Kacchako My Hero Academia by Horikoshi Kohei

Original Story by Viziela Veronica

Rated T/Romance/Sweet/Fluff/Humor(garing?)


"Katsuki ... bereskan barang-barangmu!"

"Urusai baba. Aku sedang di kamar mandi," balas Katsuki tak kalah kerasanya. Sambil bersungut-sungut ia membasuh wajahnya yang penuh dengan sabun, mengabaikan omelan ibunya di luar sana ia mengambil sikat giginya mengoleskannya dengan pasta gigi.

Tapi Katsuki urung menyikat giginya saat ia mendengar suara ping yang berasal dari ponselnya. Pemuda itu tanpa membuang waktu meraih ponselnya di lemari kaca peralatan mandi. Bibirnya yang tadi cemberut perlahan menyunggingkan senyum melihat nama angel face yang terpampang di layar ponselnya.

Gadis itu mengiriminya sebuah foto menampakkan foto Ochako yang sedang bersama para gadis kelas A yang lainnya. Tampak Ashido Mina memeluk lengan Ochako dan mengacungkan kedua jarinya yang kotor oleh adonan ke kamera, wajah Ochako sendiri berlopetan oleh adonan tepung. Gadis-gadis lainnya pun terlihat tak kalah kotor oleh adonan, tapi pandangan Katsuki hanya tertuju ke Uraraka betapa imutnya gadis itu dengan cengiran bodohnya.

Minggu sore ini kami semua sibuk membuat kue. Padahal aku ingin memberikan kue bikinanku untuk Bakugou-kun.

Itu lah pesan yang dikirimkan oleh Ochako lengkap dengan emoticon cemberut imut yang menghiasi pesannya. Katsuki menghela napas salah tingkah. Sial ... tingkah laku gadis ini selalu terlihat menggemaskan. Tapi Katsuki membalas pesan Ochako dengan kejam.

Heh ... aku tidak mau masuk rumah sakit karena memakan kue buatanmu.

Katsuki tersenyum puas saat Ochako segera memberinya emoticon marah dan rentetan omelan lainnya. Pemuda itu mengabaikan pesan Ochako yang selanjutnya dan bergegas menyelesaikan mandinya. Ia tidak mau ibunya kembali meneriakinya. Terakhir kali saat ia berlama-lama di kamar mandi, Mitsuki Bakugou menggedor-gedor pintu kamar mandi, berteriak dan menuduhnya sedang melakukan perbuatan tidak senonoh di dalam kamar mandi.

Katsuki tersenyum kecut saat mengingat kejadian itu. Kalau bisa memilih ia tentu lebih ingin menghabiskan waktu akhir pekannya bersama teman-teman bodohnya plus pacarnya yang berwajah malaikat. Tapi dua hari yang lalu ibunya memaksanya pulang ke rumah akibat ada acara keluarga di luar kota. Sore ini pun keluarga Bakugou baru saja kembali ke rumah, Mitsuki mengatakan ada baiknya ia beristirahat dulu di rumah dan kembali ke asramanya besok pagi-pagi benar. Katsuki yang memang sedang kelelahan akibat perjalanan jauh menyutujui begitu saja perkataan ibunya, lagipula ia juga sedang malas berdebat dengan ibunya.

"KATSUKI!"

Katsuki mendecak, salah satu alasannya malas pulang ke rumah adalah mendengar omelan ibunya. Sampai saat ini Katsuki tak habis pikir kenapa ayahnya yang lembut bisa menikah bersama nenek sihir itu?

"Tidak usah berteriak, baba." Katsuki keluar dari dalam kamar mandi sambil mengomel, membiarkan handuk kering berada di atas kepalanya yang basah. Ia mendecak melihat ibunya berdiri di depan pintu kamarnya sambil berkacak pinggang.

"Ibu tidak akan mengomel kalau kau membereskan kamarmu. Apa-apaan itu? Kamarmu berantakan sekali." Mitsuki Bakugou menunjuk marah ke dalam kamar Katsuki, beberapa pakaian kotor yang dipakainya untuk acara keluarga tadi berserakan di atas lantai. "Dan bicaralah yang sopan terhadap orang tuamu anak sialan."

