Taufan.
"Fang udah bilang berkali-kali. Sebelum berangkat juga udah diingetin, kan. Kamunya aja yang bebal."
Taufan mencibir saat Gempa ikut berkomentar.
"Makanya itu kuping dibersihin, biar kotorannya nggak numpuk," tambah Gopal.
"Ya terus gimana dong nanti kalau aku nggak pakai jas hujan?"
"Yaudah, kamu sama Ying ditinggal aja di sini. Tunggu kita balik," balas Halilintar. "Lagian ya, udah tau mau naik gunung. Harusnya tuh kalian cari tau apa aja yang musti disiapin, jangan maunya disuapin doang."
"Lho, kok kamu jadi sewot?" Kedua mata sipit Ying memicing jengkel pada pemuda yang berjalan di belakangnya.
"Iya, kenapa kamu yang jadi sewot, Li?" Taufan jadi ikutan kesal. "Kayaknya kamu emang nggak niat naik gunung kan makannya marah-marah terus dari tadi."
"Udah deh, jangan berantem," tegur Yaya. "Doain aja semoga nggak hujan."
"Di atas ada tempat berteduh, kok. Kalau kita bisa nyampe di sana sebelum hujan, jadinya nggak bakal basah," kata Fang.
"Nah,denger kan? Daripada kebanyakan debat mending lanjut jalan. Sekarang udah tengah hari dan kita masih belum sampai ke puncak."
"Iya, Ying, iyaa," Taufan akhirnya menyerah. Ia memang lebih baik memilih mengalah daripada harus ribut di hutan. Kan tidak keren.
Mereka berbaris seperti semula. Meski beberapa di antara mereka tetap kembali berdebat.
Fang masih tetap memimpin jalan. Pengalamannya yang pernah menginjak gunung ini sebelumnya, membuat teman-temannya mempercayai Fang untuk menuntun perjalanan mereka. Iris violet pemuda itu terus menatap lurus ke depan. Sebentar lagi mereka akan sampai di persimpangan yang mungkin akan mengecoh mereka untuk sampai puncak. Benaknya mulai berpacu gelisah. Benarkah keputusan yang dilakukannya ini?
Suara siamang mulai terdengar. Sebagian mendongak dan melihat hewan-hewan itu melompat-lompat dari pohon satu ke pohon yang lain.
"Kita kemana lagi nih, Fang?" Taufan bertanya begitu mereka sampai di persimpangan.
Fang terdiam sebentar. Matanya melirik kedua jalur yang terpisah di hadapan mereka. Diam-diam napas dihela panjang. Lalu, dengan berat hati ia memilih sebuah jalur yang dulu dilewatinya saat pertama kali menaiki gunung ini.
"Lewat sini."
Persimpangan yang akan membawanya pada kebenaran kakaknyanya.
'Maafin aku, semuanya.'
.
.
.
To Be Continue
.
.
A/N : Dramaqueens bikin fic baru lagi! Kali ini nyoba bikin yang serem, tapi kayaknya kurang berasa. Ah, semoga berasa deh. Spesial perdana tayang, fic ini bakal dipublish dua chapter sekaligus. Jadi langsung next aja ya. Oh iya, Jalur Merah bakal tayang setiap malam jumat loh!
Oh iya, jangan lupa tinggalin jejak!
Regards,
Dramaqueens