Mitsuki melancarkan pukulan ke kepala Katsuki yang segera dibalas teriakan marah tidak terima oleh bocah Mitsuki mengabaikan amukan bocah itu dan kembali ke dapur. "Selesai membereskan kamarmu segera pergi ke dapur," perintah Mitsuki dengan nada mengancam.

Katsuki mendecak kencang merasa kesal, ia lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya. Ia paling tidak suka ada yang mengganggunya saat ia sedang membereskan kamarnya.


Katsuki mengisi kembali mangkuk miliknya, memenuhi dengan nasi panas kemudian ia kembali makan dengan lahap. Tapi gerakan Katsuki yang tengah menyumpit nasi menjadi terusik saat ia merasakan getaran di ponselnya, sudut mata Katsuki melirik ke arah ibunya. Ibunya tengah berbicara dengan ayahnya. Merasa lega karena tidak ada yang memperhatikannya, Katsuki membuka ponsel ternyata ia mendapat pesan dari Ochako.

Kenapa kau tidak membalas pesanku?

Katsuki tersenyum tipis hanya pesan sederhana seperti itu saja ia sudah merasa senang sekali.

Aku sibuk.

Gadis itu membalas cepat.

Tapi aku kangen

"Uhuk!"

Katsuki tersedak oleh nasi yang berada di mulutnya suara batuknya mengundang lirikan heran dari kedua orangntuanya. "Lanjutkan obrolan kalian," ucap Katsuki setelah meneguk segelas air. Berusaha terlihat sebiasa mungkin. Jangan sampai kedua orang tuanya tahu mengenai hubungannya dengan Uraraka Ochako, gadis yang pernah babak belur karenanya saat festival olahraga. Bisa-bisa ibunya memberikan serentetan pertanyaan kepadanya.

Mitsuki mendengus. "Dasar bocah ceroboh."

'Muka bulat sialan.' Katsuki mendesis dalam hati. Selama hubungan mereka Ochako memang masih bersikap malu-malu bila berada di dekatnya, tapi gadis itu bisa menjadi lebih ekspresif bila berada di telepon. Ochako tidak pernah malu mengatakan rasa suka dan rindunya kepada Katsuki saat mereka saling bertukar pesan atau pun berbicara di ponsel.

Tapi kau bisa bersenang-senang dengan lainnya, bukan?

Tetap saja rasanya beda. Memangnya kau mau membuatku mati bosan di akhir pekan ini?

Katsuki tidak mengetik balasan untuk Ochako karena gadis itu tampaknya masih mengetikkan pesan untuknya. Kening pemuda itu berkerut halus saat ia mendapatkan pesan baru, bukan dari Ochako melainkan dari Kaminari Denki.

Ada urusan apa si pikachu ini dengannya?

Dunce Face : Hei bocah ledakan, aku punya sesuatu yang menarik.

Baru saja Katsuki selesai membaca pesan dari Kaminari, pesan dari Ochako masuk.

Angel Face : Tadi pagi juga aku pergi ke gym tengah kota di ajak oleh teman-teman.

Pesan dari Kaminari masuk. Katsuki mendecak pelan, kenapa manusia listrik satu ini hobi sekali mengganggunya? "HAH?"

Katsuki berseru kaget melihat foto yang baru saja Kaminari kirimkan untuknya. Tampak sosok Uraraka Ochako di dalam foto itu, gadis itu mengenakan celana training ketat pendek berwarna biru gelap dan tanktop hitam, rambutnya diikat pony tail terlihat imut sekaligus seksi, seksi karena tubuh gadis itu tampak bersimbah oleh keringat di dalam foto. Beberapa foto dikirim lagi ke ponselnya, semua terfokus ke Ochako yang asyik berlatih di gym. Gadis itu sepertinya tidak menyadari kalau dirinya tersorot oleh kamera. Katsuki tanpa sadar membekap hidungnya takut kalau-kalau ia kembali mimisan karena melihat foto seksi gadis itu.

Tunggu ... kenapa Kaminari bisa mendapatkan foto kekasihnya?

Sialan! Katsuki mengumpat kencang dalam hatinya. Ia berjanji akan menghajar Kaminari Denki kalau ia sudah kembali ke asrama.

Lord Explosion : Kau pergi ke gym bersama siapa?

Angel Face : Uh ... kenapa kau mengirim emoticon marah seperti itu?

Katsuki mendecak kesal karena gadis ini malah bertanya polos.

Lord Explosion : Bersama siapa?!

Angel Face : Aku pergi bersama teman-temanmu, bersama Kirishima-kun dan yang lainnya. Jangan marah ok? Mina-chan dan Jirou-chan juga ikut serta.

Katsuki menghela napas gusar. Ada Jirou Kyouka di sana, si gadis earphone jack itu pasti akan memberi peringatan kepada Kaminari kalau si pikachu berbuat mesum. Tapi kenapa Kaminari Denki berhasil mendapatkan foto-foto seksi Uraraka Ochako yang sedang berlatih di gym? Dan lagi apa manusia listrik itu bosan hidup?

Sebuah pesan dari Kaminari kembali masuk.

Dunce Face : BAKUGOU ... KAU JANGAN SALAH PAHAM ... YANG MENGIRIMIMU FOTO URARAKA ITU ASHIDO. IA MEMBAJAK PONSELKU.

Katsuki melebarkan kedua matanya membaca pesan Kaminari yang satu ini. Pantas saja ia merasa aneh saat mendapat pesan itu, sebodoh-bodohnya Kaminari ia pasti tahu diri untuk tidak mengundang amukan berlebihan dari sibocah peledak. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan balasan untuk Kaminari.

Lord Explosion : KAU INGIN MATI?!

Ia tetap membalas pesan penuh kemarahan kepada Kaminari. Tak peduli kalau semua kesalahan ini disebabkan oleh gadis alien jahil bernama Ashido Mina.

Dunce Face : Tentu saja tidak. Itu salahnya Ashido, bukan aku. Dan yang mengambil foto Uraraka lewat ponselku itu ulah Ashido juga.

Katsukimendengus napas kencang lagipula sebenarnya seberapa cerobohnya Kaminari sampa-sampai ada seseorang yang berhasil membajak ponselnya selama berada di gym? Apa si pikachu sialan itu tidak memasang password di ponselnya?

Lord Explosion : Hapus foto Uraraka di dalam ponselmu. Kalau tidak, aku akan benar-benar meledakkanmu.

"Katsuki ... jangan memasang wajah seram saat makan. Kau membuat nafsu makan kami hilang," teguran dari Mitsuki Bakugou membuat Katsuki berhenti memarahi Kaminari lewat pesan. Pemuda itu mendengus tak suka melihat ibunya menatapnya dengan tajam sekaligus penasara, Masaru Bakugou pun menatapnya penuh rasa ingin tahu. Katsuki mengerang dalam hati, semoga kedua orang tuanya nanti tidak menanyainya macam-macam.

Katsuki memutuskan untuk memakan makan malamnya dengan tenang tapi dirinya kembali terganggu tatkala ponselnya berdering. Katsuki mendecak pelan mendapati tatapan tajam ibunya yang sudah selesai makan dan membereskan piring kotornya. Ia berjanji dalam hati untuk memberi pelajaran kepada siapa pun yang sedang mengganggu makan malamnya.

Angel Face.

Nama itu tertera jelas di layar ponsel. Katsuki menyeringai, tapi pengecualian untuk gadis ini. Mungkin ia bisa memberi pelajaran berbeda kepada si wajah malaikatnya.

"KATSUKI JANGAN LUPA DENGAN TUGASMU YANG MENCUCI PIRING," seru Mitsuki melihat putranya beranjak dari kursi makan untuk menerima telepon.

"Tenang saja baba. Aku tidak akan lupa," balas Katsuki tak kalah kesalnya. Pemuda itu segera pergi ke teras rumahnya hendak menerima telepon dari Uraraka Ochako.

"Ada apa muka bulat?"Katsuki berbicara di ponsel dengan nada ketus.

"Bakugou-kun sendiri kenapa tidak membalas pesanku?"

"Memangnya kau pikir aku selalu memegang ponsel?"

"Uh ... Bakugou-kun memang benar-benar menyebalkan."

"HAH?"

"Tidak usah berteriak begitu Bakugou-kun, aku tidak tuli." Di seberang sana Uraraka Ochako bersungut-sungut kesal tak habis pikir bahkan saat berbicara di telepon pun pacarnya yang pemarah ini tetap berteriak-teriak. "Omong-omong Bakugou-kun apa kau marah kalau aku pergi ke gym bersama teman-temanmu?"

"Asalkan ada mata rakun, telinga panjang atau gadis lain, aku tidak keberatan."

"Hee ... apa berarti Bakugou-kun cemburu?"

"Aku tidak cemburu! Kenapa juga aku harus cemburu!" Katsuki kembali berteriak. Ia benar-benar lupa kalau dirinya sekarang berada di teras rumahnya membuat kedua orangtuanya mungkin bisa saja mencuri dengar pembicaraannya dengan Uraraka.

Di seberang sana Ochako tertawa kecil, suaranya terdengar manis sekali membuat Katsuki berhenti berteriak di ponsel. Sialan, ia semakin merindukan gadis itu. Ia bisa saja meminta video call bersama Ochako. Tapi ia takut ia menjadi salah tingkah.

"Bakugou-kun aku punya kabar menggelikan. Kau tahu? Kaminari-kun tadi menangis keras sambil memegang ponselnya, Jirou-chan bahkan sampai menusukkan telinga Kaminari-kun agar ia diam. Wajah menangisnya lucu sekali apa ia baru saja ditolak seperti biasanya? Kirishima-kun dan Sero-kun berusaha menenangkannya tapi aku heran kenapa mereka berdua menyebut namamu?"

Katsuki tentu tahu penyebab Kaminari menangis seperti itu. Ini ulah Ashido yang membajak ponsel Kaminari sehingga mengundang kemarahannya karena ada foto Ochako di dalam sana. Katsuki mengumpat dalam hati, apa Ochako tidak tahu kalau potret dirinya berada di dalam ponsel Kaminari? Mungkin karena Ashido Mina yang membawa ponsel itu dan mengambil foto-fotonya Ochako tidak merasa curiga sedikit pun. Tapi ada suatu hal yang membuat Katsuki kembali merasa kesal, ia mendecak pelan.

"Muka bulat, kau tadi bilang si pikachu itu lucu?"

"Eh?" Di seberang sana Ochako mengerjapkan kedua matanya cepat, ia dapat menangkap nada marah dalam kalimat Katsuki. Ia tidak salah dengar bukan? Katsuki cemburu hanya karena ia menyebut 'Kaminari lucu'. Ochako sontak menutup mulutnya berusaha menahan tawa geli. Entah kenapa Ochako menganggap sisi Katsuki yang seperti ini sangat manis dan menggemaskan.

'Iya ... tapi tenang saja Bakugou-kun lebih menggemaskan kok. Apalagi kalau Bakugou-kun memasang wajah cemberut, seperti anak kecil. Hehe."

"Ap-apa? Jangan sembarangan bicara kau muka bulat. A-aku bukan anak kecil."

Ochako semakin berusaha menahan tawanya mendengar Katsuki yang bicara tergagap di seberang sana, berusaha menyangkal perkataannya. Sedangkan Katsuki mendecih pelan ia masih dapat mendengar suara Ochako yang berusaha menahan tawa.

"Huu mesra sekali kalian berdua."

"M-mina-chan."

Katsuki mengerutkan keningnya kenapa alien bermata rakun itu kembali mengganggunya dan Ochako?

"Hei jangan mengganggu mereka."

Baik Katsuki dan Ochako merasa lega karena Kirishima menegur Mina. Meski pun Katsuki tidak berada di sana, tapi dari suara-suara berisik di ponselnya ia tahu kalau Kirishima berusaha menyingkirkan Mina agar menjauh dari Ochako.

"Ah ... Kirishima tidak seru," omel Mina. "Oh iya sebelum itu Bakugou bagaimana menurutmu dengan foto yang kukirimkan? Kau suka bukan? Auw ... Kirishima jangan menarikku."

Katsuki membeku mendengar pertanyaan Mina, tapi suara gadis itu sudah tidak terdengar lagi di ponsel. Sepertinya Kirishima sudah berhasil menarik gadis alien itu untuk pergi meninggalkan Ochako. 'Sial!' Katsuki mengumpat dalam hati. Bayangan foto-foto seksi Ochako kini memenuhi benaknya, ia menutupi separuh wajahnya yang mendadak terasa panas.

Kenapa teman sekelasnya ini jahil sekali terhadapnya semenjak mengetahui hubungannya dengan Ochako. Sehari setelah insiden di kolam renang itu, berita hubungannya dengan Uraraka Ochako sudah tersebar di seluruh kelas A. Bukan hanya kelas A, kelas-kelas lainnya pun mengetahuinya. Terlebih dengan statusnya yang sebagai bocah berandalan nan songong dari kelas A—saat festival olahraga U.A—hampir semua orang tentu mengenal nama Bakugou Katsuki. Banyak yang tidak percaya akan hubungan mereka bahwa Bakugou Katsuki berpacaran dengan gadis yang pernah dijadikan samsak ledakannya saat festival. Parahnya ada yang menganggap Uraraka Ochako mungkin hanya diancam olehnya.

Sejujurnya Katsuki merasa kesal dengan gosip miring mengenai hubungannya dengan Ochako. Tapi ia berusaha tidak peduli. Asalkan Ochako mempercayainya itu sudah lebih dari cukup baginya. Katsuki sendiri tak tahu siapa yang menyebarkan berita itu, mungkin Kaminari dan Mineta. Atau Yaoyorozu dan Jirou, setenang apa pun mereka berdua Katsuki sadar mulut wanita kalau memiliki sebuah informasi memang tidak bisa diremehkan.

"Omong-omong ... Bakugou-kun kapan kau kembali ke asrama?"

"Besok."

"Baguslah, aku benar-benar merindukanmu Bakugou-kun." Jantung Katsuki berdetak kencang mendengar ucapan Ochako."Keadaan asrama sangat sepi kalau tidak ada teriakanmu."

"Sialan ... ternyata karena itu."Katsuki bergumam jengkel.

"Eh ... kau tadi mengatakan sesuatu?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa,"balas Katsuki cepat.

"Hmm." Di seberang sana Ochako bergumam tak jelas. "Oh iya aku penasaran sebenarnya kau tadi membicarakan foto apa bersama Mina-chan?"

"Eh?"Katsuki tak menyangka Ochako mengungkit pembicaraannya dengan Ashido tadi. Pemuda itu mengumpat dalam hati, menyumpah serapahi Ashido Mina. "Kau tidak perlu tahu, muka bulat."

"Tapi aku benar-benar penasaran. Apa kau menyimpan foto mesum? Kau menyimpan foto gadis seksi?"

'Itu foto seksimu, brengsek,' umpat Katsuki dalam hatinya.

"Uh ... ternyata Bakugou-kun orang yang seperti itu. Wajar saja, kau laki-laki."

"Hei kau salah paham," seru Katsuki panik.

"Aku benci Bakugou-kun."

"HAH?!"

Katsuki menatap layar ponselnya dengan linglung, gadis itu memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak setelah mengucapkan kalimat yang menyentak hati Katsuki. Berbagai umpatan keluar dari bibir tipis Katsuki. Ok kekasihnya sudah salah paham terhadapnya dan ini semua salahnya si alien pink yang menjadi gebetannya Red Riot. Katsuki mengerang kencang mengusap wajahnya kasar. Mencoba menghubungi Ochako kembali pun percuma, gadis itu mematikan ponselnya.

'Brengsek mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya,' batin Katsuki sembari mengamati foto-foto yang dikirimkan Ashido kepadanya lewat ponsel Kaminari.

Sialan ... ia justru semakin merindukan gadis itu.

"Semua barangmu sudah beres?"


Disela kunyahannya terhadap nasi dan lauk pauk untuk sarapannya pagi ini Katsuki mengangguk pelan.

"Tidak ada yang tertinggal?"

Katsuki menyeruput kuah supnya dengan rakus, menggeleng. Meski pun ibunya seperti nenek sihir tapi Katsuki mengakui masakan ibunya memang yang nomor satu.

"Kalau diajak bicara dengan orangtuamu itu jangan diam saja, anak sialan!."

"AUW!" Katsuki berseru kaget karena Mitsuki Bakugou secara mendadak memukul bagian belakang kepalanya. Katsuki mendengus, mengomel. "Lagian ibu juga keterlaluan. Aku bukan anak kecil lagi. Barang-barangku tidak ada yang tertinggal aku sudah memasukkan semuanya ke dalam tas," balas Katsuki tak kalah jengkelnya.

"Dasar anak ini, kau itu masih SMA," ketus Mitsuki. "Mentang-mentang sudah punya kekasih jadi berlagak seperti orang dewasa."

"Ap-apa?"

"Pfft lihatlah Masaru wajahnya memerah." Mitsuki mengambil tempat di sebelah Masaru Bakugou, tersenyum mengejek melihat wajah Katsuki yang sudah merah padam.

Masaru yang tadinya asyik membaca koran memandangi istrinya dengan heran. "Katsuki? Sudah punya pacar?"

"IBU MEMATAI-MATAIKU?" seru Katsuki kencang wajahnya masih merah padam.

"Entahlah ..." Mitsuki mengendikkan bahunya tak peduli. Sebenarnya ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Katsuki di ponsel. Mitsuki heran selama pulang ke rumah putranya itu selalu berkutat dengan ponselnya entah menelpon atau mengetikkan pesan. Pernah sekali Mitsuki melihat nama Angel Face yang terpampang di layar ponsel Katsuki.

Ia tahu Katsuki selalu memberi julukan aneh dan menggelikan untuk orang-orang disekitarnya. Tapi Angel Face? Bukankah julukan itu terlalu manis? Dan Katsuki tidak pernah memberikan julukan yang terdengar manis seperti ini.

"Lain kali kalau kau ingin menyembunyikan hubunganmu kau harus lebih berhat-hati anak bodoh."

"Ugh ..." Katsuki membuang mukanya menghindar dari tatapan mengejek ibunya.

"S-sudahlah kalian jangan bertengkar seperti itu." Masaru berusaha menenangkan mereka berdua. "Hari ini Katsuki kembali ke asrama jadi ..."

"Ah ... benar juga." Mitsuki bertepuk tangan dengan kencang mengabaikan perkataan Masaru. "Bagaimana kalau akhir pekan nanti kau mengajak pacarmu itu berkunjung ke rumah?" Mitsuki tersenyum licik. "Sekolah kalian sudah tidak terlalu ketat bukan? Kota dalam keadaan aman, jadi U.A memperbolehkan murid-muridnya untuk pergi bermain di luar saat akhir pekan."

"Apa yang ibu rencanakan?"

"Kau itu tuli atau apa? Ibu menyuruhmu membawa pacarmu ke sini saat akhir pekan."

"Aku tidak punya pacar," sangkal Katsuki.

"Baiklah ... kalau kau tidak mau ibu akan menjual PS4mu kembali."

Katsuki meneguk ludahnya pelan. Apa-apaan ini? Kenapa memberi ancaman mengerikan seperti ini? Ia bisa mati bosan kalau tidak bisa memainkan PS empatnya saat pulang sekolah. PS4 sudah menjadi benda paling berharganya. PS4 itu ia dapatkan saat ia lulus SMP. Sebenarnya bukan hal sulit baginya karena syarat ia bisa mendapatkan benda itu ia harus lulus SMP dengan nilai tertinggi seangkatannya, begitulah kata ibunya. Syarat itu memang mudah baginya, apalagi menurut Katsuki sekolahnya yang dulu dipenuhi oleh para pecundang. Meski pun mudah mendapatkannya tetap saja Katsuki tidak sanggup untuk berpisah dengan PS4nya.

Mitsuki memekik senang dan tertawa penuh kemenangan tatkala melihat Katsuki menganggukkan kepalanya dengan pasrah. "Ibu ingin tahu sebenarnya gadis seperti apa yang mau berpacaran dengan bocah berandalan sepertimu?"

'Dasar nenek sihir. Berandalan ini kan anakmu sendiri,'omel Katsuki dalam hatinya.

_TBC_


Aku kembali membawa requel Kacchako dari Little Secret. Semoga suka, hehe. Mohon krisarnya :)